![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Setelah pembicaraan yang cukup panjang, mereka akhirnya menemukan seseorang yang bisa membaca peta, dan mulai berlayar menuju area yang digunakan Erwin sebagai tempat tinggalnya.
Tanpa diduga siapa pun, satu-satunya orang yang bisa membaca peta kuno di kapal itu adalah Rias seorang. Dia tidak pernah mengatakan apa pun, dan hanya akan melihat ke semua orang dengan sedikit panik jika terjadi keributan. Namun, dia jelas menunjukkan kemampuannya yang berharga di sini.
Karena kurangnya kemampuannya dalam pertarungan, Rias akhirnya memfokuskan dirinya untuk mempelajari hal-hal lain di luar pertarungan. Membaca peta adalah salah satu kemampuan yang paling dia kuasai.
Dia awalnya ragu untuk menunjuk dirinya sendiri, tapi memikirkan bagaimana kontribusinya sangat kurang belakangan ini langsung membuatnya khawatir.
Hasilnya, Rias hanya bisa dengan pasrah mengajukan diri untuk membaca rute yang ada pada peta itu.
Rupanya, jarak mereka dengan tempat itu cukup dekat, jadi mereka bisa sampai ke pulau tempat Erwin berada dengan relatif cepat. Kini, mereka semua sedang berada di geladak kapal, melihat sebuah pulau besar yang perlahan menampakkan dirinya.
Di tepi pantai pada pulau itu, seorang pria dapat terlihat sedang mengibarkan bendera berwarna biru gelap yang menyatu dengan kecelakaan tempat itu. Berdasarkan ciri-ciri fisik yang dia ingat, Noelle langsung mengenali sosok itu sebagai Erwin.
"Tidak salah lagi, itu adalah dia," ucap Noelle saat dia memusatkan fokusnya untuk menganalisa sosok itu.
Kaira mengangguk dan menoleh pada Norman sejenak. Tanpa mengatakan apa pun, mereka berdua sudah paham tentang apa yang harus dilakukan.
Norman maju dan menunggu kapal hantu berlabuh di titik terdekat, sedangkan Kaira memimpin beberapa orang untuk mengambil senjata mereka sendiri dan bersiap untuk segala kemungkinan.
Meskipun Noelle sudah meyakinkan mereka kalau Erwin adalah orang yang cukup bisa dipercaya, mereka tetap harus waspada padanya. Bagaimanapun, Erwin sudah lama terjebak di tempat ini, tidak ada yang tahu seberapa tinggi tingkat korupsi mental yang dia miliki.
Tak lama kemudian, kapal hantu yang mereka kemudikan akhirnya tiba, dan berhenti di perairan terdekat. Noelle membantu Rico untuk menurunkan jangkar, sedangkan Kaira mengeluarkan sekoci dan berlayar bersama Norman menuju lokasi Erwin.
Mereka tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh Norman dan Kaira dengan Erwin, tapi mereka bisa melihat kalau Erwin cukup senang dengan kehadiran mereka.
Selanjutnya, Norman dan Kaira juga saling menoleh, sebelum akhirnya berbalik dan melihat semua orang yang ada di kapal.
Menggunakan sinyal yang telah mereka tentukan sebelumnya, Norman dan Kaira segera memberikan kabar kalau mereka berdua setuju untuk membawa Erwin bersama mereka.
"Haha, aku tidak menyangka kalau kalian semua benar-benar akan datang! Aku berterima kasih padamu, Noelle! "
Akhirnya, Erwin naik ke kapal mereka. Dia meregangkan tubuhnya sendiri, lalu membuka kantung kain cokelat berukuran besar yang berisi barang-barangnya.
Kemudian, dia mengeluarkan sebuah benda keras berbentuk lempengan aneh. Warnanya hitam, dan memiliki beberapa tonjolan putih di setiap sudutnya. Selain itu, sebuah batu ramping dengan kedua ujung lancip terlihat melayang di atas lempengan itu.
Bentuknya sedikit berbeda, tapi Mereka yang melihatnya memiliki firasat kalau itu adalah sebuah kompas.
Menyadari tatapan heran mereka, Erwin tersenyum dan menjelaskan, "Kompas yang biasa tidak berguna di tempat ini. Jarumnya hanya akan terus berputar tanpa menunjukkan arah yang pasti. Tapi, belakangan ini aku berhasil membuat sebuah kompas yang benar-benar bisa digunakan."
Mereka tidak bisa menahan diri dari rasa kagum saat mendengarnya. Erwin benar-benar memiliki otak yang bekerja dengan baik meski di saat krisis seperti ini. Kemampuannya dalam bertahan hidup cukup bagus sehingga Noelle mau tak mau mengakuinya.
Tapi, di saat yang sama, Noelle juga merasa ngeri. Dia diberkahi dengan keberuntungan karena berhasil hidup sampai saat ini meskipun berada di tempat yang penuh dengan kekacauan. Selain itu, dia juga memiliki berbagai kemampuan yang ia kembangkan sendiri di sini.
Mau tak mau, Noelle jadi memikirkannya.
(Bayaran apa yang harus dia berikan untuk semua itu … )
Noelle tidak mengenal konsep keberuntungan sejati. Dia menganggap kalau semuanya bekerja dengan prinsip 'pertukaran setara' dan 'hukum timbal balik'. Karena itulah, saat mengetahui seseorang yang memiliki keberuntungan besar, Noelle langsung memikirkan biaya apa yang harus dibayar oleh orang itu.
Tentu saja, di dunia yang penuh dengan keanehan ini, pemikirannya sangatlah logis. Itu juga menjadi pengalaman pribadinya sendiri yang harus mengorbankan sesuatu terlebih dahulu, sebelum keberuntungan 'mengemudikan' semua tindakannya menuju akhir yang penuh dengan keberhasilan.
Erwin kemudian menambahkan penjelasannya. Dia bilang, kompas yang dia buat itu tidak memiliki pandangan yang jelas terhadap arah mata angin. Singkatnya, dia tidak bisa menentukan mana utara, dan mana selatan. Tapi itu sudah cukup mengingat dia menggunakan peta buatannya sendiri untuk menentukan arah.
Noelle menghela napasnya dan membuang semua pikiran tidak penting itu, lalu berkumpul dengan semua orang.
"Sekarang, apa kita harus mencobanya? "
Noelle tidak mengatakannya secara langsung, tapi mereka sudah mengerti maksudnya.
Dia berniat untuk mencoba menyebutkan nama kehormatan dewa luar itu, dan melihat apa yang akan terjadi.
Norman, sebagai orang yang memimpin kelompoknya sendiri berpikir sejenak. Dia dengan hati-hati memikirkan semua kemungkinan yang akan terjadi, dan mempertimbangkan tindakan apa yang harus diambil jika situasinya berubah.
Kemudian, dia menoleh pada Noelle, memberikan anggukan singkat sebagai persetujuan.
Setelah menerima persetujuan Norman, Noelle langsung menyiapkan semua senjata yang bisa dia gunakan, lalu memejamkan matanya.
Dia memfokuskan dirinya untuk semua tindakan refleks yang akan dia lakukan jika sesuatu yang buruk tiba-tiba terjadi, dan pada saat yang sama, dia juga membiarkan kekuatan sihirnya mengalir keluar, melihat apakah energi sihirnya akan memberikan pengaruh tertentu saat nama kehormatan diucapkan dengan bahasa Minerva Kuno.
"Si putih dan emas, yang menjadi penguasa misterius di alam mimpi, yang menguasai jalan cahaya dan kabut ilusi. Menikmati semua sajian, dan membagikannya pada pengikutnya. Yang memberikan bencana ketakutan pada musuhnya."
"Yang menyukai kisah indah dari dongeng dan masa lalu, serta 'Dia' yang tidak menyukai kesedihan. 'Dia' yang menciptakan taman imajiner, yang menunjukkan kenangan indah pada semua orang, juga yang menunjukkan mimpi buruk pada semua orang."
Untuk sesaat, hampir tidak ada reaksi apa pun. Tapi orang-orang dengan persepsi sihir yang tinggi bisa dengan jelas merasakan kalau gelombang pada energi sihir Noelle sedikit terdistorsi.
Noelle mengabaikannya, dan lanjut melafalkan nama kehormatan sejati yang sudah dipersingkat menggunakan bahasa Minerva Kuno.
"Engkau yang merupakan penyusup dari dunia luar. Yang menyukai dongeng dan masa lalu."
Erwin diam-diam bergumam dan menunggu reaksi berikutnya. Namun, sampai satu menit kemudian, tidak ada apa pun yang terjadi.
"Tidak berhasil, ya … "
Noelle menurunkan tangannya dengan kecewa, dan langsung menghentikan penyebaran energi sihirnya ke sekitar.
Kali ini, dia akan mencoba melafalkannya tanpa menyebarkan energinya sendiri.
Noelle mencoba melafalkan nama kehormatan itu sekali lagi, tapi tetap tidak ada yang terjadi.
"Ada atau tidaknya kekuatan sihir di sekitar tidak begitu berpengaruh … " Noelle langsung membuat catatan mental.
Dalam benaknya, dia sudah memikirkan beberapa hal yang kemungkinan besar menyebabkan gagalnya kemunculan reaksi itu.
Karena ini berkaitan dengan nama kehormatan seorang dewa, entitas yang terkait mungkin harus secara langsung meresponnya sendiri. Jika dia tidak tertarik untuk merespon, maka tidak akan ada reaksi yang ditimbulkan.
Ini membuat Noelle kesal karena satu-satunya jalan keluar yang bisa ia pikirkan adalah dengan menggunakan cara ini.
Di saat semua orang kebingungan dengan cara apa yang harus mereka lakukan, Erwin tiba-tiba mengangkat suaranya, "Kurasa … Kegagalan itu bukan disebabkan karena kurangnya respon dari pihak terkait, tapi karena kita tidak berada di tempat yang tepat untuk melakukannya."
Menggunakan semua pengetahuan yang sudah ia kumpulkan selama empat tahun, dia kemudian menjelaskan semuanya.
"Aku sudah melakukan berbagai percobaan di sini, tapi hampir tidak ada yang berhasil. Aku sudah melakukan ritual dan mengucapkan nama kehormatan dari Vesperi Goddess untuk menguji apa kabut mimpi itu akan terpengaruh oleh namaNya, tapi itu juga tidak berhasil."
Sekarang Noelle memikirkannya, bahkan seorang Dewa Ortodoks seperti Vesperi Goddess tidak memberikan responnya di tempat ini, bagaimana mungkin seorang dewa luar yang tidak masuk kategori 'Dewa Sejati' bisa merespon?
Meskipun itu semua memiliki kemungkinan yang tidak bisa dihindari, seperti kurangnya perhatian yang diberikan oleh entitas tersebut, sehingga menyebabkan respon gagal diberikan.
Norman mengangguk dengan penuh pengertian. Sepertinya dia memiliki pemikiran yang sama dengan Noelle.
"Aku mengerti dengan maksudmu. Tapi … Di mana kita harus melafalkan namaNya agar kita bisa mendapatkan reaksi yang sesuai? "
Untuk pertanyaan ini, beberapa dari mereka sudah menebak jawabannya.
Erwin tersenyum, seolah mewakili pikiran semua orang. Dia menjawab pertanyaan Noan yang masih sesikit kebingungan itu. "Tentu saja, di tempat di mana kalian semua muncul sebelumnya."
...****************...
Setelah beberapa upaya yang berakhir dengan kegagalan, mereka akhirnya memutuskan untuk beristirahat, sambil membiarkan kapal ini berlayar dengan sendirinya ke tempat mereka berasal sebelumnya.
Di ruang makan yang cukup luas di kapal itu, sekelompok orang yang terdiri dari beberapa laki-laki dan beberapa orang gadis muda sedang duduk di bangku panjang, menikmati sajian yang ada di hadapan mereka.
Sesekali, tawa keras datang dari seorang pria yang menjadi tamu mereka, Erwin.
Setelah diminta oleh beberapa orang, dia dengan gembira menceritakan semua pengalamannya saat ia masih aktif berpetualang di lautan sambil berdagang.
Beberapa ceritanya cukup menarik sehingga Noelle yang biasanya akan langsung pergi setelah menyelesaikan makanannya, masih duduk di tempat dan fokus mendengarkan Erwin.
Erwin sedang menceritakan salah satu pengalamannya saat ia berada di atas kapal, berlayar bersama mantan rekan-rekannya menuju sebuah negara kepulauan yang jaraknya bisa ditempuh dengan perjalanan laut selama satu minggu.
Dia menceritakan berbagai hal menarik yang dia alami, seperti serangan para monster yang tiba-tiba muncul di area yang seharusnya tenang, kepanikan kru karena lambung kapal yang dibolongi oleh sebuah tentakel besar, dan banyak hal lainnya.
Dia juga menceritakan pengalamannya dalam berburu bajak laut, dan saat kapal yang dia tumpangi tiba-tiba mendapat serangan dari kapal hantu.
Semua yang dia ceritakan tidak lebih dari pengalaman pribadinya, tapi itu semua terdengar sangat menarik sehingga Noelle tanpa sadar diam dan mendengarkan semua yang Erwin ucapkan.
Dia mungkin sedikit terbawa karena dia tidak pernah melakukan petualangan jarak jauh yang dilakukan seperti Erwin sebelumnya.
Pada saat yang sama, Noelle juga merasa sedikit kasihan pada Erwin. Itu karena dia tampaknya memiliki keterikatan yang sangat erat dengan rekan-rekannya dulu. Tapi, karena berbagai insiden, dia harus kehilangan semua rekannya yang sudah menemaninya berpetualang, meskipun itu adalah waktu yang singkat.
Erwin memperhatikan perasaan Noelle, dan dia tersenyum dengan cara yang menyegarkan, tidak menunjukkan tanda-tanda akan kesedihan di wajahnya.
"Kau tidak perlu merasa berat hati untuk semua itu! Bagaimanapun, perpisahan adalah akhir dari setiap pertemuan, kau tidak bisa lari darinya. Tidak ada gunanya merasa sedih atas semua hal yang terjadi, yang terpenting adalah kau tetap hidup dengan bahagia dan penuh kesenangan! "
"Jika aku tetap hidup dengan rasa depresi dan penuh penyesalan karena kematian mereka, maka mereka pasti akan menendangku di surga nanti! Aku tidak ingin itu terjadi, jadi aku harus bersenang-senang selagi aku bisa! "
Itu adalah logika yang aneh. Bagi Noelle yang memang sejak awal tidak memiliki keluarga dekat selain Olivia, dia tidak bisa membayangkan bagaimana seseorang bisa merasa bahagia saat orang yang dekat dengan mereka harus meregang nyawa.
Selain itu, bagian 'surga' yang Erwin ucapkan sebelumnya juga membuatnya tertarik.
Erwin adalah penganut Vesperi Goddess, jadi dia memiliki keyakinan kalau setiap jiwa yang mati akan langsung diantarkan menuju Kerajaan Ilahi milikNya.
Sedangkan Noelle, dia tidak memuja dewa mana pun, jadi dia bersikap netral tentang itu. Dia lebih percaya dengan penjelasan Anastasia yang secara langsung menjelaskan kalau semua jiwa yang mati akan diantarkan ke suatu tempat yang dinamakan 'Zona Nol'.
Tepat setelah itu, kabut abu-abu tiba-tiba muncul dan menyelimuti seluruh ruangan. Noelle merasa energinya mulai terkuras dengan deras. Dia melihat ke sekeliling, dan menyadari kalau satu per satu orang di ruang makan itu mulai jatuh tertidur, dan ditarik ke alam mimpi kolektif.
...****************...