![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
"Untuk menunjukkan apa yang terjadi di masa lalu, aku hanya perlu menunjukkan ingatanku, 'kan? "
Lilith dengan mudah mengatakan ide yang ia miliki sembari melihat ke sekelilingnya.
"Dan untuk melakukan itu, aku butuh bantuan Rias dan Liscia yang memiliki kemampuan untuk melewati batas antara ingatan dan kenyataan," ucap Lilith sambil menunjukkan dua gadis yang sejak tadi diam tak mengatakan apa pun.
Salah satu gadis itu menatap semua orang dengan mata bosan sementara yang lain bersembunyi di balik sofa dengan wajahnya yang memerah.
"Aku tidak keberatan melakukan itu, tapi itu terlalu menyakitkan untuk mereproduksi apa yang terjadi belasan tahun yang lalu," ujar seorang gadis bernama Liscia sambil mengeluarkan setetes air mata saat ia menguap.
Rias yang sejak tadi bersembunyi di balik sofa memiliki bahu yang tersentak saat Lilith dan semua orang mengarahkan tatapan mereka padanya.
Ia dengan takut-takut menyampaikan isi pikirannya.
"A-aku juga tidak keberatan, tapi … Aku tidak memiliki cara untuk berbagi pengelihatan masa lalu orang lain … "
"Tentang itu kalian bisa mengandalkanku."
Sebuah suara yang berasal dari pintu yang sebelumnya mereka masuki tiba-tiba menyela percakapan.
Itu adalah Charlotte yang rambut pirang emas miliknya masih cukup basah.
Saat Lilith dan yang lain mengalihkan pandangan mereka padanya, Charlotte hanya menunjukkan wajah datar dan menyapa semua orang dengan ringan.
Norman yang melihat sosoknya seketika bersiap dalam posisi bertarung.
" … Apa kau berniat membantu? Atau kau memiliki tujuan lain? "
Charlotte tersenyum sinis.
"Kasar sekali. Tentu saja aku berniat membantu. Aku memiliki skill yang dapat meminimalisir rasa sakit dan skill yang dapat membantu dalam proses transfer sesuatu. Tentu saja, dengan satu syarat."
Tersenyum licik, Charlotte kemudian berjalan dan duduk di sofa yang terkena cipratan darah Noelle.
(Apa mereka tidak tahu kalau Noelle punya kemampuan untuk mengendalikan darah? Betapa bodoh.)
Begitu ia melihat genangan dan cipratan darah yang tersisa di ruangan itu, Charlotte mau tak mau langsung berusaha menyembunyikan senyum mengejek yang hampir keluar di wajahnya.
Itu wajar, lagipula Noelle dapat mengendalikan darahnya tidak peduli sejauh apa pun itu. Ruangan yang saat ini sedang Lilith dan yang lain tempati memiliki jejak darah Noelle dalam jumlah besar.
Yang artinya, Noelle bisa saja membunuh semua orang dalam waktu singkat tanpa disadari siapa pun.
" …… Apa syaratmu? "
Iris bertanya dengan waspada. Saat ini, ia tidak dalam posisi yang dapat mempercayai siapa pun di kelompok Noelle, bahkan jika itu adalah Charlotte yang seharusnya cukup dekat dengannya di kehidupan sebelumnya.
Charlotte tersenyum. Dia perlahan menyilangkan kakinya dan sekilas menampilkan paha putih yang mulus di balik rok hitamnya.
Ia kemudian memangku kedua tangannya di pahanya, lalu menatap tajam tanpa emosi pada semua orang di ruangan itu.
Niat membunuh yang samar dapat dirasakan keluar dari tubuhnya membuat semua orang secara refleks menahan napas mereka.
"Setelah masalah ini selesai, berhentilah ikut campur dengan kami. Tidak perlu merasa penasaran dengan apa yang kami alami atau apa yang kami lakukan, aku hanya ingin kalian memutus hubungan dengan kami setelah misi ini selesai."
Ia memang hampir tidak pernah menunjukkan tanda-tanda atau pun kekuatan penuhnya pada siapa pun selain orang-orang di kelompoknya, tapi Charlotte tetaplah seseorang yang berevolusi ke arah yang negatif dan menjadi seorang malaikat jatuh.
Di tambah dengan skill《Wrath》yang ia miliki, Charlotte secara teknis jauh lebih kuat dari semua orang yang ada di ruangan itu.
"Kenapa … Kau meminta itu … "
Iris bertanya padanya dengan wajah sedih. Melihat itu, Charlotte hanya tersenyum kecil.
"Kalian tidak perlu tahu alasannya. Baik Aku, Noelle, maupun Livia memiliki keinginan kami sendiri."
Untuk mencapai apa yang ia inginkan, ia tak bisa membiarkan dirinya terganggu dengan keberadaan para mantan teman sekelasnya yang lain.
Ia yakin kalau Noelle dan Olivia juga akan mengusulkan hal yang sama jika mereka bertukar posisi.
Charlotte memiliki tujuan yang sangat penting yang harus ia capai bagaimanapun caranya. Yaitu, membunuh Harold.
Hanya itu. Tidak lebih, dan tidak kurang.
Noelle dan Olivia sudah berbaik hati untuk meminjamkan tangan mereka pada Charlotte agar ia bisa semakin yakin dengan dirinya.
Dan untuk mencapai tujuannya, ia harus menjadi sekuat mungkin.
Baru-baru ini ia juga mulai serius dalam berlatih untuk mengendalikan skill《Wrath》miliknya.
"Yahh, lupakan tentang alasan yang tidak penting itu. Apa kalian setuju dengan syaratku? Ini hanya akan menjadi hubungan kerja sama jangka pendek, tapi ini saling menguntungkan."
(Ya ampun … Sejak kapan aku mulai memperhitungkan keuntungan seperti ini … )
Ia tersenyum masam saat memikirkan itu. Dirinya yang lama yang baik hati pasti akan terkejut saat melihat dirinya yang sekarang.
" ……… Baiklah … Kami setuju … Kami tidak akan mencari tahu atau pun mengorek informasi apa pun tentang kalian bertiga."
Setelah beberapa saat berdiskusi, Lilith akhirnya maju dan memberikan persetujuannya terhadap syarat dari Charlotte. Meskipun dia melakukannya dengan sangat berat hati.
(Syukurlah mereka menerimanya, jika tidak … Aku mungkin harus mengalami pengalaman yang memalukan … )
Charlotte diam-diam bernapas lega saat ia berdiri.
Awalnya, ia sama sekali tidak berniat untuk memberikan persyaratan pada Lilith dan yang lain untuk mendapatkan bantuannya. Itu karena, ia sendiri cukup penasaran tentang apa yang terjadi di masa lalu.
Jika Lilith dan yang lain menolak persyaratannya, ia terpaksa membantu mereka tanpa mendapat keuntungan jangka panjang apa pun, dan harus menggunakan kemampuannya sambil menahan malu karena ketidak tetapan hatinya dalam membuat pilihan.
"Kalau begitu, kalian berdua bersiaplah untuk menggunakan kemampuan kalian. Saat kalian sudah menyelesaikan persiapannya, aku akan membantu dengan menyambungkan skill-ku."
Charlotte menunjukkan satu tangannya yang mengeluarkan asap hitam yang terlihat mengerikan.
"Kami selesai."
Tak lama kemudian, Rias dan Liscia sudah menyelesaikan persiapan mereka, dan Lilith berdiri tepat di hadapan Rias agar Rias dapat membaca ingatannya.
Charlotte kemudian berjalan dan mengambil posisi tepat di tengah di antara Rias dengan Liscia.
Dia mengambil tangan keduanya, lalu menghubungkan mereka menggunakan sihir kegelapan yang sudah cukup ia kuasai.
"《Enchant: Link》,《Enchant: Ipse Dore》"
Tangan keduanya mulai mengeluarkan asap hitam yang kemudian mulai berkumpul dan menggumpal tepat di sekelilingnya.
Selayaknya cincin dan lingkaran halo yang akan selalu bersama pemiliknya, lingkaran yang tercipta dari asap hitam itu tampak mengelilingi tubuh Charlotte.
(Aku masih belum terbiasa dengan ini … )
Charlotte mengerutkan keningnya ketika dia berusaha melupakan bagian dari dirinya yang terlalu memalukan.
Dua mantra yang baru saja Charlotte gunakan adalah mantra tingkat menengah untuk sihir elemen kegelapan.
《Encant: Link》memiliki fungsi yang sama seperti namanya, itu adalah mantra yang akan menghubungkan dua orang atau lebih pada saat yang sama.
Sedangkan《Enchant: Ipse Dore》adalah, mantra level rendah yang dapat dipelajari siapa pun yang memiliki elemen kegelapan.
Itu memiliki fungsi yang dapat membuat penggunanya menghapus atau membagikan rasa sakit yang dia atau orang lain alami.
Kedua mantra itu sangat efektif untuk digunakan di saat seperti ini.
Skill yang dimiliki oleh Rias adalah skill yang dapat 'mengintip' atau 'melihat' masa lalu orang lain. Tentu saja dengan persetujuan orang itu. Hanya saja, ia hanya dapat menggunakan skill itu untuk dirinya sendiri, dan tidak dapat membagikan pengelihatannya dengan orang lain.
Sedangkan Liscia memiliki skill yang dapat 'merealisasikan bayangan yang ada di kepalanya'. Dengan skill itu, ia dapat membuat reproduksi sempurna dari semua kejadian yang ada di ingatan Lilith. Kekurangannya adalah, semakin banyak atau semakin jauh bayangan yang ia realisasikan, beban yang diterima otaknya akan semakin besar.
Merealisasikan ingatan yang telah terjadi selama belasan tahun lalu pastinya akan sangat menyakiti otaknya, dan sihir dari Charlotte membantu mereka semua untuk meminimalisir hal itu.
Itulah mengapa mereka tidak memiliki pilihan lain selain menerima persyaratan Charlotte.
(Untungnya Noelle memintaku untuk mempelajari mantra ini sebelumnya … )
Diam-diam bersyukur untuk keputusan yang Noelle buat, Charlotte kemudian mempererat genggamannya terhadap tangan Liscia dan Rias.
Begitu mereka bertiga tampak sudah siap, Lilith tanpa mengatakan apa pun langsung mengambil posisi tepat di hadapan Rias, membiarkan Rias menyentuh dahinya dengan jarinya yang halus.
Rias membuat wajah yang menyakitkan sejenak saat ia menerima informasi masa lalu dalam jumlah besar, namun ia terus melanjutkannya dan menyalurkan ingatan itu pada Liscia dengan bantuan《Enchant: Link》dari Charlotte.
" … Aku sudah mendapatkannya, kalau begitu …《Praeteritum》"
Usai ia mengatakan itu, ruangan yang mereka tempati seketika memiliki ratusan lingkaran sihir yang menempel di dinding, lantai, dan bahkan langit-langit.
(Ini terlalu besar … Aku harus melakukan sesuatu, atau Noelle atau Livia akan menyadarinya … )
Memikirkan itu, Charlotte diam-diam langsung memasang beberapa penghalang fisik dan sihir yang membuat kehadiran mereka terhapus, lalu membuat hawa kehadiran palsu di ruangan lain dengan sihirnya.
Charlotte tahu kalau Noelle dan Olivia sangat sensitif dengan perubahan sihir di sekitarnya, jadi ia sudah membuat beberapa penanggulangan untuk mencegah itu.
Ratusan lingkaran sihir yang menutupi ruangan itu bersinar terlalu terang sehingga akan menyakiti mata orang normal yang tidak terbiasa.
Lalu, tak sampai beberapa detik kemudian, ruangan tempat mereka berada langsung merubah penampilannya.
"Ini … Ruang kelas …? "
Suara kebingungan Iris menyampaikan apa yang ingin semua orang katakan.
Seperti yang dia katakan, ruang tempat mereka berada tadi langsung berubah menjadi ruang kelas yang tampak tak asing bagi mereka.
Meskipun itu sudah hampir 16 tahun, ingatan mereka tentang ruang kelas di sekolah mereka tetap tertanam dengan sangat kuat. Tentu saja mereka langsung mengenali tempat itu.
"Tidak, lupakan tentang itu. Siapa yang ada di sana? " tanya Karia sambil menunjuk seorang remaja laki-laki yang tampak seumuran dengan mereka.
Laki-laki itu sedang duduk di lantai ruang kelas dengan mata kosong dan senyum cerah di wajahnya.
"Rasanya aku pernah melihatnya di suatu tempat, tapi … Siapa dia? "
Norman mengerutkan keningnya dengan perubahan yang tiba-tiba ini.
Tubuh laki-laki itu sedikit transparan, yang artinya dia adalah orang yang ada di ingatan Lilith yang berhasil direplika oleh Liscia.
Anzu dengan wajah datar kemudian berbicara.
"Dia … Asahina Tanaka, 'kan? "
"…? Anzu, kau mengenalnya? " tanya Kaira.
Mendengar pertanyaan Kaira, Anzu sontak mengerutkan keningnya dengan tidak nyaman.
"Kalian juga seharusnya pernah melihatnya. Dia pernah muncul di koran."
(Tidak, meskipun kau mengatakan itu … Tidak mungkin aku akan ingat wajah orang yang muncul di koran.)
Kaira memiringkan kepalanya dengan bingung. Tidak hanya dia, tapi Rico dan semua orang di sana bingung dengan identitas laki-laki itu.
Anzu menghela napas dengan tidak percaya.
Saat dia berniat menjelaskan, dia dihentikan oleh Lilith yang telah selesai memberikan ingatannya.
Charlotte, Rias, dan Liscia juga mengikutinya.
Tidak perlu repot-repot mempertahankan ruangan imajiner itu secara langsung, karena ruangan itu akan terus bertahan asalkan Liscia terus menyuplai mana pada salah satu lingkaran sihir.
Lilith dengan wajah serius kemudian menghadapi semua orang.
" … Apa kalian ingat dengan 'tragedi pembantaian Sakuragaka'? "
Mata semua orang melebar begitu mendengar pertanyaan Lilith.
Mereka semua membeku dalam keterkejutan. Tubuh semua orang menegang begitu mendengar itu.
Melihat reaksi mereka, Lilith tersenyum sedih sambil memandangi lantai.
Lilith terlihat berkonflik saat ia akan menjelaskan, namun ia sudah menyiapkan hatinya untuk segala yang akan terjadi.
"Seperti yang kalian ketahui barusan. Dia adalah Asahina Tanaka, pelaku utama dalam kasus pembantaian 238 siswa di SMA swasta Sakuragaka."
...****************...
-–Tragedi pembantaian Sakuragaka.
Tidak mungkin mereka bisa melupakannya. Karena, itu adalah tragedi terburuk yang pernah terjadi setelah beberapa dekade.
Dan tidak mungkin pula para reinkarnator yang hadir di ruangan itu tidak mengetahuinya.
SMA Sakuragaka adalah SMA swasta yang cukup populer di Prefektur tempat mereka tinggal dulu.
Sekolah swasta itu juga memiliki hubungan kerja sama yang baik dengan SMA Elit Sekigahara.
SMA Elit Sekigahara adalah sekolah tempat Noelle dan yang lainnya dulu menempuh pendidikan mereka.
Dengan hubungan afiliasi dan jarak yang cukup dekat, tidak mungkin semua murid di Sekigahara tidak mengetahui tragedi yang menimpa murid SMA Sakuragaka.
"Ti-tidak … A-apa hubungan yang dia miliki dengan Noelle? "
Wajar saja Norman menanyakan pertanyaan itu. Karena tujuan dilakukannya kilas balik ini adalah untuk menunjukkan pada mereka semua mengenai hubungan antara Noelle dengan Lilith di kehidupan sebelumnya.
"Dia ada hubungannya. Akan sulit untuk menjelaskannya, aku akan menjelaskan saat penayangan ingatan ini berlangsung," ucap Lilirh dengan wajah serius.
Kemudian ia menoleh ke arah Liscia, memintanya untuk memutar reka adegan.
Begitu Liscia mengangguk, pemandangan di sekitar mereka langsung bergerak.
Pemandangan dahan pohon dan burung-burung yang ada di luar jendela tampak bergerak dengan lancar seolah itu terjadi tepat di depan mereka.
Begitu juga dengan Tanaka, dia masih duduk di lantai, namun bibirnya terus tersenyum dan mengeluarkan tawa aneh.
Detik berikutnya, pintu ruang kelas yang berada tepat di belakang mereka langsung terbuka, menampilkan sosok remaja laki-laki lainnya.
Dia memiliki rambut hitam dengan poni yang dapat mencapai ujung hidungnya. Menggunakan blazer hitam-biru di atas almamater hitam khas milik SMA Sekigahara, ia berjalan menghampiri Tanaka yang duduk di lantai.
" … Iza … "
Kata-kata yang diucapkan Anzu secara tanpa sadar itu membangunkan semua orang dan membuat pandangan mereka seketika terfokus pada laki-laki yang baru masuk itu.
Dengan tampilan wajah yang terlihat sedang bersenang-senang, matanya yang tajam segera menyipit saat melihat Tanaka.
Itu adalah Canaria Izaya, atau Noelle di kehidupan sebelumnya.
Syal panjang merah yang serupa dengan warna matanya tampak bergoyang seiring dengan langkah yang ia ambil.
" … Apa hubungan Iza dengan laki-laki itu? " tanya Anzu.
Charlotte yang melihat wajah serius Anzu mau tak mau langsung sadar dengan kepeduliannya terhadap Noelle.
(Mereka berdua cukup dekat sih … )
"Aku akan menjelaskannya bersamaan dengan adegannya. Reka ulang ini menggunakan ingatanku sebagai dasarnya, jadi mungkin akan ada beberapa bagian yang terpotong karena aku tidak menyimak atau terganggu akan hal lain."
Bagaimanapun,《Praeteritum》adalah skill yang dapat membuat Liscia dapat 'merealisasikan apa yang ada di pikirannya'.
Tentu saja itu tidak dapat melakukan tindakan yang sama dengan sebuah CCTV.
Akan ada beberapa bagian yang cacat bergantung pada sejauh mana ingatan yang dimiliki Lilith.
Usai mendengarkan itu, mereka kembali memfokuskan perhatian mereka pada Izaya yang perlahan berjalan menghampiri Tanaka.
Tubuh Izaya dengan mudah menembus semua orang yang ada di hadapannya, mengingatkan semua orang akan sebuah hologram.
Setelah mencapai tepat di belakang Tanaka, Iza segera berjongkok dan menepuk bahu Tanaka.
"Hanya untuk memastikan. Apa kau sudah siap untuk aksimu besok? Aku sudah menyelesaikan semua persiapanku untuk membantumu," kata Izaya.
Pergerakannya kemudian berhenti. Lilith sudah meminta Liscia untuk menghentikan reka ulang dengan sinyal tangannya.
Usai meminta Liscia menghentikan reka ulang, Lilith segera berbalik, dan bertanya pada semua orang.
"Dari sini, apa kalian sudah mengerti? "
Anzu mengerutkan dahinya dengan bingung.
" … Percakapan mereka terjadi satu hari sebelum dimulainya tragedi. Tepatnya pada tanggal 16 Juli. Dan … Iza … Dia terlibat dengan itu … "
Kaira kemudian dengan panik menyela penjelasan Anzu.
"Tunggu, tunggu! I-itu tidak mungkin, 'kan? Canaria … Dia tidak mungkin terlibat dengannya, 'kan?! "
"Tenanglah, Kaira. Masih banyak kesimpulan yang bisa didapat dengan secuil informasi itu. Kita tidak boleh sembarangan melanjutkan. Liscia, bisa kau lanjutkan? "
Liscia mengangguk atas permintaan Rico.
Adegan dimulai lagi.
Saat mendengar pertanyaan dari Izaya, Tanaka perlahan menolehkan kepalanya ke arahnya dan tersenyum senang.
"Iza … Kau benar-benar datang … Apa kau akan membantuku lagi? "
Dilihat dari sisi mana pun, Tanaka jelas senang dengan kehadiran Izaya di belakangnya.
"Tentu aku akan datang. Aku sudah berjanji padamu. Tapi … Maaf karena aku hanya bisa membantumu dari balik layar."
Mengatakan itu, Izaya tersenyum sedih. Perasaan yang ia sampaikan dengan senyum sedihnya tampak benar-benar serius dan membuat Tanaka meneteskan air matanya.
"Tidak. Itu tidak masalah. Iza sudah banyak membantu. Aku akan menangani semuanya sendiri mulai sekarang," ucap Tanaka dengan senyum serius.
Wajah Izaya kemudian menjadi serius.
"Setelah mereka menangkapmu nanti, tetaplah tenang dan jangan memberontak. Aku sudah melakukan sesuatu untuk membuat hukumanmu menjadi seringan mungkin."
"–Yahh, paling tidak kau hanya akan menjadi tahanan rehabilitasi selama beberapa tahun. Tapi itu tidak masalah. Kau bisa mengatasinya, 'kan? Kau yang sekarang dan seterusnya bukanlah kau yang lemah seperti dulu. Jadi aku yakin kau bisa mengatasinya."
Kata-kata yang dilontarkan Izaya terdengar seperti wahyu dari Tuhan di telinga Tanaka.
Dia tersenyum ekstasi di hadapan Izaya dan bangkit berdiri.
"Itu benar! Aku yang sekarang sudah berbeda! Aku bukanlah Tanaka yang lemah dan sampah! Sekarang aku sudah berubah berkat Iza! Para bajingan itu akan segera merasakan pembalasan yang sesungguhnya dariku! Para! Sampah! Itu! Aku akan! Membunuh mereka!! "
Deklarasi yang tiba-tiba dari Tanaka itu sontak membuat semua yang menonton langsung melebarkan mata mereka karena terkejut. Mereka langsung mengalihkan pandangan pada Izaya yang masih dalam posisi berjongkok.
Matanya tersembunyi di balik poninya yang panjang, namun mereka dapat dengan jelas merasakan kegilaan yang berasal dari sana.
Ia tersenyum simpul dan menunjukkan taringnya yang sedikit lebih tajam dibanding orang kebanyakan.
Sesaat kemudian, Izaya segera menghapus senyumnya dan bangkit berdiri.
"Aku mengerti kalau kau senang, tapi berhati-hatilah untuk tidak berteriak begitu keras. Seseorang bisa saja mendengar kita sekarang."
Meskipun Izaya mengatakan itu, tampaknya ia sudah menyadari keberadaan Kagarin yang bersembunyi di balik pintu masuk.
Charlotte menatap Lilith dengan pandangan tak percaya.
"Kau benar-benar bersembunyi di sana? "
" ……… "
Tidak mengatakan apa pun, Lilith segera memalingkan wajahnya.
"Mmhhmm … Dengan begini, semua persiapan sudah selesai. Aku sudah menyerahkan senjata-senjata yang akan kau gunakan besok. Berhati-hatilah untuk tidak menembak secara sembarangan agar kau tidak kehabisan peluru. Karena, begitu kau memulai aksimu, aku sudah tidak bisa membantumu secara langsung."
(Senjata api, ya … Aku tahu keluarga Noelle memiliki latar belakang militer, tapi … Dari mana dia mendapat senjata itu …? )
Sementara Charlotte dengan serius memikirkan tentang bagaimana Izaya bisa mendapatkan senjata untuk digunakan Tanaka, Kaira dan yang lain masih terlihat bingung dengan itu.
"Senjata? Aku ingat kalau orang itu menggunakan banyak jenis senjata api saat kejadian, tapi … Aku tidak tahu kalau dia mendapatkan semuanya dari Noelle … "
( … Apa mereka tidak tahu tentang latar belakang keluarga Noelle? Hehe … Entah bagaimana aku senang … )
Mengetahui sesuatu tentang Noelle yang tidak diketahui orang lain membuat Charlotte merasa sedikit superior sehingga dia tanpa sadar tersenyum kecil.
Charlotte segera menghapus senyumnya dan berbicara pada semua orang.
"Kurasa dia mendapat itu semua dari pasar gelap … "
Rico mengangguk. "Jadi kau juga memikirkannya, ya … Yahh, mengingat bagaimana dia bisa mendapat senjata sebanyak itu … Pasar gelap adalah satu-satunya jalan."
Itu adalah pemikiran yang logis dan masuk akal sehingga semua orang dapat menerimanya dengan mudah.
Saat mereka semua melakukan perbincangan kecil itu, adegan terus berlanjut.
"Dalam beberapa menit setelah aksimu dimulai, pihak kepolisian akan datang bersama para pemadam kebakaran dan ambulan, sampai saat itu tiba, terus bertahan tanpa menggunakan senjata peledak apa pun."
" … Kenapa begitu? "
Tanaka memiringkan kepalanya dengan heran.
"Jika mereka menghalangiku, bukankah aku hanya perlu menghabisi mereka semua? "
Tampaknya Tanaka sudah lebih dari siap untuk melakukan aksi berbahaya ini. Dia dengan mudahnya mengusulkan ide untuk langsung menggunakan semua senjatanya.
Izaya menghela napas pasrah.
"Tentu saja jangan lakukan itu bodoh. Para polisi itu kuat, namun mereka tidak akan beraksi begitu saja ketika kau masih memegang senjata dan menyandera para murid, guru, dan staff lain."
"Begitu, ya … Seperti yang diharapkan dari Iza! Kau memikirkan semuanya dengan sangat hebat! "
(Tidak, bahkan itu adalah rencana yang dapat disusun oleh anak SMP, kau tahu? )
Rasanya pemikiran seperti itu tergambar jelas di ekspresi yang terpampang di wajah Izaya yang dingin.
"Setidaknya … Sebisa mungkin, simpanlah semua senjata utamamu sampai pihak kepolisian memohon bantuan JSDF untuk melakukan evakuasi terhadap murid."
Mengabaikan deklarasi Tanaka yang seperti uskup agung yang sedang mengusulkan agama baru, Izaya terus menjelaskan rencana yang sudah ia buat.
"JSDF itu terdiri dari anggota-anggota militer yang profesional, jadi kau harus menyimpan semua senjata utamamu untuk menghadapi mereka."
"Ahh, ya … Berhati-hatilah dalam menggunakan peledak di dalam ruangan. Peledak yang ku berikan padamu adalah tipe peledak yang sedikit mengeluarkan api, namun memiliki efek gelombang kejut dan kebisingan yang sangat kuat. Itu bisa saja melukai dirimu sendiri."
Izaya kemudian tersenyum dan berbalik.
"Jika kau sudah melumpuhkan beberapa dari mereka, kau bisa merampas semua senjata yang mereka miliki untuk dijadikan cadangan. Pastikan kalau mereka sudah benar-benar kehilangan kesadaran atau bahkan mati sebelum kau mencoba untuk merampas senjata mereka. Para orang dewasa, terutama pihak militer seringkali menggunakan cara licik untuk menjebak musuh mereka. Mereka bisa saja menangkapmu saat kau sedang lengah."
Tanaka membuat wajah terkejut saat mendengarnya.
"Benarkah?! Sudah kuduga! Manusia seperti mereka itu sampah! Mencoba menghentikan deklarasi kebebasan orang lain dengan menggunakan cara licik! Mereka yang terburuk! "
Izaya tidak mengatakan apa pun lagi dan segera pergi meninggalkan Tanaka.
"Ahh! Sampai jumpa lagi! Izaya! Aku akan! Menyebarkan! Kagunganmu di pusat rehabilitasi nanti! Aku akan membuat semua orang menjadi pemujamu! "
(Tidak, kau tidak perlu melakukan itu. Itu menjijikkan.)
Izaya meninggalkan ruangan dengan bahu yang merinding.
Lagipula pihak kepolisian akan langsung mendatanginya jika ada agama baru yang tiba-tiba terbentuk di pusat rehabilitasi.
Sebelum ia benar-benar pergi, ia sempat tersenyum dan meilirik ke arah mesin penjual minuman yang ada tepat di samping pintu kelas.
...****************...