[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 74: Rahasia (2)



...****************...


Setelah menyelesaikan 'penyelidikan' yang ia lakukan secara iseng, Noelle segera kembali ke penginapan yang telah dia tempati selama beberapa hari ini.


Noelle dengan keringat dingin di punggungnya melepaskan topeng dan jubah yang ia pakai sambil tersenyum sengit.


Setelah mengetahui apa yang Terneth rencanakan, Noelle memiliki pikiran untuk segera meninggalkan kota secepat mungkin setelah misi pembasmian itu selesai.


Nyatanya, Noelle ingin mengajak Cryll untuk segera meninggalkan kota esok pagi, tapi mereka masih harus menyelesaikan misi yang diberikan Luna dan Terneth pada mereka.


Saat ia memikirkannya lagi, ia mau tak mau menyadari kebetulan yang luar biasa ini.


Ia memperkirakan kalau Terneth telah sengaja melibatkan kelompoknya ke dalam rencana kudeta dengan memberikan mereka misi yang hanya bisa mereka selesaikan di kota itu juga, dan kejadian di restoran saat itu telah dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Terneth sehingga dia dan Cryll tidak memiliki pilihan untuk menolak permintaannya.


Jadi, Noelle tanpa sadar telah menggali lubang kuburannya sendiri.


Noelle menggelengkan kepalanya saat ia memikirkan kemungkinan buruk itu.


( …… Sial … )


"Tidak, tunggu … Bukankah … Pangeran masih ada di kota ini? "


Noelle tiba-tiba teringat dengan Norman. Meskipun tidak mewarisi takhta, dia tetaplah anggota keluarga kerajaan yang memiliki prioritas keamanan tingkat tinggi.


Yang artinya, Terneth seharusnya tidak dapat menjalankan rencananya dengan lancar. Jika Terneth melibatkan pangeran dan anggota keluarga bangsawan tingkat atas lainnya dalam rencana kudeta, itu akan mengarah ke krisis nasional.


Jika rencana kudeta yang ia lakukan berhasil, ia dapat dengan mudah menjadikan Norman dan yang lain sebagai sandera.


Tidak hanya para bangsawan, tapi bahkan raja akan kesulitan dengan itu.


Berdasarkan situasi yang Noelle dengar dari Charlotte, raja hanya memiliki empat orang anak dengan dua laki-laki dan dua perempuan.


Jika ada sesuatu yang buruk terjadi pada putra mahkota, maka Norman akan secara otomatis menggantikannya untuk menjadi pewaris selanjutnya.


(Ughh … Urusan para bangsawan membuatku sakit kepala … )


Noelle mengerutkan dahinya dengan ekspresi jengkel yang jelas di wajahnya.


(Ahh … Kurasa aku bisa memanfaatkan situasi ini, tapi … )


Untuk melakukan itu, ia harus tahu tentang tujuan kelompok Norman berada di Eisen, dan sampai kapan mereka akan menetap.


Akan lebih bagus jika Norman dan kelompoknya tetap di kota ini sampai rencana Terneth mulai direalisasikan, tapi Noelle tidak tahu pasti tentang jadwal mereka.


Noelle berhenti berjalan dan menggunakan tangannya untuk menutup satu mata dan membuat pose berpikir.


" ……… Ahh percuma! Sistem monarki yang menjengkelkan itu akan menghalangi sebagian besar rencanaku … "


Noelle dengan jengkel mengacak-acak rambutnya.


(Yahh, aku akan memikirkannya nanti … )


Terlalu banyak menampung informasi ke dalam otak dalam satu hari adalah hal yang tidak nyaman bahkan untuk Noelle sekalipun.


Ia lanjut berjalan sambil berusaha menenangkan pikirannya.


...****************...


Begitu Noelle sampai di gedung penginapan tempat yang lain berada, Noelle tanpa berkata apa pun langsung membuka pintu dan menerobos masuk ke gedung itu.


Bahkan saat tengah malam sekalipun, area di sekitar gedung penginapan tidak terlalu sepi.


Lampu yang terang masih menyala dan beberapa orang dengan setelan formal masih saling mengobrol di dalam gedung.


Penginapan yang ditawarkan Terneth padanya adalah penginapan kelas atas yang rata-rata pengunjungnya adalah seorang pejabat dan pedagang kaya, jadi ia tidak heran ketika melihat masih ada banyak orang yang dengan riang membicarakan bisnis mereka bahkan di tengah malam.


Noelle dengan ekspresi lesu menaiki tangga di ujung ruangan dan berjalan menyusuri koridor sambil memperhatikan semua nomor yang tertera pada pintu.


Begitu sampai di depan pintu kamar yang ia dan Olivia tempati, Noelle kemudian mengetuk pintu itu beberapa kali dan langsung masuk tanpa menunggu jawaban.


Dan tepat seperti yang ia pikirkan, Olivia sedang tidur di ranjang sambil memeluk bantal yang biasa Noelle gunakan.


Noelle yang melihat itu tidak bisa menahan diri dari membuat senyum hangat di bibirnya.


Ia perlahan dan tanpa suara menutup pintu lalu menguncinya. Setelah itu, tubuhnya langsung diselimuti asap hitam dan pakaiannya langsung berganti menjadi kemeja putih longgar dengan celana hitam panjang yang biasa ia gunakan untuk tidur.


Noelle berjalan tanpa suara menuju wastafel yang berada di kamar mandi.


Setelah ia membersihkan wajahnya sebentar, ia perlahan merangkak ke ranjang dan berbaring tepat di sebelah Olivia.


Olivia yang merasakan perubahan di sekitarnya mulai sedikit membuka mata. dan dengan wajah mengantuk menatap Noelle yang masih memandanginya dengan senyum dan tatapan hangat.


" … Noelle … "


Olivia dengan suara yang hampir tidak dapat didengar bergumam dan menempelkan wajahnya di dada Noelle.


"Aku kembali, apa aku membuatmu menunggu lama? "


Tanpa menghilangkan senyum dan tatapan lembutnya, Noelle bertanya sambil mengelus rambut Olivia.


Dari sensasi di dadanya, Noelle bisa tahu kalau Olivia sedang menggelengkan kepalanya sambil bernapas lembut.


"Nn … Tidak juga … Aku hanya sedikit tidak sabaran … "


"Hmm? "


Noelle mengangkat alisnya dan kebingungan dengan maksud Olivia, tapi ia tidak menghentikan jarinya yang terus menyisir rambut perak Olivia.


"Aku sudah memikirkannya belakangan ini, tapi … Akhir-akhir ini aku terlalu bergantung pada Noelle … "


" ……… "


"Aku rasa aku menjadi sedikit tidak sabaran … Karena itulah, aku sedang mencoba untuk membiasakan diri jika aku dihadapkan pada situasi yang di mana kita terpisah … "


Olivia tanpa mengangkat wajahnya terus berbicara sambil mengizinkan Noelle untuk terus mengelus rambutnya.


Noelle yang mendengarnya pun semakin melebarkan senyumnya dan tertawa kecil.


" … Apa? "


Olivia mengangkat wajahnya dan menatap Noelle yang terus tersenyum itu dengan wajah kesal.


"Maaf, maaf … Aku hanya tidak menduga kalau hal sepele itu akan mengganggumu."


"Mmmhh … Itu adalah masalah besar untukku," gerutu Olivia sambil mengerucutkan bibirnya.


"Meskipun kamu mengatakannya begitu … Aku mungkin lebih banyak merepotkanmu sejak saat kita masih tinggal di kastil."


"Hmm? "


Olivia memiringkan kepalanya dengan pandangan bertanya-tanya.


Noelle kemudian tersenyum lembut dan melanjutkan gerakan tangannya untuk mengelus rambut halus Olivia.


"Maksudku … Sebagian besar pekerjaan rumah dilakukan oleh Olivia seorang … Bahkan semua makanan yang kunikmati juga buatanmu."


" … Itu karena Noelle tidak bisa memasak."


Dengan wajah yang sedikit memerah, Olivia kembali menenggelamkan wajahnya di dada Noelle.


"Maaf saja kalau begitu. Tapi, siapa yang menyebabkanku menjadi seseorang yang payah dalam memasak? "


Noelle bertanya dengan niat menggoda Olivia untuk menghilangkan suasana hatinya yang buruk.


" ……… "


Olivia tetap diam sambil memukul dada Noelle dengan tangannya yang hampir tidak memiliki tenaga.


Setelah melihat itu, Noelle mau tak mau merasakan sedikit rasa bersalah di hatinya, tapi ia tetap tersenyum geli karena mengingat hal itu.


Noelle memang tidak memiliki keahlian dalam memasak, tapi ia bisa dengan mudah melakukannya jika ia belajar.


Yang menjadi masalah adalah, ia sama sekali tidak diizinkan untuk belajar memasak oleh Olivia.


Alasan Olivia tidak pernah mengizinkannya untuk belajar memasak adalah karena ia tidak mau Noelle berhenti mencicipi masakannya.


Bukannya marah, Noelle saat itu hanya tertawa kecil ketika mendengar alasan yang egois dan kekanak-kanakan itu.


Karena itulah, saat masih di bumi dulu, Noelle seringkali membuat persediaan mie instan untuk beberapa minggu untuk berjaga-jaga jika tidak ada yang memasak untuknya.


Bahkan, sampai saat ini, Olivia masih tidak mengizinkannya untuk belajar memasak meskipun hanya sedikit.


Noelle tersenyum masam dan perlahan mencium kening Olivia setelah ia mengangkat wajahnya sedikit.


"Tapi itu tidak masalah, 'kan? Lagipula kita memiliki kekurangan kita masing-masing. Jika aku memiliki masalah terhadap sesuatu, aku hanya perlu bergantung padamu, dan jika kamu memiliki masalah terhadap sesuatu, kamu hanya perlu mengandalkanku. Bukankah itu sesuatu yang bagus? "


"Mengatakannya seperti itu … Itu curang … Noelle tidak pernah memberitahuku masalah yang Noelle hadapi, Noelle juga selalu merahasiakannya dariku."


"Tentang itu … Maaf … "


Seolah ada sesuatu yang menahannya, Noelle benar-benar terdiam dan hanya mampu meminta maaf sambil terus menggerakkan tangannya untuk mengelus rambut Olivia.


"Nn, tidak masalah. Lagipula Noelle merahasiakannya demi kebaikanku juga … Aku tidak bisa memprotes itu."


Olivia kembali mengangkat kepalanya dan menatap Noelle dengan mata lembut dan senyum kecil.


" … Apa kamu mau kuberitahu tentang itu? "


"Mmhmm, tidak perlu. Aku tidak ingin memaksa Noelle untuk mengatakannya. Aku akan menunggu sampai Noelle menceritakan semuanya sesuai dengan keinginan Noelle sendiri."


Dengan senyum lembut di wajahnya, Olivia terus menatap Noelle dengan mata sayu.


" … Maaf ya … "


Noelle meminta maaf dengan senyum canggung, namun Olivia tidak mempedulikan itu dan mencium pipi Noelle.


"Aku tidak keberatan, tapi … Mulai sekarang … Aku ingin Noelle memanggilku dengan nama Livia."


"? Kenapa tiba-tiba? "


Noelle terlihat kebingungan saat Olivia tiba-tiba memintanya untuk mengganti nama panggilan, tapi Olivia hanya tersenyum dan dengan canggung menjelaskan alasannya.


"Itu … Menurutku memanggilku Olivia seperti itu terlalu merepotkan, jadi lebih baik menyingkatnya menjadi Livia … "


"Meskipun itu hanya berbeda satu huruf dengan nama aslimu? "


"Uuu … Cryll memanggil Stella dengan 'Talya', dan kita juga memanggil Charlotte dengan nama 'Charl', jadi … Aku ingin Noelle memanggilku dengan nama panggilan juga … "


" ……… Hanya karena itu? "


"Uuuu … Di-diam … "


Olivia dengan wajah yang hampir sepenuhnya memerah kemudian kembali menenggelamkan wajahnya di dada Noelle.


" ……… Baiklah … "


Meskipun ia masih sedikit bingung, Noelle tetap menganggukkan kepalanya sambil menatap Olivia yang masih menenggelamkan wajahnya di dada Noelle.


"Mohon kerjasamanya mulai sekarang, Livia," ucap Noelle sambil tersenyum cerah.


"Nn … "


Dihadapkan dengan Noelle yang tersenyum cerah seperti itu, Olivia tidak bisa menahan wajahnya dari serbuan warna merah pudar.


Sementara itu, meskipun Noelle sedang tersenyum cerah, pikiran dan hatinya menjadi mendung karena harus menyembunyikan banyak rahasia dari Olivia.


Bagaimanapun, seperti yang Olivia katakan, ia menyembunyikan semua rahasia itu agar ia tidak melibatkan Olivia dalam banyak masalah yang berbahaya.


Meskipun menurut Olivia itu adalah alasan yang baik, namun Noelle sama sekali tidak setuju tentang itu.


Sejak awal, ia mendapatkan semua informasi berbahaya seperti itu karena keisengannya sendiri.


Akan tidak adil jika dia menyembunyikan itu semua selamanya dari Olivia. Karena itulah, Noelle akan menyelesaikan sendiri semua masalah yang telah ia masuki sendiri, dan menemukan waktu yang tepat untuk menceritakan segalanya pada Olivia.


" ……… "


Noelle tanpa mengatakan apapun menggerakkan tangannya untuk mengelus rambut halus Olivia yang mulai memejamkan matanya.


Tak lama kemudian, Olivia telah benar-benar tertidur dengan napasnya yang lembut.


Sambil terus membelai Olivia, Noelle memajukan wajahnya dan mencium kening Olivia.


" ……… "


...****************...


Keesokan harinya, semua berjalan normal seperti biasanya.


Sambil menunggu permintaan Noelle pada Glantz selesai, kelompok Noelle entah bagaimana menghabiskan waktu mereka dengan normal.


Sampai …


"Kalau begitu, ini sudah waktunya, ya … Aku pergi dulu."


Saat mereka semua sedang berkumpul di area cafetaria penginapan, Noelle yang sejak tadi sedang bermain catur bersama Cryll tiba-tiba berdiri dan mengatakan dia akan pergi.


"Ke mana? "


Olivia memiringkan kepalanya dengan pandangan bertanya-tanya.


"Aku hanya memiliki beberapa urusan kecil terkait senjataku," kata Noelle sambil menepuk pedang yang digantungkan tanpa sarung di pinggangnya.


" ……… "


Olivia tanpa mengatakan apa pun kemudian mengangguk dan lanjut menikmati kue yang ada di meja.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi."


"Tunggu, bagaimana dengan permainan kita? "


Cryll bertanya padanya dengan raut tidak senang. Noelle, bagaimanapun ia hanya tersenyum mengejek dan menatap papan catur dengan pion-pion yang tersusun di atasnya.


"Lupakan tentang itu, aku akan menang hanya dengan satu gerakan lagi."


"Hmm? "


Cryll kemudian mengalihkan pandangannya pada papan catur di hadapannya.


" ……… "


Memang benar, setelah ia memperhatikannya lebih teliti lagi, semua pion telah berada di posisi yang menguntungkan untuk Noelle.


Hanya dengan satu gerakan lagi, Noelle akan memenangkannya dengan skakmat.


" ……… "


Sementara Cryll dengan wajah jengkel terus menatap papan catur itu, Noelle berjalan meninggalkan mereka dan menuju pintu keluar dengan tatapan Charlotte yang melekat di punggungnya.


(Nahh, sekarang … )


Noelle dengan senyum pahit berjalan menyusuri jembatan panjang yang menghubungkan kedua pulau.


...****************...


Saat sore hari, Olivia dengan bosan membolak-balikan halaman buku yang ia pinjam dari Noelle.


"Hey, Olivia … Kenapa Noelle belum kembali sampai sekarang? "


Charlotte bertanya padanya dengan sedikit khawatir.


"Kau serius menanyakan itu? Noelle bahkan akan pergi selama satu minggu penuh hanya dengan menggunakan alasan membeli cemilan, kau tahu? "


Sebelum Olivia sempat menjawab, Cryll menyela pembicaraan dengan suara jengkel.


"Hmm? Cryll? Mau ke mana? "


Stella yang ikut duduk bersama mereka bertanya pada Cryll yang sedang mengemasi beberapa barangnya dan berniat meninggalkan meja.


"Aku hanya ingin mencari penyegaran sedikit … Kafe di depan sana sedang ramai untuk beberapa alasan, aku ingin pergi mengeceknya."


"Kafe? "


"Yep."


Olivia menyipitkan matanya dengan curiga ketika ia mengkonfirmasi perkataan Cryll.


"Aku ikut," ucap Stella sambil berdiri dari kursinya.


"Kalau begitu … Aku juga … "


"Apa di sana ada makanan enak? "


Charlotte juga mulai berdiri dari kursinya, diikuti dengan Chloe.


"Olivia, bagaimana denganmu? "


Stella bertanya pada Olivia yang terus diam sambil menyipitkan matanya yang sayu.


" … Nn, aku ikut … Lagipula berdiam diri di sini cukup membosankan."


Olivia tanpa ragu mengatakan kalimat yang akan menyakiti pemilik penginapan jika ia mendengarnya, lalu segera berdiri meninggalkan kursinya dan menghampiri Stella.


"Kenapa kalian semua ikut … "


Tidak ada satupun orang yang mendengar ratapan hati Cryll.


" … Yahh, terserahlah … "


Cryll hanya mampu menghela napas pasrah dan berjalan keluar meninggalkan penginapan.


Begitu mereka sampai di kafe yang dimaksudkan Cryll, mereka dikejutkan dengan keramaian yang memenuhi baik area luar, maupun area dalam kafe.


Sebagian besar pengunjungnya adalah laki-laki, jadi Olivia dan yang lain dapat dengan mudah menebak alasan mengapa keramaian itu dapat terbentuk.


Tapi tetap saja, tidak ada yang bisa mengalahkan rasa penasaran mereka.


Olivia dan Charlotte saling memandang lalu mengikuti Cryll dan Stella yang telah memasuki area dan membeku di sana.


Olivia dan Charlotte memiringkan kepala mereka dengan penasaran, sedangkan Chloe sedang berusaha masuk dengan memanfaatkan tubuhnya yang kecil untuk menyelinap di antara sekumpulan orang-orang berbadan besar.


Namun ia juga ikut membeku saat ia menatap bagian dalam ruangan itu.


Olivia dan Charlotte semakin penasaran, lalu mencoba untuk ikut masuk dengan paksa.


"Selamat datang~ Mohon ditunggu pesanannya tuan~ Kami sedang kedatangan banyak pelanggan hari ini~ Ahh, kalian~ Dilarang bertarung di sini, okay? ☆ Aku akan menyediakan kursi baru untuk kalian~ Jadi bersabarlah~"


Olivia dan Charlotte dibuat ikut membeku saat melihat seorang gadis dengan rambut putih panjang dengan pakaian maid terbuka sedang melayani beberapa pelanggan sekaligus dengan banyak piring dan gelas di tangannya.


"Ahh, kalian menghalangi pelanggan lain~ Harap bersabar~ Kami juga sedang kekurangan pegawai di sini~ Karena itu … Jadilah anak yang baik dan tunggu aku, okay? ♡"


Gadis itu mengedipkan satu matanya dengan gerakan yang imut dan mengeluarkan beberapa efek cahaya yang tampak berlebihan dari sudut matanya.


Detik kemudian, semua pelanggan pria yang mengantri di depan sontak mengeluarkan darah dari hidung mereka dan terjatuh tanpa daya ke lantai.


"Ahh, kau berdarah~ Apa kau baik-baik saja? Ingin aku yang membersuhkannya? "


" … Y-ya … Dengan senang hati … "


Gadis itu dengan ekspresi khawatir menghampiri salah satu pria yang terjatuh dan mengeluarkan sapu tangannya.


"Hey, bajingan! Itu tidak adil jika hanya kau yang mendapatkannya! "


"Dia benar! Menyingkirlah brengsek! Aku juga berdarah di sini! "


"Aku dengar area pemakaman menjadi semakin sepi belakangan ini, jadi kurasa kita bisa mengirim bajingan itu ke sana! "


"Benar! Bunuh bajingan itu! "


" " " " "OOOOOOOOOOOOO!!!! " " " " "


Situasi semakin kacau saat gadis itu mendekati pria yang terjatuh tadi dan berniat menolongnya.


Semua pria yang ikut menonton di sana ikut berteriak dengan semangat dan berniat menarik senjata mereka, tapi gadis itu hanya tersenyum cerah dan menghadapi semuanya dengan tenang.


"Nah, nah … Jangan menjadi jahat seperti itu~ Aku akan melayani kalian semua nanti, karena itu … Bersabar dan pesan hidangan kami sebanyak-banyaknya, ya☆."


Gadis itu tersenyum manis dan membuat semua pria yang tadinya berteriak dengan kasar menjadi diam seperti anjing penurut.


Wajah mereka semua menjadi merah saat mereka mulai merapihkan antrian.


"Fuhh, itu cukup sulit~"


Gadis itu menghela napas riang saat ia menyapu keringat di dahinya.


Dan saat ia berbalik tepat ke arah di mana Cryll dan yang lainnya masih berdiri membeku, senyum gadis itu tiba-tiba menjadi kaku.


" ……… "


Olivia yang telah kembali ke kenyataan terus menatao gadis itu dengan senyum kecil dan mata kosong.


(Ohh … sial … )


Tak diragukan lagi, keringat deras (hayalan) sedang membanjiri tubuh gadis itu.


...****************...