[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 64: Masalah (1)



...****************...


"Kami sudah menunggumu."


Lilith menatap Olivia dengan pandangan serius sambil melipat tangannya.


Olivia mengerutkan dahinya dengan tidak nyaman saat melihat Lilith dan yang lain berdiri di hadapannya.


Saat ini pikirannya benar-benar berantakan.


Ia senang karena mereka masih hidup, tapi disisi lain ia bingung harus bereaksi seperti apa dan ingin melarikan diri dari sana secepatnya.


Ia benar-benar tidak ingin terlibat lebih jauh dengan para reinkarnator yang menjadi bangsawan di dunia ini.


Olivia menggunakan komik dan novel yang pernah ia baca di bumi sebagai referensi untuk menggambarkan seorang 'bangsawan', dan hasil yang ia dapat hanyalah penilaian negatif untuk mereka.


Karena itulah Olivia berpikir kalau ada kemungkinan yang dimana mantan teman sekelasnya telah merubah sifat mereka menjadi lebih arogan karena reinkarnasi mereka sebagai seseorang dengan kedudukan tinggi.


Dan hasilnya seperti yang ada di depan matanya.


Ia tidak tahu identitas Lilith di kehidupan sebelumnya, tapi ia tidak ingat pernah mengenal seseorang yang begitu pemaksa sebelumnya.


Yang artinya, Lilith adalah seseorang yang ia kenal, namun telah merubah sifatnya mengikuti status kedudukannya saat ini.


"Olivia? "


Suara cemas Stella mencapai telinganya dan membuatnya sontak menegakkan punggungnya.


Saat ia memperhatikan sekitarnya, ia akhirnya dadar kalau ia telah merenung untuk waktu yang cukup lama dan mulai mengganggu pelanggan lain.


" … Sebaiknya kita berbicara di sana."


Melihat situasinya tidak menjadi lebih baik, Olivia hanya mampu menghela nafas pasrah dan meminta Lilith dan yang lainnya untuk berganti tempat.


Olivia berjalan menuju meja yang terletak di sudut lobi.


Lilith dan yang lainnya hanya saling menatap dan dengan ragu mengikuti Olivia dari belakang.


"Baik, sekarang beri aku penjelasanmu."


Setelah mereka mencapai sudut lobi, Olivia dan Lilith duduk berhadapan dengan Charlotte di sisi mereka.


Dan karena mejanya tidak cukup untuk menampung jumlah orang yang datang bersama Lilith, mereka terpaksa membawa meja lain untuk mendekat ke meja Olivia.


Mereka dengan tidak sabaran menatap Olivia yang dengan tenang menutup matanya.


Di antara mereka adalah Norman yang dengan cemas memperhatikan sekelilingnya dan Iris yang menatap Olivia dengan raut tidak senang.


Olivia kemudian menghela nafas lelah untuk kesekian kalinya.


Ia benar-benar akan berakhir seperti Noelle jika ia terus melakukan itu.


"Sebelum itu … Stella … Aku ingin kamu membawa Chloe untuk melakukan check-in terlebih dahulu."


"Eh? "


Stella tampak tak setuju, ia ingin tinggal di sana dan mengetahui apa yang terjadi di antara mereka.


Stella berasal dari akademi yang sama dengan mereka di ibukota, jadi ia mengenal kelompok Norman dengan cukup baik.


Lagipula mau tidak mau ia akan terlibat dengan mereka karena Norman tampak begitu terikat dengan Cryll.


Stella juga mengenal Lilith, dan ia yakin kalau seharusnya Lilith dan orang-orang di belakangnya sama sekali tidak pernah bertemu dan terlibat dengan kehidupan Noelle maupun Olivia.


Karena itulah ia ingin tahu apa yang terjadi diantara mereka.


Stella ingin menolak permintaan Olivia, namun kemudian ia menyadari kalau ia tidak mampu membantah Olivia.


Olivia menatapnya dengan pandangan memohon dan wajah sedih yang tampak seolah ia terpaksa melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan.


Ia benar-benar tidak pernah melihat ekspresi seperti itu terbentuk di wajah Olivia, ia bahkan tidak tahu kalau Olivia bisa mengeluarkan ekspresi sedih seperti itu, jadi ia hanya bisa terdiam dan menatapnya dengan ragu.


" … Baiklah."


Setelah beberapa saat bimbang dengan isi hatinya, Stella memutuskan untuk menuruti Olivia dan membawa Chloe untuk pergi ke konter untuk melakukan pemesanan kamar.


"Ayo, Chloe."


Chloe tampak tak puas dan ingin tinggal lebih lama, namun ia secara naluri menyadari kalau Olivia akan melakukan pembicaraan yang berada diluar pemahamannya, jadi ia dengan wajah cemberut mengikuti Stella.


Olivia yang melihat mereka bedua pergi semakin jauh kemudian tersenyum sedih dan kembali menatap Lilith dengan wajah tanpa ekspresi seperti biasa.


Semua orang yang ada di sekitarnya termasuk Charlotte dan Lilith benar-benar terperangah ketika melihat pergantian ekspresi Olivia yang begitu cepat.


Mau tak mau Charlotte berpikir kalau Olivia memberikan ekspresi palsu saat berbicara dengan Stella tadi, tapi ia segera menggelengkan kepalanya untuk menyangkal itu.


Charlotte berusaha menganggap itu normal karena ia tiba-tiba teringat dengan ekspresi dingin Noelle pada malam mereka bertemu.


Saat Noelle menggunakan kemampuannya untuk membunuh salah satu pengawal Lindsey, ia tampak tak merasakan apapun, justru itu terlihat seperti dia sedang menikmatinya.


Charlotte berusaha menganggap kalau Olivia memiliki perilaku yang hampir sama dengan Noelle karena mereka telah tinggal bersama selama bertahun-tahun.


Sementara hatinya gelisah karena memikirkan perubahan sifat pada Noelle dan Olivia, Lilith dengan tak sabaran menghentakkan kakinya dengan keras pada lantai keramik itu.


Untungnya sepatu yang ia gunakan memiliki bahan yang lembut sehingga itu meredam suara dan efek kejut yang dihasilkan dari hentakannya yang tiba-tiba.


"Apa kau bisa bicara sekarang?! "


"Diam."


Suara tanpa intonasi Olivia bergema layaknya badai salju yang membekukan segala hal yang ada di sekitarnya.


Matanya dengan dingin menatap Lilith sementara ia mengangkat tangan kanannya lalu menjentikkan jarinya.


Sesaat berikutnya, sebuah lingkaran cahaya mulai menyelimuti area sekitar mereka dan membesar membentuk kubah yang seolah melindungi mereka.


Kubah cahaya itu kemudian berubah menjadi transparan secara perlahan, dan perhatian yang diarahkan pada mereka semakin berkurang setiap detiknya.


"Aku sudah memasang penghalang, dengan begini seharusnya tidak ada yang menguping."


Olivia kembali menatap Lilith setelah is menggunakan sihirnya untuk menciptakan penghalang.


Itu hanya penghalang ilusi biasa, seseorang dengan kemampuan sihir rendah tidak akan mampu melihat mereka.


Lilith yang menyadari situasinys langsung tertunduk malu, namun kemudian ia kembali menegakkan punggungnya dan menatap Olivia.


"Sekali lagi, aku ingin memastikan, kau benar-benar Airi Ayano 'kan? Lalu gadis di sana adalah Nitta Haruna … Apa aku benar? Tidak, aku yakin kalau tebakan ku benar."


"Dan? Bagaimana jika tebakanmu salah dan ternyata kami bukanlah orang yang kau cari? "


"Itu … "


Lilith terdiam dan tak mampu menjawab.


Ia benar-benar yakin dengan tebakannya kalau gadis berambut perak di hadapannya adalah orang yang ia cari.


"Tidak, aku yakin itu benar-benar dirimu. Aku bisa memastikannya dengan kemampuan 《Student Cognosce》 milikku."


" ……? "


Olivia memiringkan kepalanya ketika mendengar nama skill yang belum pernah ia dengar sebelumnya.


Tapi Lilith benar-benar terlihat yakin dan sangat percaya diri tentang kemampuannya itu, sehingga Olivia mau tak mau langsung bertanya-tanya kemampuan seperti apa itu.


Lilith yang menyadari kebingungan Olivia kemudian berdeham lalu menjelaskan.


"《Student Cognosce》 adalah skill yang kudapatkan begitu aku bereinkarnasi di dunia ini. Kemampuan ini membuatku mampu melihat daftar muridku serta status mereka saat ini."


Singkatnya, 《Student Cognose》 adalah skill yang memiliki fungsi layaknya buku absen sekolah.


Olivia dengan cepat membuat kesimpulan di kepalanya, namun kemudian ia tersentak dan menatap Lilith dengan terkejut.


"Apa mungkin … Inaka … Sensei …? "


Olivia dengan mata terbelalak tak percaya dengan gemetar mencoba memastikan.


Lilith kemudian dengan semangat bangkit dari kursinya dan menggenggam erat bahu Olivia.


"Sudah kuduga kau mengenalku! "


Meskipun cengkeraman tangan Lilith begitu kuat sehingga mampu menghancurkan tulang seorang remaja normal, Olivia masih diak tak berkutik.


Lilith, gadis yang berdiri di hadapannya adalah sosok yang telah Olivia anggap 'penting' di kehidupan sebelumnya.


Inaka Kagarin, dia adalah guru yang menjadi wali kelas mereka dulu.


Olivia benar-benar tidak memprediksi ini.


Meskipun ia telah membuat perkiraan kemungkinan yang akan terjadi, ia benar-benar tidak berpikir kalau orang yang pernah menjadi gurunya akan muncul secara lalangsung


Charlotte yang duduk di sampingnya juga diam tak berkutik dengan ekspresi kosong di wajahnya.


Tangannya yang gemetar mulai berkeringat tanpa ia sadari, dan matanya tampak bergetar ketika menatap sosok Lilith.


Tatapan itu penuh dengan emosi yang bercampur. Namun ia lebih merasa sedih dan takut saat melihat Lilith.


Lilith di kehidupan sebelumnya adalah sosok guru yang sangat baik dan ramah sehingga para murid menjadi bertingkah sangat akrab dengannya.


Lebih dari itu, bahkan Noelle dan Olivia merasa kalau dia adalah sosok yang bisa dipercaya.


"Ummm … Apa kau baik-baik saja? "


Lilith bertanya dengan khawatir ketika melihat Olivia dan Charlotte masih membeku karena terkejut.


Olivia lalu tersentak dan melihat sekelilingnya.


Orang-orang yang datang bersama Lilith mulai membuat keributan sambil terus memperhatikan Olivia dan Charlotte.


Selain itu, sihir penghalang yang Olivia pasang mulai memudar karena ia kehilangan fokusnya, dan itu membuat perhatian yang diarahkan pada mereka menjadi semakin banyak.


Olivia kemudian dengan panik berusaha mempertahankan dan memperkuat penghalang itu di tengah konflik batinnya.


Ia menarik nafas panjang sejenak untuk menenangkan pikirannya.


Olivia dan Charlotte kemudian kembali duduk dengan wajah pucat.


Melihat mereka berdua telah tenang, Lilith kemudian ikut duduk dan bertanya dengan lembut.


"Sekali lagi, apakah kalian adalah Airi dan Nitta? "


" …… Nn."


Olivia dengan jeda panjang menjawab Lilith sedangkan Charlotte hanya mampu menganggukkan kepalanya dengan lemas.


Meskipun Lilith tidak perlu bertanya lagi karena ia sudah mengetahui identitas mereka, ia tetap menunggu Olivia dan Charlotte untuk mengungkapkan itu sendiri dengan kemauan mereka.


" ……… "


Tidak ada satupun dari mereka yang mampu memulai pembicaraan, dan suasana menjadi benar-benar canggung.


Lilith merasa tidak nyaman dengan atmosfer itu, jadi ia berusaha mencari topik pembicaraan untuk mengobrol dengan Olivia dan Charlotte.


"Emmm … Ada banyak yang ingin ku tanyakan, tapi … Untuk saat ini aku akan mengatakan … Senang melihat kalian masih sehat." ucap Lilith dengan senyum canggung.


Mendengar itu, Olivia dan Charlotte hanya mampu mengerutkan dahi mereka dengan tidak nyaman dan sedikit perasaan bersalah.


" " " ……… " " "


( … Ini canggung.)


Ada banyak yang ingin Lilith tanyakan, tapi ia sama sekali tidak sanggup mengatakannya ketika melihat Olivia dan Charlotte yang membeku karena terkejut.


Karena itulah, sebagai satu-satunya orang 'dewasa' di kelompok mereka, Lilith memutuskan untuk membuat arus pembicaraan menjadi lebih nyaman.


"Emmm … Airi-"


"Tolong panggil aku Olivia, Airi Ayano adalah namaku dikehiduoan sebelumnya, itu sudah tidak ada hubungannya dengan sekarang."


Olivia dengan marah menyela Lilith sebelum ia menyelesaikan perkataannya.


Lilith benar-benar tampak terkejut saat melihat Olivia menunjukkan wajah marah untuk pertama kalinya.


Mata hitam obsidian miliknya samar-samar mulai mengubah warnanya menjadi merah.


"Ah … Maaf."


Mendapatkan tatapan ancaman dari Olivia membuat Lilith sedikit bergidik ketakutan, namun martabatnya sebagai seorang 'mantan guru' membuatnya tetap tenang dan menghadapi Olivia.


"Jadi, di mana kalian selama ini? "


Dia berusaha mengalihkan pembicaraan dengan bertanya pada Olivia dan Charlotte.


" … Tidak ada hubungannya denganmu."


Olivia berusaha terdengar setenang mungkin, namun ia tidak bisa menahan suaranya untuk tidak bergetar.


( …… Dia bertanya pada 'kami' … Apa itu artinya mereka tidak mengenal Charlotte …?)


Olivia menoleh ke arah Charlotte untuk meminta konfirmasi, tapi Charlotte sama sekali tidak menjawabnya dan hanya diam termenung.


Charlotte juga seorang bangsawan, terlebih lagi dengan pangkat yang cukup tinggi, seharusnya tidak heran jika ia dan orang-orang yang datang bersama Lilith ternyata saling mengenal.


Namun tampaknya Lilith dan yang lain sama sekali tidak mengenalnya karena Lilith bertanya tentang lokasinya selama ini.


Itu menimbulkan pertanyaan di hati Olivia, namun ia berusaha mengalihkan pemikiran itu dan kembali menatap Lilith.


"Sekarang, aku sudah menjawab semua pertanyaanmu … Aku akan pergi sekarang."


"Tunggu."


Sebelum Olivia sempat melarikan diri, Lilith berusaha menahannya dengan mencengkram lengan Olivia.


"Apa kau-"


"Apa selama ini … Kau tinggal bersama Izaya? "


Sebelum Lilith menyelesaikan pertanyaannya, Norman menyela dari belakang mereka.


Dari raut wajahnya, ia tampak sangat tak sabar untuk mengetahui jawabannya.


"Apa yang akan kalian lakukan jika memang iya? "


Olivia menjawabnya dengan suara dingin sambil menyipitkan matanya.


Gelombang cahaya putih mulai menampakkan dirinya seolah meluap dari tubuh kecil Olivia, dan suhu udara di sekitar mereka juga mulai menurun secara drastis.


Meskipun suaranya sangat datar seolah tidak memiliki nada, semua orang di sekitarnya dengan jelas mengetahui kalau dia sedang mengancam.


Jika itu terus berlanjut, maka seisi ruangan akan membeku, jadi Charlotte dengan cepat menenangkan Olivia.


Charlotte menempelkan sebuah bulu hitam di lengan Olivia, dan membuat emosi serta energi sihirnya menjadi lebih stabil.


Olivia kemudian tersadar dan berterimakasih pada Charlotte karena telah menenangkan dirinya yang hampir lepas kendali.


Bulu yang digunakan Charlotte untuk menenangkan Olivia adalah bulu yang dia dapatkan dari sayapnya sendiri.


Itu memiliki banyak fungsi, dan salah satunya adalah memberikan berbagai macam efek sihir tergantung pada apa yang diinginkan Charlotte.


Bagaimanapun, Charlotte tidak mau ruangan itu membeku karena sihir es Olivia dan membuat lisensi petualang mereka harus dicabut sementara sebagai sanksi.


Meskipun semua itu adalah salah Norman yang telah menyinggung Olivia dengan melibatkan Noelle di pembicaraan mereka, Charlotte tetap tidak mau kerepotan dengan kerusakan yang akan disebabkan Olivia nanti.


Bagaimanapun, Olivia sangatlah sensitif jika itu tentang sesuatu yang berkaitan dengan Noelle. Terutama jika ada yang bicara buruk tentangnya, Olivia tanpa mengatakan apapun akan langsung membekukan semua yang ada di sekitarnya.


Dan kebetulan saja, Norman menyebut nama Noelle dengan nada menyindir, tentu Olivia akan langsung menyadari itu.


Olivia dengan tatapan mengancam menatap Lilith dan Norman yang berdiri berdampingan.


"Aku sudah hidup bersama Noelle sejak kami masih anak-anak dan membangkitkan ingatan kami, Noelle selalu menjagaku, dan dia satu-satunya yang kumiliki, lebih dari itu tidak ada hubungannya dengan kalian."


"Itu-"


Lagi-lagi, sebelum Lilith menyelesaikan kata-katanya, Olivia berbicara lebih dulu.


Dia dengan mata dingin menatap semua orang dikelompok Norman.


"Kami berdua bertemu dengan Charl beberapa bulan yang lalu, dan dia memanglah Nitta Haruna, salah satu reinkarnator, apapun yang terjadi pada kami sebelumnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan kalian."


"Baik aku, Charl, maupun Noelle sama sekali tidak memiliki keinginan untuk terlibat dengan kalian di dunia ini, aku tidak tahu apapun mengenai kemampuan 《Student Cognosce》 itu, tapi Noelle pasti tidak akan senang jika ia mengetahui kalau kau memiliki kemampuan aneh itu."


"Dan juga … "


Gelombang cahaya putih mulai berkumpul di tangan Olivia seolah berusaha memanifestasikan dirinya di dunia fana.


Seketika, sebuah tombak es panjang muncul di tangannya, dan ia langsung mengarahkan ujung lancip tombak itu ke leher Norman.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun mengejek ataupun merendahkan Noelle tepat di hadapanku, dan jika aku mendengarnya lagi … "


Ujung tombak itu semakin dekat dengan Leher Norman dan ujungnya mulai menempel di kulit sehat Norman yang terlihat sangat rapuh itu.


Tidak ada satupun diantara kelompok Norman yang berani bergerak untuk menyelamatkannya.


Bahkan Lilith hanya mampu berdiri membeku dengan nafas yang tertahan seolah ia akan mati jika bernafas.


Setelah beberapa saat, Olivia kembali menarik tangannya dan tombak itu langsung pecah menjadi butiran cahaya.


Ia kemudian berbalik dan meninggalkan kelompok Norman yang masih membeku tanpa mampu berkata apapun.


Charlotte tanpa bersuara mengikutinya dari belakang.


Mereka berdua menghampiri Stella dan Chloe yang sedang menunggu mereka di meja lain.


"Maaf telah membuat kalian menunggu terlalu lama, apa kalian sudah memesan kamarnya? "


Olivia bertanya dengan suara lembut seolah aura mengancamnya tadi hanyalah ilusi.


"Mhmm, kami memesan 3 kamar seperti yang kamu katakan."


Stella mengangguk dan menyambut Olivia dengan hangat sambil menunjukkan tiga buah kunci yang dia genggam di tangannya.


Ia tidak mengetahui apa yang terjadi saat pembicaraan dengan kelompok Norman karena keberadaan mereka ditutupi oleh penghalang, tapi Stella samar-samar mengerti kalau itu adalah sesuatu yang tidak terlalu baik.


Jadi ia berusaha untuk tidak menyinggung itu.


"Nn, itu bagus … Apa Charl dan Chloe tidak masalah untuk tidur bersama? "


"Aku tidak masalah dengan itu."


"Aku juga.~"


Mereka hanya memesan 3 kamar, satu kamar untuk ditempati Noelle dan Olivia, dan satu lagi untuk Cryll bersama Stella.


Charlotte tidak keberatan untuk tidur di kamar yang sama dengan Chloe karena mereka sudah cukup akrab, dan juga, ia benar-benar tidak ingin terlibat ataupun mengganggu malam pasangan kekasih.


"Nn, kalau begitu … Ayo kita ke kamar masing-masing dan meletakkan barang bawaan."


Setelah mereka tiba di lantai tempat kamar mereka berada, Charlotte memperhatikan sekelilingnya dengan canggung dan mengangguk dengan tidak nyaman.


Kamarnya dan Chloe terletak tepat di antara kamar Olivia dan Stella.


( … Mungkin aku harus memasang peredam suara nanti … )


Dengan wajah yang sedikit memerah, ia menggelengkan kepalanya dan memasuki kamar bersama Chloe.


...****************...


Setelah membereskan semua barang-barangnya, Olivia segera melepas semua pakaiannya dan berganti menggunakan kemeja putih yang memiliki ukuran lebih besar dari tubuhnya.


Sangat jelas kalau itu adalah kemeja milik Noelle.


Sangat melelahkan untuk menggunakan gaun seharian penuh, jadi ia benar-benar merasa nyaman setelah melepas semua pakaian yang merepotkan itu.


Olivia sama sekali tidak memakai celana maupun rok karena ia terlalu malas untuk melakukannya, tapi kemeja Noelle yang ia gunakan memiliki ukuran yang cukup besar untuk menutupi sampai pangkal pahanya.


Ia langsung melomoat ke tempat tidur dan berguling-guling di sana beberapa kali, lalu segera berhenti dan mulai memeluk bantal yang ia ambil saat ia berguling tadi.


Ia membenamkan wajahnya dan memikirkan apa yang terjadi tadi. Kata-kata Norman yang terdengar seperti menyindir Noelle benar-benar membuat Olivia marah dan hampir lepas kendali, tapi untungnya Charlotte segera menghentikannya tepat waktu sebelum semua ruangan berubah menjadi lapisan es yang dingin.


Semua itu ia lakukan secara refleks dari alam bawah sadarnya begitu ia mendengar 'ejekan pada Noelle'.


Sekarang, entah bagaimana Olivia merasa sedikit menyesal karena telah mengancam semua orang yang pernah menjadi teman sekelasnya.


Olivia mengangkat wajahnya dengan cemberut dan mulai mengendus kemeja yang ia gunakan.


(Mhmm … Aroma tubuh Noelle … Apa aku belum mencuci yang ini? Tapi … Ehehe … Ini memiliki bau yang sama dengan Noelle.)


Ia seketika tersenyum dan tanpa henti mengendus aroma Noelle yang tersisa di kemeja itu dengan wajah yang terlihat memerah seperti apel.


Olivia dengan wajahnya yang masih memerah berhenti mengendus kemeja itu dan kembali memeluk bantal sambil membenturkan kepalanya sendiri di bantal itu.


(Uuuu … Apa yang kulakukan … Noelle … Cepatlah kembali … )


Olivia memutuskan untuk menunggu Noelle kembali sambil terus mengendus aroma tubuhnya tanpa sadar.


Namun, Noelle tetap tidak kembali bahkan sampai malam tiba.


...****************...


(AN: Ahhh... Maaf karena sedikit terlambat update... Belakangan ini tugas sekolahku... Menggunung, dan aku bingung harus mengerjakannya darimana... Terlebih, aku baru saja mengalami write block yang singkat sehingga aku tidak tahu apa yang harus kutulis meskipun aku memiliki banyak bahan untuk itu...)