[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 134: Neutral Enemies (5)



...****************...


—Istana besar Kerajaan Nothernos, Zeltis bagian pusat, kota administratif Celle.


Dari kejauhan, Celle terlihat seperti sebuah kota besar yang tak pernah mendapatkan jam malam. Itu karena, kota ini selalu diterangi oleh kilauan cahaya yang indah setiap waktu.


Hal itu tak luput dari semua kegiatan yang terus berlangsung tanpa mengenal apa itu batas waktu.


Itu sudah tidak mengherankan. Lagi pula, Celle adalah pusat dari semua kegiatan nasional kerajaan ini. Tempat Istana Kerajaan berada. Itulah Celle.


Di kota yang tetap penuh dengan aktifitas walaupun waktu sudah menunjuk pada tengah malam ini, terdapat suatu arsitektur yang paling kontras dari semua bangunan yang ada di seluruh bagian kota.


Itu adalah sebuah istana besar berwarna putih marmer dengan banyak hiasan yang terbuat dari emas dan batu zamrud yang indah.


Ukurannya sangatlah besar. Terlalu besar sehingga mata seorang manusia tidak mungkin bisa melihat keseluruhan bagian terluarnya.


Dengan beberapa menara beratap kerucut yang sangat tinggi di beberapa bagian, kastil itu berdiri dengan sangat megah, menunjukkan keagungan pemiliknya tanpa merusak pemandangan di sekitarnya.


Dan di area kastil yang sangat besar itu, seekor elang terbang dengan bebas di langit malam tanpa sedikit pun hambatan. Gerakannya begitu halus, kepakan sayapnya sangatlah lembut sehingga tidak mungkin untuk mendengar suaranya bahkan dari dekat.


Namun, yang membedakannya dari elang kebanyakan adalah bentuk dan ukurannya yang memancarkan keindahan, sekaligus kekuatan absolutnya.


Elang itu memiliki ekor yang sangat panjang, dan bagian ujungnya juga tampak dihiasi dengan gradasi kemerahan sehingga membuatnya terlihat seperti kobaran api dari seekor Phoenix. Selain itu, terlihat juga dua helai jambul kemerahan yang berkobar dengan bebas saat teritup angin.


Hanya dengan melihat ciri-ciri itu, siapa pun yang ada di Celle pasti akan tahu kalau itu bukanlah seekor elang biasa.


Di tengah langit malam, sorot mata elang itu tampak sedang memindai semua hal yang terjadi di Celle. Aura yang dia pancarkan melalui sorot mata tajamnya itu seolah mengatakan kalau tidak ada satu pun bagian yang ia lewatkan.


Setelah beberapa kali terbang memutari kastil sambil mengamati kehidupan penduduk Celle, elang itu kemudian memacu kecepatannya mengarah ke sebuah aula terbuka yang ada di puncak Kastil Besar Kerajaan.


"Aku sudah menyelesaikan semua pekerjaan yang Anda berikan padaku, Yang Mulia."


Begitu ia mendapat di pagar, dia seketika menundukkan kepalanya di hadapan seorang pria.


Pria itu memiliki penampilan yang dapat dikategorikan sebagai pria tampan yang menyegarkan. Meskipun, usianya sudah melewati angka 50 tahun.


Dengan rambut cokelat cerah, serta mata hijau zamrud yang indah, dia tersenyum dengan cara yang berwibawa pada elang itu.


Jubah seremonial yang sedikit kusut masih belum terlepas dari punggungnya, tapi itu tidak membuat penampilannya menjadi lebih berantakan. Justru, ia terlihat sangat cocok dengan itu.


Dia adalah sosok yang dipuja semua orang sebagai seorang pemimpin, sebagai seorang raja, dan sebagai seorang keturunan pahlawan.


Louise ul Igni Zeltis. Dia adalah raja dari kerajaan ini.


"Kerja bagus, Vincent."


Dia, Louise tersenyum pada elang itu, yang ia sebut sebagai Vincent.


Menghadapi itu, Vincent tampak menghela napas dengan lelah.


"Berhenti memanggilku dengan nama itu saat aku dalam wujud ini, Yang Mulia."


Vincent kemudian mengepakkan sayapnya, menciptakan banyak asap hitam yang kemudian menutupi seluruh tubuhnya.


Tak lama kemudian, asap itu menghilang, dan seorang pria dengan tatapan dingin muncul di hadapan Louise.


Pria itu, Vincent seketika berlutut di hadapan Louise.


"Knight of Round, Vincent vill Rhodes, siap melayanimu, Yang Mulia."


"Ya. Kerja bagus karena telah melaksanakan perintahku, Vincent."


Vincent vill Rhodes. Di mata publik, dia hanyalah seorang kepala keluarga bangsawan feodal Rhodes yang sangat loyal terhadap keluarga kerajaan.


Tapi, tidak ada yang tahu kalau sosoknya yang sebenarnya adalah salah satu kesatria yang tergabung dalam kelompok Knight of Round.


Kelompok kesatria Knight of Round hanya berisi 13 orang kesatria yang sangat kuat. Dan di antara semua orang itu, ada satu anggota yang paling misterius. Sosoknya bahkan tak pernah diketahui oleh anggota Knight of Round yang lain.


Secara resmi, anggota Knight of Round memanglah 13 orang, tapi hanya ada 12 orang yang selalu muncul di hadapan publik. Itu membuat siapa pun mau tak mau jadi membuat kesimpulan kalau Knight of Round yang ke-13 sebenarnya tidak pernah ada.


Usai mendapatkan kalimat penyambutan dari Louise, Vincent kemudian berdiri dan menatapnya dengan mata tegas.


"Apa itu baik-baik saja? "


"Apa maksudmu? "


Louise menjawabnya dengan tersenyum. Dia kemudian berbalik dan perlahan berjalan menjauhi Vincent, sebelum akhirnya berhenti tepat di hadapan lukisan besar yang menggambarkan keagungan sosok leluhurnya, pahlawan Aaron ul Igni Zeltis.


Memang selalu seperti ini. Vincent menganggapnya sangat menjengkelkan.


Vincent yakin kalau sebenarnya Louise sudah tahu apa yang ia maksud, tapi dia justru dengan sengaja memancing Vincent untuk berbicara sendiri.


Namun, meskipun Vincent menganggap itu menjengkelkan, ia tetap tak bisa membenci, ataupun membantah Louise.


"Mengirim Lucius ke Eisen, sementara peperangan transparan antara Asterisk dengan Voyager masih berlanjut. Bukankah citra terhadap Knight of Round akan semakin memburuk? "


Louise diam, sama sekali tidak menjawab. Tapi, dia perlahan berbalik dan menatap Vincent dengan senyum sinis.


"Apa kau meragukanku, Vincent? "


"Itu … Tidak mungkin. Aku sudah bersumpah akan mengikuti apa pun keputusanmu. Tapi, aku masih tidak mengerti dengan rencana yang engkau buat."


Meskipun hubungan mereka seharusnya menjadi sesuatu seperti tuan dan pelayan, anehnya mereka seperti memancarkan suasana yang sangat akrab sehingga siapa pun akan terkejut ketika melihatnya.


Vincent memang telah bersama Louise sebagai pelayan pribadinya untuk waktu yang sangat lama. Tapi, kedekatan seperti itu sedikit tidak wajar bagi seorang raja seperti Louise.


"Ini bukanlah rencana yang sangat rumit sehingga kau tak dapat memahaminya, Vincent. Justru, ini adalah rencana yang terlalu sederhana sehingga tak layak untuk disebut rencana."


" … Bisakah Anda menjelaskannya padaku? "


Tampaknya Vincent masih belum memahami maksud Louise yang sebenarnya. Meskipun, itu seharusnya sudah cukup jelas mengingat Louise menjelaskannya dengan cukup baik.


"Seperti yang kukatakan. Ini sama sekali bukan rencana. Aku memang sengaja membiarkan Asterisk membuat sedikit kerusuhan di Rondo, dan mengirim Lucius Roux untuk mengatasi masalah di Eisen. Itu semua kulakukan agar menjaga semua tetap pada jalurnya."


" … Apa itu … Bimbingan dari Avesta? "


Avesta, itu adalah nama senjata bintang yang Louise miliki. Tentang keberadaannya, hanya Vincent yang mengetahuinya. Bahkan, anggota lain dari keluarga kerajaan sendiri tidak pernah tahu kalau ada suatu senjata bernama Avesta.


Meskipun disebut sebagai senjata, Avesta sama sekali tidak memiliki nilai serang. Itu karena, wujudnya hanyalah sebuah buku dengan tebal kurang lebih 5 inci.


"Tidak. Sejak awal, keberadaan Asterisk adalah sesuatu yang tidak pernah disebutkan dalam kitab Avesta. Mereka benar-benar berkumpul karena pengaruh lain, yang melampaui kemampuan pengumpulan informasi Avesta.


Tidak seperti senjata bintang yang lain, Avesta memiliki kemampuan yang benar-benar berbeda dari senjata lain.


Kitab Avesta berisi semua pengetahuan yang ada di dunia. Baik yang ada di masa lalu, masa kini, dan masa depan. Avesta memiliki itu semua.


Sama seperti senjata bintang lainnya, hanya orang yang terpilih yang dapat menggunakan Avesta.


Jika orang biasa yang tidak memiliki kualifikasi memaksa untuk menggunakannya, kepala mereka tidak akan sanggup menampung semua informasi dari tiga masa.


Raja Kerajaan Nothernos yang sekarang, Louise ul Igni Zeltis memiliki kualifikasi yang sempurna untuk menerima semua pengetahuan kitab Avesta.


Dengan memanfaatkan semua pengetahuan yang ia dapat dari Avesta, Louise berhasil memajukan negaranya 100 tahun lebih cepat dari seharusnya.


Karena itulah, ia disebut sebagai 'Raja revolusioner', dan 'Raja yang mengetahui segalanya'.


Bahkan, gelar itu juga sudah disematkan di statusnya.


Namun, meskipun ia 'mengetahui segalanya', ada batas untuk semua hal yang ia lakukan.


"Sesuatu yang tidak tercatat di dalam kitab Avesta … Apa sesuatu seperti benar-benar ada? "


Berdasarkan caranya mengatakan itu, Vincent terlihat sangat meyakini kekuatan yang dimiliki kitab Avesta. Dia terlihat seperti memuja kekuatannya dan tak mempercayai kelemahannya.


"Itu mungkin sedikit mengejutkan untukmu, Vincent. Tapi, ada banyak hal yang sering kali melampaui batas pengetahuan umat manusia. Kemunculan Asterisk hanyalah salah satu dari semua itu."


Itu memang benar. Avesta diyakini memang memiliki informasi tentang semua hal yang ada di dunia, tapi sebenarnya ada beberapa hal yang bahkan tak dapat dibaca oleh Avesta.


Itu adalah 'informasi mengenai sesuatu yang berada di luar akal sehat umat manusia'.


Kitab Avesta memiliki informasi tentang sejarah yang disembunyikan para dewa, tapi kitab itu bahkan tidak memiliki apa pun yang berkaitan dengan kemunculan Asterisk.


Yang artinya, kitab Avesta telah mengkategorikan Asterisk sebagai 'sesuatu yang berada di luar akal sehat umat manusia'.


"Asterisk … Apa Anda benar-benar tidak tahu apa pun tentang mereka? "


Vincent bertanya pada Louise. Ia tampak benar-benar tidak mau mempercayai kalau raja yang ia layani ini tidak memiliki informasi apa pun tentang kelompok yang membuat kerusuhan di Rondo.


"Aku benar-benar tidak tahu apa pun tentang kemunculan mereka. Tapi, aku yakin akan satu hal."


" … Apa itu? "


Louise berbalik dan tersenyum pada Vincent.


"Asterisk, keberadaan mereka akan membawa perubahan besar, dan membuat jalur sejarah dunia menjadi menyimpang dari jalur seharusnya."


Vincent sama sekali tidak mengerti maksudnya, dan Louise tampaknya menyadari itu.


"Kau tidak perlu repot-repot memikirkannya. Lagi pula, keberadaan mereka tidak akan begitu mengganggu kita. Kita tidak perlu mengambil tindakan. Setidaknya, tidak untuk sekarang."


Vincent diam sejenak, lalu berlutut pada Louise.


" … Jika anda mengizinkan, bisakah anda menjelaskannya lebih lanjut lagi? "


"Ini terkait dengan kekuatan Avesta, Vincent. Di antara semua orang yang hidup di Kerajaan ini, hanya kau yang mengetahui keberadaan Avesta. Kau seharusnya tahu betapa kuatnya kemampuan yang dimiliki Avesta, 'kan? "


Meskipun kekuatan serangan dari kitab Avesta adalah nol, kitab Avesta memiliki kekuatan lain berupa informasi dari seluruh dunia.


Jika digunakan dengan cara yang tepat, maka pemilik Avesta dapat dengan mudah menguasai dunia tanpa pengorbanan apa pun.


'Informasi adalah senjata terkuat', kalimat itu tepat untuk menggambarkan kemampuan yang dimiliki kitab Avesta.


Dengan kekuatan Avesta, Louise bisa saja memenangkan semua peperangan, dan menyatukan semua negara. Tapi, dia memilih untuk tidak melakukan itu.


Alasannya tentu saja, untuk menjaga posisinya sebagai seorang 'pengamat'.


Seorang pengamat harus bersikap netral terhadap semua situasi. Dia juga tidak diperbolehkan untuk ikut campur jika ada suatu konflik besar yang melanda dunia.


Jika Louise ikut campur, maka kualifikasinya sebagai seorang pengamat akan menghilang.


Dan jika itu sampai terjadi, ia harus mempertanggungjawabkan semua tindakannya sampai akhir yang menyakitkan.


"Perjanjian dua dunia. Dunia manusia, dan dunia iblis. Leluhurku, Raja Aaron telah bersahabat dengan sosok yang disebut sebagai Raja iblis, Ishkavilia. Dalam perjanjian itu, sudah diputuskan kalau semua generasi yang akan datang tidak akan pernah ikut campur satu sama lain. Kami semua hanyalah pengamat yang tidak diizinkan untuk ikut campur dalam masalah yang melibatkan dunia."


" … Meskipun begitu … Mediator dari dunia iblis, Raja vampir sudah lama mati. Tidak ada gunanya mempertahankan janji kosong itu … "


Apa yang Vincent katakan memang benar. Tapi, itu dapat memicu kesalahpahaman sehingga berakibat fatal untuknya.


Meskipun Vincent tahu itu, ia tetap mengatakannya. Itu adalah bukti kalau ia benar-benar meyakini Louise lebih dari apa pun, atau siapa pun.


"Itu mungkin benar. Tapi, perjanjian yang dibentuk oleh Pahlawan Aaron dengan Raja iblis Ishkavilia adalah alasan mengapa jutaan orang masih bisa hidup dengan damai sampai saat ini. Jika perjanjian itu dirusak, maka kau sendiri pasti dapat melihat akhirnya, 'kan? "


Louise mengangkat wajahnya, dan menatap langit malam yang bertabur bintang.


"Perubahan akan datang. Itu pasti. Kita belum tahu apa itu Asterisk, tapi … Keberadaan mereka pasti akan sangat berpengaruh pada dunia ini."


" ……… "


Vincent tidak menjawab apa yang Louise katakan. Dia benar-benar kebingungan dalam memilih kalimat yang tepat untuk menjawab raja yang ia layani itu.


"Asterisk … Apa pun tujuan mereka, untuk saat ini, kita hanya akan menjadi pengamat saja. Jika gerak gerik mereka mulai terlihat mencurigakan, Vincent, aku akan serahkan mereka padamu."


" … Apa itu … Baik-baik saja? "


"Tentu. Sudah 17 tahun sejak aku naik takhta, dan sudah lebih dari 30 tahun kau melayani di sisiku. Bahkan, sampai saat ini kau masih melayaniku dengan menjadi seorang kesatria bayangan. Aku akan menyerahkan semua keputusan padamu suatu saat nanti.Sampai saat itu tiba, kau harus bertahan dengan menjadi seorang 'pengamat'."


Vincent diam sejenak, lalu ia kembali berlutut di hadapan Louise.


" … Vincent vill Rhodes, menerima perintahmu."


Louise tersenyum ketika melihat itu. Dia pun kembali menatap lukisan Aaron yang terpampang di dinding, dan menghela napas.


" … Hei, Vincent. Apa kau pernah berpikir tentang untuk alasan apa kau terlahir di dunia ini? "


"Itu … Terlalu tiba-tiba."


Jika Louise benar-benar menuntut jawaban darinya, maka Vincent tak memiliki pilihan lain untuk menjawab.


Tentu saja, ia pernah memikirkan itu. Dulu sekali, ia sering tersesat dengan semua pilihan yang ada pada hidupnya.


Tapi, itu sudah tidak berlaku lagi sekarang.


Vincent sudah menemukan alasan keberadaannya. Dia yakin, kalau ia terlahir hanya untuk satu alasan. Yakni, melayani seorang raja bernama Louise ul Igni Zeltis. Hanya itu alasan hidupnya. Ia yakin dengan itu.


Terlahir hanya untuk melayani orang lain mungkin terdengar sedikit konyol, tapi itu adalah kenyataannya. Vincent sama sekali tidak keberatan untuk melayani seseorang, asalkan seseorang itu adalah orang yang benar-benar layak untuk ia layani.


Dan kebetulan saja, Louise adalah raja yang telah ditakdirkan untuknya.


" … Aku pernah merasakannya. Tersesat dalam sekian banyaknya pilihan hidup, aku sudah merasakan itu semua."


Louise tersenyum. "Lalu, apa kau yakin kalau ada orang di dunia ini yang terlahir tanpa tujuan? "


Vincent tidak mengerti maksudnya. Tapi, ia sebisa mungkin menjawab semua pertanyaan yang ditanyakan Louise.


"Itu … Aku tidak tahu, tapi … Aku yakin tidak begitu."


"Dan? Bagaimana kau bisa seyakin itu? "


"Mudah saja. Setiap orang yang hidup di dunia ini, terlahir dengan suatu alasan. Kebanyakan dari mereka hanya belum menemukan alasan untuk itu."


"Aku sangat setuju dengan pemikiranmu itu, Vincent. Tapi, bagaimana jika ada seseorang yang terlahir dengan suatu alasan yang sangat tidak masuk akal? "


" … Dan? Apa itu? "


"Misalkan saja, jika ada seseorang yang terlahir hanya untuk dikorbankan dalam sebuah perubahan dunia. Dia dilahirkan hanya untuk dibenci semua orang, tapi tak pernah diizinkan untuk membenci seseorang. Bagaimana pendapatmu tentang orang itu? "


Vincent diam sejenak. Ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.


Baginya, apa yang Louise katakan sebelumnya sangat tidak masuk akal.


Seseorang terlahir, karena ada suatu tujuan dalam hidupnya. Tapi, jika satu-satunya tujuan dalam hidupnya adalah untuk dikorbankan dan mati, Vincent pasti tidak mau menerima itu.


"Itu … Sangat menyedihkan. Keberadaan seperti itu sangatlah menyedihkan. Jika dia benar-benar terlahir hanya untuk dibenci, maka satu-satunya akhir yang menunggunya hanyalah suatu kesedihan. Tidak dapat membenci seseorang adalah hal yang sangat menyakitkan."


"Hm. Aku setuju denganmu, Vincent."


Bahkan seseorang yang disebut 'suci' seperti seorang Saint, atau bahkan Pahlawan sekali pun pasti akan membenci setidaknya satu orang dalam hidup mereka.


Dalam hal ini, seseorang yang tak dapat membenci orang lain adalah keberadaan yang tak masuk akal.


Terlahir hanya untuk dibenci dan dikorbankan, tidak ada sosok yang lebih menyedihkan dari itu.


"Tapi … "


Louise kemudian melanjutkan, "Bagaimana jika sosok itu masih belum menyadari kalau keberadaannya sendiri adalah suatu kontradiksi? "


" … Pasti ada alasan untuk itu."


"Tepat. Dia selalu bersikap baik di hadapan semua orang, tapi menunjukkan wajah aslinya di hadapan orang-orang tertentu. Meskipun sudah mengalami semua hal itu, ia masih belum sadar kalau dirinya sebenarnya adalah tokoh jahat yang tersembunyi. Itu semua tak luput dari kehadiran seseorang yang selalu berada di sisinya."


" … Apa maksud Anda? "


"Sesuatu yang membuat orang itu tidak menyadari kalau dirinya adalah keberadaan yang menyimpang, adalah seseorang yang selalu berada di sisinya, menemaninya setiap saat, menjadi tempat untuk orang itu kembali, dan yang memberi orang itu alasan untuk hidup. Singkatnya, keberadaan yang dicintai. Hanya itu."


" … Pedang bermata dua, ya … "


"Benar sekali," ucap Louise menyetujui apa yang Vincent gumamkan.


Louise kemudian melanjutkan, "Sosok yang dicintai orang itu, yang menjadi alasannya untuk tetap hidup, dan karena sosok itulah ia tetap mempertahankan dirinya yang sekarang. Tapi, apa yang akan terjadi jika sosok itu menghilang dari hidupnya? "


Hanya satu jawaban yang dapat Vincent pikirkan.


" … Dia akan menjadi kacau."


"Benar. Dua pikiran yang saling bertentangan dalam dirinya itu akan menghilang, membentuk suatu pemikiran yang baru. Pemikiran yang jahat sudah dipastikan akan menang. Itu membuat dirinya mau tak mau kembali ke jalur hidupnya yang seharusnya, menjadi seorang yang hanya bisa dibenci orang lain."


Tapi itu tidak semuanya. Logikanya sebagai 'seseorang yang baik' tidak akan menghilang, dan terus ada sampai kapan pun. Seolah menjadi pelengkap untuk pemikiran yang jahat itu.


Itu menjadikan dirinya sebagai seseorang yang 'tak dapat membenci orang lain'.


" ……… "


"Baiklah, kita sudah terlalu melenceng dari pembahasan utama. Yang terpenting, untuk saat ini kita tidak perlu melakukan apa pun. Kita adalah pengamat, tidak perlu mengganggu semua tindakan Asterisk."


Vincent kemudian mengangkat wajahnya, menatap sosok Louise yang membelakanginya sambil terus menatap lukisan Aaron.


"Tentang itu, bisakah aku mendapatkan informasi tentang kapan semua bagian klimaksnya terjadi? Informasi setingkat itu seharusnya ada dalam kitab Avesta, 'kan? "


Jika ia memikirkannya lebih jauh lagi, maka itu seharusnya benar.


Kitab Avesta memang tidak memberi informasi apa pun tentang semua kejadian yang berkaitan dengan Asterisk. Tapi, kitab itu dapat memberikan ramalan tentang sesuatu yang akan terjadi di masa depan.


"Tentu ada. Tapi, ini tidak terlalu berhubungan dengan Asterisk. Meskipun begitu, ada sesuatu yang besar yang akan terjadi di masa depan nanti."


" … Apa itu? "


Louise tersenyum. "Pada pertemuan antara para raja yang akan terjadi tiga tahun lagi, bersiaplah untuk sesuatu yang besar pada saat itu. Ini berkaitan dengan reinkarnator, dan semua yang misteri dunia yang ingin kau ketahui sejak lama."


Vincent melebarkan matanya dengan terkejut. Jika apa yang Louise katakan itu benar, maka sudah pasti ia akan menantikannya.


Reinkarnator, saat pertama kali Vincent mendengar tentang keberadaan mereka, ia tak mau percaya.


Louise mengetahui tentang keberadaan mereka dari kitab Avesta. Jadi, ia hanya perlu menunjukkan bukti pada Vincent agar ia percaya.


Louise tampaknya menyadari apa yang Vincent pikirkan. Jadi ia melebarkan senyumnya, sementara matanya menyipit dengan tajam.


"Ketika saatnya tiba, aku akan menunjukkannya padamu. Kebenaran tentang dunia ini."


(Aku tidak tahu apa yang kau rencanakan. Tapi, aku harap kau tidak berulah dalam pertemuan antara para raja nanti, wahai Ratu Phantasmal. Karena jika tidak, Kerajaanku pasti akan tenggelam dalam otoritas《All Fiction》miliknya yang mengerikan.)


Dalam benaknya, Louise mulai mengingat semua hal mengerikan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Apa pun yang terjadi, ia tak mau semua itu terulang lagi. Dia memiliki tanggung jawab untuk membangun dan melindungi semua hal yang telah diwariskan leluhurnya. Untuk melakukan itu, ia harus mempertahankan posisinya sebagai seorang pengamat yang netral. Lalu …


(Apa ini dunia yang kau inginkan, Isis? )


...****************...