[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 323: Kesatria Hebat



...****************...


Seberkas cahaya menyelinap memasuki celah jendela, mendarat tepat di wajah Tania yang tertidur pulas.


Keningnya berkerut sejenak saat intensitas cahaya yang begitu kuat tiba-tiba menyelinap masuk ke retina. Namun, itu hanya bertahan sampai ia akhirnya membuka mata.


Untuk beberapa saat, Tania terdiam. Dia hanya berkedip beberapa kali untuk membiasakan matanya. Namun, kemudian dia sadar, kalau dia tidak sedang di kamarnya sendiri.


Fakta ini membuat Tania seketika bangkit dan melihat ke sekeliling. Ingatan tentang segala hal yang terjadi semalam perlahan muncul di kepalanya.


"Noah? "


Tidak ada siapa pun di sekitarnya. Bahkan sosok yang ia ingat telah menyelimutinys dengan baik itu juga tidak ada.


Lagi pula langit sudah cerah. Berdasarkan kebiasaan Noelle yang Tania ingat, dia seharusnya ada di luar sekarang, menjalankan latihan hariannya seperti biasa.


Dia juga bisa mendengar suara dua logam yang saling bertabrakan tak jauh dari tempatnya berada. Itu mungkin Noelle yang sedang berlatih.


Setelah memahami situasinya, Tania pun melihat pada dirinya sendiri.


Terselimuti dengan baik. Bahkan piyamanya pun tidak menunjukkan jejak kusut sedikit pun.


"Noah …."


Mengetahui ini membuat Tania senang. Kepercayaannya pada Noelle terbukti merupakan hal yang benar.


Tania dengan tubuh yang masih agak lemas mencoba turun dari kasur, dan memperbaiki penampilannya sendiri di depan cermin. Setelah itu, dia melapisi tubuhnya sendiri dengan jaket Noelle yang tergantung di sandaran kursi.


Tanpa berganti pakaian, Tania langsung keluar dari kamar, mengambil persediaan roti dari kamarnya sendiri, lalu pergi ke luar rumah.


Hal pertama yang menyambut matanya adalah pemandangan indah dari sebuah hutan berselimut salju putih yang cantik.


Rumah ini Noelle letakkan di dalam area desa suka Artof, tapi dia sengaja menjauhkannya dari pemukiman agar tidak merasa terganggu. Dan Tania juga mendukung ide itu.


Di arah lain, ada dua sosok yang sedang bertarung satu sama lain. Mereka adalah sumber keributan yang telah Tania dengar sejak masih di kamar.


Di sana, dengan kecepatan yang tak dapat diikuti manusia normal, Rudra berulang kali menusuk dan mengayunkan tombaknya. Namun, di sisi lain Noelle juga menggunakan semua yang ia miliki untuk menangkis dan menghindar.


Noelle menggunakan darahnya sendiri untuk mengikat kaki Rudra agar tetap di tempat, tapi sayangnya dia tidak berhasil. Rudra telah lebih dulu melompat, dan meluncur ke arahnya dengan kecepatan yang tidak masuk akal.


Tentu saja orang-orang pasti berpikir bagaimana dia bisa melakukan gerakan seperti itu dengan zirah yang berat. Namun, pada dasarnya zirah itu adalah tubuh Rudra sendiri, jadi wajar dia bisa mengendalikannya dengan baik.


Meski Noelle terus menangkis dan menghindari serangamnya, kemampuan Tombak Begwun sama sekali tidak boleh diremehkan.


Saat hendak menikam Noelle, ujung tombak tiba-tiba menghilang, dan seketika memberikan rasa sakit yang mengerikan di bagian pinggang kirinya.


Noelle melompat mundur, menciptakan jarak yang jauh antara dirinya dengan Rudra.


Biarpun dia berusaha menciptakan jarak, Noelle sendiri tahu kalau itu sia-sia. Untuk melawan Rudra, dari pada kemampuan untuk menangkis dan menghindar, dia lebih baik menggunakan kemampuannya untuk memantau setiap titik buta di tubuhbya. Karena dari semua titik itulah Rudra akan menyerang.


Rumah portabel itu memiliki model rumah panggung, jadi teras tempat Tania duduk itu hampir satu setengah meter tingginya dari permukaan tanah.


Di sana, Tania diam, memakan rotinya sambil memperhatikan semua pergerakan yang Noelle dan Rudra lakukan.


Rudra menciptakan gaya kuda-kuda yang terlihat berat, lalu melesat maju seperti peluru ke arah Noelle yang masih memikirkan strategi yang cocok.


Ujung tombak Rudra mengarah pada bahu kiri Noelle, dan Noelle langsung mengubah arah lintasannya dengan pedangnya sendiri. Setelah itu, keduanya terus saling menyerang dan menangkis seolah sudah saling memahami apa yang masing-masing pikirkan.


"Itu bagus! Kau memanfaatkan semua yang kau miliki dengan baik! "


Rudra mulai bersemangat, dan melompat untuk menerjang Noelle dari jarak dekat. Namun, Noelle telah lebih dulu berganti posisi. Dia tidak akan menggunakan pedangnya tapi menggunakan tangan kosong untuk langsung menangkap satu kaki Rudra, dan mengayunkannya sekuat tenaga.


Meski hanya zirah kosong, entah bagaimana Rudra jadi sangatlah berat. Noelle harus menggunakan kedua tangan untuk menciptakan momentum yang tepat agar Rudra bisa terlempar ke arah yang ia inginkan.


"Terima kasih atas pujiannya! "


Usai mengatakan itu, Noelle langsung melempar Rudra beberapa belas meter jauhnys ke arah kiri, tepat pada sebuah batu besar yang terlihat sangat kokoh.


Namun, batu yang terlihat kokoh itu pun sebenarnya sangatlah lemah.


Rudra memperbaiki posisinya di udara, dan akan mendarat di batu dengan satu kaki. Tapi, berat tubuhnya di luar dugaan, dan justru menghancurkan batu itu hanya dengan satu injakan.


"Apa kau gagal memperlambat diri di udara? "


Noelle tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya, dan Rudra secara refleks mengayunkan lengannya sendiri untuk menyingkirkan Noelle. Namun, itu gagal.


Noelle telah lebih dulu melompat, menggunakan momentum itu untuk berdiri di atas lengan Rudra, sebelum akhirnya menendang kepala Rudra dengan kasar sehingga bunyi keras terdengsr sampai ke telinga Tania.


Itu mungkin tidak sopan karena Rudra jauh, jauh lebih tua darinya, tapi itulah yang Rudra inginkan; agar Noelle bisa bertarung tanpa menahan diri.


"Gaya bertarung apa yang kau gunakan ini? "


Sambil berjalan mundur, Rudra bersiap menyerang ketika dia menanyakan itu.


Noelle pun sama. Dia berusaha mengatur napasnya dan membentuk sikap kuda-kuda yang belum pernah Rudra lihat.


Akhirnya, Noelle menjawab, "Gaya bertarung yang lebih kuno, sekaligus lebih modern dari yang kau tahu. Yahh, kau bisa sebut ini gaya bertarungku sendiri."


Rudra jadi semakin tertarik. Dia pun tertawa kecil dan menancapkan tombaknya ke tanah. Setelah itu, dia kembali ke posisi sebelumnya.


Noelle yang melihat itu pun mau tak mau dibuat bingung. "Apa kau tidak akan menggunakan senjata? "


"Aku ingin berhadapan langsung denganmu, dengan tangan kosong."


Mendengar itu membuat Noelle memasang senyum menantang. Dia pun ikut menancapkan pedangnya ke tanah di sampingnya, membuat Rudra bertanya-tanya.


"Apa kau tidak akan menggunakan senjata? "


Noelle menggeleng, dan langsung mengubah posturnya. Kali ini posturnya berbeda dari yang sebelumnya dilihat Rudra.


Noelle menurunkan tubuhnya sedikit, kedua lengannya ditekuk dan diposisikan tegas, sedikit ke belakang mengikuti posisi kaki.


Tangannya mengepal, mengarahkan tinju itu pada Rudra, dan tatapannya dengan cepat mendingin.


Teknik CQC: modifikasi.


Itu adalah kuda-kuda yang umum digunakan dalam pertarungan jarak dekat, tapi Rudra merasa kalau ini adalah sesuatu yang berbeda.


Dengan kewaspadaannya meningkat, Rudra pun bersiap menyerang. Dia mengangkat satu kaki, melangkahkannya ke depan.


Seolah melompati ruang, Rudra telah ada di hadapan Noelle hanya dengan satu langkah. Ini seharusnya menjadi sesuatu yang mengejutkan, tapi Noelle sama sekali tidak mengubah ekspresinya.


Noelle dengan tenang menangkis tinju Rudra yang terarah pada wajahnya, dan menggunakan momentum itu untuk memberikan serangan balasan berupa tendangan ke arah betis.


Meski kaki Noelle sama sekali tidak dilapisi oleh zirah, kekuatannya tetap mampu menahan sekaligus memberikan serangan pada zirah Rudra. Ini karena fisik kuat seorang vampir yang disertai dengan sihir penguatan tubuh.


Di saat yang sama, Noelle menghilangkan tenaga dari lengan dan kakinya yang tersisa, lalu mulai menutup jarak antara dirinya dengan Rudra.


Gerakannya begitu halus, sehingga Rudra yang sangat berpengalaman pun jadi lengah. Dan saat Rudra sadar, Noelle sudah ada di belakangnya, hendak memberikan tebasan dengan tangannya sendiri ke arah leher Rudra.


Sayangnya Rudra menyadari itu sedikit lebih cepat dari yang Noelle perkirakan, jadi Rudra berhasil membuat sikap defensif tepat pada waktunya.


Rudra dengan cepat berbalik sambil menggenggam erat pergelangan tangan Noelle, lalu menggunakan momentum yang tercipta untuk melempar Noelle ke udara.


Tidak. Sebenarnya, niat Rudra adalah membanting Noelle ke tanah. Tetapi Noelle telah lebih dulu membebaskan dirinya sendiri sehingga tujuan Rudra tidak terpenuhi. Akhirnya, Noelle mendarat dengan aman tanpa cedera tak jauh di hadapan Rudra.


"Aku tidak ingat ada seni bela diri seperti itu. Apa zaman sudah sangat berkembang? "


Noelle pun mengangkat satu sudut bibirnya, membentuk senyum keji yang terasa meremehkan.


"Enam ratus tahun sudah cukup bagi peradaban ini untuk berkembang. Tapi, kau salah paham."


"Apa–"


Saat Rudra hendak menanyakan apa maksudnya, Noelle sudah ada di hadapannya, dengan tinju yang diarahkan langsung ke wajah.


Rudra tidak sempat mengatur pertahanan, jadi dia menerima tinju dari Noelle sampai terpental beberapa meter ke belakang.


Tapi, tidak berhenti di sana, Noelle muncul di belakangnya, dan menendang tubuh Rudra hingga kembali ke posisi saat dia dipukul sebelumnya.


" … Aku mengerti. Pantas saja itu terasa aneh."


Rudra telah memperbaiki posisinya, dan siap menyerang kapan saja. Kemudian, Noelle lanjut menjelaskan, "Aku memang mempelajari seni bela diri, tapi itu semua tidak terlalu berguna dalam pertarungan nyata di mana tidak ada aturan yang berlaku. Akhirnya, aku mengkombinasikan semua gerakan yang menurutku efektif, dan menciptakan satu gaya bertarung yang ampuh."


Itulah rahasia di balik gaya bertarung Noelle. Dia menggabungkan semua pengetahuannya tentang gerakan pertarungan dalam berbagai aliran dan seni bela diri, hingga akhirnya membentuk satu set gaya bertarung yang cocok untuknya.


Teknik CQC yang dimodifikasi itu adalah satu-satunya teknik yang ia pertahankan wujud sejatinya, meski telah ia ubah sedikit demi kenyamanannya sendiri.


"Kalau begitu, aku juga akan serius! "


Sosok Rudra menghilang, dan kini muncul tepat di samping Noelle.


Rudra menggunakan lengannya sendiri dan menggunakan teknik 'chop' ke bahu Noelle, tapi Noelle bereaksi tepat waktu sehingga mampu menghindar dan memberikan serangan balasan pada saat yang sama.


Namun, itu tidak berpengaruh. Rudra menahan serangannya dan justru membenturkan kepalanya sendiri ke kepala Noelle. Dia juga mengerahkan kekuatan pada kepalan tangannya, dan langsung meninju kuat tepat pada solar plexus Noelle.


Oksigen dimuntahkan keluar, dan Noelle tidak bisa menahan tubuhnya yang terpental jauh ke belakang.


Saat dia bangkit, dia menatap Rudra dengan kesal. "Kalau aku manusia biasa, aku pasti sudah mati."


"Itu benar. Untunglah kau bukan manusia biasa," ucap Rudra saat dia lagi-lagi muncul di hadapan Noelle dan memberikan 'chop' secara horizontal ke arah leher Noelle.


Noelle menghindarinya dengan menekuk kakinya sedikit, lalu menggunakan telapak tangannya sendiri untuk memberikan gelombang kejut yang kuat pada zirah Rudra.


Noelle sendiri tahu kalau gelombang kejut tidak akan ada artinya mengingat Rudra tidak memiliki tubuh biologis, tapi itu cukup untuk mengulur waktu.


Sesaat setelah gelombang kejut diluncurkan, Noelle telah menghilang, dan kembali muncul di belakang Rudra. Namun, kali ini bukan pukulan atau tendangan, melainkan tebasan dengan pedang yang diarahkan pada leher Rudra.


Tapi sebelum bilah pedang itu mengenai leher Rudra, Noelle telah menghentikan gerakannya.


Tanpa berbalik, Rudra bertanya, "Kenapa kau tidak lanjut menyerang? "


Noelle pun mendengus kesal. "Aku bisa menanyakan hal yang sama padamu."


Alasan Noelle menghentikan gerakannya adalah karena dia sadar bahwa ada sesuatu yang siap menusuk lehernya kapan saja dari belakang.


Itu adalah sebuah tombak, yang terhubung dengan sehelai benang yang sangat tipis, tersambung ke jari-jari Rudra.


Meski tombak Begwun bisa memberikan penggunanya kemampuan teleportasi, itu tidak akan ada artinya jika pengguna tidak bersentuhan dengannya.


Syarat penggunaan itu sama seperti kedua pedang Noelle. Dan mungkin saja, semua senjata memiliki efek serupa, kecuali Zephiroth yang mampu menyerap energi sihir secara pasif.


Benang itu digunakan agar Rudra dan tombaknya tetap terhubung, dan membuat Rudra mampu menggunakan kekuatan Begwun kapan saja.


Meski Noelle melakukan pembukaan yang sempurna dengan tujuan memenggal Rudra, dia jadi gagal karena Rudra telah menargetkan lehernya pada saat yang sama.


Ini jalan buntu. Tidak akan ada dari mereka yang mau menyerang kalau begini hasilnya.


"Bisa kita anggap ini seri? "


"Kurasa begitu."


Noelle menghela napas dan menurunkan pedangnya. Pada saat yang sama, tombak di belakangnya juga menghimang, dan kini sudah ada di tangan Rudra.


"Itu pertarungan yang bagus," ucap Rudra saat dia berbalik dan menawarkan jabat tangan yang hangat pada Noelle.


"Yahh, tentu," jawab Noelle sambil merespon jabat tangan itu.


...****************...


Dari tempatnya duduk, Tania melihat Rudra berjalan meninggalkan Noelle. Ini membuat Tania seketika berdiri, mengemasi barang-barang yang ia bawa keluar, dan langsung berlari kecil ke arah Noelle.


"Kerja bagus." Adalah apa yang Tania katakan begitu ia tiba di sisi Noelle.


Sebelum Tania sampai, Noelle telah lebih dulu menjatuhkan tubuhnya ke tanah, dan berusaha mengatur napas.


Tubuhnya bersimbah keringat, meski tempat ini sangatlah dingin.


Tania berjongkok dan menatap Noelle dengan hangat dari tempatnya.


"Pertarungannya berakhir seri."


" … Rudra lebih unggul dariku. Kau sendiri juga sadar, 'kan? "


Apa yang Noelle katakan itu memang benar. Selama pertarungan berlangsung, Rudra jauh lebih unggul dari Noelle.


Meski Noelle memiliki fleksibilitas dan variasi serangan yang beragam, Rudra entah bagaimana mampu menahan semuanya. sedangkan Rudra sebaliknya, Rudra tidak memiliki banyak variasi serangan, dan dia hanya memanfaatkan kemampuan tombaknya untuk menciptakan kombinasi serangan mematikan yang dapat menjatuhkan Noelle.


Meski Noelle terlihat unggul, nyatanya dia tidak dapat dibandingkan dengan Rudra. Kemampuan Rudra dalam pertarungan telah berkembang sampai ke tingkat yang tidak dapat dicapai oleh Noelle yang sekarang.


Alasan mereka terlihat imbang adalah karena faktor pengalaman.


Meski Rudra jauh di depan dalam hal 'jam terbang', sudah lebih dari 600 tahun sejak Rudra terakhir kali bertarung. Di sisi lain, Noelle bertarung hampir setiap hari, dan dia juga tidak pernah melewatkan latihan rutinnya.


Tapi, meski 600 tahun sudah berlalu tanpa pertarungan, Rudra masih mempertahankan kemampuan yang begitu hebat. Noelle tanpa ragu mengakui kalau gelar kesatria memang layak untuknya.


"Benar. Rudra lebih unggul, tapi Noah juga hebat."


Tania tetap mengatakan apa yang ia pikirkan dengan apa adanya, tanpa melebih-lebihkan.


Ini membuat Noelle anehnya merasa senang. Dia tersenyum puas, dan menoleh ke arah Tania, tapi dengan tenang dia pun segera mengalihkan wajahnya lagi.


"Aku bisa melihatnya. Merah muda, itu imut."


Tania menyadari ke mana arah mata Noelle memandang sebelumnya, tapi dia tidak panik, dan dengan tenang merapatkan kaki serta pahanya sendiri untuk menutupi bagian yang terlihat itu.


Sikap tenang Tania membuat Noelle lagi-lagi bertanya, apakah gadis ini sebenarnya peduli pada hal semacam itu atau tidak.


Saat ini, Tania masih memakai piyama model gaun one-piece yang longgar. Itu tidak memiliki bawahan, dan sebenarnya cukup pendek, hanya menutupi sampai pangkal lututnya saja.


Karena itulah, ketika Tania berjongkok, Noelle bisa melihatnya dengan jelas.


"Apa kamu tidak melihatnya semalam? "


"Apa kau mau aku melihatnya? "


Keduanya saling menatap saat mereka saling melontarkan pertanyaan sebagai respon.


Dari reaksi itu Tania langsung tahu kalau Noelle semalam sama sekali tidak melakukan apa pun padanya. Bahkan meraba pakaiannya pun tidak.


Entah bagaimana, itu terasa sedikit mengecewakan.


Noelle sepenuhnya menyadari pemikiran itu, meski Tania tidak menunjukkan banyak ekspresi saat menatapnya.


Karena itulah, dia segera mengalihkan percakapan ke arah lain.


"Kesampingkan itu, kita harus segera menyelesaikan ritualnya."


Noelle menghela napas, lalu bangkit ke posisi duduk dan mengembalikan pedangnya ke wujud aksesoris kecil. Setelah itu, dia berdiri dan melakukan peregangan sedikit sebelum akhirnya berjalan ke arah rumah.


Tania pun berdiri dan berjalan mengikutinya dari belakang, dengan tenang, tanpa suara sedikit pun. Namun, Noelle bisa merasakan tatapan yang kuat darinya.


Hari ini, mereka akhirnya akan mendapatkan katalis terakhir yang dibutuhkan, yaitu darah sang ratu. Setelah itu, mereka akhirnya bisa menyelesaikan ritual yang diperlukan untuk membebaskan ratu.


Berkat Tania, Noelle akhirnya menemukan di mana katalis itu disembunyikan, dan dia akan segera mendapatkannya hari ini juga.


Namun–


"Hei, Tania."


"Hmm? "


Langkah Noelle berhenti, dan Tania juga mengikutinya, memiringkan kepala sambil menatap dengan bingung.


Detik berikutnya, sebuah pertanyaan keluar dari mulut Noelle. " … Apa kau melihat Rudra?"


...****************...