[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 95: Monster disaster (3)



...****************...


Kembali ke saat beberapa menit yang lalu, saat pertarungan sengit antara Noelle dan Harold dimulai.


Ada musuh lain yang tiba-tiba muncul bersama ratusan undead dan beberapa monster berjenis Chimera tepat di hadapan Olivia dan yang lainnya.


Mereka tidak mencampuri pertarungan Noelle dengan Harold karena itu adalah keinginan Noelle sendiri. Namun, mereka akan tetap bergerak jika situasinya memburuk.


Karena itulah, mereka terlalu fokus dalam mengamati Noelle dan sampai menurunkan penjagaan mereka sehingga musuh lain dapat menyerang mereka secara diam-diam.


Yang pertama menyadari keberadaan mereka adalah Glantz.


Glantz tanpa mengatakan apa pun melemparkan kapak besar yang ada di genggamannya.


Kapal itu terbang menembus tubuh para undeas yang menghalangi dan langsung menancap tepat di tubuh salah satu golem batu.


"Tch."


Glantz mendecakkan lidahnya dengan kesal saat menyadari kalau kapaknya tidak mampu menembus tubuh golem itu.


Semua orang memperhatikan apa yang dilakukan Glantz. Mereka langsung menoleh dan melihat ke arah para musuh baru yang telah muncul itu.


Glantz mengayunkan lengannya sedikit, dan kapak yang sebelumnya ia lempar langsung terbang kembali kepadanya.


"Golem itu menghalangi," ucap Glantz.


Ia bisa saja menghancurkan golem itu dalam waktu singkat. Namun, itu terlalu merepotkan karena ia harus maju langsung ke arah musuh.


Dalam keadaan itu, Mioku dengan tenang menepuk bahunya dan maju beberapa langkah.


Mioku mengeluarkan bola logam seukuran genggaman, dan mengambil posisi melempar.


Ia tanpa mengatakan apa pun lagi langsung melemparkan bola logam itu dengan kekuatan yang luar biasa ke arah gerombolan musuh baru.


Bola logam yang Mioku lemparkan dengan mudah menabrak dan menghancurkan tubuh semua musuh yang menghalanginya. Begitu juga dengan golem yang menahan kapak Glantz sebelumnya. Golem itu langsung hancur berkeping-keping, dan kemudian gerombolan monster di belakangnya juga ikut hancur karena bola logam itu tidak berhenti.


"Seperti biasa, kekuatan fisikmu mengerikan, ya … "


Suara kekaguman Glantz dengan mudah menggambarkan apa yang dipikirkan semua orang di sana.


Saat semua orang sedang dalam suasana kekaguman sambil memandangi kerusakan yang dihasilkan Mioku, tubuh Olivia bereaksi dengan sendirinya dan menciptakan perisai es yang dilapisi sihir pelindung tepat di atas semua orang.


Wajahnya jelas menampilkan ekspresi terkejut. Namun, Olivia mengabaikan itu dan memperkuat sihir yang melindungi semua orang.


Detik berikutnya, ratusan panah cahaya menghujani mereka bersamaan dengan rintikan air hujan yang deras.


Panah cahaya itu sangat kuat. Namun, Olivia entah bagaimana dapat menahan semua serangan itu hanya dengan sihir es miliknya.


Meskipun, semua perisai es yang melindungi semua orang sudah berakhir dalam keadaan retak parah dan akan hancur kapan saja.


Rentetan serangan kejut itu sudah selesai, dan suara tepukan tangan dapat terdengar dari jarak yang tidak jauh dari mereka.


"Itu sangat hebat~ Kau mampu menyadari dan menahan semua serangan itu dengan cepat! Bagimana kau melakukannya? Apa ada trik untuk itu? "


Meskipun dihujani dengan pujian dan rasa penasaran yang murni, Olivia tetap mengerutkan keningnya dengan tidak senang dan bertanya balik pada sosok yang tiba-tiba muncul itu.


" … Siapa kau? "


Sosok itu memiliki penampilan yang seperti anak laki-laki berusia 12 tahun. Namun, penampilannya yang begitu ceria dalam keadaan seperti ini benar-benar aneh bahkan untuk petualang veteran seperti Mioku dan Glantz.


Dan yang paling aneh dari itu semua adalah, hawa keberadaan bocah itu sama sekali tidak dapat dirasakan siapa pun sampai dia menunjukkan dirinya sendiri.


Menanggapi pertanyaan Olivia, bocah itu tersenyum dan menjawab dengan riang.


"Aku? Perkenalkan! Namaku adalah Leonardo Ozwal! Kalian semua bisa memanggilku Leo karena kebanyakan orang biasa memanggilku seperti itu! Salam kenal, ya! "


Mendengar nama bocah itu, Earl Eisen termenung sejenak.


Ia kemudian mengangkat wajahnya dan menatap Leonardo dengan mata menyipit.


"Aku tidak pernah mendengar namamu sebelumnya. Apa yang kau lakukan di sini? "


Jelas ia akan curiga. Meskipun Earl Eisen selalu menampilkan sosok yang 'tidak peduli' dengan tugasnya, sebenarnya ia selalu melakukan semua pekerjaannya dengan serius. Hanya saja, tidak ada orang yang menyadari itu selain asistennya sendiri.


Karena keseriusannya itu juga Earl memiliki kebiasaan untuk menghapal semua nama pengunjung luar yang mendatangi kota kekuasaannya.


Dalam hal daya ingat, ia bisa dibilang setara dengan Anzu yang memiliki《Perfect Memory》dalam daftar skill-nya.


Karena itulah, ia ingat dengan pasti nama-nama orang yang mengunjungi Eisen.


Meskipun tatapan Earl tampak begitu mengancam, Leonardo justru terlihat tak terganggu sedikit pun. Dia hanya tersenyum cerah dan berbalik menghadap Earl.


"Kau pasti yang menguasai kota ini, 'kan?! Salam kenal! Aku Leonardo! Aku baru sampai di kota ini bersama teman-temanku beberapa saat yang lalu! "


" ……… "


Earl Eisen sama sekali tidak merespom Leonardo. Dia bahkan tidak menggerakkan tangannya sedikit pun untuk menjabat tangan bocah laki-laki itu.


"Fufu~ Kelihatannya kau diabaikan, ya, Leonardo? "


Suara seorang wanita yang tiba-tiba muncul itu membuat Leonardo secara refleks langsung menolehkan kepalanya.


"Lucia~ Aku tidak diabaikan! Mereka hanya sedikit waspada padaku! "


Leonardo menunjukkan wajah marah pada wanita yang ia panggil Lucia itu. Namun, Lucia hanya membalas tatapan kemarahan Leonardo dengan senyum mengejek.


"Yahh, lupakan tentang itu. Tidak ada gunanya kau berinteraksi dengan mereka. Tugas kita di sini hanyalah menjadi pengamat," kata Lucia.


(Penyerangan, pemberontakan Terneth, penyerbuan monster, tugas, pengamat, orang asing, nama yang tidak terdaftar … Ada banyak yang masih belum diketahui, tapi … )


Setelah mendengarkan percakapan singkat mereka semua, Olivia langsung membuat kesimpulan di kepalanya.


Sudah ada beberapa kepingan puzzle yang membuatnya dapat membuat kesimpulan yang samar tentang situasi ini.


Layaknya menebak sebuah gambar berdasarkan potongan gambar super kecil, Olivia entah bagaimana dapat menyusun pemikirannya hingga ia dapat mencapai suatu kesimpulan pasti.


Tampaknya Leonardo sudah ingat dengan tujuannya sebenarnya datang ke kota ini. Menyadari itu, ia langsung berlari dengan riang ke arah Lucia dan berputar di sekelilingnya.


"Aku masih tidak mengerti. Kenapa Tuan memberi kita tugas payah ini? Dan orang-orang di tempat ini terlalu lemah."


Leonardo dengan wajahnya yang tidak puas terus mengeluarkan berbagai komentar keluhan. Namun, meskipun ia memprotes seperti itu, bukan berarti dia bisa berhenti dari tugasnya.


Jika ia berhenti sekarang, hanya ada kesialan yang akan menemuinya nanti.


"Fufu~ Kalau begitu, maafkan ketidak sopanan Leonardo barusan. Dia memang sedikit kekanak-kanakan," ucap Lucia sambil membungkukkan dirinya sedikit.


Sosok Lucia yang memiliki penampilan wanita dewasa dan postur tubuh yang menggairahkan itu sempat membuat semua orang terperangah sejenak. Namun, mereka segera mengembalikan kewarasan mereka dan menatap Lucia serta Leonardo dengan curiga.


Mereka tidak bisa melihat wajah seperti apa yang dibuat Lucia karena kedua matanya ditutupi oleh sehelai kain berwarna hitam, dan dia juga memakai kerudung putih yang sedikit transparan menutupi wajah dan kepalanya.


Gerakan bibirnya hanya bisa dilihat dengan sekilas. Namun, itu sudah cukup bagi orang-orang yang memiliki tingkat persepsi yang tinggi.


Tak lama kemudian, Luciaengangkat tubuhnya dan tersenyum.


"Jangan pedulikan kami. Kami hanya datang karena tugas dari Tuan kami yang terhormat. Silahkan kembali ke kegiatan kalian sebelumnya, dan … Leonardo, sebaiknya kau hancurkan semua golem buatanmu itu sebelum mereka mengacaukan semuanya."


Lucia kemudian menolehkan kepalanya dan menghadap ke arah para golem batu yang sedang menghancurkan bangunan sekitar.


Melihat segerombolan golem tak terkendali itu membuat Leonardo hanya tersenyum dengan rasa takut sambil sesekali melirik Lucia.


"A-ahhh … Aku membiarkan mereka karena kupikir mereka bisa menahan diri, tapi … Sepertinya aku masih harus berlatih mengendalikan mereka … Ehehe … "


Leonardo langsung berjalan menghampiri para golem itu. Namun, sebuah kapak besar terbang tepat ke arah belakang kepalanya.


Dia terlihat tidak menyadari itu, dan kapak itu terus terbang dengan cepat sampai akhirnya dihentikan oleh Leonardo hanya dengan dua jarinya.


Leonardo berbalik dan menatap Glantz dengan dingin.


"Jangan, memaksakan keberuntunganmu."


Usai menggumamkan itu, Leonardo langsung menyentil kapak yang dilemparkan Glantz sebelumnya.


Kapak itu langsung terbang kembali ke arah Glantz dengan kecepatan dan kekuatan luar biasa yang bahkan menghasilkan gelombang kejut yang sangat kuat.


Tepat saat kapak itu hampir menyentuh wajah Glantz, sebuah perisai es dan beberapa tangan bayangan muncul dan menghentikan pergerakan kapak itu.


Olivia dan Chloe langsung maju dan bersiap bertarung dengan senjata mereka.


Melihat mereka berdua, Lucia juga langsung maju dan berdiri tepat membelakangi Leonardo.


Mereka tidak tahu trik dan skill macam apa yang dimiliki Leonardo dan Lucia. Namun, pastinya mereka kuat.


Berdasarkan percakapan sebelumnya, dapat disimpulkan kalau para golem itu adalah golem yang diciptakan oleh Leonardo. Menciptakan golem dapat dilakukan dengan sihir elemen tanah. Namun, butuh kemampuan yang hebat untuk melakukannya.


Karena itu, mereka tidak bisa lengah sekarang.


Leonardo lanjut berjalan ke arah para golem, kemudian menyentuh tanah.


"《Transmute》"


Usai Leonardo menggumamkan itu, tubuh para golem langsung bersinar sejenak, kemudian melebur dan menyatu dengan tanah tempat mereka berpijak.


(Mantranya … Berbeda.)


Olivia mengerutkan keningnya saat memikirkan itu.


Mantra《Transmute》yang baru saja diucapkan oleh Leonardo adalah mantra yang berbeda dengan mantra pembentukan golem yang ia tahu.


Jika para golem itu bukan dibuat dengan sihir tanah, maka satu-satunya kesimpulan Olivia adalah sihir atau skill lain yang memiliki efek untuk 'mempengaruhi suatu materi'.


Namun, untuk sekarang itu baru kesimpulan dasarnya. Ia tidak tahu apakah Leonardo menggunakan alat atau hal lain untuk menciptakan golem itu.


Niat membunuh yang sangat kuat dapat dengan jelas ia rasakan terpancar dari tubuh kecil Leonardo.


Tubuh Olivia bergerak dengan sendirinya mengikuti instingnya. Ia langsung mengambil Aligma yang sebelumnya telah Noelle berikan padanya, dan langsung menembakkan itu pada Leonardo dan Lucia.


Energi sihir yang Olivia masukkan untuk menciptakan peluru energi Aligma memiliki jumlah dan kepadatan yang luar biasa.


Perkiraannya, itu dapat dengan mudah menembus dan menghancurkan sebuah tank lapis baja dan sebuah bangunan besar yng terbuat dari beton.


Atau setidaknya itulah yang ia pikirkan.


Namun, Lucia hanya tersenyum lembut seolah serangan itu bukanlah masalah untuknya.


Peluru energi Aligma terus melesat dengan kecepatan yang luar biasa dan menghantam tubuh Lucia, kemudian meledak.


Seharusnya peluru energi itu akan langsung menembus tubuh Lucia dan menghancurkan Leonardo. Namun, serangan Aligma yang diluncurkan Olivia justru tidak pernah mencapai tubuh Leonardo yang berdiri tepat di belakang Lucia.


Potongan daging dan semburan darah dapat ia lihat dengan jelas berjatuhan di tanah, sementara tetesan air hujan membuat darahnya mengalir jauh.


Meskipun baru saja menyaksikan tubuh Lucia yang meledak, Leonardo sama sekali tidak terlihat ketakutan.


Ia justru tersenyum dan menatap Aligma yang moncongnya masih mengarah padanya.


"Itu senjata yang bagus. Tapi … Aku penasaran, mana yang lebih kuat antara senjatamu dengan tanganku! "


Leonardo menyatukan kedua tangannya dan berteriak, "《Transmute!》"


Tangan kanannya yang ditutupi dengan sarung tangan putih langsung bersinar dan menunjukkan sosoknya.


Itu bukanlah lengan organik seperti manusia mana pun, melainkan sebuah lengan yng terbuat dari logam berwarna hitam dengan corak putih di sekitar area yang seharusnya menjadi pembuluh darah.


Lengan prostetik itu bersinar dengan terang dan mengubah bentuknya, menjadi sebuah meriam seukuran kepalan tangan orang dewasa.


Sinar putih mulai menunjukkan dirinya dengan liar begitu moncong meriam itu diarahkan tepat pada Olivia dan yang lain.


Dalam sekejap, Leonardo langsung menembakkan sebuah peluru energi dengan tingkat kepadatan yang mungkin sama atau bahkan sedikit lebih besar dari yang Olivia gunakan.


Olivia hampir secara refleks langsung menciptakan beberapa lapisan perisai es yang dilapisi dengan sihir penghalang.


Namun, peluru energi dari Leonardo dengan mudah menabrak dan menghancurkan sebagian besar sebelum akhirnya menghilang di perisai terakhir yang dilapisi dengan medan《Magic Interference》.


"Hmm? Magic jamming, ya … Merepotkan," ucap Leonardo sambil menghela napas.


(Dia tahu teknik ini … )


『Fufufu~ Leonardo~ Jangan nakal~ Sudah kubilng, 'kan? Kita hanya bertugas untuk investigasi di sini.』


Saat Olivia sibuk menganalisis serangan dan pengetahuan yang dimiliki Leonardo berdasarkan ucapannya, suara Lucia tiba-tiba muncul dari ruang kosong dan membuat semua orang langsung mengeluarkan reaksi terkejut. Tak terkecuali dengan Olivia.


(Dia … Masih hidup?! )


Dia dengan wajahnya yang menegang langsung menyiapkan rapiernga dan Aligma di tangannya yang lain.


Tak lama kemudian, semua daging dan darah Lucia yang telah meledak dan menyebar ke banyak tempat tadi perlahan berkumpul kembali di tempat di mana ia berdiri sebelumnya.


Semua daging dan darah itu kemudian secara perlahan berkumpul dan bersatu, membentuk suatu gumpalan daging yang menjijikan.


Beberapa orang yang belum terbiasa melihat itu berusaha menahan muntah mereka. Namun, gumpalan daging itu terus bergoyang dengan menjijikkan dan perlahan membentuk sosok Lucia yang sama seperti sebelumnya.


Tak lama kemudian, sosok Lucia muncul kembali tanpa goresan sedikit pun pada tubuh dan bajunya.


Itu membuat Olivia langsung membidik Lucia dengan moncong Aligma dan bersiap menembak.


"Kau … Apa kau abadi? " tanya Olivia.


Lucia tersenyum. Kakinya terlihat akan bergerak sedikit. Namun, ia langsung menghilang dan muncul begitu saja di hadapan Olivia.


Olivia langsung menggerakkan tubuhnya yang dipicu oleh refleks dan melompat mundur untuk menghindari Lucia.


Usai menonton regenerasi yang dimiliki oleh Lucia, tentu saja ia akan merasa sedikit takut.


"Fufu~ Kenapa kau melihatku seperti melihat monster? Padahal kita tidak jauh berbeda."


Olivia mengerutkan keningnya. Ia langsung melompat maju dan menebas perut Lucia menggunakan bilah tajam pada Aligma, lalu menusuk kepalanya dengan ujung lancip rapiernya.


Ia juga menyerang Lucia berkali-kali dengan banyak tipe serangan yang akan membunuh manusia mana pun dalam waktu singkat.


Meskipun begitu, Lucia tetap beregenerasi dengan kecepatan yang gila. Kecepatan regenerasinya bahkan sedikit lebih cepat dari yang dimiliki Noelle dan Olivia.


Olivia melompat mundur dan menyiapkan serangan lainnya.


"Kenapa kau menyerangku dengan begitu keras? Ahh, apa mungkin … Kau merahasiakan keabadianmu dari semua orang? "


(Berisik.)


Lucia berada pada jarak yang cukup dekat dengan semua orang. Secara alami, Cryll dan yang lainnya dapat mendengar itu.


Mereka melebarkan mata mereka dan melihat ke arah Olivia dengan wajah terkejut, bertanya-tanya apa maksudnya.


Olivia menggerakkan giginya dengan kesal dan dengan cepat melompat maju sambil mengarahkan ujung rapiernya ke arah Lucia.


Saat Olivia berniat menyerang Lucia lagi untuk yang kesekian kalinya, Lucia tiba-tiba mengayunkan lengannya.


Pandangan Olivia tiba-tiba terdistorsi. Ia terjatuh tanpa daya ke tanah, dan benar-benar terasa lemas seolah semua energinya telah dihisap habis.


"Hmm? Apa aku menyerapnya terlalu banyak? Yahh, lagipula kau akan kembali pulih dalam waktu singkat," ucap Lucia sambil mengangkat bahunya.


Olivia melebarkan matanya dengan penuh keterkejutan saat pandangannya yang kabur perlahan mulai stabil.


Dia mencoba mengembalikan posisinya. Namun, tangan dan kakinya menolak untuk bergerak, dan dia hanya bisa menggerakkan kepalanya saja.


Olivia menatap Lucia dengan wajah penuh kebencian yang sangat jarang ia miliki. Meskipun begitu, saat ini ia tidak bisa melakukan apa pun. Ia bahkan tidak bisa mengeluarkan sihirnya.


Untuk sekarang, Chloe membantu Olivia untuk berdiri dan mengambilkan tabung kaca kecil dari sakunya, laku membuat Olivia meminumnya.


Dalam sekejap, kondisi Olivia langsung kembali seperti sebelumnya.


Tubuh Lucia berkedut saat ia melihat itu. Ia kemudian tersenyum.


"Ohh? Cairan itu … Darah, ya? Itu artinya, keabadian dan regenerasi yang kau miliki itu … Vampir? Dan darah itu bukanlah darahmu, itu artinya … Ada vampir lain selain kau dan gadis berambut hitam itu, ya … "


Merespon gumaman Lucia, Leonardo kemudian menyela dengan wajah penasaran.


"Vampir? Aku dengar mereka sudah punah. Kenapa mereka masih ada di sini? "


Menjawab pertanyaan Leonardo, Lucia kemudian tersenyum dan mengusap kepala Leonardo beberapa kali


"Selain vampir itu … Kurasa kita baru saja melihat hal menarik lainnya."


Lucia kemudian melanjutkan, "Gadis pirang yang diikat di tanah itu, aku tidak pernah melihat ras itu sebelumnya," ucapnya sambil menunjuk Charlotte yang masih dililit oleh rantai es dan tangan bayangan yang keluar dari tanah.


Olivia tidak tahu siapa dan dari mana asal Lucia dan Leonardo. Namun, akan berbahaya jika ia melepaskan mereka sekarang.


Lucia dan Leonardo pasti akan memberikan informasi tentang mereka kepada sosok yang mereka sebut sebagai 'tuan' itu.


Dan kemungkinan besar itu akan membawanya pada banyak masalah di masa depan.


Olivia mencoba melepaskan pegangan Chloe dan berdiri sendiri dengan kakinya yang masih goyah.


"Hmm? Kau masih mau melanjutkan? Sayang sekali, tapi … Kami berdua harus pergi sekarang," kata Lucia sambil mengayunkan lengannya sekali lagi.


Detik berikutnya, beberapa ledakan besar terjadi pada bangunan di sekeliling mereka, lalu segerombolan undead yang dipimpin oleh deathman raksasa muncul begitu saja di hadapan mereka.


Lucia perlahan berbalik dan berjalan meninggalkan mereka dengan diikuti Leonardo di belakangnya.


"Hei, Lucia … Apa tidak masalah membiarkan vampir itu hidup? Kita bisa membunuh mereka sekarang, 'kan? "


Leonardo bertanya pada Lucia begitu mereka sudah berada beberapa puluh meter dari lokasi Olivia dan yang lain.


Lucia kemudian tersenyum dan menjawab Leonardo sambil berkeringat dingin.


"Akan menjadi masalah jika kita membunuh mereka sebelum mendapat perintah resmi dari Tuan. Selain itu … "


" …? "


Lucia tidak melanjutkan kata-katanya, dia hanya menelan ludah dengan gugup dan membuat Leonardo memiringkan kepalanya dengan bingung.


Menarik napas sedikit, Lucia kemudian melanjutkan kata-katanya sambil menahan kegugupannya.


"Ada dua makhluk mengerikan yang masih bertarung di belakang mereka. Aku tidak mau memicu kebangkitan monster itu. Leonardo, sebaiknya kau berhati-hati saat bergerak di dekat mereka."


" … Jika kau yang mengatakannya, maka … "


Leonardo tidak mampu membantah. Dia hanya mengangguk dan menyetujui Lucia.


Tidak ada alasan bagi Leonardo untuk tidak mempercayai Lucia, dan Lucia juga tidak memiliki alasan untuk mengkhianati Leonardo.


Peringatan yang ia tujukan untuk Leonardo sepenuhnya merupakan keinginannya sendiri untuk melindungi Leonardo dari bahaya.


Lucia memiliki apa yang disebut sebagai 'Mata Dewa'. Itu dapat melihat suatu kebenaran dan kenyataan tidak peduli bagaimana itu disembunyikan.


Ia sudah memiliki mata itu sejak ia lahir, dan kekuatannya menjadi lebih besar seiring dengan pertumbuhannya, sehingga terkadang dapat menyakiti dirinya dan orang di sekitarnya.


Karena itu, ia menutup matanya sendiri dengan sebuah kain. Untuk kekurangan mata itu, ia masih belum mengetahuinya.


Ia tidak tahu mengapa ia memiliki mata itu. Karena itulah, ia memulai sebuah perjalanan untuk menemukan sebuah 'kebenaran' tentang dirinya.


Di sisi lain, tepat setelah Lucia dan Leonardo pergi.


Gerombolan undead terus berdatangan dan membuat semua orang kesulitan.


Dan di antara semua deathman itu, ada sosok yang nantinya akan menjadi penyebab kekacauan besar di kota.


Charlotte melebarkan matanya dengan tidak percaya saat ia melihat sosok itu.


Adiknya, Ein sera Zernroden yang seharusnya sudah terbunuh tepat di hadapannya, muncul kembali sebagai seorang deathman.


Mata Charlotte berubah menjadi tak bernyawa. Lonjakan energi sihir hitam keemasan langsung keluar meledak-ledak seolah kabur dari tubuhnya.


Rantai es dan tangan bayangan yang menahan tubuhnya perlahan hancur dan Charlotte berdiri dengan sepasang sayap hitam di punggungnya dan lingkaran halo di atas kepalanya.


Dalam keadaan itu, ia menggumamkan nama adiknya.


"Ein … "


...****************...