[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 41: Percakapan gadis



...****************...


"Kau bisa duduk di sini … Charl"


Olivia dengan ringan berbicara sambil menepuk kasur yang dia duduki.


Olivia dan Charlotte saat ini sedang berada di kamar penginapan yang disewa Noelle. Rambut perak milik Olivia dan emas milik Charlotte benar-benar menonjol di ruangan yang redup cahaya itu.


Sementara Noelle pergi mengumpulkan informasi, Olivia meminta Charlotte untuk menemaninya menonton pertunjukan kembang api malam ini.


Jika mereka memfokuskan pendengaran mereka, maka mereka bisa mendengar suara keributan festival di luar.


"Kau benar-benar menyukai kembang api … Olivia"


Charlotte mematuhi kata-kata Olivia dan duduk bersamanya di kasur sambil menghadap jendela.


Lampu kamar sengaja dimatikan, menjadikan ruangan itu lebih gelap dari biasanya, itu untuk memaksimalkan pemandangan kembang api yang akan dimulai tidak lama lagi.


"Unn … Aku menyukainya"


Olivia berbicara dengan suara penuh kelembutan, tangannya memeluk bantal dengan lebih erat dan matanya memandang dengan lembut pada langit penuh bintang itu.


"………"


Charlotte menatap Olivia yang tampak polos itu tanpa kata. Olivia sangatlah jarang berekspresi dihadapan orang lain, tapi kali ini dia tersenyum polos seperti anak-anak.


" … Kenapa kau menyukainya? "


"………"


Charlotte tanpa sadar menanyakan itu pada Olivia, dan membuatnya terdiam. Itu membuat Charlotte berpikir kalau pertanyaannya tadi adalah hal yang sensitif untuk Olivia dan meminta maaf dengan canggung.


"Ji-jika kau tidak ingin menjawabnya … Aku tidak keberatan … "


"Ah … Bukan itu maksudku … Ini bukanlah hal yang menarik untuk didengar, tapi … Apa kau masih penasaran? "


"Benarkah? … Kalau begitu … Aku ingin mendengarnya"


Charlotte dengan canggung meminta Olivia menceritakan alasan mengapa ia menyukai kembang api.


'Fufu~', Olivia terkikik kecil dan kembali menatap langit dengan bibirnya yang tersenyum polos saat dia mengingat sesuatu.


"Sejujurnya … Awalnya aku tidak terlalu memiliki ketertarikan khusus terhadap kembang api, sampai saat itu terjadi … "


Olivia berbicara dengan suara lembut saat memori masa lalu terlintas di kepalanya. Charlotte menatapnya dari samping dalam diam.


"Kau tahu kan? Sudah menjadi rahasia umum, kalau aku dan Noelle adalah teman masa kecil yang hidup bersama saat di kehidupan kita sebelumnya"


"Eh? Ahh ya … Hampir semua orang di sekolah sudah mengetahui itu"


Charlotte menjawab setelah mengingat-ingat sedikit. Bagaimanapun, dia juga sudah mengetahui tentang kondisi Noelle yang harus hidup bersama dengan Olivia.


"Alasannya adalah karena keluarga kami sangatlah dekat … Kedua orang tua Noelle sudah meninggal sejak kami masih kecil, dan keluargaku mengambil hak asuhnya"


Olivia terus berbicara saat dia mengingat kenangan itu.


"Dan juga … Meskipun itu sangatlah tipis … Kami masih memiliki hubungan darah"


" … Eh? "


Charlotte mengeluarkan suara keterkejutan setelah mendengar itu dari Olivia. Olivia, bagaimanapun dia hanya tersenyum masam sambil membuat ekspresi 'seperti yang diharapkan' dan lanjut berbicara.


"Lebih tepatnya … Kami memiliki kakek dan nenek buyut yang sama"


"………"


'Itulah alasan dia selalu menolakku dulu', Olivia bergumam dengan ekspresi cemberut.


"Nama kakek buyut kami adalah Mikhael Wecker, dia adalah mantan tentara Jerman pada Perang Dunia ke-dua … Dan nenek buyut kami adalah Emma Louvre, seorang wanita dari keluarga yang cukup berpengaruh pada saat itu"


Olivia dengan senyum miris terus bercerita.


"Singkat cerita, setelah kekalahan Jerman pada Perang Dunia, kakek buyut kami dibawa sebagai tahanan perang, namun berkat koneksi keluarga tunangannya (Emma Louvre) yang cukup berpengaruh … Kakek buyut kami berhasil dibebaskan dari pengusiran"


Olivia tersenyum sedih saat dia menceritakan ini. Charlotte terus mendengar dalam diam, ingin tahu tentang masa lalu mereka.


"Hasilnya, kakek buyut kami menikah dan membentuk perusahaannya sendiri dengan bantuan kecil dari keluarga istrinya … Awalnya itu hanyalah perusahaan lokal, namun lama-kelamaan, berkat usaha kakek buyut kami, dia mengembangkan perusahaan itu dari perusahaan kecil sederhana menjadi sebuah perusahaan besar dan memiliki cukup pengaruh di negara itu"


"Mereka menikah, dan memiliki empat orang anak … Dia mewariskan sebagian besar asetnya secara merata pada anak-anaknya, dan hasilnya, semua anaknya memiliki kesuksesan yang cukup besar setelah mewarisi perusahaan itu … Mereka adalah kakek dan nenek kami"


Olivia memiliki senyum samar saat dia memeluk dan membenamkan wajahnya ke bantal.


"Singkat cerita, keluarga kecil itu menjadi sebuah keluarga besar dan memiliki banyak keturunan … Keluarga Canaria adalah bagian dari keluarga utama, sementara keluarga ku … Keluarga Airi hanyalah bagian dari keluarga cabang, namun kami berdua sangatlah dekat"


Olivia mengangkat wajahnya dan menatap langit yang kosong seolah menantikan sesuatu. Dia lanjut berbicara.


"Sayangnya, kedua anggota keluarga Canaria tewas dalam sebuah kecelakaan, meninggalkan Noelle sebagai satu-satunya pewaris … Karena Noelle adalah bagian dari keluarga utama, banyak perselisihan yang terjadi untuk memperebutkan hak asuhnya"


Setelah menceritakan bagian itu, wajah Olivia diselimuti ekspresi kemarahan dan kesedihan yang jelas.


Dia marah pada keserakahan orang-orang itu. Meskipun mereka semua adalah keluarga, mereka dengan senang hati ingin memanfaatkan Noelle yang suatu saat akan menjadi pewaris utama perusahaan.


Olivia masih tidak bisa memafkan orang-orang yang berniat memperalat laki-laki yang dia cintai. Meskipun saat itu dia masih belum mengerti perasaannya sendiri.


"Namun cukup mengejutkan"


Olivia lanjut bercerita.


"Meskipun dia masih kecil saat itu, dia anehnya memiliki kesan yang sangat dewasa … Dia menutupi kesedihan yang dia miliki setelah kehilangan orang tuanya, dan dengan tenang menghadapi masalah keluarga itu"


'Itulah yang membuatku kagum padanya', Kali ini ekspresi Olivia berubah dari kemarahan menjadi senyum polos dengan mata berbinar seolah dia baru saja melihat sesuatu yang kuar biasa.


"Hasilnya adalah Noelle memilih untuk tinggal bersama kami, keluarga Airi … Kedewasaannya itu membuat semua orang terkejut, meskipun saat itu aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan … Aku sangat yakin kalau Noelle sudah melakukan sesuatu yang luar biasa … Mungkin saat itulah aku merasakan kekaguman yang luar biasa terhadapnya"


Olivia bercerita dengan penuh semangat saat dia mengepalkan tangannya, saat …


"Ah … "


"Kembang api … "


Olivia berhenti bercerita dan menatap langit yang penuh cahaya berwarna itu dengan mata berbinar dan senyum polos.


Ekspresi Olivia itu membuat Charlotte tanpa sadar mengendurkan bibirnya dan tersenyum kecil.


Merasa diperhatikan, Olivia berdeham untuk menghilangkan suasana canggung dan dengan rona di pipinya, dia lanjut bercerita.


"Akhirnya, kami tinggal bersama selama beberapa tahun, dan sampai saat itu terjadi … Saat umur kami menginjak angka 12 tahun, kami mengunjungi festival lokal yang diadakan bertepatan dengan tanggal kematian kakek buyut kami"


"Saat itu kami di Jerman, festival berlangsung hingga malam hari … Itu membuat kami terlalu tenggelam dalam suasana meriah, kami berdua terpisah dari rombongan"


Charlotte terdiam, dia hanya bisa diam dan dengan tenang mendengarkan Olivia.


"Kami tersesat, ponsel kami kehabisan baterai, dan aku benar-benar takut saat itu"


Dengan senyum lembut di wajahnya, Olivia terus bercerita.


"Aku benar-benar ketakutan, membayangkan bagaimana jika kami tidak bisa kembali, bagaimana jika kami akan terjebak selamanya di tempat itu … Namun berkebalikan denganku, Noelle dengan tenang menghapus air mataku dan dengan senyum lembut, dia meyakinkan diriku kalau kami pasti akan kembali"


Wajah Olivia dipenuhi dengan kebahagiaan, senyum polos dan mata lembut itu dengan jelas menggambarkan emosi yang dia rasakan ketika mengingat momen itu.


"Noelle memiliki ekspresi yang tenang dan benar-benar dewasa, itu tidak cocok untuk usianya … Tangannya yang lembut mengusap wajahku yang penuh air mata, matanya yang lembut menatapku saat dia menghiburku, saat itulah aku merasakan panas aneh di dadaku … Secara alami, aku menyadarinya, kalau rasa kagum yang kumiliki untuknya … Telah sepenuhnya berubah menjadi perasaan suka dan cinta, saat itulah pertama kali aku menyadari perasaanku … Meskipun saat itu aku masih anak-anak"


Olivia mengatakan semua itu sambil tersenyum polos dan mata berbinar beserta rona merah di pipinya.


Rasa panas membakar wajahnya ketika dia mengingat itu, dan langsung membuatnya membenamkan wajahnya ke dalam bantal.


Meskipun wajahnya tidak terlihat, Charlotte bisa dengan jelas merasakan kalau Olivia sedang malu saat ini, bagaimanapun … Telinganya juga memerah.


Charlotte tiba-tiba menyadari, dia sadar kalau gadis di depannya sudah menjadi orang yang berbeda dari gadis yang selalu menempel pada Noelle seharian ini.


Setelah rasa malunya sedikit mereda, Olivia kembali mengangkat wajahnya dan lanjut bercerita.


Meskipun wajahnya masih memerah saat ini, tapi Charlotte memutuskan untuk diam tentang itu.


"Dan akhirnya, seperti yang dikatakan Noelle, kami benar-benar kembali dengan selamat … Itu karena dia secara kebetulan membawa beberapa kembang api dan menembakkannya untuk dijadikan sinyal … Saat itu malam hari, jadi cahaya kembang api yang diluncurkan Noelle terlihat jelas di langit yang gelap"


Dengan suara penuh kekaguman, Olivia terus bercerita.


"Meskipun saat itu aku ragu kalau mereka akan menemukan kami hanya karena kami menembakkan kembang api … Tapi Noelle hanya tersenyum dan memintaku menunggu"


"Saat kami kembali … Aku benar-benar merasakan kelegaan yang luar biasa di hatiku, saat itu aku benar-benar merasa senang dan bersyukur karena aku bersama dengan Noelle … Jika saat itu aku hanya sendirian … Aku tidak tahu apa yang akan terjadi"


Wajah Olivia menunjukkan banyak ekpresi, tidak seperti dirinya yang biasa.


"Saat itu aku bertanya-tanya, apa yang akan terjadi jika aku hanya sendiri, tapi … Noelle dengan tenang menepis kekhawatiran itu dan berkata kalau dia pasti akan menemukanku dimanapun dan kapanpun … Saat itu aku tidak lagi menganggapnya sebagai kakak laki-laki yang wajib dihormati, tapi aku mulai melihatnya sebagai lawan jenis"


"Sifat tenang dan kedewasaan itu selalu melindungiku dari rasa takut, itu membuatku merasa aman dan takut pada saat yang sama … Saat itu aku takut kalau aku hanya akan membebani dirinya … Itu membuatku ingin menjadi sepertinya"


Charlotte melebarkan matanya setelah mendengar itu dari Olivia. Tidak menyadari itu, Olivia lanjut berbicara.


"Sifat kedewasaannya itu mengagumkan, jadi aku memutuskan untuk menirunya … Aku tidak ingin hanya dianggap sebagai adik kecil yang harus dilindungi, aku ingin berdiri di sisinya … Perlahan-lahan aku mampu untuk mendewasakan sedikit sikapku, aku mempelajari banyak hal yang berkaitan dengan pekerjaan rumah tangga, belajar lebih keras untuk mendapatkan nilai tertinggi di kelas dan sekolah … Itu semua hanya agar aku bisa berdiri di sisinya tanpa harus membebaninya"


Matanya melembut, senyum hangat terbentuk di wajahnya dan rambut peraknya tampak bersinar.


"Namun pada akhirnya dia menolakku … Dia selalu menolakku karena dia hanya menganggapku sebagai adiknya … Dan karena aku kesal, aku tanpa sadar menggerakkan tanganku dan menamparnya … Itu adalah hal yang tidak mungkin kulakukan jika aku sadar, tapi saat itu aku benar-benar kesal karena menganggap Noelle tidak mengakui kerja kerasku … Kami saling diam selama beberapa hari, kegiatan sehari-hari kami tidak berubah, hanya saja … Percakapan diantara kami menjadi canggung"


"Wajah Noelle saat itu benar-benar tertekan, meskipun saat itu akulah yang salah … Noelle hanya tidak menyadari perasaanku, tapi dia mengetahui kerja kerasku dan benar-benar menghargai itu … Dan akhirnya kami berbaikan … Noelle meminta maaf padaku meskipun dia tidak tahu apa salahnya … Pemandangan Noelle ketika dia meminta maaf padaku dengan wajah bingung saat itu benar-benar lucu sehingga aku tidak bisa menahan tawa"


Charlotte hanya diam, anehnya dia tidak bisa mengganggu Olivia yang sudah tenggelam dalam lautan yang disebut 'nostalgia' itu.


"Sejak saat itu, momen dimana aku menembaknya dan Noelle menolakku sudah menjadi kegiatan sehari-hari kami … Sampai akhirnya kita tiba di dunia ini … "


Ekspresi Olivia tiba-tiba menjadi mendung untuk beberapa alasan, dia tampak sedih, tapi sekaligus senang pada saat yang sama.


"Dan juga … "


Olivia kembali berbicara sambil menatap Charlotte dengan senyum nakal yang tidak biasanya ada di wajahnya.


"Ini adalah rahasia … Tapi, meskipun Noelle memiliki penampilan yang dewasa, terkadang dia juga memiliki pemikiran yang terasa seperti anak-anak … Walaupun dia seringkali menyembunyikannya sih"


"Benarkah? Tidak terlihat seperti itu bagiku"


"Yahh, tentu saja … Bahkan orangtuaku di kehidupan sebelumnya juga tidak menyadari ini … Sebagai seseorang yang selalu bersamanya setiap saat tentu saja aku tahu lebih banyak tentangnya"


Olivia dengan senyum sedih mengatakan itu. Charlotte berpikir kalau Olivia mungkin masih memikirkan kedua orangtuanya di bumi.


"Yahh … Walaupun pada akhirnya Noelle benar-benar jatuh padaku … Hehe … Kau mungkin tidak bisa membayangkan betapa senangnya aku saat dia menerimaku waktu itu"


Olivia dengan senyum malu-malu mengatakan itu dan akhirnya kembali menenggelamkan wajahnya ke bantal dengan wajah memerah.


Charlotte bertanya-tanya mengapa.


"Terlebih lagi … Saat kami melakukan itu untuk pertama kalinya"


Olivia mengatakan itu dengan suara yang sangat kecil sehingga tidak heran jika Charlotte tidak mendengarnya.


Namun sangat disayangkan, indera pendengaran Charlotte yang sudah menjadi seorang malaikat jatuh sudah sangat superior sehingga dia bisa mendengar itu dengan jelas.


" "………" "


Hening sejenak, Charlotte perlahan mulai mencerna kata-kata Olivia. Dan ketika dia akhirnya mengerti, wajahnya ikut memerah.


Charlotte sama sekali tidak memiliki pengalaman dengan lawan jenis, itu karena dia selalu menolak setiap laki-laki yang menyatakan perasaan padanya.


Ketika dia memikirkan ini, wajahnya semakin memerah.


Olivia tampak tidak menyadari itu karena dia hanya tersenyum lembut sambil menatap langit yang penuh dengan taburan bintang.


"Yahh … Saat itu aku benar-benar gugup apakah aku melakukannya dengan baik atau tidak … Aku juga banyak mendengar kalau pengalaman pertama akan sedikit menyakitkan"


Olivia terus berbicara tentang 'pengalaman pertama' yang ia rasakan dengan senyum lembut dan wajah memerah karena malu.


"Memang sih, itu agak menyakitkan … Namun rasa sakit itu segera berubah menjadi perasaan senang dan kebahagiaan … Yang ada di pikiranku saat itu hanyalah akhirnya aku bisa menyatu dengan Noelle … Hanya itu … Semua usaha yang kulakukan untuk membuatnya takluk padaku, langsung terbayar pada saat itu juga"


Olivia dengan malu-malu mengatakan itu saat pelukannya pada bantal menjadi semakin erat, namun, tiba-tiba…


"Hmm? "


Olivia mendongak dan menyipitkan matanya ke langit malam.


Charlotte bingung dan bertanya apa yang terjadi, tapi Olivia tetap diam dan hanya berjalan mendekati jendela untuk melihat langit.


"Masih ada waktu … Tapi kekuatanku … Seharusnya Noelle juga menyadari ini … Waktunya diluar perkiraan … Aritmatika mental memang sulit digunakan untuk menghitung suatu fase … Huh … "


Dia bergumam, matanya menyipit pada bulan. Charlotte menatapnya kebingungan.


Olivia memperhatikan tatapan Charlotte dan hanya tersenyum masam sambil mengatakan 'Tidak ada apa-apa' saat dia kembali duduk.


"Hanya saja … Tidak lama lagi akan terjadi bulan baru"


...****************...