![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Ujung sabit yang bersinar dengan terang itu menabrak gelombang cahaya yang tiba-tiba saja muncul dari belakangnya.
Kedua bentuk energi yang tidak masuk akal itu saling menabrak, dan menghasilkan gelombang kejut yang pada akhirnya menghempaskan semua objek yang ada di sekitarnya.
Tania, yang tubuhnya kini dikendalikan oleh Navi menggertakkan giginya dengan kesal, dan memaksa untuk mengayunkan sabit di tangannya.
Serangan yang sebelumnya sempat membuat Tania lengah itu kini menghilang sepenuhnya setelah sabit Zephiroth menyerap semua unsur sihir yang ada di dalamnya.
"Apa-apaan itu? "
Tania, yang tubuhnya saat ini dikendalikan oleh Navi berteriak dengan kesal sambil memperhatikan lingkungan sekelilingnya.
Ini adalah kemampuan khusus yang dimiliki Navi. Saat situasi genting, atau situasi yang memungkinkan, Navi bisa bertukar tempat dengan Tania, dan mengambil kendali atas tubuhnya.
Sebagai perumpamaan, hal itu bisa disebut sebagai, 'Satu tubuh, dan dua jiwa.'
Golem, rak logam, serta puluhan kotak kayu yang sebelumnya tertata rapi di ruangan itu kini telah terhempas ke semua tempat, menghancurkan beberapa bagian dinding logam yang tampak kokoh itu.
"Dimana bajingan itu?! "
Meskipun Navi sudah memindai ke semua tempat dengan kemampuannya, sosok penyerang itu sama sekali tak dapat ia lihat di mana pun.
『Navi, ada yang aneh di sini. Kehadiran penyerang … Terlalu tipis.』
Yang diucapkan Tania itu benar. Tidak peduli seberapa keras Navi mencoba mendeteksi keberadaan penyerang, ia sama sekali tidak bisa merasakan kehadirannya.
"Apa itu tipe assassin?! "
『 … Bukan … Itu serangan sihir … 』
Jika lawannya benar-benar seseorang dengan tipe keahlian assassin, maka ini akan merepotkan bahkan untuk mereka.
Tubuh Tania hampir tidak memiliki energi sihir yang bisa digunakan untuk mendeteksi keberadaan lawan, karena itulah Navi hanya bisa mengandalkan indera tajam yang dimiliki Tania, serta insting yang sudah dilatih selama bertahun-tahun itu.
Tapi, lawan mereka tidak mungkin seorang assassin. Karena, seorang assassin adalah orang atau pihak yang berspesialisasi dalam pembunuhan cepat dan diam-diam.
Jika lawannya benar-benar seorang assassin, tidak mungkin dia akan menggunakan sesuatu seperti sihir yang sangat mencolok itu untuk membunuh Tania.
"Tunjukkan dirimu brengsek!! "
Navi berteriak dengan kesal, dan mengayunkan sabit di tangannya secara acak. Namun, sosok musuh itu sama sekali tidak terlihat.
Sesuatu yang berat tiba-tiba saja menghantam pergelangan tangannya, dan Navi secara refleks langsung mengayunkan sabitnya ke arah musuh itu.
Navi merasa kalau ia baru saja menyentuh sesuatu dengan sabitnya, tapi ia sama sekali tidak melihat, atau bahkan merasakan hawa keberadaan musuhnya.
『Navi, serahkan kendalinya padaku.』
"Itu tidak mungkin, oke?! Ini adalah lawan yang bahkan tidak bisa kurasakan hawa keberadaannya! Tidak mungkin aku akan membiarkanmu menghadapinya! "
Tania mencoba mengambil alih tubuhnya kembali dari Navi, tapi Navi dengan keras menolak itu.
Bagaimanapun, Navi memiliki sisi protektif yang sangat berlebihan terhadap keselamatan Tania.
『Aku tidak akan mati.』
"Berisik! Kau diam saja, Tania! "
Selagi Navi berteriak, serangan lain datang dari sampingnya, membuat dirinya secara refleks memasang mode pertahanan dengan sabitnya.
Hantaman yang sangat kuat berhasil mengenai bilah sabitnya, tapi, sama seperti sebelumnya, Navi sama sekali tidak bisa melihat sosok yang mengeluarkan serangan itu.
Lingkungan sekitar mereka sangat hening. Tidak ada suara apa pun selain hantaman sabit Zephiroth yang terkadang menyentuh lantai, dan mengeluarkan suara dentingan yang berisik.
Meskipun itu sangat samar, Navi masih bisa mendengar suara siulan angin yang muncul setiap kali suatu serangan datang padanya.
『Navi … Serahkan kendalinya padaku.』
"Kau diam saja! "
『Navi–』
"Diam! Apa kau mau mati lagi?! Tidak mungkin aku akan membiarkannya! Aku tidak akan membiarkanmu menyusul mereka! "
Navi berteriak dengan penuh amarah pada Tania yang ada di dalam kepalanya. Meskipun begitu, tubuhnya tidak pernah berhenti bergerak untuk menangkis setiap serangan yang datang entah dari mana.
Kenapa Navi begitu bersikeras untuk menciptakan situasi yang aman demi Tania? Jawabannya sudah jelas. Keberadaan 'Navi' itu sendiri seperti sebuah 'parasit' yang menempel di jiwa Tania.
Jika Tania mati, dan jiwanya lenyap, maka Navi juga akan ikut lenyap.
Itu sama sekali bukan perasaan yang baik seperti ingin melindungi seseorang. Navi hana ingin melindungi dirinya sendiri. Kebetulan saja keberadaan Tania sangat penting untuk keberlangsungan hidupnya.
Tania sendiri menyadari itu. Karena itulah, ia membiarkan Navi mengambil alih saat situasinya semakin memburuk. Namun ….
『 … Kumohon … Ada sesuatu yang ingin kucoba. Selain itu … Aku tidak akan mati, bahkan jika aku sangat menginginkannya.』
...****************...
Beberapa waktu tepat sebelum Tania dan Navi menghadapi sosok yang tak dikenal.
"Apa-apaan tempat membosankan ini? "
Arnaz dengan kesal menendang kotak logam yang tergeletak di sekitar kakinya.
Tendangannya itu sudah cukup untuk membuat kotak logam tersebut terpental sejauh beberapa meter, dan menghancurkan beberapa kotak dan barel kayu yang ditabrak kotak logam itu.
Arnaz mendapatkan bagian untuk 'membersihkan' bagian gudang, tapi jelas ia tidak suka dengan peran itu.
Alasannya? Tentu saja, karena tak ada apa pun di sana selain tumpukan kontainer barang yang disusun dengan rapih berdasarkan produk apa yang ada di dalamnya.
Hanya ada sekitar 12 orang penjaga di luar, dan jumlah seperti itu tidaklah cukup untuk menghentikan Arnaz.
Arnaz hanya perlu menggerakkan pasukan serangga mikro miliknya, dan para penjaga itu seketika berubah menjadi tumpukan daging yang menjijikkan dengan bau yang sangat busuk.
"Hmph."
Arnaz mendengus dengan kesal, dan mengayunkan lengannya, lalu berbalik untuk meninggalkan bangunan yang keseluruhannya perlahan meleleh karena digerogoti oleh jutaan serangga hitam milik Arnaz.
"Tempat ini terlalu membosankan–"
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, suara ledakan yang cukup besar sehingga dapat ia dengar dengan jelas itu datang dari area produksi yang jaraknya tak jauh dari posisinya saat ini.
"Tempat itu … Seharusnya Mordred ada di sana, 'kan? "
Sejak tadi, berbagai ledakan dan kobaran api jelas telah memenuhi udara di sekitar kota. Tapi, Arnaz tidak begitu mempedulikannya karena itu bukan urusannya. Namun, Arnaz mau tak mau mulai penasaran terhadap apa yang dilakukan Tania di area produksi.
Lagipula, jaraknya cukup dekat.
"Mungkin aku akan mampir sebentar."
Arnaz dengan pandangan seolah tertarik oleh ledakan itu mulai memakai kembali topeng yang ia dapatkan dari Ethan, dan berlari ke area produksi di mana Tania berada.
...****************...
–Gereja besar di bagian barat Rondo, kolam suci.
"Tidak kusangka … Tempat ini juga memiliki kolam suci … "
Asher dengan kening yang berkerut di balik topengnya itu mempererat tangannya yang masih menggenggam tombak kesayangannya.
Sementara belasan ledakan ledakan telah terjadi di seluruh area penting di kota, Asher masih dengan tenang menghadap ke kolam yang dipenuhi air suci itu.
Asher menggelengkan kepalanya, dan berbalik meninggalkan kolam itu. Untuk sekarang, ia harus fokus pada tujuannya.
Ia harus menghancurkan gereja itu secepatnya, sebelum para penduduk mulai memenuhi tempat itu untuk mengungsi.
Sebagai seorang kesatria suci, jelas adalah hal yang sulit bagi Asher untuk menghancurkan sebuah gereja. Terlebih lagi, gereja itu adalah gereja untuk pemujaan dewi Lumine, dewi yang sama dengan yang memberikan Asher berkah.
" … Aku hanya seorang bid'ah rendahan."
Mengucapkan itu dengan nada sedih dan senyum miris di balik topengnya, Asher kemudian berjalan ke bagian depan gereja yang sudah diisi oleh beberapa mayat orang dengan zirah pelindung lengkap.
Asher mandang gereja besar itu dengan tatapan yang kuat, dan memejamkan matanya.
"Maafkan aku, dewiku. Tapi … Ini demi keselamatan Lia.《Altum》"
Seolah kata-kata itu yang jadi pemicunya, Asher langsung menancapkan tombaknya ke tanah, dan mengerahkan energi sihir dalam jumlah besar ke dalam tanah melalui tombaknya itu.
Energi sihir dalam jumlah besar mulai mengalir tak terkendali di bawah tanah, menciptakan banyak retakan besar yang mengeluarkan cahaya yang sangat terang di sekeliling Asher dan bangunan gereja itu.
Retakan itu perlahan membesar, dan mulai menelan segala yang ada di atasnya. Dan dalam sekejap, sebuah sink hole telah tercipta, menelan gereja yang memiliki total luas sekitar 200 meter itu.
Semua bagian gereja besar itu, beserta semua orang yang masih ada di dalamnya, tertelan ke dalam lubang tanpa dasar yang diciptakan oleh Asher.
Tanah yang sebelumnya memiliki lubang besar yang terbuka itu kini perlahan menutup, mengembalikan penampakannya menjadi seperti sebelumnya.
Apa yang baru saja Asher lakukan itu adalah sihir tingkat tinggi dengan basis elemen gabungan antara tanah, dengan spasial.
Dengan menciptakan sebuah lubang besar di tanah, ia akan 'menenggelamkan' semua objek fisik yang ada tepat di atas tanah itu, lalu sihir spasial akan berfungsi untuk melenyapkannya tanpa sisa ke dalam sesuatu yang Asher sebut sebagai 'ruang pribadi'.
Tidak banyak yang bisa melakukan teknik sihir itu. Selain Asher, orang-orang yang tercatat bisa melakukannya dapat dihitung dengan semua jari kaki dan tangan.
Telinga Asher yang memiliki pendengaran yang cukup tajam itu samar-samar mendengar suara langkah kaki dari ratusan orang yang berjalan menuju gereja dengan tidak sabar.
Namun, setidaknya ia sudah menyelesaikan pekerjaan utamanya. Sekarang, ia hanya perlu meninggalkan suatu jejak yang menandakan keberadaan 'Asterisk', dan pergi.
Alasan ia meninggalkan jejak itu, tentu saja untuk menjadi deklarasi tentang munculnya kekuatan baru yang akan 'menyingkirkan penyimpangan' itu.
Damian yang mengusulkan ide untuk meninggalkan jejak seperti itu memiliki harapan untuk setidaknya para 'musuh' mereka akan menjadi lebih waspada, dan mulai memperlambat pergerakan mereka.
Meskipun, itu akan membuat pergerakan mereka menjadi semakin sulit untuk dilacak. Namun, seharusnya itu bukanlah masalah asalkan mereka memiliki ide samar yang muncul dari ramalan kristal yang mereka dapatkan itu.
Asher melompat tinggi ke udara, dan mulai mengamati pergerakan para anggota Asterisk yang lain, sebelum ia akhirnya memutuskan untuk membantu.
...****************...
–Jalanan utama area Rondo pusat.
Jalan ini adalah satu-satunya jalanan yang dapat dilewati oleh pangkalan militer lokal agar dapat mengirim bala bantuan ke titik krisual di kota. Lokasinya cukup berdekatan dengan gedung Departemen Keamanan pusat yang saat ini dalam keadaan kacau karena kemunculan Lucia.
Meskipun puluhan orang penduduk sedang berlarian ke semua tempat dengan panik akibat ledakan yang terus terjadi di berbagai lokasi, ada satu orang yang masih berdiri dengan tenang di tengah jalanan besar itu.
Sosok itu menggunakan setelan militer lengkap yang memiliki aksen biru-putih yang khas, dan menjadi penanda untuk pakaian militer formal negara Republik. Di bagian pinggangnya, terdapat satu pedang yang menggantung di masing-masing sisi.
Wajahnya tak dapat dilihat karena topeng hijau yang menutupi wajahnya, tapi semua orang yang sempat melihat sosoknya itu dapat dengan mudah mengetahui kalau dia adalah orang yang 'cukup berbahaya'.
Sosok itu adalah anggota Asterisk yang mendapatkan tugas untuk 'membersihkan' semua bala bantuan yang akan datang menghalangi Asterisk yang lain. Damian van Houten, atau bisa disebut juga Ructus.
Damian menarik kedua pedangnya dari masing-masing pinggang, dan membuat kuda-kuda bertarung begitu ia melihat rombongan orang dengan zirah dan pakaian militer yang lengkap mulai berhamburan keluar dari suatu gedung.
"Kau! Apa yang dilakukan pasukan Republik di sini?! "
Salah satu prajurit yang tampaknya menyadari kehadiran Damian itu berteriak marah, dan mulai menarik senjatanya sendiri.
Damian tidak menjawab, dan langsung menancapkan kedua pedangnya ke tanah.
"《Absolute Cube》"
Suaranya yang bernada rendah itu bergema ke seluruh bagian kota, membuat semua orang yang mendengarnya sontak mengarahkan pandangan mereka ke langit dengan bingung.
Di ujung pedangnya yang menancap dengan tanah, terbentuk garis cahaya yang perlahan memanjang, mengelilingi semua prajurit yang datang.
Garis cahaya itu kemudian melebar dan membentuk suatu kubus, menjebak Damian, dan semua prajurit itu di dalamnya.
Setiap sisi kubus yang terbentuk oleh garis cahaya itu kemudian berubah menjadi hitam, membuat semua orang yang ada di dalamnya menjadi tidak dapat dilihat lagi dari luar.
Damian baru saja menggunakan sihir tingkat tinggi dengan basis elemen spasial yang dinamakan《Absolute Cube》.
Sihir ini memiliki fungsi yang cukup mirip dengan《Reign》yang dimiliki Noelle. Yaitu, membuat suatu ruangan yang terpisah dari dunia luar. Yang membedakannya,《Absolute Cube》akan memberikan efek 'kepatuhan mutlak' terhadap semua orang yang terjebak di dalamnya. Tentu saja, dengan penggunanya sendiri sebagai pengecualian.
Hanya saja,《Absolute Cube》memiliki batasan yang cukup merepotkan berupa 'batas waktu'. Jadi, Damian harus segera mengalahkan semua musuhnya sebelum efek sihirnya menghilang.
Sementara semua kekacauan terjadi di luar kubus, Damian, yang ada di dalam kubus itu menarik kedua pedangnya dan menatap semua prajurit itu dengan mata tegas di balik topengnya.
"Hei! Apa yang kau lakukan pada kami?! "
Di antara semua prajurit yang ikut terkurung di dalam kubus itu, terdapat satu orang pria yang menatap Damian dengan penuh kemarahan.
Ditatap dengan niat membunuh sudah menjadi hal yang biasa bagi Damian, jadi dia tidak terlalu peduli, dan mulai mengayunkan salah satu pedangnya.
Ruang di dalam kubus itu kemudian berubah menjadi suatu arena berbentuk lingkaran berukuran besar, membuat semua orang yang ada di sana hanya bisa melihat sekeliling dengan bingung.
Sebelum Damian menggunakan kemampuannya beberapa saat yang lalu, ia sudah memastikan kalau semua prajurit yang mendatanginya saat ini adalah keseluruhan pasukan yang tersisa untuk menjadi bala bantuan.
Totalnya kurang dari 100 personil. Yang artinya, sebagian besar prajurit yang dimiliki kota sub-distrik Rondo ini, telah dimusnahkan oleh Lucia yang menyerang bagian Departemen Keamanan.
Damian hanya bisa menganggap situasi ini sebagai sesuatu yang menyedihkan, karena ia membuat seorang wanita seperti Lucia melakukan pemusnahan berskala besar seperti itu.
Dengan pemikiran itu di benaknya, Damian memutuskan untuk tidak merasa bersalah, dan akan bertarung tanpa memikirkan emosi gelap yang ia rasakan sendiri.
Ekspresinya tersembunyi di balik topeng itu, tapi semua orang yang ada di sana bisa dengan jelas merasakan hawa dingin yang menyerang punggung mereka.
Niat membunuh yang begitu kuat datang dari Damian yang perlahan mulai mengayunkan salah satu pedangnya, dan menciptakan sebuah gelombang kejut yang sangat kuat sehingga menghempaskan sebagian besar orang yang ada di sana.
Tiba-tiba, sosok Damian menghilang dari pandangan semua orang, dan hal terakhir yang mereka lihat adalah sosoknya tiba-tiba saja muncul sambil mengayunkan pedangnya dengan gerakan yang sangat halus dan terampil. Selebihnya, pandangan mereka hanya diisi oleh kegelapan, sebelum akhirnya kesadaran mereka menghilang sepenuhnya.
...****************...
Ledakan terjadi di mana-mana. Jeritan ketakutan dari banyak orang memenuhi udara, membuat telinga Noelle yang terus mendengarnya tanpa henti sejak tadi merasa tidak nyaman.
Noelle mengayunkan lengannya, dan memberikan tebasan diagonal ke atas menggunakan pedang kembar di tangannya.
Serangan itu dengan mudah ditangkis oleh pria bernama Lucius Roux itu. Dia bahkan tidak melakukan pergerakan apa pun selain memposisikan lengannya ke bagian yang menjadi target Noelle.
Melihat kalau semua serangannya sama sekali tidak mempan tentu membuat Noelle mengerutkan dahinya dengan kesal. Saat ini, dia memiliki pekerjaan yang jauh lebih penting daripada meladeni Lucius.
Dia harus membunuh walikota. Dia harus membunuh orang yang nantinya akan terlibat sebagai sumber dalam bencana besar di masa depan.
"Menyingkir! "
Noelle berteriak dengan marah pada Lucius. Dia mengayunkan pedangnya yang lain, tapi terus ditahan oleh Lucius hanya dengan menggerakkan lengannya.
Kali ini Noelle mencoba menyerang dengan menendang titik vitalnya, tapi Lucius dengan mudah menghindari itu semua.
Noelle menunduk ke bawah, dan meletakkan kedua telapak tangannya ke tanah. Ia kemudian memanfaatkan momentum yang dihasilkan dengan menggunakan kedua kakinya untuk menyerang bagian dagu Lucius.
Meskipun begitu, Lucius menahan tendangan Noelle itu hanya dengan telapak tangannya. Ia kemudian menggerakkan satu kakinya untuk menendang ke perut Noelle.
Noelle yang masih dalam posisi itu pun tak memiliki kesempatan untuk menghindari. Dia melepaskan kedua tangannya yang sejak tadi menempel di tanah, dan bersiap untuk menahan dampak yang dihasilkan tendangan Lucius.
Namun, Noelle salah memperkirakan sesuatu. Itu adalah, tingkat kekuatan yang dikerahkan Lucius. Dia tidak sempat memprediksi itu.
Gerakan yang Lucius lakukan begitu cepat sehingga Noelle tidak memiliki kesempatan untuk memperhatikan pergerakannya.
Yang Noelle tahu, ia tiba-tiba saja sudah terpental ke udara dan akan menabrak sebuah bangunan besar dalam beberapa detik lagi.
Noelle mencoba menahan dampak itu dengan mengeluarkan dua rantai darah yang masing-masing ujungnya dia tancapkan ke bangunan terdekat.
Meskipun begitu, itu tidak cukup untuk meredam efek kejut yang dihasilkan dari tabrakannya ke dinding itu.
Tubuh Noelle dengan sangat keras menabrak bangunan, dan seketika menghancurkannya. Dan sebagai dampak dari itu semua, gelombang kejut yang cukup kuat muncul dan menghempaskan semua yang ada di sekitarnya.
Dan saat itu juga, Noelle tiba-tiba merasakan sesuatu yang seharusnya tidak akan pernah ia rasakan lagi. Sesuatu yang seharusnya sudah lama hilang dari dirinya.
Rasa sakit.
Noelle tidak mengerti. Ja seharusnya memiliki skill yang dapat menetralisir rasa sakit, tapi kenapa itu tidak bekerja?
Kecepatan berpikirnya berkurang dengan sangat drastis sebagai akibat dari sensasi yang sudah lama tidak ia rasakan.
Pikirannya kosong, dan perasaan mengerikan di sekujur tubuhnya itu membuatnya hanya bisa melebarkan matanya dengan terkejut.
Tak ada satu pun kata yang keluar dari bibirnya, selain rasa sakit, satu-satunya hal yang ia rasakan saat ini adalah 'kebingungan'.
Namun, tak butuh waktu lama sampai Noelle akhirnya menyadari situasinya.
Tubuhnya hampir secara reflektif melompat dan memperbaiki posisinya di udara, sebelum akhirnya mendarat jauh ke belakang dengan sihir gravitasi.
Napasnya menjadi berat, dan darah dengan cara yang mengerikan mulai memenuhi bagian dalam topeng yang menutupi wajahnya.
Noelle mencoba mengendurkan topeng itu sedikit untuk mengeluarkan semua darah yang terjebak di dalamnya, lalu bernapas panjang beberapa kali untuk menenangkan dirinya.
Ia sudah cukup pulih dari keterkejutan yang ia alami barusan. Meskipun begitu, ia masih bingung tentang mengapa resistensi rasa sakit tiba-tiba tidak dapat bekerja.
Rasa sakit yang baru saja ia alami barusan sudah bukan hal yang baru bagi Noelle. Dia sendiri juga sering melukai dirinya sendiri hanya untuk mendapatkan skill itu. Jadi, ia hanya merasa terkejut saja ketika merasakan sensasi yang sudah lama tidak ia rasakan.
Untuk sekarang, Noelle mencoba mengatur napasnya, dan membiarkan semua lukanya beregenerasi dengan sendirinya. Namun, itu tak pernah terjadi tak peduli seberapa ia menunggu.
Barulah ia menyadari, kalau regenerasi otomatis miliknya juga ikut terhenti.
Hanya perlu memakan waktu beberapa detik hingga Noelle menyadari semua hal yang terjadi padanya.
Melihat sosok Noelle yang menyembuhkan dirinya sendiri menggunakan sihir, Lucius mengangkat satu sudut bibirnya, dan berbicara pada Noelle, "Kelihatannya kau mulai mengerti semua yang terjadi, ya? "
Noelle tak menjawabnya, dan terus menerus mengarahkan niat membunuh pada Lucius. Namun, Lucius tampak tak terganggu dengan itu.
"Kau terkejut? Aku baru saja menonaktifkan semua skill pasif yang kau miliki, tahu? Apa itu enak? "
(Tentu saja tidak, sialan.)
Noelle hendak menjawab secara spontan, tapi dihentikan oleh pemikiran yang tiba-tiba muncul di kepalanya.
(Semua? )
Menenangkan pikirannya, Noelle kemudian mencoba menganalisis semua yang terjadi berdasarkan apa yang dikatakan Lucius.
Lucius bilang kalau dia baru saja menonaktifkan semua skill pasif miliknya. Dia menyebut 'semua'. Namun, Noelle dengan jelas dapat merasakan beberapa skill pasif miliknya masih bekerja dengan cukup baik.
Itu artinya, Lucius berbohong tentang dia menonaktifkan semua skill pasif milik Noelle. Tapi, apa gunanya? Apa ada manfaat yang dia dapat dengan mengatakan itu? Tentu tidak.
Hanya satu jawaban yang bisa Noelle pikirkan. Yaitu, Lucius memang tidak berbohong, tapi dia menganggap kalau dia sudah menyegel 'semua' skill pasif milik Noelle.
Noelle diam-diam tersenyum saat memikirkannya.
...****************...