[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 137: Neutral Enemies (8)



...****************...


Sementara Noelle sedang bertarung melawan makhluk aneh itu bersama Lucius dan Tania, Harold yang sedang menyamar sebagai sosok 'Souris' kini juga terjebak dalam pertarungan yang tak ia inginkan.


Harold melompat menjauh begitu puluhan duri tajam yang datang entah dari mana mulai menyerangnya tanpa henti. Meskipun begitu, duri itu terus mengejarnya seolah mereka telah dirancang untuk terus mengejar target.


Begitu beberapa duri itu hampir mencapai tubuhnya, Harold langsung mengayunkan pedang kembarnya dengan niat untuk menjatuhkan semua duri itu.


Namun, ada beberapa kesalahan dalam gerakannya, sehingga membuatnya tak dapat menjatuhkan semua serangan itu.


Saat ini, Harold sedang dalam keadaan menyamar menggunakan penampilan Noelle. Baik tubuh, maupun karakteristik penampilannya sangat identik dengan Noelle.


Secara alami, itu membuat Harold sering melakukan kesalahan gerakan karena ia belum terbiasa dengan tubuh Noelle.


Tubuh Noelle cukup berotot, tapi dia kurus dan ringan sehingga pusat keseimbangannya tidak begitu jelas. Selain itu, penampilan utama Harold adalah seorang pria dewasa dengan tubuh yang cukup besar, jelas ia tidak akan terbiasa dengan tubuh ramping Noelle.


Beberapa kali ia hampir terpeleset karena kesalahan dalam memposisikan kakinya untuk membuat pose kuda-kuda, tapi entah bagaimana Harold mampu mengatasi itu semua dengan cukup mudah.


Usai menghindari semua serangan itu, Harold dengan cepat menekan pusat gravitasinya sehingga pendaratan dapat dilakukan dengan cepat.


Musuh yang sedang ia hadapi saat ini adalah jenis monster yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


Secara penampilan, itu mirip dengan seekor kepiting raksasa dengan tubuh hitam yang berdebu. Tapi, sepuluh jari manusia berukuran besar yang tumbuh dari bagian pangkal segmen kakinya itu membuatnya terlihat seperti seekor mutan laba-laba.


Alih-alih menggunakan kakinya sendiri, kepiting itu justru memanfaatkan sepuluh jari manusia itu untuk bergerak dengan sangat bebas. Itu benar-benar membuat penampilannya menjadi sangat mengerikan, sekaligus menjijikkan.


Tapi, yang membuatnya lebih buruk bukanlah penampilannya. Melainkan kurangnya kelemahan sehingga Harold bahkan tak dapat membunuhnya dengan cepat.


Gerakannya sangatlah cepat, dan cangkangnya sangatlah keras sehingga pedang di tangan Harold sama sekali tak memiliki kemampuan untuk menembusnya.


Harold dengan cepat bergerak, lalu mengayunkan pedangnya pada jari-jari yang menggeliar itu.


Pedangnya dapat dengan mudah menembus dan memotong jari itu, tapi tampaknya itu sia-sia. Setiap kali Harold berhasil mendaratkan luka pada bagian tubuhnya, kepiting itu hanya bergetar sejenak dan kemudian meregenerasi semua lukanya.


"Benar-benar merepotkan."


Perintah yang Noelle berikan padanya adalah 'menyamar sebagai Souris, dan bertarung di luar'. Dia hanya memang memiliki tugas untuk bertarung, tapi tidak untuk menghabisi monster.


Jadi, Harold seharusnya bisa meninggalkan monster ini dan pergi bertarung melawan monster yang lebih mudah untuk dibunuh. Namun, entah mengapa Harold sama sekali tidak bisa pergi.


Atau lebih tepatnya, ia tidak memiliki kesempatan untuk melakukannya.


Karena, satu monster yang ia lawan saat ini sangatlah merepotkan dan akan terus mengejarnya tidak peduli kemana ia pergi.


Harold lagi-lagi mengayunkan pedangnya dan menebas tepat pada jari-jari itu. Namun, hasilnya tetap sia-sia. Monster itu terus beregenerasi dan kembali menyerang Harold menggunakan puluhan duri tajam yang ditembak keluar dari mulutnya.


Untuk menghindari itu, Harold menciptakan beberapa tubuh kloning, dan menjadikan mereka sebagai pijakan untuk menghindari puluhan duri yang menghujaninya tersebut.


Dan tak berhenti di sana, Harold juga mengubah tubuhnya menjadi kabut untuk langsung berpindah tempat ke sisi monster itu.


Berkat evolusinya menjadi vampir, Harold jadi membangkitkan beberapa kemampuan karakteristik vampir. Salah satunya adalah transformasi.


Namun, kemampuan transformasi yang Harold bangkitkan tidak begitu sempurna sehingga ia hanya bisa berubah untuk waktu beberapa detik saja.


Walaupun begitu, beberapa detik saja sudah cukup untuk menjadi bantuan besar dalam pertarungan seperti ini.


Harold kembali memotong semua jari yang tumbuh dari tubuh dari kepiting itu, lalu langsung menancapkan beberapa pedang yang terbuat dari darahnya sendiri tepat di bekas tebasan yang Harold tinggalkan.


Dengan melakukan itu, Harold berharap kalau itu akan menghentikan regenerasi nya setidaknya untuk sesaat.


(Kurasa ini ini berhasil. Lalu … )


Harold kemudian mengaktifkan skill yng baru-baru ini ia pelajari.


"《Thorn Blood》"


Belasan, dan puluhan duri yang terbuat dari darah mulai bermunculan dari sisa tebasan yang gagal beregenerasi itu. Penyebabnya, tentu saja Harold yang telah memasukkan darahnya ke tubuh kepiting itu melalui sisa tebasan yang kini telah ditancapkan dengan pedangnya.


Kemampuan Harold dalam memanipulasi darah memang tidak begitu bagus, tapi setidaknya ia bisa memadatkan darahnya dalam jarak tertentu. Dengan memanfaatkan kemampuan itu, ia telah menyerang kepiting itu dengan cara yang sangat efektif.


Jika tidak bisa diserang dari luar, maka habisi saja dia dari dalam. Itu adalah cara termudah untuk menyelesaikan masalahnya dengan kepiting sialan itu.


"Dengan ini dia seharusnya sudah tidak bisa bergerak, tapi … "


Harold tidak tahu apakah kepiting memiliki jantung atau tidak, tapi makhluk apa pun pasti akan mati jika semua organ dalamnya dihancurkan.


Namun, jika kepiting itu masih bisa hidup dan bergerak dengan bebas bahkan setelah Harold menghancurkan semua organ dalamnya, Harold sudah tak dapat melakukan apa pun lagi karena ia sama sekali tidak memiliki ide tentang cara kerja makhluk aneh itu.


Untuk berjaga-jaga, Harold berusaha mempertahankan bentuk padat dari semua darahnya yang ada di dalam tubuh kepiting itu.


Waktu berlalu dengan pedangnya yang terus menancap di tubuh kepiting yang gagal beregenerasi itu. Dan akhirnya, kepiting itu mulai lemas dan jatuh tak berdaya, sementara cangkang hitam berdebu miliknya itu perlahan berubah menjadi abu dan menghilang begitu saja, menyisakan daging kepiting berwarna hitam pekat yang terlihat menjijikkan, sementara organ dalam yang telah hancur dapat terlihat dari celah besar di beberapa bagian perutnya.


Harold mencabut pedangnya dan melompat jauh ke belakang tanpa menurunkan kewaspadaannya sedikit pun. Setelah itu, ia langsung memindai lokasi di sekitarnya dan menyadari suatu keanehan.


Tempat ia berada, terlalu sunyi.


Sama sekali tidak ada suara, atau bahkan hawa kehadiran yang dapat ia deteksi dalam radius 200 meter.


Harold seketika memperhatikan sekelilingnya dengan tingkas kewaspadaan yng telah meningkat.


Meskipun begitu, tidak ada satu pun hal aneh yang terjadi. Kecuali, kemunculan beberapa kelopak bunga berwarna merah muda yang berterbangan di beberapa tempat, hingga akhirnya menghilang tanpa jejak.


"Apa-apaan itu tadi? "


Awalnya Harold ingin memeriksa itu sendiri, tapi tampaknya ia tidak diberikan kesempatan untuk melakukannya.


Sejumlah darah mengalir keluar dengan sangat deras dari beberapa luka yang tiba-tiba muncul di tubuh Harold.


Luka itu terlihat seperti luka tebasan. Meskipun begitu, sama sekali tak ada tanda dari pelaku penyerangan tersebut. Satu-satunya jejak yang ditinggalkannya adalah tubuh Harold yang tergeletak di tanah dengan bersimbah darah bersama kelopak bunga yang berjatuhan.


...****************...


Noelle mengayunkan pedangnya dan melakukan gerakan menebas secara horizontal pada monster anjing yang datang menerkam padanya. Bilah hitam pedangnya dengan mudah menembus dan memotong anjing itu. Meskipun begitu, hanya dengan satu pedang dan satu tebasan itu tidak mungkin bisa mengalahkan puluhan musuh yang muncul di hadapannya secara bersamaan.


Noelle mengendalikan beberapa pedang lain, dan menggunakan itu untuk memberikan berbagai pola serangan dengn memadukan tebasan dan tusukan pada semua monster yang mendatanginya tanpa henti.


Sudah sekitar sepuluh menit sejak gelombang kedua dari serangan monster ini dimulai. Dan selama itu, Noelle telah banyak membunuh dan menjatuhkan monster sehingga ia bahkan sudah tidak bisa menghitung jumlahnya lagi.


Di tanah, ratusan mayat anjing dengan kulit hitam yang berlumpur tampak berserakan dengan genangan darah yang terbentuk sebagai hasil dari pertarungan.


Itu adalah pemandangan yang akan membuat siapa pun merasa mual ketika melihatnya. Meskipun begitu, Noelle tanpa ragu terus mengayunkan senjatanya dan lanjut membunuh monster yang datang tanpa henti.


Di sisinya, Tania ikut bertarung dengan mengayunkan sabit besarnya dalam berbagai gerakan.


Karena senjatanya sedikit unik, gaya bertarung Tania agak sedikit sulit untuk Noelle baca. Yang Noelle lihat, Tania hanya mengayunkan dan melemparkan sabitnya untuk membunuh semua musuh.


Walaupun begitu, gerakannya sangatlah halus dan terlatih sehingga siapa pun yang melihatnya akan berpikir kalau ia telah memiliki banyak pengalaman dalam pertempuran.


Di sisi lain, Noelle dapat melihat Lucius yang dengan santai mengayunkan sebuah pedang besar dengan satu tangan, sementara tangan yang lain di arahkan tepat ke arah kerumunan monster yang mendekat.


"《Light Whip》"


Sebuah rapalan sihir berbasis elemen cahaya yang sederhana mengalir keluar dari mulutnya. Seketika, tangannya bersinar, memancarkan cahaya yang membentuk sebuah cambuk yang pada akhirnya mengikat semua monster di sekitarnya.


Para monster yang telah diikat dalam cambuk itu seketika menemui akhir mereka. Tubuh mereka dengan cepat mengeras menjadi batu, sebelum akhirnya lenyap seperti debu.


Tak berhenti di sana, Lucius juga maju menerjang kerumunan monster tanpa ada sedikit pun keraguan pada gerakannya.


Lucius kembali mengayunkan pedang besarnya, menebas semua musuh yang berada pada jarak tiga meter darinya, lalu mengayunkan sebuah cambuk cahaya dari tangannya yang lain untuk menyerang semua monster yang berjarak cukup jauh darinya.


(Tampaknya Lucius memiliki kemampuan yang sangat tinggi untuk pertarungan jarak dekat, sementara semua serangan jarak menengah dan jarak jauh hanya dia jadikan sebagai 'support attack' belaka … Oke, akan aku catat itu.)


Bahkan dalam situasi ini, Noelle terus menganalisis gaya bertarung Lucius untuk menciptakan berbagai rencana penanggulangan jika suatu saat ia harus bertarung melawan Lucius.


(Dari pada itu … Tania, di mana Ructus dan yang lain? )


Noelle mencoba untuk berbicara dengan Tania melalui telepati karena keberadaan Lucius yang masih di dekat mereka. Tak butuh waktu lama hingga akhirnya Tania menjawab.


{Aku tidak tahu. Kehadiran mereka … Menghilang … Ini seperti ada sesuatu yang menghalangi deteksi kita.}


(Jadi kau juga merasakannya, ya … )


Keanehan ini memang sudah mengganggu Noelle sejak beberapa waktu yang lalu.


Sekarang, baik Noelle maupun Tania tak dapat merasakan kehadiran orang lain di sekitar mereka. Tentu saja, Lucius dan Olivia yang kini menyamar sebagai seekor kelelawar adalah pengecualian.


Karena keberadaan monster yang terus menerus muncul tanpa henti itu telah membuat Noelle menjadi sedikit lengah dengan deteksinya.


Mengingat kemampuan Lucius, seharusnya dia sudah sadar dengan keanehan ini, tapi … Lucius sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan kepanikan sehingga Noelle sulit untuk membaca apa yang ia pikirkan.


Gelombang monster masih terus bermunculan dari celah. Hanya saja, jumlahnya sudah sedikit berkurang jika dibandingkan dengan banyaknya monster yang muncul sebelumnya.


Noelle mengeluarkan beberapa pedang baru dan langsung mengendalikan itu untuk menghabisi semua musuh di sekitarnya, sementara dia sendiri maju menerobos kerumunan sambil mengayunkan kedua pedangnya.


Noelle terus berlari dan melompati puing-puing batu yang berserakan di semua tempat, sampai akhirnya ia berhenti tepat di sebuah atap bangunan besar yang tampaknya terbengkalai.


Sama sekali tidak ada jejak kehadiran monster dari gedung yang ia tempati, jadi seharusnya ia bisa aman di sini.


Sejenak, kedua pedang di tangan Noelle bersinar, dan akhirnya menyatu menjadi satu pedang. Sedangkan di tangannya yang lain munculah sebuah senjata yang cukup jaran Noelle gunakan.


Itu adalah Zwei Aligma. Dalam situasi ini, kemampuan menembak dengan kekuatan destruktif yang besar seperti milik Aligma sangat dibutuhkan untuk menghabisi semua musuhnya.


Noelle mengarahkan moncong Aligma tepat pada kerumunan monster yang mendekati Lucius, dan langsung menarik pelatuknya.


Gelombang energi sihir mulai mengalir keluar dari moncong senjatanya, mengarah tepat pada kerumunan monster yang sudah ditargetkan.


Lucius dan Tania menyadari serangan yang baru saja Noelle lakukan, dan akhirnya langsung melompat untuk menjauhi tempat itu.


Detik kemudian, dentuman besar yang disebabkan oleh tabrakan dari gelombang sihir itu dengan cepat menciptakan banyak kerusakan pada tanah. Cahaya yang menyilaukan memenuhi tempat itu untuk sejenak, tapi itu bukan alasan untuk berhenti.


Lucius memanfaatkan kesempatan yang Noelle berikan, dan langsung melempar sebuah tombak yang terbuat dari cahaya itu pada kerumunan monster lain yang berhasil selamat, sedangkan Tania sendiri langsung ikut melempar sabitnya dengan arah yang telah ditentukan Navi untuknya.


Serangan yang Lucius lakukan barusan terbukti memiliki pengaruh yang besar. Tombak cahaya itu mendarat tepat di tanah, dan menciptakan sebuah kubah cahaya berukuran besar yang langsung menelan semua materi di sekitarnya tanpa sisa sedikit pun. Sedangkan sabit Tania terus berputar di udara, bergerak dalam rute yang telah ditentukan, dan membunuh semua monster yang tersisa dalam sekejap mata.


Tapi, sabit yang Tania lemparkan itu sama sekali tidak berhenti bahkan setelah menghabisi semua musuh.


Sabit itu terus berputar dan langsung merubah arahnya pada sebuah celah yang terbentuk di ruang kosong itu. Sabitnya dengan mudah menembus dan memotong celah itu, lalu menyerap semua energi sihir yang terkandung di dalamnya sehingga celah itu tidak memiliki energi lagi untuk memuntahkan monster dalam jumlah besar.


(Jadi begitu, ya … Celah itu memiliki struktur yang sama dengan makhluk besar aneh itu yang sekarang sudah pergi entah ke mana … )


Noelle yang melihatnya seketika berpikir kalau Tania mungkin sengaja melakukannya untuk menghapus celah, dan menghentikan gelombang monster yang terus berdatangan.


{Noelle.}


Saat Noelle dengan serius menyiapkan serangan lainnya menggunakan Aligma, suara Olivia yang datang dari telepati muncul di kepalanya. Tak lama kemudian, seekor kelelawar kecil pun muncul dan mendarat tepat di atas kepala Noelle.


"Livia? Ada apa? "


Kelelawar itu adalah Olivia yang menggunakan transformasi untuk menyamar dan bersembunyi dari semua monster yang datang.


{Tempat ini aneh. Aku sudah terbang mengelilingi tempat ini untuk mencari jalan keluar, tapi … Aku selalu sampai di tempat yang sama dari aku berangkat sebelumnya. Ini seperti labirin yang membuat kita terus berputar.}


"Itu artinya … Ada sesuatu yang menghalangi, ya … Kurasa ini ulah pihak ketiga."


{Kurasa.}


Memang tidak ada kesimpulan lain selain itu.


Noelle kembali menarik pelatuk Aligma dan menembak kepala monster anjing itu satu per satu. Sementara itu, Olivia yang masih diam di atas kepalanya dalam wujud kelelawar sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan pergi.


"Ngomong-ngomong … Kenapa kamu masih di atas kepalaku? "


{Noelle ingin aku pergi? }


Kelelawar itu memiringkan kepalanya dengan gerakan yang imut, tampak benar-benar memerankan karakter Olivia dengan sangat baik.


" … Kurasa tidak. Aku ingin kamu tetap di sini dan membantuku mencari monster sementara aku menghabisi mereka."


{Baiklah.}


Noelle tersenyum kecut dan lanjut memasukkan energi sihir dalam jumlah besar untuk ditembakkan pada monster yang mulai berkumpul kembali itu.


Meskipun celah tempat keluar monster itu telah dihapus oleh Tania, jumlah mereka tetap saja banyak. Jadi baik Noelle maupun Lucius dan Tania tak bisa melakukan apa pun selain terus menghabisi mereka semua.


Tak lama kemudian, semua monster akhirnya berhasil mereka bunuh.


Ribuan mayat anjing yang menjijikkan itu bertumpuk dan berserakan di jalanan, sementara darah yang mereka hasilkan telah menciptakan banjir merah yang berbau sangat busuk.


"Aku benci pemandangan ini," ucap Noelle sambil memperhatikan sekelilingnya.


Di sampingnya, Tania menganggukkan kepalanya, menyetujui apa yang Noelle katakan. Meskipun, ekspresi yang Tania tunjukkan itu seolah mengatakan kalau ia sudah terbiasa dengan pemandangan ini.


Di sisi lain, Lucius kembali menancapkan ujung pedangnya ke tanah yang telah dibanjiri oleh darah kotor para monster.


"《Holy Field》"


Begitu mantra itu dirapalkan, pedang yang Lucius tancapkan ke tanah tersebut seketika bersinar, menciptakan banyak garis cahaya yang dengan cepat memanjang ke udara dan membentuk sebuah kubah raksasa yang memisahkan mereka dari dunia luar.


Melihat hal itu, wajah Noelle perlahan berubah menjadi semakin pucat, dan keringat dingin mulai mengalir tak terkendali dari dahi dan punggungnya.


Seperti yang ia pikirkan, kekuatannya berkurang secara drastis. Energi sihir yang Noelle miliki seketika terkuras, dan tubuhnya perlahan melemas sementara pandangannya mulai goyah.


Dalam situasi seperti itu, Noelle mencoba berbicara dengan Olivia yang masih ada di atas kepalanya dalam wujud kelelawar.


(Livia … Apa kau baik-baik saja? )


Respon Olivia juga tidak begitu baik. Suaranya terdengar seperti seseorang yang sedang kekurangan tenaga.


{Aku baik-baik saja, tapi … Cahaya ini menguras kekuatanku … )


Tepat seperti yang Noelle pikirkan. Alasan dibalik kekuatan mereka yang tiba-tiba terkuras adalah kubah cahaya yang Lucius ciptakan.


Jika tebakan Noelle benar, maka sihir《Holy Field》yang baru saja Lucius rapalkan itu adalah sihir berbasis elemen suci, elemen yang sangat mematikan bagi semua ras yang ada pada pohon ras undead dan monster, termasuk vampir.


Untungnya, Noelle dan Olivia adalah vampir kelas raja yang tak akan kalah hanya dengan serangan elemen suci. Jadi mereka masih bisa menahan《Holy Field》milik Lucius walaupun sedikit.


Awalnya Noelle berpikir kalau identirasnya sebagai vampir telah diketahui oleh Lucius, tapi begitu melihat tumpukan mayat monster yang perlahan direduksi menjadi abu itu seketika membuatnya berubah pikiran.


Lucius menggunakan《Holy Field》untuk membereskan sisa pertarungan, dan tidak memiliki maksud untuk menyakiti Noelle.


Tak butuh waktu lama hingga semua monster yang ada dalam《Holy Field》itu lenyap sepenuhnya. Dan selama waktu itu, Noelle secara diam-diam memberikan darahnya pada Olivia agar mereka bisa terus beregenerasi selama proses 'pembersihan' berlangsung.


"Dengan ini seharusnya sudah tidak ada masalah lagi. Tapi … Bagaimana kita bisa keluar dari sini? "


Lucius tampaknya sudah menyadari situasinya sejak awal, ia telah merasakan suatu pembatas yang telah mengurung mereka untuk beberapa waktu.


Di saat semua sudah tenang, puluhan kelopak bunga merah muda mulai bermunculan di sekitar mereka, menyebabkan perubahan suasana yang sangat drastis.


"Apa-apaan kelopak bunga ini? "


Noelle dengan bingung menangkap satu kelopak bunga itu dan menatapnya. Sama sekali tidak ada yang aneh. Itu adalah kelopak bunga biasa seperti yang sering ia lihat di jalanan atau taman.


Yang membuatnya aneh adalah kemunculannya yang terlalu tiba-tiba.


Lucius dan Tania juga tidak mengerti dengan kemunculan kelopak itu. Namun, jelas kalau mereka menjadi jauh lebih waspada dari sebelumnya.


Noelle juga memiliki firasat yang tidak enak tentang ini, jadi dia juga ikut menyiapkan senjatanya, mengantisipasi semua ganggunan yang mungkin akan datang.


Tak lama kemudian, sesuatu yang sudah mereka prediksi akhirnya muncul.


Itu seperti suara siulan yang halus dan cepat, tapi juga sangat mematikan.


Bekas tebasan muncul di permukaan pipi Noelle, membuat darah mengalir keluar dari sana. Noelle mencoba meregenerasi itu dan memperkuat deteksinya untuk menemukan sosok penyerang. Namun, ia sama sekali tidak menemukannya.


Satu-satunya yang menjadi petunjuknya sekarang adalah suara siulan yang akan muncul setiap kali serangan dilakukan, serta kelopak bunga merah muda yang berterbangan di sekitar target penyerangan itu.


"Persiapkan diri kalian, aku tidak bisa melindungi kalian semua di sini," ucap Lucius sambil memposisikan pedangnya sendiri.


Pedang besar yang ada di tangan Lucius itu kemudian bersinar, dan sebagian gagangnya mulai terpisah, menghasilkan sebuah pedang lain yang berukuran jauh lebih kecil dan tipis dari pedang besar itu.


Lucius memegang pedang kecil itu di tangan kirinya, sementara pedang besar ada di tangan kanannya.


"Aku juga tahu itu," jawab Noelle sambil mengeluarkan beberapa pedang baru untuk berjaga-jaga.


(Livia, bersembunyilah di pakaianku.)


{Baik.}


Olivia dengan cepat menjawabnya dan langsung memasuki pakaian Noelle malalui kerah mantelnya.


Suara siulan kembali muncul, disertai dengan kelopak bunga yang bertebaran. Kali ini, targetnya adalah Noelle.


Noelle seketika memposisikan satu pedangnya tepat di depan lehernya dengan niat menahan serangan itu. Dan seperti yang ia duga, suara dentingan dan percikan dari logam yang saling bertabrakan tiba-tiba muncul bersama dengan kelopak bunga yang bertebaran.


Musuhnya adalah seseorang. Setidaknya, itu adalah berita baik untuk Noelle. Satu-satunya berita buruknya adalah kehadirannya yang begitu tipis hingga Noelle hampir tak bisa merasakannya.


...****************...