[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 86: Konflik (3)



...****************...


Usai diizinkan pergi oleh Kaira dan yang lain, Lilith segera meninggalkan ruangan dan pergi ke ruang tamu tempat Noelle seharusnya berada.


Dan benar saja, saat ia memasuki ruang tamu, ada sosok Noelle yang dalam diam sedang membersihkan pedangnya dengan menggunakan kain.


Lilith tak bergerak terus menatap sosok Noelle itu dari samping.


Tak lama kemudian, Noelle menghela napasnya dan menatap ke arah Lilith.


"Apa ada yang ingin kau bicarakan? Jika ada, lakukan dengan cepat. Kau sudah terlalu lama berdiri di sana."


Bahu Lilith tersentak. Tanpa ia sadari, ia sudah diam berdiri sambil menatap penampilan Noelle untuk beberapa waktu sekarang.


"Itu … Ada yang ingin kubicarakan denganmu … "


Lilith dengan takut memulai percakapan.


"Apa yang ingin kau bicarakan? Apa kita bisa membicarakannya di sini saja? " tanya Noelle sambil mengerutkan keningnya.


"Umm … Itu … Apa kamu sibuk sekarang? Jika iya, aku akan menunggu sampai lain waktu … "


"Tidak, tidak juga. Aku hanya perlu memberikan perawatan pada Cryll karena kondisinya cukup buruk. Jika kau ingin membicarakan sesuatu denganku, itu hanya akan memakan waktu beberapa menit."


Sama seperti Dyland, sejak tadi Cryll sama sekali belum bangun dari kondisi pingsan.


Saat ini Stella sedang sibuk merawatnya di salah satu kamar tamu.


"Ka-kalau begitu … Aku akan meeminta waktumu sebentar untuk berbicara–"


Tatapan terkejut Lilith terpaku pada bayangan di kaki Noelle. Itu karena, ada sosok Chloe yang menjulurkan kepalanya dari sana.


"Chloe? Ada apa? "


Noelle yang sudah pasti merasakan kehadiran Chloe bertanya padanya, namun Chloe tidak mengatakan apa pun lagi dan langsung tenggelam ke dalam bayangan Noelle.


" … Apa yang terjadi padanya? "


Sementara ia memiringkan kepalanya dengan bingung, Lilith yang sejak tadi menatapnya dengan gelisah mencoba berbicara.


"Umm … Pembicaraan ini akan bersifat sedikit pribadi, jadi … Bisakah kita pindah ruangan? "


" …? Baiklah."


Noelle dengan mudah menjawab meskipun ia sendiri masih bingung. Lilith kemudian dibawa Noelle untuk memasuki ruangan yang bersebelahan langsung dengan ruangan pertemuan tempat ia dan yang lain berdiskusi tadi.


"Aku akan memasang sihir penghalang di sini, jadi jangan khawatir kalau yang lain akan mendengarmu."


Noelle menutup pintu, lalu mencipatakn sebuah penghalang dengan sihirnya.


"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan? " tanya Noelle dengan ringan.


"Itu … Untuk pertama-tama … Aku ingin minta maaf karena telah merepotkanmu, sekaligus … Aku ingin berterimakasih karena telah membantu kami."


Lilith dengan tulus mengatakan itu semua sambil membungkukkan tubuhnya pada Noelle.


Noelle terlihat bingung saat melihatnya, namun ia mengembalikan ketenangannya dan bertanya pada Lilith.


"Aku tidak keberatan dengan itu. Jadi? Apa yang ingin kau bicarakan tadi? "


" " ……… " "


Keheningan yang canggung memenuhi ruangan. Sementara Noelle masih menunggunya untuk berbicara, Lilith terus melihat ke sekelilingnya dengan gelisah dan wajah yang mengandung emosi campur aduk.


( … Aku benar-benar tidak menyukai suasana ini … )


Noelle mengerutkan keningnya dengan tidak nyaman. Ia kemudian menghela napas, lalu berbicara pada Lilith dengan nada menyindir.


"Jika kau tidak memiliki sesuatu yang penting untuk dibicarakan, maka aku akan pergi."


"Tu-tunggu, aku ingin bertanya tentang keadaan kalian … "


"Kami baik-baik saja. Terlalu baik sehingga kekhawatiran yang kau miliki itu sia-sia."


Saat Lilith dengan panik mencoba menghentikannya untuk keluar dari ruangan, Noelle hanya dengan acuh menjawabnya seolah itu bukan urusannya.


Bagaimanapun, bahkan setelah bereinkarnasi ke dunia ini, sifat dan kepribadian Lilith, atau Inaka Kagarin masihlah belum berubah.


Ia masih menjadi sosok guru yang selalu mempedulikan muridnya.


… Setidaknya itulah yang dipikirkan semua orang tentangnya.


Namun, Noelle benar-benar tidak mau berurusan dengan Lilith karena hal lain.


"Hey, aku bisa memanggilmu … Noelle, 'kan? " tanya Lilith dengan sedikit takut.


"Aku tidak keberatan. Silahkan panggil aku sesukamu. Asalkan kau tidak memanggilku dengan nama Izaya ataupun Canaria lagi."


Noelle dengan ringan mengangkat bahunya.


Ia sendiri tidak tahu alasannya, tapi dia benar-benar tidak suka ketika ada yang memanggilnya dengan nama Izaya atau bahkan Canaria.


Itu adalah hal yang terlalu membingungkan untuknya. Karena itu, ia hanya bisa menerima perasaan aneh itu secara alami.


Setelah hening sejenak, Lilith mengangguk dan menatap Noelle dengan kuat. Barangkali sudah menetapkan pilihannya.


"Kalau begitu, Noelle … Yang ingin kutanyakan adalah … Tentang hal yang biasa kau lakukan di bumi itu … Apa kau … Masih melakukannya … Bahkan di sini …? "


Meskipun tatapannya terlihat kuat dan tampak tak akan goyah karena hal lain, Lilith secara alami tidak dapat menahan diri dari rasa takut yang menyelimuti dirinya begitu ia mulai menyinggung tentang 'kebiasaan' itu.


Noelle diam dan lalu menyipitkan matanya.


" … Itu tidak ada hubungannya denganmu, 'kan? "


"Te-tentu saja ada, 'kan?! Meskipun sekarang sudah tidak lagi, aku tetaplah mantan gurumu! Semua masalahmu adalah masalahku! "


Lilith dengan wajah merah padam membentak ke arah Noelle yang masih menatapnya dengan wajah datar tanpa emosi.


Ia menghela napas, kemudian menatap Lilith dengan tatapan tajam.


"Itu tidak lagi. Apa yang kulakukan hanya akan menjadi tanggung jawabku. Itu tidak ada hubungannya denganmu."


(Menjengkelkan.)


Noelle sekali lagi merasakan emosi yang sudah cukup lama tak ia rasakan.


Kehidupan yang damai bersama Olivia dan yang lain pastilah sudah membuatnya menjadi sedikit tumpul dan melupakan itu.


Mungkin karena kepribadiannya sebagai guru, Lilith benar-benar keras kepala ketika menyangkut muridnya.


Dan mungkin karena sifatnya itulah yang membuat Noelle tidak nyaman dengannya.


Ia selalu merasa gelisah ketika ada di sekitar orang yang benar-benar memiliki kekhawatiran yang sangat besar terhadapnya.


Tentunya dengan pengecualian keluarganya sendiri. Ia hanya tak terbiasa dengan perasaan yang disampaikan orang asing padanya.


"Menilai dari kata-katamu barusan … Kau masih melakukannya sampai sekarang, ya … "


Usai mendengar jawaban singkat Noelle, Lilith mau tak mau langsung mengarahkan pandangannya ke lantai dengan sedih dan takut.


" ……… "


Noelle tidak menjawab, dan terus menatap Lilith dengan mata kosong.


Mata kelabunya yang sejak awal memang tampak hampir tak bercahaya menjadi semakin gelap seolah terhalang oleh sesuatu.


Lilith kemudian lanjut berbicara seolah ia mengabaikan tatapan Noelle.


"Hey … Bisa beritahu aku? Kenapa kau melakukan itu? Kenapa kau tidak berhenti? Ini … Bukanlah bumi, kau tahu? "


Pertanyaan yang dilontarkan Lilith pada Noelle membuat dahinya semakin berkerut dan membuatnya menunjukkan wajah jijik.


"Aku bilang itu bukan urusanmu, 'kan? Aku tidak punya alasan untuk berhenti. Dan apa-apaan kalimat terakhirmu itu? Apa kau benar-benar berpikir kalau situasi di sini jauh lebih baik daripada bumi? "


"Itu … "


Sebelum Lilith sempat berbicara, Noelle segera berbalik dan berniat keluar dari ruangan.


"Yang jelas, jangan libatkan dirimu denganku lagi. Setelah misi ini selesai, kita tidak akan memiliki hubungan apa pun selain 'orang yang pernah berkerja sama'."


Noelle meraih gagang pintu dan berniat membukanya, namun perkataan Lilith selanjutnya benar-benar tak tertahankan untuknya.


"Aku yakin–! "


Lilith terlihat ragu sejenak sebelum melanjutkan perkataannya, namun ia langsung menggelengkan kepalanya dan langsung melanjutkannya selagi Noelle masih menatapnya dengan gagang pintu di genggamannya.


"Aku yakin, kalau pria bernama Wakana Hakui itu juga tidak menginginkannya, 'kan?! Aku yakin dia tidak mau kau mengikuti tindakannya! Jika kau benar-benar menghormatinya, maka–! "


Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, ia merasa tubuhnya menabrak dinding dengan sangat keras sehingga mengeluarkan suara yang menyakitkan.


Lilith yang menunjukkan wajah penuh kesakitan itu terlihat bingung sejenak, namun ia langsung menyadari sosok Noelle yang ada di hadapannya.


Tangan kanan Noelle dengan erat mencekik leher Lilith dan mendorongnya ke dinding sementara tubuh Lilith terlihat melayang beberapa sentimeter di atas lantai.


"Ughh– a-apa yang kau lakukan? "


Lilith dengan susah payah mencoba melepaskan cengkraman Noelle. Namun, cengkraman itu justru semakin kuat seiring dengan perlawanan yang ia lakukan.


Lilith tidak mengerti. Yang ia tahu, Noelle tiba-tiba mencekiknya dan mendorongnya ke dinding tepat sebelum ia selesai berbicara.


Ia melihat ke arah Noelle yang kedua matanya tersembunyi di balik poni putihnya yang panjang, dan barulah ia mengerti tentang apa yang baru ia lakukan.


-–Wakana Hakui, itu adalah nama seseorang yang Noelle hormati sejak di kehidupan sebelumnya.


"Hei … Dari mana kau mengetahui namanya? "


Suara datar Noelle bergema di ruangan itu sementara ia perlahan melemahkan tangannya yang mencekik leher Lilith.


Lilith terlihat kebingungan, namun ia menjawab dengan susah payah karena keterbatasan oksigen yang memasuki tubuhnya.


" … Pertemuan orangtua dan guru … Nyonya Airi Chiaki … "


(Bibi …?)


Noelle menyipitkan matanya saat mendengar nama itu.


Airi Chiaki adalah nama ibu kandung dari Airi Ayano, atau Olivia di kehidupan sebelumnya.


Jika itu memang Chiaki, maka tidak heran jika Lilith bisa mengetahuinya.


Chiaki cukup mengetahui kedekatan yang dimiliki oleh Noelle dengan pria bernama Wakana Hakui itu.


Noelle perlahan menggelengkan kepalanya.


"Lupakan, aku tidak peduli dari siapa kau mengetahuinya, tapi … Aku tidak ingin kau melibatkan Pak tua Hakui dalam hal ini."


Kata-kata itu diucapkan dengan suara tanpa emosi apa pun oleh Noelle, disertai dengan peningkatan kekuatan pada tangan yang mencekik leher Lilith.


"Pak tua Hakui adalah orang yang sangat hebat. Orang luar sepertimu tidak layak untuk mengatakan apa pun tentangnya, baik itu dirinya, atau bahkan tentang impiannya. Kau tidak berada dalam posisi yang layak untuk membicarakan itu di hadapanku."


"Dia memiliki impian yang sangat mulia. Dia juga sangat baik padaku. Meskipun pada akhirnya dia hanya seorang pria tua mesum maniak gacha yang mati dalam keadaan perjaka, dia tetaplah orang yang hebat di mataku."


Cengkraman tangan Noelle semakin kuat, sehingga ia tanpa sadar menancapkan kukunya di leher Lilith dan mengeluarkan sedikit darah dari sana.


Meskipun begitu, Lilith masih berusaha berbicara sambil dengan susah payah mencoba bernapas.


" … Aku memang tidak memiliki hak untuk membicarakannya di hadapanmu, tapi … Aku masih memiliki kewajibanku sebagai seorang guru untuk memperbaiki pemikiran dan tindakan muridku! "


Lilith melebarkan telapak tangannya yang bercahaya dan mengeluarkan percikan listrik.


Ia langsung meraih pergelangan tangan kanan Noelle dengan tangannya yang bersinar itu. Seketika, aliran listrik dalam jumlah tegangan yang sangat besar memasuki tubuh Noelle dan melumpuhkannya.


-Atau setidaknya itulah yang harusnya terjadi.


Namun, kenyataan jauh lebih buruk dari yang Lilith pikirkan.


Meskipun serangan kejutnya berhasil dilakukan, Noelle masih tampak tak terpengaruh dengan sengatan listrik itu. Ia masih menatap Lilith dengan wajah tanpa emosi.


Noelle meningkatkan kekuatan tangan kanannya yang masih dalam posisi mencekik Lilith, dan mengeluarkan dua pedang dari udara di sekitarnya.


Kedua pedang itu langsung berputar di udara dan terbang langsung tepat ke arah Lilith.


Lilith sudah bersiap untuk apa yang akan terjadi, jadi dia memejamkan matanya. Namun, kedua pedang itu hanya menancap di dinding tepat beberapa senti di kanan dan kiri kepalanya, menempatkan kepalanya tepat di tengah kedua pedang itu.


"Brengsek … Dari mana kau mempelajari sihir itu … Itu benar-benar mengejutkan … Tapi, aku sudah terbiasa dengan aliran listrik dan sambaran petir berkat latihan rutin yang aku dan Cryll lakukan."


Hanya karena ia tidak bereaksi, bukan berarti serangan Lilith itu sama sekali tidak berpengaruh padanya.


Sebenarnya ia sedikit terdampak serangan itu. Namun, ia masih bisa menahannya. Dan berkat skill penahan rasa sakit yang ia miliki, ia hanya merasa seperti tersengat sedikit saat mendapat serangan itu.


Lilith menatap Noelle dengan mata ketakutan dan mencoba melepaskan cengkraman Noelle, namun cengkraman Noelle terhadap lehernya justru semakin kuat sehingga ia mengeluarkan semua udara yang ia simpan di paru-parunya.


(Ahh … Aku benar-benar tidak ingin membunuhnya … )


Pemikiran seperti itu tiba-tiba terbesit di kepala Noelle. Ia melebarkan matanya saat menyadari pemikiran itu, namun ia segera menghapus kekhawatirannya dan mengeluarkan pedang lainnya dari gudang spasial miliknya.


Noelle mengarahkan ujung pedangnya tepat ke arah kepala Lilith, dan berniat untuk langsung membunuhnya. Namun, tangan kanan Noelle yang sejak tadi menahan tubuh Lilith tiba-tiba terbang dan terjatuh tanpa daya.


Noelle tidak sempat bereaksi karena terkejut, namun ia segera mengembalikan kesadarannya dan melihat ke arah pintu sambil memegangi bahu kanannya yang menyemburkan darah dengan sangat deras.


" … Kau … "


Sosok gadis dengan bola kelereng di tangannya dapat Noelle lihat sedang bersantai dengan bersandar pada pintu itu.


Noelle mentap gadis di hadapannya dengan tatapan permusuhan.


"Untungnya itu seperti yang kuduga. Karena kau sepertinya tidak dapat merasakan sakit dan anggota tubuhmu yang terpotong akan segera beregenerasi, aku tidak perlu ragu untuk menyerangmu."


Gadis itu kemudian tersenyum simpul.


"Lama tidak bertemu, Izaya– tidak, kau Noelle sekarang, ya … Dan kita juga sudah bertemu sejak beberapa hari yang lalu … Yahh, intinya senang dapat berbicara denganmu lagi. Aku adalah Shion, tapi sekarang namaku adalah Anzu. Tolong panggil aku seperti itu."


Gadis itu, Anzu memperkenalkan dirinya pada Noelle dengan senyum simpul.


"Anzu … Apa yang kau lakukan … "


Noelle bertanya dengan tatapan permusuhannya yang kental. Namun, Anzu membalas tatapannya dengan wajah penuh kebingungan.


"Apa maksudmu? Bukankah sudah jelas? Aku melindungi Lilith dari dirimu yang mencoba membunuhnya."


Anzu kemudian menjentikkan beberapa kelereng di tangannya sekaligus tepat ke arah Noelle.


Karena Noelle sudah mengetahui senjatanya, ia dapat dengan mudah menghindarinya hanya dengan sedikit gerakan. Namun, bola kelereng yang ia hindari itu justru menabrak dinding dan memantul kembali ke arahnya dengan kecepatan yang mengerikan.


Untungnya, tekanan adrenalin masih memenuhi dirinya sehingga ia dapat menghindari pantulan itu dengan refleksnya.


"Kelereng itu … Karet, ya … " ucap Noelle guna memastikan.


Anzu tidak terlihat terkejut, ia dengan tenang menangkap bola kelereng yang memantul itu dengan tangannya.


"Begitulah. Tapi aku sudah memodifikasinya sedemikian rupa menggunakan sihir dan teknik alkimia sehingga daya pantul, elastisitas, dan kekerasannya terhadap tekanan dapat melebihi karet mana pun."


Dengan senyum di wajahnya, Anzu menjelaskan senjatanya.


"Yang lain sudah menunggu di luar tepat di balik pintu ini. Apa yang akan kau lakukan? " tanya Anzu sambil perlahan menyipitkan matanya.


(Bagaimana mereka menyadarinya? Penghalangnya harusnya masih berfungsi … )


Noelle dengan tenang menganalisis sekitarnya sambil menahan aliran darah yang terus menyembur dari tangan kanannya yang telah terputus.


"Jika kau bertanya-tanya tentang bagaimana kami bisa tahu … "


Anzu tidak melanjutkan perkataannya, dan justru menunjuk tepat ke arah dua pedang yang Noelle tancapkan di dinding.


"Ini rumahmu sendiri, tapi bagaimana kau bisa lupa … Ruangan pertemuan kami tepat ada di sebelah."


-—–Beberapa saat yang lalu, di ruangan pertemuan kelompok Norman.


Rico sedang bersantai di kursinya sambil membaca buku novel yang ia pinjam dari perpustakaan pribadi Noelle.


Suasana yang tenang tanpa ada kecanggungan ini adalah yang terbaik untuknya, sehingga ia tanpa sadar tersenyum damai.


Sampai saat ujung bilah pedang tiba-tiba muncul tepat di samping kepalanya dan menghancurkan suasana damai itu.


Rico berusaha untuk tetap tenang dan perlahan menyingkirkan kepalanya, tapi pedang lainnya tiba-tiba muncul menembus dinding di belakangnya, memotong beberapa helai rambutnya.


Ia kemudian menolah ke samping, ke arah Kaira untuk memohon bantuan dengan matanya yang berkaca-kaca.


-—–"Itulah yang terjadi tadi."


Anzu dengan tenang menceritakan kilas balik sementara Noelle membakar lukanya sendiri menggunakan sihir api untuk mencegah pengeluaran darah yang berlebihan.


Mungkin karena melihat situasi Rico yang cukup aneh, seisi ruangan itu diam membeku sambil menatapnya, sampai akhirnya mereka menyadari situasi yang terjadi di tempat Noelle dan Lilith.


Karena itu, Kaira segera membangunkan Anzu yang sudah terlelap di kamarnya untuk membantu mereka.


"Ini tidak seperti dirimu yang biasanya, Iza. Biasanya kau cukup teliti dengan lingkungan sekitarmu, tapi … Kali ini kau aneh," kata Anzu tanpa repot-repot menutupi ekspresi kecewanya.


" … Tch."


(Seolah aku peduli dengan itu, brengsek.)


Noelle dengan wajah tanpa emosi seperti sebelumnya menatap Anzu untuk beberapa saat, sampai akhirnya tubuhnya melebur ke udara menjadi asap hitam bersama dengan tangannya yang sudah terputus itu.


" ……… Yahh, dia pergi … Dia mungkin sudah kembali ke kamarnya," ucap Anzu setelah dian sejenak untuk memastikan keberadaan Noelle.


Ia kemudian memainkan semua kelereng di tangannya, lalu memasukkannya ke saku jaketnya.


Anzu berbalik dan membuka pintu, membiarkan semua orang masuk.


"Ya ampun, kalian seharusnya meminta Alan yang ahli dalam pelucutan daripada memintaku untuk mengurusnya … "


Anzu dengan kecewa memprotes keputusan Kaira untuk mengirimnya masuk menghadapi Noelle.


Ia benar-benar dalam mood yang buruk karena tidurnya terganggu.


"Aku? Itu tidak mungkin. Dari yang kita lihat tadi, Noelle sama sekali tidak menggunakan senjata selain pedang terbang tadi. Ia masih bisa menghabisi Lilith dengan tangan dan kekuatan fisiknya sendiri."


Alan mengangkat bahunya dan tersenyum sinis.


Sangat jarang melihatnya merendahkan dirinya sendiri, jadi Anzu menatapnya dengan pandangan terkejut.


"Berhentilah berdebat, kalian berdua. Untuk saat ini, kita harus memeriksa keadaan Lilith."


Kaira menyela percakapan mereka sambil mengeluarkan botol kaca dari sakunya.


Ia menyiramkan leher Lilith yang sudah jatuh pingsan itu dengan cairan yang ada di dalam botol kaca.


Tak lama kemudian, Lilith bangun dan dengan ling-lung memperhatikan sekelilingnya.


"Jangan memaksakan dirimu," ucap Iris sambil membantunya duduk.


"Kalian … Begitu, ya … Aku gagal, ya … "


Lilith sedikit terkejut ketika melihat kehadiran Iris dan yang lain, namun ia kembali mengeluarkan ekspresi suram beberapa saat setelahnya.


Senyum sedih terbentuk di wajah Lilith.


"Hmm? Alan sudah di sini, tapi … Di mana Norman? "


Setelah ia menjadi sedikit lebih tenang, ia menyadari ketidakhadiran Norman di ruangan itu.


Ia tahu kalau Anzu membuat Norman dan Alan yang sempat bertengkar tadi jatuh pingsan dengan kelerengnya, tapi seharusnya Norman dapat bangun dengan cepat dengan fisiknya yang kuat.


Iris kemudian dengan canggung menjelaskan.


"Jika itu Norman … Dia sudah bangun tadi, tapi Anzu menembak kepalanya lagi agar ia kehilangan kesadaran … Lagipula akan merepotkan jika dia melihat situasi ini … "


Setelah mendengar penjelasan Iris, Lilith seketika membuat wajah penuh pengertian sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali.


"Lalu, sebenarnya apa yang terjadi di antara kau dan Canaria, Ina-sen? "


Saat situasi sudah semakin mereda, Rico tiba-tiba menyela percakapan dan bertanya dengan serius pada Lilith.


Sedangkan Waka dan Muku tetap tak mengatakan apa pun dan memutuskan untuk menghapus genangan darah yang mengotori lantai.


"Itu … "


"Tidak masalah jika kau tidak mau menceritakannya, tapi … Kami tidak akan tahu inti dari permasalahan kalian jika kami tidak tahu dasarnya."


Ia memang lebih sering menunjukkan dirinya sebagai sosok yang konyol. Namun, pada kenyataannya Rico adalah orang yang akan menjadi sangat serius bergantung pada waktu dan situasinya.


Lagipula, Saiko Kuzuha, atau Rico di kehidupan sebelumnya memiliki peringkat yang cukup tinggi dalam hal kecerdasan intelektual.


Ia memang tidak bisa mengalahkan kecerdasan Noelle dan Olivia, namun ia adalah yang terpintar dari semua teman sekelasnya.


Ditatap dengan mata serius oleh Rico adalah hal yang jarang bahkan bagi Lilith, jadi ia sedikit lengah.


"Itu … Akan lebih mudah jika menunjukkannya secara langsung, ya … "


Setelah Lilith mengatakan persetujuannya, semua orang langsung tersenyum.


Ia perlahan berdiri dan melihat sekelilingnya.


"Ayo bangunkan Norman, akan lebih baik jika dia melihat langsung," ucap Lilith sambil tersenyum tipis.


"Aku di sini."


Suara itu menyela percakapan mereka dan mencuri perhatian semua orang.


" … Sejak kapan kau di sana? " tanya Alan dengan waspada.


"Baru saja. Aku baru bangun beberapa detik yang lalu, dan langsung ke sini," jawab Norman dengan ringan.


Ia kemudian berjalan mendekati Lilith.


"Apa yang ingin kau tunjukkan? " tanya Norman.


Lilith sedikit berkonflik, namun ia menjawab dengan pasti.


"Ingatanku."


...****************...