![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Tatapan Noelle terpaku pada sosoknya.
Rambut perak, dan mata hitam itu membuat bayangan seorang gadis terlintas di benak Noelle.
Merasakan tatapan Noelle, pria itu menoleh dan balas menatapnya sambil tersenyum. Kemudian—
"Siapa namamu? "
—Satu pertanyaan tiba-tiba keluar dari mulutnya.
Itu bukanlah pertanyaan yang wajar ditanyakan pada seseorang yang tidak sengaja ditemui, dan Noelle juga tidak memiliki kewajiban untuk menjawabnya.
Kesadarannya kembali, dan akhirnya membuatnya dapat berpikir dengan jernih lagi.
"Noah. Noah Ashrain."
Tentu saja nama itu yang akan keluar. Namun, pria itu justru langsung menyipitkan matanya tepat setelah dia mendengar jawaban Noelle.
"Kau bohong. Namamu adalah Noelle Lynneheim," ucapnya sambil menggeleng pelan.
Mendengar itu, Noelle sontak melangkahkan kakinya ke belakang, dan memanifestasikan bentuk sejati dari pedang hitam Langen.
Noelle tidak ingat pernah memberi tahu siapa pun nama aslinya di kota ini.
Melihat bilah hitam yang berkilau di tangan Noelle, reaksi pertama yang pria itu tunjukkan adalah tawa kecil.
"Tolong jangan terlalu waspada padaku. Apa yang baru saja kulakukan itu tidak lebih dari 'melihat kebenaran yang kau sembunyikan'."
Noelle mengerutkan keningnya, jelas tidak memahami maksud pria itu. Tapi, dia menurunkan pedangnya, dan menatap pria itu dengan santai.
"Apa maksudmu? "
"Jika harus kujelaskan secara singkat … bisa dibilang, aku ini memiliki mata yang bisa melihat kebenaran di balik kebohongan," ucap pria itu sambil menunjuk matanya sendiri
Noelle pernah mendengar tentang kemampuan ini sebelumnya. Lebih tepatnya,《Mata Tuhan》milik Auger—Lucia Khora—memiliki kemampuan yang persis sama.
Mata milik Lucia dapat melihat segala kebenaran yang ada di dunia ini, dan itu juga memiliki segudang kemampuan lain yang tidak Noelle ketahui. Yang membedakannya dengan mata pria di depannya saat ini, adalah kemampuan yang lebih spesifik.
Mata pria itu bisa melihat kebenaran yang ada di balik kebohongan. Jelas lebih lemah dari Mata Tuhan Lucia.
Jika kemampuannya memang seperti itu, maka masuk akal kalau dia mengetahui nama asli Noelle.
Bagaimanapun, saat Noelle menyebutkan nama Noah Ashrain saja sudah dideteksi sebagai kebohongan, dan mata pria itu pasti membaca kebenaran di baliknya dengan sangat mudah.
"Kelihatannya kau sudah mengerti, itu bagus. Ngomong-ngomong, namaku adalah Nantz sil Grandbell. Kau bisa memanggilku Nantz."
(Grandbell … )
Noelle seketika mengerutkan keningnya. Dia masih ingat bahwa ia pernah mendengar nama itu sebelumnya.
Saat penyerangan Archon Nix Regina pada Eisen, Noelle memang tidak berada di lokasi kejadian, tapi dia mendengar banyak detailnya dari Olivia.
Nix Regina memperkenalkan dirinya sebagai seorang Archon yang diciptakan berdasarkan seseorang yang bernama Sirius Grandbell. Nama itu masih membekas di ingatan Noelle, karena kemungkinan itu berkaitan langsung dengan Olivia.
Mengesampingkan masalah Archon, Noelle sama sekali belum menyelidiki nama Sirius Grandbell. Atau lebih tepatnya, dia tidak mau melakukan penyelidikan.
Karena jika dia melakukannya, dia mungkin akan menemukan fakta yang tidak ingin ia lihat.
Tapi sekarang, nama itu muncul dengan sendirinya. Takdir benar-benar bajingan yang kejam.
Nantz sepenuhnya mengabaikan respon tak wajar Noelle, dan kembali melihat pada baru nisan yang sebelum ini menjadi pusat perhatiannya.
Merasa tertarik, Noelle ikut melihat, tapi segera dikejutkan saat melihat nama yang terpajang di sana.
Sirius Grandbell.
Hanya ada nama, tanpa tanggal ataupun tahun. Seolah, kelahiran maupun kematiannya sendiri masih diragukan, atau telah dirahasiakan.
Lebih dari itu, melihat nama itu saja sudah cukup untuk membuat Noelle terguncang.
Archon Nix Regina diciptakan berdasarkan sosok Sirius Grandbell, dan Nix sendiri memiliki perawakan yang sama persis dengan Olivia. Jika diibaratkan, maka Nix Regina pastilah Olivia yang telah tumbuh dewasa.
Jika tebakan Noelle yang mengubungkan kejadian ini dengan 'pengulangan waktu' tidaklah salah, maka sudah pasti Sirius Grandbell adalah Olivia itu sendiri.
Yang artinya, pria yang saat ini sedang berdiri di hadapannya—Nantz sil Grandbell, adalah anggota keluarga kandung Olivia, yang gadis itu sendiri tidak pernah mengetahuinya.
(Sialan … )
Ini adalah salah satu kemungkinan yang paling tidak ingin Noelle hadapi.
Memang, sampai sekarang baik itu dirinya maupun Olivia tidak mengetahui asal-usul diri mereka sendiri. Namun, selalu ada kemungkinan kalau keluarga sedarah mereka masih hidup di luar sana.
Meskipun tidak merasakan keterikatan apa pun, menghadapi mereka adalah hal yang sangat merepotkan.
Noelle menganggap ini sebagai keberuntungan karena bukan Olivia langsung yang bertemu dengan Nantz.
"Dari reaksimu, apa kau mengenal adikku? "
" … Tidak."
Jawaban yang dikeluarkan dengan penuh keyakinan. Namun, itu sia-sia.
Mata Nantz dengan mudah melihat kebenaran di balik kata-katanya. Meskipun begitu, Nantz tidak menanggapi kebohongan Noelle.
Dia justru tersenyum dan menutup matanya, lalu mendongak ke atas dan menghela napas sambil menghela napas.
"Dulu … beberapa hari setelah kelahiran adikku—Sirius, dia tiba-tiba menghilang."
Matanya terbuka, dan rasanya seperti sedang melihat jauh ke masa lalu.
"Kami menduga kalau dia diculik oleh musuh politik keluarga kami, tapi … tidak peduli ke mana kami mencari, kami tidak pernah menemukannya. Ibu jatuh sakit karena kelelahan, dan meninggal tak lama setelahnya. Karena kejadian itu, ayah memutuskan untuk menyerah mencari Sirius."
Tatapannya kemudian kembali pada batu nisan itu, yang bertuliskan nama sosok adik yang wajahnya bahkan tidak ia ingat dengan jelas.
"Keluarga kami berbasis di ibu kota, tapi Sirius lahir di kota ini. Jadi, ayah memutuskan untuk membuatkan makamnya di kota ini, jauh dari semua makam leluhur kami."
Normalnya, dalam sebuah keluarga besar bangsawan negara, para anggota keluarga inti yang meninggal dunia akan dimakamkan di pemakaman keluarga, dekat dengan para leluhur.
Tapi, makam untuk Sirius Grandbell justru dibuat di sini, di sebuah komplek pemakaman biasa, yang jelas merupakan pelanggaran terhadap kode etik kebangsawanan.
Meskipun menganut sistem republik demokratis, negara ini masih dipengaruhi oleh adat lama, yang menggunakan sistem kebangsawanan sebagai para pejabat intinya.
Bagaimanapun, keputusan yang dibuat pimpinan keluarga Grandbell sebelum Nantz bukanlah urusan Noelle. Dia tidak peduli di mana mereka membuat makamnya. Namun, dia bisa bertemu dengan Nantz karena mereka membuat makamnya di kota ini, alih-alih di pemakaman keluarga.
"Hei, siapa namanya sekarang? "
Tiba-tiba menanyakan pertanyaan seperti itu. Noelle tidak tahu harus menjawab apa.
Sebenarnya, dia bisa tetap diam agar kemampuan mata Nantz tidak berguna. Namun, tindakan itu membawakan rasa bersalah yang cukup parah untuknya sendiri, jadi Noelle membuang pilihan itu.
Artinya, hanya ada satu hal yang bisa Noelle lakukan.
"Apa kau berniat mencarinya? "
Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lain bisa menjadi cara untuk memblokir kemampuan deteksi kebohongan.
Untuk sejenak Nantz tidak menjawab. Pria itu fokus menatap pada nisan dengan nama Sirius Grandbell, lalu mendengus kecil.
"Tidak. Sama sekali tidak."
"Kenapa? " balas Noelle penasaran.
Ada jejak kebingungan di wajah Nantz, seolah dia bingung bagaimana harus menjawab itu. Namun, ekspresi di wajahnya seolah mengatakan kalau dia sudah memiliki jawaban sendiri untuk pertanyaan itu.
"Aku tidak ingin melibatkannya. Situasi menjadi lebih buruk belakangan ini, dan hanya akan ada hal yang buruk menimpanya kalau dia ikut terlibat."
" … "
Noelle tetap diam, berusaha memproses jawaban itu. Tapi kemudian, Nantz kembali berbicara.
"Alasanku sangatlah sederhana. Aku hanya tidak ingin melibatkannya. Itu saja. Karena itulah, aku tidak akan pernah mencari, atau bahkan menemuinya."
Jawaban itu ia keluarkan dengan suara yang pasti, tapi terasa tidak mempedulikan apa pun. Seolah, dia tidak mengucapkan kata-kata itu pada Noelle yang bertanya padanya.
"Kenapa kau … malah berpikir begitu? "
Noelle bukan tipe orang yang begitu, tapi bukankah wajar bagi seseorang untuk merasakan kerinduan, bahkan pada anggota keluarga yang hanya ia kenal selama beberapa hari?
Dari cara Nantz mengatakannya, dia sepertinya peduli pada Sirius, tapi sama sekali tidak berusaha untuk mencarinya. Terlebih lagi, menurut pandangan Noelle, kepribadian Nantz cukup lembut. Sulit untuk membayangkan kalau dia akan mengambil keputusan begitu.
Walaupun tentu saja, jawabannya sudah jelas.
Noelle tidak tahu seberapa besar permasalahannya, tapi itu pasti cukup serius sampai membuat Nantz tidak ingin melibatkan siapa pun ke dalamnya.
Setelah keheningan yang cukup panjang, Nantz akhirnya menjawab.
"Negara ini, dan besarnya beban yang dimiliki nama Grandbell … aku tidak ingin dia mengetahui, atau bahkan mengalaminya. Aku tidak membenci keluargaku. Justru sebaliknya, aku sangat menghargai mereka."
"Tapi, jika ada satu hal yang kubenci, maka itu adalah negara ini, dan leluhur yang membagikan beban mereka pada nama keluarga ini."
Lagi pula, alasan Noelle pergi meninggalkannya adalah karena dia ingin melindunginya. Jika dia memberitahukan Nantz nama itu, maka tindakannya akan sia-sia.
Noelle tidak tertarik dengan permasalahan yang dihadapi Nantz. Dia juga tidak tertarik pada beban keluarga Grandbell, atau bahkan kebencian Nantz terhadap negara ini.
Selama itu tidak mempengaruhinya, dan asalkan Olivia tetap aman, dia akan mengabaikan permasalahan ini sepenuhnya.
"Dari kelihatannya, kau sepertinya tidak ingin memberitahuku, ya …. Yahh, aku tidak keberatan dengan itu," ucap Nantz sambil tersenyum kecut.
Matanya kemudian menyipit sambil memandangi nisan.
"Tapi … aku senang, karena dia memiliki seseorang yang sangat mempedulikannya. Mengesampingkan alasanmu bisa berada di sini, dan sampai harus mengubah identitas, itu tidak menutup fakta kalau kau sangat mempedulikannya. Terima kasih, tolong jaga dia."
Noelle tidak tahu harus menjawab apa. Namun, dia merasa yakin, kalau dia harus menanyakan ini.
"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya? "
Nampaknya, permasalahan yang Nantz miliki bukanlah masalah sederhana. Noelle memang tidak tertarik, tapi tetap saja jika itu merupakan masalah berskala besar, dia entah bagaimana pasti akan terlibat.
Ini adalah kecendrungan tak sadar Noelle yang akan selalu membuatnya terjerat dalam masalah, tidak peduli seberapa keras usahanya dalam menghindari itu.
Tidak peduli apa masalah yang Nantz hadapi, selama itu tidak melibatkannya, Noelle tidak peduli. Tapi, Noelle sudah tidak bisa berharap untuk tidak terlibat. Dia sendiri tahu betul takdirnya yang selalu berjalan ke arah yang tak terduga.
Untuk sejenak, tidak ada jawaban dari Nantz.
Pria itu hanya menutup matanya sambil tertawa kecil, lalu menatap ke langit melalui celah dedaunan pohon yang rimbun di atasnya.
"Aku berencana melakukan pemberontakan."
Noelle meragukan telinganya, tapi Nantz tidak berhenti di sana.
"Sudah lebih dari tiga ratus tahun sejak negara ini beralih sistem menjadi republik demokratis, tapi menurutku ini sama sekali tidak ada bedanya dari sistem sebelumnya, yaitu monarki despotisme. Mereka sangat menjijikkan, mengambil keputusan yang hanya menguntungkan diri mereka sendiri, dengan mengatasnamakan rakyat. Aku benci itu, jadi aku berencana memulai pemberontakan."
Itu adalah hal baru bagi Noelle. Dia baru tahu kalau republik sebelumnya merupakan sebuah negara dengan sistem kerajaan, sampai akhirnya sistem itu dirubah menjadi republik yang demokrat.
Saat dia terdiam tanpa tahu harus mengatakan apa, Nantz telah beralih menatapnya.
"Bagaimana menurutmu? Apa kau mau bekerja sama? "
" ……… Ha? "
Ajakan itu begitu tiba-tiba, sehingga Noelle bahkan tidak bisa mengorganisir pikirannya. Tapi, berlawanan dengan dirinya, Nantz masih tenang.
Tidak ada keraguan dari suara, tatapan, dan gerak tubuhnya. Dia mengatakan itu semua seolah sudah menyiapkan dirinya sejak lama.
Jika itu adalah orang lain, maka Noelle tidak akan mengatakan apa pun untuk meresponnya, dan langsung pergi. Namun, yang ada di hadapannya adalah seseorang yang kemungkinan akan memiliki pengaruh dalam hidupnya.
Noelle ingin mengabaikannya, tapi ajakan itu membuatnya tidak dapat berpikir jernih.
Meski begitu, tetap saja jawabannya sudah jelas.
" … Kau sudah gila? Aku bisa memberi tahu semua orang tentang rencanamu? "
Noelle belum pernah mendengar nama Grandbell di negara ini, tapi kemungkinan besar itu adalah sebuah keluarga bangsawan yang masih berkuasa atas jabatan penting.
Jika rumor bahwa kekuarga Grandbell berniat melakukan pemberontakan menyebar, maka situasinya tidak akan bagus bahkan untuk Nantz sendiri.
Noelle memang sudah lama tidak melakukannya, tapi dia cukup berpengalaman dalam menyebarkan rumor, atau bahkan membuat cerita propaganda yang bisa mempengaruhi banyak orang.
Bisa dibilang, itu adalah salah satu kemampuan terbaiknya saat masih menjadi Canaria Izaya.
Bahkan meski menerima ancaman itu, tak ada reaksi khusus di wajah Nantz. Hanya senyum halus yang terus terpajang saat dia menatap Noelle.
"Itu keputusanmu. Aku memilih untuk mempercayakannya padamu karena kau bukanlah orang yang akan melakukan hal seperti itu. Apa aku salah? "
Nantz tidak benar, tapi pada saat yang sama dia juga tidak salah.
Sebenarnya, Noelle bisa saja melakukannya, tapi tidak banyak alasan untuk melakukan itu.
Tidak ada gunanya bagi Noelle untuk menyebarkan cerita bahwa keluarga Grandbell berencana melakukan pemberontakan. Justru, itu akan merepotkan.
Terlebih lagi, Nantz sil Grandbell bukanlah musuhnya.
Sama sekali tidak ada alasan yang bagus untuk melakukannya. Nantz bukanlah musuh atau bahkan sekutu. Noelle tidak cukup peduli untuk berurusan dengan orang seperti itu.
"Jadi? Bagaimana? Apa kau akan menerimanya? "
Tatapan Nantz sepertinya mengharapkan sesuatu, tapi di saat yang sama dia juga sudah siap untuk menerima jawaban tidak.
Yang artinya, dia tidak begitu berharap Noelle akan menerima tawarannya.
Tentu saja, jawaban Noelle adalah tidak.
"Tidak, terima kasih. Aku akan menjadi orang yang gila jika menerima permintaan itu."
"Haha, sudah kuduga kau akan menolak. Yahh, apa boleh buat," ucap Nantz sambil tertawa kecil.
Dia kemudian menggaruk pipinya dengan senyum masam, lalu kembali melihat pada batu nisan.
Di saat itulah, Noelle merasakan ada yang aneh.
(Apa ini? )
Suasananya terasa tidak asing.
Nyaris tidak ada yang berbeda, tapi sepertinya ada yang janggal.
Barulah kemudian dia sadar kalau Nantz sudah ada di hadapannya lagi, mengulurkan tangan sambil menunjukkan senyum halus.
"Jadi? Bagaimana? Apa kau akan menerimanya? "
" ……… "
Mengesampingkan ekspresinya yang datar, pikiran Noelle saat ini sangatlah kacau.
(Apa yang terjadi?! )
Apa yang baru saja Nantz ucapkan jelas merupakan dialog yang sudah dia keluarkan beberapa saat yang lalu. Tapi, Nantz di hadapannya kali ini menanyakan hal yang sama, dengan ekspresi dan pose yang sama pula.
Satu pemikiran terlintas di benak Noelle.
(Jangan bilang, pengulangan waktu?! )
Perasaan tak wajar yang muncul sebelumnya, serupa dengan perasaan yang is miliki saat waktu telah diulang. Entah bagaimana dia masih bisa menjaga ingatan dan kesadarannya.
Saat itu pula, Noir yang sejak tadi diam, mulai bersuara.
『Hehe, kau terjebak.』
Hanya itu kata yang dia ucapkan, tapi Noelle sudah memahami maksudnya.
Pemikiran Noelle tidak begitu lambat sehingga tidak memahami maksud dari pengulangan waktu ini.
Dia tidak boleh menolak Nantz, karena itu berkaitan langsung dengan masa depannya.
Merepotkan.
Sebenarnya, Noelle bisa bereksperimen sedikit untuk menemukan maksud sebenarnya dari pengulangan waktu ini. Tapi, dia sedikit takut.
Eksperimen kecil yang dimaksud adalah dengan menolak permintaan Nantz untuk kedua kalinya. Dengan begitu, berdasarkan hasilnya, Noelle bisa membentuk kesimpulan yang lebih objektif lagi.
Sayangnya, Noelle takut akan beberapa hal yang mungkin saja terjadi jika ia mengambil pilihan itu.
Hal itu disebabkan karena ia tahu betul bahwa bukan dirinyalah yang melakukan pengulangan, tapi orang lain. Dalam hal ini, kemungkinannya adalah Charlotte.
Dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi nampaknya pilihan yang ia buat saat ini akan sangat berpengaruh. Kalau begitu, Noelle tidak memiliki pilihan.
Memang beresiko, tapi Noelle akan mengambil jalan tengah.
Menarik napas, dan menghembuskannya. Noelle kemudian menatap Nantz dengan yakin sambil menjabat tangannya.
"Baik, aku terima tawaran itu. Tapi, aku tidak bisa berjanji akan membantumu."
Dengan menerima tawaran Nantz, dan memberitahunya kalau dia tidak bisa 'banyak membantu'. Jika dia melakukan itu, maka situasinys setidaknya akan lebih terkendali. Noelle bisa dengan bebas bergabung, dan memutus koneksinya kapan saja.
Untungnya, kesepakatan itu hanya dilakukan secara verbal. Tidak ada kertas kontrak yang mengharuskannya memberikan tanda tangan.
Karena jika begitu, Noelle tidak akan memiliki pilihan lain selain langsung membuang identitas Noah Ashrain. Tapi, mungkin itu akan percuma, mengingat Nantz bisa dengan jelas mengetahui kebenaran di balik kata-katanya.
Dia juga tahu kalau nama asli Noah Ashrain adalah Noelle Lynneheim.
Itulah bagian paling merepotkan dari semua ini.
"Baik, terima kasih karena sudah mau bekerja sama. Meskipun … aku sedikit tidak menyangka kalau kau akan menerimanya," ucap Nantz sambil mempertahankan senyumnya.
(Bukan keinginanku untuk menerima itu, sialan.)
...****************...