[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 260: Interogasi



...****************...


Di tengah lautan yang tak terbatas, sebuah perahu kecil terlihat sedang berlayar, membiarkan ombak membawanya ke arah yang telah ditentukan.


Biarpun perahu kecil itu tampaknya benar-benar tidak dikendalikan, sosok itu—laki-laki berambut pirang—dengan tenang melihat ke sekeliling sambil mengerutkan keningnya.


Sudah beberapa hari sejak Cryll memutuskan untuk pergi menjelajah. Perjalanannya ini bertujuan untuk menemukan Noelle, atau setidaknya, menemukan sedikit petunjuk tentangnya.


Satu tempat yang wajib ia kunjungi jika ingin menemukan jejak Noelle, adalah pulau tempat dia pernah ditahan dulu.


Yang menjadi masalahnya, dia telah mengapung di perairan ini selama beberapa hari, tanpa menemukan sedikit pun tanda keberadaan pulau itu.


Dia benar-benar lupa, kalau dia sebenarnya cukup buruk dalam hal navigasi. Terutama, di tempat yang tidak memungkinkan untuk memetakan rute, seperti di lautan seperti ini.


Tentu itu bukan maslah bagi nelayan atau nahkoda berpengalaman, tapi Cryll hanyalah seorang petualang biasa yang berbasis di daratan. Dia bahkan tidak pernah menyeberangi laut sebelumnya.


"Ini jauh lebih sulit dari yang kubayangkan, tapi … "


Entah bagaimana, dia merasa kalau tujuannya sudah dekat.


Itu tidak lebih dari sekedar insting, tetapi insting itulah yang menyelamatkan hidupnya beberapa kali di masa lalu. Adalah hal yang wajar untuk mempercayainya.


Cryll memperkuat pengelihatannya, dan mengamati semua yang ada di sekitar. Hasilnya, dia menemukan siluet yang kabur, dengan bentuk yang tidak begitu jelas.


"Itu … "


Setelah mencoba mendekati siluet itu, dia merasa kalau tebakannya sangatlah tepat.


Siluet perlahan mulai menjadi jelas, dan bentuk yang ada di balik bayangan itu juga mulai terlihat.


Apa yang ada di sana adalah sebuah pulau, dengan segala sesuatu yang ada di atasnya sudah hancur lebur tak berbentuk.


Tidak salah lagi, itu adalah pulau yang sudah ia cari selama ini.


Cryll mendekatkan perahunya dengan dermaga kecil yang pernah Noelle buat, dan tanpa mengatakan apa pun segera melompat ke bagian pulau itu.


Permukaannya berantakan. Banyak puing-puing bangunan yang sudah runtuh, tapi sama sekali tidak dibereskan. Itu wajar saja. Lagi pula, mereka tidak pernah memiliki kesempatan untuk mengurusnya.


"Sekarang aku sudah sampai ke sini, tapi … apa yang harus kulakukan? "


Salah satu kunci penting untuk menemukan petunjuk tentang Noelle adalah pulau ini—atau lebih tepatnya dungeon yang mungkin berada di sekitar pulau ini.


Yang menjadi masalahnya, Cryll tidak tahu bagaimana harus masuk ke dungeon itu.


Terakhir kali, mereka semua berhasil masuk ke dalam dungeon karena Terneth yang mengaktifkan sihir teleportasi pada masing-masing orang. Namun kali ini, tidak ada yang seperti itu.


Bahkan, ada kemungkinan yang sangat jelas kalau dungeon itu sudah tidak ada. Itu akan menjadi kemungkinan terburuk yang bisa Cryll pikirkan.


"Kurasa … aku harus menjelajah sedikit."


Itu adalah pilihan yang ingin ia hindari. Namun, bukan berarti ia memiliki pilihan lain.


Pulau ini memiliki luas yang bahkan tidak bisa Cryll percayai. Terlebih lagi, ada banyak arsitektur di bawah tanah yang rutenya seperti labirin. Akan sulit untuk menjelajahi keseluruhannya.


Menghela napas sejenak, Cryll akhirnya menggelengkan kepalanya. "Tidak ada waktu untuk merasa ragu."


Dia kemudian mengeluarkan selembar kertas dari kantung jubahnya, dan menulis beberapa paragraf penjelasan mengenai apa yang ia alami, dan apa yang akan ia lakukan.


Setelah menulis pesan, Cryll langsung memanggil hewan familiar miliknya sendiri, dan menyerahkan surat itu padanya. Setelah itu, hewan familiar menghilang tanpa jejak seolah memang tidak ada di sana, dan Cryll hanya bisa melihatnya sambil tersenyum tipis.


Pesan itu akan disampaikan pada Stella. Seharusnya tidak akan ada masalah yang terjadi selama Stella tidak memutus kontrak dengan hewan familiar.


"Baiklah, ayo mulai."


Jubah hitam yang ia kenakan berkibar saat angin yang deras menimpabya, dan Cryll terus menatap tajam pada semua tempat yang akan ia jelajahi.


Ini kan menjadi langkah awalnya untuk menemukan Noelle.


...****************...


Rasa sakit yang cukup parah menerpa kepalanya saat Noelle perlahan bangun.


Matanya terbuka, dan keningnya berkerut saat otaknya mengalami pusing yang sangat parah.


Noelle memegangi kepalanya sendiri, dan menggertakkan giginya dalam upaya untuk menahan rasa sakit itu, hingga akhirnya, rasa sakit memudar, dan pikirannya perlahan berubah jernih.


Barulah kemudian dia sadar, kalau dia berada di tempat yang tidak dia kenal.


Ranjang yang ia tempati, meja sederhana dengan cangkir porselen berisi teh yang sudah dingin, dan kursi kayu yang diletakkan tepat di samping ranjangnya.


Tepat di samping, ada sebuah jendela kayu yang sedikit terbuka, dan Noelle akhirnya bisa melihat pemandangan yang tersembunyi di baliknya.


"Apa yang terjadi? "


Noelle memeriksa ingatannya sendiri, dan sedikit demi sedikit mulai memahami segala sesuatu yang telah terjadi.


(Benar … Aku kehilangan kesadaran.)


Ingatan terakhirnya adalah ketika Gild menembakkan sihir secara membabi buta pada tubuhnya. Mengingat itu saja sudah cukup untuk membawakan kenangan tidak mengenakan bagi Noelle.


Tidak biasanya ia dilumpuhkan dalam pertarungan. Tetapi lawannya adalah Gild, seorang penyihir dengan banyak kekuatan misterius. Wajar bagi Noelle untuk berakhir kewalahan seperti itu.


"Haha, kurasa itu akan menjadi noda di buku rekorku," ucap Noelle sambil tertawa mencela diri.


Tepat setelahnya, pintu terbuka, dan seorang pria yang terlihat sudah berusia setengah abad muncul.


"Kapten? "


Itu adalah Dolf, tapi tatapannya yang kusam, beserta kerutan di wajahnya dengan cekungan yang terbentuk di bagian pipi itu membuatnya terlihat lebih tua dari yang diingat Noelle.


"Kau bangun tepat waktu. Acaranya akan dimulai siang ini."


Dolf berbicara tanpa ragu, dan dengan gerakan yang sangat alami langsung duduk di kursi yang kosong di sana.


Melihat pergerakannya, Noelle yakin kalau Dolf sudah mengunjunginya beberpa kali. Cukup sering sampai-sampai dia tidak perlu melihat atau berpikir untuk duduk di kursi yang telah disediakan.


"Berapa lama aku pingsan? "


Dolf bernapas berat. "Sekitar dua hari. Jika kau tidak bangun hari ini, maka itu akan menjadi tiga hari."


" ……… "


Itu adalah hal yang tak terduga bahkan bagi Noelle.


Tidak peduli seberapa parah luka yang ia alami, dia seharusnya tidak akan pingsan selama itu. Paling lama, mungkin hanya sekitar satu hari.


Melihat ke samping, Noelle menemukan Dolf telah memperdalam kerutan pada wajahnya, dan dia sekali lagi menghela napas dengan berat.


"Ada banyak yang ingin kukatakan dan kutanyakan padamu, tapi … sebaiknya kau berganti pakaian. Kita akan segera menghadiri acaranya."


Noelle sudah memikirkan ini sejak dia mendengarkannya beberapa saat yang lalu, tapi dia masih belum mengerti apa yang Dolf katakan.


"Acara apa? "


Dolf menoleh ke samping, jelas tidak berani menatap Noelle. Kemudian, suaranya yang berat dan redup muncul dengan mengandung banyak emosi yang bercampur aduk.


"Ini adalah … hari pemakaman Tian dan Rita."


...****************...


Itu adalah suatu tempat yang terletak di blok utara kota, tak jauh dari area pemukiman.


Area pemakaman ini menjadi pemakaman terbesar di kota, dengan ukuran keseluruhan sekitar enam ratus meter persegi.


Di salah satu bagian pemakaman itu, sekelompok orang mengenakan pakaian formal dengan aksen serba hitam berdiri di sekitar dua lubang kubur yang baru digali.


Beberapa orang terlihat sedang menangis dengan sedih, dan beberapa lainnya hanya bisa menundukkan kepala mereka tanpa tahu harus mengatakan apa pun.


Di antara mereka semua, adalah satu keluarga muda dengan seorang anak kecil di pelukan ayahnya.


Sang ibu berlutut di salah satu makam, dan riasan wajah dengan cepat luntur saat air mata keluar tanpa bisa terkendali.


Kebetulan sekali, langit sedang mendung, dan air hujan akan sesekali turun membasahi kepalanya. Sang suami berusaha menenangkan istrinya, tapi itu tidak berhasil.


Tak jauh dari lokasi mereka, Noelle yang mengenakan setelan formal jas hitam hanya menatap kosong pada kedua makam itu.


Satu tangannya memegang payung dengan warna yang sama dengan pakaiannya, sedangkan satu tangan lain memegang buket bunga.


Menurut apa yang dikatakan Dolf, wanita yang menangis itu adalah putri tinggal dari Tian. Seumur hidupnya, Tian hanya menikah sekali, dan memiliki satu anak.


Belum lama sejak ibunya meninggal, dan sekarang ayahnya pergi menyusul. Itu jelas menjadi pukulan yang berat bagi wanita itu. Terlebih lagi, usianya masih terbilang muda.


Noelle beralih menatap satu makam lain.


Jika dibandingkan dengan makam Tian, makam milik Rita jelas lebih sepi.


Tak ada seorang pun yang menangisinya, dan hanya ada sedikit orang yang memberikan perhatian mereka padanya.


Rita memang diketahui sebagai anak yatim piatu yang tidak memiliki keluarga. Jumlah kenalannya juga bisa dihitung dengan jari, dan itu pun hanya terbatas pada orang-orang di bar Nautica.


Hanya ada Louen, yang menatap nisannya dengan sedih.


Hujan perlahan semakin deras, dan Noelle menyembunyikan matanya di balik payung hitam itu.


Felice tidak hadir. Noelle tidak tahu alasan sebenarnya, tapi dia memiliki tebakan.


Selain itu, semua orang yang datang hanyalah orang terdekat, dan perwakilan dari pihak gereja.


Tak lama kemudian, beberapa orang lain datang, dengan menggotong dua peti mati di masing-masing kelompok.


Ada dua pilihan untuk proses pemakaman, yang salah satunya adalah dikubur bersama peti mati, dan yang lainnya adalah melalui proses kremasi. Abu jasad orang yang dikremasi itu kemudian akan dikuburkan di tempat yang berbeda dari tempat ini.


Tangisan wanita itu semakin pecah saat peti mati berisi jasad Tian datang, dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menghampirinya.


Suaminya di belakang berusaha menahannya, dan wanita itu perlahan diam dan terjatuh dengan air mata menutupi seluruh wajahnya.


Anaknya masih bayi, tapi dia sontak menangis karena merespon tangisan dari ibunya.


Noelle dan beberapa orang lainnya hanya terus diam sambil menyaksikan peti mati perlahan diturunkan.


Akhirnya, peti mati mengisi lubang galian, dan semua orang berdoa di saat yang sama.


Setelah itu semua selesai, satu per satu orang meninggalkan pemakaman, dan beberapa orang lainnya yang mengenakan seragam lengkap sebagai agen gereja muncul.


Jumlah mereka ada enam orang, dan mereka berjalan mendekati Noelle.


"Noah Ashrain? "


Noelle sudah memiliki tebakan untuk apa yang akan terjadi, jadi dia tidak terlalu panik.


"Ya."


"Bisa kau ikut kami sebentar? Ada yang ingin kami tanyakan padamu."


Noelle menoleh dan menatap pada Dolf. Pria tua itu pun hanya mengangguk dengan pasrah.


"Baiklah."


Tanpa sedikit pun keraguan, Noelle mengikuti mereka.


Anehnya, mereka sama sekali tidak memasangkan borgol di lengannya. Justru, mereka membiarkannya bebas untuk melakukan pergerakan apa pun. Tapi tentu saja, Noelle tidak akan melakukan sesuatu yang ceroboh di sini.


Dia terus berjalan mengikuti bimbingan para agen gereja sambil merasakan tatapan banyak orang terarah padanya.


...****************...


Jarak antara gereja dengan pemakaman cukup jauh, mengingat katedral itu berada di pusat kota. Tetapi perjalanan berlalu dengan sangat cepat karena mereka membawa Noelle dengan kereta kuda milik pihak gereja.


Mereka semua kemudian membawa Noelle ke suatu ruangan yang ada di bawah tanah, dan memintanya untuk menunggu sampai seorang interogator datang.


Sambil menunggu orang yang dimaksud itu datang, Noelle sedikit melakukan sesi tanya jawab dengan Noir.


(Apa ada penjelasan singkat kenapa aku bisa dibawa ke sini? )


『Hehe, kau benar-benar ingin tahu jawabannya? Aku yakin, kau memiliki firasat yang bagus.』


(Yahh, tidak perlu menjawabnya sekarang. Lebih baik kau simpan jawaban itu untuk nanti. Karena sekarang … )


Noelle sedikit tersenyum saat beberapa orang pria dengan jubah gereja melekat pada tubuh mereka satu per satu memasuki ruangan interogasi.


Salah satu dari mereka duduk tepat di hadapan Noelle. Dia adalah seorang pria yang terlihat sudah tua, mungkin umurnya sama dengan Dolf.


Meskipun begitu, suasana dan aura yang dipancarkannya benar-benar berbeda dari Dolf.


Jika Dolf adalah perwujudan seorang pria paruh baya yang baik hati, maka pria ini adalah orang yang sangat tegas, dan sulit untuk diajak bicara.


Pria itu menatap Noelle dengan sedikit tekanan, tapi Noelle sama sekali tidak terpengaruh olehnya. Noelle tetap menjaga agar ekspresinya tetap senetral mungkin.


"Apa kau yang bernama Noah Ashrain? " tanya pria itu.


Noelle mengangguk sekali tanpa ada perubahan khusus pada ekspresi maupun nada bicaranya.


"Ya."


"Kalau begitu, apa kau tahu alasan kami memanggilmu ke sini? "


Berpura-pura seolah sedang berpikir, Noelle kemudian menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apa pun.


Melihat respon itu, pria di hadapannya melirik ke arah pria lain, yang kemudian direspon dengan anggukan singkat.


(Apa dia bisa mendeteksi kebohongan? )


Jika memang begitu, maka semua tepat seperti yang Noelle prediksi.


Noelle tidak tahu alasan kenapa pekerja gereja membawanya untuk diinterogasi, dan dia juga tidak tahu apa yang terjadi selama dia kehilangan kesadaran.


Meskipun begitu, ia memiliki firasat kalau ini akan menjadi interogasi yang merepotkan.


Jika dia benar-benar akan mendapatkan interogasi, maka ada kemungkinan besar akan ada seseorang yang bisa membaca pikiran ataupun kebohongannya. Orang seperti itu cukup merepotkan untuk dihadapi, karena itulah Noelle membuat beberapa persiapan kecil.


Yang pertama, adalah alasan mengapa ia mencegah Noir menjelaskan situasinya.


Jika Noir banyak berbicara tentang situasi selama dia kehilangan kesadaran, maka itu akan membuka kesempatan bagi pihak lain untuk mengorek informasi.


Mereka bisa saja bertanya apakah dia mengetahui sesuatu tentang itu, dan Noelle pasti tidak akan bisa berbohong, mengingat dia sudah tahu semuanya berkat penjelasan Noir.


Karena itulah, dengan Noir yang tidak menjelaskan situasinya pada dirinya, Noelle akan terhindar dari deteksi kebohongan. Dia bisa dengan lancar menjawab 'tidak' pada pertanyaan itu, dan pemeriksa tidak akan menaruh kecurigaan padanya. Karena pada dasarnya, Noelle memang tidak mengetahui apa pun.


"Lalu, apa kau tahu apa yang terjadi di penyerbuan itu? "


Pria di hadapannya, jelas tahu kalau sesuatu telah terjadi selama misi itu. Noelle tidak tahu apakah pria ini datang ke lokasi kejadian atau tidak, tapi akan lebih baik jika Noelle tetap mengikuti skenario yang dia buat.


"Tidak. Sebenarnya, ingatan terakhirku adalah saat aku kehilangan kesadaran. Aku tidak tahu apa yang terjadi saat itu."


Noelle tidak berbohong. Itu adalah kenyataannya.


Sekali lagi, interogator di hadapannya menoleh ke arah seorang pria, dan mendapatkan anggukan kecil.


(Orang itu sudah pasti bisa mendeteksi kebohongan. Ini keberuntunganku.)


Jika dia hanya bisa membaca kebohongan, maka yang diuntungkan di sini adalah Noelle seorang. Dia sudah menyiapkan skenario sedemikian rupa sehingga membaca kebohongan tidak akan ada gunanya.


Sebaliknya, jika orang itu bisa membaca pikiran, situasi akan menjadi lebih rumit. Noelle masih belum memiliki cara untuk mencegah kemampuan domain pikiran seperti ini.


Tentu saja, jika kemampuan lawannya lemah, dia masih bisa menahannya. Tetapi, pihak gereja tidak mungkin memilih orang lemah seperti itu menjadi staf interogator.


"Kelihatannya kau memang tidak tahu apa pun. Kalau begitu, pertanyaan lainnya."


Noelle memperbaiki posisi duduknya seolah bersiap untuk pertanyaan itu. Detail kecil seperti ini akan sangat berpengaruh pada aktingnya.


"Tentang kontrakmu, dewa mana yang membuat kontrak denganmu? "


"Raja Siasat Minerva," jawab Noelle tanpa ragu.


Nama seorang dewa tidak mungkin dipalsukan. Itu adalah aturan yang dipahami oleh semua orang yang membuat kontrak.


Jika orang di hadapannya tahu tentang aturan ini, maka dia seharusnya tidak akan ragu terhadap jawaban yang Noelle berikan.


Untuk sejenak, pria itu terus menatapnya, dan kemudian menghela napas.


"Semua sesuai dengan laporan yang diberikan bosmu. Baiklah, satu pertanyaan lagi."


Pria itu sedikit menunduk, dan tatapannya menjadi semakin tajam. Sorot matanya seolah menembus kedalaman mata Noelle, dan membaca semua yang ada di dalamnya.


Tentu saja, itu semua tidaklah nyata. Itu adalah perasaan yang Noelle terima saat pria itu menatap matanya.


"Noah Ashrain, atau Grei Noctis. Yang mana yang asli? "


"Bukankah sudah jelas? Tentu saja yang pertama. Grei Noctis adalah identitas yang kubuat untuk mengumpulkan informasi dari para Bounty Hunter."


Tidak ada gunanya menutupi hubungan antara identitas Noah Ashrain dengan Grei Noctis. Justru, jika Noelle bersikeras untuk menutupinya, itu hanya akan membuatnya menjadi semakin mencurigakan.


"Tentu aku paham itu. Bagaimanapun, target adalah pihak yang besar. Mengubah identitas memang sangat diperlukan."


"Kalau begitu–"


"Tapi, itu tetap membuatku penasaran."


Pria itu kembali ke posisinya, dan mengetuk meja dengan satu jari.


"Selama dua hari ini, aku sudah menyelidiki segala sesuatu tentangmu, dan hasilnya aku tidak menemukan apa pun. Pertama kali identitas Noah Ashrain muncul, adalah di sebuah stasiun kereta distrik militer. Aku penasaran, apa yang kau lakukan sebelumnya."


Noelle tersenyum masam.


"Aku tidak memiliki dokumen identitas sejak aku masih kecil, karena seluruh keluargaku tewas sebelum mereka dapat membuatkannya untukku. Setelah itu, aku pergi bersama rombongan petualang, yang kemudian aku anggap sebagai keluargaku sendiri."


"Tapi, kelompok petualang yang mengasuhku tewas, dan aku harus melanjutkan perjalanan sendirian. Akhirnya, setelah perjalanan yang panjang, aku sampai di Republik, tanah kelahiranku sendiri. Apa cerita itu sudah cukup menyentuh hatimu? "


" … Sama sekali tidak, tapi sepertinya kau tidak berbohong," ucap pria itu sambil melirik pada pria dengan kemampuan deteksi kebohongan.


Ini seperti yang Noelle duga. Kemampuan deteksi kebohongan itu juga tidak bekerja pada sesuatu yang dia sendiri tidak ketahui kebenarannya. Terutama, setelah dicampur menjadi cerita yang lebih kompleks lagi.


"Baiklah, untuk sekarang kau lolos dari interogasiku. Silahkan pergi sekarang, atau aku akan menendangmu keluar."


"Terima kasih, aku akan keluar sendiri."


"Ahh, jangan pergi dari lingkungan apartemenmu itu selama dua puluh empat jam. Karena beberapa alasan, kau harus menjalani tahanan rumah."


Noelle tersenyum masam dan bangkit dari kursinya. Kemudian, dia keluar dari ruang interogasi.


Di ruang interogasi, kepala interogator itu tersenyum saat urat menonjolkan diri di dahinya.


"Bodoh, siapa yang akan mempercayai cerita seperti itu. Kau hanya akan lolos hari ini, tapi tidak nanti. Hei, kau! Cepat kerahkan agen untuk mengamatinya selama dua minggu ke depan, dan berikan laporan padaku setiap hari."


...****************...