![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Di sebuah desa yang terletak di pinggiran kota Féncen.
Itu adalah malam yang tenang, dengan angin sejuk yang sesekali menerpa tubuhnya yang besar.
Jubah yang ia kenakan itu mau tak mau berkibar saat angin deras disertai kilatan di langit muncul.
Klowd melepas tudung jubahnya, menatap awan gelap yang perlahan bergumul.
Akan ada badai tak lama lagi.
Klowd mengangkat tangannya, menyentuh pelipisnya sendiri saat sebuah suara muncul di kepala.
{Apa? }
Hanya satu kata, tapi memang begitulah seharusnya.
Para agen dari Hermit Cult dituntut untuk meminimalkan interaksi antara para agen lapangan. Ini demi mencegah adanya pihak luar yang mengintervensi saluran telepati mereka.
Klowd dengan dingin memperhatikan desa besar yang ada di sana, lalu menjawab, "Semua persiapan sudah selesai."
Tangannya kemudian menarik kembali tudung jubahnya, membuat itu menutupi kepalanya lagi. Lalu, sosoknya tiba-tiba menghilang seolah disapu habis oleh angin yang berhembus.
Pada saat itu juga, suara 'klik' muncul, dan desa berukuran besar itu seketika tenggelam dalam ledakan yang amat dahsyat.
...****************...
Zeltis, Celle, ibu kota Nothernos.
Celle adalah bagian kota yang menjadi lokasi dibangunnya istana termegah di seantero kerajaan.
Di kastil itu, terdapat taman melayang dengan bentuk persegi, yang hanya dihubungkan dengan daratan menggunakan rantai di setiap sudutnya.
Di taman gantung itu, kelompok reinkarnator melakukan pertemuan rutin mereka.
Hari ini, hampir semua orang hadir, mengecualikan tiga orang yang memiliki urusan mereka sendiri di luar.
Mereka sudah tahu mengenai kondisi reinkarnator lainnya. Sangat disayangkan, mereka tidak seberuntung para reinkarnator yang terlahir sebagai bangsawan di negara ini.
Saat ini, jumlah reinkarnator adalah setengah dari jumlah asli mereka.
Yang tidak hadir di sini adalah Lilith yang merupakan reinkarnasi dari Inaka Kagarin, Wandell sera Axian—reinkarnasi dari Tomori Akira, serta Imina yang mereka kenal sebagai 'Pak Sopir' di dunia sebelumnya. Nama asli Pak Sopir itu adalah Inui Saino.
"Ohh, teh ini enak seperti biasa." Rico tanpa pikir panjang langsung memuji teh yang baru saja ia minum, dan pujian itu didengar langsung oleh semua orang yang hadir.
"Aku akan terima pujian itu," ucap Iris sambil tersenyum, membuat Rico langsung mengerutkan keningnya.
"Jadi kau yang membuat ini? Pantas saja rasanya hambar."
Kaira yang duduk di sampingnya hendak memuncratkan teh dari mulutnya saat ia mendengar itu dari Rico, tapi dia menahan diri saat merasakan tatapan tajam menusuknya dari mata Iris yang menyipit.
Sangat disayangkan kemampuan membaca pikiran milik Kaira tidak bisa digunakan pada sesama reinkarnator. Jika bisa, semua pasti akan lebih mudah untuknya.
Hari ini mereka semua mendapatkan libur setelah menyelesaikan ujian terakhir untuk lulus dari akademi. Sekarang, mereka sudah resmi lulus.
Lilith tidak hadir hari ini karena dia mendapatkan panggilan dari keluarganya, jadi dia harus kembali ke wilayah keluarga Valgoff untuk tugas yang belum diketahui.
Sedangkan untuk Wandell dan Imina, mereka berhenti dari akademi setelah tiga tahun belajar, dan memutuskan untuk pergi menjadi petualang yang sederhana.
Tidak seperti di negara lain, bangsawan di Kerajaan tidak akan mendiskriminasi anggota keluarga mereka yang memilih untuk menjadi petualang. Mereka yang tidak ingin anak mereka terlibat dengan pekerjaan itu biasanya orang tua yang cukup protektif, seperti orang tua Stella.
Normalnya, keluarga bangsawan di Kerajaan, terutama keluarga ksatria seperti keluarga Light, menganggap kekuatan tempur adalah nilai tambah untuk pesona dari nama keluarga mereka. Karena itu, mereka tidak akan menentang jika ada anak laki-laki dari keluarga mereka ingin keluar untuk menjadi petualang.
Saat ini, nama Wandell dan Imina sudah sering mereka dengar dari kabar yang beredar pada saat ball dilaksanakan.
"Bisakah kita langsung ke intinya? Aku masih harus mengunjungi tempat lain setelah ini." Anzu dengan jengkel menenggelamkan wajahnya ke meja, dan berharap agar semua percakapan ini cepat selesai.
"Benar juga, belakangan ini kau kelihatan sibuk dengan sesuatu. Apa ada yang terjadi? " Norman bertanya karena dia agak khawatir pada kondisi Anzu.
Tidak hanya Norman, tapi hampir semua orang di sana merasa sedikit cemas terhadap Anzu.
Baru-baru ini, Anzu sangat jarang keluar untuk bertemu dan berbicara dengan yang lain. Dia terus mengurung diri di kamar, dan sesekali akan pergi menuju menara ke-empat yang ada di sudut barat kastil.
"Itu karena aku harus menyelesaikan sesuatu yang sedang kubuat. Aku butuh bantuan dari beberapa Alkemis Kerajaan, jadi aku sesekali mengunjungi mereka."
Dari sakunya, Anzu mengeluarkan sebuah cincin perak yang tipis dengan desain yang sangat minimalis. Hampir tidak ada bedanya dengan cincin biasa, tapi jika diperhatikan lebih detail lagi, bahannya bukan dari logam, dan cincin itu juga memancarkan aura kuat dari energi sihir yang terkandung di dalamnya.
Cincin Anzu bersinar sejenak, lalu sebuah belati muncul di atas meja.
"Ini …."
Mereka sudah melihatnya berkali-kali, dan mereka tidak terkejut lagi saat melihatnya.
Rico dengan cepat menemukan kesimpulan dari apa yang baru saja Anzu lakukan.
"Apa cincin itu mengandung sihir spasial? "
Apa yang baru saja Anzu lakukan mengingatkannya pada cara kerja gudang spasial. Dia melihat itu berkali-kali, tapi masih belum memahami cara kerjanya.
Anzu mengangguk. "Iza … Noelle memberiku beberapa bongkahan batu Estadyte, dan aku mengubahnya menjadi beberapa hal, tapi … cincin ini adalah yang terbaik yang bisa kubuat dengan kemampuanku sekarang."
Sudah tidak terhitung berapa kali ia salah menyebutkan nama Noelle menjadi Iza. Terlalu sering hingga semua orang mulai tidak keberatan jika ia memanggilnya Iza saja.
"Apa ada masalah lain? Apa mengolah batu itu sangat sulit? "
"Jelas." Anzu seketika mengangguk. "Aku tidak bisa sembarangan menyuntikkan sihir lain ke dalamnya, dan mengubah bentuknya juga bukan hal yang mudah, mengingat prinsip dari alkimia adalah 'pertukaran setara'. Bisa menambahkan sihir spasial ini saja sudah luar biasa."
Anzu awalnya meremehkan masalah ini. Tapi itu mungkin karena dia belum pernah mengolah kristal sihir dengan kemurnian tinggi—Estadyte sebelumnya. Jadi saat dia mengolahnya secara langsung, barulah dia akan mengalami kesulitan sejati dalam menghadapi itu.
"Para Alkemis itu terus menanyaiku tentang dari mana aku mendapatkan material super langka ini, dan aku sama sekali tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Sialan, seandainya aku bisa mengolahnya sendiri, aku tidak perlu menghadapi serbuan pertanyaan mereka setiap harinya."
Terlihat jelas kelelahan dari raut wajahnya, dan garis hitam juga secara samar terbentuk di bawah matanya. Itu sudah cukup untuk memberi tahu semua orang tentang betapa lelahnya dia saat ini.
Norman merasa tidak enak, jadi dia langsung memulai diskusi.
"Baiklah, kalau begitu langsung saja. Aku ingin semua orang memberi pendapat kalian tentang kondisi Noelle saat ini."
Kondisi Noelle telah menjadi perbincangan mereka sejak beberapa minggu lalu, dan topik itu sama sekali belum memudar bahkan sampai sekarang.
Sebenarnya, Norman, Rico, dan Kaira telah melakukan penyelidikan untuk mencari keberadaan Noelle, tapi mereka tak menemukan apa pun.
Bahkan, identitas dan asal-usul mereka juga tidak diketahui.
Dari hasil penyelidikan, mereka menemukan kapan dan di mana pertama kali Noelle muncul.
Itu di sebuah desa yang ada di pinggiran. Penduduk lokal mengatakan kalau Noelle dan Olivia telah membantu mereka dalam kesulitan, dan kini mereka sedang menunggu dua penyelamat mereka itu kembali.
Itulah saat pertama kali Noelle dan Olivia diketahui keberadaannya.
Penyelidikan lain dilanjutkan, dan ditemukan kalau dia sama sekali tidak memiliki dokumen identitas. Dia bahkan berniat menyuap penjaga gerbang saat hendak masuk ke kota Suiren.
Bahkan Rico yang memiliki kemampuan analisis terbaik pun masih kewalahan saat berusaha menemukan motif Noelle dalam melakukan aksinya.
Saat ini, kelompok reinkarnator terbagi menjadi dua pihak.
Pihak pertama yang percaya bahwa Noelle telah mati, dan pihak lainnya adalah kelompok yang meyakini kalau Noelle masih hidup.
Secara alami, kebanyakan orang akan masuk ke kelompok pertama.
Yang percaya dan yakin kalau Noelle masih hidup saat ini hanyalah dua orang. Yang pertama adalah Norman, dan yang satu lagi adalah Anzu.
"Ahh, ini lagi … berapa kali kita sudah membahas ini? Seperti yang kukatakan, orang itu pasti masih hidup. Aku yakin dia sedang minum kopi di suatu tempat saat ini."
Di kejauhan, salah satu kafe yang ada di kota Vulip, Republik, sosok Grei Noctis yang baru saja menyesap kopinya langsung bersin.
Dia melihat sekitar, bertanya-tanya apakah ada sesuatu, tapi sepertinya tidak ada yang terjadi. Dia akhirnya kembali melanjutkan kegiatannya tanpa ada masalah.
" … Bagaimana kau bisa membuat kesimpulan seperti itu? "
Norman mencoba bertanya. Meskipun dia sendiri meyakini bahwa Noelle masih hidup, dia sama sekali tidak memiliki opini atau bukti yang dapat memperkuat dugaannya. Singkatnya, itu hanya sebatas dugaan yang ia buat berdasarkan harapannya semata.
Dia tidak ingin percaya kalau Noelle akan tewas begitu saja. Karena itu, dia sedikit berharap kalau Anzu setidaknya akan memberinya alasan untuk mempercayai hal itu.
Mendapat pertanyaan kritis dari Norman, reaksi pertama Anzu adalah tak tertarik. Dia mengangkat kepalanya, bersandar pada kursi, dan menatap awan yang terus bergerak secara tak terlihat.
"Orang itu … bukanlah orang yang akan menerima kematiannya begitu saja. Dia pasti masih hidup, bersembunyi di suatu tempat, dan aku yakin kalau dia juga sudah melakukan sesuatu sebelum menghilang."
Itu bukanlah alasan dari perspektif objektif yang bisa diyakini banyak orang. Sejujurnya, Norman juga sedikit kecewa dengan itu. Dia berharap kalau setidaknya Anzu bisa memberinya alasan yang lebih masuk akal.
"Lalu … kenapa dia harus bersembunyi? " tanya Rico.
Jika itu benar-benar seperti yang Anzu katakan, maka Rico merasa dirinya akan sangat marah.
Dia tidak bisa memaafkan orang yang dengan mudah meninggalkan orang yang sangat bergantung pada mereka. Dia juga tahu betapa dalamnya perasaan yang Olivia miliki terhadap Noelle, jadi dia tidak bisa memaafkan Noelle yang bisa dengan mudah membuang semua hal itu.
Seolah mendengar isi hatinya, Anzu langsung menyipitkan mata dan menatap Rico dengan tatapan tajam. Jenis tatapan yang tak pernah siapa pun duga akan keluar dari sosok Anzu.
"Kau pikir dia akan melakukan itu semudah membalikkan telapak tangan? Aku tidak tahu yang sebenarnya, tapi jika dia benar-benar meninggalkan Ayano, maka aku yakin dia pasti sangat terluka sekarang. Aku sangat yakin kalau dia pergi meninggalkan Ayano untuk melindunginya dari bahaya."
Kata-kata itu ia keluarkan dengan sangat serius. Untuk orang seperti dirinya, ucapan serius adalah sesuatu yang mungkin hanya akan dikeluarkan setahun sekali.
"Itu … masih tidak masuk akal. Dia seharusnya bisa memilih cara lain."
Bagi orang dengan kemampuan analisis super seperti Rico, menemukan solusi dari sebuah masalah adalah hal yang dapat dilakukan dengan relatid mudah. Karena itu, dia cenderung percaya kalau setiap masalah pasti memiliki lebih dari satu solusi.
Memang, dia tidak tahu masalah apa yang dihadapi Noelle, tapi itu tak menghilangkan keyakinannya kalau ada lebih dari satu solusi untuk suatu masalah.
Orang dengan kecerdasan seperti Noelle pasti sudah memikirkannya. Begitulah pikir Rico.
Anzu tersenyum sinis. "Memang begitulah sifatnya. Terlalu analis, dan juga pengecut saat berhadapan pada masalah yang melibatkan orang yang dicintainya. Mengenalnya, dia pasti akan memilih solusi 'mengorbankan diri sendiri' tanpa mengkhawatirkan perasaan orang lain terhadap hal itu."
Izaya yang Anzu kenal adalah orang yang mampu berpikir cepat, seseorang dengan kemampuan analisis yang akurat, namun menjadi pecundang saat berhadapan pada masalah dengan solusi yang berujung pada jalan buntu. Sifat itu sepertinya sama sekali tak berubah hingga hari ini.
Orang yang sejak tadi hanya memperhatikan keduanya, Werli, akhirnya angkat bicara.
"Anzu, aku sudah memikirkan ini sejak kita masih di dungeon, tapi … jenis hubungan apa yang kau miliki dengannya? Apa kau menyukainya? "
Pertanyaan itu terlalu blak-blakan, bahkan untuk orang tak peka seperti Alan dan Rico.
Namun, Anzu justru menanggapinya dengan tenang.
"Suka dalam konteks apa? "
"Romantisme," jawab Werli spontan.
Mendengarnya, Anzu langsung memajang senyum sinis seperti tadi. "Tidak mungkin aku bisa menyukainya dalam pandangan romantisme. Aku menyukainya, tapi itu hanya sebatas pada karakternya saja. Jika itu terkait dengan romantisme, aku tidak tahu, dan bahkan tidak peduli."
Itu adalah ungkapan jujur darinya. Jika diizinkan untuk jujur, maka Anzu akan mengatakan kalau dia menyukai Izaya, tapi itu hanya sebatas karakternya saja. Dia tidak pernah berpikir sekali pun kalau itu akan menjadi perkembangan yang romantis.
Salah satu dari reinkarnator mendengus saat mendengar itu, dan tatapan Anzu langsung tertuju padanya.
Itu adalah Liscia.
"Menyukai hanya sebatas karakter … meskipun kau dengan santai menginap dan tidur di kamarnya? "
Semua orang sudah tahu tentang hal itu. Lagi pula, ingatan Anzu tentang hal itu terpapar dengan jelas saat mereka masih berada di dalam dungeon.
Barulah kemudian Liscia sadar kalau dia telah melakukan kesalahan. Dia seharusnya tidak mengatakan itu.
(Aku harus belajar cara mengunci mulutku.)
Melirik ke arah Anzu, dia menemukan Anzu meremas erat kepalanya sendiri, dan berusaha menahan agar tidak membantingnya ke meja.
Dia benar-benar ingin membunuh dirinya sendiri saat mengingat semua itu.
"S-sudah kubilang, aku tidak mungkin bisa menyukainya dalam pandangan romantis. Meskipun sifatnya yang agak kapitalis itu cocok denganku, aku masih tidak bisa menyukainya lebih dari yang kulakukan saat ini."
Rasa malu bsrcampur dengan keraguan muncul di wajah Anzu, tapi dia dengan cepat mengendalikan otot wajahnya dan menghapus ekspresi aneh itu seketika.
"Selain itu, kupikir hanya satu orang yang benar-benar bisa dia lihat dengan pandangan romantis. Kalau aku benar-benar menyukainya, maka aku tidak akan memiliki kesempatan."
Bahkan tanpa diberi tahu pun, semua orang sudah tahu siapa orang yang dimaksud.
Anzu kemudian diam dan menatap kosong pada permukaan cairan teh di cangkirnya.
"Selain itu … hubungan kami tidak lebih dari hubungan kerja sama. Ini adalah apa yang diwariskan oleh ayahku dan juga Hakui. Kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan."
Nama Wakana Hakui muncul. Ini sedikit tak terduga bahkan meski mereka sudah menebak kalau Anzu sedang berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Kalian semua sudah tahu tentang situasi di baliknya, tapi aku yakin kalian tidak menduga yang satu ini."
Anzu kemudian menopang dagu dengan telapak tangan kirinya, dan tersenyum sinis pada semua orang.
"Dengan asumsi alur waktu dunia ini sama dengan bumi, maka Asahina Tanaka pasti sudah keluar dari penjara sejak lama. Dan saat ini, dia pasti sudah bergabung dengan kelompok lama kami."
Tidak ada yang tahu mengapa Anzu mendadak mengubah pembicaraan ke arah itu, tapi mereka yakin kalau ini bukanlah hal yang baik.
"Anzu."
Norman mencoba menghentikan Anzu dari menyinggung topik itu. Bagaimanapun juga, pembicaraan tentang Asahina Tanaka bukanlah hal yang baik.
Orang bernama Tanaka itu adalah pelaku dari pembantaian ratusan orang di sebuah sekolah, dan mereka semua tahu kalau Noelle ada di balik layar, mengendalikan kejadian itu dengan menghasut Tanaka.
Namun, sayangnya upaya Norman untuk menutup pembicaraan itu tidak berhasil. Anzu menyipitkan mata dan menatapnya langsung, memberikan Norman rasa takut yang entah bagaimana seperti tidak berdasar.
"Ada alasan lain kenapa aku benar-benar tidak bisa menyukainya dalam pandangan romantisme, dan aku akan memberi tahu kalian tentang itu sekarang juga."
...****************...