![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Apa alasannya bertarung? Sudah lama ia ingin mengetahui itu.
Di kehidupan sebelumnya, ia memang tidak bertarung secara langsung, tapi menggunakan pion yang akan bertindak sebagai perpanjangan tangannya.
Bahkan, sampai saat ini pun ia masih bertarung. Berlatih sekuat tenaga sehingga merusak tubuhnya sendiri, dan belajar sekeras mungkin sehingga dapat merancang berbagai rencana yang dapat meminimalisir resiko.
Ia selalu melakukan itu setiap saat. Meskipun begitu, ia masih belum menemukan alasan dibalik semua kerja kerasnya.
Sampai saat ini, ia selalu bersembunyi di balik dua alasan. Yang pertama adalah untuk membanggakan semua orang di keluarga besarnya yang telah menaruh banyak harapan padanya. Dan yang ke-dua adalah untuk menunjukkan pada semua orang bahwa dirinya layak.
Tentu, ia ingin membuat Ayano, atau Olivia senang dengan pencapaiannya. Tapi, entah mengapa ia tak bisa menjadikan sosok gadis itu sebagai alasannya bertarung.
Ia merasa kalau gadis itu, Olivia bukanlah orang yang membuatnya berusaha sekeras ini.
Apakah itu karena didikan yang keras dari keluarganya? Mungkin saja.
Bahkan meskipun orangtua kandungnya telah meninggal dalam sebuah kecelakaan ketika dirinya sendiri masih belum dapat melihat dengan jelas, keluarga besarnya telah dengan keras menanamkan doktrin 'mencapai kemenangan dalam situasi apa pun' padanya.
Sejak kecil ia sudah dituntut untuk menjadi seorang pemenang. Suatu kegagalan adalah hal yang tak dapat dimaafkan.
Terlahir sebagai seorang pewaris utama dari keluarga bergengsi mungkin terdengar seperti sesuatu yang membahagiakan. Tapi, kenyataannya tidak begitu.
Dia harus melakukan segalanya demi mencapai kemenangan, dan dia juga harus melakukan apa pun agar tak memberikan kegagalan yang memalukan pada semua anggota keluarganya.
Meskipun, itu bertentangan dengan keinginannya sendiri.
Untuk apa ia bertarung? Untuk apa ia bekerja keras? Apakah itu benar-benar hanya untuk memenuhi ekspektasi keluarganya? Atau bahkan membuat gadis yang ia cintai, Olivia bangga dengan apa yang ia capai? Dia yakin kalau bukan itu alasannya.
Bertahun-tahun menjalani kehidupan seperti yang diajarkan keluarga besarnya, mungkin telah membuat pikirannya sedikit rusak karena ia bahkan tak mampu memahami dirinya sendiri.
Ia tak dapat memahami dirinya sendiri. Itu adalah kenyataannya. Tapi, karena itulah ia butuh seseorang yang dapat memahaminya. Dengan begitu, setidaknya ia dapat menjadikan sosok itu sebagai alasannya untuk bertarung.
Dia tak menganggap dirinya sendiri sebagai orang baik, tapi dia juga tidak mengakui kalau dirinya adalah orang yang jahat. Dirinya yang baik yang diketahui semua orang, dan dirinya yang jahat yang hanya diketahui orang-orang tertentu, kedua kepribadian itu adalah dirinya yang asli.
Membiarkan banyak perasaan positif diarahkan padanya, juga membiarkan banyak perasaan negatif diarahkan padanya. Dia akan menerima itu semua tanpa ada keraguan. Ia tak dapat menolaknya. Semua perasaan itu, ia tak dapat menghindarinya.
Terlahir sebagai seseorang yang dapat dengan mudahnya menerima dan menanggung semua kebaikan, sekaligus kebencian. Itu adalah inti dari keberadaannya.
Itulah sosok Canaria Izaya. Sosok yang sangat polos dan bodoh sehingga tak dapat memahami dirinya sendiri. Membiarkan dirinya terseret dalam sebuah arus kuat dan mengerikan yang dinamakan 'situasi', dan 'kehidupan'.
Seseorang yang bertarung untuk menemukan alasannya bertarung.
Benar-benar sosok yang menyedihkan, sekaligus menggelikan.
...****************...
Kilatan violet memenuhi ruang bawah tanah yang gelap itu. Setiap kali kilatan itu muncul, setidaknya ada lebih dari dua orang yang menjerit kesakitan sebelum akhirnya terjatuh ke tanah dalam keadaan tak bernyawa.
Noelle melompat dari satu tempat ke tempat lain, untuk mengincar semua titik lemah makhluk raksasa itu.
Mata merah cerah itu sama sekali tak menunjukkan keraguan dalam setiap gerakannya.
Dia hanya terus melompat dan mengayunkan pedangnya pada titik yang telah ditentukan.
Beberapa pedang yang terlihat sangat tajam sedang melayang mengelilinginya, seperti sebuah satelit yang mengorbit pada pengendalinya.
"Sial! Bajingan itu gila! "
Teriakan panik dari beberapa orang musuhnya terus memenuhi telinganya sejak tadi. Tapi, ia dengan mudah mengabaikan mereka semua dan kembali fokus pada pertempuran yang sedang berlangsung.
Bukan tanpa alasan ia mengabaikan mereka semua. Itu tentu saja karena ia percaya pada orang yang saat ini juga sedang bertarung bersamanya.
Olivia dengan senyum lebar yang masih terpampang wajahnya dengan cepat berlari dan berakselerasi sambil mengayunkan pedangnya pada musuh. Dan di saat yang sama, ia juga mengendalikan beberapa kubus hitam yang pada akhirnya ia tembakkan seperti sebuah peluru.
Ayunan pedang yang sangat rapih tanpa ada sedikit pun celah dalam gerakannya, serta wajah cantik yang menjadi sumber serangan itu. Itu adalah hal terakhir yang dilihat oleh musuhnya, sebelum mereka semua mati dalam keadaan yang mengenaskan.
Noelle yang melihat apa yang Olivia lakukan itu hanya mampu tersenyum masam. Bukan berarti ia tak keberatan untuk melihat Olivia merenggut nyawa orang lain dengan tangannya. Tapi itu karena ia tak dapat melakukan apa pun untuk menghentikannya.
Jika ia memaksa Olivia untuk berhenti melakukan apa yang sedang ia lakukan sekarang, maka Olivia hanya akan marah padanya.
Dengan berbagai alasan, Olivia bisa saja mengembalikan semua argumen Noelle, dan dengan mudah memenangkan perdebatan.
Selain itu, Noelle juga tak perlu takut Olivia akan terluka.
Di sana, ia melihat beberapa orang reinkarnator yang tergabung dalam kelompok Norman sedang ikut bertarung melawan para monster dan semua penyerang yang mulai mengepung mereka.
Untuk saat ini, Noelle setidaknya bisa menyerahkannya pada mereka.
Ia tidak tahu seberapa kuat reinkarnator yang lain, tapi seharusnya itu cukup untuk mengukur waktu sampai ia menyelesaikan pembasmian monster yang mengganggu.
(Meskipun aku memikirkan itu … Bagaimana aku bisa menghabisi bajingan ini … )
Noelle dengan bingung menatap sosok raksasa di hadapannya.
Penampilannya sangat tidak jelas. Selain ukurannya yang raksasa, dan bentuknya yang humanoid, Noelle tak dapat menentukan jenis monster apa itu.
Tubuhnya benar-benar hitam pekat, seolah menyerap semua cahaya yang menyinarinya, dan dua lingkaran besar bercahaya putih kebiruan yang tampak seperti mata itu menatap Noelle tanpa ada perubahan pada bentuknya.
Tapi, bukan itu yang menjadi perhatian Noelle.
Yang membuat monster itu menjadi lawan yang merepotkan adalah kemampuan regenerasinya yang sangat cepat.
Itu benar-benar mengganggu.
Setiap kali Noelle memotong satu anggota tubuhnya, anggota tubuh yang terpotong itu seketika lenyap menjadi asap, dan tubuh monster yang terluka itu akan pulih dalam sekejap.
Selain itu, ada juga beberapa monster lain yang sejak tadi mengganggunya.
Itu adalah beberapa monster berbentuk aneh yang menumbuhkan kristal di tubuh mereka.
Mereka terus mengalir keluar dari celah yang terbentuk di ruang kosong.
Noelle benar-benar tidak tahu celah apa itu, tapi itu adalah sumber semua monster yang menyerangnya, jadi ia hanya perlu menghancurkannya.
Tapi, bagaimana?
Sejak tadi, Noelle beberapa kali mencoba menebas celah pada ruang kosong itu, tapi tebasan pedangnya sama sekali tidak berpengaruh, dan dengan alami menembus celah itu.
Pada akhirnya, Noelle lebih memilih untuk mengabaikan celah itu sambil terus menyerang semua musuhnya.
Tentu saja, ia juga dengan keras memikirkan bagaimana harus menghentikan penyerbuan monster ini.
Saat dia tenggelam dalam pikirannya sendiri, beberapa sosok yang sudah ia tunggu akhirnya muncul.
Itu adalah semua anggota Asterisk, termasuk Souris yang sebenarnya adalah Harold yang menyamar.
Damian dengan waspada mengamati sekitar bersama Asher, sementara Colyn dengan terkejut menatap Noelle yang masih bertarung dengan beberapa monster sekaligus.
"Eh? Bukankah itu Souris?! Lalu, siapa Souris yang ada bersama kita sekarang?! "
Teriakan paniknya itu membuat semua anggota Asterisk yang lain sontak menoleh padanya, lalu mengikuti arah matanya yang menatap sosok Noelle.
Pandangan mereka semua bergantian antara Noelle dan Souris. Tapi, tak lama kemudian situasi itu mereda karena Noelle memberikan sinyal tangan pada mereka.
Isi sinyalnya menjelaskan kalau ia tak bisa muncul sebagai Souris sekarang ini. Dan sebagai gantinya, ada seseorang yang akan menggantikannya memainkan peran itu.
Orang yang dimaksud itu tentu saja Harold.
Damian mengangguk, mengkonfirmasi sinyal dari Noelle.
"Jangan pedulikan itu, Pauper. Fokus pada semua monster yang ada di sekitarmu! Dengan kekuatanmu, kau seharusnya bisa menangani mereka! "
Colyn terlihat keberatan dengan apa yang Damian katakan. Tapi, pada akhirnya ia hanya bisa menghela napas pasrah sambil mengemudikan bantalnya ke kelompok Norman yang tampak terengah-engah saat menghadapi kerumunan monster yang tak ada habisnya.
"Kau! Gadis yang sebelumnya! "
Kaira berteriak dan mengarahkan senjatanya pada Colyn, tapi Colyn dengan santai mengabaikan itu sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada gunanya mengancamku seperti itu. Kalau kau pernah melihatku, kau seharusnya tahu kekuatanku."
" … Tch."
Dengan kata-katanyq, Colyn mengisyaratkan kalau ia sama sekali tidak dapat dikalahkan hanya dengan kekuatan yang Kaira miliki saat ini.
Kaira benci mengakuinya, tapi itu benar.
Ia sudah melihat kekuatan Colyn saat ia bertarung dengan Nix Regina. Hanya dengan itu, Kaira dapat dengan mudah menyimpulkan kalau Colyn tidak akan mudah untuk dikalahkan.
"Baiklah, waktunya cemilan tengah malam."
Colyn dengan lesu mengayunkan lengannya. Seketika, semua monster yang sebelumnya membuat Kaira dan yang lain kerepotan itu menghilang tanpa jejak.
Seolah, keberadaan mereka memang tidak pernah ada sejak awal.
"Mmm … Merepotkan untuk menghabisi semua musuh yang tersebar ini … "
Colyn kemudian kembali ke tempat anggota Asterisk lainnya sudah menunggu. Dia lalu menoleh dan bertanya pada Lucia.
"Hei, apa kau bisa menggunakan sesuatu seperti sihir dukungan? Akan lebih baik jika stamina semua orang itu bisa dipulihkan."
Lucia mengangguk. "Memang benar. Setidaknya kita bisa menyerahkan sebagian besar musuh pada mereka jika kita memulihkan kekuatan mereka. Tapi, sayang sekali aku tidak memiliki kemampuan pendukung semacam itu."
"Hmm … Lalu, bagaimana dengan kalian? "
Satu-satunya hal yang menarik perhatian Colyn sejak tadi adalah Tania yang menatap celah di ruang kosong itu dengan muram.
"Ada apa, Mordred? Kau terlihat kebingungan."
"Tunggu, kau bisa membedakan ekspresinya? Di mataku wajahnya sama sekali tidak berubah," timpa Arnaz sebelum akhirnya mendapat tatapan dingin dari Colyn.
Semua orang selain Arnaz tentunya dapat merasakan perubahan suasana yang terjadi pada Tania. Tapi, mereka diam-diam telah sepakat untuk tidak membahasnya.
Tentu saja, tepat sebelum Colyn sendiri yang menanyakan itu padanya.
Tania terlihat bingung ketika dia mendapatkan tatapan dari semua orang. Meskipun begitu, ia tak mengatakan apa pun dan memeluk gagang sabitnya dengan kuat.
(Sepertinya ini tidak akan mudah … )
Colyn hanya bisa pasrah saat memikirkan keseluruhan situasinya. Ia sudah berada dalam suasana hati yang buruk sejak tadi, dan itu menjadi semakin buruk saat ia datang ke tempat ini.
Sementara itu … Di dalam pikiran Tania …
(Navi, apa kau tahu kenapa gerbang ke dunia bawah tiba-tiba terbuka? )
『Tidak mungkin aku tahu. Aku sama terkejutnya denganmu. Aku sama sekali tidak menyangka kalau gerbang ke dunia bawah akan kembali terbuka seperti ini.』
(Apa ini ulah mereka? )
『Tidak, aku ragu dengan itu. Sudah lama sejak kita membunuh para bajingan itu. Aku rasa, orang yang membuka gerbang ke dunia bawah ini adalah orang yang berbeda dari sebelumnya.』
(Begitu, ya … )
Di saat Tania sedang dalam diskusi yang membingungkan dengan Navi di dalam kepalanya, satu sosok yang sudah mereka tunggu sejak tadi akhirnya muncul.
Sebuah kilatan cahaya yang sebenarnya adalah tembak dengan cepat melesat dan mendarat tepat di antara para monster.
Tombak itu mengeluarkan cahaya yang membutakan. Namun, anehnya sangat menenangkan untuk semua orang yang ada di sekitarnya.
Meskipun begitu, cahaya tombak itu sangatlah mematikan bagi para monster.
Hal itu sudah cukup jelas dengan para monster yang tiba-tiba berubah menjadi abu ketika cahaya yang kuar dari tombak itu mulai mereda.
Sesaat kemudian, sosok yang menjadi dalang di balik serangan tombak itu akhirnya muncul.
Itu adalah Knight of Round, Lucius Roux.
...****************...
Lucius memperhatikan sekitarnya untuk memahami situasi. Sementara itu, Norman dan yang lain cukup terkejut saat melihatnya.
"Lucius! " teriak Norman.
Teriakan itu membuat Lucius secara refoeks menoleh pada Norman. Raut wajahnya seketika berubah, ketika melihat seorang pangeran seperti Norman berada di tempat yang sedang dalam keadaan darurat ini.
Lucius seketika menghentikan semua tindakannya, dan dengan cepat menghampiri Norman.
Namun, apa yang menantinya di sana adalah sesuatu yang sangat mengejutkan baginya.
Itu adalah sosok yang sama dengan yang sebelumnya berbicara dengan Lucius di Rondo. Atau setidaknya itulah yang Lucius pikirkan.
Lucius terus mengarahkan pandangannya pada Souris, yang sebenarnya adalah Harold. Sementara anggota Asterisk yang lain juga tampak tercengang dengan kemunculannya.
"Kau! Bagaimana kau bisa sampai ke sini?! " teriak Lucius.
Meskipun begitu, Harold mengabaikan semua reaksi mereka semua dan terus menghabisi setiap musuh yang ada di hadapannya.
Noelle yang melihat semua itu tersenyum kecil dan menganggap kalau situasinya sudah sedikit lebih terkendali. Dia pun melompat menjauhi monster humanoid raksasa itu, kemudian mendarat tepat di samping Olivia.
"Apa aku membuatmu menunggu terlalu lama? " tanya Noelle.
Olivia tersentak sejenak saat melihat kemunculan Noelle, tapi segera mengganti ekspresi di wajahnya yang sebelumnya berupa senyum gila yang mengerikan, menjadi senyum lembut yang seolah menyambut kekasihnya itu.
"Aku senang Noelle benar-benar kembali padaku," ucap Olivia.
Noelle tersenyum masam dan mengelus kepala Olivia yang tepat berada di bawah dagunya.
"Padahal ini baru sekitar satu jam sejak aku pergi. Apa kamu merindukanku? "
"Ya, sangat," jawab Olivia sambil menyipitkan matanya.
"Mhmm … Kalau begitu, maaf karena membuatmu menunggu."
Senyum di wajah Olivia semakin melebar saat ia menenggelamkan wajahnya di dada Noelle.
Noelle secara alami melonggarkan ekspresinya saat melihat tingkah Olivia itu, tapi ia kembali menyipitkan matanya dengan tajam saat memperhatikan lingkungan sekitarnya yang masih dipenuhi pertempuran.
(Sekarang … Aku sudah cukup mengerti situasinya. Tapi … Aku penasaran bagaimana harus mengatasi ini … )
Meskipun pada kenyataannya Noelle tidak begitu peduli dengan penduduk Eisen, ia tertarik dengan cara apa yang harus ia lakukan untuk menghentikan masalah ini.
Dalam kurun waktu satu minggu, Eisen telah diserang beberapa kali oleh sosok yang memiliki kekuatan setara dengan monster.
Penyerangan yang dilakukan Nix Regina sudah dipastikan tidak ada hubungannya dengan kudeta yang dilakukan Terneth, serta penyerangan yang saat ini sedang terjadi.
Jadi, Nix Regina telah dikeluarkan dari daftar tersangka.
Satu-satunya kesimpulan Noelle saat ini adalah kenyataan kalau Terneth pasti ada hubungannya dengan penyerangan ini.
Saat ia memikirkan itu, ia kemudian menyadari satu hal.
" … Hei, Livia … "
" … Apa? "
Olivia mengangkat wajahnya sedikit, dan menatap Noelle dengan bingung walaupun senyum manis masih terpampang di wajahnya.
"Apa kamu tahu di mana Earl sekarang? "
" …? "
Memiringkan kepalanya sejenak, Olivia kemudian menggeleng. "Tidak, aku sama sekali tidak melihatnya sejak tadi. Tapi … Aku rasa dia masih di permukaan sekarang."
"Di permukaan, ya … Apa yang dia lakukan di sana … "
Noelle menyipitkan matanya dengan curiga, lalu kembali memperhatikan sekelilingnya dengan teliti.
(Setelah dilihat-lihat, hanya ada sedikit penduduk yang berada di sini … Apa yang bajingan tua itu rencanakan sekarang … )
Setelah memberikan Noelle pekerjaan yang membuatnya terlihat dengan Asterisk, orang itu justru menghilang begitu saja saat teritorinya diserang oleh musuh tak dikenal.
Noelle kemudian memperhatikan sosok Harold yang menyamar sebagai dirinya itu sedang mengayunkan dua pedang darahnya dengan brutal pada semua musuh.
Setiap lawan yang terkena pedang itu, tubuh mereka akan terbelah dalam seketika. Harold menciptakan pedang itu dengan memadukan kemampuannya dalam mengendalikan bayangan, serta darah.
Singkatnya, itu adalah contoh serangan yang dihasilkan jika kekuatan pengendalian bayangan dan darah di satukan.
Noelle tertarik untuk mencoba beberapa eksperimen dengan kemampuan itu. Tapi, dia sekarang sedang memiliki masalah lain.
(Yahh, untuk sekarang … Seharusnya aku bisa menyerahkan masalah monster di sana.)
Noelle menghela napas sejenak saat memikirkan pembagian tugas yang sempurna ini.
Dia dan Olivia akan bertarung bersama untuk menyingkirkan semua musuh yang sejak tadi Olivia hadapi, sementara Harold dan anggota Asterisk yang lain bertarung bersama untuk menghabisi pada monster yang terus mengalir keluar tanpa henti dari celah yang terbentuk di ruang kosong itu.
Untuk Lucius, yahh, lupakan dia.
Dia memiliki tugas penting berupa melindungi pangeran.
Namun, sang pangeran, Norman justru memerintahkan Lucius untuk ikut menghabisi musuh dan menyelamatkan semua penduduk yang terluka, sementara Norman akan ikut membasmi para monster dengan anggota kelompoknya.
Awalnya, Lucius tak mau mengambil resiko dengan membiarkan Norman bertindak sendirian. Tapi, Norman memiliki beberapa rekan dengan kekuatan yang sangat berguna dalam pertempuran.
Setidaknya, Lucius bisa bernapas dengan lega sekarang.
Meskipun begitu, perhatiannya tak luput, dan terus tertuju pada satu sosok.
Itu adalah Souris. Laki-laki yang sebelumnya memberinya informasi tentang rencana penciptaan senjata malaikat.
Penampilannya sama persis, tapi Lucius dapat dengan jelas meyakini kalau Souris yang ada di hadapannya saat ini bukanlah Souris yang asli.
Pandangannya kemudian tertuju pada semua anggota Asterisk yang lain.
Mereka semua adalah orang-orang yang menyebabkan kekacauan pada Rondo, wilayah yang berada di bawah penjagaannya.
"Siapa bajingan yang menyamar sebagai bocah itu sekarang … " ucap Lucius sambil memperhatikan Souris.
Gaya bertarungnya sangat berbeda dari yang Lucius ingat.
Secara alami, Lucius tahu kalau Souris yang ada di hadapannya sekarang adalah 'palsu'.
Sementara itu, Souris yang asli …
(Kelihatannya Lucius sudah menyadari penyamaran Harold … Bajingan itu benar-benar tidak berbakat dalam akting.)
—Sekarang … Ayo beralih ke rencanaku yang lain.
...****************...