![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
(Mimpi ini lagi, ya … )
Cryll dengan kesadarannya yang masih belum terkumpul sepenuhnya mencoba untuk memperhatikan ke sekeliling.
Sama sekali tidak ada apa pun di sekitarnya. Itu adalah sebuah ruangan tanpa batas dengan warna yang sepenuhnya putih.
Tidak ada satu pun objek yang menghiasi. Semuanya berwarna putih murni.
Itu benar-benar pemandangan yang menyilaukan dan membuatnya mual saat ia pertama kali melihatnya. Namun, kini ia sudah cukup terbiasa.
Dia hanya merasa sedikit silau ketika cukup lama menatap ruangan putih itu.
(Seharusnya sebentar lagi … )
Berdasarkan pengalamannya selama ini, seharusnya ia akan berada di ruang putih tak berujung ini untuk beberapa menit.
Indera perasanya akan waktu telah mati, jadi ia hanya bisa menebak-nebak, dan menggantungkan semuanya pada keberuntungan.
Tak lama kemudian, tepat seperti yang ia pikirkan.
Ruangan berubah, kini menjadi suatu tempat aneh dengan ratusan tangga yang mengarah ke seluruh tempat.
Langit yang sebelumnya putih kini berubah menjadi merah cerah, dan lantai putih tempat ia sebelumnya berpijak telah sepenuhnya menghilang, digantikan dengan pijakan yang terbuat dari batu, menghubungkan empat tangga secara keseluruhan.
Satu-satunya tempat berpijak adalah lantai batu berukuran 3 × 3 meter, serta tangga tak berujung itu. Selain itu, hanya ada ruang kosong yang dipenuhi dengan warna merah yang menyilaukan.
Ini adalah tempat yang terlihat aneh, sekaligus mengerikan. Namun, Cryll sama sekali tidak menunjukkan ekspresi keterkejutan saat melihatnya.
Dia sudah sering berada di sini. Lebih tepatnya, hampir setiap malam ia menghabiskan waktunya di sini.
Labirin dan tangga tak berujung ini, adalah pemandangan yang selalu menemaninya di dalam mimpi.
Cryll berjalan menaiki tangga, dan membuka pintu yang ada di ujung tangga itu.
Begitu ia memasuki pintu, apa yang ada di hadapannya adalah pemandangan yang sama dengan sebelumnya. Hanya ruang merah aneh dengan ratusan tangga dan pintu yang mengarahkannya ke pintu lainnya.
Dia sudah sering berada di sini, jadi ia cukup mengerti dengan polanya. Tidak akan ada jalan keluar. Semua pintu yang ada di sana hanya akan memindahkannya ke pintu lainnya. Semua pintu itu saling terkoneksi satu sama lain.
Tidak peduli pintu apa yang dia masuki, dia tidak akan pernah keluar dari sini. Dia sudah cukup terbiasa dengan itu.
Langit merah cerah tanpa adanya penghias, suara jeritan yang memekakkan telinga, dan labirin tanpa jalan keluar ini adalah apa yang selalu menemaninya dalam mimpi ini.
Namun, itu belum semuanya.
Bagian utamanya masih belum dimulai. Cryll dengan sabar menunggu sambil berkeliling di labirin itu.
Dan tepat seperti yang ia harapkan, suara-suara itu mulai menghilang, digantikan dengan keheningan total.
Langit terdistorsi, dan semua pintu itu mulai menghilang satu per satu, bersamaan dengan tangga yang menghubungkannya.
Pijakan tempat Cryll berdiri sekarang telah menghilang bersamaan dengan tangga itu. Namun, dia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan terjatuh.
Sosoknya melayang di tempat, seolah ia memang tidak membutuhkan pijakan itu sejak awal.
Tak lama kemudian, pemandangan di sekitarnya mulai berubah.
Langit merah yang sebelumnya menjadi satu-satunya hal yang ada di sana, kini digantikan dengan langit putih kebiruan, dengan kelopak bunga merah muda yang berterbangan menghiasinya.
(Sudah dimulai, ya … )
Cryll menyipitkan matanya, dan memperhatikan sekeliling.
Semua pemandangan itu telah berubah.
Kini ia berdiri di atas rumput hijau, dengan sebuah kursi taman tepat di belakangnya.
"Apa yang kau lakukan di sini? "
Suara itu datang dari kursi itu. Atau lebih tepatnya, suara itu datang dari sosok laki-laki yang duduk di kursi itu.
Cryll menoleh, dan melihat penampakan laki-laki itu.
Tidak salah lagi, itu adalah dirinya. Namun, figur wajahnya terlihat sedikit lebih dewasa dari dirinya yang sekarang.
"Tidak ada, aku hanya mencari bahan untuk melukis di kanvasku."
Laki-laki lain yang duduk tepat di sebelahnya dengan ringan menjawab itu.
Dia memiliki rambut berwarna hitam pekat, dan mata emas yang indah.
Setelah Cryll memperhatikannya, ia menyadari kalau laki-laki itu memiliki figur yang cukup tampan.
Tatapan matanya tajam, dan wajahnya juga tampak tegas, meskipun pada saat yang sama itu juga tampak polos, membuatnya memiliki karakteristik wajah yang androgini.
Di tangannya, ia memegang sebuah kanvas persegi, dengan pensil dan perlengkapan melukis yang diletakkan di sisinya.
Mereka berdua duduk berdampingan, tampak santai saat menikmati hembusan angin yng menimpa wajah mereka.
Laki-laki berambut hitam itu tampaknya akan menjadikan pohon sakura di depannya sebagai objek lukisan. Itu terbukti dengan bagaimana ia telah mengarahkan pensilnya dan membuat perhitungan kasar tentang ukuran pohon itu.
Cryll tersenyum saat melihatnya. Biarpun ini semua adalah hal yng aneh, entah mengapa ia hanya bisa merasakan ketenangan di tempat ini.
Ia idak memiliki ingatan tentang momen ini, ia juga tidak pernah memiliki ingatan tentang siapa laki-laki itu sebenarnya.
Yang jelas, ia yakin kalau semua ini adalah hal yang penting baginya.
Cryll meletakkan telapak tangannya di sandaran kursi, dan memperhatikan lukisan laki-laki itu.
Baru lewat beberapa menit sejak laki-laki itu mulai menggambar, tapi pohon sakura yang menjadi objek gambarnya telah dengan sempurna disalin di atas kanvas itu.
"Hari yang tenang, ya … "
Cryll lain yang duduk bersama laki-laki itu menghela napas lega, menunjukkan wajah kepuasan saat memperhatikan langit putih kebiruan itu.
"Ini memang hari yang damai. Tapi … Ini akan berakhir tidak lama lagi."
" …… Kau benar."
Meskipun dialog dan momen itu telah diulang sebanyak ribuan kali di mimpinya, Cryll masih tak dapat memahami apa yang mereka berdua bicarakan. Sama sekali tidak ada petunjuk.
Semua adegan yang diputar di hadapannya selalu sama setiap saat. Namun, bagian yang paling menyebalkan dari itu semua adalah dia akan kehilangan semua ingatannya tentang apa yang terjadi di mimpi ini ketika dia bangun.
Begitu ia bangun, semua kenangan tentang hal ini akan menghilang. Dia sudah sadar akan hal itu.
Mungkin karena itulah ia tidak bisa membentuk suatu pemahaman yang jelas tentang situasi yang kini ia hadapi.
Tak lama kemudian, adegan kembali berganti.
Langit putih kebiruan yang indah sebelumnya kini telah berganti menjadi langit-langit bangunan yang dihiasi dengan berbagai ornamen yang mewah dan indah.
Tanah berumput hijau yang sebelumnya menjadi tempat ia berpijk kini menjadi lantai keramik dengan karpet merah di atasnya.
Pemandangan di sekitarnya telah berubah dengan sangat drastis.
Beberapa lampu gantung besar tampak menghiasi langit-langit, dan beberapa pilar yang tampak mewah ditempatkan di beberapa titik untuk menjadi tiang penyangga agar langit-langit itu tidak runtuh.
Dia dalam diam memandangi itu semua, sebelum akhirnya merasakan kehadiran yang mendekat.
Itu adalah dirinya, dengan setelan pakaian formal yang indah, disertai sebuah sarung pedang yang menggantung di bagian kiri pinggangnya.
Di belakangnya, seorang gadis yang tampak sangat cantik berjalan mengikutinya.
Gadis itu memakai pakaian dengan basis warna merah yang indah. Gaun dengan punggung terbuka itu memiliki banyak rumbai dan ekor yang akan bergoyang mengikuti setiap langkah yang ia ambil.
Tepat di belakang gadis itu, tiga buah salib besar melayang mengikutinya.
Cryll merasa sangat tidak asing dengan gadis itu, tapi ia tetap tidak bisa mengingatnya, tidak peduli seberapa keras ia berusaha.
Rambutnya putih, memanjang sampai ke pinggangnya. Di bagian kepalanya, ia memakai sebuah hiasan berbentuk bunga dengan enam kelopak yang tajam. Matanya memiliki ciri yang heterokrom, satu mata berwarna emas, dan yang satu lagi hijau seperti sebuah zamrud.
Itu benar-benar perbedaan yang mencolok.
Meskipun memiliki penampilan yang sangat menarik seperti itu, entah mengapa gadis itu menunjukkan ekspresi melankolis dengan tatapan matanya yang memandangi lantai dengan sedih.
Cryll dapat dengan jelas melihat keputusasaan yang dimiliki gadis itu. Dia terlihat seperti sedang bimbang akan sesuatu.
Sosok gadis itu terus berjalan menyusuri karpet merah, mengikuti Cryll yang berjalan di depannya.
Namun, Cryll tiba-tiba berhenti, membuat gadis yang ikut berjalan di belakangnya terkejut.
Cryll berbalik dan menatap mata gadis, itu lalu membuka mulutnya.
"Isis."
" … Apa? "
Gadis itu, Isis menjawab panggilannya dengan suara datar.
"Apa kau sudah menemukan tujuan hidupmu? "
"Ada apa? Menanyakannya tiba-tiba seperti itu … "
Isis memiringkan kepalanya dengan bingung, jelas tidak mengerti dengan apa yang sedang Cryll bicarakan.
Meskipun begitu, Cryll tidak menghiraukan kebingungannya, dan terus berbicara.
"Aku adalah pedangnya. Tugasku adalah menyingkirkan semua yang menghalanginya, dan membantunya mencapai apa yang ia inginkan. Itu adalah tugasku. Sebuah pekerjaan yang kotor dan penuh dosa. Tapi, itu berbeda denganmu."
" ……… "
Meskipun dia tampaknya sudah mulai memahami apa yang Cryll katakan, Isis sama sekali tidak memiliki kalimat yang tepat untuk menjawabnya.
"Kau tidak harus bertarung di garis depan, kau memiliki peran lain yang lebih penting dari itu semua. Aku adalah pedangnya, dan kau bukan. Kita berbeda, tapi tujuan kita sama. Yaitu membawakan kemenangan untuknya."
Isis mengangkat wajahnya, lalu menatap Cryll.
"Dari kata-katamu … Sepertinya kau telah memutuskan sesuatu, ya … "
" … Mungkin."
Isis dapat mendengar suatu ketidakpastian dari nada bicaranya.
(Apa yang sebenarnya terjadi … )
Sementara itu, Cryll yang asli menyaksikan semua itu berlangsung dengan pandangan bingung.
Siapa gadis itu, atau bahkan apa dia bagi dirinya, Cryll tak dapat mengingat itu semua.
Ia yakin kalau gadis itu—Isis—pastilah orang yang cukup membekas baginya. Namun, ia tak dapat mengenalinya tak peduli seberapa keras pun ia berusaha.
Sementara dirinya masih dilanda oleh kebingungan, tiruan dirinya yang tampak lebih dewasa itu kembali membuka mulutnya.
"Kau tahu, sebenarnya kau memiliki tugas yang jauh lebih penting dari apa pun yang aku, kami semua miliki. Itu adalah tugas yang hanya kau yang bisa melakukannya."
Menghadapi Isis yang berteriak dengan penuh kebingungan, Cryll hanya bisa menghela napasnya sambil tersenyum kecil.
"Kau benar-benar bodoh. Itulah yang menjadi masalahmu selama ini, Isis."
"Apa maksudmu? "
Isis benar-benar tidak mengerti maksudnya. Begitu pula dengan Cryll asli yang menonton semua kejadian itu. Dia masih diliputi oleh kebingungan sementara dialog antara tiruan dirinya dengan Isis terus berlanjut.
"Kau adalah orang yang paling lama berada di sisinya. Hanya dengan itu saja, semua orang sudah mengerti."
" … Lalu apa? Bahkan meskipun semua orang mengerti dengan apa yang tidak kumengerti, apa itu akan membawa suatu perubahan? Apa tugasku, atau apa tujuan hidupku. Aku sama sekali tidak mengerti hal itu. Yang aku tahu hanyalah hidup. Hanya itu."
"Tidak, kau salah. Kau memiliki peran jauh lebih penting dari yang pernah kau pikirkan. Meskipun itu terdengar sepele, ini sangatlah penting bagi semua orang, termasuk diriku."
" ……… "
"Peranmu adalah menjadi pendampingnya. Kau hanya harus terus berada di sisinya, tidak peduli apa yang terjadi. Itu adalah tugasmu. Kau tidak boleh membiarkannya sendiri. Kau berbeda dari semua orang. Kau memiliki pengaruh yang sangat penting bagi dirinya."
" ……… "
Isis masih tidak menjawabnya, mungkin karena ia benar-benar tidak memiliki kalimat yang tepat untuk merespon itu.
Meskipun begitu, itu tidak menjadi masalah bagi Cryll. Dia terus melanjutkan kalimatnya tanpa peduli apakah Isis mengerti atau tidak.
"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Aku cukup yakin kalau umurku tidak akan panjang. Karena itulah, aku tidak bisa terus-terusan mengawasi kalian. Suatu saat, kalian pasti akan merasakan waktu di mana semua hal telah berubah."
"Aku–"
Tepat sebelum Isis menjawabnya, Cryll menutup matanya dan tersenyum.
"Yahh, pada akhirnya, apa yang ingin kukatakan adalah … Kau tidak perlu mencemaskan semua hal yang tidak penting. Kau hanya perlu berada di sisinya, melakukan hal yang menurutmu benar. Dengan begitu–"
Lagi-lagi, kalimatnya terpotong. Cryll yang asli yang melihat itu mau tak mau mencoba memberontak demi memuaskan keingintahuannya. Dia ingin tahu apa yang akan dirinya katakan di sana.
Namun, itu sia-sia.
Kesadarannya perlahan menghilang seolah ditarik oleh sesuatu yang sangat kuat, membuat pemberontakannya jadi sia-sia.
Detik kemudian, kesadarannya kembali. Dan dia terbangun di sebuah ruangan dengan jeruji besi mengelilinginya.
" … Sialan … "
Dan sekali lagi, ia telah melupakan semua hal yang terjadi di mimpinya.
...****************...
—Eisen.
Di sebuah rumah yang masih berdiri kokoh di tengah tanah Eisen yang masih dalam tahap perbaikan.
Noelle dengan otot wajahnya yang berusaha menahan diri dari membentuk suatu senyum itu sedang memandangi buku yang ada di hadapannya.
Seperti biasa, ia masih ada di kamarnya, mengisi jurnal harian seperti yang selalu dia lakukan.
Hanya saja, ada sesuatu yang tampak sangat berbeda hari ini.
Halaman buku jurnal itu masih kosong, jelas kalau Noelle belum menulis apa pun di sana. Meskipun begitu, ia terus berusaha menahan senyum di wajahnya, tidak peduli dengan lembaran kosong itu.
Dari tempatnya duduk, Noelle bisa mendengar bagaimana suara air yang terus mengalir dari pancuran, menetes dengan deras ke lantai.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka, dan sosok Olivia yang hanya menggunakan handuk itu keluar bersama Levina digendong di tangannya.
Noelle yang lebih dulu menyadari mereka keluar langsung menoleh, dan memperhatikan Levina yang tertidur.
"Apa anak-anak memang bisa tidur secepat ini? "
Olivia tersenyum, lalu menjawabnya setelah membaringkan Levina di kasur.
"Air hangatnya nyaman. Dia tertidur dengan sangat pulas saat aku memandikannya."
Meskipun Olivia mengatakan itu, dia sebenarnya telah membuat Levina tertidur secara paksa menggunakan sihir hipnosis miliknya yang telah berkembang.
Dan tentu saja, ia tidak memiliki niat untuk memberi tahu Noelle akan hal itu.
Setelah membaringkan Levina, Olivia kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Noelle dapat melihat bagaimana Levina dapat bernapas dengan tenang sambil memberikan wajah polos itu.
Dia benar-benar tidak pernah berpikir akan menyaksikan seorang anak akan tidur di tempat dirinya dan Olivia biasa tidur berdua. Ini benar-benar pemandangan yang aneh, sekaligus menenangkan.
Olivia tampaknya menyadari apa yang Noelle pikirkan. Dia tersenyum, dan berjalan mendekatinya.
" … Pakai dulu pakaianmu."
Noelle kembali mengalihkan pandangannya pada halaman yang masih kosong, lalu bersiap dengan sebuah pulpen di tangannya.
Olivia tidak mempedulikan itu, dan justru menghampirinya dengan tubuh yang hanya dibalut handuk tipis.
"Noelle tersenyum sejak tadi. Apa Noelle dapat pacar baru? "
" … Kenapa kamu berpikir seperti itu? "
"Nn, bukankah biasanya seseorang hanya akan tersenyum seperti itu ketika bertemu seseorang yang disukai? "
"Kalau memang seperti itu, maka aku seharusnya selalu tersenyum seperti ini setiap saat."
Tentu saja Olivia memahami maksudnya. Dia tersenyum tipis dengan sedikit rona merah di pipinya.
Dia kemudian menempelkan pipinya pada Noelle, ikut memperhatikan halaman buku jurnal yang masih kosong itu.
"Apa Noelle belum mengisinya? "
Olivia memiringkan kepalanya dengan bingung saat melihat itu. Benar-benar tidak biasa baginya untuk melihat Noelle yang kebingungan dalam mengisi jurnalnya.
"Aku hanya tidak tahu apa yang harus kutulis di sini. Otakku benar-benar tidak bisa berpikir jernih sekarang."
Mengatakan itu, Noelle kemudian menyandarkan kepalanya sendiri ke kepala Olivia yang kini duduk bersamanya di satu kursi kecil itu.
Olivia masih belum memakai pakaiannya, dan hanya diselimuti oleh selembar handuk tipis. Itu seharusnya menjadi pemandangan yang membuat Noelle bersemangat. Namun, Noelle benar-benar menghiraukannya kali ini.
" … Hei, Livia."
"Apa? "
Olivia menjawab panggilan Noelle dengan sedikit meliriknya. Dia dengan jelas dapat melihat perubahan ekspresi yang sangat samar di wajah Noelle.
" … Apa kamu mau mendengarkanku sebentar? "
" … Eh? T-tentu."
Ini benar-benar hal yang langkah bagi Olivia. Ia sangat jarang menyaksikan Noelle menceritakan sesuatu berdasarkan keinginannya sendiri.
Karena itu, ia menjadi sedikit bersemangat ketika Noelle berkata ingin menceritakan sesuatu padanya. Dia sedikit terlalu bersemangat sehingga dia memajukan tubuhnya tanpa sadar, dan membiarkan lilitan handuk itu melonggar.
Meskipun begitu, mereka berdua sama sekali tidak menyadarinya. Atau lebih tepatnya, mereka berdua mengabaikan itu.
Noelle saat ini benar-benar fokus pada satu hal yang ada di kepalanya. Itu adalah teori gila yang baru saja ia temukan beberapa saat yang lalu di bar.
Saat itu ia mendapatkan banyak informasi dari Harold, yang membuatnya sampai pada suatu kesimpulan gila.
Meskipun Noelle ingin menyimpan teori itu untuk dirinya sendiri karena ia tidak ingin melibatkan orang lain. Entah mengapa ia harus menceritakan hal ini pada Olivia.
Mungkin karena itu adalah pemikiran yang dipenuhi dengan beban berat, sehingga ia ingin menceritakannya pada seseorang. Mengingat itu adalah teori yang dia bentuk setelah menghubungkan semua kejadian aneh yang pernah dia alami.
Noelle tersenyum masam, lalu menepuk pahanya sendiri, mengisyaratkan Olivia untuk duduk di sana.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Olivia dengan semangat langsung duduk di pangkuan Noelle, lalu bersandar di dadanya.
Mereka berdua saling menatap untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Noelle memutuskan untuk menceritakan segalanya.
Sambil memeluk perut ramping Olivia yang hanya ditutupi selembar handuk tipis itu, Noelle menceritakan semua yang terjadi dalam pertemuannya dengan Harold di bar tadi.
Begitu selesai bercerita, dia hanya terus diam, sementara Olivia menatapnya dengan mata yang mengatakan kalau ia mengerti semuanya.
"Manipulasi waktu, ya … Itu mungkin sulit untuk dipercaya. Tapi, mengingat bagaimana semua telah berjalan dengan sangat aneh belakangan ini … Tidak mungkin aku bisa meragukannya."
Tampaknya Olivia dengan mudah menerima teori yang Noelle buat, lalu mencocokkan beberapa kejadian yang ada di ingatannya dengan teori itu.
"Ingatan Charl dan Chloe yang melompati waktu, pemandangan di sekitar Noelle yang tiba-tiba menjadi kosong, dan kembali dipenuhi oleh banyak orang sesaat kemudian. Lalu, ada juga tentang topeng itu … "
Di dalam kepalanya, Olivia telah membuat banyak skema kesimpulan yang siap ia berikan pada Noelle kapan saja. Meskipun begitu, ia masih berusaha untuk memikirkannya sebaik mungkin agar bisa memberikan jawaban yang tepat pada Noelle.
Melihat bagaimana Olivia dengan keras memikirkan banyak hal untuk membantunya membuat Noelle tersenyum kecil untuk sesaat.
Dia langsung mengencangkan pelukannya pada perut Olivia, sehingga membuat Olivia menjerit kecil dengan wajah yang memerah karena sensasi geli yang ia rasakan.
"Noelle … "
Olivia menatap Noelle dengan kesal, tapi itu dengan mudah diabaikan oleh Noelle yang dengan ringan mencium pipinya.
"Tidak perlu memaksakan dirimu untuk memikirkan semua itu. Kita bisa menyelesaikan masalah ini secara bertahap."
"Tapi … "
"Dasar gadis bebal," ucap Noelle sambil menghela napasnya dengan pasrah.
Dia kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Olivia, dan membisikkan beberapa kata yang langsung membuat wajahnya memerah untuk sejenak.
Olivia dengan mata yang berair itu menatap Noelle, sementara Noelle terlihat sedang bersenang-senang dengan pemandangan itu.
"Kamu … "
Olivia tak dapat mengucapkan kalimat yang sebelumnya telah ia pikirkan. Ia tanpa dapat mengatakan apa pun hanya bisa berbalik dan menempelkan wajahnya sendiri ke dada Noelle, lalu berbisik:
"Noelle selalu tahu bagaimana cara menanganiku … "
Noelle, bagaimanapun dia hanya tersenyum masam dan bergumam, "Yahh, tentu saja."
Sudah tidak ada tanda-tanda akan kecanggungan yang sebelumnya menciptakan jarak di antara mereka. Kini mereka berdua telah kembali normal.
Olivia mengangkat wajahnya, dan mencium pipi Noelle.
" … Apa? "
Olivia tidak menjawabnya, dan hanya terus menatapnya dengan pandangan penuh harapan.
Secara alami, Noelle tahu apa yang dia inginkan.
Noelle tersenyum lembut, lalu menepuk kepala Olivia sekali, sebelum akhirnya membuka kancing bagian atas kemejanya. Membuat leher putih tanpa noda itu terlihat dengan sangat jelas.
"Ini jatahku. Selamat makan," ucap Olivia sambil menancapkan taringnya sendiri ke leher Noelle.
...****************...