[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 221: Renungan



...****************...


Setelah perjalanan yang cukup panjang, Noelle akhirnya hanya butuh satu stasiun lagi untuk mencapai tujuannya.


Kereta yang dia tumpangi sekarang sedang berhenti di stasiun lokal di kota Nif, salah satu kota besar yang dekat dengan ibu kota Republik.


Kota Féncen yang menjadi tujuan Norlle sendiri memiliki jarak yang tidak terlalu jauh dari ibu kota, tapi kereta harus melalui rute memutar untuk menghindari kawasan yang berbahaya.


Keamanan perjalanan sudah diperhitungkan jauh sebelum rel dipasang. Rute yang akan dilalui rel kereta telah diteliti dan tidak akan memiliki monster yang berbahaya. Karena itulah, perjalanan yang Noelle alami sejauh ini relatif aman.


Kereta akan berhenti di stasiun ini selama beberapa jam untuk mengisi persediaan bahan bakar. Selama waktu itu, para penumpang bebas melakukan apa pun.


Noelle memperhitungkan waktu yang dia miliki, dan yakin kalau dia tidak akan terlambat bahkan meski dia lebih bersantai.


Dengan kedua tangannya dimasukkan ke tiap saku, Noelle berjalan keluar dari gerbong, dan menuju ruang tunggu yang ada di stasiun.


Noelle berniat berkeliling, tapi Noelle telah menandai beberapa lokasi yang kemungkinan besar berbahaya.


Menurut yang Noelle dengar, kota Nif saat ini sedang dalam krisis pangan yang membuat orang-orang kelas bawah bisa mengamuk kapan saja. Karena itulah, penampilannya yang terlihat sehat dan kaya tidak akan cocok di tempat itu.


Noelle hanya akan pergi ke daerah yang menurutnya aman, dan memastikan agar kakinya tidak bergerak sendiri menuju tempat asing seperti yang pernah terjadi dulu.


Akan lebih baik untuk tetap diam di kamarnya, tapi itu membuat Noelle merasa lelah dalam artian lain, jadi dia memutuskan untuk mencari aktifitas lain di luar.


Di pusat kota tidak terlalu aman, jadi Noelle pastinya menghindari itu. Sedangkan untuk bagian pinggiran kota, Noelle hanya memiliki beberapa pilihan.


Pilihan yang paling ia sukai, adalah pergi ke sekitar hutan yang ada di pinggiran kota, lalu mengunjungi danau yang ada di sana.


Noelle duduk di bangku yang ia temukan di pinggir jalan, dan seketika membentangkan peta di tangannya.


Ini adalah peta lengkap yang sudah ia beli saat masih di stasiun. Ada sungai besar yang memisahkan kota menjadi dua daratan besar, dan satu-satunya penghubung untuk dua daratan itu adalah jembatan besar yang panjangnya sendiri tidak dapat Noelle perkirakan.


Jembatan itu jelas menjadi arsitektur paling besar di kota ini. Karena itulah orang-orang sering menjadikan kota Nif sebagai tujuan wisata.


Hutan yang menjadi tujuan Noelle terletak tidak jauh dari stasiun, jadi tidak akan memakan waktu lama untuk pergi ke sana.


"Kurasa ada baiknya untuk bersantai sedikit … "


Noelle melirik ke sudut pandangannya, dan menemukan beberapa orang yang sedang mengobrol satu sama lain. Namun, mereka sesekali akan melirik pada Noelle, menjadikan Noelle sebagai subjek pengamatan mereka.


Jarak mereka sedikit jauh, tapi jelas kalau itu bukanlah masalah untuk Noelle yang sensitif terhadap pengamatan orang. Terlebih lagi, telinganya bisa mendengar hampir semua yang orang-orang itu bicarakan.


"Tidak kusangka kalau mereka benar-benar akan mengikutiku sampai sini … "


Noelle menghela napas lalu melipat petanya, kemudian berdiri dan berjalan ke arah yang berlawanan dari lokasi orang-orang itu.


Mereka semua adalah orang yang dikirim oleh Monica atas perintah inspektur, dan mereka di sini sedang berusaha mencari cara untuk menarik Noelle ke dalam kasus yang sedang mereka selidiki.


Noelle tahu itu dari semua percakapan mereka sejak tadi. Sebagai agen yang dikirim pihak kepolisian, mereka jelas tidak mengerti yang dinamakan menjaga mulut di sekitar target.


"Sekarang apa yang harus kulakukan … "


Menghindari mereka adalah hal yang mudah, tapi tempat tujuan Noelle sudah terungkap saat Noelle diserbu pertanyaan di ruang interogasi. Yang artinya, mereka bisa menemukannya kapan saja mereka mau.


Tujuannya saat ini adalah mengirimkan surat Erwin, dan bergabung dengan kelompok itu. Dengan begitu, dia bisa membentuk reputasinya sendiri dan membuat banyak koneksi yang akan menguntungkannya di masa depan.


Kalau dia benar-benar ingin menghindari para penguntit ini, maka Noelle benar-benar harus merubah tujuannya. Dia harus mengeluarkan lebih banyak waktu, yang tidak sebanding dengan resikonya.


Mengganti tujuan adalah hal yang bodoh, mengingat dia sedang berpacu dengan waktu saat ini.


Noir masih dalam keadaan tersegel, tapi tidak ada yang tahu kapan dia akan bebas. Noelle juga tidak bisa melonggarkan kewaspadaannya terhadap makhluk jadi-jadian itu. Noir bisa muncul kapan saja tanpa mempedulikan situasi dan kondisi Noelle.


Jika dibandingkan dengan membiarkan mereka mengikuti dan mengawasinya, jelas kalau pilihan mengganti tujuan akan jauh lebih merugikan.


Ada pun pilihan untuk menghabisi mereka semua … Noelle tanpa ragu menolak pilihan itu. Dia ingin nama Noah Ashrain menjadi sebersih mungkin. Noelle tidak ingin identitas barunya memiliki rekam jejak kriminal, terlebih lagi itu akan berhubungan dengan agen dari kepolisian.


(Setidaknya mereka tidak akan membahayakan tujuanku, jadi kurasa pilihan terbaik untuk saat ini adalah membiarkan mereka mengikutiku. Tapi … Aku harus segera menyingkirkan mereka jika aku mulai merasakan sesuatu yang salah.)


Meskipun menyebalkan, Noelle tidak terlalu keberatan dengan dua atau tiga orang penguntit. Dia bisa menerima mereka sampai batas tertentu, tapi sebisa mungkin Noelle ingin menghindari terlibat dengan kasus pembunuhan di kereta.


(Yahh, kalau begitu sudah diputuskan.)


Noelle menaikkan satu sudut bibirnya, kemudian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel, dan lanjut berjalan menuju tujuannya.


Jumlah orang yang dikirim untuk mengikutinya ada tiga orang, itu tidak terlalu banyak, tapi Noelle bisa masih bisa memanfaatkan mereka di situasi tertentu.


Jika Noelle terlibat dalam suatu bahaya, maka dia bisa menggunakan ketiganya untuk menjadi 'pendukung'.


Ini adalah rencana yang sederhana, tapi seharusnya akan berjalan dengan baik. Namun, belakangan ini Noelle menjadi semakin pesimis dengan tingkat keberhasilan rencananya. Itu semua disebabkan oleh pertemuannya dengan Noir.


...****************...


Sekarang, Noelle memikirkannya. Jarak antara danau yang ia tuju, dengan stasiun kereta sebenarnya sangatlah dekat. Dia sampai di danau itu hanya dengan memikirkan 15 menit berjalan kaki.


Terlebih lagi, jalannya juga bagus, tidak terlalu ramai, tapi juga tidak kekurangan pengunjung.


Saat ini musim gugur, jadi pemandangan di sekitar danau bisa dianggap indah. Dedaunan yang rontok berwarna oranye kemerahan, disertai dengan jalan setapak dari tanah yang tidak terlalu basah, dan tidak terlalu kering.


Noelle sengaja duduk bersandar pada pohon yang ada di pinggir danau. Di sekitarnya, ada banyak pria tua yang sedang menghabiskan waktu dengan memancing.


Meskipun krisis pangan telah membuat mereka menderita, hasil alam seperti ikan yang dipancing sendiri gratis di sini. Mereka bisa menjadikan ikan-ikan itu sebagai persediaan makanan.


Alasan Noelle mengambil tempat ini daripada tempat yang biasa digunakan oleh keluarga, adalah karena di sini lebih tenang.


Lokasi yang biasa digunakan oleh keluarga untuk berlibur jelas lebih padat. Ada banyak pedagang dan anak-anak di sana, dan itu tidak cocok untuk Noelle yang datang dengan tujuan menenangkan pikirannya.


Tempat yang digunakan oleh para paman ini untuk memancing adalah tempat yang sempurna. Mereka semua diam tanpa mengatakan apa pun, menunggu umpan di kail mereka dimakan.


Noelle meluruskan kakinya, lalu menutup mata sambil membiarkan angin menerpa wajahnya.


Kemudian, dia merasakan pergerakan di sampingnya. Itu berasal dari seorang pria tua yang terlihat seperti berusia 70 tahun.


Usianya sudah sangat tua, tapi dia masih sehat. Gerakannya tidak canggung, dan dia menyiapkan kail pancingnya dengan tenang.


Noelle membuka matanya dan melihat ini semua dari samping. Dia mau tak mau kagum padanya.


Sejauh ini, Noelle hanya mengenal satu sosok orang tua dengan fisik yang sehat seperti orang ini, dan itu adalah kakek buyutnya saat masih menjadi Izaya.


Meskipun saat itu usianya sudah satu abad, dia masih bisa bergerak dengan lancar, beraktifitas layaknya pensiunan normal.


"Musim gugur selalu menjadi waktu yang tepat untuk bersantai. Apa kau setuju denganku, anak muda? "


Pria itu tersenyum pada Noelle yang sudah mengamatinya sejak tadi.


"Kurasa begitu … Walaupun sebenarnya aku lebih suka musim semi."


Mata pria tua itu melebar. Sejak awal, dia tidak menduga kalau Noelle akan menjawabnya. Dia pun tersenyum hangat, lalu melemparkan kail pancing yang sudah dipasangi umpan itu ke air.


"Kau tahu, Nak? Memancing adalah kegiatan yang membutuhkan banyak kesabaran dan ketenangan. Tapi, di saat seperti ini, aku selalu ingin menceritakan pengalamanku pada seseorang. Apa kau mau mendengar cerita pria tua ini? "


" … Aku mungkin tidak bisa mendengar semuanya. Aku masih harus melanjutkan perjalanan nanti."


"Benarkah? Kalau begitu tidak masalah."


Pria tua itu memejamkan matanya sejenak, lalu kembali membukanya dan menatap permukaan danau yang tenang.


"Kau tahu, aku selalu ingin bercerita tentang betapa beruntungnya diriku."


"Aku selalu memiliki keberuntungan yang besar, dan sudah tidak terhitung sudah berapa kali aku diselamatkan olehnya."


"Tapi, apa kau tahu? Setiap kali aku mengalami suatu keberuntungan, akan ada orang lain yang hidupnya menderita. Ini seolah aku menukar kesialanku dengan keberuntungan orang lain."


"Yang lebih membuatku terkejut, aku baru menyadari ini setelah kejadian itu."


Noelle awalnya tidak mengatakan apa pun. Dia hanya mendengarkan cerita pria ini tanpa menyela. Namun, kata terakhirnya membuat Noelle tertarik.


"Kejadian apa? "


"Apa kau tahu Wabah Kristal? "


Tidak mungkin Noelle tidak mengetahuinya. Itu adalah nama yang dia dengar baru-baru ini.


Noelle mengangguk. "Aku hanya tahu sedikit. Itu adalah kejadian lama, sebuah penyakit yang membuat penderitanya berubah menjadi kristal, 'kan? "


"Ya." Pria itu menganggukkan kepalanya sekali, lalu melanjutkan, "Saat itu, aku benar-benar hanya orang biasa yang tidak mengetahui apa pun, terjebak dalam kepanikan ribuan orang."


"Saat pembasmian sedang dilaksanakan, aku terjatuh ke sebuah sungai dengan arus yang deras. Itu membuatku terseret arus hingga ke salah satu kota di Kawasan Netral Elfrieden."


"Saat itu aku masih belum benar-benar menyadarinya. Tapi, semakin lama aku tinggal di sana, aku jadi semakin yakin; keberuntunganku membutuhkan tumbal untuk menggantikanku mengalami kesialan."


Noelle hening sejenak, tapi kemudian dia menyela, "Apa kau dianggap sebagai pembawa sial di sana? "


Pria itu tersenyum masam. "Begitulah. Semua orang selalu mengalami kesialan saat aku bersama mereka, tapi hanya aku yang selalu beruntung di sana … Ohh, aku dapat satu."


Pria itu segera berdiri dan menarik pancingannya, dan tak lama kemudian, seekor ikan berukuran sedang muncul dengan tersangkut di kail pancingnya.


Dia kembali duduk, lalu memasukkan ikan yang baru saja ia tangkap itu ke dalam ember, sebelum akhirnya lanjut bercerita.


"Pada akhirnya semua orang jadi membenciku. Aku memutuskan untuk pergi sendiri sebelum mereka semua mengusirku. Sejak itu, aku selalu menjaga jarak dari orang lain, memutuskan untuk tinggal di tempat di mana tidak ada yang mengenalku."


"Dan di sinilah kau sekarang, ya … " Noelle bergumam yang kemudian dibalas dengan anggukan singkat dari pria itu.


"Tapi … Bukankah itu menyedihkan? " tanya Noelle sambil memeluk kakinya sendiri dan menoleh pada pria itu.


"Apa maksudmu? "


Norlle tahu pasti dengan apa yang ingin dia katakan. Pria tua ini, dia merasakan suatu kemiripan dengannya.


"Aku tidak terlalu memahaminya, tapi … Dari caramu mengatakannya tadi, aku yakin kalau kau cukup dekat dengan mereka semua yang menyelamatkanmu."


Noelle tidak memiliki banyak orang yang bisa ia anggap dekat, tapi ia sudah mengalaminya belum lama ini.


Meninggalkan orang-orang yang ia anggap sebagai keluarga, bukankah itu adalah keputusan yang sangat berat? Bahkan sampai sekarang Noelle masih merasa kalau ia sangat ingin kembali ke sisi Olivia.


Mungkin bukan masalah jika sejak awal pria tua ini adalah orang yang tidak peduli terhadap perasaan dirinya atau orang lain, tapi Noelle yakin kalau pria tua ini memiliki kepedulian yang besar pada mereka yang dekat dengannya.


Pria itu terus tersenyum, lalu memejamkan matanya. Dia kemudian menunduk dan melihat permukaan air danau yang tenang. Di sana, wajahnya dipantulkan dengan sempurna, menunjukkan wajah seorang pria tua yang sudah melewati puncak kejayaannya.


"Tentu saja itu berat bagiku. Tapi … Dengan kutukan keberuntungan dan kesialan ini … Aku tidak akan bisa bersama mereka. Karena itulah, aku meninggalkan mereka agar mereka tidak mengalami kesialan lagi. Daripada harus melihat mereka semua menderita karena kutukan yang kumiliki, bukankah akan lebih baik jika aku yang pergi? Begitulah pikiranku saat aku meninggalkan mereka dulu."


" ……… "


Noelle tidak membalas, dan justru terdiam sambil ikut menatap permukaan danau yang tenang.


"Manusia bisa berubah. Itulah yang dikatakan oleh salah satu orang yang menyelamatkanmu dulu."


"Awalnya aku tidak begitu mengerti, tapi sekarang aku paham maksudnya. Semua orang bisa berubah, jika mereka berani melakukannya. Aku memberanikan diriku untuk berpisah dari mereka, walaupun sebenarnya aku tidak ingin melakukannya. Meskipun tindakan itu terdengar sederhana, tapi itu sudah membawakan perubahan yang besar pada hidupku. Itulah arti perubahan yang kutemukan."


"Bagaimana denganmu, Nak? Apa kau pernah mengalami hal yang sama? "


Pria tua itu menoleh dan menunjukkan senyum ramahnya pada Noelle. Meskipun begitu, Noelle hanya terus menatap permukaan air seolah sedang memikirkan sesuatu.


Tak lama kemudian, Noelle akhirnya bergerak. Kepalanya terangkat, dan kini dia menatap ranting dan dedaunan pohon yang menggantung.


"Kurasa begitu. Baru-baru ini … Aku meninggalkan orang yang kusayangi. Keluargaku … Aku harus meninggalkannya karena beberapa hal meskipun aku tidak mau melakukannya."


"Aku benar-benar tidak ingin berpisah dengannya, tapi keadaan memaksaku untuk melakukan tindakan itu. Aku harus meninggalkannya, begitulah pikiranku. Jika aku terus bersamanya, maka bahaya yang besar hanya akan menimpanya. Aku tidak mau itu, karena itulah aku meninggalkan dia sendirian."


"Dan? Apa kau menyesal? "


Pertanyaan ini membuat Noelle terdiam tanpa bisa menjawabnya. Meskipun jawabannya hanya memiliki satu kata, itu terasa berat untuk diucapkan.


Keheningan yang panjang menguasainya, tapi tak lama kemudian dia menjawab, "Tidak."


"Aku tidak menyesal. Karena pada kenyataannya, aku pergi agar dia tidak terlibat dalam bahaya. Ini adalah suatu pengorbanan yang diperlukan. Jika aku menyesal sekarang, maka semuanya akan menjadi berantakan."


Pria tua itu terkekeh ringan sejenak, lalu membuka matanya dan menatap ujung tongkat pancingan yang masih diam tanpa ada respon.


"Itu bagus. Tapi, bisakah aku mengoreksi sedikit? "


"? Silahkan."


Noelle menoleh sedikit dan siap mendengarkan koreksi dari pria itu, namun kata-kata yang akan diucapkan olehnya adalah sesuatu yang tidak pernah Noelle duga.


"Kau seharusnya tidak menggunakan dirimu sendiri sebagai subjek negatif dalam alasanmu. Kau mengatakan kalau dengan adanya dirimu, maka dia atau semua orang yang dekat denganmu akan dalam bahaya. Tapi, apa kau pikir dia bisa menerima hal itu? "


"Aku tidak tahu tentang sifatnya, tapi aku yakin kalau dia bukanlah orang yang akan membiarkan orang yang dia sayangi pergi darinya dengan alasan yang konyol seperti itu. Dia akan dalam bahaya hanya karena dirimu? Bagi seseorang yang menggantungkan hidupnya padamu, itu adalah kata-kata yang sangat kejam."


"Jangan katakan kalau kau adalah alasan mengapa dia akan berada dalam bahaya. Karena jika kau bertemu dengannya lagi suatu saat nanti, maka kau pasti akan menyesal."


"Apa aku … Benar-benar akan bertemu dengannya lagi? "


Noelle tidak pernah memikirkan kemungkinan ini sebelumnya. Dia memiliki keabadian yang membuatnya tidak dapat mati karena usia ataupun kecelakaan, dan hal yang sama juga berlaku pada Olivia.


Kalau begitu, setelah semua masalah diselesaikan … Apa dia bisa bertemu dengan Olivia lagi?


Noelle mulai memikirkannya dengan serius.


"Tentu saja kau bisa bertemu dengannya lagi. Kau masih memiliki kesempatan, dan kau tidak boleh membuang kesempatan itu."


"Lalu … Alasan apa … Yang harus kugunakan? "


Pria tua itu tersenyum masam dan kembali fokus pada pancingannya. Di sela fokusnya, dia masih sempat menjawab Noelle.


"Tentang itu, kau harus memikirkannya sendiri. Setiap orang akan memiliki alasan yang berbeda, tapi saranku adalah tidak menjadikan dirimu sebagai subjek negatif dalam alasanmu sendiri, karena itu akan membuat orang-orang yang peduli padamu menjadi bersedih."


" ……… "


Apa alasannya meninggalkan Olivia? Pertanyaan itu mulai berputar di kepala Noelle. Dia benar-benar bingung memikirkan jawabannya.


Sejak awal, alasan dia meninggalkan Olivia adalah karena keberadaannya dapat membawa bahaya bagi gadis itu. Namun, kata-kata dari pria tua itu membuatnya memikirkan alasannya kembali.


Jika apa yang dikatakan pria tua ini benar, maka Noelle benar-benar harus mengubah cara berpikirnya.


Olivia tentunya tidak ingin melihat Noelle merendahkan dirinya sendiri dengan menjadi subjek negatif dalam alasannya. Namun, jika bukan begitu, alasan apa yang bisa Noelle gunakan?


Noelle memikirkannya sejenak, tapi tidak berhasil menemukan jawabannya apa pun. Pria tua di sampingnya itu pun tersenyum padanya.


"Tidak perlu terburu-buru. Kau bisa menemukan alasanmu sendiri seiring berjalannya waktu. Seperti yang sudah kukatakan, semua orang bisa berubah, dan itu termasuk dirimu. Kau bisa berubah, dan cara berpikirmu juga akan berubah seiring dengan bertambahnya pengalamanmu."


"Kau masih memiliki banyak waktu untuk hidup, tidak seperti pria tua ini. Karena itulah, manfaatkan waktumu untuk melakukan apa yang kau inginkan. Dengan begitu, kau akan menemukan apa arti dari menjadi dirimu sendiri."


" ……… "


Perubahan pada diri seseorang terkadang sulit untuk diperhatikan. Bahkan, terkadang akan ada orang yang tidak menyadari bahwa dirinya telah berubah.


Noelle merasa dirinya pintar, tapi dia bahkan tidak mengerti maksud dari kata-kata pria tua ini, yang membuktikan kalau dia masih sangat kekurangan pengalaman.


Mau bagaimana lagi, meski secara kejiwaan berusia 30 tahun, pada kenyataannya dia hanya pernah hidup selama sekitar 15 tahun di setiap kehidupan. Hal ini membuatnya tidak dapat mengumpulkan pengalaman nyata sebagai orang dewasa.


(Mungkin tidak sekarang, tapi suatu saat … )


Noelle akhirnya menghela napas dan menutup matanya sambil menikmati hembusan angin lembut yang menerpa tubuhnya.


Di samping, pria tua itu telah berdiri dan menarik pancingannya, berhasil menangkap satu ekor ikan lagi.


Pada saat itu, Noelle akhirnya membuka mata, dan melirik ke samping. Apa yang dia lihat membuatnya seketika melebarkan matanya.


Di sekitar leher pria tua itu, tepatnya pada bagian bawah tengkuknya yang tertutup kerah kemeja lusuh, ada kristal ungu kehitaman yang melapisi kulitnya.


...****************...