![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Setelah menyelesaikan giliran penjagaannya, Noelle dan Olivia langsung masuk ke dalam kabin, pindah ke kamar yang sudah disediakan untuk mereka.
Setelah memindahkan Levina yang tertidur ke kamar yang sama dengan Chloe dan Brackas, kini Noelle sedang berbaring di ranjang, dengan Olivia yang menindihnya dari atas. Meskipun begitu, Noelle tak terlihat terganggu, dan justru menikmati beban tambahan pada tubuhnya itu.
Dia dengan raut serius yang anehnya tampak santai melihat ke samping, tepatnya pada jendela yang sedikit terbuka, membiarkan angin laut yang dingin dan terasa berat itu masuk.
Langit masih ditutupi oleh awan hitam yang tebal, tapi mereka berdua secara samar bisa melihat apa yang ada di baliknya.
Itu adalah bulan, yang ukurannya berkali-kali lebih besar dari bulan yang mereka ketahui.
Mereka berdua mungkin terlalu fokus pada diri mereka sendiri, sehingga tidak sadar dengan berapa lama waktu sudah berlalu. Mungkin, itu sudah lewat dari satu atau dua jam.
Mereka semua sekarang ada di dunia nyata, jadi pembatasan fisik yang biasa sudah kembali berlaku, tidak seperti di alam mimpi kolektif itu. Jadi, mungkin beberapa orang di kapal sudah menyelesaikan istirahat dan makan siang mereka sekarang.
Olivia, yang wajahnya masih sedikit memerah dengan beberapa tetes keringat mengalir dari pipinya, akhirnya mengangkat wajahnya. Dia menatap Noelle dari dekat, mencoba menebak apa yang Noelle pikirkan.
"Noelle … Apa ada yang salah? Noelle seperti memikirkan banyak hal tadi … "
Ingatan tentang apa yang terjadi sebelumnya seketika membanjiri kepala Olivia. Itu membuatnya sedikit malu, dan memberikan rona merah di wajahnya. Meskipun begitu, itu tidak membuatnya berhenti untuk mengarahkan tatapan cemas pada Noelle.
Noelle, bagaimanapun dia hanya tersenyum kecil sebagai responnya. Dia menoleh dan balas menatap Olivia, dan tanpa mengatakan apa pun langsung menguatkan pelukannya, membuat Olivia kembali ke posisi semula.
Wajahnya menempel di sekitar leher Noelle, dan napasnya yang lembut sedikit menggelitik. Tapi Noelle hampir tidak terpengaruh dengan itu, dan justru bergumam, "Aku hanya penasaran."
"Penasaran dengan apa? "
Olivia mengangkat kepalanya sedikit, lalu bertanya sambil memiringkan kepalanya dengan penasaran. Meskipun, pada kenyataannya dia sudah memiliki tebakan untuk rasa penasaran yang Noelle miliki.
Menyadari itu, Noelle hanya tersenyum masam dan tanpa daya menjawab, "Tadi, aku tiba-tiba teringat … Hipotesis yang kita buat sebelumnya … Ada sedikit keanehan dengan itu. Berdasarkan yang kita tahu, enam Dewa sedang bertarung, 'kan? Tapi, siapa yang menjadi lawannya? "
Setelah mendengar semua pertanyaan Noelle, Olivia mau tak mau cemberut dan kembali menenggelamkan wajahnya di leher Noelle.
"Noelle benar-benar memikirkan hal lain di tengah-tengah semua itu, ya … "
Olivia memang sudah mengharapkan jawaban ini, tapi ia tidak bisa menahan dirinya sendiri dari sedikit kekecewaan ketika mengetahui kalau Noelle sudah fokus pada hal lain saat sedang menghabiskan waktu dengannya.
"Memikirkan hal lain di saat kamu sedang menghabiskan waktu dengan pasanganmu adalah hal yang tidak baik. Noelle tahu itu, 'kan? "
Olivia kini mengangkat tubuh atasnya, menggunakan kedua tangannya untuk menopang tubuhnya sendiri di atas kasur yang cukup empuk itu. Tatapannya lurus ke mata Noelle, sementara gaun tidurnya yang sedikit longgar dan kusut itu bergoyang setiap kali angin laut menerpanya.
Hanya dengan mengarahkan tatapannya sedikit ke bawah, Noelle sudah bisa melihat bagian yang biasanya sulit untuk dilihat. Itu membuatnya hampir secara naluri melihat ke arah lain, sebelum akhirnya kembali menatap Olivia.
"Mhmm."
Dia hanya sedikit mengangguk, tanpa memberikan jawaban tambahan. Ini membuat Olivia sedikit kesal, tapi ia hanya bisa menahan rasa jengkelnya dengan pasrah.
Ada banyak hal yang Noelle pikirkan setelah ia mengeluarkan hipotesisnya tentang situasi yang terjadi pada para dewa. Itu membuatnya tidak bisa tenang bahkan untuk sesaat.
Mengabaikan Olivia yang masih cemberut, Noelle kemudian bangun dan duduk di tempatnya, membuat Olivia yang dalam posisi menindihnya juga ikut bangun dengan terkejut.
Dia melebarkan matanya untuk sesaat, tapi segera kembali normal saat ia menyadari ada banyaknya hal yang harus Noelle pikirkan.
Sebenarnya, semua akan lebih mudah jika Noelle berhenti memikirkannya, dan menghabiskan waktu seperti biasa. Namun, Noelle jelas tidak bisa melakukan itu.
Rasa penasarannya yang tinggi, diikuti dengan betapa banyaknya informasi yang ia miliki membuatnya tanpa sadar tergerak untuk mencari tahu kebenaran.
Dia sendiri sadar kalau ini adalah sifat yang menjengkelkan dan bisa sangat berbahaya. Namun, dia tidak bisa melakukan apa pun untuk menghentikan kecenderungannya ini.
Noelle tanpa sadar menggerakkan tangannya untuk memeluk Olivia dari bagian pinggangnya, dan Olivia juga membalas itu dengan mengencangkan pelukannya pada Noelle.
Kehangatan yang saling tersalurkan, diikuti dengan kelembutan dari setiap permukaan tubuh mereka membuat mereka berdua secara bertahap menjadi lebih tenang. Noelle memejamkan matanya, berusaha untuk menenangkan pikirannya sendiri.
Namun, tepat pada saat itu, intuisinya akan bahaya sedikit terpicu.
Noelle langsung membuka matanya, dan menarik Olivia semakin masuk ke dalam pelukannya, membuat Olivia hampir sepenuhnya tertutupi oleh tubuhnya.
Meskipun begitu, sepertinya itu adalah tindakan yang sia-sia.
Intuisinya akan bahaya bisa terpicu bukan karena bahaya yang menargetkan mereka berdua, melainkan karena Noelle yang menganggap kalau ada sesuatu yang berbahaya mendekat.
Pada kenyataannya, ini mungkin hampir tidak berbahaya. Setidaknya, di permukaannya.
Kabut abu-abu yang tebal kembali muncul, diikuti dengan udara yang semakin berat.
Baik Noelle maupun Olivia masih ingat dengan kabut ini. Ini adalah kabut yang sama dengan yang menarik mereka ke alam mimpi kolektif!
Saat Noelle dengan waspada memperhatikan ke sekelilingnya, matanya menjadi lebih berat, dan ia dengan cepat kehilangan semua keinginannya untuk bangun.
Dalam hitungan detik, dia dan semua orang di kapal telah tertidur lelap.
...****************...
Saat membuka matanya, Noelle menyadari kalau dia tidak berada di dalam ruangan di kastil raksasa itu lagi. Tubuhnya sendiri sudah normal tanpa ada perubahan menjadi anak-anak.
Melihat ke sekeliling, Noelle kemudian menyimpulkan kalau dia sekarang ada di tempat dan dalam kondisi yang berbeda daripada saat dia masuk ke alam mimpi kolektif sebelumnya.
(Tubuhku normal, dan lokasi yang berbeda … Apa alam mimpi kolektif ini akan memberikan hasil yang berbeda setiap kali seseorang masuk ke dalamnya? Aku harus memeriksanya sendiri … )
Noelle bangkit dari posisinya, dan melihat ke sekitarnya sekali lagi. Sekarang dia sadar, kalau dia mungkin sedang berada di sebuah menara yang sangat tinggi.
Ada banyak menara di area kastil itu, jadi sedikit mustahil untuk menebak yang mana. Namun, Noelle tahu pasti kalau menara ini terletak di tempat yang berbeda dari kastil raksasa sebelumnya.
Itu dikarenakan ukurannya yang sesuai dengan tubuh manusia biasa. Semua hal di kastil itu memiliki karakteristik unik berupa ukurannya yang sangat besar, jadi bisa disimpulkan kalau dia tidak ada di sana sekarang ini.
Noelle melakukan peregangan sedikit, dan akhirnya berjalan pergi meninggalkan menara itu.
Namun, saat ia hendak melangkahkan kakinya ke luar, dia mendengar sesuatu dari lantai atas menara tempatnya berada.
(Apa ada orang lain di sini? )
Suaranya sendiri tidak begitu aneh, hanya seperti lembar demi lembar buku yang dibuka dan kemudian dibaca oleh orang yng membukanya.
Noelle yang penasaran dengan sosok itu akhirnya memutuskan untuk kembali ke menara. Dia bersiap dengan senjatanya, dan perlahan menaiki tangga menuju ruangan yang menjadi asal suara tersebut.
Setelah menemukan ruangan yang tepat, Noelle tidak terburu-buru untuk menerobos masuk dan justru mengamatinya selama beberapa saat.
Dia memusatkan deteksinya untuk memastikan kalau yang ia rasakan itu benar-benar manusia atau bukan. Lalu, dia mengiris sedikit jarinya, membuat beberapa tetes darah keluar dan masuk ke celah pintu yang menghalanginya dari ruangan itu.
Begitu darahnya masuk, Noelle segera menyalurkan kekuatan sihirnya ke bagian nata untuk mengaktifkan《Clairvoyance》untuk melihat apa yang ada di balik pintu. Darah yang ia masukkan ke ruangan sudah ditempatkan di area yang sulit untuk dideteksi, membuatnya bisa menjadi senjata darurat kapan saja.
Begitu melihat ke dalam, Noelle segera menemukan seorang pria yang tampak berusia sekitar pertengahan 30 tahun sedang diam sambil memandangi buku, tampak fokus dengan konten yang dituliskan di atasnya.
Wajah pria itu memiliki ciri khas orang-orang yang berasal dari selatan. Dengan wajah yang ramah, tatapan yang hangat dan senyum tipis yang tetap bertahan melengkapi penampilannya sebagai seorang 'pria paruh baya yang ramah'.
Noelle sendiri belum pernah pergi ke selatan, jadi dia hampir tidak pernah melihat orang-orang di sana. Namun, aktifitasnya sebagai seorang petualang membuatnya mampu mengenali karakteristik wajah setiap negara hanya berdasarkan ciri-ciri tertulis.
Kulit pria itu sedikit kecokelatan, dan rambutnya yang agak hitam memiliki beberapa bagian yang telah memutih, menunjukkan perjalanan waktu yang sangat jelas.
Selain fitur wajah yang terlihat ramah, pria itu memiliki penampilan yang sedikit tidak terawat. Rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya memiliki kumis dan janggut tipis yang kotor. Pakaian yang dia gunakan juga hanya merupakan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku, dan celana jeans hitam yang dililit dengan sabuk cokelat.
Melengkapinya, dia juga menggunakan jubah abu-abu yang sudah compang-camping.
Noelle tanpa sadar telah memperhatikan pria itu untuk waktu yang dia sendiri tidak ketahui. Sampai akhirnya, pria itu menyadari keberadaan Noelle.
Dia menoleh ke arah pintu yang menghalangi dirinya dan Noelle, lalu memberikan senyum lembut.
Membuka mulutnya, dia kemudian tertawa kecil dengan suara serak. "Jangan terlalu waspada denganku. Aku hanya seorang pria tua yang sudah terjebak di sini selama bertahun-tahun."
Apa yang dia katakan itu membuat Noelle melebarkan matanya dengan terkejut. Pria itu baru saja mengatakan kalau ia telah terjebak di sini untuk waktu yang lama. Tapi, yang dia maksud dengan 'di sini' itu sebenarnya apa? Apa mungkin itu adalah dunia nyata? Atau mungkin alam mimpi kolektif?
Secara pribadi, Noelle lebih memilih jawaban pertama.
Jawaban itu dia buat berdasarkan fakta bahwa kekuatan yang menarik semua orang ke alam mimpi hanya akan bertahan untuk beberapa waktu, lalu membuat mereka terbangun lagi.
Jadi, tidak mungkin bagi seseorang untuk terjebak di alam ini untuk seumur hidupnya.
Di saat Noelle kebingungan memikirkan situasinya, pintu itu terbuka dengan sendirinya, dengan mudah menampilkan sosok Noelle di hadapan pria itu, membuat Noelle langsung bertindak waspada dengan mengendalikan semua pedang di tangannya.
"Seorang remaja? "
Dia tidak menduga kalau keberadaan yang hawanya ia rasakan itu akan menjadi seorang remaja yang bahkan belum menginjak usia dewasa secara mental.
Namun, ekspresi keterkejutan itu tak berlangsung lama, dan segera digantikan dengan senyum hangat yang timbul di wajahnya.
"Apa kau datang ke sini dengan kelompokmu? "
Tidak merasakan bahaya apa pun, Noelle menurunkan senjatanya. Dia masih agak waspada ketika dia menjawab pria itu.
"Ya."
Setelah mendoakan jawaban singkat dari Noelle, pria itu segera menunjukkan wajah kelegaan yang jelas saat dia menghela napas.
"Syukurlah … Untuk sejenak aku berpikir kalau kau terbawa ke tempat ini dengan cara yang aneh … Puji Nona," ucap Pria itu sambil menutup mata dan mencubit jarinya, lalu mengetuk dadanya sebanyak tiga kali dalam pola bulan sabit.
(Gerakan itu … )
Itu adalah gerakan yang tidak asing bagi Noelle. Dia dan Olivia sudah diajarkan untuk melakukan gerakan itu setiap kali sesuatu yang baik menghampiri mereka. Namun, pada akhirnya mereka berdua tidak pernah melakukannya lagi semenjak mereka menjadi vampir.
Itu adalah gerakan tangan yang dilakukan untuk menunjukkan rasa terima kasih pada keberadaan tertentu—Vesperi Goddess Zelica.
"Seseorang dari gereja? "
Noelle segera membuat tebakan, tapi pria itu hanya menanggapinya dengan senyum masam.
"Aku hanya seorang penganut yang taat, dan tidak bergabung dengan gereja secara resmi. Tentu saja, aku sesekali memberikan amal dan melakukan beberapa pekerjaan sukarela dalam Misa."
Usai mengatakannya, pria itu segera mengalihkan pandangannya dan kembali melihat buku di tangannya.
"Ngomong-ngomong, Nak, bagaimana kamu bisa sampai ke sini? Ahh, aku tidak bertanya soal alam mimpi, tapi tempat yang memiliki kabut yang bisa menarikmu ke tempat ini."
(Jadi dia tahu, ya … )
Meskipun Noelle penasaran dengan bagaimana pria itu bisa mempertahankan kesadarannya di alam mimpi, itu tidak menghentikan Noelle untuk bertindak baik dan menjawab pria ramah itu.
Dia sudah menganggap pria ini sebagai orang baik yang tidak akan menjadi ancaman. Meskipun begitu, ada baiknya untuk bersikap waspada, jadi Noelle menempatkan banyak darahnya di banyak tempat di ruangan ini.
"Aku dan rekan-rekanku … Kami dibawa ke tempat itu karena teleportasi paksa. Awalnya kami berada di sebuah dungeon, dan berusaha mencari jalan keluar. Tapi … "
Noelle tidak melanjutkan kata-katanya, dan justru melihat ada pria itu. Pria itu sendiri sudah terdiam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya kembali menatapnya.
"Apa kalian semua datang karena Gerbang Roh? "
"Kau tahu sesuatu tentang Gerbang Roh? Pak Tua, sebenarnya siapa kau ini? "
Tawa kering keluar dari pria itu. Senyum hangatnya berubah menjadi senyum miris, dan tatapannya sedikit menajam.
"Usiaku baru 34 tahun. Baiklah, kau bisa memanggilku Erwin. Sebenarnya, aku hanya seorang pedagang yang kebetulan berafiliasi dengan beberapa serikat dan organisasi petualang. Itu membuatku sering kali terlibat dalam hal yang berbahaya. Tentang bagaimana aku bisa datang ke tempat ini, aku akan menceritakannya setelah kau menceritakan bagianmu."
Erwin kemudian menatap Noelle, tahu kalau dia masih menyembunyikan sesuatu.
Noelle awalnya ingin menolak untuk menceritakannya, tapi kemudian ia melihat tidak ada gunanya melakukan itu. Jadi, dia melakukan apa yang dia inginkan, yaitu menceritakan beberapa bagian pada Erwin.
Dia juga ingin berbagi pengalaman ini dengan orang lain, orang yang kemungkinan lebih berpengalaman darinya.
"Awalnya aku mengajak rekan-rekanku untuk pergi ke suatu pulau yang ada di kawasan Kerajaan Nothernos, tapi kemudian kami diteleportasikan secara paksa ke sebuah dungeon."
"Kami tidak tahu lokasi asti dari dungeon itu, tapi kami memiliki beberapa dugaan tentang siapa yang menciptakannya. Di situlah, kami menyebutkan nama kehormatan'Nya', membuat kami lagi-lagi berpindah ke sebuah taman bunga yang penuh dengan kabut suram. Tepat seperti yang kau katakan, kami bisa datang ke sini dengan Gerbang Roh yang muncul setelah mengucapkan nama kehormatan'Nya'."
Noelle akhirnya selesai dengan ceritanya. Dia terdiam sejenak ketika perasaan lega memenuhi dirinya. Dia tidak pernah merasa sepuas ini saat menceritakan pengalamannya pada seseorang.
Erwin terdiam untuk beberapa waktu, dan keningnya secara alami mengkerut. "Masalah apa yang membuat kalian sampai terlibat dengan dewa luar … "
"Sebenarnya aku juga penasaran dengan itu … "
Noelle tak sanggup menjawabnya, jadi dia hanya bisa mengalihkan pandangannya dengan masam sambil memikirkan Terneth yang mungkin sudah kejang-kejang karena kegagalannya dalam membalas dendam.
"Ngomong-ngomong, namaku Noelle. Tentangmu sebelumnya … Bagaimana kau bisa datang ke tempat ini, Erwin? "
Untuk sejenak, Noelle berhasil melupakan masalah yang mengganjal di kepalanya. Dia akhirnya memilih untuk mengobrol dengan Erwin untuk mengumpulkan beberapa informasi.
(Syukurlah setidaknya masih ada satu orang yang bisa mempertahankan kesadarannya di sini … )
"Yahh, itu adalah cerita yang panjang. Apa kau kau mendengarnya? Mungkin … Tidak akan memakan waktu 15 menit."
"Baiklah." Noelle mengangguk dan mengeluarkan dua kursi malas dari penyimpanan spasialnya.
" … Kau jelas penyihir yang hebat."
...****************...
Setelah 15 menit, cerita Erwin berakhir. Dan dari hal itu, Noelle berhasil mendapatkan beberapa informasi penting.
Informasi pertama adalah sesuatu yang sudah ia ketahui. Area dengan kabut yang mampu menarik mereka ke alam mimpi ini terletak tak jauh dari Laut Senor.
Sebelumnya, Erwin bingung dengan berapa lama ia sudah terjebak di area ini. Namun, Noelle kemudian mengatakan kalau di dunia luar sekarang sudah tahun 741, yang membuat Erwin sadar kalau dia sudah terjebak selama 4 tahun.
Sistem perhitungan tahun yang Noelle sebutkan itu memakai sistem penanggalan yang sama dengan yang digunakan mayoritas negara di benua. Tahun pertamanya dihitung dari saat kekalahan Raja Iblis oleh Pahlawan Aaron.
Kemudian, Erwin yang sedikit sedih itu menjelaskan kalau dia awalnya bergabung dengan tim gabungan yang terdiri dari beberapa petualang dan bounty hunter. Meskipun dia sendiri hanyalah seorang pedagang, Erwin memiliki banyak pengalaman dengan situasi yang berbahaya, dan dia juga memiliki koneksi dengan Gereja Vesperi Goddess, membuatnya menjadi orang yang sempurna untuk dijadikan rekan perjalanan.
Erwin berasal dari Republik Waldenholt, dan mengikuti kelompoknya untuk menuju ke sebuah pulau primitif yang ditemukan di sekitar Laut Senor.
Singkat cerita, dia dan kelompoknya menggunakan kapal layar besar untuk melintasi Laut Senor menggunakan rute yang relatif aman.
Perjalanan berlangsung dengan lancar. Meskipun cuaca di Laut Senor tidak stabil, dan harus membuat mereka beberapa kali menghadapi badai besar, itu semua tidak menjadi masalah khusus mengingat persiapan yang mereka lakukan sudah cukup sempurna.
Monster laut juga terkadang muncul, tapi itu tidak melakukan apa pun yang berbahaya karena monster laut yang muncul ke permukaan bukanlah jenis monster yang agresif.
Akhirnya, mereka sampai di pulau primitif yang dimaksud. Namun, seketika semua berubah menjadi aneh.
Satu per satu kru kapal dan pengawal menjadi gila, dan mulai menyerang satu sama lain. Bahkan ada beberapa petualang berperingkat tinggi dengan banyak pengalaman yang berubah menjadi monster aneh.
Pada saat itu, hampir semua kru telah mati karena berbagai alasan. Beberapa bunuh diri, dan beberapa lagi tewas dalam adegan saling bunuh yang terjadi.
Akhirnya, hanya ada Erwin dan dua orang kru yang tersisa. Mereka bertiga berhasil bertahan hidup dan melarikan diri dari kapal, sepenuhnya mengandalkan kemampuan mereka dalam berenang untuk menuju pulau terdekat.
Namun, lagi-lagi kesialan menimpa mereka. Satu orang kru tewas karena racun yang telah menyebar ke seluruh tubuhnya saat dia berenang. Ada pun asal racun itu, Erwin curiga kalau racun itu berasal dari salah satu senjata yang dimiliki kru lain saat masih di kapal.
Belum selesai di sana, satu kru lain yang tersisa akhirnya kehilangan kendali dan berubah menjadi monster karena alasan yang tidak Erwin ketahui.
Erwin adalah satu-satunya yang berhasil bertahan hidup dari semua itu, dan dia memilih untuk berdiam diri di pulau itu sampai dia menemukan kesempatan untuk keluar.
Berdasarkan semua informasi itu, Noelle telah menemukan banyak hal yang menarik. Salah satunya adalah kondisi para kru yang tiba-tiba menggila dan berubah menjadi monster. Itu mungkin kondisi yang sama dengan Berserk.
Untuk penyebabnya, Noelle masih belum tahu karena Erwin tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Tapi, dia bisa menyimpulkan kalau kondisi itu tercapai karena pengaruh luar.
Kabut dan udara berat yang melingkupi area ini bisa menyebabkan seseorang mengalami kerusakan mental secara bertahap, mempengaruhi jiwa mereka dan membuat mereka kehilangan kendali.
Erwin seharusnya sudah tahu itu, mengingat dia sudah terjebak di sini selama empat tahun lamanya.
(Tunggu, usianya 34 saat terjebak. Apa itu artinya dia sudah 38 sekarang? )
Noelle memutuskan untuk mengesampingkan masalah itu sejenak saat dia melihat pada gulungan kertas yang Erwin berikan di tengah cerita.
Noelle membuka gulungannya, dan menemukan gambar yang dibuat dengan tinta merah yang tidak dia ketahui dari mana asalnya.
Apa yang Erwin berikan padanya adalah peta wilayah ini. Dia sudah terjebak selama empat tahun, dan itu cukup untuk mengelilingi semua bagian dan memetakan banyak tempat.
"Tunggu, kau sudah memiliki petanya, tapi kenapa kau belum keluar dari tempat ini? "
Erwin terlihat sedih sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Masalahnya, aku tidak bisa menemukan jalan keluarnya. Ini seperti ada dinding tak terlihat yang menghalangi jalan, dan membuat kita terjebak di labirin tanpa batas."
Dia kemudian menatap Noelle. "Apa kau tahu sesuatu tentang jalan keluarnya? "
...****************...