![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
"Keluarga kami memiliki sejarah yang panjang, dan akan memakan waktu untuk menjelaskannya. Pada intinya, kakek buyut kami, orang yang menjadi awal dari semua kesuksesan yang dimiliki semua anggota keluarga kami, telah membangun usahanya tak lama setelah ia dibebaskan dari kamp penahanan setelah Perang Dunia 2 selesai."
Olivia dengan raur murung mulai menjelaskan, sementara semua orang mendengarkannya dengan penuh perhatian.
Bagi mereka, masyarakat golongan menengah, ini adalah sesuatu yang menarik untuk diperhatikan.
Di sisi lain, Anzu mengangguk. "Memulai usahanya saat usia 28 tahun, dia mengawali segalanya dengan sebuah klinik dan perusahaan yang berputar di bidang medis dan farmasi, lalu meninggal pada usia 103 tahun, meninggalkan keluarga besarnya dalam kesuksesan yang berlimpah."
Itu terdengar seperti sebuah dongeng yang tak nyata, tapi apa yang diceritakan Anzu itu sesuai dengan yang mereka ketahui saat masih di bumi.
Bahkan meskipun ia sudah meninggal pada tahun 2023, kisah kesuksesannya masih sering diperbincangkan di masa mereka hidup, yaitu 2030.
"Itu memang kenyataannya, tapi … Apa hubungannya dengan kematian Hakui? Bisakah kau tidak mengarangnya? "
Berbeda dari biasanya, Olivia kali ini benar-benar memperlihatkan ekspresi kecemasan yang sangat jelas. Bahkan orang yang tidak peka sekali pun pasti dapat melihat rasa ketidaksabarannya.
Anzu tersenyum, dan menjawab, "Seperti yang kukatakan sebelumnya. Dunia dan sistem politik yang kita miliki saat itu benar-benar kejam. Sebelum kematiannya, Hakui sedang menyelidiki anggota partai tertentu yang berkemungkinan besar terlibat dalam transaksi ilegal dengan negara lain. Tapi, sayangnya dia tidak bernasib baik."
"Orang yang dia selidiki—pejabat yang masih belum kami ketahui identitasnya, menyadari gerak-gerik mencurigakan dari Hakui. Saat itu Hakui melakukan penyelidikannya secara tersembunyi, karena itulah ia tidak memiliki dukungan apa pun."
"Hakui berhasil mengendus jejak mereka, dan menyusup ke salah satu gedung hotel yang kemungkinan dijadikan lokasi pertemuan bagi targetnya. Tapi, sayangnya di sanalah dia akan berakhir."
Tanpa repot-repot menyembunyikan ekspresi jijiknya, Anzu menghela napas.
"Kami tidak tahu detailnya, tapi ia telah ditemukan tak bernyawa di basement gedung hotel. Ada beberapa bekas tembakan di punggungnya, dan kepalanya juga mengalami kerusakan yang sangat parah karena pukulan benda tumpul. Setelah mengetahui itu semua, kau masih berani berpikir kalau itu adalah kecelakaan kerja? "
Itu adalah poin yang valid, Olivia tak bisa membantahnya. Dia kini menyadarinya, dia masih kekurangan informasi, dan tak mengetahui apa pun sehingga dapat dengan mudah menerima pernyataan dari pihak kepolisian.
Namun, itu menimbulkan pertanyaan di kepalanya. Bagaimana Anzu bisa mengetahui semua itu? Saat Olivia menanyakannya, Anzu hanya tersenyum sedih.
"Itu karena ayahku adalah orang yang menggantikan posisi Hakui di Departemen Kepolisian. Itu juga menjadi alasan mengapa aku bisa terlibat cukup dalam dengan Izaya. Ayahku mengenal Izaya sebagai anak asing yang dirawat Hakui."
Tersenyum miris sejenak, Anzu kemudian melanjutkan, "Ini mungkin informasi yang tidak penting, tapi aku pertama kali bertemu dan mengenal Iza saat kunjungan ke makam Hakui bersama ayahku. Itu beberapa hari sebelum upacara masuk kita ke sekolah."
Sejenak, Anzu hampir kehilangan kendali akan pikirannya dan hampir membayangkan semua hal itu, tapi ia segera menggelengkan kepalanya untuk menghapus ingatan yang perlahan timbul itu.
Di saat itu, Olivia dengan wajah cemasnya bertanya, "Lalu, apa hubungannya dengan kematian orangtua kandung Izaya? "
(Aku juga ingin menanyakan hal yang sama … Aku yakin mereka juga penasaran.)
Iris berusaha mengendalikan ekspresinya untuk menunjukkan rasa 'ketidaktertarikan', tapi itu tak sepenuhnya berhasil karena tatapannya sesekali menelusuri adegan yang masih berlangsung, dan sosok Anzu yang memiliki ekspresi melankolis.
Anzu diam sejenak, terlihat berpikir sebelum menjawab. "Kami juga tidak tahu. Tapi, Iza bersikeras mengatakan kalau ada yang salah dengan kematian orangtuanya. Karena itulah, dia menghabiskan waktu selama beberapa tahun untuk menyelidiki, meskipun pada akhirnya tidak berhasil menemukan apa pun."
"Lalu … "
Olivia berniat menyela. Dia ingin mengungkapkan kebingungannya tentang kenapa Anzu dapat mengatakan kalau kasus kematian kedua orangtua Izaya bukanlah suatu kecelakaan.
Namun, sebelum ia berhasil mengungkapkan kebingungan itu, Anzu telah lebih dulu berbicara.
"Tapi, kami menemukan beberapa petunjuk, yang kemudian mengindikasikan kalau kematian kedua orangtuanya memang bukanlah kecelakaan belaka. Kau, atau kalian semua mungkin tidak peduli dengan laporan yang diberikan, tapi sebenarnya tak ada rincian mendetail mengenai kasus kecelakaan itu."
"Tak ada komunikasi yang berlangsung antara pilot dengan pusat pengendalian, dan tak ada juga blackbox yang seharusnya ditemukan di sana setelah kecelakaan. Kelalaian? Tidak mungkin, semua pesawat—terutama pesawat penumpang kelas atas—selalu memiliki aset keamanan ekstra yang dipasangkan. Blackbox itu seharusnya ada di sana sebelum keberangkatan."
Tak lama setelah Anzu menjelaskannya, Olivia bergumam, dengan jelas mulai memahami garis besar insiden ini.
"Sabotase … "
Olivia ingin bertanya lebih lanjut tentang itu, tapi tiba-tiba suatu keanehan terjadi.
Adegan yang diproyeksikan mulai ditutupi dan tampak menyatu dengan suatu gelombang aneh, sebelum akhirnya menunjukkan tanda keretakan yang sangat jelas.
Bersamaan dengan retakan itu, adegan tiba-tiba berhenti. Segalanya berubah menjadi hitam-putih, warna monokrom yang sangat jelas.
Adegan yang sedang diproyeksikan itu menampilkan sosok Shion yang menyandarkan kepalanya di bahu Izaya, sambil kedua tangannya memeluk boneka pinguin yang baru saja ia dapatkan. Tatapan matanya kosong, fokus pada batu nisan Hakui yang ada di hadapannya.
"Apa yang terjadi? "
Tak mengerti situasinya, mereka semua hanya bisa memperhatikan sekeliling mereka dengan bingung; dan tak lama kemudian, adegan yang diproyeksikan itu pun langsung pecah seperti sebuah kaca tipis yang rapuh.
Adegan yang sedang diproyeksikan seketika digantikan oleh pemandangan aneh, hitam pekat—kegelapan yang sangat pekat—terlihat tak memiliki batas sama sekali.
Semua itu membuat Olivia waspada sejenak, tapi segera melonggarkan kewaspadaannya ketika menyadari bahwa tidak ada yang terjadi.
Detik kemudian, cahaya kembali mengisi, dan adegan yang diproyeksikan seketika berganti.
Sosok Izaya dan Shion yang menghadiri pemakaman sebelumnya, sudah tidak ada. Itu digantikan oleh pemandangan sebuah mansion besar yang mewah dan dihiasi oleh keindahan taman yang menakjubkan.
Meskipun mewah, itu bukanlah pemandangan yang akan membuat mereka terkejut. Sebagai bangsawan di negara ini, mereka sudah sangat terbiasa dengan pemandangan seperti itu.
Namun, hal itu tak berlaku untuk Olivia.
Ekspresinya jelas menunjukkan keterkejutan yang luar biasa, di saat yang sama juga memiliki rasa kecemasan dan kekhawatiran yang jelas.
"Ini … "
Pemandangan yang ada di hadapannya ini adalah sesuatu yang sudah sangat ia kenal, dan hampir ia lupakan.
Itu adalah mansion keluarga utamanya, yang dimiliki oleh Mikhail Wecker di Jerman.
Olivia tiba-tiba menyadari situasinya, dan kini hanya bisa tertawa kering sambil tersenyum kecut.
"Setelah kau, sekarang giliran ingatanku, ya … "
Adegan yang diproyeksikan, telah berganti dari ingatan Anzu, ke ingatannya sendiri.
...****************...
Di adegan yang diproyeksikan itu, sesosok anak laki-laki yang kelihatannya berusia empat atau lima tahun dapat terlihat.
Wajahnya cukup imut untuk seorang laki-laki, dan rambut hitamnya yang disertai dengan kulit pucat itu juga terlihat sangat cocok satu sama lain.
Namun, satu hal yang membuat anak laki-laki itu terlihat menakutkan adalah tatapannya. Matanya berwarna merah, tapi itu tidak menunjukkan tanda akan kehidupan apa pun, benar-benar kosong dan tak bernyawa.
Itu bukanlah jenis tatapan yang dapat dimiliki seorang anak di bawah umur. Mereka semua secara alami berpikir seperti itu.
Anak laki-laki itu terlihat sedang duduk di lantai, menatap kosong pada sebuah buku besar yang tergeletak di lantai. Dari gerakan matanya, disertai dengan jari kecilnya yang menelusuri baris ke baris buku itu, dapat disimpulkan bahwa dia sedang membacanya.
Tapi, apa bocah seumuran dia benar-benar bisa atau tertarik untuk membaca buku setebal itu? Rasanya tidak mungkin. Mereka memiliki pemikiran yang sama untuk hal itu.
"Wajahnya terlihat tidak asing … "
Werli sedikit kebingungan, dan berusaha menggali ingatannya untuk mengenali identitas bocah itu, tapi Olivia telah lebih dulu menyela, tidak membiarkannya menemukan identitas bocah itu sendiri.
"Dia adalah Izaya. Izaya saat masih anak-anak."
Dalam hampir seketika, reaksi kebingungan meledak di antara semua orang.
"Dia … Izaya? Tunggu sebentar! Itu tidak mungkin, 'kan?! "
Memang wajahnya sangat identik, tapi mereka tak mau mengakui itu.
Bagaimanapun, bocah itu memiliki gambaran yang benar-benar berbeda dari sosok Izaya yang mereka ingat.
Anzu mengangguk sejenak, sebelum menyetujui dengan kata-katanya.
"Aku sudah melihat langsung fotonya saat masih kecil, jadi tidak ada keraguan, dia memang Iza. Tapi … Ini sedikit di luar dugaanku … "
Bahkan Anzu sendiri kebingungan dengan itu.
Adegan kembali berlanjut, dan dua pintu yang menghubungkan ruangan tempat Izaya kecil dengan dunia luar itu pun terbuka.
Seberkas cahaya memasuki ruangan, membuat Izaya kebingungan sejenak. Dia mengalihkan pandangannya dari buku tebal itu, dan melihat dua sosok yang berjalan mendekatinya dari pintu.
"Tuan Muda, Anda diminta untuk segera keluar dan bertemu dengan 'tamu penting'. Apa Anda membutuhkan sesuatu? "
Dua sosok itu adalah dua orang dengan setelan pakaian pelayan yang sederhana. Yang satu adalah seorang pria tua dengan aura kebijaksanaan yang nyata, dan yang satunya adalah seorang wanita muda dengan ekspresi tenang dan memancarkan suasana yang hangat.
Keduanya menghampiri Izaya, dan pria tua itu berbicara dengannya.
"Siapa tamunya? "
"Anda akan tahu saat Anda melihatnya."
Dua pelayan itu tidak berbicara lagi, dan wanita muda itu pun mendekati Izaya untuk membantunya berjalan.
Izaya, dengan satu tangannya yang dipegangi oleh wanita muda itu pun berjalan keluar dari ruangan, sementara pria tua sebelumnya masih tinggal untuk membereskan buku yang dia baca sebelumnya.
Awalnya, percakapan mereka terdengar menggunakan bahasa yang tak hampir tak dapat Anzu dan reinkarnator lain pahami, tapi detik kemudian telinga mereka langsung beradaptasi dan secara otomatis menerjemahkannya ke bahasa yang mereka mengerti.
Setelah merasakan langsung efeknya, mereka mau tak mau berpikir betapa luar biasanya kemampuan penerjemahan yang diberikan Anastasia itu.
Olivia terlihat merenung sejenak, sebelum akhirnya menatap adegan yang terproyeksikan dengan sedikit tidak percaya.
"Ini … "
Belum sempat ia selesai berbicara, adegan kembali berganti.
Kali ini, Izaya dan kedua pelayan itu telah berada di sebuah jalan setapak yang ada di taman besar yang indah. Pondok yang terbuat dari marmer putih dengan desain tradisional yang mewah itu membuat mereka merasa kembali ke masa lalu.
Di hadapan Izaya, berdiri dua sosok orang dengan jenis kelamin yang berbeda.
Pria yang ada di sana tampak seperti seorang pria muda dengan usia sekitar 30 tahun, tapi bahu dan posturnya yang tegap membuatnya terlihat lebih muda dari seharusnya. Selain itu, ciri wajahnya juga dapat dikatakan tampan dan menyilaukan, membuat Izaya bahkan terdiam sejenak saat melihatnya.
Di samping pria itu, berdiri seorang wanita yang juga terlihat masih sangat muda. Senyumnya lembut, sama seperti pria di sampingnya. Rambutnya yang hitam bergelombang itu mencapai punggungnya, dan anting berkilauan yang berbentuk kristal es itu terlihat bergelantungan di telinganya.
Awalnya, keduanya menatap Izaya dengan senyum hangat di wajah mereka. Namun, ekspresi itu segera berubah menjadi kesedihan yang cukup jelas.
Perubahan yang mencolok ada pada wanita itu. Dia tidak lagi memasang senyumnya, dan justru terlihat hampir menangis saat melihat sosok Izaya.
"Mama … "
Rasanya seseorang baru saja bergumam di belakang mereka yang menyaksikan proyeksi, tapi mereka tak dapat merespon dan justru terfokus pada adegan itu.
suasana di sekitar pria yang ada di adegan itu pun berubah menjadi suram dalam seketika. Dia mendecakkan lidahnya dengan kesal saat ia berbalik.
"Sudah kuduga akan jadi seperti ini, aku akan berbicara dengan mereka. Kalian bisa bicara lebih dulu."
Dengan kata-kata itu, pria itu pun berjalan pergi, diikuti oleh pria tua yang menjadi pelayan itu.
Wanita itu mengangguk, dan kembali menatap Izaya. Untuk waktu yang tak ditentukan, keduanya saling menatap dengan emosi yang berbeda terpancar dari keduanya.
Izaya tidak tahu apa pun, dia hanya dengan bingung memandangi wanita itu, sementara wanita itu sendiri terlihat benar-benar sedih dan menyesal saat melihat Izaya.
(Apa ada yang salah dengan penampilanku? )
Rasanya pemikiran seperti itu dapat terdengar dari sosok kecilnya.
Setelah beberapa waktu, wanita itu akhirnya menarik napas panjang dan menghembuskannya untuk menenangkan dirinya.
"Huff … Baiklah … Pertama-tama … Selamat pagi, Izaya. Kamu mungkin tidak mengingatku, tapi aku adalah bibimu … Yahh, begitulah."
Kata-kata yang tiba-tiba dari wanita itu membuat Izaya tersentak sejenak. Dia tahu kalau dia memiliki banyak sekali anggota keluarga di luar sana, tapi dia tidak pernah melihat wanita di hadapannya.
Terlebih lagi, wanita ini jelas memberinya tatapan yang berbeda dari semua orang di keluarganya.
"Kamu mungkin bingung, tapi kamu tidak perlu khawatir, kamu bisa menghabiskan waktu untuk beradaptasi. Benar … Untuk sekarang … Aku … Aku benar-benar minta maaf … "
Wanita itu mulai tergagap, dan matanya yang mulai merah itu perlahan mulai tidak sanggup membendung air mata yang perlahan menetes karena beratnya kalimat yang harus dia ucapkan.
Dia menarik napas panjang dan kembali menatap Izaya, jelas berusaha menahan tangisnya.
"Ibumu sudah kuanggap sebagai saudariku sendiri, dan awalnya dia sudah menitipkanmu padaku jika sesuatu terjadi padanya. Tapi … Aku benar-benar minta maaf … Aku minta maaf karena baru muncul sekarang. Banyak hal yang terjadi, dan aku hampir tidak memiliki kesempatan untuk ke Jerman dan menjengukmu … "
Dia benar-benar terlihat panik saat dia menjelaskan itu. Bagaimanapun, Izaya tetap tidak mengubah ekspresinya. Dia hanya bisa menatap wanita itu dengan bingung, tanpa bisa memahami maksud perkataannya.
Pikirannya kosong, sementara wanita itu terus berbicara. Sampai akhirnya…
"Ayano, keluarlah."
Merespon panggilan wanita itu, sosok kecil yang terlihat lebih kecil dari Izaya muncul. Rupanya dia telah bersembunyi di balik semak-semak selama ini.
Yang muncul di sana adalah seorang gadis kecil, terlihat seumuran dengan Izaya.
Wajah dan ekspresinya benar-benar imut, membuatnya terlihat seperti seekor hewan kecil yang tidak mengetahui apa pun. Beberapa kelopak bunga berwarna putih terlihat menempel di rambutnya yang hitam.
Dia dengan penasaran berjalan menuju wanita itu, yang merupakan ibunya, sambil merasakan tatapan kebingungan dari Izaya.
"Jadi itu kau saat masih kecil, ya … "
Iris bergumam sambil melirik pada Olivia yang terlihat fokus pada adegan yang diproyeksikan.
Begitu gadis kecil—Ayano—sampai tepat di samping ibunya, dia dengan agak ragu melihat pada Izaya, sebelum akhirnya menatap pada ibunya dengan linglung.
Ibunya hanya tersenyum masam, dan dia pun kembali menatap Izaya.
"Gadis ini adalah putriku, namanya Ayano. Karena usianya hampir sama denganmu, aku harap kamu bisa akrab dengannya."
Ini adalah pertama kalinya Izaya bertemu dengan Ayano, seorang gadis yang kelak akan membawakan perubahan besar pada hidupnya.
...****************...
"Apa yang sedang kamu lakukan? "
Di sebuah ruang baca yang ada di villa, sosok gadis kecil yang sebenarnya adalah Ayano itu terlihat bermain-main dengan pion catur yang ada di hadapannya, sementara tatapannya beberapa kali diarahkan pada Izaya. Jelas kalau dia tidak dapat menyembunyikan rasa ketertarikannya terhadap apa yang sedang Izaya lakukan.
Izaya sendiri sedang membaca sebuah buku yang tebalnya mungkin dapat mencapai 300 sampai 400 halaman. Dia membolak-balik halaman seolah mencoba memastikan sesuatu.
Ayano, yang sudah berpindah ke sisinya, dengan heran bertanya, "Kamu bisa membacanya? "
Kali ini Izaya berhenti, dia menoleh pada Ayano dan memasang ekspresi yang seolah sedang melihat makhluk aneh.
"Kamu tidak bisa? "
Ayano menggeleng. "Tidak. Mama bilang jangan terburu-buru, masih ada banyak waktu untuk belajar."
Izaya terdiam sejenak, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke buku yang ada di hadapannya. Dengan sedikit sedih, dia bergumam, "Mereka benar-benar mengizinkanmu melakukan itu, ya … "
Meskipun gumamannya memiliki volume yang sangat rendah, Ayano dengan sangat jelas mendengarnya. Dia memasang ekspresi bingung dan semakin mendekatkan dirinya dengan Izaya.
Kini wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah samping Izaya.
"Apa kamu tidak boleh berhenti belajar? "
Izaya menggeleng dengan ekspresi heran di wajahnya. Ekspresinya seolah sedang melihat sesuatu yang aneh. "Tidak, aku harus mengikuti semua jadwalnya, atau mereka akan marah."
Pada saat mengatakan itu, Izaya melirik pada sebuah kertas panjang yang ditempelkan di sebuah rak buku. Kertasnya ditempelkan pada bagian bawah sehingga dapat dijangkau bahkan oleh Izaya sendirian.
Di kertas itu, tertera berbagai kegiatan bersama dengan angka yang menunjukkan waktu kapan akan dimulainya kegiatan itu.
Itu adalah jadwal yang sepenuhnya mengatur hidup Izaya. Dia harus memenuhi semua jadwal itu agar orang-orang yang memberinya tugas tidak akan merasa kecewa padanya.
Kegiatan pertama yang ada di jadwal itu adalah peregangan kecil, yang dilakukan setelah Izaya bangun tidur, tepatnya pada pukul setengah enam pagi. Lalu diikuti dengan sarapan bersama anggota keluarga lain pada pukul tujuh tepat, dan disusul dengan les pendidikan dasar bersama tutor pribadi, tepat pada pukul delapan.
Setelah itu, ada banyak kegiatan lain, seperti: kursus alat musik dengan biola dan piano, latihan dasar-dasar bertarung, makan siang, kelas sopan santun selama 30 menit, yang kemudian akan diselingi dengan tidur siang untuk menjaga kesehatannya. Setelah itu, dia bisa menghabiskan sisa waktunya untuk berbagai kegiatan bermanfaat lainnya, seperti membaca buku seharian di perpustakaan keluarga, mengikuti tukang kebun dan kepala pelayan merawat taman, memakan cemilan, dan berkeliling taman untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.
Itu semua adalah jadwal yang sebenarnya terlalu ketat untuk seorang anak. Bahkan, kepala pelayan dan beberapa pelayan lainnya benar-benar menolak untuk menerapkan jadwal ini pada kehidupan Izaya.
Tapi, apa boleh buat? Semua adalah keputusan dari penguasa rumah, Mikhail Wecker, yang merupakan kakek buyut Izaya sendiri.
"Setelah melihat jadwal yang dia miliki saat masih anak-anak … Aku sudah tidak heran dia selalu mendapat nilai sempurna dalam pelajarannya di sekolah … "
Waka dengan prihatin mengangguk saat ia memperhatikan jadwal kegiatan Izaya yang ikut diproyeksikan.
Wajah Olivia masih murung, dan ekspresinya semakin mendung saat ia melihat itu. Ia benar-benar ingin memarahi dirinya yang masih kecil di sana karena telah bertindak tidak peka terhadap Izaya.
Ayano kecil yang diproyeksikan itu terlihat bingung sejenak, sebelum akhirnya menjauhkan wajahnya dari Izaya. Dia melihat ke sekeliling, dan dengan riang berkata, "Tidak ada yang melihat, ayo bermain! "
...****************...