![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Sementara itu, di area bawah tanah.
"Ini benar-benar tempat yang besar … "
Komentar penuh kekaguman itu datang dari Rico, yang memperhatikan sekelilingnya dengan semangat.
Di sampingnya, Kaira memasang ekspresi ragu terhadap semua yang ia lihat.
Benar-benar tak cocok, pikirnya. Kaira merasa ada yang aneh dengan tempat ini.
Di mana mereka sekarang? Sebenarnya, setelah Norman pergi mengejar Noelle sebelumnya, Kaira langsung kembali dan mendapat permintaan dari Rico untuk memasuki lantai yang ada di bawah tanah.
Alasannya tentu saja, karena ia ingin menyelesaikan permintaan yang para tahanan berikan padanya melalui pesan kode.
Namun, tak seperti yang ia duga, lantai yang ada di bawah tanah justru tidak terlihat begitu buruk.
Tempatnya bersih, dan cukup rapih, jika menggunakan standar penjara biasa sebagai perbandingan.
Namun, Kaira justru berpikir sebaliknya.
Ada yang salah dengan tempat ini. Setidaknya itu yang ia rasakan.
Kaira tidak tahu mengapa ia memikirkan itu, dan ragu untuk mengatakannya pada semua orang. Tapi ia benar-benar yakin kalau ada yang salah dengan tempat ini.
"Kaira? Apa kau merasakan hal yang aneh? "
Iris bertanya padanya dari belakang.
Meskipun posisi Kaira sedang memunggungi Iris, itu tak menghentikan Iris dari menyadari keanehan pada dirinya.
Setelah ragu sejenak, Kaira akhirnya mengungkapkan keraguannya terhadap tempat ini.
"Aku tidak tahu. Tapi … Tempat ini aneh … Terlalu sunyi. Orang yang memberi kita pesan sebelumnya mengatakan ada banyak orang di tempat ini. Tapi … Ke mana mereka semua? "
Begitu Kaira mengatakannya, semua orang tiba-tiba tersadar.
Mata Rico tiba-tiba menyipit, dan Alan langsung menyiapkan senjatanya.
"Kau benar. Itu membuatku lengah sejenak. Apa ini salah satu jebakan yang dimaksud? "
"Kemungkinan," ucap Alan seraya mengangguk, menyetujui kata-kata Rico.
"Kalian semua, bersiaplah."
Kaira memberikan instruksi pada semua orang, sehingga membuat mereka langsung dalam posisi siaga.
Namun, saat mereka masih berusaha memindai situasinya, guncangan yang sangat hebat tiba-tiba terjadi.
"A-apa itu?! "
Rico kehilangan keseimbangannya, dan terjatuh dalam posisi duduk di lantai. Sebagian dari mereka juga tidak sempat mempertahankan pijakan. Yang mereka tahu, situasi tiba-tiba berubah.
Lantai, dinding, dan langit-langit tiba-tiba bergetar. Seketika, semua sihir yang dipasangkan pada tempat ini—yang memberi mereka ilusi—langsung menghilang.
Ruangan kembali ke bentuk dan penampilan aslinya. Sudah tidak ada lagi tempat yang bersih dan rapih seperti sebelumnya. Kini, semua telah berubah menjadi sangat mengerikan.
Dinding dan lantai sangat kotor. Beberapa kotoran manusia bersama genangan darah tampak menodai bagian sudut, tetapi mereka semua tak sempat memperhatikannya.
Semua orang masih dilanda keterkejutan, karena perubahan yang terjadi di sekitar mereka.
Getaran itu terus berlanjut, seolah langit-langit akan runtuh dalam hitungan detik.
Rias berteriak dengan panik, dan kehilangan kesadarannya di tempat, tapi untungnya Rico yang sudah berdiri langsung menangkapnya, dan mencegahnya untuk terjatuh ke lantai.
"Kaira! "
"Tch, aku tahu! "
Mereka tak sempat mempertanyakan situasinya. Untuk sekarang, mereka harus pergi. Itu adalah prioritas Kaira.
"Cepat keluar dari tempat ini! Lantai ini akan segera runtuh! "
Teriakan Kaira membuat semua orang kembali sadar. Mereka pun dengan cepat berlari melewati jalan yang mereka lalui sebelumnya.
Namun, dari semua itu, Rico justru berhenti di tengah jalan.
"Rico! "
Kaira berteriak padanya, tapi Rico tak merespon. Ia hanya menatap bolak balik antara Kaira dengan Rias yang digendong di tangannya, lalu mengangguk dengan kuat.
"Kaira! Aku memiliki sedikit urusan di sini! Kau bawa Rias dan pergi lebih dulu! "
"Jangan bodoh kau brengsek! Apa kau tidak lihat kalau tempat ini akan runtuh?! "
"Aku tahu itu! Tapi, tempat ini baru akan runtuh setelah beberapa menit guncangan! Itu waktu yang cukup untuk menyelesaikan urusanku! "
Setelah Rico mengatakannya, ia langsung melempar tubuh Rias, yang pada akhirnya langsung ditangkap oleh Kaira secara refleks.
"Pokoknya, kau pergi dulu bersama yang lain! Aku masih harus melakukan sesuatu di sini! "
" ……… Ahh! Baiklah! Baiklah! Aku tidak peduli lagi! Lakukan saja semuanya sesukamu! Aku akan pergi dari tempat ini! "
Dengan begitu, Kaira langsung berbalik dan berlari meninggalkan Rico.
Tentu saja, bukan tanpa alasan. Itu karena ia tahu kalau Rico tidak akan bertindak ceroboh, jadi ia bisa mempercayai kata-katanya.
Rico yang melihat punggung Kaira perlahan menjauh dari pandangannya itu hanya tersenyum kecil. Namun, ekspresinya kemudian berubah menjadi lebih tegas saat ia berbalik.
"Kau bisa keluar sekarang."
Sesosok bayangan muncul dari balik salah satu pilar penyangga, dan menunjukkan senyumnya yang keji pada Rico.
"Kau cukup berani untuk seukuran bocah di bawah umur."
Mengabaikan kata-kata darinya, Rico langsung mengarahkan ujung revolver di tangannya ke orang itu.
"Jangan bodoh, aku tahu kalau revolver itu tidak ada isinya," ucap orang itu ketika sudut bibirnya semakin terangkat satu.
Apa yang ia ucapkan itu memang benar. Rico hanya membawa revolver itu sebagai bentuk ancaman. Pada kenyataannya, ia sama sekali tidak memiliki peluru yang bisa dijadikan amunisi untuk senjata barunya itu.
Tatapan Rico semakin tajam seiring berjalannya waktu. Ia tampak tak mempedulikan apa yang dikatakan lawannya itu.
Rico tak bisa melihat wajah lawannya karena jubah yang dia gunakan. Namun, berdasarkan suara dan ciri fisiknya, ia tahu kalau lawannya adalah seorang pria.
"Apa kau musuh? "
Itu adalah satu-satunya pertanyaan Rico. Selain itu, ia tak peduli. Jika orang yang ada di hadapannya sekarang adalah musuhnya, maka situasi terburuk pasti telah terjadi padanya.
Mendengar pertanyaan itu, pria itu tertawa sambil mengangkat kedua tangannya dengan ringan.
"Aku musuhmu. Tapi, aku tidak datang untuk bertarung."
" …… Apa maksudmu? "
Mengabaikan semua bau busuk yang perlahan memenuhi hidungnya, Rico terus memberikan penekanan pada pria itu.
"Aku datang hanya untuk mengambil beberapa barang yang tertinggal. Dan kebetulan saja kalian sedang ada di sini."
" … Apa kau yang menyebabkan guncangan ini? "
Ruangan tempat mereka berada masih bergetar dengan hebat, tetapi mereka berdua sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan kehilangan keseimbangannya, dan terus berdiri dengan kokoh.
"Tidak, ini disebabkan oleh sesuatu yang terjadi di atas sana."
"Atas? "
Jawabannya membuat Rico bingung. Normalnya, guncangan sebesar ini hanya bisa disebabkan oleh sesuatu yang terjadi jauh di bawah tanah, titik paling kritis dalam pondasi bangunan. Namun, apa yang baru saja pria itu katakan dengan mudah mematahkan semuanya.
"Kau masih tidak mengerti? Kalau begitu, aku akan menjelaskannya secara singkat. Apa kau tahu kalau ada menara tangga yang menghubungkan semua lantai di bangunan ini? "
Rico mengangguk tanpa menurunkan pengawasannya. Ia bersiap, mengantisipasi setiap gerakan yang pria itu lakukan.
"?! "
Rico tiba-tiba tersadar. Ia melihat ke sekelilingnya, dan benar seperti yang pria itu katakan.
Selain pilar penyangga tempat munculnya pria itu sebelumnya, hanya ada enam pilar penjaga lainnya yang tersebar di titik yang saling berjauhan. Kemungkinan itu diletakkan di tempat dengan tingkat pertahanan paling kritis.
"Akhirnya kau sadar, ya? Itu benar. Menara tangga itu adalah pilar utama dari semua lantai yang ada di bangunan ini. Jadi, jika pilar utama itu dihancurkan … Apa yang menurutmu akan terjadi selanjutnya? "
Pria itu menunjukkan senyum keji dengan matanya yang menyipit. Tak lama kemudian, dia langsung menghilang bersamaan dengan guncangan yang semakin kuat.
"Ah, sial! "
Rico berteriak dengan panik dan menghindari dari puing-puing yang berjatuhan. Dia lalu mulai berlari meninggalkan tempat itu.
Namun, sebelum ia benar-benar meninggalkan tempat itu, ia memungut beberapa kotak penuh peluru revolver dari suatu meja di sana.
Itu akan menjadi amunisi dari senjata barunya.
"Tidak bisakah mereka pelan sedikit?! "
Dalam hatinya, Rico berteriak mencaci-maki pada Noelle dan Norman yang saat ini masih bertarung di tempat lain.
...****************...
"Percepat lari kalian! Tempat ini akan segera runtuh! "
Kaira memberikan perintahnya sambil berlari dengan menggendong Rias di tangannya. Sementara itu, semua orang yang ikut dengannya juga mengikuti dengan mempercepat gerakan mereka untuk mengikuti rute pelarian yang Kaira pilih.
"Kaira, di mana Rico? "
Waka tiba-tiba muncul di sampingnya, membuat Kaira seketika menoleh.
"Rico masih di dalam, dia sedang melakukan sesuatu. Biarkan dia! Untuk sekarang, fokuslah untuk menyelamatkan yang lain! "
Waka dengan enggan mengangguk. Dia kemudian mengayunkan pedang di tangannya untuk menyingkirkan beberapa pipa besi yang berjatuhan menghujani kepalanya.
Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya berhasil keluar, dan melihat pemandangan bangunan tinggi itu perlahan runtuh dengan sebuah angin topan di bagian paling atasnya.
(Tidak salah lagi. Itu pasti mereka.)
Saat Kaira tengah berpikir tentang apa yang sebenarnya terjadi di atas sana, dua orang tampak berlarian menghampirinya, memiliki raut wajah yang seolah bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Itu adalah Olivia dan Stella. Mereka sedikit berantakan, jelas kalau mereka baru saja melewati pertarungan.
"Apa yang terjadi? " tanya Olivia kepada Kaira.
Kaira menoleh dan mengangkat bahunya. Dia kemudian menunjuk pada pusaran angin yang masih berputar dengan liar di atas sana.
"Kau bisa menebaknya sendiri."
Olivia melihat ke pusaran angin itu, dan berteriak, "Noelle! "
Dia kemudian langsung melompat dan mengarahkan ujung Achto yang bersinar. Namun, seketika dihentikan oleh puing logam yang muncul entah dari mana.
Olivia terlempar ke bawah dan mendarat dengan keras di tanah. Meskipun begitu, itu tak membuatnya berhenti.
Dia lagi-lagi mencoba melompat, tetapi langsung dihentikan oleh Stella yang meraih kakinya dan membanting tubuhnya ke udara.
Olivia kebingungan tentng mengapa Stella melakukan itu, tapi ia tak sempat bertanya. Stella langsung menarik kembali kakinya dan menyeretnya menjauh dari lokasi di mana puing-puing logam masih berjatuhan.
"Apa yang kau lakukan?! Itu benar-benar tindakan yang ceroboh! "
Tidak biasanya Stella berteriak seperti itu. Jadi Olivia hanya bisa diam dengan terkejut saat melihatnya.
"Maaf saja, tapi aku setuju dengannya."
Dari belakangnya, sosok Iris bersama Kaira muncul. Mereka menatap Olivia dengan pandangan jengkel, sementara Iris juga menyilangkan kedua lengannya.
Setelah mendapat perlakuan seperti itu, Olivia sudah tidak memiliki niat untuk bangun lagi. Jadi ia memilih untuk berbaring tengkurao di tanah sambil satu kakinya masih ditahan dengan erat oleh Stella.
Pipinya sedikit menggembung karena jengkel, dan rona merah samar juga dapat dilihat di sana.
"Yahh, ini lebih baik daripada harus melihatnya yang dengan bodohnya mencoba memasuki sebuah badai seperti itu," ucap Iris.
Stella mengangguk sebagai tanda setuju. Dalam hal ini, mereka berada dalam pihak dengan pendapat yang sama.
Tak lama kemudian, tiga sosok orang muncul di udara. Mereka tampak sedang terjun bebas dari ketinggian 20 meter. Meskipun begitu, tak satu pun di antara mereka memasang ekspresi ketakutan.
"Noelle! "
Olivia seketika bangun saat melihat Noelle di antara ketiga siluet orang itu. Stella juga tak kalah senangnya. Dia hampir saja melompat dengan gegabah saat melihat Cryll perlahan mendekat dari atas sana.
Sementara itu, satu orang menunjukkan reaksi yang sepenuhnya berbeda.
"Tunggu, apa mereka tidak memiliki pengaman?! "
Itu adlah Iris, yang lebih mengkhawatirkan tentang bagaimana mereka bisa mendarat dengan aman nantinya.
Meskipun begitu, tampaknya tak ada satu pun orang yang menjawab kekhawatirannya.
Sosok mereka bertiga semakin dekat dengan tanah, dan semua orang akhirnya dapat dengan jelas melihat bagaimana rupa ketiganya.
Sementara mereka semua hanya menatap dengan heran dari tanah, Noelle, yang masih memegang Langen dalam bentuk katana besar itu mengeluarkan suara tawa yng besar. Di sampingnya, Cryll juga ikut dengan ekspresi kesenangan di wajahnya.
"Serius … Bagaimana kalian berdua masih tenang … "
Meskipun walah Norman juga sama santainya dengan mereka berdua, dia sebenarnya juga merasa cemas.
Itu karena ia tidak memiliki cara untuk melakukan pendaratan dengan aman.
Jika dia terjatuh dari ketinggian lima atau sepuluh meter, dia mungkin masih bisa mengatasinya dengan kekuatan fisik semata. Tapi, jatuh dari ketinggian 20 meter adalah hal yang berbeda.
Dia tidak memiliki cara untuk meredam dampak kejatuhan dari ketinggian itu.
Menyadari kekhawatirannya, Noelle dan Cryll hanya tertawa dengan keras. Noelle bahkan memejamkan matanya dengan gembira saat ia melihat sosok Norman yang kebingungan.
"Tidak maslah! Serahkan saja padaku! Untuk sekarang, nikmati ini! Tekanan gravitasi di sini cukup rendah, jadi butuh waktu lebih lama bagi kita untuk mencapai tanah! "
" … Jika kau mengatakannya begitu … "
Norman mencoba melebarkan kedua tangannya, dan membuat pose seperti seekor burung yang membentangkan sayap.
Akibatnya, kecepatan jatuhnya semakin berkurang, dan tekanan angin yang menimpa wajahnya sebelumnya sudah semakin menipis.
( … Kurasa ini menyenangkan.)
Bagi Norman yang tidak memiliki pengalaman dalam terjun bebas dari ketinggian, jelas ini akan menjadi hal baru untuknya. Meskipun begitu, hanya sedikit saja, ekspresi senang terbentuk di wajahnya.
Hingga akhirnya, tanah semakin dekat dan membuat pikirannya kembali. Tapi, untuk sekarang, dia akan menrahkan masalah pendaratan pada Noelle.
Noelle mengerti itu dan langsung meresponnya.
Noelle mengayunkan kangen secara horizontal ke bawah, menciptakan gelombang kejut yang kembali melemparkan mereka sedikit ke atas. Dan di saat yng sama, ia juga menggunakan sihir gravitasi untuk menurunkan berat semua orang, sehingga pendaratan akan berjalan lebih mulus.
Bukan masalah bagi Noelle untuk menerima dampak dari kejatuhan secara langsung, tapi jelas kalau Cryll dan Norman tidak terbiasa dengan itu. Jadi ia harus memikirkan solusi untuk membuat mereka berdua aman.
Perlahan, tubuh ketiganya kembali terjatuh ke tanah, membuat Noelle langsung mengayunkan Langen sekali lagi.
Gelombang kejut yang dihasilkan sudah cukup untuk meredam dampak yang akan diterima kaki mereka bertiga.
Akhirnya, ketiganya berhasil mendarat dengan selamat.
Dan itu juga tepat pada waktunya.
Saat kaki mereka bersentuhan dengan tanah, gedung tinggi yang sebelumnya menjadi lokasi pertarungan mereka langsung miring ke samping, dan roboh seketika.
...****************...
(AN: Selamat hari kemerdekaan nasional~)