[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 261: Rasa Bersalah



...****************...


Setelah Noelle diizinkan meninggalkan gereja, Noelle segera mengambil jalan lurus untuk kembali ke apartemen tempatnya tinggal.


Selama perjalanan, dia terus diam tanpa merespon apa pun yang Noir katakan.


(Satu, dua … ada sekitar empat belas dari mereka, ya? )


Bahkan belum sepuluh menit sejak dia meninggalkan gereja, tapi dia bisa merasakan banyak kehadiran sedang mengamatinya dalam diam.


(Yahh, kurasa itu wajar.)


Justru Noelle kan sangat terkejut kalau pihak gereja tidak menempatkan para agen untuk mengawasinya.


Noelle tersenyum masam, dan hanya bisa arah akan situasinya.


Dia tidak tahu sampai kapan para agen itu akan mengawasinya, tapi ada baiknya untuk berjaga-jaga. Dia akan menunjukkan kegiatan yang sangat normal, sehingga mereka akan bosan melihatnya.


Tapi, itu juga berarti Noelle tidak dapat bertindak bebas untuk waktu yang tidak diketahui. Dia juga tidak bisa menghubungi para agen kepolisian, meski ia sudah membuat rencana untuk melakukan itu.


Di area pasar, Noelle menyempatkan dirinya untuk membeli beberapa kantung roti hangat, dan bahan makanan lainnya. Biarpun dia tidak bisa memasak, setidaknya ini akan mengurangi kecurigaan semua orang yang mengawasinya.


Sekarang dia penasaran, bagaimana kabar Tania? Gadis itu tidak muncul lagi sejak Noelle terakhir melihatnya di pertarungan melawan Gild.


(Apa kau tahu di mana dia? )


『Jangan khawatir tentangnya. Dia sudah lebih dulu pergi untuk menghindari perhatian gereja.』


(Baiklah, itu bagus.)


Akan sangat sia-sia jika Tania menghabiskan waktunya lebih lama lagi di sini.


Akhirnya, setelah beberapa menit berjalan kaki, Noelle sampai di apartemennya. Dia kemudian meletakkan semua barang belanjaannya di meja dapur, dan kembali ke kamar untuk berbaring.


Dia sebenarnya memiliki rencana lain untuk dilakukan hari ini. Namun, situasinys telah berubah. Pengawasan yang dilakukan Lunatic Order membuatnya tidak dapat bergerak bebas.


Noelle sudah menutup jendela, tapi cahaya masih bisa masuk melalui celah sempit yang ada di sana.


Hujan sudah berhenti sejak tadi, tapi suhunya masih tetap dingin. Ini mungkin karena sebentar lagi akan memasuki musim dingin.


"Aku mungkin harus membuat beberapa persiapan … "


Musim dingin bukanlah masalah untuknya, tapi itu akan menjadi cerita yang berbeda jika musim dingin kali ini memiliki fase bulan baru.


Bagaimanapun, dia akan sangat melemah di fase itu, dan suhu yang dingin bisa saja membunuhnya jika dia tidak memiliki persiapan.


Noelle menghela napas pasrah dan berguling ke samping.


Dibandingkan dengan saat dia masih berada di sisi Olivia, hari-hari yang ia jalani sekarang benar-benar terasa membosankan. Tidak ada sesuatu yang menarik minatnya, semua berjalan dengan kecepatan yang konstan.


Semua juga menjadi lebih sepi, dan Noelle tetap tidak bisa melakukan apa pun selain menerima hal ini sebagaimana mestinya.


Sementara banyak hal terlintas di benaknya, kedua mata Noelle perlahan menutup, membiarkan rasa kantuk yang luar biasa mengambil alih dirinya.


...****************...


Saat Noelle bangun, itu sudah pagi hari.


Noelle dengan bingung duduk di ranjangnya sendiri, dan menggosok matanya seolah masih tidak bisa mempercayai apa yang ia lihat.


"Apa aku … benar-benar tertidur sampai pagi?"


Itu benar-benar mengerikan. Jika dia ingat dengan pasti, dia seharusnya tertidur saat masih sore hari. Tapi sekarang, posisi matahari sudah cukup tinggi, yang akhirnya ini akan segera memasuki jam tengah hari.


"Apa yang sebenarnya terjadi? "


Biarpun Noelle memang sedang malas hari ini, tetap saja mengejutkan saat menyadari fakta bahwa dia benar-benar tertidur selama itu.


『Hehe, kurasa aku harus menjelaskannya padamu. Kau membutuhkan banyak waktu istirahat karena kau harus memulihkan kekuatanmu sendiri. Ini adalah hal yang normal, tahu? Justru, aku lebih terkejut karena kau bisa menyelesaikan pemulihannya dengan cepat.』


"Pemulihan … "


Noelle memejamkan matanya, dan mulai memeriksa semua keadaan tubuhnya. Tidak ada yang salah dengan organ internal ataupun organ eksternal miliknya, tapi sirkuit sihir yang menyebar ke seluruh tubuhnya kini tidak beraturan dan menyebar seperti benang kusut.


Keadaan itu membuat aliran mana di tubuh Noelle terhambat.


"Tapi tetap saja … pemulihanku seharusnya tidak memakan waktu selama ini."


『Itu karena aku memaksa percepatan pemulihan tubuhmu, dan tubuhmu juga masih belum kuat untuk menahan beban dari kekuatan otoritas yang sebenarnya.』


"Jadi dugaanku benar, ya … "


Noelle mengerutkan keningnya saat menerima pengakuan dari Noir. Dia memang telah menebak-nebak tentang apa yang terjadi, tapi dia masih belum mendapatkan jawaban yang sesungguhnya tentang kejadian itu.


Dia juga yakin, bahwa Lunatic Order memiliki tebakan yang sama tentang sutuasinya; bahwa kontrol tubuh Noelle telah diambil alih oleh pasangan kontraknya sendiri, yaitu Raja Taktik Minerva.


"Baiklah, kurasa itu tidak terlalu buruk. Dua puluh empat jam akan berakhir sebentar lagi, dan aku akhirnya bisa berkeliaran bebas."


Saat dia mengatakan itu, matanya sedikit melirik pada bangunan yang cukup jauh dari kamar apartemennya. Meskipun ada jendela yang menghalangi, kemampuan deteksi Noelle tidak gagal dalam mengenali targetnya.


(Mereka benar-benar mengawasiku, huh … Kurasa aku harus menyiapkan rencana untuk tetap berinteraksi tanpa tertangkap oleh mereka.)


Noelle menghela napas dan beranjak turun dari ranjangnya. Setelah tidur untuk waktu yang lama, tubuhnya mulai terasa kaku, jadi dia segera melakukan peregangan singkat saat—


"Hmm? "


—Perangkat komunikasi darurat yang ia gunakan selama misi tiba-tiba aktif.


...****************...


Noelle terus mengetuk pintu di hadapannya, namun sama sekali tidak mendapatkan respon yang ia harapkan.


Akhirnya, dia menghela napas dan memutuskan untuk mengambil tindakan yang lebih jauh lagi.


Beberapa saat yang lalu, Dolf menghubunginya melalui perangkat komunikasi itu, dan Dolf memberinya laporan bahwa Felice sudah tidak pernah keluar dari kamarnya lagi sejak dibawa pulang dari misi.


Dolf khawatir, tapi tidak bisa melakukan apa pun karena dia masih memiliki segudang pekerjaan untuk diurus. Akhirnya, dia menyerahkan tugas itu pada Noelle yang sedang menganggur.


Noelle, tentu saja tidak berniat menolak pekerjaan itu. Lagi pula dia butuh sesuatu untuk dilakukan.


Setelah terus mengetuk pintu tanpa mendapatkan respon, Noelle mulai menyerah pada pilihan itu, dan akhirnya mundur selangkah.


Kakinya bersiap, dan kemudian memberikan tendangan lurus pada pintu itu, sehingga pintu itu roboh ke depan dengan suara yang keras.


"Aku harap biaya perbaikannya akan ditanggung oleh Kapten."


Mengabaikan puing-puing pintu yang berserakan di lantai, Noelle masuk ke dalam dan memasang penghalang agar tidak siapa pun bisa masuk ke sana.


Semua kamar apartemen memiliki struktur ruangan yang sama, karena itulah Noelle tahu di mana letak kamar Felice. Tanpa mengalami masalah sedikit pun, dia telah mencapai kamar Felice, dan dengan santai masuk meski suara di dalam memintanya untuk berhenti.


"Hei, apa kamu baik-baik saja? "


Dia sedang berbaring di kasurnya, sepenuhnya menghiraukan keberadaan Noelle yang berdiri di pintu masuk kamarnya.


Setelah semua yang terjadi, Noelle tidak akan heran jika Felice memutuskan untuk bunuh diri.


Ada masalah tentang Silis, dan Rita juga harus kehilangan nyawa saat mencoba menyelamatkannya. Bagi seorang gadis dengan mental seperti Felice, itu adalah cobaan yang mengerikan.


"Kamu tidak mengunjungi acara pemakaman?"


" … Tidak mungkin aku bisa datang, 'kan? "


"Yahh, aku mengerti itu," ucap Noelle sambil mengangkat bahu dengan santai.


(Mengucapkan kata-kata yang menenangkan bukanlah keahlianku.)


Dengan langkah yang tenang dan tak bersuara, Noelle langsung menghampiri Felice, menarik selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya, dan menindih gadis itu dari atas.


" … Apa yang kamu lakukan? "


Felice terkejut, tapi responnya benar-benar kurang dari ekspektasi Noelle. Itu mungkin karena dia tidak dalam suasana hati yang bagus.


"Kapten dan semua orang mencemaskanmu, dan mereka memintaku melakukan sesuatu. Aku bebas melakukan apa pun asalkan kau bisa keluar dan menemui mereka."


"Itu percuma," jawab Felice dengan nada suara yang nyaris tidak berubah.


"Kita lihat saja nanti."


Noelle berbisik tepat di telinga Felice, dan tangan kanannya perlahan menjangkau ujung rok Felice, dan dengan lembut menariknya.


Sedikit demi sedikit bagian paha Felice mulai terlihat, dan Noelle bisa melihat bagaimana wajah Felice berubah menjadi merah.


"Kau tahu? Sudah lama aku tidak melakukannya, jadi mungkin aku tidak akan bisa menahan diri."


Kata-kata itu dibisikkan tepat di telinganya, dan membuat Felice melebarkan mata. Gadis itu sontak menatap Noelle dengan terkejut, tapi tidak sanggup mengatakan apa pun saat bibirnya hanya bergetar.


"Yahh, yang ini terlihat bagus."


Senyum keluar di wajah Noelle, dan itu adalah senyum yang sepenuhnya berbeda dari yang pernah Felice lihat; senyuman seperti seorang pria brengsek.


Di saat Felice masih menatapnya, Noelle langsung mendekatkan wajahnya, dan mengincar bibir Felice.


Felice secara alami tahu apa yang diincar Noelle, dan dia nyaris tidak melakukan perlawanan apa pun. Namun, dia akhirnya menoleh ke samping, menghindari ciuman dari Noelle.


Melihat itu, senyum Noelle akhirnya menjadi normal. Dia kemudian menjauhkan wajahnya, dan menyingkir.


Setelah Noelle menyingkir dari ranjangnya, Felice akhirnya bangkit dan duduk sambil meremas erat selimutnya.


"Aku … Kupikir aku bisa berubah. Tapi … ternyata aku tidak berubah sama sekali. Aku masihlah anak cengeng yang sama dengan saat itu."


Saat Felice mulai bercerita dengan suara yang gemetar, Noelle sama sekali tidak menyela. Dia hanya mendengarkan dan membiarkan Felice meneruskan ceritanya.


"Silis dan aku adalah teman dekat. Begitu dekat sampai aku menganggapnya sebagai kakakku sendiri. Tapi … kurasa … semua benar-benar berubah saat insiden itu terjadi."


"Insiden? " tanya Noelle dengan penasaran.


Felice memaksakan senyumnya saat ia menatap Noelle.


"Noah, pernakah kamu membunuh seseorang? "


(Sering.)


Noelle tidak mengungkapkannya, tapi ekspresinya yang berubah menjadi dingin sudah cukup bagi Felice untuk mengerti.


"Aku … aku membunuh Silis. Itu adalah kenyataan yang tidak akan pernah bisa kusangkal. Jika saja aku tidak menabraknya di jurang saat itu, kami pasti … "


Sejenak, seberkas harapan muncul di wajahnya, tapi Felice dengan cepat menggeleng dan menyingkirkan harapan itu.


"Tidak, tidak ada gunanya memikirkan itu. Aku tetaplah pembunuhnya. Aku membunuh seseorang yang sudah seperti saudaraku sendiri."


Felice sekali lagi mengangkat wajahnya dan menatap Noelle. Kemudian, Felice mulai menceritakan semua yang pernah dia dan Silis alami.


Sekali lagi, Noelle hanya mendengarkan tanpa menyela. Dia hanya membiarkan Felice bercerita sampai akhirnya Felice selesai.


"Begitu aku sadar, aku berniat pergi mencarinya, tapi … Kepala desa dan para petualang yang menyelamatkanku dulu berkata kalau Silis pasti sudah mati. Sebenarnya, itu tidak mengherankan, mengingat jurang itu sendiri tidak kami ketahui dalamnya. Tapi, sudah tidak ada peluang bagi Silis untuk bertahan hidup, karena itulah aku menyerah dan menerima kenyataan bahwa aku membunuhnya."


"Semua orang di desa membenciku karena itu, dan bahkan … orang tuaku juga harus menerima semua rasa sakit dari kebencian yang diarahkan keluarga Silis. Kau tahu? Keluargaku dan keluarga Silis cukup dekat, tapi hubungan itu dengan cepat hancur saat mereka mendengar kabar bahwa Silis tewas."


Noelle tidak bisa menyangkal yang satu itu. Sebenarnya, jika Noelle ada dalam posisi anggota keluarga Silis, dia akan melakukan hal yang sama.


Tidak ada keluarga yang tidak membenci pelaku kejahatan yang menimpa anggota keluarga mereka.


Bahkan, sampai sekarang, Noelle masih membenci semua orang yang terlibat dalam kematian Wakana Hakui. Sangat disayangkan dia sudah tidak ada di bumi untuk menyelidiki kebenaran dari kasus itu.


"Aku tidak tahu apa yang Silis alami di bawah sana, tapi … aku yakin itu semua sangatlah mengerikan. Aku … aku bahkan tidak sempat meminta maaf padanya. Aku dilumpuhkan oleh rasa takutku, dan berakhir dengan membunuhnya sekali lagi."


Suara Felice menjadi semakin gemetar. Tangannya yang meremas selimut itu juga mulai bergetar seolah tak kuat menahan semua emosi yang berputar di hatinya.


"Bahkan … bahkan, kali ini … aku melibatkan Rita. Jika saja aku tidak ikut campur, Rita masih hidup. Itu benar, 'kan, Noah? "


"Tidak, kau salah."


Suara Noelle menjadi lebih dingin dari yang pernah Felice dengar. Itu terdengar seperti tidak memiliki perasaan, namun sebenarnya mengandung banyak emosi yang secara samar dapat dirasakan.


"Apa … maksudmu? "


Felice membalasnya dengan tatapan bingung, dan di saat yang sama, juga memiliki cahaya harapan yang samar.


"Bahkan meski kamu tidak ikut campur, aku yakin kalau Silis akan tetap mampu membunuh Rita atau bahkan Louen dan Dexter. Orang bernama Silis itu kuat, itu adalah kenyataannya. Tanpa keterlibatanmu, entah apa yang akan terjadi pada ketiganya."


"Tapi … Rita … "


"Rita mati karena melindungimu, itu memang benar. Tapi, itu adalah keputusannya sendiri. Mengorbankan nyawa untuk orang lain adalah suatu keputusan yang berat. Tidak semua orang dapat melakukannya."


"Hanya orang-orang tertentu, dan di waktu tertentu saja yang dapat melakukan tindakan heroik seperti Rita. Tapi, tidak seperti orang-orang dengan sifat heroik, Rita menyelamatkanmu karena dia menghargaimu lebih dari dia menghargai dirinya sendiri. Aku mengerti itu, karena … "


—Dirinya juga begitu, adalah apa yang ingin Noelle katakan. Namun, kata-kata itu tercekat tanpa bisa keluar dari mulutnya. Dia sendiri tidak yakin, apakah semua yang dia lakukan untuk Olivia bisa disebut pengorbanan atau tidak. Namun, hal-hal seperti itu saja sudah cukup baginya untuk mengetahui bahwa dia lebih menghargai Olivia daripada hidupnya sendiri.


"Tidak, lupakan yang kukatakan."


Noelle langsung menghela napas dan menggelengkan kepalanya berulang kali. Dia kemudian kembali menatap Felice yang masih duduk murung.


"Hanya berdiam diri di sini tidak akan membuatmu lebih baik. Pergilah berterima kasih pada Louen, dan kunjungi makam Rita. Aku yakin, itu akan membuatmu jadi lebih baik."


Noelle meminta Felice untuk berterima kasih pada Louen karena dia sudah tahu hubungan seperti apa yang Louen dan Rita miliki. Jika Felice ingin berterima kasih atau meminta maaf pada seseorang, maka Louen harus ada di daftar pertama.


Tepat setelah Noelle mengatakan itu, kedua mata Felice melebar. Namun, Noelle sama sekali tidak melihatnya karena dia sudah lebih dulu berbalik pergi.


...****************...