[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 92: Bingung



...****************...


Di sebuah kafe yang terletak di area pulau perbelanjaan kota Eisen, Noelle sedang duduk diam di salah satu kursi yang ada tepat di samping jendela.


Matanya dengan dingin terus menatap jalanan yang ada di luar jendela yang mulai basah karena rintikan hujan.


Cangkir gelas putih yang ada di mejanya terus mengeluarkan uap panas sementara cairan kopi coklat dengan sedikit krim putih itu terus berputar dengan perlahan seolah menjadi perhitungan waktu bagi Noelle yang matanya masih tertuju pada jalanan.


Saat ini, ia sedang berada di kafe milik Mioku untuk bersantai sejenak setelah hampir seharian mengurung dirinya di kamar penginapan karena kejadian aneh yang tiba-tiba mendatanginya sebelumnya.


Hujan yang cukup deras sudah terjadi selama beberapa jam, namun jalanan itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan terjadinya banjir.


Bahkan, aliran air yang memisahkan semua pulau kota juga sama sekali tidak menaikkan ketinggiannya seolah tetesan hujan itu langsung menghilang begitu memasuki perairan.


Noelle diam-diam memuji para pekerja konstruksi yang membuat sistem perairan yang sempurna itu sementara ia menghela napasnya.


Dia benar-benar menyukai suasana tenang yang mengisi kafe itu. Menurutnya, tempat itu sangat nyaman untuk bersantai dan menenangkan pikirannya.


Walaupun, kafe itu akan kembali ramai lagi jika ada sosok 'gadis' berambut putih yang muncul dengan menggunakan seragam pelayan di sana.


Noelle tersenyum pahit saat memikirkannya.


Ia benar-benar tidak ingin mengingat itu lagi karena terlalu memalukan. Namun, ia puas dengan hasilnya.


Ia mendapatkan senjata yang ia namakan Zwei Aligma sebagai hasil setelah mengorbankan harga dirinya sebagai laki-laki.


Berkat senjata itu pula ia berhasil menembus pertahanan yang dimiliki monster sage mantis.


"Noelle~ Apa kau sedang mencemaskan sesuatu? "


Saat ia sedang merenung sendirian sambil terus menatap jalanan yang terus dihujani tetesan hujan, suara cemas Mioku membawanya kembali ke kenyataan.


Noelle menghela napas dan menoleh pada Mioku.


"Jangan muncul tiba-tiba seperti itu. Tapi, yahh … Aku memang sedang memikirkan sesuatu, namun itu adalah hal yang sepele. Kau tidak perlu khawatir," ucap Noelle sambil tersenyum.


Meskipun penampilannya sedikit mengganggu, Noelle tahu kalau Mioku adalah orang yang benar-benar baik. Jadi, ia tidak mau membuatnya khawatir dengan masalah yang ia miliki.


Jika Mioku tahu tentang kejadian yang tiba-tiba ia alami kemarin, maka Mioku pasti akan tanpa ragu menolongnya.


Membiarkan orang lain mengatasi masalahnya sendiri bukanlah sesuatu yang Noelle sukai, jadi ia berusaha menghindari skenario itu.


"Hmmm~ Begitu, ya~ Yahh, tidak masalah jika Noelle tidak mau membicarakannya, tapi … Aku akan membantumu sebisaku jika Noelle meminta~"


Mioku tersenyum dan berbalik pergi setelah ia mengatakan itu.


Noelle tidak tahu apakah Mioku menyadari sesuatu yang ia sembunyikan, atau tidak. Tapi, Mioku adalah mantan petualang dengan peringkat A.


Justru akan aneh jika Mioku tidak menyadari apa yang Noelle pikirkan.


Tersenyum pahit saat memikirkannya, Noelle dalam diam membawa cangkir berisi kopi itu ke mulutnya untuk ia minum.


(Pada akhirnya … Apa itu .… )


Meminum kopi di kafe yang tenang saat sedang hujan mungkin dapat menenangkan kepalanya dan membuatnya dapat berpikir dengan lebih jernih. Namun, bayangan tentang kejadian aneh itu terus menghantui pikirannya tidak peduli apa yang ia lakukan.


Ia juga sudah menanyakan tentang itu pada Charlotte dan Chloe, namun mereka hanya menggelengkan kepala dengan bingung saat menjawab Noelle.


Noelle menghela napas pasrah sementara wajahnya mulai terbenam di atas meja.


"Yo. Kau terlihat lelah, apa terjadi sesuatu? "


Di saat ia sedang pusing memikirkan itu, sosok Cryll tiba-tiba muncul dan duduk tepat di kursi di hadapannya, menikmati kentang goreng yang ia pesan sebelumnya.


" ……… Kenapa kau di sini? "


Ia sudah tidak terkejut dengan Cryll yang seringkali tiba-tiba muncul di hadapannya, jadi dia hanya mengelusrkan reaksi bosan dan bertanya.


Mendapatkan reaksi yang tak ia harapkan, Cryll justru tersenyum kecut dan menggigit kentang goreng Noelle.


"Reaksimu membosankan. Tentu saja aku di sini untuk bersantai, seperti yang kau lakukan."


Cryll mengangkat bahunya sambil mengarahkan pandangannya ke luar jendela.


" … Hei …. "


Usai hening sejenak, Cryll memulai percakapan tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di luar jendela.


Noelle mengangkat wajahnya dan menatap Cryll dengan bingung.


"Apa? "


" … Apa kau memiliki masalah lain? Bagaimana aku harus mengatakannya, tapi … Hari ini kau sedikit berbeda dari biasanya, Noelle."


Ia terlihat ragu saat mengatakannya, namun memutuskan untuk bertanya pada Noelle.


Kelopak mata Noelle terlihat berkedip beberapa kali, membiarkan pupil kelabu miliknya secara samar memancarkan sinar penasaran.


" … Tidak ada yang terjadi … Secara khusus …. "


" ……… "


Menyadari kalau Noelle sama sekali tidak akan menceritakan masalahnya, Cryll hanya bisa menghela napas pasrah sementara ia mencoba mengalihkan pembicaraan dengan topik lain.


" … Sudah mulai dingin, ya … " ucap Cryll sambil melirik ke arah syal merah yang melilit leher Noelle.


"Begitulah, sebentar lagi musim dingin. Meskipun itu bukan masalah untukku, Livia tetap memintaku berjaga-jaga."


Noelle kemudian melepas syal yang selama ini selalu ia gunakan.


Sudah sekitar satu setengah bulan sejak dimulainya musim gugur, tidak lama lagi negara tempat mereka menetap saat ini akan menjadi negara yang diselimuti kumpulan salju putih yang indah.


Syal merah yang Noelle gunakan adalah hadiah ulang tahun yang Olivia berikan padanya saat mereka masih 14 tahun.


Warnanya serupa dengan warna matanya saat menjadi vampir, warna merah itu juga merupakan warna favoritnya.


Panjangnya dapat dengan mudah mencapai tiga setengah meter jika dibentangkan.


Noelle tidak terlalu mengerti mengapa Olivia membuatkannya syal itu dengan ukuran yang sangat panjang. Namun, itu nyaman digunakan, jadi ia tidak keberatan.


Noelle meminum kopinya sedikit demi sedikit sambil sesekali menggunakan《Clairvoyance》miliknya untuk mengintip apa yang dilakukan Cryll.


(Terkadang … Pembicaraan santai seperti ini juga tidak begitu buruk … )


Meskipun ia benci mengakuinya, namun pembicaraan santainya dengan Cryll membuat pikirannya menjadi lebih tenang dari sebelumnya


Dengan senyum masam di wajahnya, Noelle menggigit sepotong kentang goreng yang ia ambil dari piring, sementara Cryll memainkan syal biru miliknya sendiri.


...****************...


" ……… Aku menang … "


Suara terkejut namun terdengar tanpa nada itu datang dari Noelle yang terus memperhatikan papan pengumuman di hadapannya.


Sebuah kertas besar dengan deretan angka yang diurutkan dengan angka 1 sampai 50 dengan jelas tercantum di atasnya.


Itu adalah pengumuman hasil dari lotere yang Noelle ikuti dengan 'iseng' sebelumnya.


Ia melihat ke papan itu dan melihat angkanya tepat berada di posisi pertama.


Angka yang menempati peringkat pertama adalah angka 789 yang dimiliki Noelle, sedangkan peringkat ke-dua dan ke-tiga secara berurutan adalah 165 dan 173.


Tampaknya ada nomor lain yang seharusnya memenangkan peringkat pertama, namun nomornya segera dihapus karena masalah yang terjadi pada orang itu.


Noelle tidak tahu siapa orang itu. Namun, ia berterimakasih pada kecelakaan yang menimpa orang itu, karena berkat itulah ia memenangkan lotere.


"Hadiah utamanya adalah sejumlah besar uang, dan … Mansion mewah bekas yang ada di pemukiman kelas atas … "


Ia benar-benar terkejut ketika melihat daftar hadiah yang ia menangkan. Sampai-sampai ia tidak menyadari keberadaan Cryll yang sudah berdiri di sampingnya.


Begitu Noelle menyadari keberadaannya, itu sudah terlambat.


Ia hanya bisa menunjukkan wajah pahit pada Cryll yang tersenyum di sampingnya.


Tak lama kemudian, Cryll membuka mulutnya.


"Hei, Noelle."


"Apa? "


"Kita teman, 'kan? "


" ……… "


Tidak mendapatkan jawaban dari Noelle, Cryll terus memberikan penekanan dengan senyumnya.


Noelle mendecakkan lidahnya.


"Bagaimana mungkin kau bisa meminta imbalan meskipun kau tidak melakukan apa pun? " tanya Noelle dengan jengkel.


"Berisik. Lagipula kau membeli tiket lotere itu karena kau sedang bosan, 'kan? Kalau begitu kita tidak ada bedanya."


Cryll tersenyum mengejek dan mengangkat kedua bahunya. Tentu saja itu membuat Noelle kesal, namun ia hanya bisa menghela napas pasrah untuk menanggapinya.


"Aku tidak bisa membagikan uangnya, tapi … Sebuah mansion besar mungkin sedikit terlalu berlebihan untukku dan Livia. Jadi … Kurasa kita bisa menggunakannya sebagai markas."


Tidak ada pilihan lain selain menerimanya, Noelle dengan mudah menyetujui ide untuk tinggal bersama.


Lagipula akan terlalu boros jika mereka terus menyewa penginapan hanya untuk tinggal di kota.


Meskipun biaya penginapan sudah ditanggung oleh pihak guild, akan lebih baik jika mereka bisa mendapatkan rumah pribadi secepat mungkin sehingga mereka tidak perlu repot nantinya.


Saat Noelle dengan pasrah memikirkan banyak kemungkinan yang akan terjadi di masa depan, sebuah suara ledakan yang sangat keras langsung terdengar dari kejauhan.


" …… Hari yang damai, ya … " ucap Cryll dengan pandangan jauh.


...****************...


Dinding penghalang di bagian barat dan utara kota sudah ditembus oleh kerumunan monster undead yang terus datang tanpa henti.


Setelah ledakan awal yang muncul tadi, ada beberapa ledakan susulan lainnya yang terjadi dari beberapa daerah yang berbeda.


Saat ini para petualang dan prajurit kota tengah saling membantu untuk menahan penyerbuan para monster dan membantu evakuasi warga.


Beberapa petualang peringkat rendah terlihat dengan panik berusaha menyelamatkan warga yang tersisa, dan membawa mereka ke tempat evakuasi yang sudah disediakan di beberapa sektor di bawah tanah.


Karena struktur kota yang sedikit unik, para monster jadi cukup kesulitan untuk terus menyerang karena mereka hanya bisa maju melalui jalur darat.


Tentu ada beberapa monster undead yang berenang di perairan dan mengejar beberapa warga yang terjatuh, namun mereka ditembak jatuh oleh para pemanah yang sudah siap siaga di beberapa lokasi.


Noelle dengan beberapa pedang yang terbang di sekelilingnya menerobos maju ke arah sekumpulan monster, sedangkan Cryll berlari ke arah lainnya dengan Sword Geist yang mengeluarkan aura mengerikan dari belakangnya.


Tubuh para monster yang dilewati Noelle dengan mudah terpotong menjadi beberapa bagian secara seketika karena semua pedangnya yang terus menyerang.


Sesekali ia akan mengambil senjata yang tergeletak di tanah dan melemparnya secara manual ke arah para monster yang berada di luar jangkauan telekinesis miliknya.


Syal merah yang ia gunakan terlihat berkibar sementara kedua ujungnya tampak dengan erat menggenggam masing-masing satu pedang, dan menyerang sekelilingnya seolah itu memiliki pikiran sendiri.


Di sisi lain, Cryll menyerang semua monster yang ia lihat dengan pedangnya dan sesekali menembakkan petir ke arah beberapa monster yang berkumpul di satu tempat.


Tidak hanya mereka berdua, tapi bahkan hampir semua orang yang ada di kelompok Norman yang masih ada di kota ini juga ikut membantu menghabisi para monster dan membantu evakuasi.


{Livia, apa sudah ada pemberitahuan dari guild? }


Noelle bertanya pada Olivia dengan telepati.


Sementara ia dan Cryll memberrskan para monster di sisi barat, Olivia dan Charlotte ikut mengurus bagian utara.


Stella dan Chloe hanya sesekali ikut bertarung karena mereka memiliki prioritas untuk membantu evakuasi.


{Belum, aku sudah menunggu informasi dari mereka, tapi … Ketua guild tidak ada di tempatnya saat ini … }


Begitu Olivia menyebutkannya, barulah Noelle mengerti maksud ini semua.


(Tidak … Ini … Terlalu cepat! Itu tidak mungkin, 'kan .… )


Noelle berpikir tentang kemungkinan kalau Terneth sudah menjalankan rencananya. Namun, ia merasa ragu akan itu.


"Ahhh bajingan itu! Beraninya dia memulai ini tanpa membiarkanku melarikan diri dari kota!! "


Meskipun berbagai jenis keluhan terus keluar dari mulutnya, Noelle tanpa henti menyerang gerombolan para monster dengan semua senjata yang ia keluarkan.


Ia ingin mengeluarkan Aligma agar ia bisa menghabisi banyak monster sekaligus. Namun, kerusakan yang diterima kota akan jadi lebih besar jika ia melakukan itu.


Di belakangnya, sosok Anzu terus melemparkan kelerengnya dan membiarkan itu menembus kepala dan tubuh para Deathman.


Sebagai catatan, semua orang dari kelompok Norman masih ada di kota untuk menunggu keputusan Terneth selanjutnya, jadi mereka ikut membantu evakuasi dan menghabisi para monster yang tiba-tiba menyerang kota.


Dari cara bertarung mereka saat ini, sangat jelas kalau semua orang sedang menahan diri.


Terutama Dyland yang kekuatan utamanya terletak pada kekuatan destruktif dengan jangkauan area yang luas.


Itu sedikit menyulitkan karena serangannya juga akan mempengaruhi fondasi kota.


"Ughh … Sialan! "


Dengan teriakan itu, Noelle dengan sekuat tenaga langsung melemparkan Langen ke arah barisan musuh yang ada di hadapannya.


Langen dengan mudah menembus semua monster dan membunuh mereka seketika, lalu Langen kembali ke tangan Noelle karena rantai darah yang sudah ia buat sebelumnya.


"Oi, Shio– maksudku Anzu! Pinjamkan aku beberapa kelerengmu! " bentak Noelle pada Anzu.


Anzu terlihat terkejut sejenak karena dipanggil secara tiba-tiba oleh Noelle. Namun, ia dengan mudah mengangguk dan melemparkan beberapa kelerengnya tepat ke arah Noelle.


Noelle dengan mudah menangkap semua kelereng itu, lalu melemparkan semuanya ke arah yang berbeda-beda.


Sedikit sulit untuk menggunakan senjata jenis kelereng pemantul seperti milik Anzu ketika mereka berada di luar ruangan. Bagaimanapun, senjata yang menggunakan daya pantul sebagai kemampuan utamanya hanya efektif jika digunakan di ruangan tertutup.


Namun, itu tidak berlaku jika Noelle yang menggunakannya.


Semua kelereng yang ia lempar itu dengan mudah menembus tubuh para mosnter dan kemudian terus terbang ke arah lain untuk menghabisi monster yang tersisa.


Jelas kalau ia menggunakan Verstand untuk mengendalikan mereka semua.


Sambil mengendalikan kelereng itu dengan Verstand, Noelle juga menggunakan tangannya yang lain untuk terus menyerang dengan Langen yang disambungkan dengan darahnya.


Noelle melompat maju dan menerobos kerumunan monster sambil terus mengayunkan Langen di tangan kanannya.


Bilah tajam Langen dengan mudah menembus dan memotong semua bagian tubuh monster tanpa meninggalkan jejak darah sedikitpun di bilahnya.


Menggunakan pedangnya di saat seperti ini jauh lebih efektif daripada harus menggunakan sihir.


Noelle tidak tahu sampai berapa lama pertarungan akan berlangsung. Namun, akan lebih baik jika dia bisa menghemat kekuatan sihirnya sebanyak mungkin.


Ia harus segera menyelesaikan bagiannya dan berkumpul dengan Olivia dan yang lain. Dia dan Cryll terus menghabisi kerumunan Deathman yang datang tanpa henti.


Kedua pedang melengkung (katana) yang digenggam Sword Geist di punggung Cryll terlihat bersinar dan bergerak untuk menghabisi musuhnya sendiri, sementara kedua tangan Cryll juga sibuk mengayunkan pedang dan mengendalikan benang jangkar yang keluar dari lengan bajunya.


Jika Noelle tidak sempat menyerang salah satu monster, ia hanya perlu membuangnya ke arah Cryll dan membiarkan Cryll menghabisinya. Dan begitu juga sebaliknya.


Noelle melompat mundur dan menciptakan pijakan dengan darah, lalu melompat maju sambil menarik tubuh Cryll dan Anzu dengan rantai darahnya.


"Tunggu, apa yang kau lakukan?! " teriak Cryll.


Anzu juga terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu, namun ia langsung menutup mulutnya sambil menangkap semua kelereng yang telah ia lempar sebelumnya.


"Kita tinggalkan tempat ini dan pergi ke gerbang utara. Situasi di sana cukup buruk," ucap Noelle sambil mengerutkan keningnya.


Mendengar itu, Cryll mau tak mau langsung membungkam mulutnya sendiri dan tanpa kata menembakkan petir ke arah para monster yang tersisa.


"Jangan khawatir dengan tempat ini. Seharusnya Mioku dan Glantz akan datang sebentar lagi."


...****************...


"Ughh … Mereka terus berdatangan."


Keluhan yang diucapkan dengan kesal itu datang dari sosok Charlotte yang sedang mengayunkan Centipede-nya dan membunuh para deathman yang ada.


Bilah Centipede terus menggeliat di udara sementara duri-duri tajam di pinggiran bilahnya terus menyerempet tubuh para deathman dan membunuh mereka seketika.


Ketika dia melakukan itu, beberapa tombak es muncul dari tanah dan menusuk para deathman dan monster yang ia lewatkan.


"Noelle sebentar lagi akan datang. Bertahanlah," kata Olivia sambil menusuk monster terdekat dengan rapiernya.


Saat ia sedang menghabisi beberapa monster sekaligus dengan rapier Achto miliknya, seekor monster serigala dengan beberapa tentakel menjulur dari punggungnya tiba-tiba muncul tepat di belakang Olivia dan menyerangnya.


Olivia menghindari serangan tentakel itu hampir secara refleks, dan memanfaatkan kesempatan untuk meraih salah satu tentakel, kemudian menariknya dengan kuat.


Tubuh serigala itu dengan mudah terangkat dan terlempar ke tanah sejauh beberapa meter ke depan karena tarikan yang Olivia lakukan pada tentakelnya.


Di saat itu juga ia langsung mengambil tombak yang tergeletak di tanah, dan melemparkannya ke arah serigala itu.


Ujung tombak yang tajam dengan mudah menembus kepala serigala dan membunuhnya seketika.


Semua itu terjadi dalam waktu kurang dari dua detik.


Charlotte mau tak mau langsung terdiam ketika melihat apa yang dapat Olivia lakukan dengan kekuatan fisiknya.


"Nn, aku belum pernah melihat monster itu."


Olivia mengangguk dan menunjukkan wajah penasaran saat ia melihat monster yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


"Yahh, aku tidak peduli sih."


Mengangkat bahunya, Olivia kemudian mengucapkan mantra.


"《Crystal Coffin》"


Seketika, semua monster yang ada pada radius 10 meter di sekitarnya langsung membeku menjadi balok es dan pecah berkeping-keping.


Tak lama kemudian, Noelle datang dengan membawa Cryll dan Anzu.


" … Situasi di sini sedikit lebih buruk, ya … "


Noelle berkomentar ketika ia melihat gerombolan monster yang tak terhitung jumlahnya mulai menerobos dinding dan menghancurkan semua bangunan di sekitar.


Beberapa monster humanoid bersisik yang memiliki insang di sekitar leher mereka mulai masuk ke aliran air dan menyelinap menuju area pemukiman yang berada cukup jauh di tengah kota. Namun, Cryll menghentikan mereka semua dengan menembakkan petir tepat ke air.


Cara itu sedikit berbahaya karena ia tidak bisa mengendalikan penyebaran aliran listrik yang dihasilkan. Namun, ini tidak seperti dia memiliki cara lain untuk mengatasinya.


"Noelle … Apa yang terjadi? "


Olivia bertanya padanya dengan khawatir, membuat Noelle menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak tahu. Para monster itu tiba-tiba menyerang, dan tidak ada laporan mengenai ini dari pihak guild."


Usai ia mengatakan itu, sebuah tombak tiba-tiba terbang dengan ujungnya yang tajam mengarah tepat ke arahnya.


Noelle sama sekali tidak terlihat panik, dan dengan santai menggerakkan tubuhnya untuk menghindari itu, kemudian menangkap tombaknya.


"Ini sedikit berbahaya, kau tahu? Melemparkan tombak secara tiba-tiba seperti itu … Apa yang kau lakukan, Terneth? "


Tepat di atas dinding, sosok Terneth dapat terlihat dengan tongkat panjang di tangannya.


Dia menatap Noelle dengan mata dan wajah tanpa emosi.


Terneth mengetukkan ujung tongkatnya ke permukaan dinding itu. Kemudian, sebuah ledakan keras tiba-tiba muncul dari semua arah.


" … Kau sedikit gila, ya … "


Noelle dengan senyum pahitnya melirik ke arah ledakan itu.


...****************...