![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
"Jadi, apa kau baik-baik saja sekarang? "
Ekspresi khawatir muncul sedikit di wajah datar Tania. Hal itu membuat Lucia tersenyum hangat padanya.
Memang, Lucia adalah satu-satunya orang yang mampu memecah suasana menjadi 'kenyamanan' di sini.
"Tolong jngan khawatir. Ini benar-benar sudah biasa terjadi. Aku akan kehilangan ingatanku, dan mendapatkannya kembali saat aku berhasil mengontrol kekuatan mata ini."
Lucia meraba kain hitam yang menutup matanya, lalu secara perlahan menarik itu turun sehingga menunjukkan wujud dari《Mata Tuhan》pada semua orang yang ada di sana.
Ada banyak lingkaran sihir, terlihat saling menumpuk di permukaan bola matanya yang kecil. Tidak, ini lebih seperti ratusan lingkaran sihir mikro saling menyusun hingga membentuk suatu mata. Semua lingkaran itu bergerak secara perlahan, dan cahaya emas yang terpancar mau tak mau memberikan kesan intimidasi pada semua orang di sana.
Noelle memang tidak terlalu terkejut, tapi ini pertama kalinya dia bisa melihat seperti apa wajah Lucia tanpa penutup mata. Selain itu, mata itu menarik perhatiannya.
Dia sudah bertemu dengan《Telinga Tuhan》Ilya, dan dia juga memakai penutup mata. Namun, kekuatannya jelas berbeda dari Lucia. Kekuatan Ilya lebih spesifik mengarah pada 'telinga'.
(Ayo anggap itu sebagai tren fashion.)
Noelle diam-diam mengangguk, lalu menatap Lucia tanpa ragu.
Kebanyakan orang akan takut untuk menatap langsung mata Lucia, tapi Noelle melakukannya tanpa rasa khawatir karena tahu kalau Lucia tidak akan menyakitinya. Selain itu, dia memiliki Noir yang akan muncul kapan saja ketika ada situasi yang mengancam nyawa.
Noelle adalah aset penting bagi Noir, tidak mungkin dia akan membiarkan kejadian buruk menimpa Noelle.
Seperti yang sudah dia duga,《Nata Tuhan》benar-benar indah. Tidak seperti mata biologis pada umumnya, itu sama sekali tidak terlihat manusiawi, dan entah mengapa Noelle menganggap kalau itu adalah hal yang indah.
Tentu saja, dengan mengabaikan kengerian yang dapat disebabkannya.
"Jadi singkatnya, kau mengekstrak ingatan dari otakmu sendiri dengan matamu itu, ya? "
Lucia langsung mengangguk pada tebakan Noelle. "Begitulah."
Tapi, mengesampingkan itu semua, mereka dibuat kebingungan dengan hal yang Tania lihat. Itu pasti cukup buruk sampai membuat pemilik《Mata Tuhan》kehilangan kesadaran bersama dengan semua ingatannya.
Jika apa yang Lucia katakan itu benar, maka situasinya benar-benar memburuk.
Sosok yang ia lihat itu besar kemungkinan merupakan musuh. Terlebih lagi dia memakai jubah seorang pendeta dari Gereja Dewi Lumine.
Markas pusat untuk Gereja Dewi Lumine ada di selatan, tepatnya di kuil Gunung Suci Haten. Hanya di sanalah para pendeta akan dipilih untuk melaksanakan tugas mereka sebagai 'perpanjangan tangan Tuhan'.
Sekarang Asher ingat, di daftar perjalanan yang pernah dia lihat, ada rencana untuk mengunjungi menteri luar negeri yang bekerja di Kekaisaran Alacrylia. Dan dalam misi itu, seorang pendeta telah dipilih bersama dengan beberapa Kesatria Templar.
Mengingat posisi Lucia yang saat itu ada di Kekaisaran, kemungkinan besar sosok yang dimaksud itu sama dengan pendeta yang namanya sempat Asher lihat.
"Pendeta Lanevus …."
Sebuah nama tanpa sadar keluar dari mulut Asher. Dia tanpa sengaja telah menyebutkan nama pendeta yang kemungkinan merupakan pendeta yang sama dengan yang dilihat Lucia.
"Apa itu namanya? " Lucia pun berniat memastikan.
Asher hendak mengelak, tapi dia menyadari kalau melakukan tindakan semacam itu tidak akan ada gunanya.
"Kekaisaran Alacrylia adalah negara yang tertutup, tapi bukan berarti orang luar tidak bisa memiliki akses untuk memasukinya. Bagaimanapun, pintu masih terbuka lebar untuk para pengelana yang tidak bisa tinggal di satu tempat untuk waktu lama."
Asher menyilangkan lengannya di atas meja, dan melirik ke sudut pandangannya, tepat pada deretan patung anggota Asterisk generasi sebelumnya.
"Tentu saja, anggota gereja diizinkan untuk masuk ke kota asalkan kesepakatan dengan pihak yang berkuasa sudah ditentukan. Dan sekitar dua minggu yang lalu, gereja kami mengirimkan seorang pendeta bersama beberapa Kesatria Templar sebagai pengawal, untuk berkunjung ke kediaman menteri luar negeri yang berafiliasi dengan gereja kami di sana."
Semua orang diam, membiarkan Asher menyelesaikan kata-katanya. Mereka semua menyimak karena yakin kalau ini akan menjadi informasi yang penting.
"Nama pendeta itu adalah Pendeta Lanevus. Aku tidak terlalu mengenalnya. Tapi, salah satu Kesatria Templar yang mengawal adalah rekan seangkatanku. Namanya Arrodant. Dia sempat memberitahuku beberapa hal tentang Pendeta Lanevus."
"Lalu? Bagaimana hasilnya? "
Pertanyaan Noelle itu membuat Asher menggeleng. "Dia bersih."
Colyn menatap bolak-balik antara Noelle dan Asher, berusaha memahami perkataan mereka. Namun, pada akhirnya dia menyerah dan menoleh ke samping.
"Hei, Lucia, apa kau mengerti apa yang mereka bicarakan? "
Colyn merendahkan suaranya saat dia bertanya, takut yang lain akan mendengar nama asli dari Auger.
Bagaimanapun, Colyn telah bersama Lucia untuk beberapa waktu, dan wajar baginya untuk lebih akrab dengan nama asli daripada nama yang diberikan Asterisk.
"Singkatnya, Souris bertanya tentang pendapat Tristan mengenai Pendeta Lanevus itu," jawab Lucia dengan suara yang sama pelannya.
Noelle bersandar pada kursi dan menghela napas berat. Dia memainkan jarinya di permukaan meja, dan mulai mengetuk beberapa kali.
"Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Aku tidak merendahkan kemampuanmu dalam menganalisis sesuatu, tapi seharusnya kau atau temanmu Arrodant itu bisa merasakan satu atau dua hal aneh tentang Pendeta Lanevus."
Meski Asher tidak bisa melihat sosok yang bersemayam di 'dalam' Pendeta Lanevus, dia seharusnya bisa merasakan betapa banyaknya energi asing yang keluar dan berpusat di tubuh pendeta itu.
Memikirkan itu, Asher kini juga merasakan keanehan yang serupa.
"Aku memang tidak pernah melihat Pendeta Lanevus secara langsung, tapi … Arrodant terlihat berbeda setelah dia mendapat perintah untuk menemani dan melindungi Pendeta Lanevus."
"Apa kita bisa berasumsi kalau temanmu Arrodant itu telah dicuci otaknya sehingga tidak bisa berpikir dengan jernih? "
"Itu bisa jadi. Justru, menurutku itu adalah salah satu kemungkinan terbesar. Tapi … sebagai Kesatria Templar yang seangkatan denganku, Arrodant sudah menjalani pelatihan yang membuat sihir domain pikiran seperti hipnotis atau cuci otak tidak akan berguna."
(Itu belum tentu, Tristan. Kau hanya tidak tahu metode apa yang mereka gunakan.)
Noelle diam-diam menertawakan kenaifan Asher yang berpikir bahwa Arrodant telah menerima sihir berjenis hipnotis.
Bagaimanapun juga, ada banyak cara untuk mencuci otak seseorang tanpa perlu mengeluarkan sihir. Noelle tahu itu karena dia sering menjadi pelakunya.
Terlebih lagi, yang sedang mereka bicarakan di sini adalah sosok yang kemungkinan besar merupakan seorang dewa luar. Wajar akan ada banyak kejadian absurd yang sulit dinalar manusia.
Apa pun itu, semua tampak buruk. Arrodant hanyalah salah satunya, sedangkan Pendeta Lanevus membawa cukup banyak Kesatria Templar sebagai pengawal.
"Hanya untuk memastikan, berapa jumlah pengawalnya? "
Arnaz bertanya seolah dia mulai tertarik pada masalah ini. Meski wajahnya justru mengatakan sebaliknya.
"Hanya satu grup. Tapi, jumlah anggota setiap grup berkisar antara dua belas sampai delapan belas orang. Arrodant tidak memberitahuku lebih lanjut tentang siapa saja yang ikut dalam misi," jawab Asher tanpa ragu.
Kali ini Arnaz mengetutkan keningnya, dan dia agak ragu saat memainkan tangannya sendiri di atas meja.
"Apa mereka semua pria? "
Bukan Asher yang menjawab pertanyaan itu, melainkan Damian. "Kurasa kau masih belum tahu. Hanya laki-laki yang bisa terpilih menjadi Kesatria Templar dari organisasi Loght Sanctuary milik Gereja Dewi Lumine."
Kebanyakan negara tidak begitu terikat pada agama tertentu, tapi mereka masih berbagi pemahaman yang sama; gelar 'Kesatria' hanya layak diberikan pada pria, dan bukan wanita.
Kebanyakan perempuan yang bergabung dengan organisasi militer ataupun organisasi gereja seperti Lunatic Order hanya akan ditempatkan di pekerjaan belakang meja. Felice dan Rita yang sering dikerahkan sebagai kekuatan tempur tambahan adalah kasus langka yang sebisa mungkin dihindari.
Mendengar itu, senyum tipis terbentuk di wajah kasar Arnaz.
Noelle mau tak mau merasakan menggigil sampai ke tulangnya ketika dia melihat sekilas senyum itu.
Arnaz pun tertawa kecil. Dia menatap bolak-balik antara Lucia dan Colyn. "Aku berubah pikiran. Jika ada masalah yang cukup serius, panggil aku segera."
Arnaz mengatakan untuk segera memanggilnya setelah mereka menemukan masalah yang cukup serius. Ini mengindikasikan bahwa dia tengah melakukan sesuatu saat ini. Namun, mengapa Arnaz mau repot-repot menghabiskan waktunya untuk mengurus itu? Dia menolak tawaran untuk merekrut Arcal sebelumnya.
Apa pun alasannya, Noelle yakin kalau dia tidak mau mendengar itu.
"Yahh, semua informasi ini tidak terlalu membantu, tapi setidaknya kita tahu identitas pendeta itu. Apa kau bisa menanganinya? "
Noelle menoleh pada Asher yang tampak yakin pada dirinya sendiri.
"Untuk sekarang masih belum ada pergerakan yang jelas dari Pendeta Lanevus. Aku akan memeriksa laporan yang masuk ke markas besar. Dan sampai saat itu tiba, aku ingin Pauper dan Auger terus memberikan informasi yang terperinci mengenai kondisi di sekitar Pendeta Lanevus. Tentu saja, tetap prioritaskan tugas kalian untuk merekrut Arcal."
"Tentang itu … apa benar-benar tidak ada yang bisa kulakukan? "
Ethan tiba-tiba mengangkat tangannya, dan membuat perhatian semua orang terarah pada dirinya sendiri.
Kehadirannya dalam diskusi ini terlalu tipis, bahkan sama sekali tidak terasa. Tania bahkan sepenuhnya lupa kalau ada Ethan di sana.
Mungkin karena menyadari hal itu, Ethan mau tak mau harus berinisiatif mencari tugas lain agar dirinya tetap dianggap.
Damian memahami pemikiran itu, dan menatapnya dengan kasihan. "Maaf, tapi tidak ada kandidat yang tinggal di daerah Kerajaan. Kebanyakan dari mereka tinggal di Republik dan Kawasan Netral di selatan."
Hanya ada dua yang tidak tinggal di area itu, di antaranya adalah Harold yang tidak jelas tinggal di mana, dan Arcal yang menjadikan ibu kota Kekaisaran sebagai basis utamanya.
"Aku tahu menyedihkan rasanya ketika kau tidak memiliki tugas. Tapi, kurasa aku tahu sesuatu yang cocok untukmu."
Noelle tersenyum dan memajukan tubuhnya sedikit. Dia menatap Ethan dengan mata penuh ketertarikan sekaligus keserakahan yang sulit untuk dimengerti.
"Kau bekerja sebagai bartender di kawasan kumuh, 'kan? Kalau begitu, kau pasti punya koneksi dengan berbagai jenis bandar di dunia bawah."
"Aku memang mengenal beberapa dari mereka, tapi …."
Bandar judi, bandar informasi, narkoba, dan berbagai jenis lainnya. Ethan telah bertemu banyak dari mereka. Dan mereka pun tidak menaruh kecurigaan padanya karena dia masih anak-anak. Justru, kebanyakan dari mereka menganggap Ethan sebagai adik mereka sendiri.
Noelle yang mengetahui itu pun merasa amat senang, karena akhirnya dia bisa membagi tugas ini pada seseorsng. Dan karena dia adalah anggota Asterisk, Noelle tidak perlu ragu untuk menyerahkan tugas penting ini padanya.
"Aku ingin kau mengumpulkan informasi apa pun, yang terkait dengan Wabah Kristal, artefak gereja, dan hal-hal lain yang mungkin bisa mempengaruhi organisasi kita. Aku sudah mengumpulkan beberapa informasi sendiri, tapi rasanya itu belum cukup."
Noelle kembali bersandar pada kursinya dan memperhatikan sekeliling. "Beberapa waktu yang lalu, aku menyelinap masuk ke Gereja Dewi Zelica, dan berhasil menemukan beberapa informasi menarik tentang organisasi kita, Asterisk."
"Ohh? Kau sungguh nekat, tapi kurasa itu tidak sia-sia, ya? "
Damian cukup senang atas kemajuan ini, karena dia sama sekali tidak dapat menemukan informasi yang terkait dengan Asterisk di arsip militer Republik. Mungkin ada, tapi level kerahasiaannya terlalu tinggi sehingga tidak mungkin bagi Damian untuk melihatnya.
Yang lain pun dengan jujur mengungkapkan antusiasme mereka dengan cara mereka tersendiri terhadap pemberitahuan ini.
"Sayangnya aku masih belum tahu apakah informasi ini valid atau tidak. Tapi setidaknya kita sudah mendapatkan kuncinya. Aku akan memberi tahu kalian di pertemuan berikutnya."
Damian mengangguk. "Baiklah, kurasa itu adalah akhir dari pertemuan kita."
Satu per satu dari mereka pun berdiri, dan menatap pada Asher.
"Semoga beruntung," ucap mereka sebelum tubuh mereka ditelan oleh cahaya yang membawa mereka ke tempat semula.
...****************...