![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Di tempat yang tak jauh dari lokasi pertarungan Silis.
Di sana, Tian dan Moldy sedang bertarung satu lawan satu. Semua terlihat imbang pada awalnya, namun perlahan keunggulan mulai terlihat di sisi Tian.
Tian maju dan menebas dengan pedangnya, namun Moldy menangkis itu dengan pedangnya sendiri, dan berniat memberikan tendangan ke arah perut samping Tian.
Meskipun begitu, serangannya gagal. Tian tidak membiarkannya melayangkan tendangan, dan langsung menodongkan moncong revolver ke dahi Moldy.
Moldy yang melihat itu mau tak mau langsung memiringkan kepalanya, lalu melompat jauh ke belakang, membiarkan Tian kembali ke posisi aman.
(Aku ingin bersenang-senang lebih lama lagi, tapi … Ini mulai merepotkan.)
Bahkan meski ia selalu fokus dalam pertarungannya melawan Tian, dia sebenarnya selalu mengamati situasi di tempat lain.
Dia melihat Silis terjatuh, dan keadaan Gild juga tidak sama baiknya. Jika ini terus berlanjut, pihaknya hanya akan mengalami kekalahan.
Beberapa monster dari dunia bawah dikerahkan untuk menjadi bala bantuan, tapi itu tidak terlalu berpengaruh karena pihak lain masih memiliki cukup personil untuk menghadapinya. Terutama, gadis dengan sabit yang tidak dia kenal itu.
Sejauh ini, dia adalah pengacau terbesar dalam semua pengalihan yang Gild ciptakan.
Moldy sempat meminta Gild membuat pengalihan dengan mengeluarkan monster dari dunia bawah, namun gadis dengan sabit itu terus saja menghabisi semua monster.
Seolah, dia benar-benar sudah terbiasa menghadapinya.
Moldy ingin terus bermain dengan Tian, namun situasinya tidak mendukung. Jika situasi ini terus berlanjut, maka pihaknya hanya akan mengalami kerugian.
Mengesampingkan tujuannya untuk mengalihkan perhatian semua organisasi dari Feran Cerces, Moldy tidak ingin hidupnya berakhir dengan konyol di sini.
Dia sudah pernah mati sekali, jadi jika dia mati di sini, tidak akan ada kesempatan untuk bangkit.
(Browdy dan Heinz juga tidak datang, apa itu artinya mereka sudah mati? )
Bawahan yang tidak berguna. Dia secara alami berpikir begitu.
Swallow Life Order tersebar di semua penjuru benua, dengan pusatnya berada di suatu tempat yang tidak diketahui apakah itu nyata atau tidak. Ada sebutan khusus untuk 'cabang' di setiap kota, dan itu adalah Kru.
Cabang yang berdomisili di kota Féncen adalah Kru ke-17. Dalam kelompok ini, posisi Moldy adalah sebagai Wakil Ketua, dengan ketuanya sendiri adalah Dwayne.
Jika Browdy dan Heinz benar-benar sudah mati, maka merekrut atau memohon untuk anggota baru akan menjadi tanggungjawabnya, dan dia benci itu.
Sambil kembali beradu pedang dengan Tian, Moldy mendecakkan lidahnya.
Dia kemudian menendang perut Tian, sehingga membuatnya harus mundur jauh ke belakang untuk bertahan dari rasa sesak akibat tendangan Moldy.
"Hei, Pak tua. Aku ingin bersenang-senang lebih lama lagi, tapi aku sudah kehabisan waktu sekarang. Maaf, tapi aku harus segera menghabisimu."
" … Ayo lihat apakah kau bisa melakukannya," ucap Tian sambil mengayunkan pedangnya.
Saat Tian hendak maju dan menyerang Moldy, Moldy telah lebih dulu melompat ke samping, membuat Tian mau tak mau mendarat di tempat Moldy berdiri sebelumnya.
Hal itu membuat perangkap yang telah Moldy persiapkan aktif.
Tanah tempat Tian berpijak tiba-tiba meledak, dan Tian seketika terpental ke belakang.
Moldy tidak membuang kesempatan, dan langsung maju mendekati Tian dengan tujuan langsung membunuhnya. Namun, saat dia mengayunkan pedangnya, Tian telah menangkis tebasan itu, dan berbalik mengarahkan moncong revolver ke arah Moldy.
Revolver itu memiliki ruang untuk 6 peluru, dan Tian baru menggunakan 2 di antaranya. Masih ada 4 peluru, tapi Tian tidak membawa peluru cadangan, sehingga dia tidak bisa sembarangan menembak.
Begitu melihat Tian hendak menarik pelatuknya, Moldy langsung menundukkan kepalanya, dan memanfaatkan momentum itu untuk memukul lengan Tian dengan sisi tumpul pedangnya.
Akibat pukulan itu, tangan Tian kehilangan pegangannya atas revolver, dan Moldy langsung menangkap revolver itu, sebelum akhirnya menodongkannya ke arah Tian.
Tian nyaris tidak dapat merespon tepat waktu. Dia berhasil membelokkan arah revolver itu sehingga tembakannys tidak akan mengenai apa pun. Juga, dalam situasi yang cukup terdesak, Tian meluruskan telapak tangannya, dan langsung memukul perut bagian kiri Moldy dengan posisi itu.
Namun, Moldy juga melakukan perlawanan.
Dalam waktu yang sangat singkat, Moldy berhasil mengeluarkan sebuah belati dari dalam mantelnya, dan menancapkan itu ke paha Tian.
Baik itu Moldy atau Tian langsung mundur sejauh mungkin.
Tian mencabut belati yang ditancapkan Moldy ke pahanya, dan membuat darah dalam jumlah besar terus keluar, sementara Moldy memegangi perut bagian kirinya dengan ekspresi kesakitan.
Meskipun gerakan Tian terlihat sepele, kenyataannya berbeda. Gelombang kejut yang kuat diluncurkan bersama dengan pukulan dari telapak tangannya. Moldy bisa merasakan beberapa organ dalamnya nyaris hancur.
"Tidak ada gunanya meneruskan ini … "
Moldy tertawa kering dan membuang pedangnya. Dia kemudian mengeluarkan sebuah pedang lain yang ukurannya lebih pendek, dan lebih ramping dari sebelumnya.
Mengayunkan pedang itu sejenak, Moldy kemudian meluncurkan beberapa sihir tingkat rendah guna menyerah Tian.
Beberapa bola energi tak berwarna berterbangan di udara, dan menargetkan Tian. Tentu saja, Tian yang melihatnya langsung membuat persiapan untuk menghadapinya.
Setelah menganalisis jalur dan kecepatan semua bola energi, Tian berhasil memprediksi di titik mana bola energi itu akan mendarat; satu tepat di perutnya, satu di dada kiri, dua di bagian kaki, dan lebih dari empat tidak mengenai sasaran.
Tepat sebelum semua bola energi itu mendarat di tubuhnya, Tian langsung melompat ke samping, membuat kumpulan bola energi itu mendarat dan menghancurkan tanah.
Tak berhenti di sana, belasan hingga puluhan bola energi tak berwarna itu terus bermunculan dan menyerang Tian tanpa henti.
Tian berusaha menghindar, tapi tak dapat menghindari itu sepenuhnya. Beberapa bola energi berhasil mendarat di tubuhnya, dan memberikan dia luka yang cukup parah.
Meskipun itu termasuk kategori sihir kelas rendah, nyatanya tingkat kekuatannya akan sangat bergantung pada orang yang merapalkan mantra itu.
Jika orang sekelas Moldy yang meluncurkannya, maka kerusakannya akan setara dengan sihir serangan kelas menengah.
Setelah bombardir dari Moldy selesai, Tian berhasil menemukan celah untuk menyerang. Dia maju dan bersiap dengan pedangnya untuk menyerang Moldy.
Revolver miliknya masih di tangan Moldy, dan dia tidak tahu kapan Moldy akan menggunakannya. Meskipun begitu, itu tidak akan menjadi masalah yang besar.
Menghadapi serangan dari senjata api adalah hal yang cukup Tian kuasai.
Tian dan Moldy sekali lagi berhadapan dalam jarak dekat. Keduanya saling menyerang dan menangkis, dan keunggulan masih belum dimiliki oleh pihak mana pun.
Moldy menangkis tebasan pedang Tian, dan memindahkan satu kakinya ke belakang. Kemudian, dia langsung memanfaatkan momentum itu untuk melompat ke belakang.
Tian yang sebelumnya berada di tempat itu secara tidak sengaja menginjak tanah tempat Moldy berpijak sebelumnya, dan memicu perangkap ledakan yang sempat ditanamkan Moldy di sana.
Menganggap itu sebagai kesempatan, Moldy langsung menyerbu Tian dengan sihir yang sama seperti sebelumnya.
Puluhan bola energi tak berwarna terus menyerbu Tian dari segala arah. Dan sementara Tian disibukkan olehnya, Moldy secara diam-diam langsung menyiapkan sihir serangan yang lebih kuat lagi.
Tepat di atas Tian, sebuah bola cahaya transparan berukuran raksasa muncul. Itu memiliki pusaran energi sihir dalam jumlah yang tidak normal, dan itu perlahan menjatuhkan dirinya ke arah Tian.
Sebuah ledakan besar tiba-tiba terjadi, namun efek ledakan itu tidak menyebar ke mana pun karena Moldy telah menyiapkan penghalang yang mengurung Tian dengan bola energi raksasa itu.
Dia menciptakan penghalang itu untuk memusatkan dampak ledakan ke satu titik. Meskipun begitu, kelihatannya hal itu masih belum cukup untuk membunuh Tian.
Setelah asap hitam perlahan menghilang, sosok Tian dapat terlihat di tengah kawah yang terbentuk.
Kawah itu memiliki corak panas layaknya magma, sebagai akibat dari panasnya ledakan yang diciptakan Moldy.
Di sana, sosok Tian juga tidak terlihat baik. Dia kehilangan lengan kanannya, dengan beberapa bagian dari kulit di tubuhnya meleleh.
Ledakan itu menarik perhatian hampir semua orang di sana, dan mereka bergegas maju untuk menyelamatkan Tian. Namun, penghalang yang Moldy ciptakan mencegah mereka untuk masuk.
Tian terlihat akan jatuh kapan saja, tapi dia masih bisa bergerak.
Seekor kucing hitam muncul di sampingnya, dan kulitnya yang meleleh perlahan kembali seperti normal.
"Hmm? Familiar yang bisa menyembuhkan, ya? Itu sangat jarang."
Hewan familiar normalnya digunakan sebagai metode transportasi, pengantaran, dan bantuan untuk menyerang. Familiar dengan kemampuan untuk menyembuhkan bisa dibilang sangat langka.
Moldy tertarik untuk melihat kemampuan familiar itu, namun dia sudah tidak memiliki waktu.
Mengarahkan ujung pedangnya ke depan, Moldy lagi-lagi mengeluarkan puluhan bola energi untuk menyerang Tian.
Masing-masing bola energi itu ia keluarkan dengan pola, interval, dan arah tertentu, sehingga membimbing Tian ke titik yang ia inginkan.
Sayangnya, Tian sudah paham akan tujuannya.
Dengan pedangnya, Tian menahan semua bola energi yang datang langsung ke arahnya. Masing-masing dari bola itu bisa menghasilkan kerusakan yang besar, namun pedangnya bahkan tidak tergores sedikit pun.
Tapi tentu saja, Tian tidak memiliki banyak tenaga untuk terus menahan serangan itu dengan pedangnya. Sesekali dia akan dipaksa untuk menghindar ke arah lain.
Hal itu dimanfaatkan oleh Moldy.
Dia terus mendesak Tian untuk menghindar, dan akhirnya menemukan celah yang tepat untuk menyerang.
Setelah semua serangan sihir itu, dia tidak memiliki banyak energi sihir tersisa. Hingga akhirnya, Moldy harus mengambil cara lain.
Moldy melihat ke tangan kirinya yang sejak tadi tidak dia gerakkan, dan tersenyum.
"Lebih baik kau berguna sedikit," ucapnya sambil mengeluarkan tawa yang terdengar kering.
Moldy kemudian menamcapkan pedangnya sendiri ke tanah, dan secara singkat langsung menarik lengan kirinya, hingga itu terputus.
Sambil berusaha menahan rasa sakit setelah mencabut lengannya sendiri, Moldy berusaha mengubah bentuk lengannya itu menjadi gumpalan cairan hitam yang aneh.
Bahkan meski sudah terputus, lengan itu tetaplah anggota tubuh Moldy. Dia masih bisa mengubah bentuknya menjadi gumpalan cairan hitam, seperti saat semua anggota Swallow Life Order mencoba melarikan diri.
Tanpa membiarkan Tian mengambil kesempatan untuk pulih, Moldy langsung merekonstruksi bentuk lengannya menjadi sebuah tombak hitam yang panjang.
Dibandingkan harus mengeluarkan sihir secara terus menerus, ini jauh lebih efektif.
Tian terlihat berusaha bangkit dari posisinya, dan dia juga melihat apa yang Moldy persiapkan.
Melihat ke sekeliling, dia tidak bisa menemukan apa pun yang bisa dijadikan sebagai perisai. Yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah menghindar. Namun, seberapa parah kerusakan yang akan diciptakan oleh tombak itu? Tian belum bisa memperkirakannya.
Suruasinya menjadi semakin buruk seiring dengan berjalannya waktu. Pihaknya juga mulai kehilangan personil sedikit demi sedikit.
Selain itu, Tian juga hampir tidak bisa menahan kemarahannya saat menyadari situasi yang dialami oleh Rita.
Menyipitkan matanya sejenak, Tian fokus menunggu sampai tombak itu diluncurkan dari tangan Moldy.
Akhirnya, waktu yang ia tunggu datang.
Dengan kecepatan yang mengerikan, tombak itu diluncurkan. Putarannya di udara membuat kecepatannya meningkat, tapi itu masih dalam batas yang bisa diperhatikan oleh Tian.
Tian berusaha menghindari tombak itu dengan cara melompat ke arah pedangnya berada. Namun, itu tidak berhasil.
Dia tidak bisa bergerak dari tempatnya berdiri.
Melihat ke bawah, Tian segera menemukan gumpalan cairan hitam yang aneh sedang menahan agar kakinya tidak bisa bergerak ke mana pun.
"Cairan ini … Begitu, ya … Dia juga mengubah satu kakinya, ya? "
Memang tidak begitu terlihat karena posisinya saling berjauhan, namun jika diperhatikan dengan lebih seksama, Moldy juga telah kehilangan kaki kanannya. Kini dia berdiri dengan satu kaki.
Tian mengerutkan kening, lalu menghela napas lelah.
"Kurasa aku tidak bisa menikmati masa pensiunku," ucapnya sambil tersenyum lemah.
Tepat setelah dia mengucapkan itu semua, tombak yang diluncurkan Moldy mendarat dan menembus tepat di tengah dadanya.
Sedikit meleset dari jantung, tapi itu sudah cukup untuk membunuh seseorang.
Tian seketika memuntahkan darah dalam jumlah yang besar, dan kesadarannya sedikit demi sedikit memudar.
Meskipun begitu, di tengah semua rasa sakit dan kantuk yang berat itu, ingatan-ingatannya tentang segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya mulai bermunculan.
(Jadi ini … Yang mereka sebut dengan … Kilas balik sebelum kematian … )
Tian berusaha menahan rasa kantuknya demi menyaksikan satu per satu kenangan itu memudar.
Ada ingatan tentang dirinya yang masih muda, saat dia masih menjadi seorang agen intelijen untuk gereja. Ada pula ingatan tentang dirinya yang mengajari semua anggota yang baru bergabung dengan Lunatic Order.
Puluhan tahun pengabdian kepada gereja, berakhir saat dia menjalankan tugasnya sebagai seorang 'prajurit bayangan'.
Tian terjatuh, dengan tombak yang masih menancap di dadanya.
Itu adalah akhir dari perjalanan hidupnya yang panjang.
...****************...
Setelah memastikan musuhnya benar-benar sudah mati, Moldy langsung menjatuhkan tubuhnya ke tanah, dan bernapas dengan berat.
Meskipun dia terlihat tenang, mencabut anggota tubuhnya sendiri untuk menjadi senjata adalah hal yang menyakitkan untuk dilakukan.
Dia tidak bisa mengubah satu anggota tubuhnya menjadi cairan tanpa mengubah bagian lain. Itu artinya, dia harus memisahkan satu organ dari tubuh utamanya agar itu bisa berubah wujud sendiri tanpa mempengaruhi tubuh utama.
Memotong lengan dan kakinya sendiri adalah hal yang menyakitkan, tapi itu sepadan dengan hasilnya.
Moldy berusaha mengangkat tubuhnya dan menyaksikan mayat Tian. Tombak yang menancap di dadanya perlahan berubah kembali menjadi cairan, dan itu bergerak mendekati Moldy.
Gumpalan cairan yang menahan Tian sebelumnya juga kembali untuk menjadi kakinya.
Akhirnya, tubuh Moldy kembali lengkap seperti sebelumnya. Dia perlahan bangkit dan melihat ke sekeliling.
Situasi masih belum berubah.
Meski dia sudah membunuh Tian, masih ada lebih dari selusin anggota gereja di sana.
Moldy tertawa ringan, dan berniat pergi. Namun, rasa panas dan sakit yang tiba-tiba muncul di dadanya membuatnya seketika membeku dan terdiam di tempat.
Moldy perlahan melihat ke dadanya sendiri, tapi tidak melihat sesuatu yang salah. Kemudian, dia sadar kalau permasalahannya ada di belakang.
Dengan gerakan yang kaku, Moldy berusaha menoleh ke belakang, dan menemukan sosok Dwayne—ketua kru ke-17 Swallow Life Order—sedang berdiri sambil menodongkan sebuah revolver ke punggungnya.
Begitu kedua mata mereka bertatapan, Dwayne tersenyum, dan kembali menarik pelatuk revolver.
Peluru dikeluarkan, dan kali ini mengenai tepat di mana jantung Moldy berada.
Hanya saja, pelurunya tidak menembus cukup dalam, sehingga Moldy hanya terjatuh ke tanah tanpa menerima kematian instan.
Moldy masih tidak mengerti. Dia menatap Dwayne sementara kebingungan dan kemarahan menguasai dirinya.
"Ke … napa? "
Pertanyaan itu dikeluarkan dengan susah payah, tapi Dwayne tidak langsung menjawabnya, dan justru kembali menembak sampai 4 kali.
Revolver miliknya sudah kehabisan peluru, jadi Dwayne menurunkan senjatanya, sebelum akhirnya tersenyum pada Moldy.
"Apa ini mengejutkan? "
Dwayne tertawa kecil sambil menyaksikan Moldy yang perlahan kehilangan kesadarannya.
Darah terus keluar hingga menggenang, tapi kesadaran Moldy masih bertahan. Meskipun begitu, keterkejutan karena mendapatkan serangan dari Dwayne membuatnya tidak mampu berpikir.
Selama ini, dia bertindak sebagai wakil, sekaligus utusan untuk Dwayne. Karena itulah, Moldy mengembangkan kepercayaan yang cukup besar padanya.
Namun, semua itu kembali diragukan sekarang. Kenapa Dwayne berniat membunuhnya? Dia tidak dapat menemukan jawaban atas pertanyaan itu.
"Hei, apa kau tahu nama lengkapku? "
Moldy bingung, tapi dia tetap berusaha menjawab, sementara darah terus dikuras keluar dari tubuhnya.
Jika bukan karena pertahanannya yang kuat, dan pengalaman yang terakumulasi, dia pasti sudah mati sekarang.
"Dwayne … Lee … "
Moldy yakin dengan jawaban itu. Namun, reaksi yang diberikan Dwayne atas jawaban itu membuatnya seketika ragu.
Tertawa kecil, Dwayne kemudian menjentikkan jarinya, seketika menciptakan sebuah penghalang yang membuat siapa pun di luar tidak akan bisa mendengar atau melihat percakapan mereka.
"Jawaban itu benar, tapi kurang tepat. Namaku yang sesungguhnya adalah Dwayne Lee Minster. Apa kau mengenal nama itu? "
Dwayne mengangkat kembali revolver miliknya, lalu mulai mengisi ulang peluru sambil menunggu Moldy bereaksi.
Tak lama kemudian, mata Moldy melebar. Dia akhirnya dapat mengingat semua informasi tentang nama itu.
"Kau … Paradise … Falls?! "
'Minster', Moldy tidak terlalu mengenal nama itu, tapi dia memiliki beberapa informasi tentangnya.
Minster adalah nama keluarga, yang memiliki sejarah panjang dengan masa kejayaannya yang berlangsung bersamaan dengan era bangsa Aino.
Keluarga Minster adalah salah satu keluarga besar dari bangsa Aino, dan mereka telah dikabarkan musnah setelah kejatuhan bangsa tersebut.
Ada banyak keluarga besar lain yang masa kejayaannya berakhir setelah runtuhnya bangsa Aino, dan mereka semua juga dikabarkan telah musnah.
Namun, pihak-pihak tertentu dengan jelas mengetahui kalau beberapa keluarga tersebut berhasil bertahan, dengan meninggalkan keturunan mereka di masa sekarang.
Swallow Life Order menjadi salah satu pihak yang paling mengetahui keberadaan keluarga-keluarga itu.
Lagi pula, organisasi merekalah yang menjadi biang dari kejatuhan bangsa yang kuat itu.
Sejauh yang diketahui Moldy, ada sebuah organisasi yang beranggotakan para pewaris nama keluarga besar dari bangsa Aino.
Minster, Fhloch, Olden, Grimald, Yacob, Hall, Amana, dan Anson adalah nama-nama keluarga besar bangsa Aino yang sejauh ini telah diketahui.
Masing-masing dari pewaris keluarga tersebut berkumpul dan membentuk suatu organisasi bernama Paradise Falls.
Hanya itu yang Moldy ketahui. Dia tidak tahu banyak, karena itu memang bukanlah urusannya, dan dia juga tidak tertarik untuk mempelajari mereka.
Setelah Moldy memberikan tebakannya, Dwayne tersenyum dan mulai menepuk tangannya dengan gembira.
"Selamat, kau benar! Kuberikan kau seratus poin untuk itu! "
Sementara Dwayne dengan gembira memberinya pujian, Moldy hanya bisa terus berbaring di tanah sambil tertawa kering.
"Haha, jadi ini tujuanmu, ya, brengsek? Kau bajingan, kenapa kau melibatkanku? "
Atas pertanyaan tersebut, respon Dwayne hanyalah senyum dan tatapan dingin yang menusuk.
"Kenapa? Bukankah sudah jelas? Itu karena kau adalah anggota mereka. Demi kejayaan leluhurku, aku akan menghancurkan kalian semua, bahkan meski kalian hanyalah anggota rendahan yang tidak mengetahui apa pun."
Setelah mengatakan itu, Dwayne kembali menodongkan revolvernya ke arah Moldy. Hanya saja, kali ini dia menargetkan kepala.
"Jika kau ingin menyalahkan seseorang, salahkanlah semua pendahulumu yang memilih untuk berurusan dengan bangsa kami."
Moldy ingin memberontak, tapi dia tidak bisa. Entah sejak kapan tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan.
Satu-satunya yang bisa dia lakukan hanyalah menolehkan kepala sambil membuka-tutup mulutnya tanpa bisa mengatakan apa pun.
Kemudian, dia melihat Dwayne melebarkan senyumnya.
"Sungguh, surga ada di pihak kami."
Dengan mengatakan itu, Dwayne menarik pelatuknya, dan sebuah peluru timah berhasil menembus tengkorak Moldy hingga menghancurkan semua isinya.
...****************...
"Sekarang … Feran pasti sudah pergi untuk mengantarkan berkas itu. Seperti yang sudah direncanakan, ya … Hehe, tidak kusangka semua perencanaan yang dilakukan bertahun-tahun akan berjalan semulus ini."
Dwayne mengangkat revolvernya, melepaskan penghalang yang sejak tadi mengurungnya, lalu melihat ke sekeliling.
Jelas, keadaannya sangat buruk bagi Swallow Life Order. Namun, bagi Dwayne, ini adalah pemandangan yang indah.
Memang, menyusup sebagai anggota Swallow Life Order bukanlah hal yang sia-sia. Karena dengan begitu, semua rencananya bisa berjalan dengan lancar.
Situasi ini begitu menyenangkan untuk dilihat, sehingga Dwayne ingin tertawa. Namun, dia berusaha menahan rasa senangnya.
Semua belum berakhir. Rencana ini masih memiliki banyak tahap tersisa.
Dwayne melihat ke arah lain, dan menyadari suatu keanehan.
Udara di sekitarnya tiba-tiba menjadi lebih berat, dan perasaan yang sangat mencekam muncul.
Dwayne menoleh ke arah di mana perasaan mencekam itu berasal, dan menemukan sosok laki-laki muda sedang berdiri dengan tenang sambil tersenyum.
Kemudian, dia mendengar suara yang halus bergema di seluruh tempat.
"《All Fiction》"
...****************...