![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Di suatu tempat di kota Féncen.
Itu adalah ruangan yang terlihat biasa. Memiliki sebuah meja bundar, dan beberapa kursi yang ditata mengelilinginya.
Di setiap sudut ruangan, terdapat sebuah patung dengan bentuk yang aneh.
Meskipun memiliki wujud humanoid, patung itu sama sekali tidak terlihat seperti manusia.
Jumlah lengannya ada enam, dengan borgol berantai di setiap pergelangan tangan, sementara semua lengannya masing-masing diposisikan menyilang seperti memeluk dirinya sendiri.
Ekspresi yang terdistorsi di wajah patung itu membuatnya semakin terlihat mengerikan. Itu memiliki 12 mata yang terbuka lebar, dan mulut yang juga terbuka seolah sedang menjerit dengan sangat keras.
Secara alami, penampilan semua patung itu adalah satu hal yang paling tidak ingin dilihat oleh siapa pun.
Namun, mereka semua yang ada di ruangan ini justru tetap tenang meskipun patung itu memberikan kesan sedang menatap mereka.
Ada tiga orang di ruangan itu. Mereka sedang duduk dengan tenang seolah sedang menunggu sesuatu yang akan datang.
Tak lama kemudian, sosok yang ditunggu akhirnya tiba.
Dia adalah seorang pria, yang terlihat masih sangat muda. Justru, dia terlihat seperti seseorang yang paling muda di ruangan ini, jika seorang wanita yang juga ada di sana disingkirkan dari kualifikasi.
"Senang melihat kalian sampai dengan aman."
Pria itu menatap semua orang satu per satu, lalu tersenyum. Sapaan ringan ia keluarkan sebelum dia memutuskan untuk duduk di kursi yang telah disiapkan.
"Ini bukanlah pekerjaan yang sulit. Kau bisa mengandalkan kami untuk ini, Bos."
Salah satu pria yang sudah menunggu kehadiran sang 'bos' di sana dengan senyum lebar berdiri dan memberikan sambutan, sementara satu pria lainnya hanya tersenyum sambil terus duduk di samping wanita muda itu.
"Baiklah," ucap sang 'bos' sambil mengangguk sekali.
Dia kemudian beralih menatap wanita yang duduk di tengah, dan tersenyum padanya.
"Sudah lama kita tidak bertemu, Nona Cerces. Apa kau sudah melakukan semua tugasmu? Aku harap kau melakukannya seperti yang kuperintahkan karena itu sangatlah penting."
Wanita itu—Feran Cerces mengangguk. Wajahnya memiliki ekspresi ketidakpastian, tapi anggukannya cukup kuat sehingga membuat sang 'bos' yakin.
"Baiklah, terima kasih atas kerja kerasmu."
'Bos' itu meletakkan satu tangannya ke atas meja, dan menatap pria yang sebelumnya memberinya sambutan.
"Browdy, apa ada yang ingin kau laporkan? Kau meminta pertemuan dadakan hari ini. Ahh, tentu aku tidak keberatan melakukan pertemuan ini karena bisa memastikan pekerjaan Nona Cerces sudah selesai sepenuhnya."
Browdy terlihat ragu sejenak, tapi kemudian dia menoleh dan menatap pada pria lain yang sejak tadi diam.
"Sebenarnya, yang akan memberikan laporan adalah Heinz. Dia belum memberitahuku apa yang akan dia laporkan, tapi kurasa itu cukup penting."
Setelah mendengar penjelasan Browdy, 'bos' itu beralih melihat pada Heinz.
"Aku baru datang ke kota ini setelah mendapat panggilan dari atasan, jadi aku minta maaf karena baru muncul sekarang. Apa yang ingin kau laporkan? "
Heinz mengangguk sekali, lalu menjawab, "Kita sudah ketahuan. Pihak gereja sudah tahu Feran memiliki hubungan dengan kita. Aku sudah melaporkan ini pada Moldy, dan dia sekarang sedang mengalihkan perhatian para organisasi. Tapi, aku yakin itu tidak akan lama sampai Moldy tertangkap sepenuhnya."
"Begitu, ya … "
Itu jelas merupakan informasi yang mengkhawatirkan, tapi si 'bos' sama sekali tidak terlihat khawatir. Justru, dia sangat tenang dan sempat membuat senyum kecil pada Heinz.
"Aku mengerti situasinya. Sangat disayangkan karena aku tidak bisa bergabung dengan kalian. Tapi, aku akan pastikan untuk mengirimkan bantuan sebanyak mungkin."
"Tapi, Dwayne, yang kita lawan sekarang adalah beberapa gereja yang sedang bekerja sama. Apa kau yakin kalau kita saja cukup untuk menyingkirkan mereka? Kau mungkin bisa melakukannya, tapi itu jelas sulit bagi kami."
Kata subjek terakhir yang is sebutkan itu mengacu pada dirinya, Moldy, dan Browdy. Memang, secara kekuatan, Dwayne tidak jauh berbeda dengan mereka bertiga, tapi dia tetaplah memiliku kekuatan yang lebih besar, dan taktik yang dia gunakan juga selalu membantunya di setiap kesempatan.
Kecemasan Heinz bukannya tidak berdasar. Justru, itu adalah kekhawatiran yang ia dapatkan setelah memperhitungkan semua variabel yang ada. Dia sudah memastikan semuanya, dan tidak mungkin tiga orang cukup untuk melawan persekutuan empat organisasi besar.
Untungnya, pihak kepolisian tidak ikut campur dalam masalah ini. Jika mereka sampai bergabung, maka kerugian yang akan diterima cabang Swallow Life Order di kota Féncen akan sangat besar.
Mendengar itu, Browdy tidak menjawab, dan hanya bisa mengerutkan keningnya sementara Feran Cerces dengan cemas memperhatikan sekitarnya.
Meskipun sudah mendengar kekhawatiran yang sangat berdasar itu, Dwayne masih terlihat tidak memiliki masalah. Dia masih tersenyum, namun entah mengapa senyumnya itu menjadi lebih gelap dari sebelumnya.
"Lalu apa masalahnya? Apa kau tidak bisa mengatasi para serangga itu? Aku akan memberikan bantuan, jadi kau seharusnya menerima perintahku dengan tenang."
Setelah Dwayne berbicara, udara menjadi lebih berat. Heinz bisa merasakan lehernya seperti sedang dicekik sesuatu yang kuat, tapi tidak ada apa pun di sana.
Heinz tanpa sadar memegangi lehernya sendiri sambil bernapas berat, tapi kemudian semua sensasi mengerikan itu menghilang tanpa jejak. Dengan keringat dingin yang masih mengalir di punggungnya, Heinz kembali menatap Dwayne.
"Bantuan yang kuberikan tidak terlalu banyak, tapi itu seharusnya cukup untuk menjadi senjata kalian semua. Sebelumnya, para eksekutif menolak untuk memberikan bantuan, tapi ketika aku berkata kalau Nona Cerces datang dengan sesuatu, mereka dengan senang hati menunjukkan buah kebaikan mereka sendiri."
"Yahh, intinya, jangan terlalu mengkhawatirkan perbedaan kekuatan. Harus kukatakan, mereka mengirimkan jumlah bantuan yang tidak sedikit. Itu sekitar … dua ratus atau tiga ratus 'Boneka', mungkin? "
Mendengar jumlah itu, Heinz dan Browdy hanya bisa membelalakkan mata mereka dengan terkejut. Feran tidak terlalu mengerti, tapi dia yakin kalau itu adalah hal yang luar biasa.
Lagi pula, 200 sampai 300 adalah jumlah yang tidak sedikit, dan Feran juga sudah memiliki firasat tentang apa yang dimaksud dengan 'Boneka' ini.
Beberapa lembar kertas yang penuh dengan tulisan tangan tiba-tiba muncul di hadapan Dwayne. Dia mulai membaca dan memberikan tanda tangan pada beberapa lembar itu, lalu kembali menjelaskan.
"Jangan khawatir tentang Moldy. Lagi pula, dia tidak sendiri. Sejak awal, aku menyerahkan semua operasi padanya, dan dia bebas melakukan apa yang ia mau asal tujuan kru kita tercapai."
Moldy tidak sendirian. Ini adalah pertama kalinya Browdy dan Heinz mendengar tentang ini.
Mereka ingin bertanya tentang hal itu, tapi sebelum mereka sempat melakukannya, Dwayne telah lebih dulu berdiri dan bersiap pergi.
"Kalau begitu, kita selesai. Aku masih memiliki banyak hal yang harus kuselesaikan. Intinya, jangan biarkan kekhawatiran mengganggu kalian. Lakukanlah semua sesuai dengan rencana."
Heinz dan Browdy secara bersamaan berdiri dan memberikan salam perpisahan pada Dwayne, sementara Feran dengan panik mengikuti gerakan mereka.
Kemudian, Dwayne berhenti bergerak. Dia berbalik dan menatap Feran sejenak.
"Aku lupa memberitahumu. Nona Cerces, sebaiknya kau segera pergi dari kota ini, karena aku yakin kalau tempat ini tidak lagi aman. Kau juga harus menyerahkan semua itu pada para eksekutif secepatnya. Aku akan mengatur pengawalan untukmu, jadi sebaiknya kau bergegas menuju ibu kota atau ke mana pun itu."
"B-baik! "
Itu adalah satu-satunya kata yang berhasil diucapkan Feran Cerces di pertemuan ini.
Dwayne kemudian tersenyum dan berbalik sambil melambaikan tangan kanannya dengan santai.
"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi. Bonne chance~"
...****************...
Setelah pergi dari tempat persembunyian, Dwayne dengan cepat mengubah rute perjalanannya dan berjalan menuju suatu tempat yang hanya sedikit orang mengetahuinya.
Saat pertama kali Dwayne mengunjungi tempat ini, dia benar-benar merasa kalau ini sulit dipercaya.
Bagaimanapun, tempat yang dia kunjungi adalah suatu tempat yang benar-benar besar dan indah, seperti tidak ada jejak peradaban manusia di sekitarnya.
Area itu terlindung dari kegiatan apa pun, dan metode masuknya juga membuat tempat ini menjadi sangat terpencil.
Dwayne berhenti setelah mencapai sebuah pohon beringin yang ukurannya cukup besar. Dia tetap diam sambil menatap pohon itu, tapi segera menoleh ketika mendengar suara langkah kaki seseorang yang mematahkan ranting.
Orang yang mendatanginya adalah sosok yang tubuhnya ditutupi jubah hitam tebal. Dwayne tidak dapat memastikan identitas di balik jubah itu, tapi dia memang tidak perlu melakukannya.
"Bagaimana kemajuannya? " tanya sosok itu pada Dwayne. Dari suaranya, sangat jelas kalau dia adalah laki-laki.
Dwayne tersenyum padanya, lalu menjawab, "Tidak ada masalah. Semua pion sudah di tempat. Yang perlu kulakukan sekarang adalah menunggu hasilnya tiba."
"Apa kau yakin semua akan berjalan lancar? "
Senyum Dwayne menjadi semakin dalam. Matanya mulai menyipit.
"Tentu saja. Tidak peduli seberapa bagus pion yang dimiliki oleh musuhku, pada akhirnya aku akan tetap diuntungkan."
Pria dengan jubah itu kemudian tertawa ringan, membuat Dwayne hanya menatapnya tanpa mengatakan apa pun.
"Kau benar-benar sudah memainkan semua bidakmu dengan baik. Yahh, hasil apa pun yang kau dapatkan, tidak peduli itu berhasil atau gagal, pada akhirnya semua akan berjalan dengan lancar."
"Sungguh … Surga ada di pihak kita," ucap pria itu dengan perasaan senang.
Dwayne juga ikut senang karenanya, dan dia membalas, "Surga memang ada di pihak kita."
...****************...
Laporan dadakan yang diberikan Rita membuat semua orang segera bergegas.
Dolf kini masih ada di gereja, tapi dia dengan sigap mengatur bala bantuan untuk pengejaran seorang target bernama Moldy.
Gereja Dewi Zelica cabang kota Féncen hanya memiliki 60 personel yang siap dipekerjakan. Namun, tidak mungkin untuk memobilisasi semuanya hanya untuk pengejaran. Setidaknya, Dolf masih harus menyisakan sepertiga untuk melaksanakan tugas rutin.
Jumlah itu sudah termasuk tim resmi di Bar Nautica.
Dolf melihat ke peta, dan berusaha memprediksi rute pelarian Moldy, namun itu sedikit sulit karena Moldy nyaris tidak meninggalkan jejak apa pun.
Di saat Dolf dengan serius membuat perkiraan, sambungan telepati tiba-tiba terbentuk, dan sebuah suara yang terdengar tak berperasaan muncul.
Itu dari Noah.
"Hei, apa semua orang diwajibkan untuk terlibat dalam pengejaran? "
" … Itu tergantung seberapa bagus kemampuan mereka. Jika mereka merasa tidak bisa membuat kontribusi apa pun, maka mereka diizinkan untuk tidak ikut. Tentu saja, kau wajib mengikuti ini."
Memang tidak terdengsr di telepati, tapi Dolf bisa dengan jelas merasakan kalau Noah sedang tertawa sekarang.
"Sejak awal aku tidak menanyakan ini untuk diriku sendiri. Aku hanya penasaran apa aku harus membawa Felis untuk tugas ini."
" … Mau mengajaknya atau tidak, itu adalah keputusanmu. Felice memiliki kemampuan yang cukup bagus, jadi seharusnya dia bisa berguna."
Entah mengapa, Dolf merasa kalau Noah yang berbicara dengannya melalui telepati sekarang ini adalah sosok yang berbeda dari Noah yang dia ingat.
Terdapat kesan tak berperasaan yang diberikan suara dari telepati itu. Ini membuat Dolf ragu apakah dia benar-benar berbicara dengan Noah sekarang.
"Apa yang terjadi kalau aku membuat sedikit kekacauan? Misalnya … menghancurkan satu atau dua bangunan."
Dolf ragu sejenak, tapi kemudian dia menjawab dengan sedikit tawa menyertainya.
"Lakukan sesukamu. Kita hanya melakukan pekerjaan kita. Kerusakan? Itu urusan pemerintah setempat."
...****************...
Setelah menghubungi Dolf, Noelle yang sekarang masih berada di kamar apartemennya seketika tersenyum.
"Serius … Sebenarnya apa tujuanku di sini … "
Dia mulai mempertanyakan alasan mengapa ia berada di sini. Sebelumnya, itu adalah untuk menjauhkan perhatian Noir dari Olivia dan yang lain, tapi sekarang Noir sudah dipastikan tidak akan pernah menyentuh mereka.
Lalu, apa yang membuatnya harus terus seperti ini?
Noelle melihat pada jam saku di tangannya, lalu tersenyum tipis.
"Hei, apa kau tahu apa yang harus kulakukan? "
『Hehe, apa kau adalah orang yang tidak bisa hidup tanpa tujuan? Kalau begitu, apa kau mau aku memberimu satu tujuan baru? 』
" ……… "
Noelle tidak tahu harus menjawab apa. Dia memang seperti kehilangan tujuan, tapi harga dirinya tidak mengizinkan Noir untuk menentukan tujuannya.
Meskipun begitu–
『Bagaimana kalau … Menemukan kebenaran di balik semua ini? 』
–Apa yang diucapkan oleh Noir membuatnya tidak dapat berkata-kata.
'Menemukan kebenaran', kalimat itu berarti banyak bagi Noelle.
Kecurigaan mengenai semua yang pernah terjadi dalam hidupnya membuat Noelle tidak dapat berpikir dengan tenang, tapi kemudian satu per satu misteri di balik itu semua terungkap.
Tentang Charlotte yang mengulang waktu, mimpi aneh yang selalu ia miliki, tentang Estelle Finnegard, dan banyak lainnya.
Itu semua adalah pertanyaan yang selama ini ada di benak Noelle, namun dia tidak pernah benar-benar mencari kebenaran di baliknya.
『Kau pernah berpikir untuk menemukan Chronoa, 'kan? Lalu, kau mulai berubah pikiran dan menganggap itu sebagai hal yang konyol. Hasilnya, kau mulai melakukan penyelidikan sendiri, tapi tidak pernah menemukan apa pun.』
Suara yang bergema di kedalaman pikirannya membuat Noelle merasa sedikit takut.
『Bagaimana kalau kukatakan, kau memiliki cara untuk menemukan semua kebenaran itu? 』
Jika memang begitu, maka Noelle mungkin akan mengambil pilihan itu apa pun caranya.
Satu alasan yang mencegahnya melakukan itu sejak dulu adalah karena ia takut. Saat dia memiliki tujuan itu, dia masih berada di sisi Olivia dan yang lain. Kenyataan itu tanpa sadar telah membuatnya segan untuk bertindak.
"Apa kau … Mengetahui sesuatu tentang garis waktu sebelumnya? "
Noelle sendiri sebenarnya masih belum yakin tentang 'waktu yang telah diulang' itu. Namun, konfirmasi dari Noir membuatnya semakin yakin kalau tebakannya itu benar.
『Hehe, jawabannya akan tergantung pada 'kepercayaanmu padaku'. Tentu saja, itu hal yang rumit karena kau pada dasarnya tidak akan pernah mempercayaiku.』
" ……… Tentu saja akan begitu, ya … "
Noelle tertawa miris seolah mengejek dirinya sendiri, kemudian turun dari ranjangnya.
Dengan deteksinya yang sudah diperluas, Noelle dapat merasakan pergerakan dari para anggota tim yang sedang mengejar Moldy.
Noelle masih belum akrab dengan struktur kota ini, tapi dia sudah memahaminya sampai tahap tertentu.
Melihat pada peta yang dibentangkan di atas meja, Noelle menandai satu titik dengan pena bulu.
Itu adalah suatu tempat di sekitar area konstruksi. Tempat yang sudah ditinggalkan, dan entah kapan akan mendapat pengembangan. Noelle berfirasat kalau itu adalah titik tujuan Moldy.
Awalnya Noelle berniat melaporkan ini pada Dolf, tapi dia sendiri ragu sehingga pada akhirnya dia tidak memberitahukan Dolf tentang ini.
Selain itu, Dolf mungkin juga sudah menemukan titik tujuan Moldy tanpa informasi darinya.
"Sekarang … "
Noelle melakukan peregangan singkat, dan langsung mengganti semua pakaiannya.
Penampilan Noah Ashrai, dengan sebuah mantel hitam yang tebal. Di dalamnya, sebuah rompi berwarna kelabu melapisi kemeja hitam dengan dasi merah miliknya.
Keluar dari apartemennya, Noelle segera melompat ke atap gedung terdekat sambil melilitkan syal merah di lehernya.
...****************...
Di tengah perjalanan, Noelle tiba-tiba merasakan kehadiran beberapa orang yang cukup akrab.
Sekarang dia sedang berada di udara, jadi dia harus menoleh ke bawah untuk melihat kehadiran yang ia rasakan itu.
Di sana, ada Louen, Rita dan Felice yang juga sedang berlari.
Masing-masing dari mereka memakai jubah dengan lambang gereja di punggungnya.
Noelle ingin mendekati mereka, tapi kemudian dia merasakan kehadiran lain. Dia segera berhenti di salah satu atap, dan memantau tiga rekannya yang masih berlari tanpa rasa curiga.
Di sisi lain, Louen dan Rita yang juga membawa Felice bersama mereka tiba-tiba berhenti.
Itu karena ada dua sosok asing yang berdiri tepat di hadapan mereka.
Salah satu sosok itu mengangkat lengannya, dan sebuah bilah tajam yang mungkin terbuat dari cairan melesat menargetkan leher Louen.
Louen entah bagaimana menghindari tebasan pertama, tapi rupanya bilah itu tidak berhenti. Bilah yang dihindarinya itu justru kembali menargetkan lehernya. Di saat yang sama, sebuah bilah lagi muncul dan menargetkan Felice.
Tentu saja, Rita langsung menarik Felice dan membuatnya terhindar dari serangan mematikan itu.
Bahkan meski Felice bisa menghindari bahaya dengan kemampuan berkahnya, kecepatan respon tubuhnya masih terlalu lambat untuk menanggapi serangan itu.
Rita membawa Felice ke dalam pelukannya, dan sekali lagi menghindar dari bilah cair yang muncul.
Semua serangan bisa dihindari dengan lancar. Namun, mereka benar-benar lupa kalau sosok yang menghalangi mereka itu ada dua orang.
Sosok lain yang sejak tadi diam menundukkan sedikit kepalanya, lalu sosoknya menghilang, sebelum akhirnya muncul lagi tepat di hadapan Rita.
Sebuah pedang pendek diarahkan tepat pada dada Rita, namun pedang itu tidak pernah menjangkau tubuhnya tak peduli seberapa kuat sosok itu mendorong pedangnya.
Kemudian, penyebabnya terlihat.
Ada Noah yang sedang menahan tangan sosok itu, sehingga serangannya gagal mengenai Rita.
Noah menggenggam erat pergelangan tangan sosok itu, lalu beberapa jarum darah yang berukuran besar tiba-tiba mencuat keluar dari seluruh lengan sosok itu.
"Noah! "
Panggilan Rita membuat Noah segera menoleh. Dia kemudian melihat beberapa bilah cair yang melesat ke arahnya.
Tak hanya diam, Noah kemudian mengangkat dan mengarahkan telapak tangan kirinya ke depan. Seketika, sebuah penghalang muncul dan meleburkan bilah cair itu menjadi gumpalan asap hitam.
Noelle memang baru pertama kali mencobanya, tapi dia melakukannya sesuai dengan yang pernah Noir perlihatkan. Dengan memanfaatkan otoritas dari《Dominasi》, Noelle dapat mengubah sihir seseorang menjadi sesuatu yang lain.
Tentu saja, masih ada batasan untuk itu mengingat kemampuannya masih belum berkembang.
Setelah menghapuskan serangan itu, Noelle langsung membentuk darahnya sendiri menjadi sebuah bilah tajam yang melesat langsung ke leher sosok itu. Namun, sebelum bilahnya mengenai target, sosok itu telah lebih dulu berubah menjadi gumpalan cairan aneh yang menjijikkan.
Begitu juga dengan orang yang ditahan oleh Noelle sampai sekarang. Dia sudah berubah menjadi cairan hitam yang kental, lalu kembali muncul tak jauh dari Noelle dan yang lain.
"Ya ampun, kita kedatangan tamu yang merepotkan. Bagaimana menurutmu, Heinz? "
Browdy, yang seluruh lengannya sudah kembali pulih tertawa kecil sambil melirik Heinz di sampingnya.
Karena perubahan mereka menjadi cairan sebelumnya, jubah yang menutup tubuh mereka tadi sudah menghilang, dan kini wujud mereka sepenuhnya terekspos.
Noelle dengan tenang menatap mereka satu per satu, lalu mulai membuat kesimpulan berdasarkan pandangannya sendiri.
(Apa mereka rekan Feran Cerces yang pernah disebutkan Kino dalam laporannya? Tidak, masih ada kemungkinan lain, tapi … )
Tanpa sadar, Noelle mengeluarkan seringai tajam yang tidak pernah dilihat siapa pun yang ada di belakangnya.
Dia maju selangkah, namun segera berhenti saat sebuah suara memanggilnya dari belakang.
"Noah."
Itu berasal dari Louen.
Noelle menoleh dan menatap Louen dalam diam, menunggunya melanjutkan kata-katanya.
"Bisa kau serahkan mereka padaku dan Rita? Kami memiliki urusan dengan mereka. Sebagai gantinya, kau bebas melakukan apa pun yang kau mau pada semua yang ada di depan."
Untuk sejenak, Noelle tidak mengatakan apa pun, tapi kemudian sebuah seringai terbentuk. Noelle kembali menatap ke arah Browdy dan Heinz yang ada di depan sambil menyipitkan matanya.
"Kalau begitu, aku tetima tawaranmu," ucap Noelle sambil tersenyum pada Louen.
Setelah mengucapkan itu, sosoknya menghilang, dan dapat dilihat sedang melompat dari satu gedung ke gedung lainnya.
"Felis."
Felice yang masih tertinggal di sana hanya bisa diam sambil menatap sosok Noah yang perlahan menghilang dari pandangan. Namun, panggilan dari Rita segera menyadarkannya.
Felice melihat ke arah Rita, dan menemukan Rita sedang tersenyum padanya.
"Ikutilah dia," ucap Rita.
"Tapi … " Felice berniat menolak, tapi ekspresi yang diberikan Rita membuatnya tidak dapat membantah.
Pada akhirnya, Felice hanya bisa menurut dan pergi mengejar Noah dengan berlari di tanah.
"Hei, hei … Apa kalian berniat mengorbankan diri? "
Browdy tidak bisa menahan tawanya, dan dia mulai mencemooh baik itu Louen maupun Rita.
Meskipun begitu, Louen dan Rita menanggapinya dengan senyuman tenang. Ekspresi wajah mereka perlahan berubah.
"Tidak … Aku hanya tidak ingin mereka mengganggu kami," ucap Rita sambil mengeluarkan sebilah pisau dari balik mantelnya.
...****************...