![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
"Ini akan menjadi perjalanan yang panjang, ya? "
...****************...
Setelah membantu Felice membereskan kamar barunya, Noelle pergi beristirahat di kamarnya sendiri.
Dia tertidur dan sepertinya mengalami mimpi untuk beberapa saat, tapi segera terbangun saat perangkat komunikasi miliknya mengeluarkan bunyi yang sangat keras.
Hanya ada satu makna untuk alarm ini; pertemuan darurat.
Noelle bangun dari tempat tidur, dengan cepat mencuci mukanya dan memakai semua seragamnya.
Mantel parit berwarna hitam ia kenakan di atas kemeja hitam yang kancing bagian atasnya dibiarksn terbuka.
Noelle dengan terburu-buru keluar dari pintu apartemennya, dan sambil memakai syal, dia juga memgetuk pintu apartemen Felice.
Hanya berselang beberapa detik kemudian, Felice keluar. Dia juga sudah bersiap.
"Apa yang terjadi? "
Felice dengan cemas bertanya, tapi Noelle hanya menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu. Mungkin, ada sesuatu yang terjadi pada tim penyelidik kita."
Wajahnya menjadi semakin terlihat cemas. Menanggapi itu, Noelle menatap Felice dengan wajah serius. "Cepat kunci pintumu."
Felice terlihat bingung, tapi dia tetap melakukan apa yang Noelle katakan. Setelah mengunci pintu apartemennya, Felice berbalik dan menatap Noelle.
"Sekarang apa? "
"Tutup mulutmu dan jangan bicara. Aku tidak mau kamu secara tidak sengaja menggigit dan memotong lidahmu sendiri."
Tepat setelah Noelle mengatakan itu, dia menunggu sampai Felice melakukan semua yang dia katakan. Setelah yakin bahwa Felice sudah menutup mulutnya, Noelle tanpa ragu mengangkat tubuh Felice, dan menggendongnya dengan kedua tangan.
Tindakan yang tiba-tiba itu membuat Felice terkejut. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Namun, sebelum dia bisa berpikir untuk hal itu, dia merasa seperti darah telah dikuras dari kepalanya.
Perbedaan tekanan yang tiba-tiba terjadi membuatnya pusing, tapi entah bagaimana dia berhasil bertahan.
Saat dia melihat ke sekeliling, dia sadar kalau Noelle telah membawanya melompat dari satu atap ke atap lain.
"Ini akan menjadi perjalanan kilat, jadi siapkan dirimu."
Tanpa ada sedikit pun kesalahan, Noelle menginjak semua yang bisa dia jadikan pijakan. Dengan melakukan ini, dia bisa sampai di tempat tujuan dengan lebih cepat.
Setelah beberapa lompatan besar, Noelle akhirnya sampai di bar tempat semua orang akan berkumpul.
Noelle mendarat dengan aman di tanah, dan dengan hati-hati membantu Felice turun dari gendongannya.
" … Kalian benar-benar melompat langsung dari atap bangunan itu? "
Nyaris tanpa Noelle sadari, Louen dan Rita yang sampai di bar pada waktu yang sama berkomentar sambil melihat bolak-balik antara Noelle dengan bangunan besar di seberang.
"Ahh … Louen, Rita … Senang melihat kalian. Rasanya sudah sangat lama … "
"Baru sekitar dua hari kita tidak bertemu, tapi itu memang terasa sangat lama. Terlebih … Dengan semua masalah ini … "
Louen menghela napas dan melihat ke belakang.
Dari sana, sosok Dolf perlahan terlihat.
Dia berjalan dengan tenang dan menyapa semua orang satu per satu. Akhirnya, pintu bar terbuka, dan Tian menyambut mereka semua.
"Masuklah. Aku memiliki pembahasan yang sangat penting." Usai mengatakan itu, Tian langsung berbalik dan masuk ke dalam bar.
Untuk sejenak, Noelle tidak merespon. Dia hanya menatap tempat Tian berdiri sebelumnya. Namun, kemudian dia menoleh dan melihat pada Louen dan Rita.
Bahkan tanpa perlu diucapkan secara langsung, kelihatannya mereka berdua sudah paham dengan apa yang ingin Noelle tanyakan.
Atas pertanyaan itu, mereka menggelengkan kepala.
(Bahkan Louen dan Rita yang berada di tim yang sama dengan Tian tidak tahu. Apa yang terjadi? )
Noelle melihat ke sekelilingnya, dan sadar kalau ada kekurangan orang.
"Di mana Dexter dan Mona? "
Bukan Noelle, melainkan Felice yang menanyakan itu.
...****************...
Tidak seperti sebelumnya, rapat kali ini dilakukan secara sederhana di tempat para pelanggan biasa berkumpul.
Sebuah lentera minyak dinyalakan di tengah meja konter, dan Tian yang berdiri di balik meja itu menatap semua orang satu per satu.
Dia kemudian beralih menatap Dolf.
Mengangguk sejenak, Dolf akhirnya berdiri.
"Mungkin kalian bingung kenapa kami mengadakan pertemuan mendadak ini. Tapi, ada informasi penting yang bagaimanapun harus disampaikan pada kalian."
Kalimat itu membuat orang-orang seperti Felice, Louen, dan Rita memiliki firasat buruk. Noelle masih bisa menjaga ketenangannya, dan dia juga sudah membuat beberapa tebakan.
Tebakan terbaiknya ia buat karena ketidakhadiran satu anggota, yaitu Mona. Hanya ada Dexter, dan dia duduk di sudut dengan wajah frustasi.
Dolf menyadari isi pikiran Noelle, dan dia hanya mengangguk setelah menatapnya sekilas.
"Kalian mungkin sudah menebaknya, tapi aku akan tetap mengatakannya secara langsung."
Menarik napas sejenak, Dolf dengan serius berbicara pada semua orang.
"Sore ini, di saat penyelidikan sedang dilakukan, salah satu anggota kita, yaitu Mona, telah diserang."
Felice dan Rita melebarkan matanya, sedangkan Noelle dan Louen entah bagaimana masih bisa menunjukkan ekspresi datar.
"Berikut kronologinya berdasarkan apa yang Dexter jelaskan."
"Tim Dexter dan Mona melakukan penyelidikan di sekitar universitas, dan menemukan ruang bawah tanah yang berisi banyak jasad manusia. Jasad mereka semua dalam keadaan yang sudah sangat membusuk meskipun mereka mungkin baru mati selama dua atau tiga hari."
"Hal ini bisa terjadi karena musuh telah memanfaatkan kekuatan dari salah satu pengguna kontrak. Aku tidak akan menjelaskan ini secara detail, karena kalian bisa membacanya di laporan yang Dexter berikan."
Selembar kertas masing-masing diserahkan pada Noelle, Felice, Louen, dan Rita.
Mereka dengan serius membaca laporan itu, dan terkejut setelah melihat penjelasannya.
"Di saat Dexter keluar untuk membuat laporan, Mona telah diserang oleh musuh yang tidak kita ketahui. Saat ditemukan, Mona sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri."
"L-lalu–! "
Felice dengan panik menyela, tapi Noelle mengangkat tangannya, yang seketika membuat Felice terdiam.
"Bagaimana keadaannya sekarang? "
Keadaan Mona setelah penyerangan tidak dijelaskan lebih lanjut di laporan.
Dolf mengangguk. "Pertanyaan yang bagus. Setelah Dexter dan tim membawa Mona padaku, kami segera memberinya perawatan yang serius. Tapi, dia tetap tidak sadar. Dia mengalami pendarahan yang sangat parah di bagian kepala."
(Koma, ya … )
Noelle mengerti dengan betapa seriusnya masalah ini.
Terlambat sedikit saja, maka Mona pasti sudah masuk ke lingkaran reinkarnasi sekarang.
Mendengar kondisi Mona membuat Felice menjadi semakin lemas. Dia tidak dapat menahan gemetar pada kakinya, sehingga dia akhirnya terjatuh ke lantai.
Noelle berada di sampingnya, tapi dia tidak berusaha menolong gadis itu. Bagaimanapun, kenyataan ini juga membuatnya agak terkejut.
Sampai tahap tertentu, Noelle sudah memprediksi beberapa kejadian, dan ini juga masuk ke dalam salah satu kejadian yang telah ia perkirakan sebelumnya.
Tidak akan mengherankan jika salah satu anggota tim penyelidikan mengalami penyerangan hingga terluka atau tewas, tapi waktu tindakan dari musuh membuat Noelle merasa tidak nyaman.
Mona tidak mungkin akan langsung disingkirkan hanya setelah menemukan satu petunjuk kecil. Yang artinya, dia telah menemukan sesuatu yang lebih besar lagi.
Yang mereka temukan di bawah tanah adalah tumpukan mayat yang sudah dalam keadaan mengenaskan, bersama dengan anggota penyelidikan yang merupakan seorang engguna kontrak.
Pelaku yang sebenarnya memanfaatkan kekuatan dari kontrak orang itu, dan mempercepat pembusukan semua mayat. Setidaknya, ini adalah fakta yang diketahui semua orang.
Tapi, apa yang Mona temukan, sehingga dia diserang?
(Tidak, kurasa aku harus mulai dari asumsi 'Mona diserang karena mengacau'.)
Berasumsi kalau Mona telah menemukan sesuatu akan menjadi kesimpulan yang sedikit terburu-buru. Karena itulah, Noelle memulai dari dasar.
Bisa jadi, pelakunya menyerang Mona karena hanya Mona yang pertahanannya paling lengah saat itu.
Jika Noelle memposisikan dirinya sebagai pelaku, maka dia akan melakukan hal yang sama, sebelum akhirnya mulai menghabisi semua saksi lain.
(Ada kemungkinan pelaku akan mengincar Dexter dan semua anggota timnya, tapi kenapa dia tidak mulai menyerang saat Dexter berada di luar? )
Berdasarkan laporan Dexter, sangat jelas kalau Dexter pergi keluar untuk membuat laporan. Ini membuat Mona ditinggalkan sendiri, dan berakhir dengan diserang.
Dari sudut pandang Noelle, pelaku seharusnya memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang Dexter juga.
Ada pun tentang anggota tim yang ada di bawah tanah, mereka tidak diserang karena jumlah mereka yang terlalu banyak. Noelle menganggap itu sebagai pemikiran yang cukup bagus.
Di saat Noelle sedang sibuk berpikir, Dolf kembali melanjutkan, "Dari yang sudah kami selidiki, korban dari pihak kita, bernama Liu tewas karena menggunakan jiwanya sendiri sebagai bahan bakar untuk mengaktifkan penghalang."
Penghalang yang diciptakan dari kemampuan kontrak 'Penguasa Sastra' memiliki ikatan yang tipis dengan waktu.
Penghalang itu membuat seseorang tidak bisa masuk dari luar, dan memperlambat aliran waktu secara pasif di dalam.
('Penguasa Sastra' … Hei, apa kau punya penjelasan yang lebih lengkap tentang itu? )
Noelle mencoba bertanya pada Noir, tapi dia sama sekali tidak berharap Noir akan menjawabnya.
Meskipun begitu, berlawanan dengan yang ia tebak, Noir justru menjawab.
『Kemampuan penghalang yang baru saja kau dengar itu berasal dari nama kehormatannya, 'Raja yang Suka Membaca'. Kalau kau belum menemukan kaitan antara nama itu dengan kekuatan waktunya, maka akan kujelaskan.』
( … Tidak. Itu sudah cukup.)
Sangat tidak biasa bagi Noir untuk menjelaskan secara panjang lebar seperti ini. Sejujurnya, itu cukup membantu.
Noelle sudah memahami kaitan antara nama kehormatan itu dengan kekuatan waktu yang baru saja dia dengar.
'Raja yang Suka Membaca', berarti bahwa 'Dia' sangat senang meluangkan waktunya untuk membaca. Saat sedang melakukan sesuatu yang disukai, seseorang cenderung berharap bahwa waktu akan berjalan lebih lambat. Ini agar seseorang bisa sepenuhnya menikmati apa yang sedang mereka lakukan tanpa terganggu akan waktu yang terus berjalan.
"Menggunakan jiwa sendiri sebagai bahan bakar … Dia seharusnya tidak memiliki keinginan untuk melakukan itu. Apa itu artinya dia dipaksa? "
Noelle mencoba mengemukakan pendapatnya, yang direspon oleh Dolf dengan anggukan singkat.
"Itu benar. Kemungkinan besar orang bernama Liu ini dipaksa untuk mengaktifkan kemampuannya menggunakan jiwanya sendiri. Yang menjadi masalahnya, kita masih belum tahu motif pelaku mempercepat pembusukan mayat, dan kita juga belum tahu metode apa yang dia pakai untuk memaksa Liu menggunakan kekuatannya."
Noelle membawa tangannya ke dagu sejenak, tapi segera mengangkat kepalanya seolah baru menyadari sesuatu.
"Apa … Orang yang memaksa Liu dan menyerang Mona adalah orang yang sama? "
Bukan Dolf yang menjawab, melainkan Tian.
"Kita masih belum tahu itu. Terlalu sedikit bukti. Selain itu, pelaku penyerangan Mona juga sangat cepat dalam melancarkan aksinya. Sama sekali tidak ada jejak yang tertinggal."
(Tidak … Harusnya ada satu atau dua jejak yang ditinggalkan … )
Noelle seharusnya tidak terlalu peduli tentang ini. Namun, menghadapi kasus seperti ini membuatnya ingat dengan seseorang.
Ini mengingatkannya pada Hakui. Karena itulah, Noelle menjadi sedikit tidak senang, dan tanpa sadar membiarkan dirinya terlibat lebih jauh dalam kasus ini.
"Masih belum ada bukti? Haha … Seolah aku peduli dengan itu! Bajingan sialan itu sudah menghinaku! "
Dexter, yang sejak tadi diam tiba-tiba meninggikan suaranya. Semua orang secara alami melihat ke arahnya, dan yang terlihat adalah sosoknya yang berdiri dan menunjukkan wajah kesal yang disertai frustasi.
"Mona terluka karena bajingan itu mengambil kesempatan saat aku tidak ada! Bajingan itu, aku akan pergi menghabisinya sendiri! "
Setelah mengatakan itu, Dexter berjalan meninggalkan kursinya, tampak jelas mengarsh ke pintu keluar.
Namun, sebelum dia mencapai pintu keluar, sebuah rantai berwarna merah darah tiba-tiba muncul dan melilit seluruh tubuhnya. Dexter diikat dengan rantai, dan dibiarkan menggantung di langit-langit.
"Brengsek! Apa-apaan ini! "
Tidak hanya Dexter, tapi semua orang di sana juga dikejutkan dengan hal itu.
Kemudian, satu per satu dari mereka sadar. Ada satu rantai yang terlihat menjuntai, dan terhubung langsung dengan seseorang.
Itu adalah Noelle.
Rantai darah itu keluar dari telapak tangannya yang memiliki luka goresan yang sudah terbuka lebar.
" … Aku tidak tahu kau punya kemampuan seperti itu."
Yang pertama berhasil berkomentar adalah Dolf. Dia menelan ludahnya sejenak, dan dengan tenang menghadapi situasinya.
"Aku berterima kasih padamu. Dexter tidak akan bisa tenang untuk sementara waktu, jadi bisakah kau tetap menahannya di sana sampai rapat selesai? "
Noelle mengangguk dengan wajahnya yang tidak berekspresi. "Baiklah."
Sambil menggantung di langit-langit, Dexter terus menggeliat. Namun, tidak peduli apa yang dia lakukan, rantai darah itu tetap menahannya dengan kuat, dan justru menjadi semakin kuat seiring dengan perlawanannya.
Bagian rantai yang lebih lunak juga menutupi mulutnya, jadi dia tidak bisa berbicara, atau bahkan berteriak.
"Bisakah aku bertanya satu hal? "
Noelle mengabaikan reaksi semua orang, dan bertanya dengan serius.
Ini benar-benar berbeda dari Noah Ashrain yang senya orang ingat. Dibandingkan Noah yang mereka kenal sebagai orang yang ramah, yang berbicara di sini terasa seperti sosok lain yang benar-benar berbeda.
"Di mana lokasi penyerangan Mona? Apa TKP sudah dibersihkan? "
Dolf melirik pada Tian, yang kemudian dibalas oleh Tian dengan gelengan kepala singkat.
"Belum. Untuk berjaga-jaga, kami belum membereskan tempat kejadian, dan hanya memasang garis polisi agar tidak ada orang yang datang. Rencananya, kami baru akan menyingkirkan itu pagi nanti. Untuk tempatnya, itu ada di bagian pusat gedung utama universitas."
"Baiklah," ucap Noelle sambil perlahan berdiri dari tempat duduknya. Kemudian, dia melanjutkan, "Izinkan aku melakukan penyelidikan sendiri. Aku akan membawa pulang beberapa informasi. Untuk memastikan sesuatu, aku juga akan mengunjungi Mona nanti."
Tepat setelah dia mengatakan semua itu, Noelle telah berada di depan pintu keluar yang entah sejak kapan itu dibuka.
Tanpa menunggu siapa pun menegurnya, Noelle langsung keluar dari pintu. Rantai yang sebelumnya mengikat Dexter di langit-langit juga dengan cepat melebur menjadi darah, dan bergerak mengalir mengikutinya.
"Apa aku … Ditinggalkan? "
Hanya itu kalimat yang berhasil Felice ucapkan.
...****************...
"Ughh … Kau mengizinkannya keluar, sedangkan aku tidak? "
Setelah memulihkan diri dari rasa sakit diikat dengan rantai, Dexter mulai mengeluh pada Dolf.
Tentu saja, keluhannya itu ditanggapi dengan dingin.
"Kau hanya akan bertindak gegabah jika aku melepaskanmu. Setidaknya Noah jauh lebih berkepala dingin."
Itu adalah fakta yang sulit dibantah bahkan oleh Dexter sendiri. Sekarang Dexter memikirkannya, apa yang akan ia lakukan setelah ia pergi keluar? Dia sendiri tidak tahu itu.
Setidaknya, Noah sudah memiliki tujuannya sendiri, yaitu menyelidiki tempat kejadian untuk menemukan setidaknya satu informasi berharga.
"Tapi … Bukankah dia terlihat berbeda? "
Rita bukanlah orang yang suka mengomentari orang lain, tapi dia benar-benar tidak bisa menahan diri sekarang.
"Noah terlihat kesal. Hanya itu yang kulihat." Louen tampaknya memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap Noah, dan itu membuat Rita sedikit kesal.
Namun, yang paling dibuat bingung oleh semua itu adalah Felice.
Gadis itu tetap diam sambil menatap pintu yang dilewati Noah sebelumnya.
"Yahh, kurasa dia punya pikirannya sendiri. Kau tidak bisa tahu pemikiran seperti apa yang dia miliki di balik wajah batunya."
'Wajah batu' bukanlah kata yang tepat untuk menggambarkannya, Rita tahu itu. Noah selalu memajang senyum di wajahnya, jadi dia tidak bisa dibilang tidak berekspresi.
Mungkin, akan lebih tepat untuk menyebutnya sebagai 'topeng'. Tapi tentu saja, Rita tidak begitu kasar sehingga dia bisa menyebutkan kata itu dengan santai.
"Baiklah, biarkan Noah pergi menyelidikinya sendiri. Berharaplah dia akan kembali dengan informasi yang bagus. Dia sudah banyak berkontribusi terhadap penyelidikan ini."
Dolf menepuk tangannya sekali dan mengalihkan perhatian semua orang. Setelah itu, dia menempelkan telapak tangannya di meja, dan menatap semua orang satu per satu.
"Jangan biarkan kecelakaan Mona mengacaukan penyelidikan ini. Kita harus tetap fokus untuk menemukan pelakunya. Aku akan meminta bala bantuan dari gereja, jadi bersabarlah sampai semua bala bantuan itu tiba."
Semua pembahasan seharusnya sudah selesai setelah Dolf mengatakan itu. Namun, tidak ada yang mau beranjak pergi dari tempat mereka. Terutama Dexter.
"Hei, Kapten."
Suara Dexter yang serak dan terdengar kasar itu bergema di ruang utama bar yang remang-remang.
Tanpa menunggu tanggapan dari Dolf, Dexter melanjutkan kalimatnya.
"Menurutmu, apa pelaku yang menyerang Mona memiliki hubungan dengan orang yang kita incar? "
Kalimat penanda subjek terakhir itu merujuk pada Feran Cerces. Sebenarnya, tidak hanya Dexter, tapi Louen, Rita, dan bahkan Felice juga memiliki pertanyaan serupa.
"Kemungkinan itu cukup tinggi. Kalian sudah membaca laporan dari Noah? Feran Cerces setidaknya memiliki dua atau tiga orang pria sebagai 'rekannya'. Ini juga bisa dibuktikan dari kejadian saat wanita itu masih di kereta."
Insiden yang terjadi di kereta. Semua orang di bar Nautica sudah tahu tentang itu.
Noah ada di lokasi kejadian sebagai seorang saksi, jadi mereka memiliki pengetahuan yang cukup banyak tentang kejadian itu.
"Semua itu tidak mungkin dilakukan oleh Feran Cerces sendirian. Dia jelas bersama dengan dua rekan yang dikatakan menaiki kereta bersamanya. Itu artinya, selain Feran Cerces, ada satu atau dua rekannya yang bersembunyi di kota ini."
Informasi yang Noah berikan pada mereka benar-benar membantu. Ini praktis membuat penyelidikan menjadi lebih cepat, dan masing-masing dari mereka juga dapat mengemukakan kesimpulan sendiri.
Dolf dan Tian sudah memutuskan untuk menjadikan informasi itu sebagai dasar penyelidikan mereka selanjutnya. Jika hasil penyelidikan mereka tidak sesuai, atau tidak bisa disambungkan dengan laporan Noah, maka akan ada beberapa revisi dari kedua belah pihak.
Melihat tidak ada lagi yang berbicara, Dolf akhirnya menutup matanya dan mengambil langkah kecil menuju pintu.
"Pertemuan sudah selesai. Untuk sepanjang malam ini, sebaiknya kalian beristirahat karena kita semua akan sangat sibuk keesokan harinya. Jangan khawatir tentang Mona karena dia sekarang berada di bawah pengawasan langsung gereja, dan aku juga akan memantau keadaannya."
Dolf membuka pintu, lalu kembali berbalik seolah dia melupakan sesuatu.
"Felice, bar tidak perlu dibuka besok. Pergilah bersama Noah untuk melakukan penyelidikan mandiri. Jangan ragu untuk meminta bantuan dari organisasi lain kalau kalian membutuhkannya."
"Ahh … Baiklah … "
Jawaban yang keluar terdengar agak meragukan, tapi Dolf menganggap itu sebagai konfirmasi, dan akhirnya benar-benar pergi dari bar.
Semua orang yang tersisa di bar, sekarang disibukkan dengan pikiran mereka masing-masing.
" … Aku akan pergi." Dexter akhirnya berdiri dari tempatnya, dan ikut pergi dari bar. Kali ini, tidak ada yang menghentikannya.
Setidaknya, pikirannya jauh lebih jernih sekarang. Dia tidak akan bertindak sembarangan.
Tian, sebagai satu-satunya perwakilan yang tersisa di sana hanya bisa menghela napas pasrah.
"Louen, Rita, beristirahatlah untuk malam ini. Aku akan sangat membutuhkan kalian besok. Juga, Felice, jangan terlalu memikirkannya. Noah pastinya memiliki sesuatu yang harus dia pikirkan dan lakukan. Bersikaplah normal."
" … Ya."
Setelah menerima jawaban dari semua orang, Tian mengajak mereka semua untuk meninggalkan bar.
Lentera minyak sudah dimatikan, dan kunci pintu bar juga sudah diserahkan pada pengurusnya, yaitu Felice.
...****************...