[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 209: Keputusan yang Pahit



...****************...


Noelle masuk ke kabin dan mencari ruangan untuk dirinya sendiri. Kemudian, di ruangan sempit itu, dia duduk sambil menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi.


Semua prediksinya telah dipatahkan, dan tidak ada lagi rencana yang bisa dia gunakan.


Noir sudah menemukannya, dan itu hanya berarti satu hal; dia sudah tidak bisa lari dari bahaya.


Mungkin, jika dia kembali ke taman kabut itu lebih cepat, dan langsung mengucapkan nama kehormatan Dewa Luar itu, dia akan dibawa ke tempat semula. Tapi, itu justru memungkinkan Noir untuk ikut bersamanya. Artinya, itu percuma.


Dari semua pemikirannya sebelumnya, beradu kekuatan dengan Noir adalah hal yang mustahil. Tidak diketahui seberapa besar kerusakan yang akan dihasilkan, dan hasil akhirnya juga belum jelas.


Namun, Noelle sudah bisa memprediksi akhirnya; dia akan kalah telak dalam hal kekuatan jika dia beradu langsung dengan Noir.


(Masih ada sekitar dua jam sebelum kita sampai di taman kabut … Selama itu, aku tidak tahu berapa kali kabut penarik mimpi itu akan muncul.)


Bagi Noelle, masalah paling mendesak sekarang adalah keberadaan Noir. Tidak diragukan lagi, Noir sudah menemukan lokasinya di dunia nyata, dan jika mereka bertemu lagi alam mimpi kolektif, entah apa yang akan terjadi.


(Apa yang harus kulakukan … )


Mata Noelle kehilangan fokusnya, dan dia dalam diam memperhatikan buku catatan yang kini sudah dipenuhi dengan berbagai macam coretan.


Sampai sejauh ini, dia sudah membuat puluhan rancangan dasar untuk rencananya, tapi semua itu hanya akan membawanya ke akhir yang mengerikan.


Tanpa dia sadari, senyum mengejek telah terbentuk di wajahnya. Dia tertawa dengan nada yang seolah menghina dirinya sendiri.


Baru beberapa saat yang lalu dia merasa percaya diri dengan kemampuannya untuk mengatasi masalah ini, tapi semua kepercayaan diri itu langsung runtuh ketika teror yang tersembunyi sedang memperhatikannya melalui seekor burung gagak.


Efek penenang mental yang Olivia tanamkan padanya telah terlepas, dan sekarang Noelle mulai mendapatkan kembali semua kewarasannya.


Meskipun Olivia hanya memberikan efek yang seharusnya menenangkan mentalnya, itu justru menjadi pedang bermata dua yang menumpulkan rasa kewaspadaannya, membuatnya tidak dapat secara akurat memprediksi bahaya yang akan datang.


Setelah beberapa waktu menyiksa dirinya dengan pertempuran batin, Noelle akhirnya mengangkat kepalanya, menunjukkan wajah suram yang terlihat sudah pasrah.


Pada akhirnya, dia hanya menemukan satu solusi, dan solusi ini mengharuskannya membuat pengorbanan yang besar.


Awalnya Noelle berniat meminta bantuan Anastasia yang mungkin sudah menemukan keanehannya, tapi dia segera menghapus pikiran itu ketika sadar kalau Anastasia mungkin tidak bisa memberikan pengaruhnya di sini.


Jika Anastasia bisa memberikan pengaruhnya di tempat ini, maka dia pasti sudah memberikan dukungan saat Noelle sedang berhadapan dengan Noir sebelumnya.


Tempat ini dipenuhi dengan sisa kekuatan Dewi Malam Zelica dan Dewa Badai Dargon, mungkin karena itulah Anastasia tidak bisa memberikan pengaruhnya di sini.


Anastasia, Zelica, dan Dargon adalah nama-nama Dewa Ortodoks yang kekuatan dan otoritasnya dapat dikatakan 'setara'. Ketika dihadapkan pada sisa kekuatan dua dewa, maka Anastasia akan kehilangan pengaruhnya.


Tentu saja, itu semua hanyalah kesimpulan Noelle sendiri, dan dia tidak tahu apakah itu benar atau tidak.


Tentunya ada kemungkinan kalau Anastasia sama sekali tidak peduli dengannya. Hal itu dibuktikan dengan bagaimana Anastasia membiarkan reinkarnator lainnya mati begitu saja.


Dengan senyum dan mata kosong di wajahnya, Noelle bangkit dan keluar dari luar ruangan. Dia memasuki kamarnya sendiri, dan menemukan Olivia yang sedang tertidur lelap.


Sebelumnya, Olivia dalam keadaan lelah sehingga harus mengambil lebih banyak istirahat. Dia sekarang sedang tidur untuk memulihkan semua tenaga dan kewarasannya.


Untuk beberapa saat, Noelle terus diam sambil memandangi wajahnya. Dia tertidur dengan tenang, ekspresinya hanya menampilkan kenyamanan seolah sedang melupakan semua rasa lelahnya.


Dia terbaring di kasur, dengan mata yang tertutup dan napas yang lembut. Bibirnya sedikit tersenyum, dan itu melebar ketika Noelle memasuki ruangan.


Di masih belum bangun, Noelle yakin itu.


Noelle mendekati Olivia, duduk di lantai dan meraih satu tangannya yang terkulai.


Dalam keheningan yang panjang, Noelle hanya terus diam sambil menatap Olivia, sementara tangannya meremas tangan Olivia dengan lembut dan hati-hati agar tidak membangunkannya.


Kemudian, dia mengangkat tangan Olivia, menempelkannya di dahinya sendiri.


Matanya sedikit membengkak, dan tanda-tanda akan menangis mulai muncul di sana. Dia memejamkan matanya dengan penuh emosional dan tanpa sadar mulai mengencangkan remasan tangannya.


" … Maaf ……… "


Suara yang keluar sangatlah lemah, dan terdengar serak. Noelle benar-benar tidak ingin ada orang yang melihatnya dalam keadaan itu.


Olivia masih tertidur, tapi itu berkat Noelle yang memaksanya untuk tidak bangun pada saat ini.


Kondisi ini berlangsung selama beberapa menit, hingga akhirnya Olivia perlahan membuka matanya. Efek pembiusan yang Noelle berikan telah berakhir, dan kini dia bisa bangun dengan sendirinya.


Olivia mengangkat tubuhnya dan menggosok matanya dengan bingung. Kemudian, dia melihat Noelle yang sudah duduk di sampingnya.


Noelle memiliki senyum yang lembut, tanpa ada tanda kalau dia pernah merasa khawatir akan sesuatu. Ekspresinya benar-benar cerah, dan itu sedikit sulit untuk dipercaya karena sebelumnya Olivia telah melihat Noelle yang dalam keadaan frustasi.


Untuk sejenak, Olivia berpikir kalau Noelle pasti menyembunyikan sesuatu lagi, tapi dia segera menghapus pikiran itu ketika dia melihat senyum tulus di wajah Noelle.


Olivia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, menganggap semua kekhawatirannya adalah hal yang bodoh. Setelah itu, dia kembali menatap Noelle dan tersenyum.


"Sudah berapa lama Noelle melihatku tidur? "


"Entahlah, aku kehilangan hitungan setelah beberapa detik," jawab Noelle sambil tertawa kecil.


Olivia mengedipkan matanya beberapa kali, lalu membalas senyum Noelle dengan sundulan kecil di bahunya.


"Apa Noelle suka dengan itu? "


"Nn, aku suka melihat wajah tidurmu."


" … Nn."


Olivia tidak mengatakan apa pun lagi saat otot wajahnya mulai kehilangan kendali. Dia terus tersenyum tanpa bisa menghapusnya, lalu memukul Noelle dengan ringan karena merasa malu.


"Hehe … "


Noelle lagi-lagi tertawa kecil, dan dia mulai mengacak-acak rambut Olivia, lalu melembutkan ekspresinya.


Dalam benaknya, ia mulai mempertimbangkan kembali keputusan akhir yang dia buat. Namun, pada akhirnya, dia tetap kukuh pada keputusan itu, dan memutuskan untuk tidak melibatkan Olivia ke dalamnya.


Noelle sangat berhati-hati dan sepenuhnya memanfaatkan kemampuannya dalam mengendalikan ekspresi. Dia mencoba untuk tidak menunjukkan semua emosi yang ia miliki, dan hanya menunjukkan Olivia senyum lembut yang sederhana.


Di hadapan Olivia, Noelle benar-benar harus meningkatkan kewaspadaannya. Itu karena Olivia tahu segala hal tentangnya, dan dia yakin kalau Olivia pasti akan dengan mudah menyadari hal-hal yang ia coba sembunyikan.


Setelah puas mengacak-acak rambut Olivia, Noelle langsung menghentikan tangannya, dan terus menatap Olivia selama beberapa detik, lalu mendekatkan wajahnya sendiri.


Dia menempelkan dahinya ke dahi Olivia, dan mulai memejamkan mata.


Ini adalah bagian dari persiapan mentalnya. Noelle melepaskan dahinya, dan mencium pipi Olivia sekali, lalu 'mencuri' bibirnya, memberinya ciuman kecil yang hangat.


Olivia sama sekali tidak menolak, dan justru membiarkan Noelle melakukan semua itu. Dia mulai menutup matanya, menikmati semua perlakuan yang Noelle arahkan padanya.


Senyum masih terpasang di wajahnya, tapi senyum itu terlihat seperti akan runtuh kapan saja. Bibirnya bergetar, dan matanya menjadi semakin lembab.


Tanpa membiarkan Noelle mengatakan apa pun, Olivia langsung menarik kepala Noelle, membawanya ke dalam pelukannya.


Sekali lagi, Olivia mencoba untuk menenangkan Noelle, tapi itu tidak memakan waktu seperti sebelumnya.


Hanya beberapa menit, Noelle langsung mengangkat wajahnya kembali. Dia menatap Olivia dengan senyum cerah sambil menutup matanya, lalu kembali menghapus jarak antara wajahnya dengan wajah Olivia.


Hanya ciuman hangat yang biasa, tapi waktu yang dihabiskannya terasa sangatlah lama.


Entah sudah berapa lama waktu yang mereka habiskan dalam keadaan itu. Tidak satu pun dari mereka yang mengetahuinya. Saat mereka sadar, mereka sudah menarik kembali wajah mereka, dan saling menatap satu sama lain, membiarkan 'jembatan perak' menggantung di antara bibir mereka.


Keduanya tersenyum dan tertawa kecil seolah tidak ada yang terjadi.


Semua itu hanyalah hal yang sederhana, namun ini semua telah menguatkan keyakinan dalam diri Noelle.


Sekarang Noelle semakin yakin dengan keputusannya. Dia tidak ragu lagi, dan tidak akan pernah ragu lagi.


Demi melindungi sosok di depannya, demi mempertahankan semua senyum dan keindahan yang mempesona itu, ia akan mengambil pilihan yang sangat beresiko.


Noelle meremas tangannya sendiri saat dia menguatkan dirinya. Dia menatap keluar jendela, dan melihat langsung pada bulan raksasa.


Setelah itu, Noelle kembali menoleh, dan memandangi sosok Olivia.


Olivia masih memakai gaun tidurnya, dan rambutnya yang dikuncir kuda sedikit berantakan. Kelopak matanya sesekali akan terkulai lemah ke bawah, tapi dia menahan diri agar tidak tertidur.


Senyum lembut di wajahnya, dan tatapan hangat yang ia arahkan pada Noelle membuat Noelle merasa sangat nyaman. Untuk sejenak dia mulai melupakan semua keresahannya, dan hanya ingin menikmati kecantikan itu untuk dirinya sendiri selama beberapa waktu.


Namun, keadaan sekali lagi menyadarkannya. Noelle menggigit bibirnya sendiri, dan kembali mencuri ciuman Olivia.


Mereka terus mengulangi proses itu sampai akhirnya, kapal yang mereka tumpangi tiba di taman kabut.


Noelle menarik kembali wajahnya, dan menatap Olivia yang wajahnya mulai memerah karena efek kesenangan dan ekstasi yang ia rasakan. "Haruskah aku menggantikan pakaianmu? " tanya Noelle.


Olivia diam sejenak, tidak tahu harus menjawab apa. Kemudian, dia memandangi penampilannya sendiri melalui cermin kecil yang ada di samping tempat tidur, lalu tersenyum. "Noelle mau melakukannya untukku? "


...****************...


Setelah tiba di taman kabut dengan aman dan tanpa masalah, semua orang dengan penuh semangat mulai keluar dari kapal.


Mereka sudah muak dengan kapal yang sempit dan memiliki banyak guncangan memabukkan itu.


Beberapa di antara mereka sudah dengan pasrah mengeluarkan semua isi perut mereka saat kapal masih terombang-ambing di perairan, sedangkan yang lainnya berusaha menahan diri dan memilih untuk tidur pada beberapa kesempatan.


Untungnya, sama sekali tidak ada insiden. Kabut yang mampu menarik mereka ke alam mimpi kolektif itu juga tidak muncul lagi.


Satu-satunya masalah yang mereka miliki adalah mabuk laut dan angin yang mengandung kekuatan korupsi dan mampu membuat seseorang menggila secara bertahap.


Stella yang merupakan seseorang dengan tingkat kekuatan mental yang lebih rendah mulai menunjukkan gejala kegilaan, tapi dia segera kembali normal ketika Cryll menenangkannya.


Untungnya Rias memiliki berkah dari Anastasia, jika tidak, dia pasti akan menjadi korban pertama di kapal ini.


Noelle keluar dari kapal dengan membawa Olivia di sisinya. Tangannya dengan lembut menggiring gadis itu, berjalan dengan hati-hati dan memperhatikan semua langkahnya.


Olivia sendiri tidak melakukan perlawanan, dan dengan mudah membiarkan Noelle mengatur semuanya.


Pada saat itu, Erwin akhirnya keluar.


"Jadi ini taman yang kalian maksud … Memang benar, aku tidak pernah mengunjungi tempat ini, dan tempat ini memang terlihat aneh. Ayo kita coba ritual itu di sini."


Dia dengan cepat memberikan usulan, sementara beberapa orang membantahnya, mengatakan kalau mereka ingin beristirahat untuk beberapa waktu.


Namun, tanpa diduga, Noelle segera menyela mereka, "Lebih baik kita cepat. Tidak ada yang tahu bahaya apa yang akan kita hadapi jika kita mengulur waktu lebih lama."


"Kau benar."


Kaira mengangguk tanpa memberikan bantahan apa pun. Meskipun dia tidak mengetahui detailnya, dia bisa merasakan kegelisahan Noelle, jadi dia mengambil pilihan aman dengan mempercepat rencana pelarian mereka dari tempat ini.


Bukan hanya Kaira yang menyadarinya, melainkan Norman, Rico, Alan, dan Anzu juga menyadari kegelisahan yang Noelle miliki.


Itu membuat mereka waspada, dan membuat mereka dengan hati-hati mulai mengatur kembali rencana mereka.


Pada saat inilah Noelle benar-benar merasa bersyukur karena memiliki banyak orang tanggap di sisinya. Jika tidak ada orang dengan pemikiran seperti Kaira atau pun Norman, dia tidak tahu akan seberat apa situasi ini.


Norman dan Kaira adalah tokoh sentral yang menghubungkan semua orang. Mereka berdua menjadi inti dalam kelompok, yang mampu menyalurkan suara semua orang, termasuk orang-orang dari kelompok Noelle. Karena itulah, Noellw memiliki rencana untuk sedikit melibatkan mereka dalam rencananya.


Setelah beberapa saat persiapan, mereka akhirnya menciptakan penghalang besar yang melindungi semua orang.


Noelle kemudian berjalan ke tengah, mulai merapalkan nama kehormatan yang ia ketahui menggunakan bahasa Minerva Kuno.


"'Engkau yang merupakan penyusup dari dunia luar. Yang menyukai dongeng dan masa lalu.'"


Dia memutuskan untuk langsung menyebutkan nama kehormatan sejati'Nya', dan tidak mengambil lebih banyak waktu untuk menyebutkan nama kehormatan'Nya' yang panjang itu.


Setelah nama kehormatan disebutkan, berbagai reaksi mulai bermunculan.


Salah satu reaksinya adalah hembusan angin yang semakin kuat, dan dedaunan bunga ilusi yang mulai lepas, terbang ke sekitar dan mulai berkumpul di hadapan semua orang.


Semua daun itu terus terbang dan menggumpal di satu tempat, kemudian ditelan oleh bola cahaya aneh yang tiba-tiba muncul.


Bola cahaya itu kemudian berubah bentuk menjadi sebuah bingkai persegi panjang yang cukup besar, memungkinkan satu per satu orang bisa melewatinya.


Setelah itu, cahaya yang menyilaukan muncul dari tengah bingkai, dan pinggiean bingkai itu mulai menimbulkan suatu simbol yang rumit.


"Gerbang Roh … Ini benar-benar berhasil … "


Erwin hanya bisa dengan takjub melihat pada pemandangan itu, tapi kemudian wajahnya menjadi serius.


Tidak hanya dia, tapi semua orang juga merasakan udara yang semakin berat. Di antara mereka, Noelle adalah orang dengan perubahan ekspresi paling jelas.


Dia panik, dan kakinya mulai kehilangan tenaganya.


Di saat itulah, suara tawa manusia mulai keluar dari udara kosong ….


Tidak, itu bukan udara kosong. Noelle yakin itu.


Suara tawa mengerikan itu berasal dari kumpulan mikroba yang ada di udara!


...****************...