[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 170: Sepertinya tidak (2)



...****************...


"Ke sini."


Di suatu tempat yang dipenuhi dengan berbagai peralatan operasi, ada seorang gadis kecil yang berjalan dengan tenang melewati semua hal yang ada di sekitarnya.


Di belakangnya, seorang pria bertubuh besar tampak mengikuti, sementara di punggungnya terdapat tubuh seorang pria yang sudah hancur dan dalam kondisi yang mengerikan.


Pria yang sedang digendong itu adalah Terneth, yang akhirnya dibawa ke salah satu markas Voyager yang ada.


Setelah pertarungannya melawan Earl Eisen—Moretti, Terneth harus menahan semua rasa sakit di tubuhnya demi mencapai tempat ini.


Pria yang menggendongnya, adalah salah satu anggota pasukan pembebas yang saat itu ikut dengannya, dan menjadi satu-satunya yang tersisa dari semua anggota yang menjadi pelaku penyerbuan Eisen.


Sementara itu, gadis yang berjalan membimbing mereka di depan, adalah salah satu Voyager, dengan nama yang mereka ketahui sebagai Nuko.


Usai berjalan selama beberapa menit melewati semua lorong dan ruangan yang ada, mereka bertiga akhirnya tiba di sebuah ruangan kecil dengan meja besar di letakkan tepat di bagian tengah.


"Baringkan dia di sana," ucap Nuko sambil menunjuk meja itu.


Pria itu merasa sedikit keberatan ketika Nuko memberinya perintah, tapi ia tak memiliki pilihan lain selain mematuhinya. Jika Terneth bisa diselamatkan, maka menuruti perintah Nuko bukanlah masalah besar untuknya.


Sebagai catatan, saat ini Terneth sedang dalam keadaan pingsan. Mungkin karena ia tak dapat menahan rasa sakit yang terus menyerang sekujur tubuhnya.


Efek adrenalin dari obat-obatan yang menahan rasa sakitnya juga sudah hilang, jadi Terneth pasti merasakan penderitaan yang luar biasa dengan semua rasa sakit itu.


Usai membaringkan Terneth di meja itu, beberapa bola cahaya mulai bermunculan dan melayang di sekitar Terneth.


Satu per satu bola cahaya itu menyentuh semua luka di tubuhnya, dan menyembuhkan semuanya dalam waktu singkat.


Semuan luka mengerikan di tubuhnya, langsung menghilang ketika bola cahaya itu menyentuhnya.


Bahkan satu kaki Terneth yang sebelumnya telah hancur tak bersisa kini kembali utuh.


"Luar biasa … "


Pria itu hanya bisa melihat pemandangan itu dengan penuh kekaguman, sementara Nuko di sisi lain tampak kelelahan dan bersandar pada dinding logam di belakangnya.


Beberapa saat kemudian, akhirnya semua luka di tubuh Terneth menghilang, dan bola cahaya itu kembali menenggelamkan diri mereka di meja.


"Penyembuhannya seharusnya sudah selesai sekarang, dan dia akan bangun setelah beberapa waktu. Aku akan istirahat, panggil aku jika kau butuh sesuatu."


"B-baik! "


Dan dengan begitu, Nuko akhirnya pergi keluar meninggalkan pria itu bersama Terneth yang masih dalam keadaan pingsan. Atau setidaknya itulah yang ia pikirkan.


Tapi, sesuatu yang tidak pria itu duha tiba-tiba terjadi.


Begitu Nuko keluar, Terneth langsung membuka matanya dan bangkit untuk duduk di meja itu.


"K-kau sudah bangun?! "


Suaranya sedikit terlalu keras, dan membuat Terneth seketika mengerutkan keningnya.


Terneth memberikan isyarat untuk tetap diam dan tak mengeluarkan suara yang terlalu besar sehingga Nuko yang di luar tidak akan mendengarnya.


"Jangan berisik. Aku sudah bangun sejak tadi, aku hanya menunggu waktu yang tepat sampai Nuko pergi."


Pria itu dengan cepat mengangguk, dan langsung mendekati Terneth.


"Di mana senjataku? " tanya Terneth pada pria itu.


Pria itu dengan wajah yang kesulitan menggeleng dan mendecakkan lidahnya. "Semua perlengkapan kita dibawa oleh Nuko. Jadi … Kita benar-benar bertangan kosong sekarang."


"Begitu, ya."


Terneth mengangguk, lalu melihat ke sekelilingnya. Saat itu, pria yang ada di hadapannya dengan canggung kembali membuka percakapan dengan pertanyaan.


"Daripada itu … Apa yang akan kita lakukan mulai sekarang? Semua orang … Rekan-rekan pembebas kita … Mereka sudah mati. Hanya kita yang tersisa dari tim eksekusi."


Wajah pria itu sedikit mendung, tapi ia tak berlarut dalam kesedihan. Sebaliknya, ia justru penasaran dengan tindakan apa yang harus ia ambil untuk ke depannya.


Terneth meresponnya dengan memberikan ekspresi kesal, dan mengencangkan tinjunya sendiri. Kukunya yang cukup tajam itu menggali dengan mudah menembus kulit, dan membuat sejumlah darah segar mengalir keluar dari sana.


Pria itu menelan ludahnya dengan gugup ketika melihat itu. Bagaimana pun, ia tahu perbedaan kekuatan antara dirinya dengan Terneth. Jika Terneth yang baginya sudah sangat kuat saja bisa dikalahkan, maka itu seharusnya akan menjadi jalan buntu untuk para pemberontak seperti dirinya.


"Olivia Landlüven … Wanita sialan itu benar-benar tak segan menghabisi banyak nyawa sekaligus. Sungguh, kau tidak bisa menilai seseorang hanya berdasarkan penampilannya saja."


Pria itu dengan wajah suram mengangguk. Sebagai satu-satunya yang selamat dari pembantaian yang mengerikan itu, ia sudah tahu dengan sangat jelas seberapa besar kekuatan yang Olivia miliki.


Daerah yang tiba-tiba berubah menjadi padang es, dan kubus hitam raksasa yang tiba-tiba muncul di udara, dan jatuh menimpa semua orang yang ada di bawahnya. Hanya dengan memikirkan itu saja sudah cukup bagi pria itu untuk mendapatkan kembali kenangan mengerikan itu.


Baik dari kekuatan sihirnya, dan kemampuannya dalam mengayunkan pedang. Itu semua telah menjadi momok yang mengerikan bagi dirinya, yang selamat dari itu semua.


"Semua orang … "


Pria itu menggigit bibir bagian bawahnya dan mengerutkan keningnya dengan penuh penyesalan.


"Tidak ada waktu untuk merasa frustasi. Sekarang, kita hanya bisa melakukan apa yang menjadi kemampuan kita," ucap Terneth sambil melompat turun dari meja itu.


Pria itu menatapnya dengan sedikit keraguan, dan juga sedikit harapan.


"Tapi … Apa yang bisa kita lakukan? "


Terneth menghela napasnya, ia pun berjalan mendekati salah satu dinding, dan menempelkan telapak tangannya di sana.


"Pada akhirnya, mereka semua sama saja. Tak ada yang bisa mengerti perasaan kita, dan tak ada yang bisa memahami penderitaan mereka. Kita semua bertarung untuk mendapatkan penebusan dari mereka yang sudah berbuat dosa. Tapi, apa hasilnya? Para pendosa itu justru memenangkan pertempuran ini."


" ……… "


"Mereka dengan senang hati menghabisi semua orang yang menghalangi mereka, tapi mereka tidak akan terima jika ada orang lain yang melakukan hal yang sama pada mereka. Bukankah itu menjijikkan? "


Terneth sadar betul bahwa semua yang ia katakan itu penuh dengan kontradiksi. Tapi, apa boleh buat? Hanya itu pilihan yang bisa ia ambil.


Meskipun sangat menjijikkan rasanya ketika ia harus melakukan hal yang sama dengan orang-orang yang ia sebut sebagai pendosa itu.


Pembunuhan, dan pembantaian massal. Pada akhirnya, semua ini hanya mengarah pada kedua hal itu.


Ada sebab, dan ada pula akibatnya.


Ini semua adalah akibat dari apa yang sudah terjadi di masa lalu.


Jika saja saat itu genosida tidak dilakukan, mungkin semua tidak akan seperti ini. Tidak akan ada pasukan pemberontak, dan Terneth pasti masih menjalani hidupnya sebagai seorang petualang veteran.


Tapi, jika tidak ada genosida yang dilakukan, maka semua akan menjadi lebih kacau. Negara, dan mungkin separuh benua pasti akan terjangkit oleh Apocalypse Virus yang sangat mematikan itu.


Terneth sendiri sadar kalau tindakan yang ia ambil ini hanyalah keputusan yang dibuat berdasarkan keegoisan semata. Tapi, memangnya kenapa? Dia juga menjadi korban dalam insiden itu. Jadi, ia punya hak untuk menentukan apa yang akan menjadi tujuannya.


Dan tujuan yang ia ambil, adalah mencarikan keadilan untuk para korban yang tak ada kaitannya dengan Apocalypse Virus itu, demi dirinya sendiri, dan demi mereka semua yang ikut terbunuh saat genosida berlangsung.


Terneth melihat ke telapak tangannya sendiri, dan memberikan senyum miris. Matanya sudah kosong, tapi tak ada tanda kalau ia akan menyerah.


"Benar-benar ironis, ya … "


" ……… "


Pria itu hanya bisa diam melihatnya. Dalam benaknya, ia merasa kalau ia memahami apa yang Terneth rasakan. Tapi, mungkin sebenarnya tidak. Emosi yang dirasakan Terneth sangatlah sulit untuk dipahami oleh orang lain, bahkan jika orang itu juga mengalami hal yang sama dengannya.


Tak lama kemudian, Terneth akhirnya menguatkan tinjunya. Dia berbalik dan menghadap ke pintu yang dibiarkan terbuka begitu saja ketika Nuko keluar.


"Bukan waktunya untuk ragu. Sekarang, hanya ada kita berdua. Kita harus melakukannya."


Pria itu menegakkan tubuhnya dan dengan tegas menjawab, "Baik! "


Terneth tersenyum dan berjalan ke tengah ruangan setelah mereduksi meja itu menjadi bubuk kayu dengan sentuhannya.


"Aku tahu lokasi mereka. Kita tidak perlu muncul, aku hanya akan memberi mereka sedikit pelajaran. Aku … Tidak akan menyia-nyiakan kematian mereka."


Dan dengan begitu, sebuah lingkaran sihir berukuran besar terbentuk di lantai, sementara Terneth melebarkan senyum di wajahnya.


...****************...


Kelopak matanya terasa sangat berat. Namun, meskipun begitu, ia tetap mencoba untuk membuka matanya secara paksa, dan melihat ke arah jendela yang ada tepat di sampingnya.


Cahaya memasuki jendela melalui celah yang ada pada tirai, dan berdasarkan itu, Noelle akhirnya mampu menebak waktu saat ini.


Matahari sudah terbit, tapi masih terlalu dini untuk menyebutnya pagi hari. Noelle merasa dia benar-benar tak ingin bangun sekarang. Jika bisa, ia ingin tidur lebih lama lagi dan mengistirahatkan pikirannya.


Namun, tampaknya rencana yang sudah ia buat justru tak mengizinkan itu.


Dia sudah berencana untuk kembali ke Eisen bersama semua orang secepat mungkin. Untuk melakukan itu, ia harus segera bersiap.


Selain itu, ia juga memiliki jadwal latihan harian yang tidak ingin ia lewatkan begitu saja meski hanya sehari.


Noelle hendak bangun, hanya untuk berhenti seketika saat menyadari beban yang menimpa dadanya.


" … Heh … "


Secara alami, Noelle tahu apa itu.


Beberapa helai dari rambutnya yang halus menempel di bibir dan pipi Noelle, tapi Noelle tak keberatan dengan itu. Dia justru tersenyum masam, dan mengelus kepala Olivia dengan tangannya.


Noelle tidak ingat kalau sudah Olivia kembali dari《Reign》semalam. Yang artinya, Olivia pasti kembali ke kamar beberapa saat Noelle tertidur.


Baju piyama yang Olivia kenakan saat ini adalah pakaian daster biasa dengan lengan dan rok langsungan yang panjang, menutupi hingga betisnya. Selain dari itu, tak ada yang spesial. Hanya bahannya yang sedikit lebih tebal mengingat suhu sudah semakin dingin belakangan ini.


Olivia tidak terlalu suka mengatur suhu tubuhnya secara manual. Daripada melakukan itu, ia lebih suka jika tubuhnya bisa beradaptasi secara alami dengan suhu dan cuaca di sekitar.


(Apa yang harus kulakukan … )


Noelle merasakan sedikit dilema saat ia melihat sosok Olivia yang tertidur. Di satu sisi, ia ingin tetap dalam posisi itu sehingga Olivia tidak akan terganggu. Tapi, di sisi lain, ia memiliki sebuah dorongan kecil untuk menjahili Olivia.


(Yahh, kurasa aku hanya bisa menunggu.)


Dengan senyum masam di wajahnya, Noelle akhirnya melemaskan seluruh tubuhnya. Satu lengannya dibentangkan ke pinggir, sedangkan lengannya yang satu lagi memeluk tubuh mungil Olivia dengan lembut.


Noelle berniat untuk kembali tidur, tapi segera mengubah pikirannya ketika melihat ada gerakan kecil dari Olivia.


Kedua alis Olivia saling bertaut, dan wajahnya yang dihiasi ekspresi cemberut itu semakin mendekatkan diri dengan leher Noelle.


" … Livia? "


Olivia terlihat mengendus leher Noelle beberapa kali, sebelum akhirnya secara alami menancapkan taring kecilnya di sana.


" ……… "


Bahkan meskipun taringnya telah menancap di leher Noelle, sama sekali tak ada indikasi bahwa Olivia telah menghisap darahnya. Mungkin ia hanya menancapkannya secara tak sadar, dan tak melakukan apa pun setelahnya.


Namun, itu justru tak mengurangi dampak yang Noelle rasakan.


Gigitan Olivia di lehernya telah menghasilkan efek afrodisiak yang cukup kuat sehingga napasnya menjadi sedikit lebih berat.


Noelle entah bagaimana bisa menahannya, dan mencoba melepaskan pelukan Olivia yang cukup erat itu dengan berguling sedikit ke samping.


Hasilnya, taring yang menancap di lehernya telah tercabut, dan Olivia dengan lembut terjatuh ke sisinya.


Olivia cukup sensitif dengan segala pergerakan yang terjadi di sekitarnya. Jadi, hanya dengan hal itu saja sudah cukup untuk membangunkannya.


Bisa dilihat dari bagaimana Olivia perlahan membuka matanya, dan berkedip beberapa kali dengan arah pandangan yang sepenuhnya tertuju pada Noelle.


Begitu menyadari kehadiran Noelle yang ada di hadapannya, Olivia langsung tersenyum. Dia pun dengan lembut bangun sambil menggosok matanya, lalu menatap Noelle dengan pandangan penuh kasih.


"Selamat pagi."


"Unn … Selamat pagi … Maaf karena membangunkanmu."


"Tidak masalah. Ini juga sudah waktunya untuk bangun," ucap Olivia sambil menempelkan pipinya di dada Noelle.


Dia hendak menutup matanya kembali untuk menikmati kehangatan yang dipancarkan tubuh itu. Tapi, tatapannya seketika tertuju pada satu titik di tubuh Noelle.


Itu adalah leher Noelle yang memiliki bekas gigitan dengan darah yang menetes dari sana.


" … Apa aku yang menyebabkan itu? " tanya Olivia dengan canggung.


" … Kamu tidak ingat? "


Noelle hanya tersenyum dan menepuk kepala Olivia sekali, sebelum akhirnya mencoba bangun dari posisinya. Olivia mengikuti gerakannya dan bangun, menatap Noelle dengan cemas.


Sambil tersenyum kecil, Noelle memegangi lehernya, dan mengaktifkan sihir regenerasi sehingga semua luka langsung menghilang.


Meskipun begitu, tampaknya itu tak cukup untuk membuat Olivia mengembalikan ketenangannya.


"Aku tidak keberatan dengan itu. Kamu memang selalu melakukannya secara tidak sadar, jadi aku sudah terbiasa. Hanya saja … Aku sedikit bermasalah dengan efek samping dari gigitanmu … "


Suara Noelle perlahan memudar, dan dia berusaha mengalihkan tatapannya ke celah tirai yang menutupi jendela.


Secara alami, Olivia mengerti maksudnya. Dia pun tersenyum dan mendekati Noelle sehingga bibirnya hampir menyentuh telinga Noelle.


Dengan jarak sedekat itu, Olivia kemudian berbisik, "Mau aku menenangkannya? "


Dahi Noelle sedikit berkedut. Dia terlihat bermasalah dengan tawaran itu. Meskipun begitu, dia terlihat seperti tidak akan menolaknya.


Tapi ….


" … Tidak untuk sekarang. Kita sudah tidak punya waktu lagi," ucap Noelle sambil turun dari tempat tidur dan melakukan sedikit peregangan, sebelum akhirnya berjalan cepat ke kamar mandi.


Kini hanya ada Olivia sendiri di ruangan itu. Dia menurunkan alisnya dengan kecewa dan bergumam, " …… Padahal kita bisa melakukannya dengan cepat."


Tak lama kemudian, Noelle akhirnya kembali.


Dia tak memakai pakaian atasan, dan hanya mengenakan celana jeans ringan dengan ukuran yang pas di kakinya.


Rambut putihnya masih basah, dan itu disisir ke belakang dengan menggunakan tangan.


Sejenak, Olivia diam terpesona saat melihatnya. Tapi, itu tak berlangsung lama karena Noelle tiba-tiba berbicara.


"Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan mereka? "


'Mereka' yang Noelle maksud adalah tiga orang yang kini sedang berada di dalam《Reign》, yaitu Chloe, Lilith, dan Levina.


Olivia membuat gerakan berpikir sejenak, sebelum akhirnya ia menjawab. "Mhmm … Chloe masih betah menghabiskan waktunya di sana. Dia sudah membaca beberapa buku di sana sampai selesai, dan Lilith juga ikut melakukannya."


Tentu saja akan begitu. Pada dasarnya, tak ada sesuatu yang spesial di dalam《Reign》. Hanya sebuah ruangan semi-besar yang berisi banyak buku yang Noelle bawa dari kastil dulu.


Kemudian, Olivia melanjutkan penjelasannya. Dia bilang, Lilith meminta untuk dikeluarkan dari《Reign》, tapi Olivia dengan tegas menolaknya dengan alasan keamanan. Olivia baru akan setuju untuk mengeluarkan Lilith setelah mereka semua sampai di Eisen.


"Dan juga … Pina-chan … Kurasa dia kesepian."


"Hmm? "


Noelle tidak mengerti maksudnya. Dengan tatapannya, dia memberikan isyarat pada Olivia utnuk menjelaskan hal itu lebih lanjut lagi.


"Dia ingin bertemu denganmu, Noelle."


Olivia terlihat bermasalah pada Noelle yang tak mampu memahami hal sekecil itu. Tapi, dia berusaha sebaik mungkin untuk menjelaskannya.


" … Begitu, ya … "


Tak ada perubahan ekspresi yang begitu berarti di wajah Noelle. Dia hanya dengan acuh memakai semua pakaiannya, dan bersiap keluar. Tapi, panggilan dari Olivia kembali menghentikan pelariannya.


"Noelle. Apa kamu menolak kehadirannya? "


" … Tidak begitu," jawab Noelle dengan singkat.


Olivia memiringkan kepalanya sedikit sambil bergunam, "Lalu? "


Olivia tahu kalau itu adalah perasaan yang cukup rumit untuk Noelle. Tapi, justru karena ia tahu hal itulah yang membuatnya mendorong Noelle semakin jauh lagi. Dengan begitu, Noelle pasti akan terbiasa dengan segala perbedaan tak lama lagi.


Noelle terlihat merenung sejenak, dan kemudian menjawab dengan suara yang sangat pelan.


"Aku … Hanya tidak terbiasa dengan kehadiran orang lain di antara kita. Terlebih lagi … Dia memanggilku pa–"


Belum sempat Noelle menyelesaikan kalimatnya, dia tiba-tiba tersadar.


Noelle terdiam untuk beberapa saat, sehingga membuat Olivia kebingungan.


Olivia turun dari tempat tidur, dan mendekatinya dengan raut wajah khawatir. "Noelle? " panggilnya.


Meskipun begitu, Noelle sama sekali tak menjawab. Dia hanya terus diam, sebelum akhirnya mundur beberapa langkah ke belakang.


Dia lalu berbalik, dan menghadap ke jendela yang masih ditutupi tirai itu, lalu membukanya dengan cepat.


Sinar matahari seketika memasuki kamar mereka yang minim akan pencahayaan. Itu membuat Olivia secara refleks menyipitkan matanya untuk membiasakan diri dengan cahaya yang tiba-tiba memasuki bidang pandangnya.


Olivia dengan khawatir menghampiri Noelle dan merangkul lengannya, dan ikut melihat ke luar jendela.


Dan seketika, matanya melebar.


Sesuatu yang sulit dijelaskan, ada di sana, memenuhi bidang pandangnya.


Puluhan, dan ratusan tentakel hitam yang masing-masing besarnya dapat melebihi tubuh mereka menggeliat dengan liar di udara.


Dan di tengah semua itu, sebuah kepala, atau lebih tepatnya sebuah bola mata yang memiliki gumpalan daging mengelilinginya, tampak sedang menatap semua yang ada di bawah.


Di sudut lain, Olivia dapat melihat beberapa keberadaan lain. Itu adalah Norman dan yang lainnya. Mereka ikut menatap sosok aneh itu dengan wajah tercengang tanpa bisa mengatakan apa pun.


Tak lama kemudian, bola mata itu langsung menghilang.


Tak ada lagi jejak yang menandakan kalau 'makhluk' itu pernah ada di sana. Semua telah menghilang, kembali ke keadaan semula.


Dan di tengah keheningan itu, hanya suara serak dan tawa kering Noelle yang dapat didengar.


"Haha … Apa-apaan itu … "


...****************...