[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 133: Neutral Enemies (4)



...****************...


Sebuah lingkaran sihir terbentuk di udara kosong, menciptakan garis-garis cahaya yang saling terhubung dan membentuk tabung raksasa.


Beberapa saat telah berlalu dengan lingkaran sihir itu bersinar dan berputar di tempat, dan tak lama kemudian, delapan sosok bayangan secara perlahan muncul di dalam tabung yang dibentuk oleh garis-garis cahaya itu.


Detik kemudian, lingkaran sihir itu pecah menjadi butiran cahaya, sementara delapan sosok orang yang ada di dalamnya perlahan mulai terlihat dengan jelas.


"Teleportasi berhasil. Sekarang, kita seharusnya ada di Eisen. Tapi … Apa-apaan ini? "


Yang memulai percakapan itu adalah Damian. Di sampingnya, Asher melihat ke sekeliling dengan bingung.


Itu wajar saja. Teleportasi yang mereka lakukan seharusnya akan mengirim mereka langsung ke Eisen. Tapi, apa yang ada di hadapan mereka saat ini sama sekali tidak menunjukkan jejak keberadaan kota yang indah itu.


Bangunan-bangunan yang telah hancur tak berbentuk, kanal yang hancur karena tertimpa batu, air yang mulai naik dan membanjiri jalanan. Itu benar-benar berbeda dari kota Eisen yang mereka kenal.


"Apa yang terjadi di sini? "


Colyn dan Tania juga dibuat bingung dengan pemandangan itu.


Mereka memang sudah mengunjungi Eisen saat pertarungan melawan Nix Regina, tapi kehancuran yang disebabkan oleh Nix tidak sebesar ini.


Jelas kalau sumber kekacauan yang terjadi pada Eisen saat ini bukan berasal dari Nix yang telah menghilang tanpa jejak.


"Hei, apa kalian merasakannya juga? Ada banyak kehadiran di bawah sana."


Arnaz menatap kakinya sendiri dengan penasaran. Melihat dari reaksi kebingungannya itu, Noelle dapat dengan jelas menebak kalau Arnaz sama sekali belum pernah pergi ke Eisen sebelumnya.


Wajar jika ia tidak tahu kalau Eisen memiliki konstruksi bawah tanah yang sangat besar sehingga sanggup menampung semua penduduk Eisen.


(Sama sekali tidak ada orang di permukaan, yang artinya … )


Noelle merasakan firasat buruk di sini. Ia segera menggunakan kemampuan deteksi miliknya dalam kekuatan penuh, dan merasakan keanehan di bawah tanah sana.


"Ructus! Di bawah, ada banyak kehadiran orang yang sedang mengepung semua area! "


"Ya, aku juga merasakannya. Tapi, apa yang harus kita lakukan? "


Terlalu berbahaya jika mereka bergerak langsung. Itulah yang Damian pikirkan.


Bahkan meskipun ia merasakan banyak kehadiran musuh di bawah sana, ia masih belum mengerti situasinya. Karena itulah, Damian tak bisa sembarangan bergerak.


"Aku akan pergi ke sana. Bagaimana dengan kalian? "


Noelle menatap semua orang secara bergantian. Meskipun ia tak begitu peduli, ia masih sedikit berharap kalau setidaknya ada satu atau dua orang yang mau membantunya.


Menyelamatkan Olivia dan lari bukanlah masalah. Tapi, itu hanya akan membuat situasi menjadi lebih rumit lagi mengingat ada kelompok Norman di sana.


Reputasi Noelle yang sudah ia bangun dengan susah payah akan hancur dalam sekejap jika ia meninggalkan warga sipil yang terlibat dalam penyerangan ini.


Juga, kecurigaan terhadap Olivia masih belum mereda. Jika Noelle membawanya lari sekarang, itu hanya akan memicu emosi semua orang, dan berbagai tuduhan tak berdasar akan mulai dilayangkan padanya.


Itu benar-benar jalan buntu.


"Aku akan mengikuti keputusan Ructus," ucap Asher sambil menyilangkan kedua lengannya.


Tapi, dia kemudian melanjutkan, "Hanya saja, aku mungkin akan ikut dengan Souris untuk menyelamatkan orang-orang itu. Aku juga penasaran kenapa orang sekuat Lucius Roux itu sampai dikirim ke sini."


"Hmm? "


Colyn tiba-tiba mengeluarkan suara keterangan ketika mendengar kata-kata Asher.


"Ada apa, Pauper? "


"Tidak. Hanya saja … Setelah kau mengatakannya, di mana orang bernama Lucius itu? Dia pergi ke sini, 'kan? Tapi kita sama sekali tidak melihatnya."


Noelle bingung sejenak, lalu tersaadar, dan mengungkapkan apa yang ia pikirkan.


" … Tidak. Kurasa … Kita datang lebih dulu. Dari yang kita lihat sebelumnya, Lucius pergi dengan terbang, 'kan? Maka masuk akal kalau kita datang lebih dulu karena teleportasi."


"Ahh, ya … Kau benar."


Colyn mengangguk dengan penuh pengertian, sebelum akhirnya menatap tanah dengan jengkel.


"Tapi … Hawa keberadaan mereka benar-benar menjengkelkan … Ada beberapa yang 'berbau busuk', itu membuatku mual."


Memang benar, ada beberapa hawa keberadaan yang asing dan sangat menjijikkan sehingga Noelle sama sekali tak memiliki niat untuk melihat sosok itu secara langsung. Tapi, ia belum pernah merasakan hawa keberadaan yang seperti itu sebelumnya. Jadi ia mungkin akan memeriksanya sendiri nanti.


Di satu sisi, orang yang paling dikejutkan dengan hawa keberadaan yang menjijikkan itu adalah Tania.


Ekspresinya tidak begitu jelas. Tapi, jika Noelle memperhatikannya lebih detail lagi, ia dapat merasakan distorsi pada wajah Tania.


Itu seperti dia sangat dikejutkan dengan hawa keberadaan yang tak dikenal itu.


"Tidak mungkin … Kenapa mereka … "


"Mordred? Ada apa? "


Tania tidak meresponnya. Dia masih menatap dengan tidak percaya pada tanah, atau lebih tepatnya, sesuatu yang ada di bawah tanah.


" ……… "


Noelle tahu kalau Tania tidak akan menjawabnya. Jadi, tidak ada pilihan lain selain mengabaikannya. Setidaknya, untuk saat ini.


Ia akan membiarkan ini sampai pada waktu di mana Tania mau mengatakannya.


Setelah diam untuk waktu yang cukup lama, Damian kemudian membuka suaranya.


"Untuk saat ini, kita akan memastikan situasinya. Akan lebih baik kita berpencar mengingat banyaknya orang yang tersebar di sana."


Asher mengangguk menyetujui, lalu menusukkan ujung tombaknya ke tanah, menciptakan suatu lubang besar yang cukup untuk mereka berdelapan masuki.


"Kita bisa menerobos. Itu tidak akan mengganggu fondasinya, 'kan? "


"Kurasa tidak. Dan ngomong-ngomong, bisakah kalian pergi duluan? "


Semua pandangan mulai tertuju pada Noelle. Mereka semua bingung dengan apa yang ia katakan.


Sebelumnya, Noelle terlihat seperti sangat terburu-buru untuk pergi ke bawah, tapi kali ini ia justru meminta untuk mengulur waktu sebentar.


"Apa yang akan kau lakukan? " tanya Damian.


"Ada beberapa hal yang harus kuurus. Aku akan senang jika kalian tidak bertanya lebih jauh."


" … Baiklah. Kita akan berkumpul kembali di bagian pusat 30 menit lagi. Jangan sampai terlambat."


"Terima kasih."


Noelle benar-benar menghargai rasa pengertian yang diberikan Damian padanya.


Karena, jika mereka mengorek terlalu dalam, Noelle mungkin harus melakukan beberapa tindakan penanggulangan yang merepotkan.


Detik kemudian, Damian melompat dan memasuki lubang yang diciptakan Asher, diikuti dengan Arnaz dan Asher yang juga memasuki lubang itu.


Colyn terlihat ingin mengatakan sesuatu pada Noelle, tapi ia mengurungkan niatnya dan langsung membawa bantalnya ke dasar lubang itu, sementara Tania dan Lucia hanya terjun bebas tanpa pengaman apa pun.


"Sekarang … "


Tersisa Noelle sendirian.


Noelle menghapus semua ekspresi di wajahnya, dan menggumamkan nama sihirnya.


"《Reign》"


...****************...


"Hmm? Ahh! Tuan! "


Di dalam Reign, Chloe yang merasakan kehadiran Noelle segera berlari menuju altar teleportasi yang menjadi titik masuk setiap kali mereka mengaktifkan《Reign》.


"Chloe? Kenapa kau di sini? "


Sosok Chloe itu terlihat sedang panik. Rambut hitamnya yang panjang bergoyang setiap kali kakinya melangkah mendekati Noelle.


"Itu … Ada serangan lagi, dan Nona memintaku untuk masuk ke sini bersama Pina-chan."


"Pina? "


Untuk sesaat, Noelle bingung dengan apa yang Chloe katakan. Namun, begitu ia melihat sosok gadis kecil yang sedang tertidur di punggung Brackas, ia akhirnya mengerti.


Pina adalah nama panggilan yang Chloe sematkan pada Levina.


"Yahh, lupakan itu sejenak. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku melihat Eisen sudah hancur. Apa kau tahu sesuatu? "


Chloe menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku tidak tahu. Tapi, penyerangnya memiliki jumlah yang besar."


Noelle membuat pose berpikir sejenak.


Informasi yang disampaikan Chloe barusan masih terlalu sedikit baginya untuk mendapatkan suatu kesimpulan.


Untuk mengetahui semuanya lebih lanjut lagi, ia harus terjun langsung ke lapangan.


Tapi, untuk melakukan itu, akan lebih baik jika ia muncul sebagai 'Noelle', dan bukan sebagai 'Souris'.


Dan untuk itulah ia kemari.


"Sekarang … Datang, dan jawab panggilanku, Harold."


Sebuah lingkaran sihir terbentuk di hadapan Noelle dan Chloe, menampilkan siluet seorang pria yang tampak dalam posisi bertarung.


Tak lama kemudian sosok yang mereka kenali sebagai Harold muncul dalam ekspresi bingung.


"Apa-apaan ini? "


Harold dengan kesal bertanya pada Noelle, tapi begitu ia melihat Chloe yang ada di sampingnya, ia seketika melebarkan matanya.


Namun, seketika ia mengerang dan memegangi kepalanya dengan raut wajah kesakitan.


"Huh, aku tidak peduli dengan apa yang ingin kau katakan saat ini. Tapi, kau harus mematuhiku sekarang."


Mengatakan itu, Noelle kemudian memainkan jarinya. Seketika, tubuh Harold terjatuh seolah gravitasi yang kuat telah menimpanya.


"Harold, menyamarlah sebagai Souris, dan bertarunglah di luar. Ini darurat."


Bayangan pekat yang ada tepat di bawah Harold mulai menggeliat, dan mulai menyelimuti tubuh Harold.


Beberapa saat berlalu dengan tubuh Harold yang dilapisi oleh bayangan itu, sampai akhirnya bayangan itu mulai melepaskannya, dan menunjukkan penampilan baru Harold.


Penampilannya, tidak salah lagi. Itu sangat identik dengan sosok 'Souris'.


Sebenarnya, Noelle telah memanfaatkan kemampuan perintah mutlak yang hanya bisa dia gunakan pada vampir bawahan.


Dengan menggunakan kemampuan itu, ia memaksa Harold untuk menyamar menjadi dirinya yang lain, yaitu Souris.


Itu semua agar Noelle bisa muncul dengan aman di hadapan Olivia dan yang lain, sementara 'Souris' akan bertarung melawan musuh dengan para anggota Asterisk yang lain.


"Brengsek … Apa-apaan ini … "


Harold mencoba untuk protes, tapi Noelle dengan santai menginjak wajahnya, dan berkata, "Jangan banyak protes. Turuti saja aku, dan lakukan tugasmu. Ahh, ngomong-ngomong, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu nanti, sebaiknya kau bersiap."


Karena posisi kami Noelle yang tepat berada di wajahnya, Harold hanya bisa berusaha bertahan dari tekanan gravitasi yang semakin kuat, lalu terdorong sedikit ke belakang.


Dorongan itu semakin kuat, sehingga melempar Harold menuju altar teleportasi tempat Noelle datang sebelumnya.


Ini tidak seperti dia punya pilihan untuk menolak. Satu-satunya yang bisa ia lakukan sekarang adalah mengangguk, dan mematuhi perintah Noelle.


Kini dia mengutuk takdirnya yang harus melibatkan dirinya dengan seorang Noelle. Menjadi vampir justru menjadi kutukan yang mengekang kebebasannya.


"Ughh … Ku benci ini … "


Sementara Harold masih mengerang dengan tidak nyaman, Noelle yang tampak merasa tak bersalah itu berjalan mendekati altar dengan beberapa lingkaran sihir kecil yang sudah aktif di sekitar tubuhnya.


"Seolah aku peduli dengan perasaanmu itu. Ayo keluar dan selesaikan ini secepat mungkin."


Dengan itu, sosok mereka berdua menghilang ditelan oleh gelombang cahaya yang tiba-tiba muncul dari altar, meninggalkan Chloe sendirian di sana.


"Umm … Apa yang harus kulakukan sekarang? "


Tidak, dia tidak benar-benar sendirian. Tapi … Yahh, sudahlah.


...****************...


Ledakan kuat terjadi di mana-mana. Jeritan ketakutan dari berbagai orang memenuhi udara, dan memekakkan telinga. Darah dan daging yang berceceran di tanah yang akan membuat siapa pun mual melihatnya.


Tapi, lebih dari itu semua, pemandangan dari seorang gadis cantik berambut perak yang indah, sedang mengayunkan pedangnya yang panjang itu tercetak jauh lebih jelas di ingatan semua orang.


Satu per satu jangkar raksasa yang muncul enth dari mana mulai berjatuhan, menghancurkan siapa, atau apa pun yang ada di bawahnya.


Penampilan dari seorang saint yang melambangkan ketidakmurnian itu tampak begitu mempesona tidak hanya bagi sekutu, tapi juga musuh.


Setiap kali ia mengayunkan pedangnya, gelombang kejut yang kuat akan tercipta dan menghempaskan semua yang ada di sekitarnya, termasuk tubuh para musuh yang telah direduksi menjadi tumpukan daging yang menjijikkan. Dan setiap kali dia mengayunkan jarinya, sebuah jangkar raksasa kembali muncul dan menghancurkan semua yang ada di sekitarnya.


Pelaku itu semua, Olivia, menciptakan sebuah rantai es yang dikaitkan langsung dengan ujung jangkar, lalu mengayunkannya tanpa ada perubahan pada ekspresi kesenangannya.


Meskipun jangkar itu jelas terlihat sangat berat, Olivia dengan santai mengayunkannya, dan menjadi jadikan itu sebagai senjata sekunder setelah pedangnya.


Setiap kali jangkar itu berayun, tubuh musuh yang disentuhnya akan nampak meleleh, dan seketika hancur ketika ditimpa dengan bobot yang dapat mencapai puluhan ton itu.


"D-dia monster! Mundur! Jangan sia-siakan nyawa kalian–"


Seseorang yang tampaknya menjadi pemimpin dari kelompok musuh mencoba memberi perintah untuk mundur pada bawahannya. Tapi, Olivia tiba-tiba saja muncul dan mencengkram wajahnya dengan tangan kecil itu.


Kepalanya seketika meledak, mengeluarkan semua yang ada di dalamnya.


"B-bos! "


"Sialan kau! "


Meskipun berbagai jeritan ketakutan, dan rangkaian kata kutukan terus dilayangkan padanya, Olivia sama sekali tak menggerakkan ekspresinya.


Senyum mengerikan itu masih terpampang dengan jelas di wajahnya, bersamaan dengan mata merah darah yang semakin menghiasi penampilannya.


Di tengah itu semua, pikirannya tampak sangat menikmati ini.


—Hei, Noelle …


Tubuhnya sekali lagi bergerak, menghindari serangan seekor monster berbentuk anjing raksasa dengan tubuh hitam yang berlumpur.


—Aku ingin tahu … Apa ini yang selalu kamu rasakan?


Sebuah serangan sekali lagi mendatanginya. Kali ini berasal dari seekor monyet raksasa yang sama menjijikkannya dengan anjing itu.


—Kesenangan dalam bertarung … Untuk melindungi apa yang menjadi milikmu … Apa kamu selalu merasakan ini?


Olivia melompat untuk menghindari serangan itu, dan langsung mengayunkan pedangnya di bagian mata besar monyet itu.


Mata yang sudah Olivia tebas dengan pedangnya itu seketika meledak, membuat monyet yang menjadi pemilik mata itu berteriak dengan penuh kesakitan.


—Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, tapi … Kurasa ini cukup menyenangkan …


Belasan tentakel yang tumbuh dari leher dan punggung monyet itu mulai memanjang dan tampak akan menusuk Olivia dengan bentuknya yang tajam.


Meskipun begitu, Olivia dengan mudah menghindari semuanya dan menghancurkan tentakel itu dengan merubah mereka menjadi es menggunakan sihirnya.


—Aku tidak pernah mengira kalau ini akan sangat menyenangkan.


Monyet itu semakin menjerit. Namun, sama sekali tak ada perubahan pada ekspresi dan gerakan Olivia.


Olivia masih bergerak untuk mendekati monyet itu, lalu berulang kali menusuk wajahnya dengan ujung rapiernya yang bersinar.


—Apa ini yang membuatmu selalu bertarung? Aku tidak yakin, tapi … Kurasa kesenangan ini adalah salah satu alasanmu, ya?


Begitu yakin kalau wajah monyet itu sudah hancur, Olivia kemudian melompat menjauhi semua tentakel yang mulai mendekatinya.


Olivia tersenyum dengan keji, lalu mengangkat satu jarinya sambil merapalkan sihir yang baru ia pelajari.


"《Abandonment Cube》"


Sebuah bola hitam berduri muncul di ujung jarinya, perlahan melayang jauh ke atas.


Seketika, sebuah kubus hitam raksasa yng tampak sangat padat muncul di udara, dan menjatuhkan dirinya dengan brutal tepat di wajah monyet itu.


Itu adalah teknik yang baru saja Olivia pelajari.


Dengan meningkatnya pemahamannya tentang《Lust》, Olivia jadi bisa menggunakan beberapa kemampuan yang sebelumnya tak pernah ia ketahui.


Kubus hitam itu adalah objek yang sangat padat. Tercipta dari energi negatif yang dipadatkan dengan tekanan yang sangat kuat, kubus itu dapat dengan mudah menghancurkan semua objek yang ia tabrak, atau timpa.


Dalam sekejap, beberapa kubus lain muncul di udara kosong, dan mulai berjatuhan dengan brutal ke segala tempat.


—Noelle, aku tidak pernah mengira kalau ini akan sangat menyenangkan. Ini sangat berbeda dari perasaan bahagia yang selalu kamu berikan padaku, tapi … Aku juga suka ini.


Senyum yang terpampang di wajah Olivia sama sekali tidak berubah. Justru, itu tampak semakin lebar seiring bertambahnya serangan yang ia luncurkan.


—Bertarung untuk mempertahankan apa yang menjadi milikku … Aku belum pernah merasakan ini sebelumnya.


Olivia kemudian mengangkat satu tangannya yang telah kosong, dan menciptakan sebuah pedang es di sana.


Itu benar-benar berbeda dari pedang atau senjata lain yang biasa ia buat dengan sihir es miliknua.


Pedang es itu terlihat sangat indah, dan di satu sisi, itu juga sangat mengerikan. Aura sihir yang terpancar dari bilah pedang itu membuat semua orang yang merasakannya seketika membeku karena ketakutan.


Olivia tanpa ragu mengayunkan, dan melempar pedang itu ke monster aneh yang berbentuk gurita raksasa dengan tubuh berlumpur, lalu mengaktifkan efek sihir yang terkandung di dalam pedangnya begitu pedang itu menancap dengan lancar di salah satu tentakel gurita itu.


Dalam sekejap, gurita itu membeku dan berubah menjadi patung es yang sangat menjijikkan sehingga tak ada seorang pun mau menyimpannya.


Tak berhenti di sana, Olivia juga menciptakan beberapa pedang lain yang juga ia tancapkan ke semua musuh yang mendekat. Membuat mereka semua merasakan nasib yang sama dengan gurita itu.


—Menjaga apa yang menjadi milikku … Aku akan melakukannya. Aku akan menjaga diriku sendiri agar Noelle bisa kembali padaku setiap saat.


Meskipun tubuhnya bergerak dengan sangat lincah untuk menghabisi semua musuhnya, pikiran Olivia sendiri masih berada di tempat lain.


Berbagai ingatan tentang masa lalu mulai membanjiri kepalanya, seolah mendorong suatu perubahan yang ada pada dirinya.


—Aku akan menjaga tempat untuk Noelle kembali. Dengan begitu, kita akan selalu bersama.


Mungkin mendapatkan keabadian telah menjadi berkah tersendiri bagi Olivia. Karena, kalimat 'bersama selamanya' tidak akan menjadi hayalan belaka.


Secara harfiah, mereka akan terus bersama untuk waktu yang sangat lama. Belasan, puluhan, atau bahkan ratusan tahun. Hanya dengan membayangkan kalau ia akan bersama Noelle untuk waktu selama itu saja sudah cukup untuk membuat kepala Olivia diisi oleh kegembiraan.


—Benar. Kita akan selalu bersama. Aku tidak akan pernah melepaskan diri dari Noelle, dan aku juga tidak akan membiarkan Noelle lepas dariku. Tidak ada yang bisa mengganggu hal mutlak itu!


Kepalanya begitu diisi oleh kebahagiaan dalam dosis besar sehingga senyum di wajahnya semakin melebar, bibirnya itu tampak seperti akan robek kapan saja.


Tidak ada keraguan dari gerakannya. Semua gerakan yang ia lakukan untuk menghabisi musuhnya, dilakukan dengan sangat alami hanya dengan memanfaatkan insting dan nalurinya belaka.


Tentu saja, emosi yang ia rasakan saat ini juga sangat berpengaruh dalam pergerakannya itu.


Olivia tanpa ragu menusukkan pedangnya ke kepala salah satu orang yang ia nyatakan sebagai musuhnya. Dan seperti sebelumnya, kepala orang itu seketika meledak dengan menyemburkan darah dalam jumlah besar.


Karena kepalanya yang sudah dipenuhi oleh kegembiraan pada tingkat 'gila', Olivia sudah tidak mempedulikan situasi di sekitarnya.


Dia hanya terus mengayunkan senjatanya, dan menciptakan banyak kubus hitam lainnya untuk menghancurkan semua musuh yang ada.


Namun, itu juga dapat berefek buruk padanya.


Belum terlalu lama sejak Olivia mempelajari bagaimana mengendalikan energi negatif dalam bentuk padat. Karena itu, pengendaliannya terhadap kekuatan itu masih belum terlalu baik.


Hanya menunggu waktu sampai Olivia akhirnya kehabisan tenaga dan mengembalikan kesadarannya seperti sedia kala.


Tampaknya, memanfaatkan energi negatif dalam jumlah besar seperti itu juga tidak bagus untuk pikirannya.


Itu terbukti dengan Olivia yang semakin lama menjadi semakin tidak terkendali, sehingga bahkan tidak mampu menyadari kehadiran sosok humanoid raksasa yang diam-diam mendekatinya.


Sosok humanoid itu memiliki perawakan yang tidak jelas. Semua tubuhnya ditutupi asap hitam aneh, dengan garis-garis biru terang di beberapa tempat di tubuhnya.


Makhluk itu mengayunkan lengannya seperti sebuah cambuk, mengarah tepat pada Olivia.


Namun, serangan itu sama sekali tidak mencapai tubuh Olivia, berapa lama pun waktu berlalu.


Itu dikarenakan lengan makhluk itu telah terpotong dengan sangat rapih tanpa meninggalkan sedikit pun noda.


Dan sosok dibalik hal itu kini berhadapan langsung dengan monster humanoid raksasa itu.


Noelle menatap monster itu tanpa ada sedikit pun cahaya pada matanya. Benar-benar tatapan yang kosong, dan tak bernyawa.


Pedang hitam dengan panjang kurang lebih 1,5 meter yang dia genggam di tangan kanannya tampak mengeluarkan aura yang mengerikan, sementara pedang perak yang menggantung di pinggangnya tampak bersinar dengan cahaya yang menyilaukan.


Beberapa pedang terlihat sedang melayang di sekitar tubuhnya, layaknya sebuah satelit.


Sosok Noelle tiba-tiba menghilang, dan kembali muncul tepat di depan wajah monster itu. Noelle tnpa mengatakan apa pun lagi segera mengayunkan pedangnya sekuat tenaga, dan menebas mata yang bersinar dengan cahaya biru itu.


"Harga yang harus kau bayar untuk menyakiti keluargaku, adalah nyawamu."


...****************...