[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 315: Diskusi Pria (1)



...****************...


Sudah larut malam. Satu-satunya tempat yang miliki penerangan di bekas ibu kota ini adalah tempat yang Rudra jadikan rumah. Karena itu, jika seseorang melihat dari kejauhan, mereka tidak akan melihat apa pun selain satu lentera kecil yang berkilau di kejauhan.


Tapi kegelapan ini mungkin ada bagusnya. Noelle melihat ke luar jendela, menatap langsung pada deretan bintang yang bertebaran di angkasa.


Sulit untuk menebak di mana bintang utara. Atau bahkan bintang itu memang tidak ada sejak awal.


Noelle menghela napas saat ia membakar pemandangan itu di ingatannya, berusaha untuk tidak terlalu terganggu olehnya.


Api unggun kecil di dalam ruangan itu berderak saat Rudra menambahkan kayu bakar, dan Tania yang melihatnya pun perlahan menutup mata.


Pemandangan, suara, dan sensasinya begitu menenangkan sehingga Tania tidak lagi bisa menahan kantuk.


Dengan bantal pangkuan dari Noelle, dia pun perlahan tertidur.


Melihat Tania sudah tertidur pulas di pangkuannya, Noelle berusaha memastikan apakah Tania terselimuti dengan baik, lalu dengan lembut menepuk kepalanya beberapa kali.


"Apa hubungan kalian? "


Rudra tiba-tiba bertanya. Nada suaranya yang hampir terdengar datar itu sangat menyulitkan. Noelle sama sekali tidak bisa menebak apa yang dia pikirkan.


Tetapi Noelle mengabaikan keresahannya itu dan fokus menjawab pertanyaan yang diajukan Rudra.


"Rekan … kurasa? "


"Kenapa kau malah terdengar ragu? "


Kali ini, meski sedikit, Noelle bisa mendengar kepasrahan dari Rudra. Mungkin karena jawaban Noelle tidak cukup memuaskan, jadi dia pun berusaha meluruskan maksudnya.


"Entahlah, kami belum terlalu lama saling kenal, tapi kami sudah mengalami banyak hal bersama. Oh, selain itu, kami juga punya keterkaitan yang sulit untuk dijelaskan."


Sejauh ini, dia dan Tania tidak lebih dari dua orang yang menjalin hubungan kerja sama yang saling menguntungkan. Tania membantu Noelle, dan Noelle membantu Tania.


Atau setidaknya begitulah pada awalnya. Namun sekarang, semua mungkin akan berubah.


Tania sedikit demi sedikit mendapatkan kembali ingatannya. Itu lebih cepat dari yang Noelle alami. Jika Noelle hanya mendapatkan pecahannya saja melalui mimpi, Tania tampaknya mendapatkan satu mimpi kompleks yang menjelaskan semuanya sekaligus.


Dan dari hal itu, mereka tahu kalau mereka berdua memiliki keterkaitam satu sama lain di bawah nama EGOIST dan Intaurus.


"Apa kau mempercayainya? " tanya Rudra.


Noelle lagi-lagi dibuat bingung. Apa tujuan Rudra menanyakan semua ini?


Mungkin tidak pernah terbesit di pikiran Noelle kalau Rudra saat ini sedang mencari bahan obrolan untuk mengisi waktu.


"Entahlah. Aku bisa mempercayakan banyak hal padanya, tapi aku belum bisa menggantungkan hal-hal penting seperti nyawaku sendiri pada Tania."


Selain dari itu, ada satu hal yang membuat Noelle masih agak waspada pada Tania.


Itu terkait dengan latar belakangnya yang pernah masuk ke tempat yang disebut 'Dunia Bawah'. Selain itu, dia juga merupakan bagian dari Asterisk, jadi bisa dibilang kalau Tania juga abadi, meski belum diketahui dengan cara apa dia mencapai hal itu.


Pada akhirnya, Tania adalah keberadaan yang masih penuh dengan misteri. Noelle bahkan tidak mengetahui satu pun latar belakangnya, atau tujuannya saat dia berkata ingin menaklukkan setiap dungeon yang muncul.


"Ini jadi membingungkan," ungkap Rudra saat dia menyilangkan lengannya, terlihat berpikir keras sambil duduk bersila.


Noelle hanya bisa tersenyum pahit karena dia sendiri menyadari kalau itu benar.


"Kau sendiri … bagaimana kau bisa membangun hubungan yang baik dengan semua orang? Aku cukup yakin kau tidak memiliki banyak musuh di dalam kerajaan."


Rudra mengangguk. "Dalam kasusku, aku mempercayai siapa pun yang tunduk dan hormat pada Yang Mulia. Jadi meski dia musuh, selama dia mempercayai Yang Mulia, aku masih akan memberinya kesempatan untuk kepercayaan."


Itu hebat. Membangun kepercayaan hanya bermodalkan kesamaan dalam rasa hormat pada seseorang. Noelle yakin kalau Rudra adalah satu-satunya yang memiliki pemikiran begitu.


Sekarang sudah jelas, Rudra, dan semua orang di suku Artof adalah sekelompok orang yang fanatik pada Ratu Bengis, atau Ratu Clament.


Noelle pun tertawa kecil, bersama dengan Rudra yang juga tertawa untuk alasan yang tidak jelas.


"Ngomong-ngomong, bagaimana kau masih bisa hidup sampai saat ini? "


Masih dalam suasana yang baik, Noelle tiba-tiba bertanya dan membuat Rudra bingung untuk menjawabnya.


"Kenapa kau menanyakan itu? "


"Aku hanya penasaran. Di dunia luar, sudah lebih dari enam ratus tahun berlalu semenjak Kerajaan Fortenia mengalami kejatuhan."


Menatap bara api yang berkilau, Noelle melanjutkan kata-katanya, "Suku Artof yang kuceritakan, mereka memiliki hubungan dengan Kerajaan Fortenia karena mereka merupakan keturunan dari semua penduduk yang berhasil kau selamatkan. Tapi kau, aku sangat penasaran, bagaimana kau bertahan hidup? "


Sementara Ratu Clament berubah identitas menjadi Ratu Bengis, sosoknya masih berdiri di jembatan yang menghubungkan antara kehidupan dengan kematian. Dia hidup, tapi pada saat yang sama juga tidak. Itulah situasinya.


Tapi Rudra tidak begitu. Dia tidak menjelma menjadi dewa lokal atau sesuatu yang mirip seperti itu. Dia juga tidak memiliki keturunan karena dialah satu-satunya yang tersisa di ibu kota Kerajaan.


600 tahun lebih berlalu, tapi Rudra masih hidup. Jelas kalau ini membingungkan.


Setelah banyak berpikir, Rudra akhirnya menjawab.


"Tentang itu … aku juga tidak tahu. Ingatan terakhirku adalah ketika aku membantu membuka jalan agar Yang Mulia dan semua orang bisa keluar dengan selamat."


Hal terakhir yang Rudra ingat adalah punggung dari penduduk terakhir yang berhasil dia selamatkan. Setelah melihat itu, dia pun jatuh pingsan.


Atau setidaknya itulah yang Rudra ingat. Dia tidak tahu apakah ada yang salah dengan ingatannya atau tidak, tapi dia bicara jujur pada Noelle.


"Saat aku tersadar, zirah ini sudah menempel di tubuhku. Aku tidak pernah bisa melepasnya bahkan ketika aku memaksa."


Rudra memperhatikan telapak tangannya yang kini merupakan lapisan logam hitam itu.


Zirah itu tidak mau lepas, seperti menempel langsung pada tubuhnya. Ada juga kristal ungu kehitaman yang tumbuh di beberapa titik, tapi kelihatannya Rudra sama sekali tidak terinfeksi.


Sejujurnya, jawaban ini sama sekali tidak memuaskan Noelle. Tapi setidaknya dia berhasil mengumpulkan petunjuk yang mungkin bisa menjadi jawabannya.


"Apa kau pernah menyelidiki bagaimana kau masih bisa hidup sampai sekarang? "


"Bodoh kalau aku tidak menyelidikinya," jawab Rudra singkat.


Dari pengakuan Rudra, Noelle jadi tahu kalau Rudra pernah berkali-kali berusaha melihat ke dalam zirahnya, tapi dia merasa ada kabut tebal yang menutupi itu. Dan saat dia memeriksa melalui cermin, apa yang Rudra lihat sekilas sudah cukup untuk mengejutkannya.


Sebagai percobaan, Noelle mengeluarkan cermin kecil dari gudang spasial, dan mengarahkannya pada Rudra.


Mengejutkan, tidak ada apa-apa di cermin itu, selain penampakan dinding dan berbagai benda yang ada di belakang Rudra.


Tidak ada zirah yang sedang duduk di cermin itu. Seolah, Rudra memang tidak ada di sana sejak awal. Jelas kalau ini merupakan reaksi magis.


Ada sesuatu yang menyebabkan sosok Rudra tidak bisa dilihat melalui cermin. Dan tidak hanya cermin, sosok Rudra menjadi transparan ketika berhadapan pada permukaan objek yang memantulkan cahaya; seperti plat logam, sendok, dan lain-lain.


Mendengar semua itu, Noelle berusaha tidak mengatakan apa yang ada di pikirannya, dan justru secara diam-diam menggunakan《Clairvoyance》untuk membuktikan pemikirannya sendiri.


Skill itu Noelle gunakan untuk mengintip apa yang ada di dalam zirah Rudra, dan hasilnya, tidak ada apa pun di sana. Benar-benar hanya zirah kosong tanpa satu pun jejak objek yang bersifat biologis seperti tubuh manusia.


Melihat itu sudah cukup bagi Noelle untuk membuat kesimpulannya sendiri.


Saat Rudra berjuang untuk menyelamatkan mereka yang masih hidup, dia benar-benar sudah dalam keadaan kritis. Dan ketika dia bangun dari pingsan, tubuhnya entah bagaimana lenyap dan jiwanya sendiri menempel pada zirah yang dia kenakan.


Karena itulah Noelle tidak bisa melihat apa pun di balik Zirah Rudra, dan karena itu pula hawa keberadaan Rudra terasa begitu aneh jika dibandingkan dengan orang lain; itu kuat, tapi juga cukup tipis sehingga bisa luput dari perhatian kalau Noelle tidak fokus.


Noelle tidak memiliki cara untuk menjelaskan fenomena ini.


Memang, secara teori ini mirip dengan pembuatan golem, yang memberikan 'kehidupan semu' pada sebuah objek. Namun, Noelle benar-benar tidak mengerti bagaimana tubuh Rudra bisa terdegradasi sepenuhnya dan jiwanya menempel pada zirah itu.


Jika pembuatan golem adalah dengan menciptakan kehidupan semu dengan menanamkan perintah sederhana yang akan dilakukan, maka sesuatu yang terjadi pada Rudra lebih layak untuk disebut 'menanamkan jiwa lengkap pada sebuah objek'.


Konsep itu terdengar tidak asing di telinga Noelle.


Dia kemudian ingat kalau pernah ada satu sosok yang bisa melakukan itu.


Dengan meminum darah yang mengandung jiwa Raja Vampir, tubuh orang yang meminum itu akan langsung dikendalikan tanpa sedikit pun keraguan. Noelle juga nyaris mengalami itu. Tetapi alih-alih dikendalikan, jiwa Raja Vampir yang masih hidup itu justru disapu bersih oleh berkah Anastasia.


Meski terdengar mustahil, itu masih masuk akal di telinga Noelle. Karena apa yang Raka Vampir lakukan adalah memindahkan jiwanya ke darahnya sendiri, sesuatu yang memiliki keterkaitan erat dengannya.


Dikatakan bahwa darah mengandung informasi mengenai jiwa, tapi Noelle tidak tahu seberapa banyak itu. Jiwa juga mengandung informasi DNA, jadi pemeriksaan langsung bisa dilakukan.


Tetapi, apa yang terjadi pada Rudra benar-benar berkebalikan.


Jiwanya tertanam pada suatu objek yang sedang dia kenakan menjelang kematian.


(Keterkaitan yang erat, entah kenapa itu terdengar agak aneh.)


Meski itulah yang Noelle pikirkan, dia justru mendapatkan ide tambahan.


"Hei, Rudra … apa kau punya perasaan yang kuat untuk zirah ini? "


Noelle menggunakan stik kayu untuk memainkan api unggun, dan Rudra hanya dalam diam memperhatikannya. Namun, pertanyaan itu membuat Rudra kembali menghadap wajah Noelle.


"Aku mendapatkan zirah ini dari Yang Mulia Raja, ayahanda dari Yang Mulia Ratu Clament. Ini adlah hadiah yang kudapatkan setelah tiga puluh tahun pengabdianku pada Kerajaan."


Tambahan dari Rudra, rupanya Rudra telah menjadi anggota kesatria Kerajaan Fortenia pada saat umurnya masih 13 tahun. Itu disebabkan oleh garis keluarga yang memang merupakan pengawal setia keluarga kerajaan.


Pada usia yang masih sangat muda, Rudra memiliki bakat yang sangat tinggi untuk memegang senjata. Cara berpikir dan loyalitasnya terhadap keluarga kerajaan juga begitu tinggi, sehingga Rudra diangkat menjadi komandan seluruh pasukan pada saat usianya masih 24 tahun.


Melihat dari alur waktunya, Rudra sudah melayani kerajaan bahkan sebelum Ratu Clament lahir.


(Mungkin itu alasannya …. Oh, tidak, tunggu dulu, ini belum cukup.)


Noelle mengerutkan keningnya saat dia menggertakkan giginya sendiri. Jawaban yang Rudra berikan belum cukup untuk membawanya pada jawaban yang dia butuhkan.


Hanya karena Rudra menganggap zirah nya sebagai harta yang sangat berharga, bukan berarti jiwanya sendiri akan secara otomatis menempel pada zirah itu.


Selain itu, jawaban yang Noelle pikirkan belum menjelaskan mengapa Rudra tiba-tiba kehilangan semua tubuhnya saat dia sadar dari pingsan.


Ketika seseorang mati, jiwa mereka akan terkirim ke suatu tempat yang disebut 'Zona Nol', yang kemudian akan memasuki lingkaran reinkarnasi.


Tidak mungkin ada kecelakaan di mana sebuah jiwa gagal kembali ke Zona Nol, dan justru menempel pada sebuah objek di dunia fana.


Kecuali, ada seseorang yang merancang ritual untuk itu.


(Oh, tidak. Kebiasaan burukku muncul.)


Noelle menggelengkan kepalanya, berusaha menyingkirkan semua pikiran yang mulai keluar jalur.


Tidak akan ada hasilnya jika dia terus berpikir seperti itu. Noelle memilih untuk menyingkirkan masalah ini sejenak.


Sambil memainkan bara api unggun, Noelle memutuskan untuk tidak memberitahukan pemikirannya pada Rudra. Bagaimanapun, ini masih belum pasti, dan akan sangat menyakitkan jika Rudra mengetahuinya.


Akan lebih baik untuk merahasiakan ini samai waktu untuk mengungkapkannya tiba.


Tangannya yang memegang stik untuk memainkan bara api tiba-tiba terdiam. Tatapannya pun jatuh pada wajah Tania yang sedang tertidur pulas.


(Kau benar-benar lengah.)


Tania terlihat seperti sama sekali tidak peduli dengan bahaya. Dia mempercayakan semuanya pada Noelle, yang kini pangkuannya dia jadikan bantal untuk tidur.


Noelle pun menyisir dan merapihkan poni panjang Tania dengan jari-jarinya, lalu mengalihkan pembicaraan.


"Ngomong-ngomong, apa tombakmu itu senjata sihir? Aku melihat itu berteleportasi beberapa kali saat menyerang."


"Itu benar. Tombak ini diberikan padaku oleh Yang Mulia Raja sebagai hadiah kenaikan jabatanku."


"Kenaikan jabatan … itu saat usiamu dua puluh empat tahun, 'kan? Di usia itu, kau sudah mendapatkan hadiah yang luar biasa dari Raja? "


Noelle tidak terlalu tertarik dengan sejarahnya, tapi tombak itu sendiri cukup menarik sehingga Noelle bisa tahan dengan topik ini.


"Bisa memegang tombak ini adalah sebuah kehormatan. Tombak ini awalnya dimiliki oleh Raja pertama, sekaligus pendiri Kerajaan Fortenia. Beliau menggunakan tombak ini saat peperangan besar melawan raja iblis."


Mengesampingkan Noelle yang cukup bosan dengan sejarahnya, Rudra sepertinya menganggap itu sebagai hal yang sangat luar biasa. Ini membuat Noelle jadi tidak ingin mengganggunya.


"Tombak ini memberikan penggunanya kekuatan untuk memanipulasi ruang dan kegelapan. Ini adalah tombak yang luar biasa, sehingga seharusnya diwariskan kepada setiap generasi. Tapi …."


Generasi itu sendiri sudah hancur. Hanya Rudra yang tersisa.


Dia tidak bisa mempercayakan harta peninggalan yang sakral itu pada siapa pun.


(Mengendalikan ruang dan kegelapan …. Tidak salah lagi.)


Noelle jadi semakin yakin setelah mendengarnya.


Tidak salah lagi, kemampuan dan penampilan tombak itu sangat sesuai dengan deskripsi salah satu senjata seri bintang.


Tombak hitam yang memberikan penggunanya kemampuan untuk mengendalikan ruang dan kegelapan, menghasilkan metode dan gaya serangan yang tak terhitung jumlahnya.


Jelas, itu adalah tombak Begwun, yang merupakan salah satu senjata bintang, sama seperti kedua pedang Noelle dan sabit Tania.


"Jadi di sinilah dia berada …."


Noelle tertawa kecil saat dia melihat tombak di lantai seperti bergetar kecil seolah sedang bersemangat.


Noelle tahu kalau masing-masing senjata bintang telah terpencar semenjak berakhirnya serangan makhluk dari luar angkasa yang terjadi jauh di masa lalu.


Semua senjata itu awalnya disimpan dengan baik, tapi kemudian tersebar ke seluruh penjuru karena berbagai alasan, yang kemudian beberapa di antaranya dipertemukan kembali pada saat peperangan melawan raja iblis.


Tapi kemudian, semua senjata itu kembali terpisah.


Langen, Verstand, dan Achto mungkin cukup beruntung karena berada di satu tempat yang sama. Sedangkan Centipede entah bagaimana jatuh ke tangan keluarga Zernroden, dan Geist di tangan keluarga Light di Nothernos.


Yang paling membuat Noelle penasaran sekarang adalah asal-usul sabit Zephiroth.


Tania sama sekali tidak mengatakan apa pun tentang itu.


Di sisi lain, Rudra terlihat bingung dengan Noelle yang tiba-tiba tertawa.


"Apa kau tahu sesuatu tentang tombak ini? "


Noelle selesai tertawa dan dengan senyum senang di wajahnya, dia menjawab, "Tentu saja aku tahu. Nama resmi tombak itu adalah tombak Begwun. Itu adalah salah satu senjata yang diciptakan dalam peradaban kuno."


Noelle kemudian menunjukkan dua pedangnya sendiri dalam wujud yang utuh.


"Kau mungkin bingung, tapi kedua pedangku, dan sabit yang Tania gunakan itu berasal dari era yang sama. Masing-masing senjata juga memiliki kekuatan yang berbeda, dan tingkatannya juga lebih tinggi dari kelas artefak biasa."


Artefak memiliki batasan kemampuan, sedangkan kekuatan senjata bintang bersifat permanen dan mutlak. Kemampuan senjata bintang tidak akan hilang kecuali saat ditabrakkan dengan sesama senjata bintang. Ketika itu terjadi, kedua senjata yang beradu akan saling menetralisir efeknya.


Noelle menjelaskan itu semua dengan santai, sedangkan Rudra fokus mendengarkan.


"Salah satu pedangku memiliki kemampuan untuk memotong apa saja, tapi kekuatannya dinetralkan ketika bersentuhan dengan tombakmu. Apa kau sudah mengerti sekarang? "


Rudra mengangguk. "Aku tidak tahu dari mana kau mengetahui semua itu, tapi itu luar biasa."


"Oh, ya, berhati-hatilah saat kau menyentuh sabit Tania. Itu memiliki kekuatan untuk menetralisir sihir apa pun, aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi kalau kau menyentuhnya."


Noelle memang masih belum bisa memastikannya. Tapi jika jiwa Rudra benar-benar hidup di dalam zirah itu berkat ritual sihir, maka lebih baik untuk menjauhkan Zephiroth darinya.


Kemampuan penyerapan energi magis Zephiroth benar-benar mengerikan. Noelle merasakan dirinya bisa kering hanya dengan bersentuhan dengannya selama beberapa detik.


"Terima kasih untuk peringatannya. Akan kuingat itu."


Sementara Rudra berterima kasih padanya, Noelle telah memperbaiki posisi tangan Tania agar itu tidak tertimpa dan menyumbat aliran darah. Tentu saja, dia juga memastikan untuk tidak bersentuhan dengan Zephiroth yang menggantung di pergelangan tangan Tania sebagai aksesoris.


...****************...