![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
"Noelle! "
Ketika Noelle sedang berlari menuju ruangan penyimpanan, Norman berteriak memanggilnya dari belakang.
Noelle menoleh dan berhenti, bertanya-tanya mengapa Norman mengejarnya.
"Aku akan ikut denganmu."
" ……… "
Apa yang Norman katakan secara tiba-tiba itu sedikit terlalu mengejutkan bagi Noelle, sehingga dia hanya bisa menatapnya dalam diam, sedang memproses maksud perkataannya tadi.
" … Apa maksudmu? "
Begitu Noelle memahami maksudnya, dia langsung mengerutkan keningnya dan menatao Norman dengan bingung.
Norman, bagaimanapun dia hanya merespon Noelle dengan mengangkat bahunya.
"Seperti yang kukatakan. Aku akan ikut denganmu untuk menyelamatkan Cryll."
" … Apa tujuanmu? "
Itu adalah pertanyaan yang sangat penting bagi Noelle. Jika dia tidak tahu tujuan Norman yang sebenarnya, maka ia tidak bisa memberikan izin padanya.
Namun, Norman hanya meresponnya dengan helaan napas lelah.
"Bung, kau benar-benar memiliki masalah krisis terhadap kepercayaan, ya? Jike memang begitu, bagaimana kalau aku mengatakan aku ingin menghabisi semua musuh yang terlibat dalam tindakan yang tidak manusiawi ini? "
Meskipun tidak terlalu banyak, Norman telah melihat beberapa kebenaran tentang tempat ini. Semua kebenaran yang ia ketahui itu sudah cukup baginya untuk membuat suatu keputusan drastis seperti menghabisi musuh.
" ……… "
Mereka dalam diam saling menatap. Bagaimanapun, Noelle tidak terlalu mempercayai apa yang Norman katakan.
Dia sudah memiliki gambaran kasar tentang orang seperti apa Norman sebenarnya
Dibandingkan saat ia masih menjadi Saki Arata di bumi, dia telah mengalami perkembangan yang luar biasa dalam cara berpikir dan emosinya.
"Jika kau benar-benar ingin menghabiskan waktu di sini hanya untuk berpikir, maka silahkan lakukan. Aku akan pergi ke tempat Cryll lebih dulu."
Norman berjalan melewati Noelle yang masih terdiam. Ini adalah bagian dari triknya agar Noelle mengizinkannya untuk ikut.
"Tunggu."
Dan seperti yang ia duga, Noelle berbalik dan memanggilnya.
"Kau boleh ikut. Tapi, aku akan meninggalkanmu jika kau menjadi beban."
"Heh, memangnya dengan siapa kau mengatakan itu? "
Keduanya mengeluarkan senyuman tajam secara bersamaan, dan langsung menggunakan itu untuk mengakhiri pembicaraan.
Noelle lebih dulu berlari menuju tujuannya sebelumnya, dan Norman mengikutinya dari belakang.
Jarak antara lokasi mereka sebelumnya dengan tempat penyimpanan tidak terlalu jauh. Hanya dengan lima menit berlari dengan kecepatan normal, mereka sudah sampai di sana.
Noelle memperhatikan pintu logam besar yang menghalangi jalannya, dan bersiap untuk menghancurkan itu.
"Aku hari kau tidak keberatan jika aku menghancurkan pintu ini."
"Tidak akan ada yang keberatan dengan itu, kau tahu? "
Mendengarnya, Noelle tersenyum sejenak, sebelum akhirnya maju menghunus Langen di tangannya ke arah pintu itu.
Sama seperti yang sudah terjadi sebelumnya, pintu itu langsung hancur begitu bertabrakan dengan ujung Langen yang tajam. Norman hanya bisa melihat kekuatan pedang itu sebagai sesuatu yang mengerikan, tidak lebih dan tidak kurang.
"Ayo," ucap Noelle sambil kembali menggantungkan Langen di punggungnya.
Norman mengangguk. Dan dengan begitu, mereka berdua pun memasuki ruang penyimpanan.
Hal pertama yang menyambut mereka di sana adalah rak logam yang berbaris dengan rapuh, diisi dengan tumpukan senjata yang tampaknya masih dalam kondisi yang bagus.
"Apa yang kita cari? " tanya Norman.
Dia memang berniat mengikuti Noelle untuk menyelematkan Cryll, tapi tak pernah mengira akan datang ke tempat ini.
"Senjata yang Cryll gunakan. Dalam bentuk normal, itu seperti bolam berwarna ungu kehitaman biasa, tapi itu juga bisa berubah bentuk menjadi lempengan tipis."
"Seperti benda ini? "
"Apa—"
Noelle tak bisa menghentikan dirinya dari membuat ekspresi tercengang pada Norman. Matanya fokus pada benda yang ada di tangan Norman.
Apa yang ada di sana, adalah benda yang Noelle cari.
Bentuknya seperti bola, dan ukurannya sedikit lebih besar dari genggaman tangan orang dewasa. Tidak salah lagi, itu adalah Sword Geist dalam bentuk penyimpanannya.
" … Di mana kau menemukannya? "
Noelle dengan waspada bertanya, tapi Norman dengan santainya justru menunjuk pada satu titik.
"Rak pertama yang kita lihat. Aku melihat ini di bagian paling bawah."
Noelle kemudian mengambil Geist dari Norman, dan memperhatikannya. Tidak ada yang salah. Hanya saja, Noelle dapat melihat goresan di beberapa titik.
Mungkin karena itu sudah dibanting berkali-kali. Geist adalah salah satu Star Series seperti Langen dan Verstand, jadi yang bisa menggunakannya hanyalah orang yang telah dipilih oleh senjata itu secara langsung.
Kemungkinan tidak ada orang yang bisa menggunakannya di pihak musuh, jadi mereka hanya membantingnya dengan kesal dan memilih untuk menyimpannya di tempat penyimpanan.
Untungnya, mereka tidak membawa Geist bersama mereka ketika melarikan diri dari markas ini.
Noelle mengangguk, dan langsung memasukkan Geist ke dalam penyimpanan spasial miliknya.
Norman berpikir kalau urusannya sudah selesai, jadi ia bersiap untuk keluar. Tapi, Noelle justru berlari masuk semakin dalam dan menyentuh semua senjata yang ada di sana.
"Apa yng kau lakukan? "
"Mengisi persediaan."
Begitu dia selesai memeriksa dan menyentuh semua senjata di sana, Noelle langsung mengaktifkan sihir spasial berskala besar yang menelan semua rak beserta senjata itu ke dalam penyimpanannya.
Musuh meninggalkan banyak senjata di tempat ini, setidaknya itu adalah berita bagus untuk Noelle. Dengan begitu, ia tak perlu mengeluarkan uang demi membeli senjata sekali pakai.
"Baik, ayo keluar."
" ……… "
Norman hanya bisa menggeleng pasrah saat menyaksikan Noelle mengambil semua kesempatan yang ada di depan matanya.
Mereka berdua kemudian keluar dan berlari ke tujuan mereka sebelumnya, yaitu tempat Cryll berada.
...****************...
"Di sana."
Setelah berlari untuk beberapa menit, mereka berdua akhirnya sampai di tempat yang memiliki menara dan tangga yang mengarah ke atas.
Tangga itu memiliki bentuk spiral dan tanpa pegangan, jalurnya juga sempit sehingga akan sangat berbahaya jika mereka berlari tanpa perlindungan.
Noelle mengeluarkan dua barang dari gudang spasialnya, dan memberikan salah satunya pada Norman.
"Biasanya Cryll yang menggunakan ini, jadi aku tak tahu apa itu sesuai denganmu atau tidak. Tapi … Untuk sekarang, cobalah menggunakannya."
Apa yang baru saja Noelle berikan padanya adalah sebuah pelindung lengan yang terbuat dari kulit dan dilapisi pelat logam ringan. Namun, bukan itu yang menjadi perhatian Norman.
Ada benda lain yang menempel di pelindung lengan itu. Bentuknya seperti balok, dan ada lubang kecil di bagian depannya.
Norman melihat Noelle yang sudah memakainya di lengannya sendiri, dan menjadi tertarik untuk mencobanya.
Begitu dia selesai memakainya, dia mengayunkan lengannya beberapa kali untuk membiasakan diri dengan beratnya.
"Benda apa ini? " tanya Norman.
Noelle tak menoleh padanya, dan justru melihat ke atas, ke ujung tangga yang ada jauh di atas sana.
"Alat pengaman. Dengan memakai itu, keseimbanganmu akan menjadi stabil saat di ketinggian. Dan jika kau terjatuh, kau bisa menggunakannya dengan cara ini."
Noelle mengarahkan tangannya ke depan, dan lubang kecil yang berada di arah yang sama di balik itu segera menembakkan sebuah rantai yang pada akhirnya menancap di dinding.
"Grappling hook? "
"Sesuatu seperti itu."
Noelle mengangguk, dan menarik kembali jangkar itu ke dalam pelindung lengannya.
"Baik, ayo naik."
Mereka berdua mengangguk, dan langsung berlari menaiki tangga itu dengan hati-hati.
Sejauh ini, semua berjalan tanpa masalah. Mereka mencapai lantai 3 seperti yang ada di informasi yang Rico berikan pada mereka.
"Sekarang, di mana ruangannya … "
Berdasarkan informasi yang Rico dapatkan dari salah satu musuh, setiap lantai seharusnya memiliki kurang lebih 20 ruangan. Yang artinya, Cryll ada di salah satu ruangan itu.
"Tidak ada gunanya berdiam diri di sini. Lebih baik kita periksa semuanya."
"Dengan cepat? "
"Tentu."
Noelle mengeluarkan beberapa pedang, dan membiarkan itu melayang di sekitarnya. Dia kemudian berlari dan menendang salah satu pintu ruangan yang ada di sana.
Apa yang ada di balik pintu logam itu adalah sebuah ruangan besar. Besar, tapi menjijikkan.
Norman bisa merasakan perutnya yang tiba-tiba bergejolak memaksa untuk mengeluarkan semua yang ada di dalamnya.
Darah, dan daging yang telah membusuk berserakan. Tak hanya itu, tulang belulang manusia yang tengah dihinggapi beberapa makhluk kecil seperti belatung juga ada di sana.
Noelle mengubah pikirannya yang ingin memeriksa ruangan itu, dan langsung melemparkan sebuah bom ke sana.
Sebelum bom itu meledak, ia langsung menutup pintu itu dan menggunakan beberapa pelat logam lain untuk meredam ledakannya.
"Pemandangannya membuatku mual. Ayo periksa pintu yang paling mencolok itu."
Noelle menunjuk ke depan, dan membuat perhatian Norman mengarah ke sana.
" … Kau benar."
Tempat itu memang menjadi yang paling mencolok dari semua yang ada di sana.
Pintunya lebih besar, dan mereka berdua bisa merasakan hawa keberadaan dari dalamnya. Jelas kalau ruangan itulah yang mereka cari.
Noelle menarik Langen yang masih dalam bentuk katana itu, dan bersiap menyerang.
"Barsio, ya? Aku tidak tahu seberapa kuat orang itu. Tapi, ada baiknya kita berhati-hati."
"Kau benar," kata Norman sambil ikut bersiap dengan pedangnya sendiri.
"Aku lupa memberitahumu. Jangan panggil aku Noelle di sana. Sekarang, kau harus memanggilku Cryll."
" … Apa aku boleh menanyakan alasannya? "
"Kau pikir kita punya waktu sebanyak itu? "
" … Tentu tidak, haha."
Norman hanya mampu tertawa kering dan menuruti kata-kata Noelle.
Berikutnya, ujung pedang mereka menabrak pintu besar itu dan menghancurkannya dalam seketika.
"Yo, keparat. Kalian benar-benar datang."
Bukan musuhnya yang menyambut mereka, melainkan Cryll seorang yang diikat di sebuah kursi.
Cryll tersenyum sengit sambil menatap mereka berdua. Norman tampak bernapas dengan lega, dan melengahkan penjagaannya sebelum akhirnya menghampiri Cryll.
Namun, dia ditahan oleh Noelle.
"Apa? "
Norman bingung dengan tingkah Noelle, tapi Noelle hanya mengabaikannya dan berbicara pada Cryll.
"Kau kelihatannya baik-baik saja. Apa aku benar-benar harus menyelamatkanmu? "
"Menurutmu? "
"Entahlah. Kau sudah membuat banyak masalah, jadi aku harus turun tangan langsung untuk menyelesaikannya."
Norman melihat bolak balik antara Noelle dan Cryll. Dia tidak mengerti maksud percakapan mereka. Namun, dia tetap tak dapat menyela karena ia merasa ini adalah percakapan yang penting.
"Itu bagus. Maaf membuatmu repot. Dan ngomong-ngomong, apa di luar sedang turun badai? "
"Ya. Benar-benar badai yang buruk."
(Apa yang mereka bicarakan? Dan juga, bukankah di luar sedang cerah sekarang? )
Tanpa mengatakan apa pun, Norman hanya mendengarkan percakapan mereka.
"Begitu, ya."
Keheningan melanda mereka. Tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Noelle dan Cryll hanya saling menatap untuk beberapa saat, lalu mengangguk.
(Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan! )
Belum sempat Norman mengungkapkan isi pikirannya, Noelle telah menarik kerah bajunya dan melompat jauh ke belakang.
Dia bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, tapi langsung mengerti setelahnya.
Di tempat mereka berdiri sebelumnya, telah ditumbuhi beberapa tombak yang sangat tajam, menghunus ke atas dari lantai.
"Apa yang terjadi? "
Norman memperbaiki posisinya dan bersiap untuk menyerang. Namun, Noelle melarangnya untuk bergerak.
"Itu luar biasa. Kalian bisa menghindar tepat waktu."
Seorang pria muncul dari balik pintu yang ada di belakang Cryll.
Fisiknya besar. Hampir sebagian besar tubuhnya ditutupi oleh ototnya belaka. Di tangannya, ia memegang sebuah tombak hitam yang ujungnya sedang menancap di lantai.
Noelle dan Norman tanpa berkata apa pun langsung bersiap dengan senjata mereka masing-masing. Namun, hampir tak ada kesempatan bagi mereka untuk menyerang.
Beberapa tombak mulai bermunculan dari lantai, menargetkan Noelle dan Norman.
Keduanya seketika melompat jauh ke samping untuk menghindar dari semua tombak itu. Tapi, beberapa tombak lain mukai muncul di tempat mereka akan mendarat.
"Tch."
Noelle mendecakkan lidahnya dengan tidak senang, laku menembakkan rantai dari alat yang masih terpasang di pelindung lengannya.
Ujung rantai itu menancap di langit-langit, sehingga Noelle kini dalam posisi bergelantungan.
Sementara itu, Norman juga melakukan hal yang sama. Hanya saja, ia tak dapat menemukan momentum yang tepat untuk menembakkan rantainya ke langit-langit seperti yang Noelle lakukan.
Norman menembakkan rantai ke dinding terdekat, dan menarik dirinya sendiri ke sana, sebelum akhirnya berlarian di dinding untuk menghindari belasan tombak yang tumbuh dari lantai dan menargetkannya itu.
Begitu ia melepaskan pijakannya dari dinding, Norman langsung meraih lampu gantung yang ada di dekatnya, dan di saat yang sama juga menembakkan rantai ke langit-langit di dekatnya.
Itu adalah pilihan yang tepat
Bisa dilihat, semua tombak yang sebelumnya tanpa ampun menyerang mereka kini berhenti bermunculan.
"Tch."
Melihat bagaimana Noelle dan Norman bergelantungan di langit-langit, pria itu—Barsio—mendecakkan lidahnya dengan kesal.
Noelle tentu saja menyadari kekesalannya. Dia langsung memasang senyum mengejek di wajahnya.
"Heh, kemampuan aneh untuk menumbuhkan tombak dari permukaan … Benar-benar merepotkan, tapi kurasa itu memiliki banyak batasan, ya? "
Barsio tak mempedulikan ejekan Noelle dia mengambil sebuah revolver dari sakunya dan membidik ke arah Noelle.
" … Mau berapa lama lagi kalian berdua bergelantungan di sana? "
Noelle tersenyum sengit, dan mengayunkan lengannya.
Seketika, sebuah lingkaran sihir muncul, dan senjata yang Noelle panggil langsung keluar dari lingkaran sihir itu, mendarat tepat di tangannya sendiri.
"Bukan hanya kau yang bisa menembak."
Noelle mengarahkan moncong Aligma ke arah Barsio, dan langsung menarik pelatuknya.
Barsio tak sempat merespon perkataan Noee, dia langsung menunduk untuk menghindari serangan peluru energi yang baru saja Noelle tembakkan.
Berkat itu, pegangannya terhadap tombaknya terlepas. Noelle memanfaatkan kesempatan itu dan mendarat ke lantai, sebelum akhirnya maju dan menyerang Barsio dengan cara menendang perut sampingnya.
Barsio terpental jauh ke samping, meninggalkan tombaknya yang masih menancap di lantai.
Sementara itu, Norman juga bergerak dengan mengikuti apa yang Noelle lakukan.
Dia melepaskan jangkarnya dan langsung maju mendekati Barsio, sebelum akhirnya memberikan tendangan lurus ke atas tepat di bagian dagunya.
Benar-benar serangan yang brutal. Barsio langsung memuntahkan banyak darah ketika ia akhirnya mampu menyadari situasinya.
Noelle juga tak tinggal diam. Dia kembali maju dan mengayunkan Langen sekuat tenaga, membuat semua barang-barang di sekitarnya langsung terhempas ke segala tempat.
Begitu ia tepat di hadapan Barsio, Noelle langsung melepaskan Langen, dan sebagai gantinya juga menarik Verstand dari sarungnya.
Bilah melengkung Verstand dengan cepat menebas dan menciptakan pisau angin yang mendekati Barsio, tapi Barsio entah bagaimana menghindari itu hanya dengan menggerakkan sedikit tubuhnya.
"Kalian bajingan! "
Barsio berteriak, dan memanfaatkan celah yang tercipta untuk maju menerkam Noelle tanpa senjata.
Dia menggunakan kukunya yang tajam untuk menyerang wajah Noelle, dan meninggalkan sebuah luka besar di sana.
Noelle terhuyung mundur sambil memegangi wajahnya sendiri. Darah mulai menetes dari luka yang tercipta di wajahnya, dan telapak tangan yang menempel di wajah itu merasakan sensasi lengket yang menjijikkan dari darah yang sangat kental.
Norman terkejut saat melihat Noelle terluka, tapi ia mengabaikan kecemasannya dan langsung menyerang Barsio menggunakan pedangnya sendiri.
Kuku Barsio yang sudah tajam sejak awal kini tumbuh menjadi lebih panjang. Kekerasannya juga tidak masuk akal. Pedang yang Norman ayunkan padanya sama sekali tidak dapat menghancurkan itu.
Norman dengan pedangnya yang masih mendorong kuku Barsio menggunakan kakinya sendiri untuk memberikan tendangan menyamping, tapi Barsio menahan itu menggunakan tangannya yang lain.
Noelle sudah selesai meregenerasi lukanya, dan melihat keadaan Norman. Dia kemudian kembali maju dan memanfaatkan kesempatan yang Norman berikan.
Beberapa pedang yang melayang di sisi Noelle mulai terbang tak terkendali di udara. Salah satu dari pedang itu tampak sedang menukik, menargetkan Barsio.
Barsio menyadari keberadaannya, dan langsung mendorong kaki Norman, sebelum akhirnya menggunakan kukunya yang tajam dan keras untuk menyingkirkan pedang itu.
Begitu kakinya terlepas, Norman langsung menendang perut Barsio, menyebabkannya terpental jauh ke belakang hingga menabrak dinding.
Noelle menghampiri Norman dan memeriksa situasinya. Sudah tidak ada luka di wajahnya. Benar-benar bersih seperti sebelumnya.
"Kau urus dia. Jangan sampai dia mendapatkan kembali tombaknya. Sementara itu, aku akan menyelamatkan Cryll."
"Baiklah."
"Dan ingat, panggil aku Cryll di hadapannya."
"Tentu."
Noelle mengangguk, menerima persetujuan Norman. Dia lalu berlari mendekati Cryll dan mulai membebaskannya.
"Kau benar-benar membawanya kan? " tanya Cryll.
Noelle tersenyum, dan mengeluarkan Sword Geist dari gudang spasialnya.
"Benar-benar 'hujan badai' yang buruk."
"Heh, syukur kau mengerti maksudku."
Cryll menerima Sword Geist dari Noelle, dan mulai mengaktifkannya.
Bola logam ungu kehitaman itu mulai mengambang, dan mengambil posisi tepat di punggung Cryll.
Detik kemudian, sebuah 'zirah' yang terdiri dari tulang belulang yang menyusun struktur manusia mulai muncul di belakangnya. Di kedua tangan tengkorak itu, terdapat dua pedang melengkung jenis katana yang sama dengan wujud Verstand sekarang.
"Kau tidak akan bisa menggunakannya di ruang tertutup, 'kan? Kalau begitu … Oy, Norman! Menunduklah jika kau tidak mau terluka! "
Teriakan dari Noelle membuat Norman seketika menoleh. Tapi, belum sempat ia mempertanyakan maksudnya, Noelle sudah mengayunkan Langen dengan putaran yang mengerikan.
Kini dia terlihat seperti baling-baling.
Setiap tebasan yang diberikan Langen di udara akan menghasilkan angin dan gelombang kejut yang cukup untuk menghancurkan area di sekitar mereka. Tapi, Noelle tak berhenti.
Dia terus berputar dengan Langen di tangannya, sambil menggunakan sujir angin dan gravitasi untuk memperkuat ayunannya.
Tak lama kemudian, sebuah badai terbentuk, menjadikan Noelle sebagai pusatnya.
Norman menuruti perintah Noelle, dan seketika menunduk. Cryll juga melakukan hal yang sama.
Badai yang terbentuk dari ayunan pedang Noelle itu perlahan mulai membesar, dan menghempaskan atap yang melindungi kepala mereka sejak tadi.
Kini, ruangan tempat mereka bertarung telah menjadi bangunan tanpa atap.
Noelle perlahan berhenti berputar, tapi dia memanfaatkan momentum yang masih ia miliki dengan cara memberikan tebasan angin yang sangat kuat ke arah Barsio.
Barsio terpental jauh ke luar karena serangan dari Noelle. Ia terjatuh dari ketinggian, dan mendarat dengan keras di sebuah pohon besar yang menjadi bahan kamuflase bangunan ini.
"Seperti biasa, kau benar-benar mengerikan."
Noelle berpura-pura tak mendengar komentar yang Cryll lemparkan itu.
...****************...