![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
"Apa yang terjadi? "
Noelle dengan kedua alisnya yang bertaut mencoba bertanya, tapi Rico sama sekali tak menjawabnya. Atau, bisa dibilang, Rico hanya tidak tahu dengan bagaimana harus menjawabnya.
Yang dia lakukan hanya menggeleng sejenak, dan memasukkan kembali revolver itu ke celah sabuk celananya.
Setelah itu, dia kembali menatap Noelle, dan mengangguk. "Ikuti aku."
Noelle tidak mengerti, tapi ia memutuskan untuk mengikuti Rico. Barangkali ia bisa menemukan apa yang ia cari di tempat tujuan Rico.
Noelle dalam diam mengikuti Rico menuruni tangga itu.
Sudah hampir lima menit sejak mereka berdua mulai menuruni tangga, dan Noelle berpikir kalau ia tidak memiliki waktu untuk melakukan perjalanan panjang ini.
Di saat ia mulai berpikir untuk pergi, Rico langsung memanggilnya.
"Di sini."
Rupanya, mereka sudah sampai di depan sebuah pintu logam dengan banyak bercak darah yang menodainya.
Noelle merasa penasaran dengan pintu itu, tapi ia tak akan memasukinya sebelum Rico memberitahunya tentang apa yang ada di dalam.
Rico melihat keraguan Noelle, dan menganggukkan kepalanya sekali. Dia kemudian mendorong pintu itu dengan tangannya, dan membukanya secara perlahan.
Ruangan yang ada di balik pintu itu sangat gelap, tapi Noelle bisa dengan jelas melihat semua yang ada di sana.
Bau darah dan daging yang sudah membusuk seketika memenuhi hidung mereka, dan membuat mereka secara bersamaan mengernyitkan dahi.
Apa yang mereka lihat di sana? Dan pemandangan apa yang mampu membuat mereka merasa gemetar saat melihatnya? Noelle sendiri bahkan kesulitan untuk menggambarkannya dengan satu kata.
Daging yang membusuk, darah yang tanpa henti menetes dari daging seperti tentakel yang bergelantungan di dinding, dan beberapa bola mata besar yang menatap mereka dengan cara yang sangat menjijikkan.
Tentakel daging itu berdenyut dalam tempo yang dapat diperhitungkan. Denyutannya seolah mengikuti detak jantung dari orang lain.
Dan 'orang lain' yang dimaksud adalah seorang pria yang tanpa daya bergelantungan di udara dengan tentakel daging yang tumbuh dari seluruh tubuhnya.
Tubuhnya benar-benar kurus. Matanya kosong, dan dia terlihat seperti tidak memiliki daging sana sekali.
Lehernya yang sangat kurus itu memiliki tiga tentakel daging tebal yang tumbuh di sana, dan tiga tentakel itu masing-masing menempel pada atap, membuat tubuh pria itu bergelantungan padanya.
Pipinya yang cekung itu bahkan terlihat seperti seolah berlubang, dengan dua bola mata yang timbul di masing-masing cekungan.
Berdasarkan dadanya yang naik turun, Noelle dapat menyadari kalau pria itu masih hidup. Tapi, kondisi yang dimiliki pria itu sangatlah mengerikan, sehingga Noelle berharap kalau pria itu bisa mati saja secepatnya.
Semua bola mata yang ada di sana bergerak menatap Noelle dan Rico. Namun, mereka tak melakukan tindakan perlawanan apa pun terhadapnya. Noelle merasa itu adalah tatapan penasaran, tapi Rico justru berpikir kalau itu adalah tatapan keputusaan, seolah mengharapkan pertolongan.
Beralih dari pemandangan menyedihkan dari pria itu, Noelle dapat melihat hal lain lagi di dinding tepat di belakang pria itu.
Di sana, terdapat suatu coretan yang terbuat dari darah. Ditulis dalam bahasa asing yang tak pernah mereka lihat sebelumnya.
Meskipun begitu, mereka berdua secara alami mengerti maksudnya.
'Mimpi yang abadi itu, aku akan mendatanginya', adalah apa yang tertulis di sana.
" … Apa maksudnya? "
Rico sudah melihat itu lebih dulu, tapi ia masih tidak mengerti dengan makna di balik kalimat itu.
Sementara itu, Noelle sendiri berusaha memproses semua yang ia lihat, dan mulai mencari kesimpulan.
Satu-satunya yang menjadi fondasi untuk membangun kesimpulan itu adalah kenyataan yang ada di hadapannya. Wajah pria itu, sangat identik dengan wajah Barsio yang dia lawan sebelumnya.
" … Kurasa ada kesalahan kata di sana. Seharusnya, itu ditulis dengan 'memasukinya', dan bukan 'mendatanginya'. Tapi, jika apa yang ditulis itu memang sesuai dengan kenyataannya, maka kesimpulan yang aku buat ini … Sepenuhnya salah."
Sebenarnya, Rico sepenuhnya sepakat dengan Noelle.
Rico memang belum bertemu dengan Barsio, tapi ia dapat mengelola informasi itu lebih baik karena ia memiliki《Analyze》.
"Daripada itu, Noelle. Kau harus melihat ini."
Rico memanggil Noelle, dan mengeluarkan revolvernya.
Tanpa menunggu Noelle menjawabnya, Rico langsung menembakkan peluru tepat ke salah satu trntakrl besar yang bergelantungan di langit-langit itu.
Peluru berhasil menembus dan menghancurkannya, tapi tentakel itu kemudian beregenerasi dengan kecepatan yang mengerikan. Semua luka yang Rico sebabkan seketika menghilang, tentakel itu kembali seperti baru.
"Regenerasi, ya? Selain itu … "
Noelle maju mendekat, dan menatap wajah pria itu dengan seksama.
Hampir tak ada perubahan ada ekspresi pria itu. Namun, Noelle samar-samar dapat melihat respon kecil yang pria itu berikan ketika peluru revolver Rico menembus anggota tubuhnya.
Respon yang paling jelas adalah denyutan pada semua tentakel di sana semakin cepat, dan mengeluarkan suara detakan yang sangat jelas.
"Dia bisa merasakan sakit, tapi tidak bisa melakukan perlawanan apa pun, ya … "
Rico mengangguk, tampaknya sudah lebih dulu mengetahui informasi itu.
"Apa yang ingin kau lakukan padanya? "
Noelle bertanya pada Rico untuk mengujinya sedikit. Jika itu Noee, dia sudah memiliki pemikiran tentang hal apa yang harus ia lakukan terhadap orang itu. Tapi, bagaimana dengan Rico? Apa dia memikirkan hal yang sama?
Rico berpikir sejenak, sebelum akhirnya mengangguk dengan tatapan kuat pada Noelle. Di tangan kirinya, terdapat secarik kertas yang penuh dengan barisan angka. Kertas itu sudah sangat kusut, dan semakin kusut lagi ketika Rico menggenggamnya dengan sangat erat.
"Aku … Ingin membebaskannya! "
Tentu Noelle tahu dengan apa yang Rico maksud dengan 'membebaskan'. Dibandingkan Rico, ia memiliki lebih banyak pengalaman dalam hal seperti ini.
Orang-orang dengan kondisi yang sangat mengerikan seperti pria itu sudah tak memiliki harapan lagi. Menyelamatkan mereka secara harfiah justru akan semakin menyiksa hidup mereka. Jadi, hanya satu bentuk pembebasan yang dapat diberikan.
Yaitu, dengan menghabisi nyawa mereka secepatnya.
Noelle mengangguk dengan penuh pengertian, lalu menarik Langen dari punggungnya.
"Apa kau butuh bantuan? Dia memiliki regenerasi yang sangat cepat, jadi tidak mungkin untuk membunuhnya dengan menggunakan revolver itu."
Usai diam dan berpikir sejenak, Rico kemudian balik menatap Noelle. "Ya. Aku ingin kau ikut menyerang setelah aku menembak kepalanya."
Itu adalah cara paling cepat untuk menghabisi lawan dengan kemampuan regenerasi yang mengerikan.
Kemampuan regenerasi hampir sepenuhnya bergantung pada otak. Kemampuan itu akan aktif dengan sendirinya bahkan jika penggunanya dalam keadaan tak sadar. Semua akan baik-baik saja selama otak penggunanya utuh.
Karena itu, jika kepalanya ditembak, dan otak ya dihancurkan, regenerasinya akan melambat secara drastis. Itu akan menjadi kesempatan untuk membunuhnya dengan memberikan luka yang tak dapat disembuhkan.
Sebagai catatan, hal seperti itu tidak akan bekerja jika targetnya adalah makhluk abadi yang tidak terlalu bergantung pada regenerasi.
Rico mengangkat revolvernya, dan mengarahkan moncong senjata itu tepat ke dahi pria itu.
Sama sekali tidak ada perlawanan. Satu-satunya perubahan di sana adalah semua bola mata yang kini memusatkan perhatian mereka pada Rico seorang.
Mengabaikan semua itu, Rico langsung menarik pelatuknya. Suara yang sangat keras muncul dengan disertai kepulan asap yang keluar dari moncong pistol.
Darah dan otak yang berceceran di lantai terlihat sangat menjijikkan, tapi Rico berusaha menahan rasa mualnya, dan terus menembak sampai menghabiskan semua peluru yang ia masukkan ke dalam revolvernya.
"Sekarang! "
Seketika, tubuh pria itu terpotong menjadi beberapa bagian secara horizontal, mengikuti garis tebasan yang Noelle berikan.
Semua potongan tubuhnya terlepas dari tentakel itu, dan berserakan di lantai. Semua tentakel yang terhubung dengan pria itu sebelumnya kini menggeliat dengan cara yang menjijikkan, dan mengeluarkan detakan yang semakin kuat, sebelum akhirnya berhenti tanpa data.
Regenerasinya sudah berhenti, dan masing-masing tentakel itu kemudian direduksi menjadi abu, seolah mengikuti jejak kehidupan pria itu yang perlahan menghilang.
Dia sudah mati. Hanya itu cara untuk menjelaskannya.
Rico terduduk di tanah, dan terengah-engah karena pengalaman pertamanya dalam menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu, sementara Noelle masih menatap potongan tubuh pria itu dengan rasa penasaran.
Sekarang, hanya ada satu masalah.
Kenapa wajah pria itu sangat identik dengan Barsio? Sebenarnya, siapa mereka?
...****************...
"Sekarang … Apa kau melihat persediaan bubuk mesiu di suatu tempat? "
Begitu situasi sudah agak tenang, Noelle bertanya pada Rico. Untuk sekarang, ia akan mengesampingkan apa yang baru saja terjadi, dan kembali fokus pada tujuan utamanya.
Napas Rico masih terengah-engah, tapi dia tetap merespon Noelle sebisa mungkin.
Rico melirik ke arah Noelle sebentar, lalu berbicara, "Jika kau mencari bubuk mesiu, itu ada di area gudang yang ada di bawah. Aku sempat menemukannya, tapi tempat itu sudah runtuh, tidak mungkin untuk kembali ke sana."
"Tch, jadi sia-sia, ya … "
Situasinya tiba-tiba menjadi sulit. Mau tak mau, Noelle jadi mendecakkan lidahnya dengan kesal karena beberapa kejadian justru tidak berjalan seperti yang ia prediksi.
"Yahh, kurasa tidak ada cara lain. Berikan aku persediaan pelurumu. Aku yakin kau memilikinya."
Rico merogoh sakunya sejenak, sebelum akhirnya menyadari kalau tak ada apa pun di sana. Ia terlihat terkejut, tapi tak termakan rasa panik dan langsung memeriksa tas kecil yang menggantung di punggungnya.
Kemudian, dia mengeluarkan beberapa kotak yang terbuat dari kardus tipis, dan melemparkannya pada Noelle.
"Satu kotak itu berisi sekitar 36 peluru. Untuk jenis pelurunya … Yahh, aku yakin kau tidak memerlukan informasi seperti itu."
"Hmm~"
Berlawanan dengan ekspektasi Rico, Noelle justru memperhatikan butiran peluru itu dengan penuh ketertarikan.
"Ini … Remington Magnum .44, ya … Tidak kusangka mereka memiliki jenis senjata dan peluru yang sama dengan yang ada di bumi."
" … Lagi pula semua senjata itu memiliki mekanisme dan fungsi yang sama … Wajar saja kau akan menemukan jenis senjata seperti itu di seluruh dunia … "
Rico sedikit heran dengan bagaimana Noelle dapat memiliki informasi seperti itu, tapi ia memutuskan untuk mengabaikannya dan menyaksikan Noelle membongkar semua peluru itu satu per satu.
Setelah membuka semua peluru, dan membiarkan selongsong itu menerima paparan udara dari luar, Noelle langsung mengeluarkan secarik kertas, yang kemudian ia lipat menjadi dua. Dia kemudian mengeluarkan semua bubuk mesiu yang ada di dalam selongsong peluru, dan mengumpulkannya di kertas itu.
Noelle mengeluarkan beberapa kertas lain, dan mulai membagi bubuk mesiu itu dalam takaran yang sama. Berikutnya, kertas dengan bubuk mesiu itu ia remas secara perlahan sehingga kertas itu membentuk suatu bola yang cukup padat.
Rico diam-diam menyaksikan bagaimana Noelle melakukan itu semua. Sebenarnya, dia sedikit heran, tapi memutuskan untuk tak menanyakan apa pun. Itu karena ia memiliki firasat kalau Noelle pasti akan menjawabnya dengan sesuatu yang tak ingin ia ketahui.
Ini berbeda dengan kelas kimia yang pernah mereka jalani dulu, jadi keheranannya itu wajar.
"Baiklah, ini seharusnya cukup. Mesiu memiliki daya ledak yang rendah, tapi … Ini seharusnya bisa digunakan untuk pengalihan … "
Dalam benaknya, Noelle sudah memikirkan berbagai strategi yang dapat ia gunakan untuk melawan Barsio.
Begitu selesai, Noelle langsung berdiri dan menatap ke tangga yang sebelumnya ia lewati untuk masuk ke tempat ini.
Sekarang, dia sudah memenuhi tujuan utamanya. Yang tersisa adalah, pertarungan melawan Barsio.
"Kau mungkin akan sedikit terkejut ketika melihat orang yang kami lawan. Tapi, aku ingin kau menjaga tindakanmu agar tidak gegabah."
" … Kenapa kau memerintahku? "
"Sudahlah, ikuti saja aku. Ayo pergi."
Dengan begitu, mereka berdua langsung berlari menaiki tangga dan meninggalkan tempat itu.
...****************...
"A-apa yang terjadi di sini?! "
Begitu sampai di permukaan, Rico langsung mengeluarkan suara jeritan kecil karena terkejut.
Itu wajar. Lagi pula, ia tidak menyangka kalau pemandangan yang ada di hadapannya sekarang, adalah situasi yang harus dihadapi oleh semua orang.
Semua bangunan itu telah runtuh, dan terdapat beberapa lubang panas berukuran besar di tanah. Pohon-pohon yang sebelumnya tumbuh dengan tertata rapih, kini hanya menyisakan ranting dan dedaunan yang terbakar. Semua batang besar itu telah terhempas ke semua tempat di pulau ini.
Noelle juga sedikit terkejut. Sebelum ia memasuki ruangan tempat ia bertemu Rico, semua tidak seperti ini. Secara alami, Noelle berpikir kalau situasi telah berubah menjadi lebih buruk.
"Ayo cepat."
Dengan sedikit kecemasan di hatinya, Noelle langsung bergegas ke tempat di mana Cryll dan Norman sedang bertarung.
Atau setidaknya itulah yang ia harapkan.
Saat ia sampai di lokasi, apa yang ia lihat justru tubuh Cryll dan Norman yang sudah dalam keadaan mengerikan.
Bekas tebasan dan tusukan dapat dilihat di sekujur tubuh mereka. Senjata mereka hancur, dan kerangka Geist mengalami keretakan di mana-mana.
Untungnya, mereka berdua masih hidup. Walaupun mereka sedang sekarat, dan harus mendapatkan pertolongan secepatnya.
Norman tidak dalam masalah besar karena ia memiliki berkah yang memberinya efek penyembuhan yang lambat, tapi Cryll berbeda.
Dia sama sekali tidak memiliki kemampuan regenerasi, dan regenerasi alaminya juga tidak begitu membantu dalam situasi seperti ini. Jelas kalau Noelle harus memprioritaskan Cryll terlebih dahulu.
Tapi, sebelum ia melakukan itu, ia harus mengatasi dalang yang menyebabkan situasi ini.
Itu adalah Barsio yang dengan santainya duduk di atas batang pohon yang tergeletak di tanah, tampak sedang menunggu kedatangannya.
"H-hei … Kenapa dia ada di sini? "
Tentu saja Rico akan memberikan respon seperti itu. Lagi pula, Barsio yang ada di hadapannya, memiliki ciri wajah dan fisik yang sangat identik dengan orang yang ia temukan di ruangan itu. Hanya saja, Barsio yang ada di hadapannya sekarang memiliki tubuh yang besar, dan sehat. Sangat cocok untuk bertarung.
Perbedaan fisik Barsio yang ada di hadapannya, dan yang ia lihat di ruangan itu, keduanya sangatlah kontras sehingga siapa pun pasti akan berpikir kalau mereka berdua adalah orang yang berbeda.
Tapi, berbeda dengan Noelle dan Rico. Mereka secara alami berpikir kalau kedua orang itu, sebenarnya adalah orang yang sama.
Setelah beberapa detik keheningan, Rico mulai mengeluarkan suara tawa keringnya yang penuh akan emosi ketakutan, membuat Noelle secara alami mengangkat satu sudut bibirnya.
Noelle benar-benar senang karena ia tidak perlu menjelaskannya secara panjang lebar pada Rico, karena Rico sudah mulai memahami ini semua dengan sendirinya.
"Ahaha … Ini … Tidak serius, 'kan? "
"Sayangnya … Aku memiliki pemikiran yang sama denganmu."
"Haha … Aku tidak bisa memikirkan apa pun sekarang … Noelle … Ini gila … "
Pada akhirnya, Rico hanya bisa memaksakan dirinya untuk tertawa di hadapan kenyataan yang sama sekali tidak lucu ini.
...****************...