[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 303: Ratu Baik Hati, Ratu Bengis



...****************...


Setelah semalaman tinggal di pemukiman suku Artof, Noelle bergegas menyeret Tania kembali ke Alten untuk memulai penyelidikan.


Keduanya sudah setuju untuk membantu suku Artof, tapi mereka membutuhkan waktu untuk menemukan cara agar bisa 'membebaskan' Ratu Bengis.


Ratu Bengis kemungkinan besar 'tertidur' di balik gerbang itu. Dan untuk membangunkannya, gerbang mungkin harus dibuka.


Tapi, yang menjadi masalahnya, suku Artof sama sekali tidak memiliki informasi mengenai bagaimana cara membuka gerbang temat Ratu Bengis tidur. Karena itulah Noelle meminta waktu agar dia bisa menyelidiki ini.


Ada beberapa petunjuk yang dapat digunakan. Yang pertama, Noelle masih ingat dengan jelas bagaimana bentuk lingkaran sihir teracak yang ada di permukaan gerbang itu. Jika saja dia bisa menyusunnya menjadi lingkaran sihir yang utuh, sesuatu mungkin akan terjadi.


Yang kedua, Noelle melihat ada beberapa ceruk kecil di titik tertentu pada gerbang. Dan setelah diselidiki, semua ceruk itu berada tepat di titik inti penyalur mana pada lingkaran sihir. Karena itulah, jika dia memasukkan sesuatu ke dalam ceruk itu, mungkin saja lingkaran sihir akan tersusun dengan sendirinya.


Namun, bagaimana dia bisa menemukan sesuatu yang cocok dengan ceruk itu? Sama sekali tidak ada petunjuk.


Memikirkan semua itu, Noelle langsung menyerbu Dolum dengan banyak permintaan demi mendapatkan semua informasi yang berkaitan dengan Ratu Bengis.


Dan di sinilah dia sekarang, sedang sibuk mengendalikan karpet terbang, sementara Tania di belakangnya sibuk membaca satu demi satu buku dan naskah literatur kuno yang Dolum berikan.


Awalnya dia terkendala dengan perbedaan bahasa, tapi Noelle kemudian memisahkan semua buku yang ditulis dengan bahasa asing, dan buku yang ditulis dengan bahasa yang dapat Tania mengerti.


Untungnya, Tania tidak bodoh. Dia mampu memahami cukup banyak bahasa, ingatannya kuat, dan kecepatan pemahamannya juga cukup bagus meski agak mengecewakan di saat tertentu.


Mengandalkan penghalang yang Noelle ciptakan untuk menangkis angin, Tania fokus membaca bukunya.


Mereka sudah sepakat untuk membagi tugas. Tania akan menelusuri informasi dalam perjalanan, sedangkan Noelle akan menyelesaikan sisanya nanti. Untuk sekarang Noelle akan fokus mempelajari bahasa asing yang digunakan dalam beberapa buku itu. Penerjemahan otomatis entah bagaimana tidak mampu bekerja, dan itu sedikit merepotkan. Tapi untungnya, Dolum memberinya petunjuk tentang kesamaan antara bahasa Hermes dengan bahasa yang digunakan oleh suku Artof.


" … Aku masih tidak mengerti."


Biarpun sambil menerbangkan karpet dengan kecepatan tinggi, Noelle masih bisa mendengar Tania dengan sangat jelas.


"Tentang apa? "


Balasannya singkat, tapi mengandung rasa penasaran yang cukup tinggi.


Tania menutup bukunya, memperbaiki posisi duduk, dan menatap Noelle dengan bingung.


"Semuanya. Tapi … aku lebih tidak mengerti kenapa kamu mau menerima tugas ini."


Bagi Tania, beban sebagai 'Yang Ditakdirkan' adalah sesuatu yang harus dihindari. Dia tidak ingin terlibat dalam permasalahan yang dimiliki suku goblin biru ini.


Sejak awal, yang menerima permintaan bukanlah Tania, tetapi Noelle sendirian.


"Apa yang akan kamu dapatkan dari menyelamatkan Ratu Bengis? Dari yang kulihat, mereka tidak bisa memberimu keuntungan apa pun."


Itu memang benar. Sejauh yang Tania amati, suku Artof sudah tidak memiliki manfaat yang bisa Noelle dapatkan. Memang ada informasi terkait Wabah Kristal, tapi Noelle sudah mendapatkannya, dan suku Artof sendiri tidak tahu banyak tentang itu.


Saat Tania merenungkannya, dia mendengar Noelle menghela napasnya, kemudian melihat jauh ke atas.


"Mungkin mengejutkan karena aku yang mengatakannya, tapi … menolong tidak harus memikirkan manfaat yang kau terima."


Tania seketika melebarkan matanya. "Itu … mengejutkan."


Tania belum lama mengenal Noelle, tapi dia sudah paham bagaimana kepribadian dan cara berpikir Noelle. Karena itulah, dia pikir Noelle adalah seseorang yang benar-benar hnya memikirkan urusannya sendiri, tanpa peduli pada orang lain.


Orang yang perhitungan, singkatnya begitulah Tania melihat Noelle.


Tapi, mendengar jawaban itu keluar dari mulut Noelle, dia terpaksa mengoreksi deskripsi tentang sosok Noelle di kepalanya.


Bukan orang yang perhitungan, melainkan canggung dan kesulitan mengekspresikan diri di depan orang lain. Setelah dipikir, itu mungkin menjadi sisi yang lucu. Tania tertawa kecil saat memikirkannya.


"Apa kamu memikirkan sesuatu? " tanya Noelle sambil meliriknya dengan tajam.


Meski pendapatnya tentang Noelle telah berubah, Noelle masih sama seperti biasanya; tajam dan responsif saat ada yang memikirkannya.


"Tidak. Tidak ada."


Tania menggelengkan kepalanya dengan senyum tipis, lalu kembali membaca buku di tangannya demi mendapatkan informasi.


...****************...


Perjalanan udara dari Hutan Dingin menuju Alten hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu setengah hari. Itu lebih cepat dari biasanya, karena Noelle memotong waktu istirahat demi mempersingkat perjalanan.


Di salah satu blok perumahan kelas menengah Alten, sebuah rumah dengan gaya arsitektur yang sederhana, tetapi memiliki kesan elegan yang sempurna berdiri tegak di atas tanah yang baru dibeli beberapa jam sebelumnya.


Tanpa peduli dengan perhatian yang diarahkan semua orang pada dirinya dan rumahnya, Noelle langsung masuk ke dalam rumah yang telah selesai ia bangun beberapa hari yang lalu.


Rumah kayu, memiliki dua lantai dengan balkoni tempat bersantai di lantai atas. Kemunculannya yang tiba-tiba di tengah pemukiman yang agak padat itu tentu saja mengejutkan, tapi Noelle sama sama sekali tidak memedulikan mereka dan fokus pada urusannya.


Sekarang sore hari, dia tengah duduk di kursi santai yang diletakkan tepat di balkon. Noelle duduk dengan membelakangi matahari yang mulai terbenam, dan fokus pada bukunya.


Di sebelahnya, ada meja kecil dengan tumpukan buku lain yang baru selesai dibaca.


Dia benar-benar menghabiskan waktunya hanya untuk membaca semua buku itu, dan mengorek informasi dari dalamnya. Buku di tangannya pun sudah hampir selesai dibaca, hanya tersisa seperempat dari total halaman yang ada. Dan itu mungkin akan selesai dalam hitungan menit, mengingat Noelle mampu memproses semua informasi baru dalam waktu singkat.


Di tengah fokusnya, pintu utama di bawah terbuka, dan seseorang yang telah masuk itu langsung menaiki tangga untuk sampai ke tempat Noelle.


"Noah, aku kembali," ucap Tania sambil meletakkan kantung yang penuh roti hangat di meja kamar, lalu berjalan ke arah Noelle dengan membawa kantung lain yang penuh dengan buku.


Karena Tania sudah selesai membaca semua buku dan literatur yang diserahkan padanya, dia jadi tidak memiliki tugas. Karena itulah Noelle memberinya pekerjaan tambahan untuk mengumpulkan buku lain dari toko atau perpustakaan. Dan tentu saja, hanya buku yang berisi informasi tentang Ratu Bengis.


Sejak awal, informasi tentang Ratu Bengis tidak terlalu beredar, karena itulah Tania tidak membawa banyak buku saat dia kembali. Tapi, mungkin saja itu sudah cukup, mengingat mereka memiliki informasi tambahan dari suku Artof.


Buku-buku lainnya hanya akan menjadi sumber referensi, yang mungkin sama sekali tidak akan dipakai Noelle dalam membentuk kesimpulan.


Saat Tania melihat tumpukan buku yang telah Noelle baca di mejanya, dia mau tak mau melebarkan mata.


"Kau sudah mempelajari bahasanya? "


Tania mengambil salah satu buku, dan menemukan deretan huruf yang tidak dia kenal. Ada beberapa garis pensil dan lipatan yang tidak dia ingat pernah ada di sana. Yang artinya, Noelle sendiri yang menambahkan itu.


Semua buku itu ditulis tangan dengan bahasa yang digunakan suku Artof untuk ritual mereka. Dan meski Dolum memberikan panduan pada Noelle dan Tania, tetaplah hal yang sulit untuk mempelajari bahasa baru itu.


Tapi sekarang, Tania mau tak mau kembali berpikir bahwa bakat pembelajaran itu memang benar adanya.


"Hmm? Yahh, cukup menyulitkan, tapi … cara penyebutannya mirip, dan artinya juga sesuai dengan arti kata yang kuinginkan saat aku merangkainya dengan susunan huruf dalam urutan yang serupa."


Noelle mengalihkan pandangannya pada selembar kertas yang penuh dengan coretan. Di sana, ada daftar huruf yang digunakan pada bahasa suku Artof, dan di sebelahnya ada daftar huruf yang digunakan dalam bahasa Hermes. Jumlahnya tidak sama, tapi dari urutan yang Noelle buat, Tania menyimpulkan kalau huruf suku Artof itu disusun sesuai dengan urutan huruf pada bahasa Hermes; dari A sampai Z.


Yang membedakan, ada beberapa huruf dan kosakata tambahan dalam bahasa suku Artof. Dan Noelle pun nyaris tidak dapat memecahkannya, karena itu tersusun atas simbol baru yang memiliki arti tersendiri.


"Bahasa yang merepotkan untuk dipelajari. Tapi setelah aku memahami urutan hurufnya, semua jadi mudah. Hehe, ini mirip dengan bahasa Latin atau Inggris kuno."


Setidaknya ini lebih mudah daripada mempelajari kanji pada bahasa Jepang.


"Latin … Inggris kuno? "


Nama-nama yang tidak pernah Tania dengar, tapi dia tidak peduli. Dia hanya tersenyum atas pencapaian Noelle itu, lalu membantunya membereskan semua kertas yang berserakan di lantai.


Buku di tangan Noelle pun selesai dibaca. Sekarang, ada beberapa buku tambahan yang Tania dapatkan dari berbagai sumber di kota.


Saat Noelle hendak mengambil salah satu buku yang Tania berikan, dia tiba-tiba mendongak sejenak untuk menatap Tania.


"Ngomong-ngomong, kau pulang terlambat. Apa ada sesuatu? "


Tania diam sejenak, bingung harus menjawab apa. Sebenarnya, itu adalah hal yang sederhana, tapi sulit diceritakan karena Tania telah memprediksi akhirnya.


"Itu … tetangga baru kita, Nyonya Marlet mengundang kita untuk pesta minum teh minggu depan, setelah suaminya kembali. Tapi … kita tidak bisa datang, 'kan? "


Tania tahu kalau dia dan Noelle tidak akan menetap dalam waktu yang lama di sini. Mungkin hanya satu minggu, atau bahkan kurang dari itu. Setelahnya, mereka akan langsung pergi melakukan perjalanan untuk menemukan cara membebaskan Ratu Bengis.


Karena itulah, membentuk hubungan yang mendalam dengan orang-orang di sekitar adalah hal yang harus dihindari. Noelle mungkin tidak keberatan, tapi Tania yang diam-diam memiliki kondisi emosional yang kuat mungkin saja tidak akan tahan.


Noelle paham itu, dan karena itu dia setuju dengan Tania.


"Katakan padanya kalau kita hanya akan singgah sebentar."


...****************...


Di ruang tamu rumahnya sendiri, Noelle duduk di lantai dengan bersandar pada sofa, sementara ada Tania yang berbaring di sofa tepat di belakangnya.


Ruangan hanya mengandalkan empat lilin sebagai sumber penerangan, karena itulah suasana hening yang remang-remang ini bisa terbentuk.


Meski begitu, seolah mengabaikan kegelapan yang tidak dapat dikalahkan cahaya lilin, Noelle dengan tenang memeriksa buku catatannya.


Dari belakang, Tania berusaha melihat buku catatan itu, yang berisi daftar informasi yang telah keduanya kumpulkan selama lima hari ini.


Yang pertama dari daftar adalah konfirmasi mengenai keberadaan Ratu Bengis itu sendiri.


Nama Ratu Bengis pertama kali muncul sekitar enam ratus tahun yang lalu. Keluar sebagai mitos perwujudan alam, yang menjatuhkan musim dingin abadi, dan yang menjadi dalang di balik nama Hutan Dingin saat ini.


Awal kemunculannya tak lama setelah kehancuran sebuah negara kecil di bagian utara Republik, bernama Kerajaan Fortenia.


Kerajaan Fortenia adalah sebuah negara kecil bekas jajahan Republik jauh di masa lalu, tetapi Republik melepaskannya dan memberi hak kemerdekaan pada negara itu. Dan meski telah lepas dari Republik, budaya mereka telah sangat mengakar, sehingga nama sambung bangsawan pun tetap digunakan.


Dari informasi tambahan yang Noelle dan Tania temukan, ciri Ratu Bengis agak sesuai dengan sosok ratu dari Kerajaan itu, bernama Ratu Clament sil Fortenia. Dia adalah seorang ratu, sekaligus penyihir yang luar biasa.


Alasan mengapa Noelle dan Tania menyambungkan antara Ratu Bengis dengan Ratu Clament adalah karena atribut mereka yang cocok. Ratu Bengis identik dengan 'menjatuhkan musim dingin abadi pada Hutan Dingin', sementara Ratu Clament dikenal sebagai pemilik sihir es yang luar biasa kuat.


Dia mampu menjatuhkan semua musuhnya seorang diri dengan sihir es itu, serta melindungi Kerajaan Fortenia dari segala ancaman yang ada.


Kerajaan Fortenia juga berada di lokasi yang agak berdekatan dengan Hutan Dingin. Noelle menempatkan dirinya pada posisi seorang pemimpin di sana, dan berpikir tindakan apa yang harus dilakukan jika ada serangan yang tidak bisa dilawan.


Hasilnya, Noelle menemukan solusi untuk melarikan diri ke area yang sekarang dikenal sebagai Hutan Dingin.


Pasti itulah solusi yang Ratu Clament temukan saat dia melihat bahaya yang jatuh menimpa Kerajaannya.


Berdasarkan informasi yang Noelle temukan dari sejarah, Kerajaan Fortenia dilaporkan hancur karena perang saudara. Namun, yang sesungguhnya terjadi tidaklah sesederhana itu.


Ratu Clament tidak begitu lemah sehingga tidak mampu mencegah perang saudara di negaranya.


Dalam sejarah juga disebutkan kalau hampir semua populasi Kerajaan itu musnah karena perang saudara. Bangsawan dan keluarga kerajaan, tidak ada yang tersisa dari mereka.


Namun, itu adalah laporan dari sejarah. Tidak dapat dipercaya, dan tidak dapat digunakan sebagai fondasi untuk kesimpulannya.


Karena itulah, Noelle berusaha menemukan informasi lain, hingga akhirnya—


"Suku Artof …." Tania bergumam, dan Noelle pun mengangguk.


"Benar. Suku Artof yang sekarang … adalah keturunan dari semua penduduk Kerajaan Fortenia yang berhasil selamat."


Teori yang gila, tapi bagi Noelle ini justru lebih masuk akal.


Ratu Clament dikenal sebagai ratu yang baik, mencintai negara dan juga rakyatnya. Karena itulah Noelle yakin kalau ratu itu tidak mungkin akan diam setelah melihat Kerajaannya hancur.


Dia pasti membawa penduduk yang selamat untuk mengungsi, dan memberikan mereka perlindungan dengan menjatuhkan musim dingin abadi pada Hutan Dingin.


Ciri fisik pada tubuh suku Artof mungkin disebabkan oleh evolusi yang ratu mereka paksakan, sehingga mereka mampu beradaptasi dengan kekuatannya, sekaligus dengan bahaya yang ia bawa.


"Bahaya yang dia bawa itu …."


Noelle mengangguk, sudah tahu apa yang ingin Tania katakan. Karena itu dia menyela, "Wabah Kristal."


...****************...


Dulu, Kerajaan Fortenia dikenal sebagai Kerajaan yang damai. Meski kecil, semua penduduknya hidup dengan tenang.


Jumlah gelandangan dapat dihitung dengan mudah, dan berbagai kenyamanan yang sepenuhnya ditujukan untuk para penduduk.


Semua itu berkat kepemimpinan ratu mereka, Ratu Clament sil Fortenia.


Benar-benar sebuah gambaran negeri dongeng.


Kedamaian itu terus berlanjut, seiring dengan lamanya kepemimpinan Ratu Clament. Hingga akhirnya, itu terjadi.


Awalnya hanya satu orang, tapi kemudian menyebar menjadi satu desa.


Dalam waktu 48 jam, mereka semua berubah menjadi kristal.


Penyebarannya sama sekali tidak berhenti, hingga akhirnya ada orang pertama di ibu kota Kerajaan yang terinfeksi.


Tentu saja Ratu Clament tahu tentang itu, dan hal pertama yang dia lakukan adalah berusaha menyelamatkan mereka yang sudah terinfeksi.


Namun, entah mengapa dia tidak bisa melakukannya.


Wabah Kristal menyebar dengan sangat cepat, dan menginfeksi hampir semua penduduk Kerajaan. Hanya butuh waktu setengah tahun, hampir seluruh Kerajaan Fortenia telah dipenuhi kristal.


Kekacauan terjadi di mana-mana. Pemberontakan, dan tindak kejahatan menyebar.


Karena wabah, koneksi Kerajaan Fortenia dengan negara lain, terkhususnya Republik langsung terputus. Karena itu, tidak ada bantuan yang datang.


Beberapa kelompok independen mulai terbentuk dengan sendirinya, berusaha mencari cara agar bisa bebas dari wabah. Namun, tindakan yang mereka lakukan semakin menyimpang setiap harinya.


Puncaknya adalah ketika salah satu manusia terinfeksi melakukan tindakan pembunuhan dan kanibalisme terhadap mereka yang masih sehat. Mereka melakukan itu dengan anggapan memakan daging orang sehat akan memulihkan kondisi mereka. Namun, sebenarnya tidak.


Yang terjadi justru sebaliknya. Daging manusia yang mereka telan mulai berasimilasi, dan kecepatan penyebaran kristal di tubuh mereka justru meningkat.


Puncak kekacauan di Kerajaan itu dinamakan Laut Api, Padang Kristal Fortenia. Nama itu didapatkan dari pemandangan Kerajaan Fortenia yang telah berubah mengerikan.


Pilar kristal di mana-mana, dan kebakaran terjadi hampir di seluruh bagian.


Dan dari semua itu, ada seseorang yang telah berinteraksi dengan para 'infected', dan masih sehat seolah tidak ada yang terjadi. Dia adalah Ratu Clament itu sendiri.


Meski penyebaran wabah kristal sangat cepat, entah mengapa Ratu Clament sama sekali tidak terinfeksi. Justru, orang-orang di sekitarnya, termasuk anggota keluarganyalah yang berubah menjadi kristal.


Setelah kehilangan sebagian besar rakyat, suami, anak, dan keluarga besarnya, Ratu Clament tidak dapat menahan kesedihan yang mendalam. Meski begitu, dia tetap berusaha memberikan keselamatan pada mereka yang masih hidup.


Solusinya adalah dengan melarikan diri dari Kerajaan, lalu membentuk pemukiman baru di sana.


Lokasi pengungsian yang Ratu Clament pilih adalah tempat yang sekarang dikenal sebagai Hutan Dingin.


Dengan kekuatannya, Ratu Clament menjatuhkan musim dingin abadi. Semua demi menyelamatkan penduduk yang tersisa, dan menjaga agar tidak ada lagi wabah yang mampu mengejar mereka.


Saat itu, Ratu Clament memaksakan evolusi pada rakyatnya. Agar mereka dapat bertahan dari wabah kristal, dan suhu dingin yang menyakitkan di Hutan Dingin. Tapi, evolusi paksa itu membuat Ratu nyaris kehilangan nyawanya. Semua rakyat yang tersisa pun memintanya untuk berhenti. Namun, Ratu terus bergerak, seolah belum puas dengan mengorbankan kekuatannya sendiri.


Semua itu dia lakukan, karena Ratu Clament mengetahuinya lebih dari siapa pun, dan dia juga menyembunyikan sesuatu dari semua penduduk.


Bencana belum usai. Dan kini, bencana itu mengikutinya.


Hasilnya tepat seperti yang ditakutkan oleh Ratu Clament. Bencana itu benar-benar belum usai.


Satu sosok kristal, yang dia sebut sebagai Penjajah Kristal, datang menyerang pemukiman baru yang ia buat untuk rakyatnya.


Itu adalah pertarungan yang menentukan. Ratu Clament tidak bisa membiarkan dirinya kehilangan lebih banyak keluarga. Karena itulah, dia rela mengorbankan apa pun asalkan semua rakyat yang telah ia anggap sebagai keluarga itu selamat.


Ratu Clament sendiri menyadarinya, kalau dia tidak cukup kuat untuk melawan Penjajah Kristal. Makhluk itu begitu kuat, sehingga kekuatan es yang dimiliki Ratu Clament pun tak berkutik di hadapannya.


Maka, dengan pemikiran dan tekad untuk melindungi, Ratu Clament membuat keputusan.


Dengan semua kekuatannya yang tersisa, dia berhasil mengelabui sosok Penjajah Kristal, lalu mengurungnya di dalam sebuah peti es yang berfungsi sebagai segel.


Tindakan itu telah menguras banyak kekuatannya, tapi dia tidak sampai pada tahap sekarat yang mematikan. Namun, tepat sebelum Penjajah Kristal tersegel, 'itu' telah menyebarkan kekuatannya sendiri ke salah satu area di pegunungan dekat pemukiman pengungsi, menciptakan sebuah pilar kristal dengan kolam lumpur yang berisi banyak sekali kekotoran dan mampu mengeluarkan pasukan Penjajah Kristal yang lebih kecil darinya.


Pertarungan belum usai. Ratu Clament sekali lagi berpikir begitu saat dia menatap pada pilar kristal yang berdiri megah di tengah kolam lumpur yang menjijikkan.


Apa pun yang terjadi, rakyatnya harus selamat. Biarlah dia sendirian yang menanggung semuanya. Asalkan rakyatnya, dan orang-orang tak berdosa di luar sana tak perlu menderita oleh kutukan kristal ini.


Dengan pemikiran seperti itu, Ratu Clament menciptakan sebuah gerbang raksasa yang menjadi pembatas antara kolam lumpur dengan dunia luar. Namun, dalam prosesnya dia juga harus mengurung dirinya sendiri di dalam untuk menahan gelombang tekanan para Penjajah Kristal yang memaksa keluar.


Begitulah cerita bagaimana seorang ratu bijaksana, Ratu Clament sil Fortenia, berubah nama dan dikenal dunia sebagai Ratu Bengis, sosok mitos yang menurunkan musim dingin abadi pada Hutan Dingin.


...****************...