![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Untuk penyelidikan yang lebih efektif, Dexter memutuskan untuk memecah kelompok menjadi beberapa tim, yang kemudian akan berpencar untuk menemukan jejak para mahasiswa yang menghilang.
Dexter dan Mona juga berpencar, dan sekarang keduanya berada di tempat yang berlawanan.
Dexter berada di sisi timur bangunan universitas, sedangkan Mona berada di sisi barat.
Masing-masing dari mereka membawa satu tim berisi para anggota bantuan yang disumbangkan gereja lain.
Dexter sekarang sedang berada di salah satu bangunan milik universitas. Itu adalah sebuah lapangan yang terhubung langsung dengan hutan.
Karena cakupan wilayahnya yang cukup luas, Dexter kembali memecah anggota tim, dan sekarang dia sendirian.
Dexter, yang mengandalkan intuisinya di setiap situasi kini dihadapkan pada satu kebingungan.
Kasus yang sedang ia selidiki sekarang, adalah tentang para mahasiswa yang tiba-tiba menghilang.
Menurut laporan, mereka terakhir kali terlihat di beberapa tempat, yaitu pada gedung aula utama kampus.
Meskipun tahu hal itu, Dexter dan Mona tetap menyelidiki bagian lain karena mereka ingin memastikan sesuatu.
"Hampir tidak ada jejak di sini, tapi … ini aneh."
Dexter segera mengerutkan keningnya dengan penuh kecurigaan. Meskipun dia tidak pernah kuliah, dia yakin kalau tempat ini seharusnya ramai.
Sekarang memang sudah sore, tapi seharusnya akan ada satu atau sekelompok mahasiswa yang berkumpul. Namun, tidak ada siapa pun di sini.
Hanya ada dia dan timnya.
Merasakan kejanggalan ini, Dexter dengan cepat meniup peluit yang menjadi sinyal untuk semua anggota tim.
Tak memakan waktu lama, orang-orang yang tergabung dalam timnya sudah berkumpul di sekitar. Hal pertama yang Dexter lakukan adalah menghitung jumlah mereka.
"Hanya ada delapan orang. Kemana satu lagi?! "
Kata-kata Dexter membuat mereka semua tersadar. Masing-masing dari mereka melihat ke sekeliling, tapi tidak menemukan sosok dari rekan mereka yang menghilang.
"T-tidak mungkin … Liu … Dia bersamaku sebelumnya … "
Salah satu pria yang merupakan anggota tim bantuan dari pihak Scientia Chamber itu dengan panik melihat ke sekelilingnya, namun dia tidak dapat menemukan sosok Liu di mana pun.
Setelah Dexter mengorek ingatannya, dia sadar kalau Liu adalah seorang pria muda dengan penampilan yang memancarkan aura intelektual yang jelas. Dia mengenakan kacamata dengan bingkai tipis yang terbuat dari campuran perak.
"Tenanglah! Coba kau ingat, kapan dia terakhir kali berada di sampingmu? "
Dexter juga sedikit panik, tapi dia masih bisa menjaga ketenangannya sampai tahap tertentu dan merespon dengan tenang.
"Itu … Di saat yang sama ketika sinyal peluit dibunyikan."
(Waktunya terlalu tepat.)
Dexter sangat ingin menggigit kukunya sendiri sekarang, tapi dia juga harus menjaga citranya.
"Apa dia bisa bertarung? "
Satu-satunya hal yang membuat Dexter khawatir adalah kemampuan Liu dalam melindungi dirinya.
Jika dia tidak salah ingat, Liu membuat kontrak dengan Penguasa Sastra. Dexter memang tidak tahu banyak, tapi dia yakin kalau kontrak dengan dewa itu tidak memberikan banyak kekuatan yang berguna dalam pertarungan langsung.
"Liu … Dia lulus dari akademi militer, jadi seharusnya dia bisa bertarung tanpa masalah. Tapi, itu dengan asumsi kalau dia tidak melawan banyak orang sekaligus."
Kemampuan bertarungnya tidak perlu diragukan lagi, tapi akan lebih baik bagi mereka untuk bertindak secepatnya untuk menangani masalah ini.
Setelah berpikir untuk waktu yang tidak dia sadari, Dexter akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap semua orang satu per satu.
"Kita sudah memeriksa bagian ini, dan hanya menemukan satu kejanggalan. Lebih baik kita segera pergi ke titik pusat dan berkumpul dengan yang lain. Pencarian Liu akan lebih mudah dilakukan jika kita memiliki banyak bantuan."
" … Ya! "
Tanpa ada keraguan, mereka semua mematuhi apa yang Dexter katakan.
...****************...
Di sisi lain, tim yang Mona pimpin sedang menghadapi satu masalah.
Mereka menyelidiki bagian barat, dan itu tidak terlalu sulit. Bagaimanapun, di sisi barat hanya ada bangunan perpustakaan dan pos penjaga, serta taman yang meluas hingga timur.
Meskipun kelihatannya tidak ada apa-apa, Mona dan semua orang yang bergabung dalam timnya dengan jelas merasakan keganjilan yang ada di tempat itu.
Salah satu dari mereka berjongkok dan memeriksa bagian taman yang dipenuhi dengan bunga berwarna biru yang indah, dan seketika terkejut.
Di sana, dia menemukan sebuah pin dengan lambang universitas terukir di atasnya. Itu adalah emblem yang wajib dimiliki oleh semua mahasiswa di sini.
Seseorang yang kehilangan emblem itu akan dikenai denda yang besar. Hukuman itu membuat semua mahasiswa secara alami sangat menjaga emblem mereka.
Meskipun begitu, tentu saja suatu kehilangan tidak dapat dihindari. Seseorang bisa saja secara tidak sengaja menjatuhkan emblem mereka di sini.
Yang menjadi masalahnya, lokasi ditemukannya emblem itu sedikit tidak tepat untuk suatu kecelakaan kecil.
Itu ada di tengah taman bunga, yang sebenarnya dilarang untuk dilewati.
Orang yang menemukan emblem itu, adalah seorang anggota bantuan yang dikirim Diamond Heart Order. Dia membuat kontrak dengan Dewi Keindahan, jadi langkah apa pun yang ia ambil, dia tidak akan merusak bunga di taman.
"Apa kau menemukan sesuatu? " Mona memanggilnya dari pinggir taman, bertanya apakah dia memiliki petunjuk.
Tentu saja, dia dengan cepat mengangguk.
Mengambil satu lompatan besar, dia langsung tiba di sisi Mona, dan menyerahkan emblem itu.
Mona menyipitkan matanya sambil terus menatap pada emblem. "Seseorang seharusnya tidak menjatuhkan ini di sana … Apakah bunga-bunga di sana memiliki jejak kerusakan? "
Dia dengan cepat menggeleng. "Tidak sama sekali. Selain emblem ini, aku sama sekali tidak melihat keanehan di sana."
Mona mengangguk dan berbalik melihat ke semua orang yang sudah berkumpul. Mereka hanya berhasil menemukan sedikit petunjuk, tapi itu sudah sangat berharga.
"Apa ada kemungkinan kalau orang yang menjatuhkan emblem itu juga memiliki kontrak dengan Dewi Keindahan? "
"Aku tidak bisa menyangkal itu, tapi … Aku tidak merasakan jejak apa pun dari sana."
Normalnya, seorang pengguna kekuatan kontrak dapat merasakan jejak kekuatan dari pengguna kontrak yang sama dengannya. Dia yang menemukan emblem itu sebelumnya, tidak merasakan keakraban apa pun dari tempat itu.
Hanya ada tiga kemungkinannya; yang pertama adalah jejaknya sudah terhapus karena waktu yang terus berjalan. Ke-dua, orang yang menjatuhkan itu memiliki kekuatan serupa yang entah bagaimana tidak merusak semua bunga yang dia lewati. Lalu yang terakhir, adalah suatu ketidaksengajaan. Disebut ketidaksengajaan karena kemungkinan ini hanya membayangkan seseorang yang tidak sengaja melempar emblem itu, dan membuatnya mendarat di tengah taman.
Di tengah waktu berpikirnya, Mona seketika melebarkan matanya.
(Kenapa aku berasumsi kalau yang menjatuhkan emblem itu adalah satu orang yang sama dengan pengguna kontrak? Ada kemungkinan kalau orang yang ada di sini pada saat itu berjumlah lebih dari dua orang. Satu menjatuhkannya, dan yang satu lagi membawa orang itu pergi. Yang artinya … )
"Kasus penculikan. Kita semakin dekat dengan kebenaran."
Meskipun itu hanya kesimpulannya sendiri, akan lebih baik menggunakan itu sebagai patokan untuk tindakan berikutnya.
"Kita sudah selesai di sini. Ayo temui Dexter dan yang lain di titik pusat."
"Ya! "
...****************...
Kedua tim sampai di titik pusat pada saat yang sama.
Di waktu seperti ini, universitas mulai ditinggalkan, dan sekarang cukup sepi sehingga kelompok penyelidik dari gereja bisa bergerak dengan bebas.
Dexter tanpa mengatakan apa pun langsung mendekati Mona. "Satu anggota tim kami menghilang. Aku harap kalian bisa membantu."
" ……… "
Mona melihat semua anggota Dexter satu per satu, dan sadar kalau ada satu yang hilang. Mona ingat, kalau ada seorang pria bernama Liu yang tidak ada di sana.
"Kapan kejadiannya? "
"Kami tidak tahu pasti. Yang jelas, dia sudah tidak ada saat aku memberikan sinyal. Kau ingat dia, 'kan? Dia adalah anggota kiriman Scientia Chamber yang membuat kontrak dengan Penguasa Sastra."
Sebelum tim ini benar-benar dibentuk, semua orang telah diberikan kejelasan mengenai setiap orang yang akan menjadi anggota kelompok mereka.
Tidak seperti Dexter yang hanya mengingat berdasarkan kemampuan yang orang itu miliki, Mona benar-benar menghapal semuanya.
Mona mengangguk dan kembali melihat pada Dexter.
"Kemungkinan dia diculik cukup tinggi. Ini sesuai dengan informasi yang baru kami temukan."
"Kalian menemukan petunjuk? "
Kata-kata itu membuat Dexter tertarik sehingga dia tanpa sadar bertanya.
"Ya," balas Mona sambil menyerahkan emblem yang ditemukan anggota timnya di tengah taman bunga.
"Pemilik emblem ini diculik, dan entah secara sengaja atau tidak menjatuhkan emblem ini di tengah taman itu. Tentu saja, ini hanyalah kesimpulan yang kubuat sendiri berdasarkan apa yang kulihat. Kita masih belum tau kebenarannya."
(Informasi ini cocok dengan apa yang baru saja kami alami.)
Intuisi yang telah ia kembangkan selama bertahun-tahun membuatnya yakin kalau ini semua saling berhubungan.
Namun, sayangnya belum ada petunjuk tentang keberadaan Liu, jadi dia tidak bisa mulai mencarinya.
Mencarinya secara sembarangan hanya akan membuat pencarian menjadi semakin sulit. Karena itulah, Dexter meminta semua orang untuk tetap tenang. Semua akan diselesaikan secara bertahap.
Tentu saja, ini adalah perlombaan melawan waktu. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada Liu jika penyelamatan dilakukan terlambat.
Pada saat itulah, Dexter yang intuisi bertarungnya paling baik di antara semua orang, seketika melebarkan matanya.
"Menjauh! "
Perintah spontannya membuat semua orang tidak dapat melakukan apa pun selain memathuinya. Masing-masing dari mereka mengikuti Dexter dan melompat menjauhi tempat mereka berdiri sebelumnya.
Untuk sejenak, tidak ada yang terjadi di sana. Namun, hanya beberapa detik berselang, sebuah kubah cahaya muncul dari permukaan tanah, dan meluas hingga nyaris memasukkan mereka semua ke dalamnya.
"Sebuah penghalang? Dari bawah tanah? "
Mona melihat ke titik pusat di mana penghalang itu muncul sebelumnya. Yang terlihat di permukaan mungkin hanya sebuah kubah, tapi kemungkinan masih ada bagian lainnya di bawah tanah sana.
"Ini … "
Orang yang sudah akrab dengan Liu tentu saja sudah tidak asing dengan jenis penghalang ini. Penghalang yang baru saja muncul ini adalah salah satu kekuatan yang dimiliki seseorang yang membuat kontrak dengan Penguasa Sastra.
Kemungkinan besar, Liu yang membuatnya.
"Ini milik Liu! Tidak salah lagi! "
Dexter memang tidak ahli dalam menggunakan atau mengendalikan sihir. Namun, bukan berarti dia tidak bisa mendeteksinya.
Meskipun samar, dia bisa merasakan tanda kehidupan di bawah tanah.
"Apa kau yakin itu benar-benar dia? Aku tidak terlalu ahli dalam deteksi, jadi aku tidak bisa menentukan jenis kelaminnya."
Komentar itu dikeluarkan Dexter dengan sebaik mungkin, agar semua orang di sekitarnya bisa dengan jelas memahami maksudnya.
Menanggapi itu, pria itu mengangguk dengan kuat. "Tidak salah lagi. Setiap pemilik kontrak memiliki karakteristik yang berbeda. Bahkan meski mereka membuat kontrak dengan dewa yang sama, kemampuan yang diberikan belum tentu sama. Penghalang ini sangat mirip dengan yang dimiliki Liu."
"Kalau begitu … Mona! Apa ada jalan masuk menuju tempat itu? "
Atas pertanyaan Dexter, Mona menunjukkan ekpresi kesulitan. "Aku tidak yakin. Denahnya tidak menunjukkan tempat apa pun yang ada di bawah tanah, jadi ini benar-benar tersembunyi. Apa ada yang bisa menemukan jalannya? "
Mona melihat ke sekeliling, dan menemukan semua orang memiliki wajah ragu. Hanya satu orang yang mengangkat tangannya.
"Apa kau tahu jalannya? "
Orang itu tanpa ragu menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu, tapi … Kalau itu jalan rahasia, kita mungkin bisa mencarinya dengan cukup mudah."
Mona merenung sejenak, berusaha memahami kata-kata dari orang itu. Kemudian, dia tersadar.
Mereka semua sudah menyelidiki hampir semua bagian universitas, dan melakukan penyelidikan ulang di sisi timur dan barat. Dari semua tempat yang mereka selidiki, hanya satu yang belum benar-benar mereka periksa.
Itu adalah gedung utama.
(Sangat menggelikan ketika menyadari kenyataan bahwa kami belum benar-benar memeriksa tempat ini.)
Mona tidak bisa menahan diri dari membentuk senyum masam di wajahnya saat dia memikirkan itu. Gedung utama memang terlalu mencolok, karena itulah mereka tanpa sadar melewatkannya. Tempat yang mencolok hanya akan membuat penyamaran menjadi berantakan, jadi mereka berasumsi kalau tidak ada yang disembunyikan di sana.
Mona menghela napas dan menoleh pada Dexter. "Bawa timmu untuk melakukan penyelidikan kilat. Kami akan mencari cara untuk menembus penghalang ini entah bagaimana."
Penghalang yang diduga diciptakan oleh Liu rupanya cukup kuat. Mona dan hampir semua orang di sana tidak dapat menembusnya dengan cepat.
"Juga, kalau kau sudah menemukan jalannya, beri aku sinyal dengan menggunakan perangkat yang Tian bagikan."
Dexter hanya mengangguk, kemudian pergi memasuki gedung utama dengan membawa semua anggota timnya.
...****************...
"Ketemu."
Tak memakan waktu lama, tim Dexter berhasil menemukan tangga rahasia yang mengarah ke bawah tanah.
Rupanya, tangga itu disembunyikan tepat di bawah meja administrasi yang ada di lobby utama.
Dexter merogoh saku mantelnya, dan mengeluarkan perangkat komunikasi yang dibagikan Dolf dan Tian pada hari pemberian misi.
"Sekarang … "
Tanpa ragu, Dexter menghancurkan salah satu batunya dan mengirimkan sinyal pada Mona.
Normalnya perangkat miliknya hanya bisa mengirimkan sinyal pada Dolf dan Tian, tapi dengan sedikit modifikasi, dia juga bisa menghubungi anggota lain. Tentu saja, masih tidak ada sirkuit sihir yang ditanamkan di sana.
Sinyal sudah dikirimkan, dan sekarang hanya perlu menunggu sampai Mona dan timnya datang.
...****************...
Sesampainya tim Mona di lokasi, mereka segera dibawa oleh tim Dexter menuju ruangan yang ada di bawah tanah.
Penghalang milik Liu masih aktif di luar, tapi mereka tidak khawatir itu akan dilihat oleh siapa pun, karena mereka telah menerapkan penghalang penyembunyian dengan skala yang lebih besar.
Tangga untuk menuju ruang bawah tanah cukup sempit. Hanya bisa dilewati oleh dua orang secara berdampingan. Selain itu, posisinya juga cukup curam, membuat semua orang secara alami memperlambat langkah mereka.
Mona dan Dexter juga berhati-hati dengan setiap langkah yang mereka ambil. Mereka tidak tahu apa yang ada di depan, jadi akan menjadi hal yang baik untuk menyembunyikan suara langkah mereka.
Untungnya, tangga itu tidak terlalu panjang. Hanya sekitar 30 anak tangga, mereka sudah sampai di ruangan yang mereka cari.
Di sana, sebuah penghalang cahaya bersinar dengan kuat. Ukurannya cukup besar sehingga menembus permukaan.
Itu adalah penghalang yang diciptakan oleh Liu.
"Apa kalian sudah menemukan cara untuk menembus penghalangnya? "
Akan menjadi masalah jika penghalangnya tidak bisa ditembus. Bagaimanapun, penghalang itu mencakup semua area sehingga mereka tidak bisa masuk dan melihat apa yang ada di dalam.
Mona mengangguk. "Sudah. Kita bisa masuk jika kita melapisi tubuh kita dengan sihir. Untukmu, kau bisa gunakan jubah ini."
Mona menyerahkan sebuah jubah pada Dexter. Itu adalah jubah yang dimodifikasi oleh Mona secara terburu-buru. Dengan memakai jubah itu, penghalang milik Liu akan mendeteksi Dexter sebagai seseorang yang sudah melapisi tubuhnya dengan sihir.
Yang menjadi masalahnya, satu-satunya jalan masuk menuju ruangan itu adalah melalui sebuah pintu besi yang terlihat sangat berat di depan.
Dexter memakai jubah yang diberikan Mona, dan berjalan masuk ke dalam penghalang. Dia bisa masuk tanpa masalah, tapi sekarang dia masih harus menghadapi pintu itu.
Tentu saja, ini juga bukan masalah.
Dexter tersenyum, dan tangannya yang sebelumnya kosong, kini telah dilapisi sebuah knuckle besi yang sangat padat.
Tanpa ragu, Dexter langsung memberikan pukulan yang sangat keras secara bertubi-tubi pada titik yang sama di pintu itu.
Tinjunya begitu kuat, sehingga pintu itu tidak sanggup menahannya, dan kemudian hancur.
Namun, bau amis yang menyengat tiba-tiba menyerbu hidung mereka semua.
...****************...
Mereka semua masuk ke dalam ruangan dengan hidung yang tersumbat. Bau itu benar-benar mengerikan. Hanya dengan mencium baunya, mereka sudah bisa membayangkan apa yang ada di dalam.
Hasilnya, itu tepat seperti yang semua orang pikirkan.
Ada banyak mayat, dan mereka semua sudah membusuk. Jumlahnya sekitar 40, dengan jenis kelamin yang berbeda-beda.
"Apa mereka … Para mahasiswa yang dilaporkan menghilang? "
Salah satu anggota kiriman dari Light Sanctuary berusaha menahan rasa mualnya, tapi segera kehilangan kendali, dan akhirnya muntah di tempat.
Semua mayat itu sudah dalam keadaan yang mengerikan. Sulit untuk dijelaskan, tapi yang jelas, mereka semua mati secara tragis.
Ada satu tubuh yang kelihatannya masih hidup. Dia terbaring di lantai, dengan sejumlah besar energi sihir keluar dari tubuhnya.
"Liu! "
Penampilannya sudah sulit untuk dikenali, tapi itu adalah Liu, yang tubuhnya perlahan mengering seolah daya hidupnya telah diserap dengan brutal.
Orang yang sudah mencari Liu sejak tadi itu pun segera berlari mendekat untuk menolongnya, tapi tindakan itu membuat Dexter tanpa sadar mendecakkan lidahnya.
"Segera evakuasi Liu dari tempat ini! Utamakan penyelamatan mereka! Tinggalkan tempat ini dengan cepat! "
Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi, dan ada baiknya bagi semua orang untuk segera keluar meninggalkan tempat ini sebelum sesuatu yang buruk terjadi.
Semua orang bergerak dengan cepat untuk membawa Liu. Namun, itu terlambat. Liu mati di tempat, dengan keadaan tubuh yang mengering.
Penghalang yang diciptakannya pun perlahan meredup, sebelum akhirnya hancur.
...****************...
Mona dan Dexter kembali ke permukaan, tampak bingung dengan apa yang sebelumnya terjadi.
Liu tiba-tiba menghilang, dan ketika ditemukan, dia tewas.
Ada pula tentang semua mayat yang ditemukan bersamanya. Itu terlalu membingungkan sehingga tidak ada satu pun dari mereka bisa menemukan jawabannya.
Dexter mengerutkan kening, dan melepaskan kunckle yang sejak tadi terpasang di tangannya.
"Apa kau tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini? "
Pertanyaan yang konyol. Dexter sendiri sadar kalau Mona tidak mungkin mengetahuinya.
" … Semua terlalu membingungkan," jawab Mona dengan wajah frustasi.
Dexter yang melihat ini jadi merasa tidak enak, tapi dia tidak berusaha meminta maaf, dan justru mengambil sebatang rokok dari sakunya.
"Kau mau? "
Mona menggelengkan kepalanya. "Aku sudah berhenti merokok sejak setengah dekade yang lalu."
"Baiklah."
Mengangkat bahunya sejenak, Dexter kemudian berjalan menjauh. "Aku akan pergi ke luar dan membuat laporan."
Mona hanya mengangguk tanpa mengatakan apa pun. Sejak tadi, pikirannya penuh dengan berbagai hal.
Dia tidak berhenti memikirkan apa saja yang baru saja ia lihat sebelumnya.
Berdasarkan kondisi semua mayat itu, mereka seharusnya sudah mati untuk waktu yang lama. Namun, ada kemungkinan lain yang Mona temukan.
Mereka bisa saja mati belum lama ini, tapi pembusukan terjadi dengan cepat karena efek penghalang milik Liu.
Mona ingat, kalau penghalang yang diberikan sebagai kontrak dari Penguasa Sastra bisa mempercepat aliran waktu di suatu tempat. Itu tidak mempengaruhi makhluk hidup, tapi benda mati atau pun sesuatu yang sudah mati akan sangat terpengaruh olehnya.
Penguasa Sastra memiliki nama lain, yaitu Raja yang Suka Membaca. Secara tak langsung, nama itu ada kaitannya dengan waktu.
Yang artinya, mayat mereka semua yang mati baru-baru ini, mengalami pembusukan lebih cepat karena efek penghalang dari Liu.
Pelaku yang sebenarnya menculik Liu, dan secara paksa mengaktifkan kemampuannya untuk mempercepat pembusukan para mayat. Entah apa tujuannya, tapi Mona memiliki beberapa kesimpulan sendiri.
Siapa pelakunya? Apa motif dan tujuannya? Dan apakah ini semua ada hubungannya dengan Swallow Life Order?
Satu per satu pertanyaan terlintas di benaknya, dan jawabannya juga muncul secara bertahap.
Setelah mencapai tahap pencerahan, Mona tanpa sadar melebarkan matanya.
Dia berhasil menemukan jawabannya.
Jawaban itu membuatnya gemetar, tapi dia tetap berusaha menahan rasa takutnya.
"Aku … Harus memberi tahu Dexter."
Langkah yang diambil kakinya terasa berat. Dia tidak sanggup berjalan lagi. Tubuhnya terjatuh, dan kini dia duduk di lantai tanpa ada sedikit pun tenaga di kakinya.
Akhirnya, Mona menoleh dan melihat ke belakang, memberikan sebuah senyuman paling pasrah yang pernah ia buat. "Kau menemukanku."
Sebuah pukulan berat dilancarkan tepat pada kepalanya, membuat Mona mengalami pendarahan yang hebat, dan akhirnya tak sadarkan diri.
...****************...