[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 279: Teman yang Hilang (2)



...****************...


Setelah mengalahkan hiu aneh itu, Cryll hendak langsung bergegas. Namun dia ingat dengan sesuatu.


Segala sesuatu yang terjadi di dalam dungeon ini selalu berkaitan dengan ingatan seseorang. Itu juga terjadi pada saat penjelajahan pertama Cryll bersama Noelle dan Norman di tempat ini.


Yang artinya, hiu itu juga merupakan bagian dari ingatannya.


"Tapi aku tidak ingat itu."


Cryll baru-baru ini membaca cerita dongeng yang mendeskripsikan rumah dengan pohon berkepala manusia itu. Tapi ia tidak ingat pernah membaca atau bahkan mendengar sesuatu yang berkaitan dengan hiu terbang.


Setelah perjuangan panjang untuk memeraa ingatannya, Cryll akhirnya sadar. Dungeon ini tidak hanya mengambil ingatan masa lalu, melainkan mimpi buruk; sama seperti yang terjadi pada saat gerombolan kerangka hidup membawa senapan mesin di tangan mereka.


Itu artinya hiu terbang tadi merupakan mimpi buruk yang pernah Cryll miliki.


"Benar juga. Kurasa aku pernah bermimpi buruk saat kakak menceritakan petualangannya di lautan dulu."


Itu adalah kejadian lama, sebelum dia keluar dari keluarganya sendiri.


"Yahh, itu tidak penting lagi."


Cryll mengangkat bahunya dan lanjut berjalan sambil membawa karung yang penuh dengan daging hiu yang telah dibersihkan.


Tanpa disadari, dia telah berjalan cukup jauh dari lokasi sebelumnya. Saat ini, Cryll tengah menyusuri sebuah jalan yang bercahaya dengan pemandangan sekeliling yang sepenuhnya gelap tak terlihat.


Ada kabut abu-abu tipis yang menutupi jalan, tapi dengan cahaya yang membimbing setiap langkahnya, Cryll sama sekali tidak memiliki masalah dengan perjalanan ini.


"Kurasa inilah Koridor Cahaya yang mereka bilang."


Baik itu Cryll, Noelle, maupun Norman sama sekali belum pernah melewati jalan ini, tapi mereka mengetahuinya berkat laporan yang diberikan semua orang.


(Kalau tidak salah, setelah melewati Koridor Cahaya ini, aku akan sampai di sebuah taman.)


Koridor Cahaya cukup panjang, dan begitu keluar, dia akan langsung sampai di sebuah taman. Dari taman itu, dia hanya perlu mencari jalan keluar di bangunan besar yang ada di sana.


Mereka tidak memberitahunya apa pun selain hal itu. Jadi Cryll merasa sedikit waspada karena dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Tak lama kemudian, dia akhirnya tiba di tempat yang dimaksud.


Kabut abu-abu sudah menghilang, dan kini digantikan oleh hamparan bunga yang tumbuh tak tahu tempat.


Memang, tempat ini benar-benar berbeda dari tempat yang ia lewati sebelumnya. Taman yang besar, dengan sebuah gazebo marmer yang terletak tak jauh si sudut.


Yang paling mencolok adalah bangunan besar mirip mansion yang setengah bagiannya dibangun tenggelam ke dalam dinding.


"Apa tempat ini yang mereka maksud? "


Cryll lihat ke sekeliling, mencari tempat yang bagus untuk beristirahat sejenak.


Sejak tadi, dia terus bergerak dan sama sekali belum mengambil istirahat. Terlebih lagi, di luar pasti sudah sangat malam sekarang.


Pemandangan sekitar yang masih cerah seperti siang hari ini membuat Cryll tidak nyaman. Dan sejujurnya, membuatnya sedikit stres.


Itu karena insting alami tubuh manusia yang memilih untuk beristirahat saat malam hari. Tubuhnya tahu kalau saat ini sudah tengah malam, jadi rasa lelah mulai menyelimutinya, memaksanya untuk beristirahat.


Yang membuat rasa lelahnya memuncak, adalah karena kelegaan. Selama beberapa hari sebelumnya, dia telah melakukan pencarian tanpa menghasilkan apa pun. Dan sekarang, dia sudah berada di jalan yang tepat untuk menemukan temannya yang menghilang.


Sisanya hanya tinggal mengikuti alur.


Karena Cryll memiliki firasat buruk tentang mansion itu, dia akhirnya memilih untuk beristirahat di gazebo, yang sebenarnya merupakan sebuah kesalahan, sekaligus sebuah keberuntungan untuknya.


Cryll meletakkan karung berisi daging hiu itu di lantai, dan berbaring di tempat duduk. Seketika, kelegaan menyelimuti dirinya, dan dia tidak bisa menahan diri untuk meregangkan tubuhnya di sana.


Ketika tubuhnya sudah rileks, Cryll hendak menutup matanya. Saat—


" … Apa-apaan …."


Matanya secara paksa terbuka, dan yang dilihatnya adalah pemandangan yang sudah berubah.


Tidak ada lagi taman bunga yang indah seperti sebelumnya. Semua telah berubah menjadi kegelapan yang pekat.


Cryll dengan tenang turun dari tempatnya berbaring, dan masih bisa merasakan lantai tempat dia berpijak. Selain itu, seluruh permukaan bangunan juga masih ada.


Sepertinya, dia tidak dipindahkan. Masih di tempat yang sama, hanya saja semua menjadi tidak terlihat karena kegelapan yang aneh ini.


Sedetik kemudian, partikel cahaya mulai mendekat satu sama lain, dan berubah menjadi sebuah pemandangan yang asing, namun terasa akrab di mata Cryll.


Itu adalah hamparan rumput yang luas. Dengan sebuah pohon beringin menjadi satu-satunya penyejuk di bawah teriknya sinar matahari musim panas.


Dari tempatnya berdiri, Cryll bisa dengan jelas melihatnya; tiga sosok asing yang sama sekali tidak ia kenal, sedang berbaring santai di bawah pohon itu.


Dia tidak mengenal siapa pun dari mereka bertiga. Atau lebih tepatnya, dia tidak bisa mengenalinya.


Mereka terasa akrab, tapi sepertinya ada sesuatu yang mencegah Cryll mengenalu semua sosok itu.


Waktu seperti dipercepat, dan ketiganya bangun di saat yang bersamaan.


Kelompok kecil itu terdiri dari dua orang pria, dan seorang wanita.


Salah satu pria memiliki rambut pirang yang cerah, sedangkan dua yang lain memikiki rambut yang putih bersih tanpa noda.


Cryll tidak bisa melihat wajah mereka, jadi dia tidak bisa mengetahui ekspresi apa yang sedang mereka tunjukkan sekarang. Namun, dari suasana di sekitarnya, Cryll tahu kalau mereka semua sedang sangat serius.


"Apa mereka mendiskusikan sesuatu? "


Cryll mencoba mendekat, tapi kemudian dia menabrak dinding yang tak terlihat. Barulah dia ingat kalau struktur bangunan tempat dia berada masih sama, tidak ada perubahan. Yang artinya, dia tidak bisa bergerak lebih jauh dari ini.


Suara mereka sama sekali tak terdengar. Crylk tidak bisa mendapatkan apa pun dari diskusi mereka.


Tak lama kemudian, ketiganya bangkit, membuat sosok mereka menjadi semakin jelas di mata Cryll.


Ketiganya memakai mantel hitam bergaris emas yang sama, memberikan kesan militeristik yang kuat. Mantel itu hanya dilampirkan di bahu mereka, tanpa memasukkan satu pun lengan mereka ke dalamnya.


Meski mengenakan mantel yang sama, ketiganya memiliki atribut yang berbeda di dalam.


Pria berambut putih itu memakai seragam formal berwarna hitam kebiruan dengan dasi merah yang diikat kencang. Melilit lehernya, ada sebuah syal panjang berwarna ungu gelap yang bagian ujungnya telah memberikan tanda-tanda kerusakan dari berbagai hal.


(Apa ini sesuai dugaanku? )


Meski Cryll tidak dapat mengenali sosok itu, dia memiliki firasat tentang orang mana yang sebenarnya memerankannya.


Beralih ke yang lain, mata Cryll akhirnya fokus pada pria berambut pirang yang cerah.


Wajahnya tak terlihat, dan suaranya juga tak terdengar sedikit pun.


Berbeda dari yang berambut putih, pria yang satu ini memakai setelan formal beraksen putih-emas di bawah mantel hitamnya.


Sosok terakhir yang Cryll amati adalah seorang wanita berambut putih.


Rambutnya panjang, menyentuh betis jika dilihat dengan baik.


Di balik mantelnya, wanita itu memakai sebuah gaun yang bentuknya sulit untuk dijelaskan. Memiliki perpaduan warna merah terang, merah muda, kuning, dan ungu.


Gaun yang ia kenakan itu modelnya gaun berekor lebar, yang setiap ekornya sendiri mengambang seolah dikendalikan oleh sesuatu.


Meski wajahnya tak terlihat, Cryll yakin kalau parasnya sangatlah cantik.


Usai mengamati ketiganya, Cryll kembali merasakan perasaan yang begitu aneh.


Itu menyesakkan di dada, seperti dia telah kehilangan sesuatu yang amat penting.


Cryll memegangi dadanya sendiri, dan mulai menyipitkan mata pada ketiga sosok yang mulai pecah menjadi butiran cahaya itu.


Dia memiliki firasat tentang dua pria sebelumnya, tapi tidak dengan wanita itu.


Sosoknya begitu asing, namun entah mengapa terasa begitu akrab.


Cryll mencoba menghapus bayangan sosok itu dari benaknya, dan mulai menonton adegan berikutnya.


Butiran cahaya kembali berkumpul, dan membentuk pemandangan yang berbeda lagi.


Kali ini latarnya seperti di sebuah koridor istana.


Dua sosok, pria dan wanita yang ia lihat sebelumnya tengah berjalan berdampingan.


Pria berambut pirang memilimi aura ketenangan dan ketegasan yang terpancar darinya saat ia berjalan, sedangkan wanita berambut putih di sampingnya hanya mengikuti tanpa ekspresi apa pun.


Kali ini, ada perubahan lain yang tak luput dari pengamatan Cryll.


Ada sebuah salib besar yang melayang di belakang wanita itu. Dan baik wanita itu atau pria di sampingnya juga sudah tidak memakai mantel mereka lagi.


Seperti sebelumnya, wajah mereka buram, dan suara mereka juga tidak terdengar sedikit pun. Ini membuat Cryll kesal karena dia tidak bisa mengekstrak informasi apa pun.


Keduanya berhenti berjalan, dan pria itu berbalik untuk menghadapnya memberinya kepalan tangan, yang kemudian dibalas wanita itu dengan tinju pada kepalan tangannya.


Adegan lagi-lagi berganti. Kali ini yang muncul adalah sosok pria pirang seperti sebelumnya, masing-masing tangannya memegang satu pedang lengkung yang panjangnya sulit untuk diukur dengan sekali lihat.


Dia sendirian, menghadapi ribuan orang yang berlari dengan gila ke arahnya.


Teriakan semangat dan amarah, jerit kesakitan, dan berbagai kutukan dilontarkan. Namun, hanya suara pria itulah yang tidak dapat Cryll dengar.


Tanpa berbasa-basi sedikit pun, pria itu mengayunkan kedua pedangnya dengan gerakan yang lebar, dan ribuan pasukan yang berlari ke arahnya seketika direduksi menjadi abu tanpa ada tanda apa pun.


Kekuatan yang amat besar. Cryll tidak bisa mempercayai matanya.


Meski orang itu sendirian, dia bisa membalikkan situasi pertempuran seperti membalikkan telapak tangan.


Ribuan orang dikalahkan sekaligus hanya dengan satu ayunan setiap pedangnya.


Jika orang itu hidup di Kerajaan sekarang, tidak terhitung berapa banyak peperangan yang dimenangkan Kerajaan dengan sangat mudah. Bahkan, adalah mungkin untuk menaklukkan satu benua dengan kekuatan satu orang itu.


Saat dia masih berpikir, adegan kembali berubah tanpa ampun.


Pria yang sama, yang melenyapkan ribuan orang dengan satu ayunan pedang itu, kini tengah kesulitan saat bertarung satu lawan satu dengan pria asing.


Cryll tidak memiliki cara untuk menjelaskan situasi pertarungan mereka.


Namun, jika ada satu kata yang tepat untuk diucapkan, maka itu adalah 'kegilaan'.


Kekuatan keduanya saling bertabrakan. Dan setiap kali pedang mereka bersentuhan, daratan hancur, langit juga kehilangan semua awannya.


Biarpun begitu sengit, lawan kelihatannya lebih unggul. Cryll bisa dengan jelas melihat pria pirang itu sedang kewalahaj saat beradu pedang dengannya.


Akhirnya, sosok mereka menghilang dari daratan yang telah hancur. Adegan kembali berganti, menunjukkan langit yang biru cerah, namun tak secerah suasana yang ada di sana.


Dua orang yang sama, masih bertarung meski berada di langit dengan kadar oksigen yang tipis.


Situasinya masih belum berubah. Musuh lebih unggul.


Cryll bisa melihat lawannya mendorong dada pria piran itu dengan satu tangan, lalu mengangkat pedangnya dengan tangan yang lain.


Jelas, hanya ada satu adegan yang dapat Cryll pikirkan untuk kejadian selanjutnya.


Ujung pedang semakin dekat dengan ulu hatinya, namun pria berambut pirang itu terlihat tak takut sedikit pun.


Sebaliknya, dia terus bergerak untuk mengubah situasi.


Pria itu menangkap lengan yang memegang erat pakaiannya, dan mulai memutar pergelangan tangan itu hingga menghasilkan bunyi retak yang amat renyah.


Detik kemudian, pria pirang yang disudutkan sebelumnya sudah membalikkan situasi.


Musuh berada di bawah, dan daratan semakin dekat. Meski begitu, dia hanya perlu mengakhiri ini dengan lebih cepat.


Saat musuh hendak menikam lehernya dengan pisau, pria berambut pirang itu telah lebih dulu memisahkan diri dan memberinya jari tengah sebagai salam.


Tak lama kemudian, suara tepukan bergema, bahkan mampu didengar oleh Cryll.


Gemuruh di langit, dan gempa dahsyat di bumi.


Hanya dengan satu tepukan, kekacauan sudah menyebar di permukaan bumi ini.


Cryll tidak bisa berkedip sedikit pun, dan terus melihatnya, menanamkan adegan itu ke memorinya agar ia bisa selalu mengingat itu.


Di langit, awan mulai membubarkan diri, dan sesuatu yang amat tak masuk akal memunculkan dirinya.


Itu adalah tangan. Sepasang tangan berwarna kebiruan dengan dihiasi corak magma dan lahar yang panas.


Ukuran satu tangannya saja sudah lebih dari tiga kilometer. Dan itu ada dua.


Kedua telapak tangannya mengarah ke bumi, dan itu semakin dekat untuk setiap detiknya.


Petir, gemuruh yang amat dahsyat menenggelamkan fokus Cryll, hingga ia hanya akan melihat pemandangan gila itu tanpa mempedulikan yang lain.


Kedua orang yang ia saksikan sedang bertarung itu sepertinya berteriak, tapi Cryll tidak bisa mendengarnya. Dia hanya terus melihat pada kedua telapak tangan yang bergerak semakin dekat.


Hingga akhirnya, telapak tangan itu terjatuh menimpa bumi, dan menggelamkannya dalam kekacauan total.


Cryll tidak bisa melihat apa pun. Namun, samar-samar ia dapat melihat pria berambut pirang itu perlahan berubah menjadi abu, bersama dengan kedua pedangnya yang telah memiliki retakan di setiap bagiannya.


Partikel cahaya muncul di tengah adegan, dan adegan itu menghilang seketika, menjadi kenangan yang tak pasti di benak Cryll.


...****************...