[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 311: Sosok dengan Zirah (1)



...****************...


"Aku memang sudah menduga ini, tapi tetap saja … tidak kusangka wilayah Hutan Dingin ini sangatlah luas! "


Dua sosok dapat terlihat sedang berlari menyusuri daerah Hutan Dingin yang belum terjamah. Salah satunya, yang merupakan seorang laki-laki muda mengerang kesal untuk melampiaskan protesnya.


Apa boleh buat? Di peta, kawasan Hutan Dingin itu sendiri tidak terlalu besar, tapi semua itu berbeda dari kenyataannya.


Hutan Dingin sendiri merupakan kawasan hutan dengan luas yang mencapai lebih dari ratusan kilometer. Saking luasnya, mungkin akan butuh waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun untuk menjelajahi keseluruhan area ini.


Dan untungnya, Noelle memegang peta eksklusif yang menampilkan lokasi pasti Kerajaan Fortenia.


Ada beberapa rute yang bisa dipilih untuk mencapai tempat itu, tapi Noelle dan Tania memilih rute tercepat yang dapat ditempuh selama dua hari dengan berjalan cepat tanpa henti.


Rute tercepat itu mengharuskan mereka untuk melintasi area Hutan Dingin, yang merupakan daerah yang berbahaya bagi manusia biasa. Jika mereka tidak tahan, maka mereka hanya akan membeku di tempat tanpa pernah mencapai tujuan.


Namun, di sini Noelle dan Tania berbeda. Keduanya mampu berlari dengan kecepatan penuh meski suhu di tempat ini benar-benar menusuk.


Selain itu, rute ini tidak bisa dipilih sembarangan karena mengharuskan mereka untuk menentukan lokasi patokan. Dalam hal ini, lokasi yang tertera dalam peta adalah lokasi di mana pemukiman suku Artof berada.


Dari desa suku Artof, mereka bisa langsung berjalan ke arah barat daya. Tidak perlu berbelok, tidak perlu berputar. Hanya perlu berjalan lurus.


"Apa ini baik-baik saja? "


Sambil berlari, Tania melompat dan melemparkan sabit Zephiroth ke arah kiri dengan tujuan seekor monster yang sedang mengintai.


Memang, monster yang tinggal di daerah Hutan Dingin sama sekali bukan makhluk yang agresif, tapi belakangan mereka terus menerus menargetkan Noelle dan Tania. Mungkin karena merasakan hawa kehadiran mereka yang sangat berbeda dari penghuni hutan lainnya.


(Hehe, perkenalkan diri kalian, para introvert.)


Noelle melempar pedangnya ke salah satu arah, dan seekor makhluk seperti kadal, hanya saja memiliki tubuh es itu seketika terjatuh tak berdaya.


Setelah membunuh monster tak dikenal itu, Noelle langsung memasukkannya ke dalam gudang spasial untuk diperiksa suatu saat nanti.


"Noah … sebaiknya jangan berlebihan mengganggu mereka."


"Aku tahu, aku tahu."


Noelle menarik kembali pedangnya dengan rantai kecil yang tersambung, lalu melanjutkan perjalanan ke arah yang dia tuju.


Segala sesuatu yang ada di Hutan Dingin cukup mengejutkan, sampai membuat perhatian Noelle teralih dan menghambat perjalanan.


Siklus itu pun terus berulang sampai akhirnya mereka tiba di suatu bukit.


"Noah."


Noelle langsung mengangguk untuk menanggapi panggilan Tania.


Matanya menyipit, dan dia dengan cepat menganalisis pemandangan yang ada jauh di hadapannya.


Tempat itu benar-benar sudah terbengkalai.


Sebuah reruntuhan ibu kota kerajaan yang telah ditinggalkan selama 600 tahun. Tidak heran akan ada banyak kehancuran di sana. Namun, baik itu Noelle atau bahkan Tania sama sekali tidak menduga ini.


Dari bukit tempat mereka berdiri, pemandangan bekas ibu kota Kerajaan Fortenia dapat terlihat dengan jelas.


Dan bukannya reruntuhan kuno, tempat itu benar-benar seperti baru saja hancur kemarin.


Api sudah lama padam, tapi masih ada jehak hangus dari segala sesuatu yang ada di sana.


Terlebih lagi, yang paling menarik perhatian keduanya adalah belasan menara tinggi yang menjulang ke langit, sepenuhnya terbuat oleh kristal ungu kehitaman yang Noelle duga sebagai kristal Apocalypse Virus.


"Tempat ini termasuk kawasan yang tersegel, jadi tidak heran tidak ada yang mengurusnya."


Alasan itu masuk akal. Tania menganggukkan kepalanya saat dia menarik sedikit ujung pakaian Noelle.


"Kita harus ke sana? "


Noelle mengangguk. "Apa ada masalah dengan itu? "


Noelle tidak keberatan kalau Tania ingin protes. Namun, dia tidak yakin bisa mengubah keputusannya.


Saat ini, satu-satunya cara untuk memenuhi tujuannya adalah dengan berkunjung ke reruntuhan itu.


Tania pun menggeleng, menyangkal pertanyaan Noelle.


"Hanya saja … Navi memperingatkanku akan ada bahaya besar di sana. Selain itu, Zephiroth juga bertingkah aneh."


Kedua informasi itu mengejutkan Noelle.


Noelle masih belum tahu siapa itu Navi, tapi dia punya tebakan. Bisa jadi, Navi adalah sosok yang mirip dengan Noir, parasit yang bersembunyi di jiwa atau tubuh Tania, memiliki kecerdasan tinggi sehingga mampu berkomunitas dengan lancar.


Alasan itu cukup kuat, mengingat Noelle pernah menyaksikan bagaimana Tania mampu mengubah kepribadiannya secara drastis hanya dalam hitungan detik.


Yang membuat Noelle penasaran adalah pernyataan Tania tentang Zephiroth.


Memang benar kalau Zephiroth adalah salah satu senjata yang termasuk kategori 'Senjata Bintang'. Dan sebagai senjata yang menyandang 'nama' itu, Zephiroth memiliki kepribadian semu yang membuatnya dapat memilih penggunanya sendiri.


Namun, lebih dari itu, ketika hubungan batin antara senjata dan pengguna semakin menguat, ada kemungkinan kalau mereka bisa berkomunikasi. Meski tentu saja, komunikasi yang dimaksud itu dalam kapasitas minimal mengingat kesadaran yang dimiliki senjata itu hanyalah kesadaran semu.


Sepertinya hubungan antara Tania dan sabitnya telah melampaui hubungan batin antara Noelle dan kedua pedangnya. Karena tidak seperti Noelle, Tania dapat dengan jelas merasakan apa yang Zephiroth rasakan.


Jika Zephiroth bertingkah aneh di saat seperti ini, maka pasti ada penyebabnya. Dan titik permasalahannya pasti tidak jauh dari ibu kota.


Noelle dalam diam memperhatikan Tania yang sedang melihat bingung pada sabit besar di tangannya. Itu bergetar, dan Tania memegangnya erat seolah sedang berusaha menenangkannya.


Noelle pun beralih melihat kedua pedangnya sendiri, yang sedang dalam bentuk mini sebagai aksesoris gelang.


Kedua pedang itu—Langen dan Ber stand terlihat bergetar sedikit. Getarannya memang tidak begitu kuat, tapi masih mampu Noelle lihat dengan kedua matanya sendiri.


(Aku khawatir sekarang.)


Noelle menghela napas dan membuat kedua pedang itu kembali ke wujud sejatinya. Dia pun berjalan satu langkah ke depan, berusaha mencari pijakan agar ia bisa mendarat dengan aman saat melompat nanti.


"Aku tidak tahu apa yang ada di sana, tapi pastikan untuk memberitahuku kalau Zephiroth bertingkah semakin aneh."


Saat Tania menguatkan pegangannya, getaran pada Zephiroth akhirnya berhenti. Tania pun mengangguk, dan siap mengambil langkah yang sama dengan Noelle.


Keduanya pun melompat pada saat yang sama, dan mendarat sejenak untuk kemudian kembali mengambil lompatan besar agar cepat sampai ke tujuan.


"Apa hanya ibu kota yang harus kita periksa? "


Di tengah lompatan besar itu, Tania tiba-tiba bertanya dengan penasaran, membuat Noelle senang karena dia telah menunggu pertanyaan itu.


"Kemungkinan besar begitu. Dari semua bagian Kerajaan Fortenia, hanya ibu kota yang masih belum diambil kendalinya oleh Republik. Desa-desa dan kota yang dulu termasuk wilayah Kerajaan sudah diambil kembali oleh Republik saat mereka berusaha meminimalisir penyebaran wabah."


Hanya ada satu alasan mengapa ibu kota masih belum juga diambil kendalinya oleh Republik, dan itu adalah fakta bahwa ibu kota adalah titik konsentrasi tertinggi dari virus, jadi tidak ada yang benar-benar berani mendatanginya.


Bahkan sampai saat ini pun virus itu masih menjadi momok menakutkan bagi banyak orang. Belum ada solusi pasti yang bisa diambil jika wabah ini kembali menyebar.


Mungkin, satu-satunya pilihan yang tersisa adalah mengulang tragedi yang pernah terjadi 27 tahun yang lalu.


Tujuan sudah di depan mata. Selagi dalam perjalanan ini, Noelle pun melanjutkan penjelasannya. "Dan meski sudah sangat lama sejak semua daerah itu diambil kembali oleh Republik, mereka sama sekali tidak menggunakan tempat itu untuk membangun pemukiman baru atau hanya sekedar menambah aset. Apa kamu tahu alasannya? "


Namun, selang beberapa detik kemudian, dia kembali membuka mulutnya. "Apa itu karena mereka takut wabahnya masih aktif? "


Atas jawaban itu, Noelle langsung mengangguk. "Itu benar. Dan itu sudah cukup untuk membuktikan betapa berbahayanya wabah kristal ini."


Selain itu dipenuhi dengan misteri, dampak yang disebabkannya pun sangat mengerikan. Tidak heran pihak pemerintah dari semua negara berusaha menekan informasi mengenai wabah ini.


Kini, yang mengetahui tentang wabah kristal adalah orang-orang yang memang bertugas untuk menjaga kerahasiaannya, dan orang-orang yang memang berniat untuk mencaritahunya.


Selain dari itu, mungkin tidak akan ada yang ingat.


Itulah yang membuat Noelle bergidik ngeri. Pihak pemerintah bisa dengan mudah mengendalikan pikiran dan ingatan penduduknya agar semua berjalan sesuai dengan keinginan mereka.


"Yahh, kita termasuk dalam golongan orang yang tidak dipengaruhi oleh 'cuci otak massal'. Jadi sebaiknya kita bersyukur untuk it—"


Belum selesai dia berbicara, sebuah tombak hitam melesat dengan kecepatan yang tidak masuk akal, dan memicu gerak refleks Noelle untuk segera menunduk.


Namun, itu mungkin sebuah kesalahan. Karena tombak itu sekarang malah siap mengenai Tania kapan saja.


"Tania! "


Panggilan tiba-tiba dari Noelle membuat Tania tersadar, dan segera menggunakan sabitnya untuk memblokir tusukan dari tombak.


Bunyi dua logam kuat yang berdentang keras itu membuat Noelle mengembalikan kesadarannya. Dia pun kembali bangkit ke posisi tegak dan menangkap ujung gagang tombak dengan tangan kanannya sendiri.


Hasilnya, alih-alih tertangkap, tombak itu justru menghilang.


Namun, tombak itu kembali muncul di atas kepalanya sendiri, dengan ujung tajam yang mengarah langsung ke bawah.


Saat tombak itu jatuh ke bawah dengan gaya gravitasi yang kuat, Noelle telah lebih dulu melompat mundur dan memberikan tendangan kuat ke batang tombak. Tetapi, sebelum benar-benar mengenai kakinya, tombak itu telah lebih dulu menghilang.


Lalu muncul kembali tepat di belakang Noelle, langsung melesat ke depan, menusuk dari punggung dan menembus hingga ke dada Noelle.


Posisinya saat itu sangat tidak memungkinkan serangan balasan, tapi masih ada Tania di belakangnya.


Tania segera berlari dan mengayunkan sabitnya ke batang tombak, tapi lagi-lagi tombak itu menghilang, membiarkan lubang yang agak besar menganga di dada dan menembus sampai ke punggung Noelle.


Luka seperti itu bukanlah masalah serius untuk Noelle. Dia bisa meregenerasi tubuh yang rusak kapan saja. Namun, saat ini yang terpenting adalah tombak itu.


Noelle memaksimalkan deteksinya untuk segera menyerang ketika tombak kembali muncul.


Dari kecepatan barusan, Noelle tidak yakin kalau tombak itu bergerak secara fisik. Setidaknya, itu terlihat seperti teleportasi.


Tombak kembali muncul di depan Noelle, dan Noelle kali ini berhasil memprediksinya sehingga dia mampu menghindar.


Namun tetap saja, sulit untuk melawan ketika lawannya hanyalah sebuah tombak yang bisa berteleportasi.


Dibandingkan dengan itu, bertarung melawan orang sungguhan terasa jauh lebih mudah.


Noelle menerima serangan dari tombak itu beberapa kali, tapi tak lama setelah itu, Noelle sudah terbiasa dengan pola serangannya.


(Dari caranya menyerang, tombak ini mungkin dikendalikan oleh seseorang. Kalau begitu ….)


Noelle memperluas jangkauan deteksinya, dan berhasil menemukan satu keberadaan kuat yang jaraknya tidak terlalu jauh dari bekas gerbang ibu kota. Anehnya, keberadaan orang itu sama sekali tidak dapat dirasakan sebelum serangan tombak pertama kali dimulai.


Noelle meminta Tania untuk tidak ikut campur dalam pertarungan, dan terus menggerakkan tubuhnya untuk menghindari tusukan dari tombak yang terus berteleportasi tanpa henti.


Melompat mundur ketika tombak itu hendak menusuk dari kepalanya, Noelle kemudian langsung mengayunkan pedangnya sendiri dengan bentuk lingkaran penuh. Hasilnya, dia bisa menangkis tombak yang menargetkan punggungnya itu dengan tepat waktu.


Namun, hasilnya tidak seperti yang Noelle harapkan.


(Tidak terpotong?! )


Fakta ini membuatnya mengerutkan kening. Dia sangat yakin sudah mengaktifkan kekuatan dari pedang hitam Langen, tapi kenapa tombak itu sama sekali tidak terpengaruh?


Pedang hitam Langen, memiliki kemampuan untuk menebas dan memotong segalanya, tergantung pada kemampuan pengguna. Namun, sejauh ini, ada satu hal yang Noelle tahu tidak akan bisa dipotong dengan kekuatannya.


Dan itu adalah senjata bintang lainnya.


Noelle sudah melakukan banyak percobaan dengan Olivia. Percobaan itu dilakukan dengan saling mengadu kekuatan antara kedua senjata bintang mereka. Hasilnya mereka tahu kalau senjata bintang akan saling menetralisir efeknya ketika mereka bersentuhan.


Sama seperti Achto yang tidak dapat meledakkan Langen, dan Langen yang tidak dapat memotong Achto, sepertinya tombak yang sedang Noelle lawan saat ini termasuk dalam salah satu senjata bintang.


Dan Noelle tahu tombak apa itu.


Noelle berhenti bergerak, dan menyarungkan pedangnya. Dia pun dengan tenang menatap pada tombak yang hanya diam di udara seolah sedang menunggu pergerakannya.


(Sudah kuduga, ada manusia yang mengendalikannya. Dan dia juga tidak bodoh.)


Noelle berhenti memberikan tatapan permusuhan, dan hanya tersenyum tipis sebagai gantinya.


"Kenapa kau tidak keluar saja dan bicara! "


Pertarungan habis-habisan tidak akan ada gunanya. Sepertinya pemilik sejati dari tombak itu juga menyadarinya, karena saat perhatian Noelle teralih sebentar, sudah ada bunyi langkah kaki berat yang disertai dengan gemerincing logam kecil yang saling bertabrakan.


Sosok itu perlahan mendekat dari dalam gerbang. Menggunakan zirah hitam pekat yang menutupi seluruh tubuhnya. Cara berjalannya terlihat begitu ringan, tapi di saat yang sama juga terasa begitu berat.


Meski terlihat lengah, Noelle tidak menemukan satu pun celah yang bisa dia gunakan untuk menyerang.


Terakhir, yang membuat dirinya dan Tania begitu waspada, adalah kristal ungu kehitaman yang seolah tumbuh langsung dari permukaan zirahnya.


"Grei …."


Tania dengan raut muka cemas memanggil nama samaran Noelle, dan Noelle meresponnya dengan anggukan kecil.


(Apa dia terinfeksi? )


Dari postur dan ukuran tubuhnya, Noelle yakin kalau sosok itu adalah seorang pria. Selain itu, di tangan kanannya, dia memegang sebuah tombak hitam yang sama dengan yang sebelumnya menyerang Noelle dan Tania.


Noelle pun hanya bisa memaksakan tawanya.


"Kupikir Republik begitu bodoh untuk meninggalkan tempat ini tanpa pengamanan, tapi ternyata aku salah. Kau sendiri mungkin sudah cukup untuk mengamankan tempat ini."


Salah satu hal yang membuat Noelle merasa begitu janggal adalah minimnya pengamanan di sekitar reruntuhan ibu kota Fortenia.


Meski sudah sepenuhnya terisolasi, seharusnya Republik masih menempatkan unit pengaman untuk menjaga tempat ini. Bahkan meski mereka berada pada jarak aman, yang cukup jauh dari dinding ibu kota.


Tapi, tidak ada siapa pun di sini. Seolah tempat ini benar-benar sudah diabaikan karena terlalu berbahaya.


(Kurasa mereka tidak memperhitungkan orang-orang seperti kami.)


Mungkin salah satu alasan Republik tidak repot-repot memberikan unit penjaga tempat ini, adalah fakta bahwa tidak ada siapa pun yang mau berkunjung. Dalam hal ini, mereka benar-benar gagal dalam memprediksi kemungkinan akan adanya orang yang akan datang.


Tidak ada permusuhan yang datang darinya, tapi Noelle sama sekali tidak menurunkan kewaspadaannya. Dia siap menyerang kapan saja.


(Eh–)


Noelle siap menarik pedangnya saat sosok berzirah itu semakin dekat. Namun, matanya seketika melebar ketika dia menyadari sesuatu.


(Bagaimana bisa … masih ada yang hidup?! )


...****************...