[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 151: Cryll Rescue Act (8)



...****************...


Sementara itu, di suatu tempat yang tak jauh dari lokasi Noelle dan yang lain berada.


Sosok Olivia dapat dilihat sedang duduk di sebuah tiang besi yang telah miring secara horizontal. Dia dengan ringan mengayunkan kedua kakinya, sementara kedua tangannya yang menopang dagunya sendiri itu tampak bertumpu di pahanya.


Mata obsidian itu tampak kosong dan menunjukkan suasana yang bosan. Tapi, entah mengapa udara hangat yang menenangkan dapat dirasakan di sekitarnya.


"Apa yang kamu lakukan? "


Stella menghampirinya, dia berdiri tepat di belakang Olivia, sambil menggenggam sebuah anak panah yang terbuat dari es.


Olivia melirik sedikit padanya, lalu kembali ke keadaannya sebelumnya.


Berdasarkan penampilannya yang cukup berantakan, Stella pasti baru selesai melakukan penyelidikan terhadap lokasi yang mereka berdua jadikan markas sementara ini.


"Aku hanya memastikan keadaan Noelle," jawab Olivia singkat.


Stella tersenyum tipis saat mendengar jawabannya. Dia kemudian memilih untuk duduk tepat di sisinya.


"Apa mereka semua baik-baik saja? "


Ada kecemasan yang sangat jelas di balik suara tenang Stella. Meskipun dia tidak memiliki hubungan khusus dengan mereka semua yang pergi dalam misi ini, dia tetap merasakan suatu rasa bersalah yang ia Terima atas nama Cryll.


Itu mungkin aneh. Tetapi, perasaan adalah sesuatu yang sangat rumit sehingga tak dapat dipahami dengan mudah.


"Mereka pasti baik-baik saja. Noelle bersama mereka."


" … Kamu sangat mempercayainya, ya … "


Stella sudah tahu ini. Tapi, tidak peduli berapa kali ia melihatnya, kepercayaan yang Olivia miliki terhadap Noelle itu terlalu tinggi. Dan sejujurnya itu membuat Stella merasa sedikit khawatir.


Bahkan dirinya sendiri tidak yakin apakah ia bisa mempercayai Cryll seperti yang Olivia lakukan terhadap Noelle. Hanya dengan melihatnya saja, Stella sudah tahu kalau Olivia telah benar-benar terikat dengan keberadaan laki-laki itu.


Menanggapi itu, Olivia hanya tersenyum simpul. Dia kemudian mengangkat wajahnya dan meregangkan tubuhnya sementara masih duduk di tiang yang telah roboh itu.


"Ada banyak alasan untuk semua itu. Aku bisa membuang waktuku selama berjam-jam hanya untuk menceritakan bagaimana aku bisa dekat dengan Noelle. Apa kamu mau mendengarnya? "


" … Kurasa tidak."


Mereka benar-benar tidak dalam waktu yang tepat untuk melakukan semua itu.


Tapi, karena situasi di lokasi mereka benar-benar berbeda dengan situasi yang Noelle hadapi saat ini, tidak ada salahnya untuk sedikit bersantai.


Stella menghela napas ringan, dan meregangkan tubuhnya seperti yang Olivia lakukan sebelumnya.


"Ngomong-ngomong … Bagaimana kalian bisa menjadi sangat dekat? Aku sudah lama bersama Cryll, tapi kurasa kami tidak sedekat kalian … "


Suaranya memudar ketika ia mencapai kata terakhir itu. Dia tidak menyelesaikan semua kalimatnya.


Meskipun begitu, Olivia dengan sangat jelas memahami apa yang Stella pikirkan. Dia mungkin khawatir karena hubungan yang ia miliki dengan Cryll tidak sebaik hubungan yang Noelle dan Olivia miliki.


"Bahkan jika kamu bertanya padaku … Aku sendiri tidak tahu. Semua berjalan dengan sendirinya. Tentu aku melakukan banyak pendekatan ekstrim padanya dulu, tapi aku ragu itu membuahkan hasil yang bagus … "


Apa yang baru saja ia katakan itu adalah kenyataannya.


" … Itu tidak begitu membantu."


Sepertinya meminta saran pada Olivia adalah hal yang sia-sia. Karena baginya, keberadaan Noelle adalah seluruh hal yang ia butuhkan. Stella tidak memiliki pemikiran seperti itu terhadap Cryll, jadi ia mungkin tidak dapat memahaminya.


Menanggapi itu, Olivia hanya tersenyum masam dan mengangkat bahunya dengan ringan, sebelum akhirnya melompat dari tiang itu.


"Aku tidak begitu ahli dalam menjelaskan sesuatu. Kamu mungkin sudah tahu itu. Tapi, apa yang ingin aku katakan adalah, jangan terlalu terpaku dengan tingkat kedekatan kalian yang sekarang. Kamu hanya perlu menjalani hidupmu seperti biasa. Dan tentu saja, dengan melibatkan dirinya. Yahh, kurasa itu akan sulit."


Dalam hal kepekaan, Cryll sama seperti Noelle. Dia sangat sensitif dengan suatu perasaan yang diarahkan padanya. Tapi, dia kerap bingung dengan bagaimana harus meresponnya.


" … Aku mengerti … Dan … Bisakah aku bertanya satu hal? "


"Apa? "


Olivia memiringkan kepalanya dan menatap Stella dengan bingung.


"Kenapa kamu selalu menyipitkan matamu seperti itu? Apa ada sesuatu yang salah? "


Itu adalah sesuatu yang telah mengganggu pikiran Stella selama ini. Semenjak mereka berdua diminta untuk bersiaga di posisi ini, Olivia terkadang menyipitkan matanya seolah mencoba fokus pada sesuatu.


Selain itu, ia juga sering memiringkan kepalanya bahkan saat dia tidak sedang berinteraksi dengan Stella.


Stella tahu kalau Olivia bukanlah tipe orang yang akan melakukan sesuatu tanpa alasan. Tentu saja dia akan kebingungan dengan tingkah Olivia.


Olivia mengedipkan kedua matanya beberapa kali, seolah bingung dengan apa yang Stella katakan.


"Apa aku melakukan itu? "


"Nn. Kamu melakukannya."


Ketika Stella mengatakannya, mata Olivia langsung menyipit.


Udara di sekitarnya seketika berubah, dengan jelas menunjukkan peningkatan pada kewaspadaannya. Seolah, ia telah menyadari sesuatu.


Stella yang kebingungan dengan semua itu tak sempat bertanya. Olivia langsung berlari meninggalkan Stella, dan menghampiri salah satu puing batu yang berserakan di sekitarnya.


"Olivia? "


Stella mencoba memanggilnya, tapi Olivia sepenuhnya mengabaikan panggilan itu, dan terus menggali puing-puing yang berserakan.


Tampaknya keberadaan Stella telah benar-benar menghilang dari pikirannya.


Stella yang melihat ini tentu saja bingung. Dia pernah mendengar dari Noelle kalau Olivia adalah seseorang yang sangat tidak stabil. Dia bisa bertindak berbeda hanya dalam hitungan detik. Tapi, ia tidak menyangka kalau ia akan menyaksikan perubahan itu tepat di depan matanya sendiri.


Sementara ia masih dibuat bingung dengan tingkah Olivia yang tidak jelas, Olivia, yang menjadi target kebingungan itu masih dengan serius menggali tanah.


Butiran keringat dingin tampak menghiasi kulit wajahnya yang pucat, dan rambutnya yang dikepang besar itu bergoyang setiap kali tangannya bergerak untuk menggali tanah.


Mengabaikan tangan dan pakaiannya yang telah dinodai oleh tanah, Olivia terus menggaki tanah, seolah mencari sesuatu.


Mata obsidian itu tampak bergetar dengan cemas saat ia akhirnya merasa telah menemukan sesuatu.


"Jadi itu benar … "


Kedua alis Olivia menyatu saat ia mengatakan itu. Dia perlahan mengangkat sesuatu yang baru saja ia temukan.


"Apa itu? "


Stella dengan bingung bertanya. Ia memperhatikan bentuk dari benda itu. Secara penampilan, tidak ada yang spesial. Hanya sebuah batu besar berwarna hitam yang tampak sangat mengkilap. Beberapa orang mungkin tertarik untuk menyimpan dan menjadikannya barang koleksi, tapi tampaknya sebagian besar orang yang menemukan itu akan menganggap batu itu sebagai sesuatu yang tidak berharga.


Namun, berbeda dengan Olivia. Dia dengan jelas menunjukkan kecemasannya terhadap batu itu.


"Sesuatu yang mampu menahan kekuatan kami. Batu bulan."


"Batu bulan? "


Stella masih tidak mengerti, tapi ia samar-samar mulai memahaminya. Olivia baru saja mengatakan 'sesuatu yang mampu menahan kekuatannya'. Itu artinya, batu itu bukanlah batu biasa.


Olivia mengangguk. "Nn. Kau tahu kalau aku dan Noelle adalah vampir, 'kan? "


Mendengar itu, Stella langsung melebarkan matanya dengan terkejut. Mungkin karena ia telah selangkah lebih dekat dengan kesimpulan.


"Ya … Kalau tidak salah … Kalian menjadi vampir karena ketidaksengajaan, 'kan? "


Olivia mengangguk. "Itu benar. Tapi, bukan itu inti masalahnya."


"Lalu? "


"Aku dan Noelle, atau mungkin semua vampir memang memiliki tingkat kekuatan yang lebih tinggi dari manusia biasa. Tapi, kami memiliki kelemahan yang sangat fatal."


Olivia tanpa ragu mengatakannya. Normalnya, seseorang tidak akan memberi tahu orang lain tentang kelemahan yang dia miliki. Tapi, Olivia telah mempercayai Stella sampai tahap tertentu, jadi ia tanpa ragu menceritakan salah satu kelemahan fatalnya.


Lagi pula, Olivia yakin kalau dia masih bisa bertahan bahkan jika ada banyak orang mulai menyerangnya berdasarkan informasi itu.


"Salah satu kelemahan kami yang sangat fatal adalah, kami akan kehilangan hampir sebagian besar kekuatan ketika dalam fase bulan baru."


"Eh? Bukankah fase bulan baru sudah selesai satu bulan yang lalu? Lalu … Kenapa … "


" … Apa karena batu itu? "


Olivia mengangguk menyetujuinya. "Nn. Ini adalah batu bulan. Aku bisa merasakan bagaimana kekuatanku perlahan mulai menghilang. Semua karena batu ini."


" … Apa itu benar-benar bisa terjadi? Kurasa sebuah batu tidak akan bisa mengurangi kekuatan seseorang."


"Jika batu biasa, memang tidak. Tapi, apa yang sedang kupegang sekarang ini bukanlah batu sembarangan."


Olivia mengangkat batu itu, dan mengarahkannya ke langit. Lebih tepatnya, ke posisi matahari.


"Aku tidak tahu bagaimana mereka bisa mendapatkannya. Tapi … Ini adalah batu bulan sungguhan. Kami sedikit salah paham saat itu, jadi kami tidak mengetahuinya. Tapi, kelemahan kami bukanlah fase bulan baru. Melainkan bulan itu sendiri."


" ……… Aku tidak mengerti maksudmu."


"Tidak apa jika kamu tidak mengerti. Pada intinya, batu bulan ini telah menyebabkan pengurangan yang cukup drastis pada kekuatanku dan Noelle. Dan aku khawatir kalau Noelle belum menyadarinya."


Memang sedikit rumit, tapi akhirnya Olivia mampu memahami kelemahannya sendiri.


Namun, untuk saat ini, Olivia akan mengesampingkan semua itu.


Semua perhatiannya hanya fokus pada satu hal. Yakni pada keadaan Noelle yang ada di sana.


" … Apa dia akan baik-baik saja? "


Pertanyaan dari Stella membuatnya tersadar. Olivia mencoba tersenyum guna menghapus semua kekhawatiran yang tergambar jelas di wajahnya, dan bergumam.


"Noelle pasti baik-baik saja. Entah bagaimana Noelle pasti akan mengatasinya."


Olivia tidak ingin menunjukkan wajah khawatirnya pada seseorang yang kini dalam situasi lebih rumit darinya. Biarpun kedekatannya dengan Noelle jauh lebih baik jika dibandingkan Cryll dengan Stella, Olivia tetap ingin menunjukkan dirinya sebagai sosok yang akan membuat Stella tenang.


Dia kemudian menyipitkan matanya, sebelum akhirnya menarik rapier yang tergantung di pinggangnya.


"Bersiaplah. Ada musuh yang mendekat."


Peringatan Olivia yang datang dengan tiba-tiba itu membuat Stella hampir tak dapat merespon. Meskipun begitu, ia akhirnya kembali sadar dan melompat mundur, mengambil posisi tepat di belakang Olivia.


Di tangannya, telah siap beberapa anak panah yang terbuat dari es. Ia benar-benar telah siap untuk menyerang kapan saja.


Sambil merasakan hawa dingin yang perlahan menjalari tubuhnya, Stella akhirnya dapat merasakan kehadiran musuh yang Olivia maksud.


Tak butuh waktu lama hingga sosok musuh itu menunjukkan dirinya sendiri.


Sebuah tebasan yang sangat cepat datang menyerang Olivia, tapi Olivia dengan mudah menangkis itu menggunakan pedangnya. Dia kemudian menendang perut penyerang, dan membuatnya terpental jauh ke belakang, hingga menabrak sebuah pohon besar.


Detik kemudian, Stella juga menembakkan panahnya, dan mengenai tepat pada pohon yang ditabrak oleh musuh.


Begitu anak panah yang ditembakkan Stella menancap di batangnya, pohon besar itu langsung membeku. Hanya memakan waktu beberapa detik hingga akhirnya es menutupi semua bagian dari pohon itu.


Meskipun begitu, sosok musuh tak dapat ditemukan di sana.


Hanya ada sebuah jubah hitam yang telah membeku karena serangan panah sihir Stella sebelumnya.


Olivia langsung melompat dan menembakkan sebuah rantai es ke belakang Stella, lalu menarik dirinya sendiri ke sana.


Dia kemudian mengayunkan pedang rapier miliknya, yang pada akhirnya menabrak sesuatu dan menghasilkan bunga api yang indah.


"Oi, oi! Rapier bukanlah jenis senjata yang bisa kau ayunkan! "


Sosok musuh akhirnya berbicara. Berdasarkan suaranya, dia adalah seorang pria.


Tubuhnya masih ditutupi oleh jubah, jadi Olivia tak dapat mengenalinya dengan jelas. Tapi, ia sadar akan satu hal.


Musuhnya kuat.


Dia muncul di saat yang benar-benar buruk. Kekuatan Olivia berkurang drastis karena keberadaan batu bulan. Jadi ia tak bisa mengeluarkan kekuatan penuhnya.


Dan sekarang, ia berpikir. Bagaimana ia harus menghadapi musuh yang ada di hadapannya? Mungkin akan memakan sedikit waktu hingga ia akhirnya bisa menemukan jawabannya.


...****************...


"Percuma! Kita tidak bisa lari! "


"Seseorang! Tolong kami! "


"Tidak ada harapan! Mereka tidak akan membantu kita! "


"Kalian! Bertarunglah jika kalian ingin bertahan hidup! "


"Hei, kenapa ini semua bisa terjadi? "


"Apa kita hidup selama ini … Hanya untuk mati sekarang? "


"Tidak! Aku tidak mau mati! "


"Tolong aku! "


"Hei, menurutmu … Apa arti keberadaan kami? "


"Kenapa bala bantuan belum datang?! Apa yang mereka lakukan?! Banyak nyawa yang terbuang setiap detiknya! Apa yang sebenarnya terjadi?! "


"Aku tidak akan lari. Tidak akan! "


"Hidup hari ini hanya untuk mati suatu saat nanti, bukankah itu sia-sia? "


"Tidak apa, aku akan melindungimu. Jangan takut. Aku akan selalu bersamamu."


"Hei, apa menurutmu … Kami ini hanya sebatas alat yang bisa dibuang ketika tidak layak digunakan? "


"Tolong kami, Cryll … "


Suara-suara itu terus bergema di kepalanya.


Cryll menggertakkan giginya dengan penuh emosi, sementara kedua matanya terasa sangat panas, berusaha menahan agar tak mengeluarkan setetes pun air mata.


Meskipun begitu, perasaannya yang sesungguhnya tak dapat berbohong.


Ia merasakan penyesalan, kesedihan, dan penderitaan. Meskipun ia tidak mengenal satu pun pemilik suara itu, ia masih bisa merasakannya.


Bagaimana suara jeritan penuh penderitaan mereka, dan bagaimana teriakan keputus-asaan yang mereka alami. Cryll dengan jelas merasakan itu.


Namun, ia tak dapat melakukan apa pun untuk menghapus perasaan itu.


Setiap kali ia berlari dan berusaha mencapai suara itu, dirinya selalu terjebak dalam mimpi dan labirin yang sama.


Seolah dengan sengaja mengunci dirinya sendiri agar tak pernah mencapai suara mereka.


Cryll memaksakan tenggorokannya, dan berteriak sekuat tenaga. Namun, tak ada suara yang keluar dari mulutnya.


Hanya sebuah kehampaan total, tak ada apa pun di sekitarnya. Tak ada apa pun, selain jeritan penderitaan dari semua orang yang seharusnya tidak pernah ia kenal.


"Kau adalah Egoist, 'kan? Apa kau akan membiarkan kami mati dengan sia-sia di sini? "


(Tidak! Aku tidak akan melakukan itu! )


Sekeras apa pun ia mencoba berteriak, suaranya tak akan pernah keluar. Jadi ia hanya bisa menjawab mereka semua di dalam hatinya sendiri.


Meskipun begitu, jawaban apa yang ia pilih, ia sendiri tidak tahu. Itu karena ia merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya, mencegahnya untuk berbalik dan menolong semua pemilik suara penderitaan itu.


"Tolong kami, Cryll."


(Diam! Berisik! Aku tidak–)


"Apa kau berusaha melarikan diri? Hanya karena kau telah diselimuti oleh takdir yang kejam ini? "


"Ah–"


Cryll mengangkat wajahnya yang memucat, dan menemukan dirinya masih berada di sel yang dingin itu.


...****************...