[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 184: Suatu 'uhh' (2)



...****************...


Di tengah sebuah ruangan kosong, ada dua sosok laki-laki yang duduk dengan saking bersandar pada punggung masing-masing.


Keduanya memiliki mata yang kosong, dan jelas tak memiliki harapan sama sekali.


Dua orang itu adalah Rico dan Kaira, yang telah berada di tempat yang sama, murung selama hampir satu jam penuh.


"Ahhh … Ini percuma … Kita sudah tidak bisa keluar, kita terjebak di sini selamanya. Bagian terburuknya, hanya ada laki-laki di sini. Kita tidak bisa berkembang biak dan menciptakan pemukiman baru. Ahh, hei, mungkin saja bisa? Kaira, mau mencobanya? "


"Jauhkan pikiran bodohmu itu dariku, kau sialan! "


Kaira dengan kesal membentak pada Rico, namun ungkapan kejengkelannya itu hanya direspon dengan satu senyuman sinis.


"Bahkan aku juga tidak mau itu, kau terlalu menganggapnya serius."


"Kau tidak tahu kapan imajinasimu yang liar itu akan menjadi kenyataan, dan kau tidak tahu apakah itu akan menjadi nyata atau tidak. Tapi, sebelum itu terjadi, aku ingin kau berhenti memikirkan hal yang bodoh dan fokuslah pada bagaimana cara kita keluar dari sini! "


"Ughh … Baiklah … Sebenarnya … Aku sudah punya satu perkiraan yang cukup matang. Tapi, aku tidak tahu itu akan berhasil atau tidak."


"Katakan saja! "


Kaira dengan cepat memegangi bahu Rico dan memaksanya untuk memuntahkan semua pendapat yang dia miliki. Meskipun begitu, itu tak merubah kenyataan kalau hanya ada satu teori yang berhasil Rico pikirkan.


"Apa kau bisa terhubung dengan Norman? "


"Jika aku bisa terhubung dengannya, maka kota pasti sudah berada di dekatnya sekarang. Aku tidak begitu bodoh sehingga akan melupakan semua keunggulan yang kumiliki."


Bagaimanapun, Kaira memiliki suatu benda yang dapat menghubungkannya dengan Norman. Dengan benda itu, dia bisa memastikan kondisi, dan akan berteleportask ke area di sekitarnya jika diperlukan.


Sayangnya, koneksi itu sudah terputus, dan benda yang menjadi media penghubung itu telah menjadi sebuah rongsokan yang tidak berguna.


Kaira menjelaskan itu, dan Rico dengan cepat memahaminya. Selanjutnya, Rico mengangguk dan dengan raut wajah serius mulai bergumam.


"Jika koneksimu dengan Norman terputus, bagaimana dengan dunia luar? "


"Apa maksudmu? " tanya Kaira dengan bingung.


Dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang Rico katakan. Tidak hanya mengatakannya secara samar, Rico bahkan tak memberikan penjelasan tambahan sehingga membuat Kaira tidak dapat mencapai inti dari pertanyaannya.


"Aku mengetahuinya dari Anzu. Kau meminta Werli mengajarimu, 'kan? Suatu ritual yang dapat membuatmu terhubung dengan 'mereka'."


" ……… "


Berbicara tentang Werli, dia memiliki nama lengkap Werli sera Natra. Keluarga Natra bukanlah bangsawan besar yang cukup terkenal, dan mereka juga tidak mengelola satu pun wilayah. Hanya saja, mereka memiliki posisi sebagai bangsawan bawahan yang melayani Duke Alexander, yang merupakan keluarga Iris.


Selain dari posisi yang menguntungkan namun tak mencolok itu, satu-satunya hal yang membuat mereka dapat menjadi pusat perhatian adalah kemampuan mereka dalam sihir dan rasa haus mereka akan pengetahuan.


Sekitar 1 abad yang lalu, leluhur keluarga Natra yang saat itu belum menjadi bangsawan mengemukakan satu teori, yang mengindikasikan adanya keberadaan lain di dunia. Teori mereka sulit untuk dipahami, dan hanya dianggap sebagai salah satu teori dari sekian banyaknya teori di luar sana yang menyatakan asal muasal.


'Keberadaan yang tidak diketahui', begitulah mereka menyebutnya. Mereka menganggap kedudukan 'Mereka' berada di atas manusia, dan dapat disetarakan, sekaligus tidak dapat disejajarkan dengan para dewa.


Pada dasarnya, mereka tidak tahu apakah keberadaan 'Mereka' ini memang dikategorikan sebagai dewa atau tidak. Itu karena mereka tidak tahu apakah 'Mereka' ini benar-benar nyata atau hanya khayalan belaka.


Terlalu banyak ajaran tentang mistisme yang menghadirkan keberadaan mereka, namun tak satu pun yang dapat membuktikan keaslian dari kehadirannya.


Namun, baru-baru ini, keluarga Natra mulai rutin mempublikasikan hasil penelitian mereka yang baru.


Itu adalah bukti pembenaran yang menyatakan bahwa keberadaan 'Mereka' ini benar adanya.


Pembuktian itu datang dengan segala hal yang dirasakan dan ditemukan oleh Werli, pewaris mereka, dan orang yang memiliki berkah dari sang dewi.


Werli mampu mendengar bisikan-bisikan halus yang memberinya banyak pengetahuan. Itu adalah hal yang bagus, jika bisikan itu tidak memberinya jalan yang menyesatkan.


Yang menjadi masalah, semua pengetahuan yang 'Mereka' bisikkan padanya itu hanya berisikan cara dan jalan tempuhnya yang menyesatkan.


"Dan kau benar-benar percaya dengan itu? "


Kaira menoleh pada Rico, dan memberinya senyum ambigu.


"Aku memang memintanya untuk mengajariku beberapa hal, tapi pada akhirnya dia tidak memberiku apa pun yang berguna. Satu-satunya yang ia ajarkan padaku adalah untuk fokus pada semua yang ada di sekitarmu, bukan sihir, bukan fisik, dan bukan pula kesadaran. Apa kau mengerti maksudnya? Aku menyerah untuk memahaminya setelah beberapa menit."


"Bukan sihir, bukan fisik, dan bukan pula kesadaran … Apa itu berarti sesuatu? Dia bisa saja berusaha menyampaikan sesuatu, tapi tidak bisa melakukannya."


Rico memposisikan tangannya di dagunya sendiri dan mulai bergumam. Kaira yang melihat itu hanya bisa tersenyum masam sambil memberikan penjelasan tambahan mengenai Werli.


"Yahh, tapi bahkan jika dia bisa mendengar semua bisikan itu … Aku ragu dia akan memanfaatkannya. Bagaimanapun, dia bilang cara penempuhannya menyesatkan, dan dia juga bilang padaku kalau dia hanya bisa mendengar bisikan mereka, tanpa bisa memberikan pengaruh apa pun pada sosok atau apa pun yang ada di balik bisikan itu."


Rico mengakhiri sesi berpikirnya, dan dengan serius menatap Kaira, sementara Kaira yang merasakan perubahan pada atmosfernya secara alami menahan napas dan menegakkan tubuhnya sendiri.


"Setelah dipikir-pikir, bukankah Werli tampak seperti sedang frustasi belakangan ini? Apa itu ada hubungannya dengan bisikan yang dia dengar? "


"Kemungkinannya tidak kecil. Aku menduga kalau dia bisa lepas kendali jika menerima bisikan itu lebih banyak lagi. Untungnya, dia bisa membatasi seberapa lama atau seberapa jauh dia bisa berhubungan dengan mereka, jadi dia bisa memotong koneksi itu kapan pun dia mau. Tentu saja, dengan cukup banyak usaha."


Rico kembali berpikir, tapi sebelum ia kembali ke ketenangan yang mengisi pikirannya itu, Kaira kembali menarik kesadarannya keluar dan bertanya.


"Sekarang, beri tahu aku solusi apa yang kau pikirkan."


Tak hanya tak menjawab, Rico bahkan memberikan tatapan kesal pada Kaira.


"Apa kau bisa terhubung dengan mereka? "


" … Kenapa kau memintaku melakukan itu? "


Itu adalah dasar untuk semua pertanyaannya. Bahkan meskipun dia telah berteman dekat dengan Rico, bukan berarti Rico akan dengan senang hati memberinya semua informasi yang dia perlukan.


Untuk mengorek lebih dalam, Kaira perlu memakai cara yang berbelit-belit dan cukup merepotkan. Bagian terburuknya, Rico adalah orang yang benar-benar tajam, berkebalikan dengan tampangnya yang terlihat seperti orang bodoh tak berotak.


Namun, berlawanan dengan perkiraannya, Rico justru dengan mudah membeberkan informasi itu.


"Aku ingin kau terhubung dengan 'Dia' yang mungkin ada kaitannya dengan dungeon ini. Kupikir itu akan berhasil, mengingat semua yang telah kita lalui."


" … Apa maksudmu? "


Bahkan meskipun Kaira telah mendalami perkataan Rico, dia masih tak memahami maksudnya. Itu mungkin karena kurangnya pengetahuannya akan segala hal yang berkaitan dengan tempat ini.


Melihat Kaira yang penasaran, Rico kemudian dengan pasrah menjelaskan.


"Tempat ini adalah dungeon yang ada di bawah laut. Kita berdua tahu itu. Tapi, kenapa bisa ada di sini? Dan bagaimana kita bisa dikirim ke sini? "


"… Terneth."


Kaira secara alami menyebutkan nama itu. Memang, mereka berdua telah membuat kesimpulan yang sama, kalau Terneth adalah dalang di balik semua ini.


"Kita tahu kalau pelakunya kemungkinan besar adalah Terneth. Tapi, bagaimana dia melakukannya? Dia terhubung dengan kelompok yang mengelola pulau itu, tapi dari mana dia tahu tentang dungeon ini? "


"Bisa jadi … Karena ada orang yang pernah memasukinya dan memberikan laporan tentang tempat ini padanya."


Itu adalah kesimpulan yang sederhana, tapi Rico dengan cepat menggeleng.


"Awalnya aku juga berpikir begitu. Tapi, apa kau menyadarinya? Tidak ada satu pun tanda yang mengindikasikan jejak keberadaan seseorang. Bahkan jika tempat ini sudah dijelajahi bertahun-tahun yang lalu, seharusnya akan ada satu atau dua tanda yang masih tersisa. Tapi, tidak ada satu pun."


"Juga, bagaimana dia bisa dengan akurat memisahkan kita semua? Perkiraanku, bukan hanya kita yang terpisah, tapi kemungkinan akan ada beberapa orang yang juga berada di kelompok yang berbeda."


Singkatnya, mereka semua telah terpecah ke dalam beberapa kelompok.


Bagaimana Rico bisa menemukan kesimpulan itu? Kaira bertanya-tanya, namun tak dapat menemukan apa pun yang menjawabnya.


"Sejauh ini, Terneth memang hebat dalam hal sihir, aku akui itu. Tapi, dari yang kita lihat di penyerangannya pada Eisen sebelumnya, dia hanya bisa melakukan teleportasi sederhana dengan menukar posisinya dengan orang lain. Secara teknis, tidak mungkin dia bisa menciptakan sihir teleportasi yang kompleks dan membuat kita semua terpisah secara akurat. Itu aneh, apa kau merasakannya juga? "


"Sekarang kau mengatakannya … Itu memang aneh. Tidak peduli seberapa bagus Terneth dalam sihir, melakukan sihir teleportasi skala besar dan kompleks seperti ini akan membutuhkan kemampuan yang lebih baik dari penyihir kerajaan. Dia tersingkir saat menjadi kandidat untuk posisi itu, jadi seharusnya tidak mungkin dia memiliki kemampuan yang lebih tinggi. Lalu … "


Kaira mulai bergumam sendiri, dan akhirnya sampai pada satu kesimpulan akhir.


Dia dan Rico secara bersamaan menjentikkan jari mereka dan bersuara.


" "Ada keterlibatan 'orang' lain! " "


Keduanya telah sampai pada kesimpulan yang sama. Setidaknya ini memudahkan keduanya untuk menentukan pilihan mereka ke depannya.


Rico melihat Kaira sudah memahaminya, dan mulai menunduk.


"Itulah yang ingin kuminta darimu, Kaira. Aku ingin kau terhubung dengan sosok yang bekerja sama dengan Terneth. Jika tebakanku benar, maka sosok yang bekerja sama dengan Terneth ini adalah entitas yang serupa dengan yang memberikan Werli bisikan."


Hanya itu yang bisa Rico pikirkan. Bagaimanapun, tidak mungkin Terneth akan mengalami peningkatan kekuatan secara drastis dalam waktu singkat. Dia butuh waktu lebih lama dari itu, Rico yakin dengan pernyataannya.


Karena itulah, dia menghubungkan semuanya dengan entitas asing yang terus membisikkan pengetahuan pada Werli.


Pengetahuan yang entitas itu bisikkan memberinya suatu pencerahan, tapi dengan dibekali jalan yang menyesatkan.


Orang nekat seperti Terneth pastinya tidak akan ragu untuk menjalin hubungan dengan entitas seperti itu.


"Gereja mungkin tahu sesuatu tentang ini, dan aku yakin ada beberapa organisasi yang juga tahu tentang keberadaan 'mereka', tapi … Untuk saat ini, kita akan mengesampingkannya. Fokus pada penemuan jalan keluar, itulah tugas kita sekarang."


"Kurasa … Aku punya ide. Ide yang terdengar tidak begitu bagus. Meskipun begitu … Apa kau mau membantuku? " kata Kaira sambil tersenyum sengit.


...****************...


"Tempat ini … "


Lilith dengan penuh kekaguman melihat sekelilingnya, dan tak dapat menahan rasa ingin bersorak.


Tempat yang dia, dan mereka temukan kali ini, adalah sebuah gua yang sangat luas. Cukup gelap, tapi bukanlah jenis kegelapan yang menakutkan. Banyak sinar yang dilancarkan dari partikel cahaya kecil yang melayang di sekitar.


Permukaan dinding dan langit-langit gua itu antara biru gelap dan hitam, membuatnya tampak seperti langit malam.


Stalaktit yang menggantung membuat semuanya menjadi lebih indah, bahkan meskipun bayang-bayang ketakutan akan stalaktit yang tiba-tiba terjatuh itu masih menghantui mereka.


Selain semua itu, ada juga aspek lain yang melengkapi keindahan gua itu.


Itu adalah sebuah danau yang airnya sangat jernih, terlalu jernih sampai-sampai mereka bisa dengan jelas melihat apa yang ada di dasar sana.


Beberapa ikan kecil dengan cahaya putih kebiruan yang dipancarkan bagian tertentu di kepala mereka menghiasi kolam itu, dan meningkatkan aspek keindahan yang dimiliki gua ini.


Semuanya tampak begitu indah, sehingga hanya tampak seperti mimpi.


"Ini mirip dengan gua yang diceritakan di salah satu buku dongeng milik Tuan … "


Chloe mulai bergumam sendiri, tapi tak ada satu pun yang mendengar gumamannya.


Semua orang fokus pada urusan mereka masing-masing.


Stella terlihat sedang serius mengamati sekitarnya, sedangkan Lilith bersama Levina sedang melihat-lihat kolam dengan senyum cerah di wajah mereka.


Levina dengan polosnya memasukkan tangannya ke air, dan berusaha menggapai satu ekor ikan kecil yang ada di sana, tapi pergerakannya yang tiba-tiba itu justru membuat semua ikan yang ada di sekitar berhamburan dan berenang menjauh darinya.


Ekspresinya mulai berubah menjadi muram, dan Lilith yang melihat itu menolak untuk memberikan kesempatan pada kesedihan untuk mengisi wajah imut Levina.


Dia pun mulai melafalkan satu mantra, dan memasukkan satu ujung jarinya ke air.


Tak lama kemudian, beberapa ikan mulai berkumpul dan berenang di sekitar jari Lilith seolah sedang menari.


Selain dari keduanya yang dengan riang bermain-main dengan para ikan, hanya ada dua orang lain yang memiliki tingkat keseriusan yang berbeda.


Mereka adalah Stella dan Chloe. Mereka secara alami memproses kalau ini adalah situasi yang aneh.


Sementara Stella tak memahami apa pun, dan berusaha mencari tahu sendiri, Chloe, di sisi lain diserang dengan sensasi deja vu yang luar biasa.


Dia berusaha menggali ingatannya yang mungkin berkaitan dengan tempat ini, tapi mungkin akan sulit ketika menyadari ada terlalu banyak memori mengenai dongeng di kepalanya.


Setidaknya dia tahu kalau gua ini adalah hasil dari proyeksi ingatannya. Dia secara alami memahami itu.


Dan ketika dia akhirnya mengingatnya, raut kecemasan dan kepanikan tampak jelas di wajahnya.


"Menjauh dari kolam itu! "


Sayangnya, peringatannya datang sedikit terlambat.


Guncangan yang hebat terjadi, dan Lilith bersama Levina yang ada di pinggir kolam secara alami terpeleset dan terjatuh ke dalam kolam.


Itu bukan masalah karena Lilith bisa berenang, tapi, yang menjadi masalahnya adalah, keberadaan yang ada di dalam kolam itu sendiri.


Semua air di kolam itu mulai bergerak layaknya gelombang besar yang datang ketika pasang. Hingga, sebuah bukit, yang sepenuhnya terbuat dari air yang transparan muncul.


Air di kolam itu telah memanifestasikan dirinya menjadi suatu makhluk fluida yang aneh. Dia terus bergerak tanpa henti, seolah mencoba berkomunikasi dengan mereka, tapi tak satu pun dari mereka yang dapat memahami maksudnya.


Chloe hanya dengan panik menatap Levina yang ada di bagian dalam 'makhluk' itu. Dia terlihat baik-baik saja, dan tampaknya dia juga bisa bernapas dengan normal meskipun ada di dalam makhluk cair ini.


"Ahhh … Ini dia … Mata air kebahagiaan di kisah 'Dua Pengembara Bodoh' … "


...****************...


(AN: Maaf kalau update ini atau update selanjutnya akan sedikit berantakan, aku sedang fokus dengan ujian tengah semester. Aku benar-benar harus memperbaiki nilaiku.)