[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 130: Neutral Enemies (1)



...****************...


Kembali ke beberapa saat di masa lalu.


Lucius masih diam di tempatnya, sambil memandangi tempat Noelle sebelumnya berdiri.


Baru beberapa menit sejak sosok Noelle, atau yang ia kenal sebagai Souris itu pergi dengan berubah menjadi asap hitam aneh. Dan sejak saat itu pula Lucius sama sekali tidak bergerak dari tempatnya.


Ia masih terdiam dan memikirkan apa yang sebelumnya Noelle katakan. Meskipun berbagai suara mengerikan memenuhi udara, dan ledakan terjadi di mana-mana, Lucius tidak mempedulikan itu semua.


Satu-satunya hal yang bisa ia pikirkan sekarang adalah apa yang Noelle katakan sebelumnya.


–Rencana penciptaan senjata malaikat.


Untuk seseorang dengan otoritas tingkat tinggi seperti Lucius, mendapatkan informasi tentang rencana itu adalah hal yang sangat mudah.


Tapi, ia sudah tidak mendengar kabar tentang rencana itu lagi sejak 17 tahun yang lalu. Ia berpikir kalau rencana itu sudah dibatalkan saat raja Louise naik takhta.


Lagipula, raja Louise yang baru menjabat saat itu sudah mengeluarkan peringatan untuk segera menghentikan rencana penciptaan senjata itu.


Karena itulah, Lucius yakin kalau rencana itu memang sudah dibatalkan sejak lama. Tapi, apa yang Noelle katakan sebelumnya selalu menghantuinya.


Apa yang akan terjadi jika rencana itu benar-benar dilanjutkan? Ia tidak bisa menebaknya.


Sejak awal, tak banyak informasi yang diketahui tentang rencana apa itu sebenarnya.


Ada yang bilang kalau itu adalah rencana untuk menciptakan senjata yang kekuatannya setara dengan senjata suci pahlawan, dan ada juga yang percaya kalau itu adalah rencana untuk menciptakan suatu sihir serangan berskala besar dan memiliki kekuatan kelas strategis.


Bagaimanapun, tak ada yang tahu tentang itu.


Selain itu, orang yang pertama kali mengemukakan tentang rencana ini, seorang alkemis jenius bernama Alfred beltof, juga telah ditemukan tewas beberapa bulan setelah rencana itu dibatalkan.


Semua kejadian itu sudah cukup bagi semua orang, termasuk Lucius untuk berpikir kalau rencana itu sudah dihentikan sejak lama.


Tapi, sekarang Lucius tiba-tiba menyadarinya. Ada banyak 'lubang' dalam semua peristiwa yang berkaitan dengan rencana itu.


Yang pertama, Alfred Beltof ditemukan dalam keadaan tewas di kamarnya sendiri. Hasil penyelidikan menemukan kalau dia meninggal karena overdosis obat-obatan yang disertai dengan minuman beralkohol berkadar tinggi.


Semua itu masih dalam batas wajar. Kecuali bagi mereka yang mengenal sosok 'Alfred Beltof'.


Lucius saat itu berada di tempat lain untuk melakukan pekerjaannya, jadi ia tak memiliki banyak informasi tentang kematian Alfred. Tapi, ia sekarang mengingat semua keanehan dari jurnal penyelidikan kasus kematian Alfred yang pernah ia baca dulu.


Alfred Beltof dikenal sebagai seorang jenius yang selalu berhati-hati dan menjaga kesehatannya.


Dia memakan daging dan sayuran dalam porsi yang seimbang, disertai porsi olahraga yang cukup bagus. Dia juga tidak merokok ataupun meminum minuman keras.


Jelas tidak mungkin ia mati dalam keadaan overdosis sementara ia bahkan tidak pernah menyentuh obat-obatan atau minuman terlarang itu.


Saat itu Lucius memang tidak begitu peduli dengan kematiannya. Lagipula keyakinan yang Lucius miliki bertentangan dengan rencana penciptaan senjata yang dikemukakan oleh Alfred.


Tapi, kini dia menyadari semuanya.


Kematian Alfred bukanlah murni kebetulan. Dia dibunuh oleh seseorang.


Ada banyak kejanggalan dari laporan kematiannya, jadi seharusnya ada banyak orang yang segera menyadari hal itu. Tapi, sama sekali tidak ada laporan akan kecurigaan yang dimiliki terhadap kematian Alfred.


Artinya, ada banyak orang yang terlibat dalam kematiannya, termasuk orang-orang yang ada dalam pemerintahan dan anggota dewan kerajaan.


Begitu Luciuc menyadari semuanya, dia langsung mengeratkan kepalan tangannya, dan menatap dengan penuh niat membunuh pada gedung wali kota yang ada cukup jauh di belakangnya.


Beberapa detik berlalu dengan niat membunuhnya yang begitu kuat memenuhi udara, tapi ia segera menenangkan dirinya sendiri dengan menahan semua kecurigaan itu.


Mana yang akan ia percayai? Yang jelas, tidak mungkin dia akan mempercayai perkataan Noelle begitu saja. Ia baru saja bertemu Noelle sebagai musuh, jadi tidak mungkin dia bisa mempercayainya.


Meskipun begitu, ia tak bisa mengesampingkan firasat buruk yang memenuhi dirinya.


Untuk saat ini, mungkin akan lebih baik jika ia bisa memastikannya sendiri.


Noelle sebelumnya bilang kalau wali kota yang ia lindungi sebelumnya adalah salah satu orang yang terlibat dalam rencana itu. Jadi, Lucius akan mencoba mendatanginya untuk sekarang.


Dengan semua ledakan dan jeritan keras yang memenuhi udara sebagai latarnya, Lucius berjalan menuju gedung wali kota.


Sebagai seorang Knight of Round, seharusnya ia memiliki tugas untuk melindungi penduduk sipil yang tak dapat bertarung. Tapi, ia akan mengesampingkannya sekarang karena ia merasa kalau Asterisk tidak akan menyerang warga sipil begitu saja.


Selama para penduduk masih panik dan berusaha mencari perlindungan, mereka seharusnya tidak akan menjadi halangan untuk para Asterisk.


Bahkan meskipun ia adalah seorang kesatria dari Knight of Round, tetap mustahil baginya untuk melindungi semua bagian Rondo sendirian.


Akan lebih baik jika ia bisa mengerahkan pasukan untuk melindungi semua orang. Tapi, unit yang ia pimpin saat ini masih berada di area perbatasan antara kerajaan dengan republik, dan unit militer di Rondo juga tampaknya masih salam keadaan kacau.


(Para bajingan itu … )


Ia benci mengakuinya, tapi saat ini ia tidak bisa melakukan apa pun untuk menghentikan Asterisk.


Bahkan meskipun ia sangat ingin menghajar mereka semua, ia tetap tidak bisa melakukannya. Itu karena ia telah mempertimbangkan apa yang Noelle katakan.


Jika apa yang Noelle katakan itu memang benar, maka akan lebih baik jika ia membiarkan para Asterisk itu membereskan semua masalahnya.


Ia tidak akan mengklaim ini sebagai sesuatu yang bagus. Sebaliknya, ia akan mengakui kalau ini adalah tindakan yang sangat tidak layak dilakukan oleh seorang Knight of Round seperti dirinya.


Setelah beberapa saat berjalan sambil merenung tentang situasi ini, Lucius akhirnya tiba di tangga yang mengarah ke bawah tanah tempat wali kota melarikan diri.


Ia tanpa mengatakan apa pun lagi langsung berjalan menuruni tangga itu. Berdasarkan hawa keberadaannya, wali kota seharusnya masih berada di bawah sana, berlindung dari semua kekacauan yang melanda Rondo.


Tangga itu sebenarnya tidak begitu panjang, tapi akan memberikan efek ilusi 'tangga tanpa akhir' pada siapa pun yang dideteksi sebagai seorang musuh.


Karena Lucius sudah terdaftar sebagai salah satu tokoh prioritas hampir di semua sistem kerajaan, ia bisa melewati keamanan yang berbasis ilusi itu tanpa rasa khawatir.


Lagipula, hanya dengan ilusi saja tidak cukup untuk menghentikannya.


Tak lama kemudian, Lucius akhirnya tiba di tempat perlindungan.


Tempat yang dimaksud itu berupa ruangan dengan ukuran sekitar 20 meter persegi, dilindungi oleh sebuah pintu baja yang tebalnya dapat mencapai 30 sentimeter, juga memiliki persediaan makanan dan minuman yang cukup untuk bertahan selama beberapa minggu.


Itu adalah wali kota, Weise sera Haustür.


Penampilannya dapat digambarkan sebagai seorang pria dalam usia 60-an. Dia memakai setelan kemeja dan jas hitam yang dihiasi dengan beberapa ornamen dan lambang serta pangkat yang diberikan padanya.


Tidak ada yang spesial dari penampilannya. Benar-benar seorang pria tua biasa.


Tapi, Luciuc memandangi sosoknya dengan mata penuh kecurigaan.


"Apa yang terjadi di luar sana, Lucius? "


Weise tampaknya tidak menyadari apa yang Lucius pikirkan. Dia dengan tenang bertanya tentang situasi di luar sana, sementara ia berusaha menegakkan tubuhnya yang tampak berkeringat.


Weise bukanlah seorang dengan kemampuan pertarungan, jadi ia tak akan bisa berbuat banyak jika diserang secara tiba-tiba. Tapi, ia harus berusaha untuk tetap tenang demi menjaga citra tentang dirinya.


Lucius mengangguk dan mendekati Weise.


"Rondo sudah dalam keadaan kacau. Mereka sudah menghancurkan semua titik pusat kota ini. Kau lebih baik mengungsi ke Alzey sekarang, lalu melanjutkan perjalanan ke Celle. Itu akan membuatmu aman."


Mendengar itu, Weise terlihat terkejut. Wajahnya seketika menampilkan ekspresi kemarahan yang sangat jelas.


"Kau menyuruhku pergi?! Rondo sudah dilumpuhkan, dan semua penduduk dalam keadaan ketakutan sekarang! Di saat seperti ini, kau benar-benar menyuruhku pergi meninggalkan mereka semua?! "


Memang akan menjadi pilihan yang aman baginya jika ia segera pergi ke tempat istana kerajaan berada, yaitu Celle. Tapi, moral dan harga diri yang Weise miliki mencegahnya untuk melakukan semua itu.


Melakukan perjalanan lintas kota dalam waktu singkat bukanlah masalah jika Weise menggunakan alat teleportasi darurat yang akan langsung mengantarnya ke Celle, tapi Weise tidak akan mau menggunakan alat itu. Apa pun yang terjadi.


Lucius mengerti itu. Sebagai seorang Knight of Round yang membanggakan kekuatan dan loyalitasnya, ia sangat paham dengan apa yang Weise pikirkan.


Menyadari kalau membujuknya adalah hal yang sia-sia, Lucius kemudian menghela napas.


"Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan memaksamu untuk pergi sekarang. Tapi, bisakah aku menanyakan satu hal penting? "


" … Apa itu? "


Untuk sesaat, Weise bisa merasakan perubahan suasana yang tiba-tiba terjadi di antara dirinya dan Lucius.


Lucius memancarkan tekanan yang cukup kuat dengan matanya yang menatap Weise tanpa berkedip sedikit pun. Itu sudah cukup untuk membuat Weise merasa sedikit ketakutan padanya.


"Ini terkait dengan tujuan mereka, para Asterisk menyerang tempat ini."


Weise tidak tahu apa itu Asterisk. Dia belum pernah mendengar nama itu seumur hidupnya. Tapi, berdasarkan cara Lucius mengatakannya, Asterisk seharusnya menjadi nama kelompok yang menjadi pelaku di balik penyerangan ini.


Weise ingin bertanya pada Lucius bagaimana ia bisa mengetahui nama kelompok mereka, tapi ia memutuskan untuk menahan diri untuk saat ini. Hanya dengan otoritas setingkat dirinya, tidak mungkin dia bisa memberikan Lucius perintah. Posisinya saat ini justru mengizinkan Lucius untuk memberi dirinya perintah.


"Weise sera Haustür. Aku memerintahkanmu untuk menjawab dengan jujur. Apa kau tahu sesuatu tentang rencana penciptaan senjata malaikat yang diusulkan oleh Alfred Beltof? "


Kali ini Weise tidak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya. Kulitnya perlahan berubah pucat, dan matanya berkeliaran ke semua tempat seolah menghindari tatapan Lucius.


"Jawab aku," ucap Lucius sambil memberikan lebih banyak tekanan.


Weise tidak memiliki pilihan lain selain menjawabnya.


"Itu … Aku tahu karena aku pernah terlibat dalam rencana itu … Tapi … Rencana itu sudah dihentikan saat Yang Mulia naik takhta."


(Sudah kuduga.)


Meskipun ia terkejut mendengarnya, jawaban yang diberikan Weise itu masih dalam perkiraan Lucius.


"Lalu, apa kau tahu sesuatu tentang Alfred Beltof yang tiba-tiba ditemukan tewas di kamarnya? "


"Itu … Dia mati karena overdosis, 'kan? Apa yang aneh dengan itu? "


Weise terlihat bingung. Ia tidak mengerti mengapa Lucius menanyakan itu semua.


Lucius, bagaimanapun, dia masih belum menghapus kecurigaannya pada Weise.


Untuk memeriksa semuanya, Lucius harus mengambil sedikit resiko.


"Memang dia mati karena overdosis. Tapi, kematiannya itu sangat mencurigakan. Selanjutnya, apa kau tahu kalau rencana itu sedang dilanjutkan secara diam-diam? "


Wajah Weise memperlihatkan ekspresi terkejut yang sangat berbeda dari sebelumnya. Wajahnya pucat, dan keringat dingin mengalir di seluruh tubuhnya.


Lucius berpikir kalau ia terlibat dalam hal itu, tapi apa yang Weise tunjukkan setelahnya dengan mudah membuat kecurigaan Lucius runtuh seketika.


"Apa?! Itu tidak mungkin! Kenapa ada yang mau melanjutkan hal gila itu?! Yang Mulia sudah melarangnya sejak 17 tahun yang lalu! "


Melihat bagaimana Weise mengatakannya, Lucius dapat menyimpulkan kalau Weise sama sekali tidak tahu kalau rencana itu telah dilanjutkan secara diam-diam.


Namun, Lucius masih belum bisa memutuskan apakah yang ia lihat itu adalah kenyataan, atau hanya tipu muslihat yang Weise buat untuk menipu Lucius.


Untuk memastikannya, Lucius kembali bertanya pada Weise.


"Itu benar. Memang seharusnya tidak mungkin. Tapi, rencana itu memang sudah dilanjutkan secara rahasia. Weise, apa kau tahu sesuatu tentang itu? Atau, kau memang terlibat di dalamnya? "


Mendengar pertanyaan itu, Weise semakin marah.


"Apa ini interogasi? Kau mencurigaiku? Apa kau benar-benar berpikir kalau aku terlibat dalam rencana biadap itu?! "


"Adalah hal yang wajar bagiku untuk mencurigai siapa pun yang terlihat mencurigakan."


Singkatnya, Lucius menyiratkan kalau ia tidak akan mempercayai kata-kata siapa pun, kecuali jika ia melihat buktinya secara langsung.


Benar-benar tipe pria yang merepotkan.


"Kalau begitu, apa yang harus kulakukan untuk mendapatkan kepercayaanmu? "


Wajah Lucius sama sekali tak menunjukkan perubahan ekspresi. Ia memandangi Weise dengan tatapan dingin.


"Bersumpahlah atas nama dewa dan raja yang kau yakini, dengan mengorbankan darahmu."


...****************...