![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
"Jadi … Apa yang harus kita lakukan sekarang … "
Di tempat lain, di sebuah gua dengan ukuran yang relatif luas itu, empat orang gadis sedang berkumpul dan tampak sedang berdiskusi tentang apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
Keempat orang itu adalah Stella, Lilith, Chloe, dan Levina. Mereka butuh waktu yang cukup lama untuk kembali tenang.
Setelah diam sejenak, Chloe membuka suara. "Akan lebih baik kalau kita bisa bertemu dengan Tuang, tapi … Bertemu dengan Nona Olivia juga terdengar tidak buruk."
"Aku juga memikirkan hal yang sama. Tapi, bagaimana caranya? "
Itulah masalahnya. Chloe tidak dapat memikirkan solusi apa pun sekarang.
Lilith menatap tanah untuk beberapa waktu, dan akhirnya mengangkat kepalanya saat dia berniat mengusulkan suatu ide.
"Apa kalian punya petunjuk tentang apa yang akan dilakukan oleh mereka kalau terjebak dalam situasi ini? "
'Mereka' yang dimaksud itu adalah Noelle dan semua orang yang tidak ada di sana bersama mereka berempat.
Lupakan yang lain, mayoritas orang di kelompok itu pasti akan mengikuti pendapat Noelle dan Norman.
Jika memasukkan tiga orang lagi—Cryll, Kaira, dan Rico—sebagai pemberi saran, maka mereka pasti sudah mencapai suatu kesimpulan.
Mereka tidak tahu kalau Noelle, Norman, dan Cryll telah terjebak dan terpisah dari semua orang, tapi mereka berempat akan bergerak berdasarkan kemungkinan apa yang akan orang-orang itu lakukan.
"Mhmm … Aku masih tidak tahu … Tuan selalu memiliki cara yang aneh untuk menentukan arah … "
Berbagai kenangan tentang Noelle mulai membanjiri kepala Chloe. Dia segera menggelengkan kepalanya untuk menghapus ingatan yang tiba-tiba timbul itu, lalu menatap semua orang.
"Tapi … Jika itu Tuan … Aku yakin kalau Tuan pasti tidak akan meninggalkan semua orang di sini. Jadi … Tuan mungkin akan mencari kita semua. Saat ini, Tuan juga pasti sedang mencari cara untuk menemukan Nona Olivia."
"Tunggu sebentar, Chloe. Barusan kau mengatakannya, apa kau berpikir kalau Noelle akan terpisah dari Olivia? "
"Ehh? Nn … Brackas mengatakannya padaku … Sebelum kita semua dipindahkan, Brackas sempat melihat Tuan yang sedang mendorong Nona Olivia untuk menjauh. Karena itu, mereka berdua pasti sudah dipindahkan ke tempat yang berbeda."
"Setelah kau mengatakannya … Kau benar … Aku juga melihat itu sebelumnya … "
Pada waktu lingkaran sihir teleportasi itu muncul, Brackas sempat terhubung dengan Noelle untuk waktu yang benar-benar dapat dikatakan 'sesaat'. Alhasil, ia mendapatkan visi tentang Noelle yang mendorong Olivia menjauh darinya.
Hal itu sama untuk Stella yang ada di tempat kejadian. Hanya saja, ia terlalu fokus pada dirinya sendiri sehingga tidak sempat mencapai konklusi apa pun.
"Lalu … Ke mana Iza– maksudku Noelle pergi? "
Chloe mengedipkan matanya beberapa kali pada Lilith yang hampir salah menyebutkan nama Noelle. Ekspresi kebingungan terlihat dengan sangat jelas di wajahnya.
"Kau sering kali salah menyebutkan nama Tuan. Kau menyebutnya Iza, tapi … Siapa itu? "
"Aku juga ingin menanyakan hal yang sama," sambung Stella.
Lilit seketika melebarkan matanya. Dia benar-benar tidak sadar dengan kesalahan yang selalu ia buat itu. Entah sampai kapan ia akan memanggil Noelle dengan nama Izaya.
Dia bisa memanggil nama murid lain dengan normal, tapi entah mengapa hanya Noelle yang ia panggil dengan nama masa lalunya. Itu aneh karena Lilith tidak pernah mengalami ini sebelumnya.
Karena Chloe dan Stella bertanya tentang siapa itu Iza, maka itu artinya Noelle tidak pernah memberi tahu mereka tentang reinkarnasi. Setidaknya Lilith bisa bernapas dengan lega. Namun, bahkan jika Noelle memberi tahu mereka tentang reinkarnasi, dia tetap akan setuju dengan itu. Lilith ingin mendukung keputusan apa pun yang dibuat oleh semua mantan muridnya yang kini memiliki usia yang sama dengannya.
Wajahnya kaku, dan senyum canggung seketika mengisi ekspresinya. "Umm … Bisakah kita melewati pembicaraan itu? Aku ingin segera keluar dari sini. Apa yang akan Noelle lakukan jika dia terjebak? "
Dia dengan terang-terangan mengalihkan pembicaraan, dan membuat Stella serta Chloe kebingungan sejenak, tapi mereka tak membahasnya lagi, dan mulai memikirkan jalan apa yang akan Noelle ambil dalam situasi ini.
Namun, kelihatannya jawabannya datang dari arah lain.
"Bawah."
Itu adalah Levina, yang memiliki ekspresi mengantuk di wajahnya. Dia menggosok matanya sejenak, sebelum akhirnya menatap semua orang dengan wajah datar.
" … Bawah? Dari mana kau tahu itu? "
Berbeda dari sebelumnya, Levina yang ada di hadapan mereka memiliki wajah datar dengan mata kosong dan kulit yang sangat pucat. Bahkan Chloe sendiri ragu kalau itu adalah Levina yang sama dengan yang berbicara dengannya sebelumnya.
Chloe tak sanggup mengatakan apa pun, dia merasakan tekanan yang dilancarkan oleh Levina, meskipun sebenarnya itu sangatlah samar.
"Dungeon bawah laut, 'Kastil Kenangan', wilayah imajiner yang diciptakan oleh 'Dia yang Menyukai Dongeng dan Masa Lalu'. Ada 150 lantai, dan tidak akan memiliki akses untuk keluar setelah memasukinya."
" …… Siapa kau? "
Bahkan Stella yang tidak begitu mengenal Levina pun sadar, kalau anak kecil yang ada di hadapannya ini bukanlah Levina yang asli.
Chloe mulai bersiap dengan pisau kecil di tangannya, dan Stella juga bersiaga dengan pisau lempar yang bisa ia keluarkan kapan saja.
Keduanya telah dalam posisi siap untuk menyerang, tapi Levina bahkan tak menggerakkan ekspresinya. Dia hanya terus diam, sebelum kesedihan akhirnya mengambil alih wajahnya.
Air mata mulai menggenang, dan bibir kecil itu bergetar bersamaan dengan kedua tangannya yang mengepal.
"A-apa yang terjadi padanya?! "
Ketiganya benar-benar dibuat bingung dengan Levina. Ini seolah gadis kecil itu bisa mengubah kepribadiannya setiap beberapa waktu sekali.
Levina dengan tubuh gemetar berjalan mendekati Chloe, dan langsung memeluk kakinya.
Dia mulai menempelkan wajahnya yang telah dinodai air mata itu di rok hitam semi-panjang milik Chloe.
(I-imut! )
Chloe sempat tergoda untuk menyaksikannya lebih lama, tapi nurani dan kepeduliannya terhadap Levina mencegah niat itu menjadi kenyataan.
Chloe langsung berjongkok dan memeluk Levina dengan erat. "Kenapa kamu menangis? "
Sambil terisak, Levina menjawab, "Tidak tahu … "
Jawabannya tentu saja membingungkan. Chloe tidak tahu maksudnya, tapi ia berpura-pura memahaminya dan mencoba menenangkan Levina entah bagaimana.
Hingga akhirnya, Levina berhenti menangis. Matanya menjadi lebih lembab, dan bibirnya masih bergetar. Untuk saat ini, ketiganya mencoba untuk membuat Levina tersenyum kembali, dan entah bagaimana berhasil.
Setelah itu, mereka semua sepakat untuk masuk lebih dalam, mengikuti petunjuk yang diberikan Levina(?) sebelumnya.
Namun, pada akhirnya, apa yang menyambut mereka hanyalah jalan buntu.
Bukan jalan buntu secara harfiah, tapi satu-satunya jalan yang bisa mereka lewati itu terhalang oleh pagar pembatas besi yang sangat kuat layaknya sel tahanan.
"Karena ada pagar pembatas di sini, haruskah kita asumsikan kalau ada orang lain yang pernah datang? "
Stella dengan hati-hati membuat kesimpulan berdasarkan apa yang ia lihat, dan segera mendapatkan pertanyaan dari Lilith. "Kalau memang begitu … Kenapa mereka memasang pembatas di sini? "
Hanya satu jawaban yang bisa mereka pikirkan, dan itu segera disampaikan oleh Chloe yang telah mengintip ke sisi lain sel.
"Mungkin untuk mencegah kita supaya tidak bertemu dengan mereka."
Stella dan Lilith memiringkan kepala mereka dengan bingung, lalu saling menatap. Keduanya mengerti dengan apa yang Chloe katakan, tapi mereka masih tidak tahu siapa 'mereka' yang Chloe maksud.
Itu wajar, karena kemampuan deteksi mereka tidak begitu bagus. Jadi, satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah dengan melihatnya secara langsung.
Dengan Levina yang digendong oleh Lilith, mereka berdua perlahan berjalan mendekati Chloe untuk melihat apa yang ada di balik sel itu.
Hasilnya, mengerikan. Mata mereka melebar, dan kulit wajah mereka menjadi semakin pucat.
Tempat mereka berdiri, tanah datar yang dihalangi sel besi itu, berada tepat di ujung tebing. Apa yang ada di sisi lain sel itu adalah sebuah gua yang sangat luas. Dan meskipun tempat mereka berdiri ini relatif terang, anehnya sama sekali tak ada cahaya yang mengisi gua itu.
Awalnya mata mereka kesulitan untuk menerima informasi apa yang baru mereka lihat, tapi mata mereka berdua segera beradaptasi, sehingga keduanya dapat dengan jelas melihat apa yang ada di sana.
Gumpalan hitam, berbentuk makhluk aneh dengan penampilan yang sangat abstrak. Tubuh mereka berubah-ubah bentuknya, layaknya suatu cairan yang berusaha mendapatkan wujud baru.
Tidak akan begitu mengejutkan jika jumlahnya hanya satu atau dua, tapi di sana ada lebih dari perkiraan mereka. Puluhan, atau mungkin ratusan makhluk yang sama ada di sana, berkumpul tanpa mengeluarkan suara apa pun, seolah perangkap yang aktif dengan sendirinya tanpa orang lain sadari.
Stella dan Lilith mundur perlahan, dan Lilith juga membantu menutup mata Levina sehingga mencegahnya melihat penampakan mengerikan itu.
"Mustahil … Sebanyak itu … Tidak mungkin kita bisa lewat … "
Stella dengan gemetar berusaha menjauh, tapi itu sia-sia. Kakinya lemas, dan ia dengan susah payah menyokong tubuhnya sendiri dengan bersandar pada dinding terdekat.
Alasan untuk itu, tentu saja sudah jelas. Hanya ini satu-satunya jalan yang bisa dilewati, dan ia tahu betul kalau kemampuannya tidak akan begitu berguna melawan kumpulan entitas semi-fluida itu.
Kemampuan Stella hampir sepenuhnya berpusat pada kemampuan panahan dan sihir pendukung, jadi ia sadar kalau dirinya tidak begitu berguna dalam situasi ini. Sementara itu, Lilith juga hanya memiliki secuil kekuatan bertarung, justru dialah yang paling rawan sekarang. Tapi, Lilith berusaha menyembunyikan ketakutannya, dan mencoba bersikap tegar.
Lilith menoleh pada Chloe, dan dengan wajah cemas bertanya, "Apa kamu punya solusi untuk ini? "
Chloe tanpa berbasa-basi langsung mengangguk. "Bukan masalah kalau aku bisa mengeluarkan kekuatan penuhku, tapi … Aku hanya memiliki satu tabung darah Tuan, jadi aku tidak bisa mendapatkan penguatan yang sempurna."
Satu tabung darah Noelle yang dimiliki oleh Chloe hanya berkapasitas sekitar 100 mililiter. Sedangkan Chloe sendiri butuh sekitar empat sampai tujuh tabung agar ia bisa mengeluarkan potensi penuhnya sebagai seorang Abyss Clanman.
Dia menghabiskan banyak darah Noelle dalam insiden penyerangan Eisen sebelumnya, dan ia tidak sempat melapor pada Noelle agar mendapatkan pengisian ulang. Jadi hanya satu tabung yang tersisa sekarang.
"Itu bisa, tapi … Ada masalah lain."
Masalahnya adalah, Chloe telah terikat kontrak dengan Noelle. Dia akan mendapatkan penguatan yang signifikan jika meminum darah Noelle, tapi itu justru menyebabkan ia tak dapat menerima penguatan yang besar dari darah orang lain.
Jika Chloe ingin mendapatkan penguatan yang setara dengan meminum darah Noelle, maka ia mungkin akan membuat tubuh Lilith mengering.
Dan tentu saja, Lilith juga tidak mau itu.
Lilith yang telah dijelaskan situasinys mau tak mau langsung kehabisan akal.
Namun, itu tak berlangsung lama.
Dengan wajah yang terlihat agak canggung, Chloe berkata, "Sebenarnya aku punya ide lain, tapi … "
"Cepat katakan! " desak Stella sambil memegangi bahu Chloe.
"I-itu … Aku melihat ada jalan keluar di sana. Jadi … Jika kita bisa menerobos, maka mungkin kita bisa keluar dengan cepat."
"Jadi … Masalahnya ada pada 'bagaimana cara kita melakukannya', ya … "
"Unn."
Chloe mengangguk. Stella dan Lilith seketika terdiam sambil memikirkan berbagai solusi yang mungkin bisa digunakan.
Hasilnya, ada satu ide yang keluar.
"Chloe … Kekuatanmu adalah mengendalikan bayangan, 'kan? Apa itu dipengaruhi dengan seberapa pekat bayangannya? "
"Eh? Un, tentu. Di sana terlalu gelap, jadi … Aku hampir tidak bisa mengendalikan bayangan yang mungkin ada di sana."
"Kalau begitu … Lilith, apa kamu bisa menggunakan sihir cahaya? "
Disebutkan namanya secara tiba-tiba membuat Lilith syok sejenak, tapi ia segera mengembalikan ketenangannya dan menjawab Stella. "Aku bisa."
Jawabannya seperti yang sudah Stella tebak. Sebenarnya, Stella tidak perlu bertanya, karena ia sudah tahu seperti apa kemampuan Lilith dalam sihir. Kemampuan Lilith dalam praktikum sangatlah mencolok di akademi, jadi mau tak mau Stella pasti akan mendengar tentangnya.
"Itu bagus, kalau begitu … Aku punya satu rencana, apa kalian mau mengikutinya? "
" … Langsung saja jelaskan rencanamu."
Bibir Stella melengkung menjadi senyuman lebar, sementara kedua matanya menyipit tajam.
...****************...
"Baiklah, seperti yang kujelaskan sebelumnya. Lilith akan merapalkan sihir cahaya pada anak panahku, lalu aku akan menembakkannya ke stalaktit yang ada di sana. Setelah itu, Chloe langsung gunakan kemampuan teleportasi bayanganmu untuk berpindah ke salah satu bayangan yang ada di sana. Selama sihir cahaya itu masih menyala, kamu harus segera melenyapkan semua musuh yang ada di jalur."
Itu adalah rencana yang cukup mudah untuk dipahami, dan dieksekusi. Bahkan meski Chloe tak dapat menggunakan kekuatan penuhnya ia seharusnya masih bisa melakukan semua yang Stella minta.
Chloe dan Lilith mengangguk, dan Stella mulai menyiapkan busurnya.
Posisi kuda-kuda telah ia siapkan, dan rasakan sihir cahaya mulai dijalankan oleh Lilith. Ujung anak panahnya seketika memancarkan cahaya yang menyilaukan, intensitas cahayanya cukup untuk menerangi hampir semua bagian gua yang luas itu.
Stella langsung menembakkan anak panahnya melewati celah yang terbentuk di jeruji besi itu, yang kemudian langsung menancap di stalaktit terdekat.
Cahaya yang sangat menyilaukan mulai menyebar dari pusat gua, memenuhi setiap bagian gua itu dengan cahaya yang amat terang.
Semakin terang cahayanya, maka semakin pekat pula bayangannya. "Sekarang! " teriak Stella.
Chloe kemudian langsung berpindah dari tempatnya berdiri, menuju bayangan yang terbentuk di bawah kaki para makhluk aneh itu.
Brackas juga tiba-tiba muncul, dan menjadi dukungan untuknya.
Semua bayangan di sana mulai bergerak, seperti genangan air tenang yang dilempari batu.
Detik kemudian, tombak hitam berukuran cukup besar muncul, menusuk tubuh semua makhluk aneh yang ada di sana.
"Ini waktunya! "
Stella menggunakan penguatan pada kakinya, dan langsung menendang sel itu. Jeruji besi yang menghalangi seketika hancur, dan Stella bersama Lilith yang menggendong Levina langsung melompat turun, berlari melewati jalan yang Chloe ciptakan.
Namun, jelas kalau semua tak akan berjalan lancar.
Para makhluk aneh itu mulai bergerak, seolah tusukan dari tombak bayangan Chloe tak cukup untuk menghentikan mereka.
Tubuh mereka yang seperti gumpalan tinta itu mulai mendekat, dan mengendalikan tentakel yang tumbuh di punggung mereka untuk menyerang. Namun, sebuah dinding bayangan tiba-tiba muncul dan menghalangi pergerakan makhluk-makhluk itu.
"Ke sini! " sahut Chloe sambil berlari menuju sebuah lorong kecil yang ada di ujung pandangan.
Stella bersama Lilith segera berlari mengejarnya, tapi selalu mendapatkan berbagai halangan dari para makhluk itu.
Untungnya, sihir cahaya yang Lilith rapalkan masih aktif, jadi Chloe bisa mengeluarkan bayangan lebih banyak lagi.
(Aku dengar Chloe tidak punya banyak mana, tapi … Bagaimana dia bisa mengeluarkan begitu banyak bayangan ini? Apa ini bukan sihir? )
Bahkan saat pertanyaan itu terlintas di kepala Stella, bayangan yang dikendalikan Chloe terus menerus menciptakan perlindungan dan menyerang semua makhluk aneh itu.
Dan saat dia berniat menciptakan serangan lain, dia menyadarinya. Bayangannya semakin pudar. Kenyataan itu membuat Chloe langsung tersadar dan melihat ke arah anak panah yang Stella tembakkan di stalaktit sebelumnya.
Panah itu masih menempel, tapi cahaya yang melapisinya mulai menghilang.
"! Cepat! "
Bahkan meskipun Chloe mendesak mereka untuk bergerak lebih cepat, bukanlah hal yang mudah untuk melakukan itu. Mungkin bukan masalah untuk Stella, tapi kondisi Lilith sekarang yang sedang menggendong Levina jelas akan menyulitkan.
"Uhh–"
Chloe mengerang sejenak, sebelum akhirnya menggunakan sebuah belati untuk memberikan luka pada pembuluh darah di tangannya sendiri.
Wajahnya terdistorsi saat dia menahan rasa sakit, tapi itu tak berlangsung lama karena Chloe telah sedikit meredam rasa sakitnya.
Darah mengalir dengan sangat deras, dan cairan merah itu perlahan membentuk suatu jaringan yang padat, sehingga membuatnya terlihat seperti jaring laba-laba.
Dengan jaring itu, Chloe langsung menangkap Lilith bersama Levina, yang kemudian ia tarik dengan sekuat tenaga sehingga kedua orang itu segera tertarik menuju Chloe.
Tak berhenti di sana, Chloe juga langsung mengerahkan tenaganya untuk melemparkan Lilith bersama Levina menuju jalan keluar yang sudah ada di depan mata.
Keduanya terlempar dan dengan aman mendarat, sedangkan Chloe sedikit terjatuh karena momentum yang begitu besar.
"Chloe! "
Stella meneriakinya dari depan, dan memberikan ujung dari sebuah jalinan benang yang sangat kuat padanya. Jalinan benang itu baru saja ia buat dengan mengorbankan beberapa helai rambutnya, yang ditambah dengan akar pohon di sekitar, membuatnya terlibat seperti tali tambang.
Chloe menangkap ujung 'tali' itu, dan langsung memegangnya dengan sangat kuat. Dan dengan begitu, Stella langsung menariknya, membuat Chloe seketika terbawa ke jalan keluar, sementara cahaya yang menerangi gua itu menghilang.
"Ahaha … Syukurlah kita sempat … "
Stella bernapas dengan lelah saat tubuhnya terbaring di tanah. Dia membentangkan kedua lengannya sambil menatap Lilith dan Levina. Keduanya baik-baik saja, kenyataan itu sudah cukup untuk membuatnya tenang.
"Sekarang … Kita berhasil keluar … Kita hanya perlu mencari jalan untuk masuk lebih dalam lagi … "
...****************...
"Baiklah, Rico. Ke arah mana kita akan pergi selanjutnya? "
Di sebuah ruangan yang dipenuhi oleh puluhan pintu, Kaira membuka suaranya sambil tersenyum saat dia menatap ke sekitar.
Hanya ada pintu. Pintu di mana-mana, memenuhi pandangannya.
Rico juga terlihat berdiri di sampingnya, dengan sebuah tongkat logam di tangan kiri, dan sebuah revolver di tangan kanan.
"Aku rasa, kita harus masuk ke pintu itu."
Dengan tongkatnya, Rico menunjuk pada salah satu pintu. Ekspresinya tegas, tak seperti dirinya yang biasa. Selain itu, dia juga terlihat yakin dengan pilihannya.
"Dan menurutmu? Kenapa kita harus masuk ke pintu itu? "
Masih memajang senyumnya, Kaira bertanya. Namun, Rico hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan kecil, sebelum akhirnya mengucapkan beberapa kata.
"Itu karena … Pintunya terlihat keren! Hanya itu alasannya! Lihat saja! Pintu itu terlihat berbeda dibandingkan semua pintu yang ada! Jawabannya sudah jelas! "
"Ahaha! Aku tahu kau akan mengatakan itu! Aku setuju denganmu! Ayo kita masuk sekarang! "
Dengan senyum di wajah mereka, keduanya langsung memasuki pintu itu, hanya untuk menemukan kalau itu adalah ruangan yang penuh dengan lebah berbisa.
Mereka berdua kemudian keluar dengan wajah dan tubuh yang penuh dengan bekas sengatan.
...****************...