[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 183: Clausa Memoria (5)



...****************...


"Umm … Tidak bisakah kita mempercepat adegannya? Tidak ada yang bisa kita lihat di sini."


Muku dengan wajah mengantuk tetap berusaha menonton adegan yang terproyeksi, tapi ia mau tak mau merasa bosan dengan itu.


Pertanyaannya itu jelas membuat semua orang mengangguk setuju. Mereka juga sudah bosan dengan adegan yang tersaji di hadapan mereka.


Selama hampir 20 menit, mereka hanya menyaksikan proyeksi Izaya dan Shion yang dalam diam mendesain dan membuat sebuah buket yang penuh dengan ucapan selamat ulang tahun. Benar-benar tak ada yang penting di sana.


Olivia merasa agak menyesal untuk mengakuinya, tapi ia setuju dengan semua orang. Dia pun menoleh pada Anzu.


Anzu sedang duduk sambil memeluk kakinya, dan menenggelamkan wajahnya di sana. Rupanya, dia sedang tidur.


Olivia menggunakan sihir es untuk memberinya sentuhan yang sangat dingin pada bagian leher, sehingga Anzu sontak bangun dengan ekspresi yang kacau.


"A-apa yang kau lakukan?! "


Dengan kesal Anzu berteriak padanya, tapi Olivia justru membalas dengan tatapan yang sama jengkelnya.


"Kenapa kau tidur? Seharusnya kau membantu kami untuk mengganti adegan ini."


"Dengar, ya." Anzu mulai berbicara dengan raut wajah jengkel. "Jika aku bisa mengendalikan proyeksi ini, maka aku pasti sudah melakukannya sejak awal! Tidak ada gunanya bagiku untuk menunjukkan semua ini! "


" … Kurasa kau benar."


Olivia tidak tertarik lagi, dan mulai kembali memperhatikan proyeksk itu.


Namun, tak lama setelahnya, adegan proyeksi langsung berganti.


"Ahh, akhirnya! "


"Umm … Teman-teman … Maaf mengganggu kalian, tapi … Bukankah ini aneh? "


Di saat semuanya sedang melihat pergantian adegan pada proyeksi, suara canggung Rias muncul menyela.


Olivia menoleh padanya, dan Rias seketika tersentak dengan matanya yang menatap ke segala arah.


Dia dengan takut menjelaskan apa yang ada di pikirannya. "Itu … Kita sudah ada di dungeon ini, selama kurang lebih empat jam. Tapi … Kita sama sekali tidak lelah, lapar, atau bahkan haus … Apa kalian tahu kenapa? "


Itu tak terduga. Olivia sendiri bahkan tidak menyadarinya.


Apa yang Rias katakan itu benar. Mereka sudah terjebak di dungeon ini untuk waktu yang lama, tapi tidak hanya rasa lelah, mereka bahkan tidak merasa lapar atau haus sedikit pun. Jelas itu aneh.


Olivia tidak tahu harus menjawab apa, karena ia sendiri bingung. Tapi, ia berspekulasi kalau dungeon ini mungkin memiliki pengaruh khusus pada tubuh mereka.


Begitu ia menjelaskannya, Rias dengan wajah yang seolah mengatakan kalau ia memahaminya itu mengangguk.


Mereka kembali melihat adegan proyeksi, dan dengan cepat melupakan topik itu.


"Ohh, tidak … Jangan yang ini … "


Erangan tidak nyaman kembali keluar dari Anzu ketika dia ikut menyaksikan proyeksi.


Sesuai dengan firasat butuknya, proyeksi itu masih menampilkan potongan dari ingatannya. Terlebih, adegan yang sedang berlangsung ini adalah bagian yang paling tidak ingin dia lihat sekarang.


Olivia mengabaikan Anzu, dan fokus menonton, dia benar-benar ingin tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu.


Latar adegan tersebut sudah bukan di ruangan yang mereka sewa di manga cafe, melainkan area stasiun bus yang cukup ramai akan orang.


Langit telah berubah menjadi oranye, menandakan betapa banyaknya waktu yang mereka habiskan untuk membuat sebuah buket ucapan. Kini, sosok Izaya dan Shion sedang berjalan berdampingan menuju salah satu bus yang berhenti untuk menunggu penumpang.


Namun, saat keduanya hampir mencapai bus itu, Izaya tiba-tiba berhenti. Dia menoleh ke samping, dan membuat Shion ikut berhenti untuk bertanya padanya.


"Apa yang kau lakukan? " tanya Shion.


Shion terlihat jengkel, tapi ia tak melakukan apa pun, dan hanya menunggu sampai Izaya menjawab.


" … Bisakah kau tunggu di sini sebentar? Ada sesuatu yang harus kulakukan."


"Eh? Ah– tunggu! "


Tanpa membiarkan Shion menghentikannya, Izaya langsung berlari menuju sebuah bangunan yang berjarak tak jauh dari tempat Shion berdiri.


"Ughh … Jadwal keberangkatan busnya sebentar lagi … Aku harap dia segera kembali … "


Shion dengan pasrah menundukkan kepalanya dan bersandar pada papan reklame yang ada di belakangnya.


Tak lama kemudian, Izaya kembali muncul, tapi kali ini dia membawa sesuatu di tangannya.


" … Apa itu? "


"Hmm? Bukankah sudah jelas? Ini boneka."


Apa yang Izaya bawa itu adalah sebuah boneka berukuran besar yang mungkin akan muat di pelukan. Bentuknya seperti pinguin, dan warnanya paduan antara biru dan putih.


Boneka yang lucu, hanya itu cara untuk menggambarkannya.


Saat Shion fokus menatap boneka itu, Izaya tersenyum, dan mengulurkan boneka itu padanya.


" … Apa? "


Shion dengan curiga bertanya pada Izaya, tapi Izaya justru hanya tersenyum masam padanya.


"Jangan terlalu waspada, aku hanya ingin memberikan ini padamu."


" ……… Hah? "


Wajar baginya untuk bingung. Sejak awal, dia tidak menduga kalau Izaya akan memberikan sebuah boneka padanya.


"Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih. Aku akan mentraktirmu nanti, tapi untuk sekarang, setidaknya aku ingin memberikan ini padamu."


Shion tetap diam dan menerima boneka itu. Ia menatapnya untuk beberapa saat, lalu meremas boneka itu beberapa kali dengan mata kosong.


" … Ini lembut … "


Seolah telah melupakan keberadaan Izaya, Shion memeluk boneka pinguin itu dan menenggelamkan wajahnya di sana.


Namun, itu tak berlangsung lama. Dia segera berhenti, dan perlahan melirik Izaya. Dia pun dengan tenang mengendurkan pelukannya pada boneka itu, lalu menghapus semua ekspresinya saat menatap Izaya.


" … Berapa harganya? "


"Ahh, kau tidak perlu khawatir dengan harganya. Aku mendapatkannya dalam sekali coba di mesin capit itu. Aku hanya mengeluarkan 100 Yen."


" …… Kau mendapatkannya dalam sekali coba? "


"Hal yang mudah untukku."


Izaya mengangkat bahunya dan berjalan menuju bus, meninggalkan Shion yang masih kebingungan itu.


"Ahh– t-tunggu! "


Shion dengan panik berlari mengejar Izaya, dan akhirnya masuk ke dalam bus setelah sedikit usaha.


Secara alami, dia mengambil bangku tepat di samping Izaya yang duduk di dekat jendela.


" …… Terima kasih."


Kata-kata yang sederhana itu digumamkan oleh Shion sambil memeluk bonekanya, dan Izaya yang mendengar itu hanya tersenyum masam sebagai responnya.


" … Kau mengatakan kalau kau tidak punya hubungan apa pun dengannya, tapi kau jelas sangat senang di sana."


Alan memberikan komentar dinginnya sambil melirik pada Anzu yang kini dengan pasrah membenamkan wajahnya di lututnya. Meskipun samar, mereka bisa melihat telinga Anzu sedikit memerah.


Untuk Anzu sendiri, sebenarnya dia merasa sangat canggung untuk melihat itu semua. Terutama, karena ada Olivia di sana.


Jika saja Olivia adalah seorang gadis yang temperamental, maka situasi pasti akan jadi lebih kacau. Anzu benar-benar senang karena Olivia masih bisa mentoleransi itu semua.


… Meskipun ekspresi di wajahnya hanya bisa digambarkan sebagai suatu kecemburuan.


Adegan kembali berlanjut. Di sana, Izaya dan Anzu sedang duduk dengan tenang di bangku mereka. Izaya melihat ke luar jendela, hanya untuk melihat trotoar yang dilewati masih penuh dengan salju.


Apakah pasukan snowbot belum menjangkau area ini? Entahlah, dia sendiri tidak tahu jawabannya. Izaya telah melewati jalanan ini berulang kali di tanggal dan bulan yang sama setiap tahun, dan selama itu, ia selalu menemukan jalanan yang masih ditutupi oleh benda putih itu.


Sempat terbesit di pikirannya untuk melapor pada kantor pelayanan masyarakat, tapi ia segera mengurungkan niat itu ketika berpikir kalau ia tak akan sering melewati jalanan ini.


Dia mungkin hanya akan lewat sekali setiap satu tahun. Alasannya? Ada pada tempat tujuannya.


" … Kalian pergi menjauh dari pusat kota. Ke mana tujuan kalian? "


Werli secara alami menanyakan itu. Tentu saja dia bingung, dia tak menemukan alasan bagi Izaya dan Shion untuk pergi ke luar kota di waktu itu.


Saat itu adalah malam sebelum hari natal, sebagian besar orang pastinya akan berada di tempat-tempat tertentu seperti restoran atau rumah, dan menghabiskan waktu mereka bersama keluarga atau orang yang mereka sayangi.


" … Kalian akan mengetahui alasannya jika kalian terus menonton. Sebenarnya aku tidak memiliki urusan di tempat itu, tapi aku datang untuk menemaninya."


" ……… "


Olivia tak mengatakan apa pun, tapi hanya diam dan memperhatikan adegan yang terproyeksi. Dia benar-benar penasaran dengan ke mana Izaya pergi.


Setelah ia memikirkannya, Izaya selalu pergi ke suatu tempat setiap tanggal 24 Desember, dan Izaya sama sekali tidak pernah memberitahunya ke mana dia pergi.


Tak berselang lama kemudian, adegan kembali berganti, dan membuat semua orang bingung.


"Apa yang terjadi? "


Alan dengan jelas menyuarakan kebingungan semua orang, tapi Anzu hanya tersenyum masam di sana.


"Dari caramu mengatakannya … Apa kau tidak ingat apa pun saat itu? "


"Benar, itu karena aku tertidur."


" ……… "


Sayang sekali, Alan-kun. Tapi memang begitulah kenyataannya.


Adegan berganti, dan menunjukkan sosok Shion yang dengan muram menggosok matanya. Tak ada yang aneh dari itu, tapi mereka sedikit dikejutkan dengan Shion yang detik sebelumnya sedang menyandarkan kepalanya di bahu Izaya.


"Hmm? Apa aku membangunkanmu? "


" … Tidak. Entah kenapa belakangan ini aku sering ketiduran."


Shion dengan wajah yang masih mengantuk berusaha bangun dan mengangkat kepalanya, tapi tak berhasil. Pada akhirnya, dia hanya bisa menempelkan keningnya di bahu Noelle, membiarkan darah mengalir ke kepalanya secara perlahan.


Setelah beberapa saat, dia akhirnya mengembalikan fokusnya. Shion bangun dan melihat ke sekeliling.


"Apa kita belum sampai? "


Langit sudah gelap, tapi mereka masih dalam perjalanan. Itu merupakan perjalanan yang cukup panjang.


"Sebentar lagi kita akan sampai di stasiun terakhir."


"Begitu, ya. Ngomong-ngomong, apa yang sedang kau lakukan? "


Shion menoleh pada Izaya, dan melihat kalau Izaya memakai sebuah kacamata dengan bingkai yang tipis dan berwarna keperakan.


"Ahh, ini … Bagaimana aku harus mengatakannya … Ini adalah sebuah kacamata yang memiliki fitur untuk mengakses dunia virtual. Semacam AR. Aku yakin kau tahu itu."


"Hmm? Merk ini … Apa ini salah satu investasi keluarga besarmu? Terlebih, aku belum pernah melihat seri ini sebelumnya. Apa masih prototype? "


"Begitulah, aku diminta untuk mencobanya, jadi … Aku memutuskan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan dengan ini. Tapi … Mungkin efek radiasinya terlalu kuat, mataku mulai sakit."


Izaya melepas kacamatanya dan mulai menggosok matanya sendiri, sebelum akhirnya menatap ke langit-langit untuk beberapa saat.


Shion yang terlihat lebih segar dari sebelumnya mulai memberikan tatapan khawatir pada Izaya.


"Tolong jangan memaksakan dirimu."


"A-ahh, tidak masalah. Lagi pula aku sudah selesai. Mungkin aku harus menggunakan perangkat tambahan seperti lensa kontak anti radiasi nanti."


Seolah telah menghabiskan semua topik pembicaraan, keduanya tetap diam hingga akhirnya stasiun terakhir telah di depan mata.


"Ngomong-ngomong, apa yang kau kerjakan tadi? "


Shion sudah punya firasat tentang jawabannya, tapi masih menunggu konfirmasi dari Izaya. Bisa dilihat, Izaya terdiam, tanpa mengatakan apa pun.


Tatapan Izaya berubah menjadi tak acuh, seolah Shion telah menanyakan hal yang krisual baginya.


" … Sesuatu yang selalu kulakukan saat bersamamu."


Meskipun dia hening sejenak, Izaya tetap menjawab pertanyaan yang diberikan Shion, dan hanya dari pertanyaan itu, Shion langsung memahami apa maksudnya.


" … Kau masih mencarinya, ya … Pelaku pembunuhan itu … "


"Begitulah. Aku tidak bisa tidur nyenyak jika belum mengungkap keberadaannya."


"Lalu … Setelah menemukannya … Apa yang akan kau lakukan? "


Izaya tak menjawab, melainkan terus melihat ke luar jendela. Itu seolah ia sama sekali tidak mendengarkan pertanyaan Shion. Namun, setelah jeda yang cukup lama, Shion akhirnya mendengarnya.


Izaya bergumam dengan suara yang sangat rendah, tapi entah bagaimana bisa memasuki telinganya. " … Sebenarnya … Aku juga tidak tahu."


Tak ada lagi yang berbicara di antara keduanya. Mereka terus diam, hingga akhirnya bus berhenti tepat di stasiun terakhir.


Saat itu, hanya ada sedikit penumpang, dan mereka semua turun di sana, bersama Izaya dan Shion.


"Ini … Pemakaman? "


Olivia bertanya dengan suara yang hanya bisa dikatakan sebagai 'bergumam'.


Dia melihat tempat yang dituju oleh Izaya dan Shion, lalu terkejut karenanya. Olivia menang tidak pernah mengunjungi tempat itu saat ia masih menjadi Ayano, tapi melihatnya saja sudah jelas. Tempat itu adalah area pemakaman.


"Apa yang kalian lakukan di sana? "


Meskipun menunjukkan raut ketidaktertarikan, nada suara Iris dengan jelas menyuarakan rasa penasarannya.


"Kau pikir apa yang kami lakukan di pemakaman? Menggali kuburan dan menjarahnya? "


"Kurasa itulah yang akan kalian lakukan."


" ……… "


Seberapa negatif pandangan yang dimiliki Iris tentang Noelle dan Anzu? Bagaimanapun, hanya dia sendiri yang mengetahuinya.


Anzu menghela napas pasrah dan mulai menjelaskan, "Kalian akan mengetahuinya jika kalian tetap diam dan menonton. Yang jelas, kami tidak melakukan apa pun yang mencurigakan."


" ……… "


Mereka kembali melihat adegan yang terproyeksi. Di sana, mereka bisa melihat Izaya bersama Shion yang dengan tenang berjalan menuju salah satu batu nisan.


Di batu nisan yang telah tertutupi lumut dan salju itu, tertulis sebuah nama dalam bahasa yang sudah lama tak mereka lihat.


Tertulis, Wakana Hakui.


"Itu … "


Mereka pernah mendengar nama itu sebelumnya. Yaitu saat mereka melihat ingatan Lilith tentang Izaya di masa lalu.


Meskipun pernah mendengar namanya, mereka sama sekali tidak mengenal orang bernama Hakui itu, jadi mereka tidak mengetahui hubungan semacam apa yang dimiliki Izaya dan Shion dengan orang itu.


Namun, hal itu tak berlaku untuk Olivia. Meskipun tidak begitu mengenal sosoknya, Olivia tahu kalau Hakui adalah orang yang Noelle anggap sebagai 'keluarganya'. Dia hanya pernah bertemu dengan Hakui beberapa kali, dan dia sudah memiliki gambaran tentang sosok Hakui, yaitu seorang pria tua yang baik.


Kembali ke adegan, di sana, Izaya menghapus semua ekspresinya, dan menatap kosong pada batu nisan Hakui.


" …… Lama tidak bertemu, Hakui. Apa menyenangkan di sana? "


Kunjungannya ke makam, hanya untuk mengatakan itu? Mereka semua hampir saja menyuarakan kebingungan mereka, tapi memutuskan untuk tetap diam saat menyaksikan apa yang Izaya lakukan selanjutnya.


Izaya berjongkok, dan mengeluarkan mangkuk kecil dari sebuah kantung kertas yang entah bagaimana dia membawanya.


"Batu nisanmu sudah dipenuhi lumut lagi, aku mungkin harus membayar seseorang untuk membersihkannya setiap bulan. Yahh, lupakan itu."


Izaya tersenyum masam, dan mulai membuka satu botol yang juga ia keluarkan dari kantung kertas itu.


Setelah membuka tutupnya, Izaya mulai menuangkan isi botol itu di mangkuk kecil yang ia sajikan di makam Hakui.


"Iza … Aku akan membeli bunga, kau mau menunggu? "


"Baiklah."


Jarak antara makam Hakui dengan stand penjual bunga tidak begitu jauh, jadi Shion masih bisa dengan jelas melihat atau mendengar apa yang Izaya lakukan.


Tak lama kemudian, Shion kembali, dengan dua ikat bunga di tangannya. Dia memberikan salah satu ikat bunga itu pada Izaya, dan menaruh yang satu lagi di nisan Hakui.


Setelah itu, dia tetap diam. Tak melakukan apa pun selain memejamkan matanya dan membiarkan Izaya menyelesaikan 'laporan tahunannya'.


Semua yang Izaya laporkan tepat di makam Hakui, adalah informasi tentang kesehariannya, serta kemajuannya dalam berpikir. Semua itu, tak luput dari pengaruh sosok Hakui.


" … Selanjutnya … Hakui, mungkin masih lama, tapi … Aku pasti akan menemukannya … Pelaku pembunuhanmu, aku akan menemukannya, bersama dengan dalang yang menyebabkan kecelakaan pesawat orangtuaku."


Apa yang ia ucapkan barusan seperti menjadi sengatan listrik untuk semua orang. Mereka terdiam sambil melebarkan mata mereka dengan terkejut.


Tak ada satu pun yang bisa mengatakan sepatah kata, selain Olivia yang mundur selangkah dengan raut panik di wajahnya.


"Itu mustahil! Kematian orangtua kandung Izaya, itu semua adalah kecelakaan! Juga … Kematian Wakana Hakui, telah ditetapkan sebagai kecelakaan kerja! Bagaimana mungkin … "


"Apa kau benar-benar berpikir kalau semuanya hanyalah kecelakaan? "


"Itu–"


Olivia tak dapat meneruskan kata-katanya. Dia membeku di tempat, sambil memberikan tatapan tidak percaya pada Anzu yang menatapnya dari bawah.


Mata Anzu menyipit tajam, dan senyum sinis terbentuk di bibirnya.


"Memang benar, secara resmi, kematian mereka telah ditetapkan sebagai kecelakaan. Tapi, bagaimana jika kenyataannya berbeda? Pesawat bisa disabotase untuk menyamarkan pembunuhan, dan Hakui adalah seorang kepala kepolisian yang memiliki banyak musuh. Kedua kasus memiliki kemungkinan untuk dimanipulasi sebagai suatu 'kecelakaan'."


"Tunggu sebentar, pria tua itu adalah kepala kepolisian? "


Alan dengan terkejut menyuarakan rasa penasarannya pada Anzu, yang kemudian direspon oleh Anzu dengan melebarkan senyumnya.


"Ahh, benar juga. Alan, kau dulu adalah anak seorang pejabat partai tertentu, 'kan? Aku yakin kau paham dengan betapa berbahayanya dunia politik, dan juga … Ayano, aku yakin kalau lebih paham dengan semua itu, mengingat kau di masa lalu adalah salah satu anggota keluarga Mikhail Wecker."


"Eh? T-tunggu sebentar, Anzu! Mikhail Wecker yang kau sebutkan itu … "


Rias dengan canggung mulai menggali ingatannya, dan menemukan satu orang yang cocok.


Namun, sebelum dia mengatakan identitas orang itu, Anzu telah lebih dulu menyelanya. "Setelah dipikir-pikir, kalian belum tahu, ya? Benar, yang aku maksud adalah Mikhail Wecker, salah satu dari 15 orang terkaya menurut pendataan di dunia. Semua usaha yang ia bangun dari selesainya Perang Dunia 2, telah memberinya hasil yang sangat memuaskan."


"Maksudmu … "


" … Mikhail Wecker, dia adalah kakek buyutku, bersama dengan Noelle–atau lebih tepatnya, Iza."


...****************...