![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
"Perasaan jenis apa yang kamu miliki padanya? "
...****************...
Olivia bangun dari tidurnya dengan tubuhnya yang penuh keringat di ranjangnya yang empuk. Saat ia membuka matanya dengan jelas, ia memperhatikan sosok gadis kecil yang sedang menatapnya dengan bingung dari samping.
Saat ini sudah sore hari, dan Noelle serta Cryll belum kembali dari pekerjaan yang mereka lakukan.
Karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan, Olivia akhirnya memutuskan untuk tidur siang sejenak. Namun, ia tak menyangka kalau ia akan mengalami hal aneh itu.
Ia merasa seperti memimpikan sesuatu dan bertemu dengan seseorang di sana, tapi ia sama sekali tak dapat mengingatnya.
Itu adalah hal yang sama yang telah diceritakan Noelle padanya.
Olivia secara alami mengerutkan keningnya dengan tidak nyaman saat ia memikirkan sensasi itu.
"Jadi ini … Yang Noelle alami … "
Gadis kecil yang duduk di hadapannya itu tidak mengatakan apa pun untuk merespon Olivia. Ia hanya memiringkan kepalanya dengan bingung dan menunjukkan wajah khawatir.
Olivia memaksakan senyumnya dan mengelus kepala gadis itu sejenak, lalu beranjak dari ranjangnya.
Tidak ada gunanya jika ia terus memikirkan itu. Akan lebih baik jika ia mendiskusikannya dengan Noelle. Bagaimanapun, baik ia dan Noelle sama sekali tidak memiliki ingatan tentang apa yang terjadi di mimpi mereka itu.
Mereka mengalami hal aneh yang sama Apakah itu kebetulan? Atau ada suatu koneksi dari satu kejadian itu? Olivia sudah memikirkannya dengan keras, tapi tetap tak menemukan jawaban yang pasti.
Sama seperti Noelle, ia hanya bisa menemukan jawaban yang samar tentang itu. Akan lebih baik jika ia bisa mempertahankan ingatannya sedikit, tapi ia benar-benar kehilangan ingatannya saat ia bangun.
Itu benar-benar merepotkan bagi Olivia yang seorang pemikir. Ia suka berpikir dan memecahkan suatu masalah, tapi ia benci jika sama sekali tidak ada petunjuk awal tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Olivia meregangkan tubuhnya begitu ia bangun, dan gadis kecil itu mengikuti gerakannya dengan canggung. Berkat itu, senyum lembut terbentuk di bibirnya tanpa ia sadari.
Ia berjalan menuju meja rias yang letaknya tak begitu jauh dari kasur tempatnya berbaring sebelumnya, dan mulai memperbaiki rambut serta pakaiannya.
Senyumnya seketika menjadi kaku ketika melihat penampilannya yang tak pantas. Gaun tidur biru gelap hampir transparan itu benar-benar basah karena keringat dan kusut karena tampaknya ia membuat banyak gerakan saat tidur.
Wajah tanpa ekspresi yang dipantulkan oleh cermin di hadapannya sempat membuatnya ingin menghancurkan cermin itu, tapi ia menahan diri karena penampilannya yang tidak pantas adalah karena kesalahannya sendiri.
Olivia sendiri sadar kalau ia bukanlah orang yang banyak bergerak saat tidur, jadi melihat penampilannya yang kusut seperti itu cukup mengejutkan. Ia tanpa mengatakan apa pun lagi langsung berjalan memasuki kamar mandi kecil yang ada di kamarnya, dan mulai melepas semua pakaiannya.
Mungkin menyegarkan diri tepat setelah tidur siang yang aneh itu dapat menenangkan pikirannya sedikit. Atau begitulah pikirnya.
Tapi, ingatan samar dan perasaan aneh tentang mimpi yang baru saja ia alami terus menghantui pikirannya tanpa henti.
"Sebenarnya, apa itu tadi … "
Sambil membiarkan air hangat dari shower mengalir di sekujur tubuhnya dan membasahi rambutnya, Olivia dengan keras memikirkan apa yang sebenarnya terjadi sebelumnya.
Tidak seperti Noelle yang benar-benar tidak mengingat apa pun setelah bangun, masih ada jejak-jejak samar dalam ingatan Olivia tentang apa yang terjadi.
Namun, meskipun begitu, ingatan tentang itu selalu melarikan diri darinya setiap kali ia berusaha mengingat.
" … Aku benci ini … "
Menggumamkan itu, Olivia langsung mematikan shower dan pergi keluar sambil menutupi tubuhnya dengan handuk.
Tepat saat ia mencapai ranjangnya, ia melihat gadis kecil itu sedang duduk dan membolak-balik halaman buku catatan milik Noelle yang sudah penuh.
Noelle biasanya selalu membawa semua buku catatannya, tapi kali ini ia sengaja meninggalkannya agar Olivia bisa meneliti beberapa hal yang mungkin telah ia lewatkan.
Olivia tersenyum begitu melihat gadis itu. Ia mengikat rambutnya menjadi kuncir kuda dan mendekati gadis itu.
"Kamu bisa membacanya? " tanya Olivia.
Gadis itu menoleh dan menatap Olivia untuk beberapa saat, sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya.
"Papa … Tidak pernah mengajariku."
"……… "
Jawaban yang diberikan gadis itu membuat Olivia seketika tersentak. Ia tidak tahu apakah gadis itu memang benar 'anaknya' Noelle, tapi sekarang ia berpikir kalau itu tidak mungkin.
Di lihat dari sisi mana pun, gadis kecil itu memiliki penampilan yang terlihat seperti berusia lima atau enam tahun.
Tidak mungkin Noelle akan memiliki anak di usia sembilan tahun … Atau mungkin bisa? Bagaimanapun, ia sendiri ragu dengan itu.
"Umm … Apa kamu memang tidak ingat apa pun tentang bagaimana kamu bisa ke sini? "
Olivia memutuskan untuk tidak menanyakan tentang kejelasan identitasnya untuk sekarang, jadi dia hanya menanyakan beberapa hal untuk memastikan.
Namun, gadis itu lagi-lagi menggelengkan kepalanya.
"Begitu, ya … Lalu … Apa kamu ingat sesuatu tentang masa lalumu? "
"Masa … Lalu? "
Gadis itu terlihat bingung ketika mendengar pertanyaan Olivia. Mungkin karena ia belum mampu untuk mengerti apa yang ditanyakan.
"Nn, benar. Sesuatu yang terjadi sebelum kamu ke sini. Seperti, tempat, kejadian, atau apa pun itu," ucap Olivia.
"Tempat … Gelap … Banyak orang tidur … Air … Merah … "
Gadis itu tak melanjutkan kata-katanya yang dia ucapkan sambil menggali ingatannya. Ia langsung melompat karena terkejut dan memegangi kepalanya sendiri dengan penuh ketakutan. Sosoknya yang kecil itu terlihat seperti sedang bersembunyi dan melindungi dirinya dari sesuatu dengan penuh ketakutan. Tubuhnya gemetar dan air mata mulai menetes dari matanya yang terpejam.
"Kalau itu memang menakutkan … Jangan diingat lagi. Kamu bisa mencobanya ketika kamu sudah lebih berani," ucapnya dengan lembut sambil terus mengelus kepala dan punggung gadis itu guna untuk menenangkannya.
Olivia memutuskan kalau topik ini adalah salah satu topik yang harus dijauhi ketika dia sedang berbicara dengan gadis yang saat ini ada di pelukannya.
Secara alami ia menyadari kalau masa lalu gadis itu, atau apapun yang terjadi padanya sebelum dia muncul di kamarnya dengan Noelle, adalah hal yang cukup suram.
(Orang tidur … Mayat? Dan air merah … Darah, kah? Sepertinya ini akan sulit.)
Olivia mengerutkan keningnya dengan tidak nyaman begitu ia memikirkan situasinya. Ini memang masih berupa pemikiran yang acak, tapi pemikiran yang acak itu memiliki kemungkinan yang sangat tinggi dan mungkin akan membimbingnya ke suatu jawaban.
"Untuk sekarang, ayo kita keluar," kata Olivia.
Tidak baik jika dia tetap di situasi ini tanpa melakukan apa pun. Akan lebih bagus jika ia bisa menenangkan gadis itu dengan melakukan beberapa cara.
Olivia melihat ke luar jendela melalui sela tirai putih yang nyari transparan di kamarnya, dan menemukan sesuatu yang aneh sedang terjadi di luar.
" … Salju? Tapi … Ini baru musim gugur … "
Cuaca memang menjadi lebih dingin akhir-akhir ini, tapi sekarang masih terlalu awal untuk turun salju. Jelas itu sangat aneh.
Biar pun kerajaan tempat mereka tinggal sekarang adalah negara dengan empat musim dan memiliki siklus musim yang tidak terlalu stabil, salju hanya akan turun saat musim dingin tiba.
Olivia melepaskan lengannya yang memeluk gadis kecil itu dan berdiri sambil menatap ke langit dengan curiga.
Ia langsung melepas handuk yang sejak tadi melilit tubuhnya dan seketika berganti menjadi pakaian kasualnya yang biasa, lalu membuka tirai yang menutup jendela agar ia bisa melihat ke luar dengan lebih jelas.
" … Ayo kita keluar."
Olivia langsung membawa gadis itu keluar dan memeriksa situasinya secara langsung.
Begitu ia keluar, ia melihat semua orang yang ada di kota juga sedang memandangi langit dengan heran.
Permukaan air di kanal yang memisahkan semua pulau di kota itu mulai membeku secara perlahan, dan semua aktifitas yang dilakukan di atas kapal seketika terhenti.
Intensitas salju yang turun dari langit itu tidak begitu besar, tapi anehnya suhu telah berubah drastis menjadi sangat dingin seolah ini adalah pertengahan musim dingin.
"Apa yang terjadi?! "
Saat ia dalam kebingungan total memperhatikan situasi di depannya, Stella tiba-tiba datang dan bertanya padanya dengan panik.
Olivia tidak mengerti situasinya, tapi kemungkinan ini akan menjadi hal yang buruk.
Seperti yang ia duga, beberapa orang di sana mulai mengalihkan perhatiannya pada dirinya seorang.
Jelas, jika itu berkaitan dengan salju dan suhu yang dingin, Olivia adalah orang pertama yang terlintas di benak semua orang.
Ini masih musim gugur, yang artinya, belum waktunya bagi salju untuk turun. Jika salju turun di saat seperti ini, maka hanya satu jawabannya. Yaitu, pengaruh orang luar.
Olivia selalu memiliki penampilan yang mencolok dengan gaya bertarung dan sihir es miliknya, jadi wajar bagi semua orang di sana untuk berpikir kalau itu adalah ulah Olivia.
Menyadari itu, Olivia langsung menggelengkan kepalanya dan menjelaskan, "Aku tidak memiliki jenis sihir yang bisa mempengaruhi iklim cuaca sepenuhnya. Sihirku hanya bisa mempengaruhi alam sekitar dalam jangkauan jarak dan batas waktu tertentu."
Penjelasan yang ia berikan terdengar sangat meyakinkan bagi semua orang di sana, jadi mereka mau tak mau langsung percaya.
Gadis kecil yang ikut dengan Olivia sebelumnya kini berdiri tepat di sampingnya, menatap langit itu dengan mata kosong sambil mencengkeram rok hitam Olivia dengan tangan kecilnya.
Tak lama kemudian, guncangan hebat tiba-tiba muncul dan membuat semua orang kehilangan keseimbangan mereka, sedangkan Olivia entah bagaimana mampu mempertahankan dirinya dan mencoba berdiri sambil menggunakan sihir gravitasi untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
Raungan besar menggema ke seluruh kota, dan pandangan mereka seketika dipenuhi oleh puluhan makhluk besar berwarna putih murni dengan tumpukan kristal es di sekujur tubuhnya.
Penampilan makhluk itu mengingatkan mereka pada golem, hanya saja, itu tidak terdiri dari batu yang keras, melainkan salju putih yang tampaknya telah dipadatkan.
Tak butuh waktu lama bagi mereka semua untuk menyadari kegentingan situasinya. Semua orang seketika menyiapkan senjata mereka, sedangkan warga sipil yang panik entah bagaimana dapat ditenangkan dan mendapatkan penanganan dari penjaga di sekitar.
Beberapa golem salju itu berlari mendekati Olivia dan Stella yang masih berdiri dengan bingung.
Begitu Olivia kembali sadar, ia langsung menarik rapier miliknya dan menabrakkan ujung rapier ke tubuh salah satu golem. Golem itu seketika meledak dan hancur menjadi beberapa bola salju besar yang akhirnya jatuh menimpa bangunan sekitar.
Stella juga ikut membantu dengan menembakkan anak panah yang dia mantrai dengan sihirnya dan menghasilkan efek ledakan yang cukup besar untuk menghancurkan salah satu golem itu. Namun, semuanya tak berhenti di sana.
Pilar cahaya putih kebiruan tiba-tiba muncul di tengah kota, menghasilkan hembusan angin yang sangat kuat, disertai dengan hujan salju yang terlalu kuat untuk ditahan.
Beberapa saat kemudian, semua partikel salju dan es yang sebelumnya telah dihempaskan keluar dari pilar cahaya itu kembali berkumpul di tengah pilar, dan menunjukkan sosok sejati yang menyebabkan semua ini.
Itu adalah seorang gadis, atau begitulah semua orang melihatnya. Rambut dan kulitnya yang putih murni dan tampak tak manusiawi itu terbentuk setelah semua partikel salju dan es yang telah terkumpul sebelumnya.
Matanya yang biru terang itu tampak kosong dan tak bernyawa saat ia menatap langit dengan bingung. Gaun putih panjang dengan aksen biru miliknya yang tampak seperti gaun pengantin itu berkibar dengan lembut seolah melawan jumlah angin yang berhembus.
Beberapa lingkaran halo putih yang bersinar secara samar terlihat sedang melayang mengelilingi di sekitar pinggangnya, sedangkan beberapa susunan logam putih-biru tampak melayang di atas punggungnya, membentuk sepasang sayap dengan bentuk seperti senapan.
Semua orang yang ada di sana dibuat terdiam dengan kemunculan sosok itu yang terjadi secara tiba-tiba. Tapi, lebih dari itu, yang paling dibuat terkejut dari semua ini adalah Olivia.
Olivia dengan tubuh gemetar melangkah mundur dan menjatuhkan rapier miliknya, matanya melebar dan membuat wajahnya membentuk ekspresi terkejut dan ketakutan yang sangat jelas.
"Tidak … Kenapa … "
Alasan mengapa ia sangat terkejut dengan kemunculan sosok itu tentu saja karena ia dengan sangat jelas mengenali sosok itu.
Wajah dan tubuhnya, semua itu sangat jelas. Tidak mungkin ia bisa melupakannya.
Itu adalah dirinya sendiri.
...****************...