[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 70: Identitas (1)



...****************...


Di tengah lorong-lorong yang sempit nan gelap, Noelle berjalan dengan tenang seolah ia sama sekali tidak memiliki beban.


Tiba-tiba saja tubuhnya langsung ditutupi oleh jubah hitam panjang.


Noelle mengangkat tangannya dan sebuah topeng dengan bentuk aneh tiba-tiba muncul tepat di atas tangannya.


Dia tanpa ragu langsung memasang topeng itu tepat di area matanya sambil terus berjalan menyusuri lorong-lorong gelap.


Berdasarkan perhitungan mental dan posisi bulan, Noelle dapat menebak kalau waktu seharusnya hampir mencapai tengah malam.


Itu artinya, beberapa jam telah berlalu sejak ia melakukan percobaan cuci otak pada Glantz.


Dan selama itu juga ia telah mengorek berbagai informasi dari Glantz yang telah tunduk padanya.


Noelle dikejutkan dengan banyaknya informasi penting yang diketahui Glantz. Berkat itu, Noelle jadi banyak mengetahui tentang seluk-beluk kota dan negara yang ia tinggali saat ini.


Tentunya itu semua adalah informasi yang tidak dapat diketahui oleh publik.


Selain itu, Glantz juga telah menceritakan banyak hal tentang masa lalunya pada Noelle.


Seperti, Glantz, Terneth, Luna, dan beberapa orang lainnya awalnya pernah berada di kelompok yang sama saat mereka masih menjadi petualang, namun kelompok mereka dibubarkan karena salah satu anggota mereka memutuskan untuk menikah dan pindah ke desa terpencil di selatan.


Noelle dan Olivia berasal dari desa terpencil di selatan kerajaan, jadi ia sedikit terkejut ketika mengetahui kalau salah satu anggota kelompok Terneth dan Glantz ternyata tinggal di sana.


Namun, ia tetap tidak dapat menebak siapa orang itu. Lagipula, tidak ada orang yang benar-benar bisa disebut kuat di sekitar desa itu.


Vain masih lajang sampai ia tewas di tangan para bandit, jadi kemungkinan kalau Vain adalah mantan anggota kelompok itu adalah nol.


Noelle tidak dapat menebak lebih lanjut karena Glantz bahkan tidak menyebutkan tentang nama maupun ciri fisik orang itu.


Itu memang bukan urusannya, namun, jika ia mengetahui sesuatu tentang orang itu, itu akn menyelesaikan banyak masalah.


Karena, pensiunnya orang itu dari dunia petualang adalah sumber utama semua masalah di sekitar Glantz.


Berdasarkan apa yang Glantz ceritakan padanya, keadaan mulai memburuk setelah orang itu pensiun dan keluar dari party.


Konflik internal tak dapat dihindari, dan beberapa dari mereka mulai bermusuhan satu sama lain.


Karena kelompok mereka telah mencapai peringkat-A, mereka memiliki koneksi langsung dengan banyak bangsawan. Ada banyak bangsawan ataupun pedagang besar yang menginvestasikan uang dalam jumlah besar pada kelompok mereka.


Namun, konflik yang terjadi di antara mereka membuat para bangsawan dan pedagang mulai menarik uang mereka lagi karena mereka merasa kalau kelompok itu akan berakhir tidak lama lagi.


Dan hasilnya, konflik menjadi lebih besar sehingga Glantz harus membunuh salah satu dari anggotanya untuk menyelesaikan masalah yang terjadi.


Setelah kejadian itu, kelompok mereka bubar dan masing-masing dari mereka mengambil pekerjaan yang berbeda.


Mereka saling menjauh seolah mereka tidak memiliki hubungan apapun sejak awal.


Hanya Terneth, Glantz, dan Luna saja yang masih mempertahankan hubungan mereka sampai saat ini dan cukup aktif di dunia petualang.


Menjadi petualang teratas dan hidup mewah adalah impian Glantz sejak lama, kelompoknya berisi orang-orang yang memiliki kemampuan hebat dan cukup populer di kalangan masyarakat di berbagai kota.


Karena itulah memiliki delusi untuk menjadi sukses bersama rekan-rekannya. Namun delusi itu mengkhianatinya.


Ia benar-benar merasa kecewa dan terkhianati ketika kelompok mereka harus dibubarkan.


Sementara Terneth dan Luna telah sukses sebagai ketua guild cabang di kota besar, Terneth tidak memiliki kemampuan apapun yang bisa ia banggakan selain kemampuannya dalam bertarung.


Jika ia kembali menjadi petualang, ia hanya akan menghadapi penghinaan dari banyak orang setiap harinya karena telah membunuh rekannya sendiri, dan baik Terneth maupun Luna tidak menginginkan itu.


Glantz membunuh rekannya karena ia terpaksa melakukan itu, dan bukan karena dorongan hati pribadi. Meskipun begitu, alasan seperti itu tidak akan cukup untuk meredam kebencian yang diarahkan padanya.


Mereka berdua ingin Glantz hidup dengan damai tanpa harus terlibat dengan pertarungan di dunia petualang lagi.


Dengan begitu, rumor dan desas-desus buruk tentangnya yang telah menyebar luas di kalangan masyarakat dan bangsawan perlahan akan memudar.


Ia akan membangun ulang reputasinya sebagai seorang pemilik pabrik pengolahan besi terbesar di kota Eisen.


Setidaknya itulah rencana Terneth dan Luna. Namun, kenyataan tak sebaik yang mereka pikirkan.


Setiap hari Glantz menghabiskan waktunya hanya untuk memendam segala emosi negatif yang ia miliki.


Terkadang ia bahkan kehilangan kendali akan emosinya dan menghajar siapapun yang ada di dekatnya.


Kemarahan, rasa bersalah, rasa iri, penghinaan, ketidakberdayaan untuk membuat pilihan yang tepat dan terpaksa membunuh rekannya sendiri, Glantz berusaha menahan itu semua setiap harinya, selama bertahun-tahun.


Hasilnya, jiwanya mampu menampung semua emosi negatif itu tanpa kerusakan sedikitpun.


(Kisah masa lalunya cukup menyedihkan, tapi … Berkat semua itu aku mendapatkan subjek yang sangat bagus … Aku bingung harus berterimakasih atau meminta maaf pada orang yang ditumbalkan untuk menciptakan situasi ini … )


Noelle hanya mampu tersenyum masam sambil terus berjalan di tengah kegelapan.


Sebelum Noelle pergi meninggalkan bengkel, ia telah memerintahkan Glantz untuk bersikap normal seperti ia yang biasanya agar tidak ada satupun yang curiga dengan perubahannya.


Noelle tidak tahu tentang seberapa bagus efek cuci otaknya, tapi ia dapat dengan yakin menyatakan kalau Glantz benar-benar telah tunduk padanya.


Kini ia hanya perlu melakukan beberapa penyelidikan.


Noelle terus berjalan menuju mansion yang Terneth gunakan sebagai rumahnya.


Tentu saja Noelle mengetahui di mana Terneth tinggal berkat Glantz yang dengan mudah membocorkan semua informasi.


Tanpa ia sadari, senyum cerah terukir di wajahnya.


...****************...


Sesampainya ia di lokasi mansion, Noelle mau tak mau memandang bangunan itu dengan takjub.


Mansion yang ditinggali Terneth memiliki ukuran yang sangat luas sehingga hampir menyamai ukuran mansion besar keluarga Suiren.


Noelle tidak begitu terkejut ketika melihat mansion yang begitu besar, lagipula ia telah tinggal di sebuah kastil besar selama kurang lebih delapan tahun.


Namun, ia tetap memandangi mansion itu dengan takjub karena mansion itu dibangun sendirian tepat di tengah pulau besar.


Meskipun ukuran pulaunya tidak sebesar yang lain, tapi mansion itu adalah satu-satunya bangunan yang ada di pulau itu sehingga memberikan kesan kalau itu adalah pulau pribadi yang sangat mewah.


Selesai mengagumi bentuk arsitektur dari mansion itu, Noelle segera menghapus hawa keberadaannya dan mencoba masuk ke dalam melalui gerbang.


(Sopan santun diutamakan.)


Noelle mengambil posisi menekan kakinya ke tanah, dan segera melompat dengan kekuatan yang tidak manusiawi.


Lompatan yang ditenagai dengan kekuatan fisik vampir memiliki jangkauan yang cukup gila.


Ia dengan mudah mencapai ujung lancip gerbang yang seharusnya berada beberapa meter di atas tanah.


Noelle membuat posisi berjongkok untuk meredam dampak kejutan dari pendaratannya yang keras.


Dia mendarat dengan lancar dan segera tersenyum.


(Kurasa aku bisa memenangkan kejuaraan lompat jauh dengan mudah sekarang … )


Meskipun ia berhasil menahan dampak kejut dari pendaratannya, tapi suara yang dihasilkan dari sepatu bot kulitnya sama sekali tidak mampu diredam sehingga salah satu prajurit yang menjaga gerbang itu terlihat kebingungan.


"Kau mendengar sesuatu? "


Salah satu prajurit itu bertanya pada rekannya yang ikut menjaga gerbang seperti dirinya.


Rekannya terlihat bingung sejenak, namun segera menggelengkan kepalanya.


"Tidak, apa yang kau dengar? "


" ……… Kurasa hanya perasaanku … "


Ia hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum miris, lalu kembali berbicara pada rekannya.


"Ingin memainkan sesuatu? Aku cukup bosan."


"Tapi ini masih jadwal kita berpatroli, 'kan? "


"Lupakan, ini adalah satu-satunya bangunan di pulau besar ini, dan tempat ini juga dijaga banyak orang. Tidak ada pengangguran yang terlalu bodoh untuk mendatangi tempat ini sendirian. Tidak masalah jika kita bermain sedikit."


"Tapi … "


"Lupakan tentang tugas. Kita sudah bekerja di sini sebagai penjaga selama lebih dari empat tahun, dan selama itu, belum ada satupun penyusup yang memasuki tempat ini. Dan kurasa tidak ada orang yang begitu bodoh untuk menginjakkan kakinya di rumah ketua guild Eisen."


(Apa bajingan ini baru saja menghinaku? Bisakah aku memukul wajahnya? Bisa, 'kan? Aku sangat ingin menginjak kotoran hewan dengan sepatuku, lalu menginjak wajah bajingan ini tanpa membersihkan telapak sepatuku terlebih dahulu.)


Dahinya berkedut, dan Noelle terus memaksakan senyumnya untuk menahan diri dari menggunakan kekerasan.


Akan berbahaya jika ia membuat mereka pingsan atau bahkan membunuh mereka sekarang.


Lagipula Noelle datang hanya untuk penyelidikan, dan bukan pembasmian.


Jika ini adalah pembasmian, maka Noelle tidak akan ragu untuk memenggal kepala kedua prajurit itu di saat itu juga.


Tapi ini hanya penyelidikan, jadi Noelle harus menahan diri.


Noelle menghela napas lelah setelah menghirup napas panjang sejenak.


Setelah itu, ia segera berlari menyusuri taman dan mencapai salah satu jendela yang terbuka.


Noelle merasa agak aneh ketika melihat jendela yang terbuka di tengah malam, namun ia segera menggelengkan kepalanya guna menghilangkan kekhawatiran yang tidak perlu.


Jika ada sesuatu yang salah sedang terjadi, ia hanya perlu membereskannya. Hanya itu dan tidak lebih.


Jendela yang terbuka itu mengarahkannya ke dapur yang cukup luas dengan perlengkapan memasak yang lengkap.


Noelle masuk dan berjalan menyusuri ruangan gelap sambil mencari arah untuk meninggalkan dapur.


Dan tidak lupa dengan mengambil beberapa piring daging dan wine berkualitas tinggi yang disimpan di lemari pembeku sambil mencari jejak-jejak yang mencurigakan.


Walaupun itu tidak mungkin untuk menemukan petunjuk penting di dapur.


Noelle hanya mencari alasan untuk mengambil beberapa persediaan makanan mewah secara gratis.


Tidak lama kemudian, Noelle berhasil keluar dari dapur dan bertemu dengan dua pintu besar yang tampaknya mengarah ke ruang tamu.


Pintunya sedikit terbuka, jadi Noelle bisa mengintip apa yang ada di dalam.


Namun Noelle segera dikejutkan dengan apa yang ada di balik pintu itu.


(Ahhh sial … Timingnya sangat buruk … )


Noelle dengan senyum kecut menatap sosok berjubah hitam itu dari belakang.


Ia tidak menduga kalau akan ada penyusup lain selain dirinya yang mengincar mansion ini, jadi Noelle sedikit merasa kecewa dengan ketidaktelitiannya.


Namun, tetap saja Noelle mau tak mau merasakan sedikit sensasi *d*éjà vu saat melihat sosok itu.


Sosok berjubah itu menggunakan topeng pesta yang mirip dengan yang digunakan Noelle, dan sedang membaca beberapa lembar surat yang ia dapatkan dari meja.


(Untuk saat ini … )


Noelle berniat pergi dan mencari informasi dari tempat lain terlebih dahulu dan menghindari ruang tamu agar tidak berpapasan dengan sosok itu.


Namun harapannya segera mengkhianatinya.


"?! Siapa di sana?!! "


Sosok itu segera menyadari keberadaan Noelle yang bersembunyi dan bertanya dengan spontan sambil mengarahkan sebilah pisau ke. pintu tempat Noelle bersembunyi.


(Ahh sial … Tunggu … Bukankah suara itu … )


" … Cryll? "


Noelle tanpa sadar menggumamkan namanya dan segera menutup mulutnya dengan tangan sambil mengerutkan keningnya dengan jengkel.


" … Siapa itu … "


Sosok yang Noelle duga sebagai Cryll itu tampak terkejut sejenak, namun segera mengarahkan niat membunuhnya pada Noelle yang masih bersembunyi.


(Brengsek … )


Otak Noelle bekerja dengan kecepatan penuh dalam keadaan panik, berusaha menemukan solusi dari masalah yang baru saja terjadi.


Sementara keringat dingin menetes dari dahinya, dan bibirnya melengkung menjadi senyum menantang.


...****************...