![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
(Sama sekali tidak ada yang menyebutkan Chronoa. Sosok sebesar itu … Tidak mungkin tidak ada yang mengetahuinya, 'kan? Apa mungkin … Keberadaan'Nya' terhapus dari sejarah karena suatu alasan? Tidak, Anastasia tidak mengatakan apa pun tentang itu sebelumnya. Apa itu artinya … )
Terlepas dari ketidakinginannya untuk mempercayai Anastasia, Noelle masih tetap menggunakan informasi dari Dewi Anastasia sebagai dasar untuk kesimpulannya.
Tidak banyak informasi yang Anastasia berikan, tapi itu semua sudah cukup untuk membuatnya terkejut.
Sampai saat ini, pengetahuan paling menonjol dari semua yang Anastasia berikan, adalah penjelasannya tentang 'kelahiran dewa', dan kehadiran Sang Dewa Pencipta Chronoa.
Kedua penjelasan itu mungkin berhubungan satu sama lain, tapi Noelle tidak tahu bagaimana harus mengolahnya.
Menurut apa yang dikatakan Anastasia, para dewa terlahir dari suatu konsep yang ada di dunia. Itu kemungkinan benar, tapi Noelle merasa kalau prosesnya tidak akan sesederhana itu.
Jika seorang dewa bisa terlahir hanya karena keberadaan suatu konsep, maka Noelle tidak bisa membayangkan akan sekuat apa dewa yang mewakili konsep itu sendiri.
(Sosok yang organisasi aneh itu puja … Apa itu benar-benar Chronoa? )
Noelle mulai mengingat keberadaan organisasi rahasia yang baru-baru ini ia temukan.
Apa pun jawabannya, kelihatannya tidak mungkin untuk menemukannya pada saat ini. Noelle harus berusaha lebih keras lagi untuk mengumpulkan informasi yang sesuai sambil menghindari sosok yang berbahaya seperti Noir.
"Baiklah, kurasa aku sudah menjelaskan semua hal dasar yang perlu kau ketahui. Untuk sekarang, kau akan menjalani pekerjaan normal sebagai penyamaran."
"Pekerjaan normal? "
Apa yang dikatakan oleh Dolf membuat lamunan Noelle bubar seketika. Dia kembali fokus mendengarkan, untuk sejenak mengesampingkan semua pertanyaan di benaknya.
"Aku sudah menjelaskannya, ingat? Kita memiliki beberapa pekerjaan yang menjadi kedok kita. Kau berada di cabang ini, jadi kau akan bekerja sesuai dengan kedok yang kami pakai."
"Ahh … Apa aku akan menjadi pelayan bar, atau semacamnya? "
Kalau begitu, semua sesuai dengan yang telah Noelle pikirkan.
"Itu tergantung pada kemampuanmu. Untuk sekarang, aku ingin bertanya. Apa kau memiliki pengalaman dalam melayani pelanggan? "
Untuk sejenak, pikiran Noelle kosong. Namun, dia segera membayangkan dirinya yang sedang melakukan crossdress, dan melayani pelanggan di sebuah bar.
Sekarang dia memikirkannya, itu benar-benar hal yang gila.
"Tidak, tidak sama sekali."
Pada akhirnya Noelle membuat kebohongan kecil untuk menutupi semua kebodohannya di masa lalu itu.
"Tapi … Kalau aku bisa mendapat sedikit pelatihan dasar, mungkin aku bisa melakukannya."
Noelle tidak terlalu percaya diri dengan kemampuannya dalam mengurus makanan atau minuman untuk pelanggan, jadi mengambil peran sebagai pelayan adalah pilihan terbaiknya.
Sejak awal, Noelle memiliki indera perasa yang jauh lebih sensitif dari orang normal, ini membuatnya tidak dapat menyesuaikan rasa suatu makanan atau minuman agar cocok dengan orang lain. Sangat berbeda dari Olivia yang bisa melakukan itu dengan mudah.
"Aku mengerti … Jadi kau tipe pembelajar yang cepat menyerap, ya … Kalau begitu, sebaiknya kau bertanya pada Tian. Dia bisa mengajarimu banyak hal."
"Tian? "
Noelle memiringkan kepalanya dengan bingung. Dia belum pernah mendengar nama itu sebelumnya.
"Kau seharusnya sudah bertemu dengannya. Dia seorang pria tua yang ada di belakang konter."
"Ahh … "
Seketika Noelke teringat dengan sosok pria tua yang baru saja ia temui sebelumnya.
Memang, dari segi penampilan saja, pria tua itu telah memancarkan suasana elegan yang khas. Dia juga terlihat ramah dan sangat mudah bergaul dengan berbagai macam pelanggan.
(Melayani orang lain memang bukan kebiasaanku, tapi … Apa boleh buat, bukan?)
Noelle pada akhirnya hanya bisa menghela napas. Dia kemudian berdiri dan berterima kasih pada Dolf.
"Kelihatannya kau masih punya banyak pekerjaan, jadi aku tidak akan mengganggu. Aku akan bertanya lagi jika ada sesuatu, Untuk sekarang, aku permisi."
Setelah Dolf mengangguk, Noelle kemudian keluar dari ruangan. Dia melihat sekeliling, dan menemukan ruang ganti pegawai.
Dia masih baru, dan dia juga belum mendapatkan seragam resmi. Namun, setidaknya Noelle ingin melepas mantel, jas dan syal yang ia gunakan saat ini, mengingat pekerjaan yang akan dia lakukan bukanlah sesuatu yang formal.
Sekarang, pakaian yang menutupi tubuh atasnya hanyalah kemeja putih sederhana, dengan sebuah rompi tuxedo kelabu, dan dasi hitam.
"Seharusnya ini cukup … "
Noelle belum memiliki loker, jadi dia melipat pakaiannya dengan rapih dan meletakkan itu di sudut meja.
Setelah itu, Noelle keluar dan segera pergi menemui Tian.
Pria tua itu masih di sana, dengan kedua tangannya fokus menyeduh kopi hitam yang memiliki aroma menenangkan.
Dia melirik Noelle sejenak, lalu berbicara dengan suara pelan, "Aku sudah tahu apa yang kau inginkan. Duduklah."
Noelle hanya mengangguk, lalu duduk di kursi pelanggan yang berhadapan tepat dengan konter. Dia kini berada dalam posisi berhadapan dengan Tian.
"Tuan … "
Untuk sejenak, Noelle bingung harus memanggilnya dengan sebutan apa. Namun—
"Panggil saja aku Tian."
—Tian dengan mudah mengizinkan Noelle untuk memanggilnya dengan namanya.
"Itu … Bukankah sangat tidak sopan untuk memanggil nama orang yang lebih tua? "
Noelle memiliki banyak kenalan orang tua, tapi kebanyakan dari mereka hanya dia panggil dengan sebutan Pak tua. Dia belum terbiasa untuk memanggil orang tua dengan namanya.
"Tidak masalah. Justru, aku akan senang jika bisa akrab dengan banyak anak muda sepertimu."
" … Baiklah. Kalau begitu … Mohon kerja samanya, Tian."
Tian tidak membalas dengan kata-kata, melainkan hanya tersenyum ramah sambil mengaduk kopi hitam itu.
...****************...
"Aku sudah mendengarnya dari Dolf. Kau adalah anggota baru kami, benar? Kelihatannya kau sedikit bermasalah dengan pekerjaan kita di bar ini."
"Uhh … Tidak bisa dibilang bermasalah, tapi kenyataannya tidak jauh dari itu … "
Belum dua menit, tapi Noelle sudah merasa nyaman di sini. Tian benar-benar ahli dalam membuat orang di sekitarnya merasa tenang.
"Sebenarnya, kami tidak kekurangan pegawai. Jumlah pelanggan juga tidak terlalu banyak, dan semua pegawai di sini bisa mengatasinya. Tapi … Satu tambahan anggota akan menjadi hal yang bagus."
Setelah Tian selesai, dia meletakkan sebuah piring dengan sepotong roti isi daging tepat di hadapan Noelle.
"Antara membuat kopi, dan melayani dengan minuman beralkohol … Mana yang akan kau pilih? Jika kau memilih untuk menjadi bartender, maka kau akan lebih sering mendapatkan shift malam, mengingat itu adalah waktu di mana kita paling banyak kedatangan pelanggan."
"Aku lebih suka bekerja di shift pagi sampai sore."
Tanpa menghabiskan bnyak waktu untuk berpikir, Noelle langsung mengambil keputusan.
Sebenarnya, dia awalnya berniat mengambil shift malam karena bisa mengorek lebih banyak informasi dari pelanggan, namun itu memiliki resiko lain; Noelle tidak terlalu ahli dalam berurusan dengan para pemabuk. Para pemabuk sering kali membuat keributan, dan Noelle cenderung menghajar seseorang yang membuatnya kesal daripada harus memperingatinya dengan baik.
Jadi, mengambil shift siang dengan minim pemabuk adalah pilihan terbaik untuknya.
"Aku mengerti … Tapi, tetap saja aku harus mengajarimu semuanya. Terkadang, akan ada pegawai yang tidak bisa hadir karena harus menjalani misi di luar, atau karena alasan lain. Itu membuat seseorang harus menggantikan mereka."
"Aku mengerti … "
Ini adalah hal yang biasa, jadi Noelle tidak keberatan.
"Untuk sekarang, aku akan mengajarimu hal-hal dasar seperti menyeduh kopi, melayani pelanggan, dan membuat makanan sederhana seperti roti isi ini. Apa kau siap? "
"Ya."
Dengan begitu, Noelle akhirnya memulai kembali kehidupan sosialnya.
Pelatihan yang diberikan Tian tidak terlalu rumit. Penjelasan dan contoh yang dia berikan sangat mudah untuk Noelle pahami, dan berkat kemampuan pembelajarannya yang luar biasa, Noelle berhasil menguasai semua yang diajarkan Tian tepat sebelum jam tiga sore.
...****************...
"Ngomong-ngomong … Di mana Elis? "
Setelah pelatihan yang sedikit melelahkan, Noelle akhirnya berkesempatan untuk bersantai di ruang pegawai bersama Tian.
Seorang pegawai lain yang lebih muda dari Tian telah menggantikannya untuk melayani para pelanggan yang mulai berdatangan.
Shift Tian sudah habis, dan kini dia sedang beristirahat sebelum akhirnya pulang ke rumahnya yang terletak tak jauh dari bar.
"Felis memiliki tugas mingguan sebagai seorang relawan dari gereja. Dia sekarang berada di panti asuhan yang terletak tak jauh dari daerah kumuh."
" … Apakah itu baik-baik saja? "
Meskipun baru mengenalnya selama beberapa jam, Noelle mulai khawatir pada Felice yang terlihat seperti sasaran empuk para penjahat.
Dengan penampilannya yang cukup cantik, Noelle yakin akan ada satu atau dua penjahat yang mengincarnya.
"Aku mengerti kekhawatiranmu, tapi Felice bisa melindungi dirinya sendiri."
(Baguslah kalau begitu.)
"Bicara tentang pegawai, ada berapa banyak orang yang bekerja di bar ini? "
"Termasuk kau dan aku, ada total delapan orang."
"Apa Kapten Dolf termasuk? "
Tian mengangguk. "Ya, dia adalah manager di sini."
"Apa posisi mereka di organisasi berpengaruh pada posisi mereka di tempat ini? " Noelle terus bertanya karena dia penasaran.
"Tentu saja. Dia menjadi manager di sini karena gereja butuh 'tangan' untuk menjadi penghubung antara anggota dengan gereja. Hal ini juga berlaku di semua cabang."
"Ngomong-ngomong, Dolf sudah memasukkan namamu dalam shift siang. Dia memberikannya padaku saat kau sedang melayani tamu sebelumnya."
Tian memberikan selembar kertas pada Noelle. Kertas itu memiliki beberapa kata yang tertulis di atasnya, dengan tanda tangan Dolf di bagian sudut.
"Jika kau memiliki keberatan, katakan saja. Aku bisa mempertimbangkan untuk membantumu mengubah jadwalnya," ucap Tian.
" ……… Kurasa itu tidak perlu." Noelle menjawab setelah jeda yang cukup panjang.
Dari apa yang dia baca, dia akan bekerja dari jam sembilan pagi, sampai dengan selesai di jam lima sore. Itu adalah jadwal normal, tanpa memperhitungkan lembur atau pertukaran shift dengan pegawai lain.
Dia bisa mengambil istirahat selama sepuluh menit di jam satu siang, dan lima belas menit di jam 3 sore. Total sebanyak dua kali istirahat.
Jadwal kerjanya adalah dari hari rabu hingga minggu, yang secara total akan menjadi lima hari.
Pembayaran gajinya menggunakan sistem pembagian upah setiap satu minggu dengan total 8 Roup, sesuai dengan yang telah dijelaskan Dolf saat dia membawa Noelle ke apartemen.
(Semua cukup bagus.)
Mempertimbangkan pekerjaannya hanyalah menjadi pelayan di sebuah bar, itu adalah gaji yang cukup besar. Belum lagi, dia bisa mendapatkan uang tambahan dari lembur dan tip pelanggan.
"Baiklah, kapan aku bisa mulai bekerja? "
Noelle tidak begitu menyadarinya, tapi sebenarnya dia cukup antusias dengan ini. Sebelumnya, dia tidak pernah benar-benar memiliki pekerjaan.
Menjadi petualang bukanlah pekerjaan yang dia lakukan dengan serius, sedangkan di kehidupan sebelumnya dia memiliki kekayaan yang bisa menghidupinya secara mewah selama bertahun-tahun tanpa harus bekerja. Tentu saja, Noelle terkadang akan mengamen di sekitar stasiun bersama Shion untuk mendapatkan uang tambahan.
Bisa dibilang, ini adalah pekerjaan pertamanya.
(Menjadi admin di sebuah situs gelap tidak bisa disebut pekerjaan, 'kan? )
"Ini adalah hari selasa, jadi kau bisa mulai besok. Tapi, kalau kau mau mencoba bekerja di sini mulai hari ini, kau bisa melakukannya Tentu saja, bayarannya akan disesuaikan."
Jawaban dari Tian membuat Noelle diam sejenak. Jika bisa, dia ingin segera bekerja untuk mendapatkan pengalaman yang sesuai. Dengan begitu, dia akan menjadi lebih baik esoknya. Tapi, Noelle masih memiliki urusan lain di luar.
" … Kurasa aku akan tetap di sini sampai jam empat."
Setelah mempertimbangkannya dengan cukup matang, Noelle akhirnya membuat keputusan.
Tian yang mendengar jawabannya hanya tersenyum padanya dan segera berdiri.
Dia menghampiri salah satu loker, mengeluarkan sebuah mantel hitam, topi tinggi, dan sebuah tongkat panjang dengan perak di setiap ujungnya.
"Kalau begitu, aku akan pamit lebih dulu. Aku memiliki urusan lain di luar. Akrablah dengan semua orang."
Tian membawa topinya ke dada, dan sedikit membungkuk pada Noelle. Dia kemudian berjalan keluar dan meninggalkan Noelle sendirian di ruangan.
Sedangkan Noelle, dia masih menatap pintu itu dengan segelas jus di tangannya.
...****************...
"Bagaimana dengan pekerjaanmu? "
Jam lima. Noelle berada di ruangan khusus pegawai bersama Felice yang telah kembali dari tugasnya di panti asuhan.
Felice tersenyum pada Noelle saat melihatnya sedang melayani tamu dengan berbagai macam pesanan.
Awalnya Noelle terlihat kesulitan, tapi tidak butuh waktu lama baginya untuk terbiasa. Kecepatan adaptasi Noelle membuat Felice cukup terkejut, tapi itu tidak membuatnya memikirkan apa pun selain kenyataan bahwa Noelle berbakat.
Noelle diam sejenak. Kedua tangannya yang sedang bersiap untuk memakai kembali mantel paritnya itu pun berhenti.
"Kurasa … Itu cukup melelahkan, tapi juga cukup menyenangkan. Aku belum pernah berinteraksi dengan banyak orang seperti ini sebelumnya."
Lingkaran sosial Noelle cukup kecil, tapi dia memiliki banyak kenalan. Namun, dari semua kenalannya, dia hanya pernah berinteraksi dengan mereka secara empat mata, dan tidak pernah secara berkelompok.
Jadi, ini adalah hal yang baru baginya.
Melayani pelanggan dengan berbagai jenis kepribadian juga menjadi hal yang cukup baru baginya, mengingat dia dulu hanya berurusan dengan orang depresi yang penuh dengan dendam seperti Tanaka.
"Begitukah? Aku senang kamu terbiasa dengan pekerjaan barumu. Hehe, dan maaf karena aku terlihat terlalu memaksakan diri untuk akrab denganmu. Di bar ini, aku adalah yang paling muda. Jadi, mendapatkan pegawai baru yang usianya hanya berbeda satu tahun dariku langsung membuatku senang."
(Ahh … )
Noelle tidak terlalu mengerti dengan apa yang dirasakan Felice, karena dia sendiri tidak terlalu peduli dengan perbedaan usia. Namun, dari cara Felice mengatakannya, memiliki seorang kenalan, atau teman dengan usia yang sama pastilah sangat menyenangkan.
Kalau Noelle tidak salah mengiranya, apa yang Felice rasakan ini sama dengan apa yang dia rasakan saat berkenalan dengan Cryll?
Tahun ini Felice baru menginjak 19 tahun, sedangkan Noelle dalam identitasnya sebagai Noah baru 20 tahun. Dia akan segera naik menjadi 21 tahun ini.
Selain mereka berdua, orang yang paling muda berikutnya adalah seorang pria berusia 23 tahun, bernama Louen. Noelle bisa mengenalnya karena Louen ada di daftar pegawai dengan shift yang sama dengannya setiap hari rabu sampai sabtu.
Louen adalah pria yang sebelumnya menggantikan Tian, dan Noelle mengenalnya dengan cukup baik setelah berbicara dengannya di sela pekerjaan.
Secara singkat, dia adalah seorang pria muda dengan shift siang dari hari selasa hingga sabtu.
Setelah selesai mengenakan mantel paritnya, Noelle kemudian melilitkan syal merah di lehernya, lalu berjalan keluar bersama Felice.
Felice juga telah selesai dengan pekerjaannya, dan dia tinggal di apartemen yang sama dengan Noelle.
Itu adalah apartemen yang dibuat untuk pegawai, jadi tidak mengejutkan jika mereka tinggal di bangunan yang sama.
Setelah keluar dari ruangan, Noelle mengucapkan salam pada Louen untuk sejenak, lalu berjalan keluar dari bar yang perlahan mulai ramai akan pelanggan.
Louen masih memiliki pekerjaan sampai jam tujuh malam, jadi dia akan berada di sini lebih lama lagi. Untuk tempat tinggalnya, Noelle belum bertanya karena itu tidak akan sopan untuk menanyakan alamat pada seseorang yang baru ia kenal.
"Ngomong-ngomong … Elis, apa kamu tahu tempat di mana aku bisa menemukan, atau membeli seekor hewan peliharaan? "
Tugas berikutnya yang harus Noelle selesaikan, adalah menemukan seekor hewan.
"Peliharaan? Ada beberapa di kota ini, tapi … Hewan jenis apa yang kamu mau? "
Felice sedikit terkejut dengan pertanyaan Noelle yang tiba-tiba, tapi dia hanya menganggap itu imut karena tidak pernah menduga bahwa pria bernama Noah ini akan menginginkan seekor peliharaan.
"Itu … Jika bisa, aku menginginkan seekor tikus kecil. Yang berwarna putih. Apa itu ada? "
"Tikus putih? Kamu memiliki kebiasaan yang unik, ya … Tenang saja, aku tahu tempat yang tepat untuk menemukan hewan kecil yang lucu itu."
Memelihara seekor tikus bukanlah hal yang aneh bagi orang-orang di negara ini, tapi tetap saja tidak banyak orang yang mau melakukannya. Bagi mereka, tikus adalah makhluk yang kotor dan membawa penyakit, jadi kebanyakan dari mereka akan menghindarinya.
Tentu saja, hal itu sepenuhnya benar, dan Noelle tidak dapat menyangkalnya. Jika dia tidak memiliki keperluan dengan seekor tikus, maka dia akan lebih memilih untuk memelihara seekor kucing atau anjing di kamar apartemennya.
...****************...
Setelah berjalan cukup lama, Noelle dan Felice akhirnya sampai di sebuah bangunan yang bagian luarnya penuh dengan sangkar besi.
Mereka berdua tanpa ragu masuk ke dalam, dan melihat-lihat hewan yang dimasukkan ke dalam kandang.
Ada tikus putih yang diinginkan Noelle, dan harganya juga cukup murah. Mereka memiliki tubuh yang kecil, dengan rambut yang putih murni tanpa noda. Mata mereka yang merah membuatnya terlihat seperti tikus albino, tapi itu mungkin merupakan ciri khususnya.
"Bisakah aku memiliki dua tikus ini? " Noelle segera bertanya pada wanita tua yang menjaga kasir.
Wanita itu tersenyum sejenak, lalu mengambil sebuah buku catatan kecil dari sakunya.
"Kenapa kau menginginkan mereka? "
"Itu … Untuk dipelihara? "
Noelle tidak mengerti mengapa wanita ini menanyakannya. Tapi, akan lebih baik untuk berjaga-jaga. Tidak mungkin juga Noelle akan menjawab kalau tikus itu akan ia gunakan sebagai wadah untuk seorang dewa luar.
"Syukurlah. Kalau begitu, kau bisa membawanya. Maaf karena khawatir, belakangan ini ada banyak orang yang mencari tikus albino untuk dijadikan pakan ular, jadi aku takut kau akan melakukan hal yang sama."
" … Aku akan memperlakukan mereka dengan baik."
"Baiklah, kau mau dua dari mereka? Bawa saja ke sini, aku akan memberikan bonus berupa kandang dan pakan yang cukup untuk satu minggu."
Noelle kemudian membawa keluar seekor tikus, sedangkan Felice membantunya dengan yang satu lagi. Mereka kemudian mendekati kasir, dan memasukkan dua tikus itu ke dalam sangkar yang telah disediakan oleh si wanita tua.
"Baiklah, totalnya adalah 2 Roup."
"Ini." Noelle langsung memberikan dua keping koin perak pada wanita itu.
"Uang Kerajaan, ya? Baiklah, itu sama saja. Terima kasih karena mau melakukan transaksi ini." Wanita itu tersenyum ramah pada Noelle.
Noelle mengangguk, dan segera pergi dari tempat itu bersama Felice dan dua ekor tikus barunya.
"Apa kamu bisa merawat mereka? " tanya Felice.
"Kurasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tikus seperti mereka tidak makan banyak, dan hanya memerlukan sayuran atau biji-bijian. Aku bisa mendapatkan makanannya dari semua tempat."
"Baiklah, itu bagus."
Felice tersenyum dan lanjut berjalan di samping Noelle. Tak lama kemudian, mereka akhirnya tiba di apartemen.
"Aku tinggal di lantai dua, dan kamar nomor 6. Ketuk saja pintuku kalau kamu butuh sesuatu."
"Nn. Terima kasih karena sudah menemaniku. Kalau kamu butuh bantuan, kamu bisa menemuiku di kamar nomor 18," jawab Noelle.
"Baiklah, senang bisa bekerja denganmu. Aku harap kita bisa akrab, Noah."
Tanpa menunggu jawaban dari Noelle, Felice langsung berbalik dan pergi ke kamarnya, meninggalkan Noelle sendirian di depan tangga.
Senyum masih terpampang di wajah Noelle, tapi itu terlihat kaku. Alisnya terangkat sedikit, dan tangan yang sebelumnya melambai juga turun.
" … Ya."
Setelah dia memikirkannya, ini adalah pertama kalinya seseorang benar-benar memanggilnya dengan nama Noah.
Entah mengapa ia merasa kalau ini menyakitkan. Melihat seseorang merasa bahagia karena seseorang dengan identitas palsu … membuat Noelle merasa tidak nyaman. Terutama, karena yang menggunakan identitas palsu adalah dirinya sendiri.
Jika Felice semakin akrab dengannya, dan tahu kalau identitasnya sebagai Noah Ashrain ini palsu … apa yang akan dia rasakan? Kecewa? Kemungkinan besar begitu.
Bagaimanapun, semua memang ada konsekuensinya. Ini adalah apa yang harus Noelle tanggung setelah dia memutuskan untuk hidup dengan identitas baru. Dia tidak bisa mengeluh sekarang, dan dia juga tidak boleh berhenti.
Melanjutkan hidup adalah satu-satunya pilihan, dan jika dia tidak mau ada orang yang kecewa karenanya, maka cukup buat agar orang itu tidak pernah mengetahui kebenarannya.
Pada akhirnya, seorang pembohong akan selalu diterima.
Atau begitulah yang Noelle pikirkan.
...****************...