[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 320: Langkah Besar



...****************...


Pagi harinya, Noelle dan Tania langsung diantar sampai ke gerbang depan oleh Rudra.


Rudra melihat mereka berdua bolak-balik, lalu mengangguk tegas. "Kalian siap untuk pergi sekarang."


Hanya sampai sinilah Rudra bisa mengantar. Dia sama sekali tidak bisa melangkahkan kalinya ke luar gerbang, dan sejujurnya, dia sedikit menyesali itu.


Saat ini, Noelle dan Tania hendak kembali ke desa suku Artof. Meski menyebalkan karena harus menempuh perjalanan panjang untuk tiba ke sana, mereka tetap melakukannya karena suatu kepentingan.


Lebih dari apa pun, mereka membutuhkan informasi.


Mungkin saja Dolum atau siapa pun di suku Artof memiliki informasi tentang di mana darah ratu berada.


"Kalau begitu, semoga perjalanan kalian lancar. Aku akan menunggu di sini sampai kalian kembali."


Rudra mengulurkan tangannya, mencoba untuk bersalaman dengan Noelle. Namun, Noelle menatapnya dengan pandangan yang entah mengapa terasa agak aneh.


"Tidak," ucap Noelle sambil menggelengkan kepalanya.


Noelle kemudian mengangkat tangannya, menunjuk pada Rudra dengan satu jari. "Kau akan ikut."


"Grei … apa maksudmu? "


Tania mengerutkan keningnya, mencoba memahami apa yang Noelle katakan. Di sisi lain, Rudra juga sama. Jika dia memiliki wajah manusia, maka dia pasti akan membuat ekspresi yang sama dengan Tania saat ini.


Seharusnya Noelle sudah tahu, kalau Rudra tidak akan bisa meninggalkan tempat ini.


"Seperti yang sudah kukatakan, aku tidak bisa pergi ke luar."


Rudra bahkan mencoba memberi tahu Noelle tentang itu sekali lagi. Namun, hasilnya tetap sama. Justru kali ini Noelle tertawa.


"Kalau begitu, Rudra. Kalau kau mendapatkan kesempatan untuk meninggalkan tempat ini, apa kau akan menerimanya? Apa yang akan kau lakukan? "


Rudra sama sekali tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan itu. Karena baginya, apa yang Noelle tanyakan terasa seperti ilusi yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata.


Terjebak di sini selamanya, tanpa ada cara untuk keluar. Begitulah Rudra memikirkan situasi yang dirinya hadapi.


Rudra terdiam, merenung dan berpikir sejenak. Sampai akhirnya—


"Aku ingin mengunjungi mereka, para keturunan dari orang-orang yang berhasil kuselamatkan. Aku juga ingin menemui Yang Mulia, meski itu tidak mungkin."


Suaranya terdengar parau, meski seharusnya dia sudah tidak memiliki pita suara di tubuh itu. Tapi suaranya masih bergema dan menghasilkan getaran emosi yang menurut Noelle cukup menyedihkan.


Meski berat rasanya harus meninggalkan tempat ini, tapi Rudra akan melakukan itu jika dia memang bisa pergi ke luar. Dia ingin ikut menyelamatkan ratu yang begitu ia cintai.


Jawaban itu sudah cukup bagi Noelle.


Noelle tersenyum, dan berjalan beberapa langkah ke belakang. Setelah itu, dia mengangkat kedua lengannya dengan telapak tangan menghadap ke depan, seolah sedang menempel pada sesuatu.


"Tempat ini, dikelilingi oleh penghalang semu yang sangat tipis. Aku hampir tidak menyadarinya, dan Zephiroth bahkan tidak mampu mendeteksi ini."


Jika sabit Zephiroth melewati sebuah penghalang yang terbuat dari sihir, maka sabit itu akan langsung menetralisirnya. Karena itulah sabit Zephiroth adalah lawan paling mengerikan bagi mereka yang mengandalkan kekuatan pertahanan dari sihir penghalang.


Tapi, bukan berarti tidak ada cara untuk menahan sabit dengan kekuatan yang luar biasa itu.


Sebenarnya, yang perlu dilakukan hanyalah menciptakan sebuah penghalang yang tidak dapat dirasakan oleh Zephiroth. Jika Zephiroth tidak menyadari keberadaan energi sihir yang menyusun penghalang, secara otomatis Zephiroth akan menganggapnya 'tidak ada', dan tidak akan pernah menetralisir penghalang itu.


Tania melihat pada sabit yang kini bergelantungan di lengannya sebagai aksesoris.


Ada getaran samar yang sepertinya berusaha disampaikan oleh Zephiroth.


"Kalau begitu … kegelisahan Zephiroth …."


"Disebabkan oleh adanya penghalang yang tidak terdeteksi ini," sambung Noelle.


Detik kemudian, cahaya violet yang terlihat pucat mulai menyebar dari telapak tangan Noelle, dan itu terlihat seperti sebuah kubah yang mengelilingi seluruh area ibu kota.


"Ukurannya benar-benar gila."


Noelle mengerutkan keningnya saat dia merasakan mana pada tubuhnya mulai dikuras habis.


Bentuknya seperti sebuah semanggi daun empat yang melengkung ke bawah, sehingga memiliii bentuk yang lebih jelas sebagai kubah.


Sejatinya, penghalang itu sama sekali tidak memiliki warna, tidak memiliki emisi, dan tidak memerlukan pasokan mana dari orang lain. Warna violet pucat itu datang dari mana milik Noelle yang ikut campur dalam upaya menunjukkan bentuk sejati penghalang pada Tania dan Rudra.


Barusan, Noelle menyuntikkan energi sihirnya sendiri untuk melihat seperti apa wujud penghalang itu. Tapi ukurannya yang masif membuatnya berpikir dua kali.


(Aku tidak bisa mempertahankan ini terlalu lama.)


"Ah, Zephiroth …."


Getaran pada Zephiroth menjadi semakin kuat, dan Tania langsung sadar akan keadaannya.


Tania mundur beberapa langkah, agak menjauh dari penghalang itu. Dia khawatir, jika dia terlalu dekat, kekuatan Zephiroth akan melenyapkan penghalang.


Bagaimanapun, Noelle memahami kekhawatiran itu.


"Tidak perlu khawatir. Meski Zephiroth menyentuhnya, penghalang ini tidak akan hilang. Yang akan terkena efeknya hanyalah sihirku yang memberi warna padanya. Fungsi penghalang ini sama sekali tidak terpengaruh."


Tania memutuskan untuk mempercayai Noelle. Dia pun maju, dan menyentuh permukaan penghalang dengan ujung Zephiroth.


Hasilnya, warna pada penghalang itu langsung memudar sampai menghilang sepenuhnya.


Rudra menyaksikan semua adegan itu dengan penuh keterkejutan. Seumur hidupnya, selama 600 tahun lebih tersegel di tempat ini, ini pertama kalinya dia melihat sebuah penghalang yang ternyata menyelimuti ibu kota.


"Apa sebenarnya itu? "


Saat warna sedikit demi sedikit menghilang dari penghalang, Rudra akhirnya memilih untuk bertanya.


Tentu saja, jawaban Noelle sangatlah sederhana.


"Penghalang inilah yang membuatmu bertahan hidup sampai sekarang. Kau tidak bisa keluar dari ibu kota karena jika kau keluar dari penghalang, kau akan mati."


Satu pertanyaan lagi akhirnya terpecahkan. Noelle kini tahu alasan mengapa jiwa Rudra tidak menghilang meski sudah ratusan tahun berlalu. Semua karena penghalang ini.


"Aku baru mencoba menganalisisnya semalaman, dan aku berhasil."


Sebuah kubus violet transparan akhirnya muncul di telapak tangan Noelle, terlihat sibuk mengambang saat perhatian Tania dan Rudra tertarik padanya.


"Biarkan aku bertanya lagi; Rudra, apa kau yakin ingin meninggalkan tempat ini untuk menyelamatkan ratumu? "


Rudra diam sejenak. Pada saat seperti ini, tidak ada yang mau mengganggunya. Mereka berpikir akan lebih baik untuk membiarkan Rudra membuat semua keputusan sendiri.


Tentu saja, mendapat bantuan Rudra akan jadi hal yang sangat menguntungkan. Tapi meski Rudra menolak ikut pun tidak masalah bagi Noelle. Yang terpenting dia memiliki semua petunjuk untuk membuka segel Ratu Bengis.


Setelah diam untuk berpikir sejenak, Rudra akhirnya mengangkat kepalanya. Dia seperti menatap Noelle, lalu berlutut di tempat.


Hal itu tentu membuat Noelle terkejut. Dia tidak tahu harus mengatakan apa, sedangkan Tania meminta Rudra untuk berdiri. Tapi, itu sia-sia.


Rudra memukulkan kepalan tangannya ke tanah, dan memohon dengan suara yang berat.


"Kumohon, bawa aku pergi. Aku akan melakukan apa pun, asalkan aku bisa menyelamatkan Yang Mulia."


Senyum Noelle jadi semakin dalam. "Kau tidak perlu memohon untuk itu."


Noelle mendekatkan kubus bercahaya itu ke helm Rudra, dan apa yang terjadi berikutnya tidak diketahui, tapi kubus di tangan Noelle telah menghilang, dan sepertinya ada lapisan warna violet pucat yang menyelimuti Rudra.


Itu mungkin penghalang yang Noelle tiru sebelumnya.


"Sepertinya itu meresap dengan baik. Berdirilah, Rudra."


Noelle meminta Rudra untuk berdiri, yang langsung dituruti oleh Rudra.


Dengan semua perasaan aneh yang menyelimutinya, Rudra mencoba untuk melihat tangannya sendiri, tapi tidak ada yang berbeda di sana, masih berupa zirah logam yang keras dan anorganik.


"Sekarang, berhentilah menjadi introvert dan cobalah untuk melangkah ke luar gerbang."


Seolah masih tidak percaya, Rudra dengan ragu melangkahkan kakinya untuk melewati garis yang selama ini tidak bisa ia lewati.


Langkah pertama, sukses. Rudra berhasil menginjakkan kakinya di luar gerbang untuk pertama kalinya.


Dia benar-benar bisa keluar. Rudra tidak percaya ini. Dia pun mengambil langkah lain, hingga akhirnya dia berdiri tepat di depan gerbang yang selalu ia jaga selama 600 tahun ini.


Rudra diam tak berkutik, tidak pernah menyangka akan datang sebuah kesempatan di mana dia bisa keluar.


"Bagus, ini berhasil," ucap Noelle sambil menyeringai tajam.


Menatap Rudra sejenak, Noelle kembali bicara, "Desa suku Artof cukup jauh, ayo kita pergi sekarang."


Noelle berbalik dan berjalan meninggalkan ibu kota. Di belakangnya, Tania dengan langkah ringan mengikuti, sementara Rudra sama sekali tidak mengambil langkah dari tempatnya berada.


Saat ini Rudra telah berbalik, menatap bagian depan gerbang besar yang sudah sangat lama tidak dia lihat.


Di kejauhan, Noelle dan Tania dengan sabar menunggu, tahu kalau ini akan menjadi momen yang berharga bagi Rudra. Jadi setidaknya Rudra pasti ingin mengucapkan salam perpisahan pada semua itu.


Akhirnya, Rudra berbalik dan dengan tenang berjalan ke arahnya. Ini membuat Noelle tidak bisa menahan seringai gembira.


Sejujurnya dia tidak tahu apakah eksperimen ini akan berhasil atau tidak, tapi Noelle cukup percaya diri saat membuktikan teorinya. Hasilnya, sempurna. Ini berjalan dengan sangat lancar.


Usaha yang ia lakukan semalaman itu tidak sia-sia.


Tania yang kini berdiri di sampingnya pun tersenyum lembut. "Syukurlah kamu berhasil."


"Ya, berkatmu."


Semua percobaan itu Noelle lakukan semalaman penuh dengan didampingi oleh Tania. Namun, yang Tania lakukan tidak lebih dari melihatnya sekilas, lalu pergi tidur karena tidak mengerti pada apa yang sedang Noelle kerjakan.


"Aku tidak melakukan apa pun."


"Yahh, mungkin kau benar."


Pada akhirnya, yang Noelle lakukan hanyalah menunjukkan senyum cerah pada Tania. Tapi, dia benar-benar senang karena sudah melakukan percobaan itu. Dan orang yang mendorongnya untuk melakukan itu, tidak lain adalah Tania sendiri.


...****************...


Noelle sudah menghapal peta dan jalur lintasan yang diperlukan untuk sampai ke desa suku Artof. Karena itulah, dia tidak ragu untuk membawa Tania dan Rudra dengan metode perjalanan udara.


Mereka tiba di desa suku Artof hanya dalam hitungan jam. Jika Noelle tidak mengingat rutenya, tidak mungkin dia akan dengan percaya diri membawa mereka melalui udara seperti ini.


Noelle akhirnya membawa keduanya turun, dan tiba di sebuah area hutan yang hanya diisi oleh salju dan suhu dingin.


"Di mana kita? "


Rudra melihat ke sekeliling, dan tidak menemukan apa pun selain pepohonan bersalju.


Memang, itulah yang Noelle dan Tania rasakan pertama kali ketika mereka dibawa mengunjungi desa suku Artof; bingung, tidak tahu tempat apa itu sebenarnya.


Tapi, kejutan yang sesungguhnya masih menanti Rudra.


"Jangan terlalu jauh dari kami," ucap Noelle saat dia berjalan dengan tenang ke salah satu arah.


Rudra pun mengikuti Noelle, dan sesaat setelah dia melangkah melalui jalur tertentu, pemandangan tiba-tiba berubah.


Sebuah tembok pelindung, yang terbuat dari gelondongan kayu seketika memenuhi pandangan Rudra.


Jelas kalau ini pertama kalinya Rudra menemukan peradaban lain, jadi dia terkejut. Selain itu, pergantian pemandangan tadi juga sukses membuatnya terperangah.


Tanpa mempedulikan reaksinya, Noelle telah lebih dulu mengetuk pagar kayu itu, dan sesosok 'manusia' langsung keluar sesaat setelah pagar terbuka.


"Ohh! Senang melihat kalian berdua masih sehat! Apa ada sesuatu yang kalian butuhkan …? "


Goblin berkulit biru, bicara menggunakan bahasa manusia dengan sangat fasih. Itu mengejutkan Rudra. Tapi dia berhasil menahan diri dan tidak menarik tombaknya untuk membunuh makhluk aneh itu.


Dolum mendekati Noelle dan memintanya menunduk sejenak. Noelle melakukan apa yang Dolum minta, dan kemudian kepala suku Artof itu berbisik, "Siapa dia? "


...****************...