[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World

[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World
BAB 107: Nix Regina (2)



...****************...


"Apa … Yang terjadi …? "


Suara kebingungan Stella memecahkan keheningan di sana. Ia menatap Olivia di sampingnya dan membandingkannya dengan sosok gadis yang baru saja muncul di tengah pilar cahaya putih itu.


Tidak salah lagi, semua ciri fisiknya memiliki kecocokan yang sangat tinggi. Yang membedakannya hanyalah warna kulitnya yang lebih pucat, warna rambut yang lebih putih, dan mata yang biru terang.


Rambut putih yang panjangnya dapat menyentuh tanah itu bergoyang setiap kali hembusan angin menimpanya


Dia menatap langit dengan bingung dan memeriksa tubuhnya sendiri, kemudian bergumam, "Kenapa … Aku bisa di sini …? "


Ia kemudian menatap sekelilingnya, dan seketika melebarkan mata ketika melihat sosok Olivia.


" … Lust … Kenapa … Bisa di sini …? "


Usai menggumamkan itu, ia kemudian melihat sosok gadis kecil yang berdiri di samping Olivia dengan takut-takut.


"Kenapa … Bisa ada Archon di sini? "


Ia terlihat terkejut ketika melihat gadis itu, lalu ia mengangkat tangan mengarahkan telapak tangannya ke gadis itu.


Seketika, sepasang sayap yang terbentuk dari susunan logam berbentuk senapan itu langsung mengarahkan moncongnya ke arah Olivia dan gadis kecil itu.


Moncong senapan itu bersinar dengan cahaya putih yang mengerikan, dan tepat saat selongsong senapan itu akan menembakkan sesuatu, puluhan pedang yang terbentuk dari cahaya transparan muncul dan menyerang tepat ke tubuh Olivia(?) yang berniat menembakkan serangan itu.


Sontak, Olivia(?) yang tadinya bersiap dengan serangan melalui sayap senapannya segera mengubah gerakan tangannya dan melambai ke samping dengan cepat, guna untuk mengendalikan tumpukan salju yang ada di sekitarnya.


Salju yang baru saja dimanipulaai itu dengan mudah bergeser dan menghalangi jalan puluhan pedang cahaya, dan membiarkan mereka menancap di dinding padat yang terbentuk dari tumpukan salju.


"Apa yang lakukan, Archon? " tanyanya pada gadis kecil yang berdiri tepat di samping Olivia.


Ditatap dengan mata dingin dan tak bernyawa mungkin bukanlah sesuatu yang bisa ia tahan, gadis kecil itu gemetar dengan mata yang melebar dan hampir menangis.


Meskipun begitu, dia memberanikan dirinya dan berbicara dengan suara yang sangat pelan.


"Ja-jangan sakiti … "


Bahkan walaupun suaranya sangatlah rendah sehingga hanya dapat didengar oleh Olivia yang berdiri di sampingnya, tapi entah bagaimana orang yang menyebabkan semua masalah ini tampaknya dapat mendengar itu dengan jelas.


Ia mengerutkan keningnya dan menatap gadis itu dengan pandangan merendahkan.


" … Kau … Hanya produk gagal."


Usai ia mengatakan itu, sayap senapan logamnya sekali lagi mengarahkan moncongnya ke arah Olivia dan gadis itu, lalu menembakkan sinar cahaya yang sangat dingin ke arah mereka. Sinar cahaya yang tampaknya memiliki suhu di bawah titik beku itu dengan cepat menembus dan menghancurkan objek fisik yang menghalanginya.


Menyadari itu, Olivia langsung menciptakan sebuah penghalang untuk melindungi dirinya dan beberapa orang yang ada di sekitarnya.


Meskipun sinar itu tampak sangat kuat, anehnya penghalang yang diciptakan Olivia dapat dengan mudah menahan dan melenyapkan sinar itu.


Gadis itu melebarkan matanya sedikit karena terkejut, lalu tertawa kecil dengan sedikit nada mengejek.


"Kenapa kau repot-repot melindungi produk gagal itu, Lust? "


Olivia mengerutkan keningnya dan menyipitkan matanya pada gadis itu, lalu menjawab, "Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."


"Kau tidak mengerti? Bukankah sudah kubilang sebelumnya? Anak itu hanyalah produk gagal yang diciptakan Iza."


(Iza?! )


Iza, begitu Olivia mendengar nama itu, ekspresi keterkejutan segera kembali memenuhi wajahnya yang seharusnya sudah tenang.


Iza adalah nama panggilan yang disematkan untuk seorang Canaria Izaya. Termasuk dirinya sendiri, hanya ada beberapa orang lagi yang memanggil Izaya dengan sebutan Iza. Wajar bagi Olivia untuk terkejut.


(Iza … Tidak, itu pasti nama orang lain.)


Seolah menyadari apa yang Olivia pikirkan, gadis itu kemudian membuat senyum kecil yang tampak mengejeknya.


"Yahh, tidak peduli apa yang kau pikirkan tentang itu, anak itu tetaplah produk gagal. Meskipun dia adalah Archon pertama yang diciptakan Iza."


"Archon … "


Kecepatan pemikiran Olivia yang biasanya cepat anehnya tak dapat mengikuti jalannya percakapan ini.


Di saat seperti ini, ia bahkan tidak tahu bagaimana membentuk rencana untuk lepas dari situasi yang mengekangnya.


Ia benci mengakuinya, tapi ia harus memikirkan situasi ini dengan menganggap kalau 'Iza' yang dibicarakan gadis itu adalah Izaya yang sama dengan yang ia kenal.


Masih ada pertanyaan lain mengenai bagaimana gadis itu bisa muncul, dan bagaimana ia bisa memiliki wajah yang sama dengannya, tapi, untuk saat ini ia akan mulai dari bagian terkecil lebih dulu.


Archon yang sebelumnya gadis itu sebutkan. Apa artinya itu? Untuk saat ini, ia harus mengetahui ini. Dengan begitu, ia bisa menjawab pertanyaan lain tentang asal usul gadis kecil di sampingnya.


Berdasarkan ucapan gadis itu sebelumnya, jelas kalau gadis kecil di sampingnya memiliki suatu hubungan yang sedikit tidak akur dengannya.


Dalam situasi ini, proses berpikir Olivia dipercepat sebanyak beberapa kali lipat hanya untuk menemukan satu jawaban kecil. Meskipun suhu di sekitarnya sudah sangat dingin sehingga dapat mencapai titik beku, butiran keringat dapat terlihat secara samar di pelipisnya dan mengalir di sepanjang wajah sampingnya sebelum akhirnya jatuh dari dagunya.


Pertama, apa Archon itu? Berdasarkan ingatannya, Archon memiliki arti sebagai 'Raja' atau 'Penguasa' dalam bahasa Yunani. Ia tidak menemukan arti lain dari kata itu karena ia tidak memiliki banyak pengetahuan tentang bahasa asing.


Menjadikan arti kata itu sebagai bahan dasar untuk membuat suatu kesimpulan, Olivia mulai memikirkan beberapa hal lainnya yang terkait dengan gadis kecil di sampingnya. Karena informasi yang ia miliki terlalu sedikit, ia tidak tahu seberapa besar persentase kebenarannya. Namun, setidaknya ia dapat membuat hasil sementara dengan hal ini.


"Bahkan dalam situasi seperti ini, kau masih saja banyak berpikir. Kau benar-benar tak berubah dan tak berbeda darinya."


Kalimat yang diucapkan oleh gadis itu memecahkan konsentrasi Olivia dan mengganggu kemampuannya dalam menganalisis.


Olivia ingin menanyakan banyak hal pada gadis itu, tapi ia tidak tahu harus mulai dari mana, dan ia juga ragu kalau gadis itu akan menjadi jawab pertanyaannya begitu saja. Tapi, tidak ada salahnya untuk mencoba.


"Sebenarnya, siapa kau? "


Itu adalah pertanyaan dasar yang ingin ditanyakan semua orang di sana. Siapa dia, bagaimana ia datang, dan kenapa dia memiliki penampilan yang hampir sepenuhnya mirip dengan Olivia. Semua orang di sana ingin tahu tentang itu.


Gadis itu membuat wajah bingung sejenak, kemudian tersenyum tipis, lalu menarik kembali semua sayap logamnya ke posisi semula.


"Setelah dipikir-pikir, aku belum memperkenalkan diriku, ya … Kalau begitu … Kalian semua bisa memanggilku Nix, nama lengkapku adalah Nix Regina."


Ia mencubit ujung rok panjangnya, lalu mengangkatnya sedikit sambil menunduk.


"Nix Regina adalah nama yang diberikan padaku. Aku adalah yang ke-delapan dari barisan [Archon], senjata pembunuh dewa yang diciptakan Iza, tipe malaikat yang diciptakan dengan meniru sosok Sirius Grandbell. Senang bertemu dengan kalian."


Nix memperkenalkan dirinya dan mengeluarkan senyum lembut dengan wajah Olivia yang biasanya datar tanpa ekspresi.


...****************...


Teriakan panik dari puluhan orang bersenjata terdengar sangat jelas dan memekakkan telinga, pilar es yang memenuhi sebagian besar area di kota tampak menembakkan ribuan duri dengan kekuatan dan kecepatan yang gila.


Setiap objek fisik yang disentuh oleh duri es itu akan langsung membeku, dan hancur. Dan di tengah semua itu, orang yang menjadi penyebab semua kejadian ini, Nix Regina, sedang melayang dan menatap tanah dengan wajah tanpa ekspresi.


"Kenapa kau belum melawan juga? "


Menanyakan itu, Nix mengarahkan telapak tangannya pada gadis kecil yang tubuhnya gemetar ketakutan, sementara Olivia di sampingnya berusaha menahan semua serangan dengan menciptakan penghalang.


"Tentu saja aku tahu kalau kalian tidak akan mati hanya karena satu atau beberapa serangan penghancur. Lagipula … Kalian itu abadi, 'kan? "


Detik berikutnya, sayap logam berbentuk senapan di punggung Nix langsung berubah posisi dan mengarahkan moncongnya ke arah Olivia dan gadis itu, lalu menembakkan gelombang energi yang sangat kuat tepat ke arah mereka.


Meskipun begitu, puluhan pedang dan perisai yang tercipta dari cahaya selalu muncul dan menghalangi setiap serangan yang dilepaskan Nix.


Nix mengerutkan keningnya dengan jengkel dan menatap gadis kecil itu dengan pandangan kesal.


"Meskipun kau sudah dibuang, kenapa kau masih menyimpan berkah itu? Bisakah kau menyerah saja? Aku tidak ingin menghabiskan banyak waktu hanya untuk menghadapi produk gagal sepertimu."


Gadis itu tidak menjawab. Ia hanya menatap Nix dari bawah dengan tubuh yang gemetar dan mata yang terlihat hampir menangis.


Olivia tidak begitu mengerti situasinya, tapi ia dapat menyimpulkan kalau semua pedang dan perisai yang muncul untuk melindungi mereka adalah bagian dari 'berkah' yang disebutkan Nix sebelumnya.


Moncong sayap senapan raksasa Nix kemudian kembali bersinar dan tampak akan mengeluarkan serangan yang lebih kuat dari sebelumnya.


"Kau sampah yang menjengkelkan. Aku benar-benar membencimu, [Archon] pertama, putri vampir Levina."


Begitu nama itu disebutkan, gadis kecil di samping Olivia itu segera tersentak dan melebarkan matanya.


"Tidak … Jangan … Papa … "


Suaranya yang gemetar entah bagaimana dapat mengucapkan tiga kata itu sebelum akhirnya lonjakan kekuatan sihir violet pekat mulai keluar melepaskan diri darinya.


Pilar-pilar yang terlihat seperti duri tajam raksasa berwarna merah darah mulai muncul dari dalam tanah, menghancurkan semua yang ada di atasnya.


Nix terlihat terkejut dengan itu, ia langsung mengembalikan sayapnya ke posisi semula dan melayang mundur sambil menciptakan sebuah penghalang dengan cahaya yang keluar dari lingkaran halo di pinggangnya.


Bersamaan dengan teriakan ketakutan gadis itu, Levina, puluhan duri tajam itu dengan mudah menembus dan menghancurkan susunan pilar es yang diciptakan oleh Nix.


Olivia berusaha menenangkannya entah bagaimana. Namun, Levina terus berteriak dengan histeris sambil meneteskan air matanya tanpa henti.


Beberapa duri raksasa lain tiba-tiba muncul dan langsung tumbuh mengarah ke Nix yang dalam keadaan terdorong oleh tembakan duri kecil yang tumbuh dari pilar merah itu.


Nix menembakkan gelombang energi menggunakan sayapnya dan berhasil menghancurkan duri itu, tapi duri lain terus berdatangan tanpa henti.


Tak hanya duri, tapi bahkan pedang cahaya yang muncul dari udara kosong terus mengejar Nix seolah mereka adalah rudal kendali yang memiliki pikirannya sendiri.


"Kenapa … Kau masih memiliki kemampuan itu?! Kau! Hanya produk gagal! "


Nix terus menembak dengan sayapnya dan menggunakan beberapa lingkaran halo yang melayang di sekitarnya sebagai senjata. Ia melempar dua lingkaran halo ke bagian bawah salah satu duri raksasa yang ada di dekatnya.


Lingkaran halo itu berhenti dan diam melayang tepat di hadapan duri raksasa, lalu dua lingkaran halo lainnya muncul tepat di kedua sisi Nix.


Bagian dalam semua lingkaran halo itu memiliki cahaya putih kebiruan yang terpancar dengan sangat terang dari sana. Dua buah senapan jenis musket dengan warna dominan putih dan biru muncul di masing-masing genggamannya.


Nix mengarahkan masing-masing moncong senapan itu ke setiap lingkaran halo yang melayang di sisinya, lalu menarik pelatuknya beberapa kali sebelum akhirnya melakukan beberapa manuver di udara untuk menghindari rentetan duri merah yang terus mengejarnya.


Peluru yang sebelumnya telah ia tembakkan dari senapannya masuk ke dalam lingkaran halo dan muncul di lingkaran halo lain yang sebelumnya telah ia tempatkan di sekitar duri merah raksasa terdekat.


Pelurunya dengan mudah menembus duri merah yang terlihat sangat tebal itu, dan menghancurkannya.


Nix sudah melakukan beberapa perhitungan sebelum ia menembak duri itu dengan senjatanya, jadi ia hanya menembak titik paling kritis dari bagian duri itu.


Dan benar saja, duri raksasa yang sebelumnya berdiri dengan kokoh perlahan kehilangan fondasi keseimbangannya dan mulai jatuh ke pusat kota.


Olivia berusaha menahan kejatuhan duri itu dengan menciptakan beberapa pilar es yang sama dengan yang diciptakan Nix, kemudian meminta Chloe untuk memberikan bantuan padanya.


Chloe tak mengatakan apa pun untuk menjawabnya, dan langsung pergi bersama Brackas ke titik yang diprediksi akan menjadi titik kejatuhan duri itu.


Puluhan tangan dan duri raksasa yang terbuat dari bayangan langsung muncul dari bayangan Chloe dan Brackas, lalu berusaha menopang bobot duri raksasa itu.


Chloe dan Brackas entah bagaimana berhasil menahan duri itu. Namun, duri raksasa itu kemudian patah dan jatuh ke kota dalam beberapa bagian besar.


Puing-puing berwarna merah darah berjatuhan dari langit dan menimpa semua infrastruktur yang ada di kota. Kanal yang sebelumnya telah beku karena aura dari Nix langsung hancur begitu puing-puing duri itu jatuh di atasnya.


Saat Chloe dan yang lain sedang berusaha untuk menahan kerusakan yang lebih lanjut karena duri itu, Nix, sang pelaku utama juga sedang dalam keadaan yang tak begitu menguntungkan.


Atau setidaknya itulah yang ada di pikiran semua orang di sana.


Nix menembak duri raksasa lain menggunakan senapan musket miliknya, sementara gelombang energi yang sangat kuat ditembakkan dari sayap logamnya yang berbentuk senapan guna untuk menghalau rentetan duri merah yang terus mengejarnya.


Ia melakukan manuver dengan kecepatan luar biasa di langit sementara semua anggota tubuhnya yang tersedia menembakkan serangan dengan berbagai metode.


Beberapa lingkaran halo yang melayang di sekitar pinggangnya beberapa kali bergerak untuk memotong menembus serangan lain yang mendatanginya. Nix juga mengeluarkan beberapa pedang es di udara dan menembakkannya ke kerumunan orang yang menyerangnya dengan sihir dari tanah.


Olivia tidak bisa menyerang Nix menggunakan sihir karena kesamaan unsur elemen mereka, dan『Magic Jamming』yang ia kerahkan sebelumnya juga tidak cukup kuat untuk menahan serangan gelombang energi yang dilepaskan sayap Nix, jadi ia hanya bisa memperkuat pengaruhnya pada mana yang tersebar di sekitarnya, sementara menggunakan skill dan sihirnya untuk menahan kerusakan yang lebih lanjut pada kota.


Beruntung, para penduduk yang tadinya ada di permukaan telah selesai mengungsi ke bawah tanah, jadi mereka tidak perlu menahan diri untuk mengeluarkan serangan yang dapat membunuh.


Beberapa tombak es muncul dari tanah dan terbang dengan mengarah langsung ke arah Nix yang sedang melakukan manuver rumit di udara.


Nix yang menyadari keberadaan tombak itu langsung menembak semua tombak itu dengan kedua senapannya.


Kedua tangannya bergerak untuk melakukan tembakan dengan bergantian, sementara sayapnya juga difokuskan untuk menghancurkan semua duri merah yang juga menargetkan dirinya.


Meskipun serangannya dengan mudah dihancurkan oleh Nix, Olivia tidak berhenti mengeluarkan ratusan tombak es dari tanah dan menembakannya ke arah Nix.


Nix menunjukkan wajah kesal ketika memperhatikan rentetan serangan proyektil yang terus mendatanginya tanpa henti. Ia kemudian memebantangkan kedua tangannya, dan dua monconv senapan musket di tangannya kemudian berubah bentuk menjadi lebih ramping.


Nix segera menyiapkan jarinya di pelatuk senapan dan memfokuskan dirinya kepada semua serangan yang mendatanginya.


Usai menganalisis semua yang ada di sekitarnya, Nix langsung menarik pelatuk dua senapan di tangannya dan mengarahkan semua serangannya pada semua objek yang mendekati dirinya.


Kemampuannya dalam menembak sedikit terlalu mengerikan untuk Olivia lihat. Nix mampu menembak satu peluru lalu menembak lagi dan menggunakan peluru baru untuk memantulkan peluru pertama ke target yang ia inginkan.


Kemampuan menembak dengan memanfaatkan pantulan dari peluru adalah hal yang mustahil dilakukan jika dia tidak memiliki kemampuan penglihatan kinetik dan gerak reflektif yang super cepat.


Dari yang Olivia lihat sendiri, masing-masing peluru yang ditembakkan Nix itu memiliki kecepatan yang setara atau lebih cepat dari kecepatan suara dan memiliki daya tembus yang ia perkirakan dapat dengan mudah menghancurkan tank lapis baja andalan yang ia ketahui.


Olivia meminum darah Noelle yang ia simpan di tabung kaca untuk berjaga-jaga, lalu memulihkan fisik dan sihirnya.


Saat ini, baginya darah Noelle jauh lebih bermanfaat dibandingkan ramuan mahal yang harus ia beli dengan sedikit pertaruhan.


Usai memulihkan dirinya, Olivia langsung menciptakan ratusan tombak dan pedang lain, lalu menembakkan semuanya ke arah Nix yang sedang sibuk bermanuver sambil menembak jatuh semua serangan yang datang padanya.


Nix semakin merasa jengkel dan mempercepat akselerasi fisik serta pikirannya, lalu menembak jatuh semua tombak dan pedang yang dikeluarkan Olivia.


Tentu saja Olivia berpikir kalau sihir api akan jauh lebih efektif, tapi sangat disayangkan karena elemen api sangat berlawanan dengan es yang memiliki basis air. Sihir api miliknya tidak begitu kuat jika dibandingkan dengan seorang penyihir yang mendedikasikan semua kekuatan dan bakatnya untuk elemen api.


Tapi, jika ia terus melawan Nix dengan mengandalkan serangan fisik dari sihir es, ini hanya akan menjadi pertarungan jangka panjang yang tak akan berakhir. Pada akhirnya, pemenangnya akan diputuskan berdasarkan stamina dan kualitas mana yang dimiliki.


"Jangan menggangguku, kau sialan! "


Nix berteriak dan menembakkan gelombang energi lain dari sayapnya ke arah rentetan duri merah yang terus muncul, lalu menggerakkan kedua tangannya sendiri dan menembak menggunakan senapannya ke arah semua objek yang mendekati dan menghalanginya.


Semua pedang dan tombak yang Olivia ciptakan sebelumnya seketika lenyap ditelan gelombang cahaya, dan beberapa duri merah raksasa yang tumbuh dari tanah juga telah hancur sepenuhnya hingga menimpa bangunan sekitar.


Earl akan menangis ketika melihat ini nanti.


"Archon diciptakan untuk membunuh para dewa. Tidak mungkin aku akan kalah hanya karena sampah seperti kalian! "


Meneriakkan itu, sayap logam di punggung Nix kemudian memperbesar ukurannya menjadi beberapa kali lipat dari ukuran sebelumnya. Beberapa moncong senapan lain muncul di sayapnya dan mengarah langsung ke objek sekitar yang ia anggap lawan atau musuh.


Saat ia berniat menembakkan gelombang energi lain dengan sayap, serta dengan senapannya, Olivia tiba-tiba muncul di hadapannya dan mengarahkan ujung rapier miliknya ke arah salah satu moncong senapan di tangan Nix.


"Jangan membuat ekspresi aneh itu dengan wajahku."


Mengatakan itu, ujung rapier Olivia segera menancap tepat di selongsong senapan Nix, yang kemudian meledak.


Olivia segera melompat mundur dengan menendang tubuh Nix yang terpental jauh ke belakang sebelum akhirnya memperbaiki posisinya dengan memanfaatkan momentum pada sayapnya. Sedangkan Olivia sendiri menciptakan pijakan dari sihir es yang ia campur dengan darahnya sendiri, sementara rantai es berukuran kecil menyambungkan pergelangan tangannya dengan gagang rapier yang dalam keadaan terjatuh ke tanah itu.


"Jangan bercanda … Denganku … Kau, sialan! "


Nix berteriak dan menembakkan serangan lain yang jauh lebih kuat ke arah Olivia. Gelombang energi dengan total suhu yang jelas jauh lebih rendah dari titik beku, disertai dengan rentetan peluru panas yang dapat dengan mudah menembus baja tebal. Tidak mungkin Olivia bisa menghindari semua itu.


Bahkan jika ia harus mengeluarkan semua kemampuannya, ia mungkin masih akan menderita beberapa kerugian besar. Jika ia terluka parah sementara Nix masih baik-baik saja, itu akan menjadi skenario yang sangat buruk.


Regenerasi miliknya butuh waktu beberapa puluh detik hingga dapat menyambungkan organ tubuh yang terputus, dan butuh waktu yang lebih lama jika yang terkena adalah bagian vital seperti kepala atau jantung.


Pastinya Nix tidak akan melewatkan kesempatan untuk menghabisinya di saat itu.


Olivia mengeluarkan penghalang dengan kekuatan penuh sementara ia juga menembakkan rantai es ke salah satu duri raksasa terdekat untuk mempercepat gerakannya. Namun, serangan yang diluncurkan Nix jelas lebih cepat.


Dan saat serangan gelombang energi dan rentetan peluru yang ditembakkan Nix padanya sudah hampir menyentuh tubuhnya, serangan itu tiba-tiba berhenti dan menghilang begitu saja.


Olivia melebarkan matanya dengan terkejut karena fenomena itu. Namun, tak melepaskan kesempatan untuk melarikan diri dari situasi ini.


Ia langsung memanfaatkan rantai es yang telah ia tembakkan sebelumnya untuk menarik dirinya sendiri ke salah satu duri raksasa yang masih tersisa.


Ia tidak mengerti situasinya, tapi, sekilas ia melihat sebuah objek yang menghentikan serangan itu tepat sebelum mencapai dirinya.


Sebuah sabit besar berwarna putih murni.


...****************...