![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
"Siapa dia? "
Dolum membisikkan itu dengan suara yang begitu rendah, dengan harapan Rudra tidak mendengar itu. Namun, jelas kalau Dolum sangat meremehkan indera pendengaran seorang kesatria masa lalu.
Rudra mendengar itu dengan jelas. Dia pun maju beberapa langkah dan berhenti ketika sudah ada di hadapan Dolum.
Karena perbedaan ketinggian, Dolum sampai harus mendongak hanya untuk menatap pada helm Rudra.
Dolum tidak terbiasa dengan pertarungan, dia juga tidak terbiasa melihat seseorang yang ukurannya jauh lebih besar darinya, mengingat suku Artof sudah menjadi seperti ras baru dengan wujud kerdil. Karena itulah, ketika Rudra tiba-tiba mendekat dan menatapnya dari atas begitu, nyali Dolum langsung menciut.
" … Tolong jangan makan aku."
Hanya itu yang sanggup dia katakan saat seluruh tubuhnya gemetar dan matanya dipenuhi ketakutan. Dia pun menyatukan kedua tangannya, seperti sedang berdoa.
"Ratu Bengis Yang Agung, sekarang hamba-Mu yang botak ini akan mengorbankan dirinya. Kumohon agar Engkau selalu melindungi semua orang dengan berkah dan kutukanMu."
"Apa yang kau lakukan? "
Noelle mengerutkan kenongnya saat melihat Dolum tiba-tiba berdoa dengan penuh ketakutan. Noelle pun melihat pada Rudra, dan dia sepertinya memiliki pemikiran yang sama.
Namun, satu hal yang masih membuat Noelle ragu; apa yang sebenarnya Rudra pikirkan? Ini adalah masalah yang benar-benar serius, karena dia selalu gagal untuk mwnebak apa yang Rudra rasakan atau pikirkan.
Setelah diam sejenak, Rudra pun berlutut.
Meski kepalanya masih lebih tinggi dari Dolum, setidaknya itu mengurangi kesan mengancam yang semula ia berikan.
Bukan hanya Dolum yang terkejut dengan tindakan yang tiba-tiba itu. Noelle dan Tania pun merasakan hal yang sama.
"Rudra? " Tania mencoba memanggil Rudra untuk bertanya apa yang sedang dia lakukan, tapi Rudra telah lebih dulu menggenggam kedua tangan Dolum dengan tangannya sendiri.
Sekarang setelah mereka bersentuhan, perbedaan ukuran ini menjadi semakin jelas. Rudra terlihat seperti seorang paman yang sedang bermain dengan keponakan kecilnya. Meski itu agak meragukan karena penampilan Dolum yang seperti pria tua.
Rudra tidak menanggapi panggilan Tania, dan menundukkan kepalanya pada Dolum.
"T-Tuan?! Tolong angkat kepala Anda! "
Dolum terlihat panik. Itu wajar saja. Beberapa detik yang lalu, dia pikir Rudra adalah orang yang akan membunuhnya, tapi sekarang dia justru berlutut padanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Pertanyaan seperti itu muncul di kepala Dolum.
Semua kebingungan itu tidak berujung pada terjawabnya pertanyaan Dolum. Hingga akhirnya, Rudra berbicara dengan suara yang halus dan bernada rendah.
"Terima kasih … karena sudah bertahan dan hidup dengan aman."
Suaranya bernada rendah, tetapi memiliki campuran emosi yang sangat kuat. Meski Dolum tidak tahu siapa orang ini, dia mahami perasaan yang orang ini tuangkan dalam suaranya. Itu penuh dengan rasa syukur dan suka cita.
Di saat itu juga Dolum mengetahui, kalau orang ini sangat senang dan bersyukur ketika melihat Dolum—salah satu anggota suku Artof, hidup.
Dengan cepat, rasa takut meninggalkan tubuh dan hati Dolum. Dia pun menatap bagian mata pada zirah Rudra untuk memahami lebih lanjut apa yang sebenarnya dia katakan.
Tania yang sebelumnya ingin menengahi tiba-tiba berhenti. Dia pun menatap Noelle, dan dengan sorot matanya bertanya apakah ini baik-baik saja. Noelle pun memberikan respon positif berupa anggukan singkat.
"Rudra. Kau dan semua orang bisa memanggilku Rudra."
Butuh waktu yang agak lama sampai Rudra akhirnya memberi tahu Dolum namanya. Mungkin, ini jauh lebih berat dari yang Noelle duga.
Dia tidak benar-benar tahu bagaimana rasanya ketika melihat orang, anggota keluarga, atau para keturunan dari semua orang yang pernah dia selamatkan. Apakah itu akan menjadi pertemuan yang membahagiakan bagi kedua pihak? Entahlah. Tapi, dalam kasus Rudra, jelas kalau perasaannya hanya sepihak.
Rudra mengupayakan semua yang ia bisa agar para penduduk yang selamat mampu melarikan diri, dan inilah hasilnya. Mereka selamat, dan mampu bertahan hidup, bahkan meski 600 tahun telah berlalu sejak kejadian itu.
"Rudra …."
Dolum mendengar nama itu memejamkan matanya, dan berusaha untuk mengingat sesuatu. Tidak salah lagi, dia yakin pernah melihat atau mendengar nama itu di suatu tempat.
Tapi, tak peduli apa yang Dolum lakukan, dia tak dapat mengingat itu. Dan entah mengapa, rasanya begitu menyakitkan.
...****************...
"Apa kau yakin tentang ini? "
Saat mereka akhirnya dibawa masuk ke dalam desa, Noelle yang berjalan di samping Rudra tiba-tiba bertanya.
Rudra pun langsung memahami maksud pertanyaannya. "Aku tidak keberatan. Tidak peduli apakah mereka mengetahui keberadaanku atau tidak, itu bukanlah masalah. Yang terpenting, aku tahu kalau mereka semua berhasil bertahan hidup sampai sekarang."
Noelle pun tidak mengatakan apa-apa lagi dan lanjut berjalan sampai akhirnya tiba di rumah Dolum.
Ketiganya duduk ketika Dolum masuk lebih dalam ke salah satu ruangan, lalu kembali dengan membawa sepiring kue kering.
Noelle ingat itulah yang semua orang berikan padanya dan Tania ketika mereka pertama kali datang ke tempat ini.
Mungkin, karena kondisi iklim yang tidak memungkinkan mereka untuk bertani atau memanen buah-buahan, mereka akhirnya mengembangkan makanan mereka sendiri, berupa kue kering yang terbuat dari bubuk hasil gilingan tanaman tertentu.
Mereka bisa mendapatkan daging dengan berburu, tapi sedang musim badai sekarang, dan para hewan yang biasa mereka buru telah masuk fase hibernasi.
Noelle memikirkannya lagi sekarang, tapi Hutan Dingin benar-benar berbeda dari dunia luar.
"Kalau begitu, apa urusan kalian datang ke sini? Apa ada masalah dengan pencarian katalisnya? "
Dolum bertanya dengan khawatir, mungkin takut mereka akan mengalami kegagalan dalam pencarian. Tapi, untungnya itu tidak terjadi.
Noelle menggeleng sejenak, lalu menjawab, "Sebenarnya, kami sudah menemukan dua katalis yang dibutuhkan. Hanya membutuhkan darah ratu, dan semua katalis akan terkumpul. Tapi …."
"Kami tidak bisa menemukannya," sambung Tania.
"Petunjuk apa pun akan sangat dihargai. Apa kau tahu di mana darah ratu berada? "
Dolum terdiam, tidak mampu mengolah percakapan ini dengan pikirannya. Detik kemudian, dia sangat senang karena dia katalis telah ditemukan, tapi detik berikutnya dia kembali bingung.
Tapi, dia memiliki serpihan ingatan tentang hal yang terkait.
Dolum mengerutkan kening dan memejamkan matanya guna mengingat informasi itu.
"Aku merasa pernah membaca tentang darah ratu di suatu tempat, tapi … aku tidak yakin."
Begitulah jawaban Dolum.
"Apa kau pernah membacanya di buku? "
Dolum langsung mengangguk. Noelle dan Tania pun saling bertatapan sejenak.
"Kalau begitu, kau bisa bawa kami ke tempat di mana semua buku atau apa pun itu berada. Kami bisa mencarinya sendiri, dan kau mungkin akan mengingat sesuatu."
Bukan Noelle atau Tania yang mengusulkan itu, tetapi Rudra. Dan usulan itu pun diterima oleh Dolum.
"Kalau begitu … kalian bisa ke ruang arsip. Biar kuantar kalian semua."
...****************...
Ruang arsip ada tak jauh dari rumah Dolum. Itu berada di bawah tanah sebuah bangunan yang dijadikan kantor sekaligus balai desa.
Ini adalah ruang di mana semua sumber informasi dan pengetahuan suku Artof berkumpul. Dan meski ini kedua kalinya Noelle datang ke sini, dia masih terkejut dengan betapa besarnya tempat ini.
Sebenarnya, ruang arsip desa suku Artof ini sedikit terlalu besar untuk sebuah desa dengan populasi kurang dari 1000 orang.
Penyelidikan dilakukan selama beberapa jam, tapi sampai sekarang, mereka belum menemukan apa pun.
Alasan ini memerlukan waktu yang lebih lama dari seharusnya adalah karena Rudra sama sekali tidak memahami bahasa yang ada pada buku suku Artof. Tapi untungnya, itu tidak terlalu berbeda dari bahasa Hermes yang digunakan secara universal, jadi Rudra bisa memahaminya setelah sedikit diajari Noelle.
Daripada itu, yang membuat pencarian ini menjadi tidak sia-sia adalah fakta bahwa mereka baru saja menemukan satu petunjuk.
Sejauh ini, belum ada buku yang menyebutkan sesuatu tentang darah ratu. Namun, ada satu buku yang bahkan menjadikan 'darah ratu' sebagai judul salah satu bab.
Buku itu adalah sesuatu yang suku Artof anggap sebagai kitab suci. Ditulis pada masa di mana Ratu Bengis masih menginjakkan kakinya di dunia nyata. Bahkan, dugaan kuat juga menyatakan kalau Ratu Bengis sendiri terlibat dalam proses pengisian kontennya.
Semua wahyu, ramalan, dan pepatah yang Ratu Bengis ucapkan dimasukkan ke dalam buku ini, karena itulah suku Artof menganggapnya sebagai sesuatu yang suci dan sangat sakral.
"Serius … kau melupakan isi dari kitabmu sendiri? "
Mungkin karena fakta itulah, Noelle kecewa pada Dolum yang justru lupa kalau ada halaman yang menyebutkan 'darah ratu' pada kitab suci suku Artof.
"Oh, hoho … ingatan pria tua memang rapuh, ya? "
Noelle, Tania, dan Rudra tidak menanggapi pembelaan Dolum, dan fokus pada kitab suci di tangan Noelle.
Halaman yang terbuka menampilkan deretan tulisan dengan bahasa khas suku Artof (yang sebenarnya hanya berupa modifikasi dari bahasa Hermes). Di bagian paling atas, ada beberapa kata yang dirangkai sebagai judul.
'Darah Sang Ratu'.
Isinya tidak banyak, hanya satu paragraf, sebenarnya. Tapi, karena itu adalah satu-satunya bagian yang menyebutkan sesuatu tentang darah ratu, mereka tidak memiliki pilihan selain mengandalkannya.
"'Darah sang Ratu akan selalu ada dalam diri mereka yang berjiwa kesatria dan setia padaNya' … kurasa hanya ini petunjuk kita."
Noelle mengerutkan keningnya saat dia berulang kali membaca paragraf itu.
Namun, ini mungkin sebuah petunjuk, tapi isinya terlalu samar. Noelle tidak dapat mengekstrak informasi apa pun dari paragraf itu.
"Bukankah itu … hanya kiasan? "
Dolum bertanya, dan Tania mengangguk, menyetujui pertanyaannya. Mereka pun menatap Noelle.
"Aku mulai meragukan keaslianmu sebagai kepala suku Artof …."
"Tolong lupakan apa yang kukatakan sebelumnya, aku tidak ingin kehilangan kualifikasiku sebagai pemimpin," ucap Dolum sambil membungkuk hormat pada Noelle.
Memang, kalimat seperti ini biasanya hanya digunakan sebagai kiasan, untuk menyatakan bahwa para pengikut yang setia akan selalu memiliki darah sang ratu. Itu dimaksudkan untuk menguatkan moral dan kepercayaan batin mereka terhadap ratu.
Itulah yang seharusnya terjadi. Namun, Noelle dan Rudra memiliki pemikiran yang berbeda.
"Nama Yang Mulia tidak boleh digunakan secara sembarangan."
Itulah yang Rudra katakan. Lebih dari siapa pun, Rudra memiliki keyakinan bahwa nama adalah sesuatu yang sangat sakral bagi seseorang. Terlebih, pada ratu yang ia layani.
Karena itulah, Rudra sangat sensitif ketika ada yang secara acak memasukkan nama ratu ke dalam suatu buku yang tidak jelas akan digunakan untuk apa.
Rudra percaya kalau penulisnya, seorang suku Artof, tidak akan menggunakan nama dan gelar kehormatan ratu secara acak. Terutama, kalau ratu sendiri yang terlibat dalam proses penulisannya.
"Yahh, ratu kalian pasti menyembunyikan atau sedang merencanakan sesuatu dengan ini. Lagi pula ratu kalian itu terlalu cerdas untuk sampai bisa membuat orang lain bergerak sesuai dengan yang Dia bayangkan."
Meski pemikirannya agak berbeda dari Dolum, Noelle masih memiliki pemahaman yang sama.
Ratu Bengis, atau Ratu Clament adalah sosok jenius yang di luar dugaan. Dia selalu memberikan petunjuk, baik itu secara langsung atau tidak, agar pasangan yang ada di ramalannya mampu melaksanakan tugas mereka dengan baik.
Noelle yakin kalau ada makna tersembunyi di balik kata-kata ini, dan itu seharusnya akan menuntunnya ke suatu jawaban yang tepat.
Noelle akhirnya menghela napas dan menutup buku itu dengan satu gerakan.
"Aku pinjam buku ini untuk menyelidikinya lagi. Apa boleh? "
Meski bingung, Dolum tetap mengangguk. "Tentu saja," jawabnya.
...****************...