![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
"Itu tidak mungkin."
Noelle mendecakkan lidahnya dan tanpa ragu menolak penawaran Noir. Tidak perlu berpikir panjang, menyerahkan kendali tubuhnya pada Noir adalah skenario yang sangat buruk.
『Kenapa begitu?』
"Terakhir kali aku menyerahkan kendali atas tubuhku, aku harus mengatur rencana untuk memalsukan kematianku sendiri."
Suara tawa terdengar. Seperti biasa, itu berasal dari Noir.
『Bukankah rencana memalsukan kematian itu sudah ada bahkan sebelum aku merasukimu? Selain itu, kau tidak perlu khawatir untuk yang kali ini.』
Memang, apa yang Noir katakan itu ada benarnya. Sejak sebelum pengejaran terhadap anggota Swallow Life Order dilakukan, Noelle memang sudah berencana untuk pergi dari Lunatic Order, dan untuk melakukan itu, dia harus menjalankan beberapa skenario, termasuk memalsukan kematiannya sendiri.
Selain itu, jika Noir tidak mengambil alih tubuhnya saat itu, Noelle mungkin sudah mati sekarang. Jadi Noelle tidak berhak protes tentang bagaimana Noir merasuki dan mengambil alih tubuhnya. Dia hanya mengatakan itu untuk melampiaskan sedikit emosinya.
"Apa maksudmu? "
『Khe-hehe– Apa kau pikir aku punya waktu untuk bersenang-senang di dunia nyata? Para kecoak itu cukup mengganggu, jadi aku harus mengurus mereka. Karena itu, Noelle, ayo buat kesepakatan.』
" … Apa yang kau inginkan? "
『Hehe, langsung saja, setelah masalahmu di sini selesai, aku ingin kau melakukan sesuatu untukku. Jika kau bisa memenuhi syarat itu, maka aku akan membagi kendali. Kau bisa mengendalikan tubuhmu seperti biasa, tapi aku akan memegang kendali atas kekuatan yang kau miliki. Dengan begitu, kau masih akan sadar saat aku melakukan apa yang kau minta.』
Sebenarnya, itu adalah kesepakatan yang kuar biasa.
Membagi kendali adalah hal yang bisa Noir lakukan dengan cukup mudah. Dia pernah melakukannya langsung, dan Noelle tahu kalau itu bukanlah karangan semata.
Selain itu, dalam kondisi itu, Noelle bisa memutus kendali Noir atas tubuhnya kapan saja, karena jiwa Noelle memiliki kendali penuh atas tubuhnya sendiri.
Yang jadi masalahnya, adalah apa yang Noir inginkan? Noelle harus memastikan itu.
"Langsung saja katakan apa yang harus kulakukan? Tergantung pada 'permintaanmu', aku bebas menolaknya."
『Yang kuinginkan? Sederhana saja. Aku ingin kau mencari informasi tentang apa yang sebenarnya para kecoak itu rencanakan. Aku sudah mengendus bau yang menjijikkan, jadi kau harus cepat, atau semua akan terlambat.』
Noelle menyipitkan matanya dengan curiga.
"Hanya itu? Apa aku bebas memilih metode yang bisa kugunakan? "
Dengan penuh kesadaran, Noelle merasakan senyum tajam mekar di wajah imajinatif Noir yang selalu Noelle bayangkan saat dia berbicara dengannya.
『Tentu, kau bebas menggunakan metode apa pun. Tapi, akan kuberikan kau saran; temukan orang bernama Dwayne Lee Minster.』
Noelle ingat dan tahu nama itu.
Dwayne Lee Minster, Noelle pernah melihat nama itu di kertas laporan yang ada di meja Dolf. Noelle melihat nama itu saat dia datang berkunjung dan 'mengucapkan perpisahan' pada mantan kaptennya itu.
Secara alami, Noelle tahu kalau Dwayne terkait dengan Swallow Life Order. Namun, hanya itu yang dia tahu.
"Ada apa dengannya? Apa kau mengenal orang bernama Dwayne ini? "
『Hehe, kau akan mengetahuinya sendiri nanti. Jadi, bagaimana? Apa kau akan menerima kesepakatan ini?』
Noelle memikirkannya sejenak.
Mencari informasi terkait tujuan Swallow Life Order adalah hal yang berbahaya. Dia bisa saja ditandai dan menjadi salah satu terget mereka. Namun, tanpa ikut campur langsung pun, Noelle sudah terkibat dengan mereka, melalui Noir tentunya.
Noir pasti akan melibatkannya, entah Noelle suka atau tidak.
Sebenarnya, ini bukanlah tawaran yang buruk.
Noelle tidak perlu turun tangan langsung, karena dia bisa meminta orang lain untuk mencari tahu dan menghubungi orang bernama Dwayne itu.
Ada tiga pilihan untuk siapa yang harus dia kerahkan dengan tujuan menghubungi Dwayne, dan mereka adalah Kino dari Red Hood, Nantz, dan Harold.
Ketiga orang itu tidak diragukan lagi akan bergerak jika dia yang menyuruh mereka semua. Tapi, Noelle tidak boleh gegabah dan hanya bisa memberikan tugas pada satu orang demi menjaga misi ini tetap rahasia.
(Kurasa dia cocok untuk tugas ini.)
Noelle mengangguk saat dia sudah menemukan orang yang cocok untuk dibebankan tugas ini.
"Baiklah, aku terima kesepakatan itu," ucap Noelle sambil sedikit menyeringai.
『Hehe, senang mendengarnya.』
Noelle tidak ragu dalam mengambil misi itu, karena dia tahu kalau dirinya memiliki kemampuan untuk melaksanakannya.
Jika dia tidak memiliki kapabilitas untuk tugas itu, Noir tidak mungkin akan memintanya melakukan itu. Karena lebih dari apa pun, Noir tidak ingin Noelle mati begitu saja.
『Kalau begitu, aku harus segera kembali ke urusanku sendiri. Aku akan muncul sesekali, jadi jangan merasa kesepian, oke?』
"Ohh? Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, dan sebaiknya kau tidak terlalu kejam pada para tamu itu."
Noelle tersenyum, dan bangkit ke posisi berdiri. Suara dan perasaan mencekam yang menandakan kehadiran Noir pun seketika menghilang.
Kini, di kamar itu hanya ada keheningan. Noelle berdiri diam di sana, di atas lantai kayu yang banjir dengan darah, dan di dekat kasur yang telah ternoda oleh warna merah yang pekat.
...****************...
Usai keheningan yang cukup panjang, Noelle akhirnya menghela napas dan menoleh ke arah pintu.
Dia pun menyingkirkan semua darah yang mengotori ruangan, dan memulihkan keadaan lantai serta kasur seperti semula dengan otoritas dominasi. Setelah itu, dia kembali menoleh ke arah pintu.
"Apa mengunjungi kamarku sebelum tidur sudah menjadi rutinitas bagimu? "
Pertanyaan itu direspon dengan suara benturan yang agak kuat pada pintunya, mungkin orang yang berdiri di sana tidak menyangka Noelle akan mengatakan itu, dan berakhir membenturkan kepalanya sendiri ke pintu.
Dengan suara berderit, pintu terbuka sedikit, menampilkan setengah profil Tania yang mengintip ke kamarnya, ragu untuk masuk.
" … Masuklah."
Noelle menghela napas pasrah dan berkata sambil memberikan isyarat tangan sebagai izin agar Tania bisa masuk ke kamarnya.
Duduk di tepi ranjangnya, Noelle menatap tanpa kata pada Tania yang tersenyum dan berlari kecil ke arahnya seolah sedang bersemangat terhadap sesuatu.
Jarak antara Noelle dan Tania pun seketika menutup, ketika Tania akhirnya memilih untuk duduk tepat di samping Noelle.
Tidak ada yang berbicara. Sejak awal, Noelle tidak memiliki sesuatu yang harus dibicarakan dengan Tania, jadi dia terus menunggu sampai Tania mengungkapkan sendiri tujuan dia datang.
Sedangkan Tania sendiri … dia bahkan tidak menatap Noelle, jadi Noelle ragu percakapan akan berjalan dalam waktu dekat.
(Gadis yang merepotkan.)
Noelle tidak bisa menahan senyum, lalu mendengus sambil tertawa kecil.
"Kalau kau memang terlalu gugup atau bingung untuk bicara, kau seharusnya mempersiapkan diri lebih dulu sebelum datang."
Tania terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi dia terus diam seperti tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. Secara pribadi, Noelle menganggap ini lucu, karena Tania yang ia kenal biasanya memiliki sifat dan sikap yang begitu terang-terangan.
" … Bukan itu masalahnya …."
"Hmm? "
Jawaban sederhana dan pelan dari Tania itu membuat Noelle mengangkat suaranya dengan bingung. Dia menoleh dan menatap pada Tania, yang telah lebih dulu menatapnya.
Wajahnya seperti biasa, tidak ada perubahan. Hanya saja, tatapannya seperti dipenuhi dengan emosi, sesuatu yang jarang Noelle lihat dari Tania.
"Aku … sudah tahu apa yang harus kukatakan, aku juga sudah tahu bagaimana aku harus bersikap di hadapanmu. Tapi … pikiranku langsung kosong ketika menatapmu langsung."
"Huh? "
Itu jawaban yang terlalu jujur. Noelle sama sekali tidak menduganya. Dia hanya bisa menatap bingung pada Tania.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi berada di dekatmu selalu membuat pikiranku kosong sejenak, jadi aku hampir melupakan apa yang seharusnya kukatakan."
" … Benarkah? "
Sebelum Noelle menyadarinya, Tania sudah memajukan wajahnya, menatapnya dari dekat, dan membuat Noelle kehabisan ruang untuk bergerak.
"Itu benar," jawab Tania tanpa keraguan sedikit pun.
Noelle berusaha menanggapinya dengan santai. Dia sedikit memalingkan wajahnya, menatap ke arah lain, dan berusaha menjauhkan Tania dari dirinya sendiri.
" … Jadi? Apa yang mau kau katakan padaku? Apa kau mengingatnya sekarang? "
Begitu ditanya, Tania kembali ke posisinya semula, dan meremas erat kepalan tangannya sendiri. Dan akhirnya, setelah beberapa saat, dia berhasil mengatakannya.
"Lusa ... Dungeon yang ada di Alten akhirnya akan terbuka."
Noelle berkedip beberapa kali, berusaha memahami informasi yang baru saja ia terima.
Dungeon? Alten? Sekarang Noelle ingat, tujuan Tania datang ke Alten adalah untuk mengantisipasi sebuah dungeon yang akan segera terbuka di sana. Tapi ini dan itu terjadi, membuat Tania akhirnya menghabiskan waktu dengannya, semakin jauh dari tujuan asli dia datang ke ibu kota.
Noelle tahu kalau saat untuk itu akan segera tiba, tapi dia tidak menyangka kalau waktunya sudah sedekat ini.
"Dari mana kau tahu itu? " tanya Noelle.
"Aku bisa merasakan gelombangnya," jawab Tania singkat.
"Gelombang? "
Noelle masih belum mengerti, dan berharap Tania mau menjelaskan, tapi, Tania justru terlihat bingung saat dia memalingkan wajah.
Setelah beberapa saat, dia akhirnya berbicara dengan suara yang amat pelan. " … Ketika semua urusan kita di sini sudah selesai … a-apa kamu mau ikut denganku? "
"Hmm? "
Noelle sudah memahami permintaannya, tapi sepertinya Tania salah paham dan berpikir kalau caranya mengajak Noelle masih kurang bisa dimengerti.
Karena itulah, dia dengan panik berusaha menambahkan, "Maksudku … untuk menaklukkan dungeon! Dungeon adalah tempat yang luar biasa aneh, jadi kupukir itu bisa jadi pengalaman untukmu! "
Noelle sudah tahu itu. Lagi pula dia sudah pernah masuk ke dungeon sebelumnya.
Apakah ada perbedaan mencolok antara dungeon yang pernah ia masuki dengan dungeon yang Tania maksud? Noelle tidak yakin.
Noelle memiringkan kepalanya, sedikit mencolek pipi Tania yang terlihat memerah.
"Kenapa kau terlihat bingung? Tentu aku akan ikut, lagi pula kau sudah banyak membantuku di sini."
Walaupun … agak aneh rasanya ketika mengatakan bahwa Tania sudah banyak membantunya, mengingat semua itu sudah ada di dalam skenario Ratu Bengis, bahwa yang ditakdirkan—Noelle dan Tania akan muncul, bekerja sama untuk memberikan keselamatan pada dulu Artof.
Apakah itu bisa disebut sebagai jasa yang berharga ketika mereka hanya bergerak mengikuti alur yang sudah ditentukan? Noelle tidak yakin dengan jawabannya.
"Yahh, aku akan menemani dan membantumu setelah semua masalah ini selesai. Untuk sekarang, aku ingin fokus pada apa yang ada di depanku."
Noelle menatap ke luar jendela, tepat pada trio benda langit raksasa yang sedikit terselimuti awan.
Tania mengikuti arah tatapannya, dan ekspresinya menjadi lebih santai.
" … Kita juga harus menyelesaikan masalah terkait Asterisk."
Ucapan Tania itu membuat Noelle tanpa sadar mengerutkan keningnya.
" … Padahal aku berusaha melupakan yang satu itu …."
Tidak bohong, Noelle benar-benar tidak ingin berurusan dengan masalah yang dihadapi Asterisk.
Tugasnya dalam merekrut anggota bawahan sudah selesai, jadi dia seharusnya tidak perlu peduli pada yang lain. Namun, masih ada satu hal yang mengganjal di pikirannya.
"Aku penasaran apakah Tristan baik-baik saja …."
Tania bergumam, membuat Noelle meliriknya.
Dia pun teringat dengan sosok laki-laki dengan usia yang tidak jauh berbeda dari dirinya sendiri. Laki-laki dengan rambut kelabu dan selalu membawa sebuah tombak ke mana pun ia pergi. Seseorang yang hanya ia kenal dengan nama kodenya, dan bukan nama asli.
Tristan.
Memikirkannya sejenak, Noelle akhirnya menghela napas.
"Yahh, Tristan tidak selemah itu. Jadi dia seharusnya baik-baik saja. Selain itu, yang harus dikhawatirkan bukanlah dia, tetapi Pauper dan Auger. Merekalah yang menurutku dalam keadaan yang buruk."
Tania mengangguk, menyetujui kata-kata Noelle.
"Aku juga berharap mereka baik-baik saja."
Mereka sudah mendapatkan peringatan tentang seorang pendeta Gereja Lumine yang bernama Lanevus itu, tapi Noelle tidak benar-benar menghiraukannya karena dia kemungkinan besar tidak akan terlibat dengan sosok itu.
Justru, yang wajib khawatir adalah Lucia dan Collyn, karena mereka berada di tempat yang sama dengan pendeta itu.
Kembali menatap dinding di hadapannya, Noelle lagi-lagi menghela napas.
"Yahh, kita belum mendapatkan laporan dari mereka, jadi kita tidak tahu pasti bagaimana situasinya. Tapi, kurasa lebih baik untuk bersiap untuk kemungkinan terburuk."
Mau bagaimanapun juga, sosok yang Lucia lihat di dalam diri Lanevus adalah sebuah anomali. Setidaknya Noelle menganggapnya begitu.
Tania mengangguk, lalu dengan tenang menyandarkan kepalanya ke bahu Noelle.
Tindakan yang tiba-tiba ini sedikit mengejutkan Noelle, tapi dia tidak banyak bereaksi.
"Kita … hanya bisa menunggu laporan dari mereka."
Noelle mengangguk atas sesuatu yang Tania gumamkan.
"Pembebasan Ratu Bengis, penaklukan dungeon, mengumpulkan kepingan ingatan … ada banyak hal yang menjadi tujuan kita, dan sepertinya kita tidak punya waktu untuk bersantai."
" … Benarkah? "
Tania mengangguk, masih bersandar pada bahu Noelle. "Nn. Karena itulah … aku ingin menikmati waktu tenang ini sebisa mungkin."
Tania pun menutup matanya sambil tersenyum tipis.
Bahkan dia tahu bahwa dirinya tidak akan memiliki banyak waktu istirahat di masa depan. Setiap detik ketenangan yang ia miliki adalah sesuatu yang berharga, jadi dia akan selalu menikmatinya.
"Noah … apa Noah … juga takut untuk mengingat semuanya? "
Pertanyaan itu tiba-tiba keluar, membuat Noelle mengerutkan kening dan bibirnya.
" … Begitulah. Secara pribadi, aku ingin mengingat semuanya. Tapi … jiwaku seperti menolak itu semua. Mungkin … dari lubuk hatiku yang terdalam, aku tidak ingin mengingat apa pun yang berkaitan dengan masa lalu."
Perlahan, satu per satu ingatan itu bangkit. Dan setiap kali ada ingatan yang bangkit, Noelle bisa merasakan dirinya perlahan berubah, menjadi sosok yang ia sendiri bahkan tidak mengenalnya.
Menggigit bibirnya sendiri, Noelle akhirnya mengaku.
"Semalam … aku mengingat sesuatu."
"Benarkah? "
Tania terlihat tidak bersemangat, dan masih menyandarkan kepalanya pada bahu Noelle. Namun, matanya yang terbuka itu menunjukkan cahaya yang penuh dengan rasa keingintahuan.
Noelle pun mengangguk. "Yang kuingat bukanlah sesuatu yang berguna, tapi … memikirkannya lagi, aku jadi semakin yakin kalau aku sebenarnya tidak ingin mengingat itu semua."
Bagaimana tidak? Dia benar-benar terkejut dengan apa yang semalam ia mimpikan.
Kenangan itu datang dalam berbagai cara, dan cara yang paling sering Noelle alami adalah melalui mimpi.
"Aku mengingatnya. Saat waktu berjalan mundur dengan sangat cepat, aku melihat tanganku yang berlumuran darah."
Tania sama sekali tidak bicara. Dia membiarkan Noelle mengatakan semua yang ingin dia katakan.
"Pedangku di tanganku. Dan saat waktu akhirnya bergerak mundur, aku melakukannya. Akulah yang menghancurkan ingatanku sendiri. Aku memotongnya, dengan kekuatan pedangku, menjadi banyak sekali bagian."
"Semua bagian itu kemudian lenyap. Tapi, aku yakin, itu tidak lenyap sepenuhnya, melainkan tersebar ke berbagai tempat di penjuru dunia, melewati batas fisik dan logika, seperti mencari tempat untuk bersembunyi."
Noelle yakin, bahwa dia seharusnya tetap mengingat semuanya meski waktu diulang.
Alasan dia melupakan semua itu adalah karena keinginannya sendiri. Dia memotongnya menjadi banyak bagian, lalu membuangnya. Dia melakukan itu dengan penuh kesadaran.
Noelle mengepalkan tangannya dengan erat, dan ketika Tania melihat itu, dia pun meraih tangan Noelle, menyelimutinya dengan tangannya sendiri dengan penuh kehangatan.
"Aku tidak yakin, Tania. Aku ingin melupakan semuanya, tapi … aku sadar, kalau aku semakin jauh dari diriku yang sebenarnya. Aku ingin mencaritahunya, tentang apa yang sebenarnya kuinginkan? Apa yang sebenarnya yang menjadi tujuanku? Dan untuk melakukan itu, aku harus mendapatkan semua ingatanku kembali."
" …… Aku mengerti," jawab Tania.
Tania tersenyum lembut, lalu bangkit, dan tangannya segera meraih kedua sisi pipi Noelle.
"Aku akan mendukung keputusan itu. Karena … aku juga ingin mengetahuinya. Aku ingin tahu apa sebenarnya diriku ini, dan perasaan apa yang kumiliki padamu, pada kalian semua."
Keduanya saling menatap, tidak mengatakan apa pun lagi, secara tersirat menyampaikan perasaan dan harapan yang mereka miliki terhadap ingatan yang asing itu.
Mendapatkan kembali ingatan yang telah hilang bukanlah hal yang mudah. Tingkat kesulitannya bergantung pada diri mereka sendiri.
Meski Noelle menolak ingatan itu dari lubuk hatinya yang terdalam, dia masih memiliki keinginan yang kuat untuk mengingat semuanya. Ini adalah perasaan yang kontradiktif.
(Ada terlalu banyak hal yang tidak kuketahui, jadi aku harus mendapatkan ingatanku. Aku harus mendapatkan semuanya. Jika tidak … aku mungkin akan terus hidup dengan perasaan yang janggal ini.)
Tatapan Noelle berubah menjadi lebih lembut, dan dia menimpa tangan Tania dengan tangannya sendiri. Kemudian, dia menatap gadis itu.
"Ini mungkin akan jadi perjalanan yang panjang dan menyulitkan. Meski begitu … apa kau mau ikut denganku? "
Tania berkedip beberapa kali, seolah tidak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari mulut Noelle. Namun, ketika ia memahaminya, senyum secara alami terbentuk di wajahnya.
"Kamu tidak perlu bertanya. Aku sudah tahu kalau ini akan menjadi jalan yang panjang. Aku tahu kalau ini tidak akan mudah. Tapi, aku sudah membuat keputusan; aku akan ikut denganmu, menyusuri jalan yang mungkin saja akan membawaku pada kesedihan itu."
Keduanya yakin, kalau mendapatkan kembali ingatan mereka yang telah hilang itu, sama artinya dengan mengingat kembali semua tragedi yang pernah mereka alami.
Tentang mengapa mereka tidak bersama lagi di bawah nama Intaurus dan Egoist, tentang apa yang menyebabkan waktu harus diputar kembali.
Semua pertanyaan itu … akan terjawab begitu mereka tiba di akhir jalan.
Saling menatap sejenak, Noelle akhirnya mendengus dan tertawa kecil. Tania tidak mengerti kenapa ia melakukan itu, jadi dia hanya menatap bingung pada Noelle.
Meski Tania meminta penjelasan dengan tatapannya, Noelle dengan mudah mengabaikan itu. Dia tersenyum tipis dan menatap Tania lekat-lekat.
"Mau tidur? "
Ekspresi Noelle aneh. Tania tidak pernah melihat itu sebelumnya. Ini membuatnya bingung, dan butuh waktu yang agak lama untuk mencerna tawaran Noelle.
Dan ketika dia memahaminya, yang bisa Tania lakukan hanyalah melihat ke sekitar dengan linglung, lalu kembali menatap Noelle sebelum akhirnya mengangguk kecil, dengan rona merah pada pipinya.
Tania melepaskan pegangannya pada pipi Noelle dan dengan bingung duduk di tengah ranjang.
Kasurnya empuk, sehingga saat Tania menjatuhkan tubuh untuk duduk, dia memantul beberapa kali.
Tania lagi-lagi menatap Noelle dengan bingung, tapi ekspresi Noelle masih sama seperti sebelumnya. Ini membuat Tania secara naluri merasakan bahaya dalam artian yang berbeda, yang mengakibatkan dirinya segera menjatuhkan tubuh, berbaring di kasur dengan menatap langit-langit.
Dia menarik selimut dan memeluk bantal yang ada di dekatnya, lalu kembali menatap Noelle.
Noelle masih duduk, membiarkan Tania mengambil alih sebagian ranjangnya. Lagi pula, meski Tania tidur di sana, masih ada cukup ruang untuknya.
Noelle pun bergerak dan menyentil dahi Tania.
" … Kenapa kamu melakukan itu? "
Noelle tidak menjawab, dan hanya tertawa kecil sambil merapihkan poni rambut Tania yang jadi sedikit berantakan karenanya.
Tania tidak mengatakan apa pun, dalam kebingungan membiarkan dirinya diperlakukan dengan lembut oleh Noelle.
Namun, bahkan Tania yang tidak peka terhadap sekitar pun sadar, bahwa dirinya tidak akan kuat untuk menatap mata Noelle, yang mengakibatkan dirinya langsung mengalihkan pandangan dari laki-laki itu.
Tatapan itu berbahaya. Tania dapat merasakan suhu tubuhnya meningkat, dan jantungnya juga berdetak sangat kencang. Ini buruk untuk hatinya sendiri.
Karena itulah, Tania tidak memiliki pilihan selain mengalihkan pandangan. Entah apa yang akan terjadi jika dia terus menatap Noelle.
" … Selamat malam."
...****************...
Masih duduk di tepi ranjangnya, Noelle masih menatap hangat pada Tania yang sudah tertidur.
Tapi kemudian, Tania membuka mata, lalu bangkit dan menatapnya dengan tatapan yang sangat dingin dan tak berperasaan.
Noelle yang melihat itu pun tersenyum.
"Senang bisa bertemu denganmu, Navi."
...****************...