![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
Tanggal 7 November.
Saat matahari akhirnya terbit, Noelle telah sampai di kota Féncen. Dia benar-benar melakukan perjalanan kilat dari kota Vulip hanya dengan berlari dan sesekali menggunakan wujud serigala dan kabut untuk mempercepat perjalanan.
Dia sendiri sadar kalau waktunya tidak banyak. Berdasarkan perhitungannya sendiri, sebentar lagi akan memasuki fase bulan baru. Di saat itu Noelle akan sangat melemah. Karena itulah dia buru-buru menyelesaikan tugas agar dia tidak perlu melakukan sesuatu yang beresiko besar saat kehilangan sebagian besar kekuatannya.
Jarak antara kota Vulip dan Féncen sebenarnya cukup jauh. Karena itulah Noelle kagum pada dirinya sendiri yang bisa menyelesaikan perjalanan hanya dalam waktu kurang dari enam jam.
Sesampainya di kota Féncen, Noelle tidak langsung menuju gereja, melainkan mengunjungi rumah sewaan yang ia gunakan sebagai basis Grei Noctis.
Masa sewa rumah itu masih cukup panjang, jadi secara teknis, hak kepemilikannya masih di tangan Noelle.
Noelle memastikan lingkungan yang sepi di sekitar, dan dengan memanipulasi darahnya dia membuka pintu yang dikunci dari dalam.
Noelle sengaja meninggalkan kunci menggantung di dalam, karena dia tidak ingin seorang pun mampu membobol ini. Sedangkan dirinya, dia bisa menggunakan darahnya sendiri untuk memutar kunci di sisi lain pintu.
Begitu pintu dibuka, ruang tamu sepi hanya dengan sofa dan meja kopi kecil muncul. Noelle hanya menjadikan rumah ini sebagai markas sementara, karena itu dia tidak kepikiran untuk mendekorasi isinya.
(Haruskah aku mengucapkan 'aku pulang'? )
Menggelengkan kepalanya atas pemikiran yang konyol, Noelle langsung duduk di sofa itu dan mulai mengatur ulang rencananya.
Misa pagi akan dimulai tepat pada lonceng pertama, yaitu jam delapan pagi. Sedangkan sekarang bahkan belum genap jam enam. Yang artinya, Noelle masih memiliki banyak waktu sebelum tahap pertama rencananya dimulai.
Setelah memeriksa jadwalnya, Noelle langsung berdiri, keluar dari rumah, dan berjalan santai menuju sebuah tempat yang sudah ia kunjungi beberapa kali.
Itu adalah area pemakaman.
Karena waktu yang masih terlalu pagi, area pemakaman ini jadi jauh lebih sepi dari biasanya. Meski begitu, Noelle masih bisa merasakan kehadiran beberapa orang yang berada di dalam area pemakaman.
Tanpa ragu dia berjalan melewati deretan kuburan, dan akhirnya menyusuri jalan setapak dengan pohon yang sudah botak karena musim.
Tak jauh di depannya, menghadap sebuah kuburan yang kelihatannya baru dibuat, ada dua orang yang diidentifikasi sebagai perempuan. Mereka berdua terlihat sangat tenang saat melihat rangkaian bunga putih di atas nisan baru itu.
Noelle berjalan mendekat, dan akhirnya mampu mengenali kedua sosok itu.
Yang berdiri di sana adalah Felice dan Mona, sedangkan nisan yang baru saja mereka persembahkan karangan bunga itu bertuliskan nama Noah Ashrain.
Felice dan Mona kemudian bangkit dari posisi mereka, dan berjalan meninggalkan nisan. Arah yang mereka tuju sekarang adalah arah yang sama dengan tempat Noelle berada. Karena itu, belum lima langkah keduanya berjalan, mereka sudah berhenti saat melihat sosok Grei Noctis yang asing.
Namun, itu tak sepenuhnya asing. Ada Felice yang masih mampu mengenali sosok itu.
Dengan agak gugup, Felice langsung membungkuk.
"Maaf atas kekasaranku waktu itu. Aku sedang terburu-buru, jadi aku tidak sengaja mengabaikan sekitar."
Yang dia maksud itu adalah kejadian saat dia tidak sengaja menabrak Grei Noctis di dekat bar.Tampaknya kejadian itu masih membekas di pikiran Felice yang mudah merasa bersalah.
"Tolong jangan khawatirkan itu." Noelle menjawab dengan suara dan ekspresi dingin, sesuai dengan citra yang ditampilkannya sebagai Grei Noctis.
Dia kemudian berjalan meninggalkan Felice dan Mona, lalu berhenti tepat di makam yang sama dengan yang dikunjungi keduanya sebelum ini.
Karangan bunga yang diletakkan di sana masih terlihat sangat segar, dan tanah serta ukiran pada nisannya juga masih baru.
Di sana terpajang nama Noah Ashrain, identitas yang sebelumnya ia gunakan hanya untuk melarikan diri dari kejaran Noir, meski itu sia-sia karena dia sekarang justru membuat kontrak dengannya.
Awalnya identitas itu juga hanya akan ia gunakan sementara, tanpa terlibat dengan siapa pun. Namun, rencananya meleset. Dia justru terlibat dengan Bar Nautica, dan memiliki ikatan emosi yang kuat dengan beberapa orang di sana; salah satunya adalah Louen.
Dengan tangan kanannya yang diselimuti sarung tangan merah, Noelle meraba ukiran nama pada permukaan nisan, dan akhirnya menghela napas.
(Tidak kusangka aku akan mengunjungi makamku sendiri.)
Sejenak, dia nyaris tertawa lepas. Namun mengingat Felice dan Mona masih di sana, dia menahan diri.
"Umm …. Maaf, apa Noah adalah kenalanmu? "
Tiba-tiba Felice bertanya, membuat Noelle sedikit mengangkat alisnya.
Alasan mengapa Felice dan Mona masih ada di sana adalah karena mereka penasaran dengan sosok baru yang mengunjungi makam Noah. Tidak banyak yang mengenal Noah, karena itu mereka sedikit tertarik saat ada orang lain selain mereka mengunjungi makamnya.
(Elis kelihatannya sudah cukup baik sekarang.)
Melihat wajah Felice yang sudah pulih dari keputusasaannya, Noelle akhirnya menghela napas lega. Di sempat khawatir bahwa gadis ini tidak akan sanggup melepaskan kepergian tiga orang yang dekatnya dalam waktu dekat. Pertama adalah Tian, kemudian Rita, dan akhirnya Noah. Ada pula kepergian tanpa kabar Louen, Felice sebenarnya cukup terpukul akan hal itu, namun dia memilih untuk bersabar karena masih ingat kata-kata Rita yang memintanya untuk tidak mengkhawatirkan Louen
Noelle tersenyum tipis dan menjawab, "Begitulah. Dia adalah orang yang mengajariku banyak hal."
Jawaban yang sederhana, namun mendengarnya membuat Felice senang.
"Benarkah? Siapa namamu? " Felice mencoba bertanya, dengan harapan akan menemukan nama itu di suatu tempat di ingatannya. Sayangnya, Noah sama sekali tidak pernah menyebutkan nama orang asing padanya, jadi dia ragu bahwa dia akan mengenali nama orang ini.
Noelle meliriknya sedikit, lalu dengan cepat menjawab, "Panggil saja aku Grei."
Menyadari nama itu tidak membangkitkan apa pun dalam ingatannya, Felice kembali menatap pada nisan Noah.
Perasaan suka dan cinta yang terbentuk dalam waktu singkat itu belum pudar. Sebaliknya, itu justru menguat karena berkat Noah-lah Felice bisa berkembang.
Noelle mengabaikan itu, dan memainkan tangannya hingga satu koin perak Roup muncul di sela jarinya. Dia kemudian meletakkan satu koin Roup itu di atas nisan, dan pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun.
Felice kebingungan dengan apa yang dilakukan, begitupun dengan Mona.
Namun, berbeda dengan Felice yang memang tidak mengetahui arti tindakan tersebut, Mona lebih heran mengapa Grei meninggalkan satu koin Roup alih-alih dua atau tiga Penny.
"Apa dia salah meletakkan koin? " tanya Mona sambil melihat punggung Grei Noctis yang perlahan mulai menjauh.
"Eh? Apa maksudnya? "
Mona memandang wajah kebingungan Felice sejenak, lalu berjalan mendekati nisan Noah dan memastikan bahwa apa yang dia lihat itu memanglah koin Roup sungguhan.
Sambil merasa heran, dia menjelaskan, "Ini adalah hal yang biasa dilakukan di kalangan militer dan tentara bayaran. Meletakkan koin di atas nisan seseorang memiliki arti tersendiri tergantung jenis koin dan jumlah yang diletakkan."
"Benarkah? Aku baru tahu itu …." Felice bergumam sambil melihat koin perak berkilau yang ditinggalkan Grei di atas nisan Noah,
"Wajar kamu tidak mengetahuinya. Bahkan Dexter sendiri juga baru tahu tentang ini setelah dia menemukan satu koin Penny di atas makam Pak Tian."
Setelah diingat, itu memang pernah terjadi. Felice memang tidak hadir saat kejadian, tapi di bar dia mendengar cerita Dexter yang menemukan satu koin Penny di atas baru nisan Tian. Rupanya, yang meletakkan koin itu di atas nisan Tian adalah kaptennya sendiri, Dolf.
"Memang … apa artinya? "
Tidak dapat menahan rasa penasarannya, Felice bertanya.
"Itu … jika kamu menemukan satu koin Penny di atas batu nisan seseorang, maka itu pasti diletakkan oleh orang yang akrab dengan yang meninggal, seperti teman seperjuangan, rekan setim, atasan, bawahan, keluarga, sahabat, dan lainnya," jelas Mona dengan memberikan contoh.
"Dua Penny biasanya diberikan oleh orang yang menganggap yang meninggal itu sebagai orang yang dihormati, menandakan rasa terima kasih yang tinggi. Seperti korban atau rekan yang berhasil selamat berkat pengorbanan dari orang yang meninggal. Ini paling sering digunakan oleh orang-orang yang berada dalam komando yang sama di unit militer. Selain itu, ini juga digunakan oleh rekan yang bertarung di sisi korban sampai si korban menemui ajalnya di medan perang."
"Tiga Penny diletakkan oleh mereka yang tidak terlalu dekat, tapi menghargai jasa orang yang telah meninggal itu. Aku sering melihat ini diletakkan oleh petinggi militer yang memberikan penghormatan pada mereka yang telah gugur."
"Lalu … yang terakhir dalam urutan adalah satu koin Roup. Hanya ada satu arti untuk ini, dan sangat singkat." Mona menyipitkan matanya sambil menutup bibirnya sendiri dengan satu jari.
"Apa itu? " tanya Felice.
"Satu Roup … biasanya digunakan untuk memberikan ungkapan terima kasih yang amat besar pada mereka yang tidak dikenal. Singkatnya, yang meletakkan koin ini di atas makam biasanya tidak mengenal orang yang dimakamkan itu, namun merasa sangat berterima kasih padanya."
Singkatnya, semakin besar nominalnya, semakin jauh pula keakraban orang yang meletakkan koin dengan korban yang dimakamkan. Karena itulah, Mona benar-benar heran mengapa Grei meletakkan koin Roup di atas nisan Noah, dan bukannya Penny.
Dari konfirmasi Grei, dia mengenal Noah, cukup akrab dengannya, dan memiliki rasa terima kasih yang tinggi padanya. Tapi, Grei meletakkan koin Roup seolah Noah adalah orang asing baginya.
Apa yang terjadi? Mona yakin dengan pasti bahwa tradisi meletakkan koin di atas nisan seseorang merupakan tradisi murni dari militer Republik. Sampai sekarang, belum ada negara yang mengadaptasinya. Karena itulah, kecil kemungkinan Grei salah meletakkan koin.
"Mungkin dia hanya keliru? Aku juga belum bisa mengingat makna dari setiap koin dengan baik, jadi itu bisa dimaklumkan. Mungkin dia juga masih baru dengan tradisi ini," ucap Felice dengan santai.
Mona diam sejenak, tidak tahu harus mengatakan apa. Namun, dia sedikit menyipitkan matanya dan kembali melihat jalan yang baru saja dilewati Grei Noctis.
"Ya … kamu benar. Itu hanya kesalahan kecil."
...****************...
Usai mengunjungi pemakaman, Noelle melanjutkan aktifitasnya dengan berkeliling kota yang sudah cukup akrab di otaknya.
Masih terlalu pagi, jadi belum banyak yang bisa dilakukan. Noelle hanya terus berkeliling sampai akhirnya tiba di suatu tempat.
Di tempat yang dulunya merupakan sebuah mansion besar yang mewah, kini hanya tersisa lapangan kosong dengan bekas ledakan dan pembakaran di seluruh area.
Ini adalah daerah yang cukup dia kenal. Tidak salah lagi, lapangan kosong ini adalah bekas mansion keluarga Grandbell yang telah hangus terbakar.
"Bagaimana kabar mereka sekarang? "
Sejak penutupan tirai drama itu, Noelle sama sekali belum menghubungi Nantz ataupun Robert. Dia juga tidak tahu bagaimana nasibnya sekarang, entah baik atau buruk.
Yang pasti, orang sekaliber dia tidak akan memiliki masalah dalam bertahan hidup tanpa kemewahan.
Noelle tersenyum masam saat dia melihat puing-puing yang berserakan di pinggiran, dan melanjutkan perjalanannya tanpa peduli.
Akhirnya, tanpa disadari, dia telah sampai di depan gereja.
Masih cukup sepi, tapi ada beberapa tunawisma yang sudah menunggu uuntuk mendapatkan jatah bakti pagi mereka. Setelah itu, barulah mereka akan mendapatkan kesempatan yang layak untuk berdoa pada dewi.
Noelle tersenyum sinis pada petung Dewi Zelica yang diletakkan di tengah aula.
"Aku datang ke salah satu istanamu, dan tenang saja, aku ataupun Noir tidak akan membuat kekacauan di sini."
...****************...