![[Silver Ash] - Become The Strongest In Another World](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-silver-ash----become-the-strongest-in-another-world.webp)
...****************...
"Hey, siapa bajingan itu? "
Kesatria yang tampaknya menjadi pengawal Norman tiba-tiba memecah keheningan sambil mengerutkan keningnya.
" … Apa maksudmu tadi, Dyland? "
Norman sambil menyipitkan matanya mencoba bertanya, tapi pria bernama Dyland itu terus menatap Noelle yang masih mengurus semua senjata itu tanpa mempedulikannya.
"Maafkan aku, Yang Mulia, tapi … Aku tidak bisa membiarkan Anda untuk bergaul dengan orang yang tidak dikenal seperti dirinya."
Dyland kemudian berjalan memutari sofa dan menghampiri tempat Noelle berada.
"Aku tidak masalah jika itu hanya Tuan Light dan Nona Roselynn karena mereka adalah keturunan bangsawan, dan kekuatan mereka juga sudah terjamin, tapi … Aku tidak bisa membiarkan orang asing yang tidak kompeten ikut dengan Yang Mu–"
Kalimatnya terhenti.
Itu karena Noelle yang tadinya sedang duduk di lantai kini tengah berdiri tepat di belakangnya. Dengan bilah pedang yang mengarah tepat pada lehernya.
"Ya ampun, kau terlalu berisik. Bisakah aku membuat persiapanku dengan tenang? "
Noelle sambil tersenyum menempelkan bilah pedang itu ke lehernya dan membuat beberapa luka yang mengeluarkan darah.
Dyland tetap diam dengan melebarkan matanya dan menahan napasnya karena rasa keterkejutan.
Setelah beberapa saat ruangan itu hening, Noelle kemudian melepaskan dirinya dan dengan senyum cerah kembali ke persediaan senjata itu.
"Aku benar-benar benci diganggu ketika sedang fokus, kau tahu? Itu sangat menjengkelkan. Jadi lebih baik kau menghentikan tingkahmu karena kita akan bekerja sama, oke? "
Noelle berkata-kata sambil tersenyum cerah, namun siapa pun yang ada di sana dapat dengan jelas merasakan perasaan berbahaya yang dipancarkan Noelle.
Dyland tetap diam membeku karena beberapa ujung pedang yang tajam kini sedang diarahkan padanya.
"Mhmm … Persiapanku sudah selesai, kecuali … Yang satu ini … "
Noelle dengan bingung menggaruk kepalanya saat melihat satu kotak yang penuh dengan logam dan suku cadang baru.
"Apa itu? " tanya Cryll.
"Ini senjata pesananku … Aku mengubah permintaanku pada Glantz saat kita menemuinya waktu itu."
"Senjata … Di mataku itu hanya potongan logam tak berbentuk."
"Benar, 'kan? Tapi ini belum sepenuhnya jadi."
Charlotte yang sejak tadi diam mencoba berdiri dari tempat duduknya, dan menghampiri Noelle.
"Apa itu bongkar-pasang? "
"Mhmm … Aku meminta Glantz untuk membuatnya menjadi bongkar-pasang karena akan mereporkan bagi Glantz jika harus membuatnya secara utuh."
"Hee~ Lalu … Kenapa kau tidak merakitnya sekarang? "
"Memang itu niatku, bodoh."
Noelle dengan cepat menjawabnya dan membuat kedutan timbul di dahi Charlotte.
Cryll yanng melihat Noelle mulai memeriksa bagian rakitan itu satu per satu kemudian bertanya.
"Kau butuh bantuan dengan itu? "
"Tentu. Aku akan menyerahkan rancangan modelnya, kau coba susun semua bagian itu sesuai dengan rancangan agar aku bisa merakitnya dengan cepat."
"Baiklah."
Cryll secara alami menggerakkan tangannya dan mengambil bagian-bagian senjata itu satu per satu, dan menyusunnya di lantai.
Saat ini, mereka berdua sudah tidak peduli, atau bahkan tidak ingat dengan orang-orang yang sedang mengawasi mereka secara langsung.
Dan tentu saja, karena fokus Noelle sedang dialihkan untuk merakit senjatanya, dia kehilangan kendali akan telekinesis yang mengendalikan semua pedang yang menahan Dyland selama ini.
Dyland dengan kerutan si dahinya mencoba menghampiri Noelle, namun segera dihentikan dengan tatapan Norman.
" … Tch."
Dia dengan mendecakkan lisahnya berjalan kembali ke posisinya, tepat di belakang Norman.
Meskipun Norman sudah menghentikannya, itu tidak membuat kebencian Dyland pada Noelle menghilang begitu saja.
...****************...
"Dengan ini … Selesai! "
Noelle tersenyum cerah saat ia mengangkat senjata yang baru saja ia rakit.
"Baiklah, selamat. Ngomong-ngomong, bagaimana cara kerjanya? Itu mirip dengan pedang."
Cryll menanyakan pertanyaan yang ingin ditanyakan semua orang di sana.
"Fufu~ Aku senang kau bertanya! "
Noelle dengan wajah gembira berdiri dan mengangkat senjata barunya.
Seperti yang dikatakan Cryll, senjata itu memiliki bilah yang tajam seperti pedang, namun juga memiliki bagian aneh dengan lubang di ujungnya.
"Dari pada pedang, itu lebih mirip dengan senapan … "
Charlotte berkomentar sambil menatap senjata baru Noelle.
"Secara teknis, ini memang senapan, tapi juga pedang."
Noelle membenarkan perkataan Charlotte dan memegang tepat di gagang senjata itu.
"Lihat, kedua sisinya memiliki bagian yang sangat tipis dan keras seperti bilah pedang tajam pada umumnya, namun, di ujung yang seharusnya adalah bagian lancip, diubah menjadi lubang selongsong untuk 'peluru' keluar," tambah Noelle.
"Yahh, aku akan menjelaskannya lebih lanjut lagi nanti, untuk sekarang kita sebaiknya bersiap pergi. 'Kapalnya' sudah menunggu."
Noelle menggantungkan senjata barunya di pinggangnya dan berjalan ke luar ruangan bersama Cryll.
"Kapal? "
Olivia dan Charlotte memiringkan kepala mereka dengan bingung saat menyaksikan mereka keluar.
Ruangan sekali lagi diliputi keheningan yang canggung, namun Olivia tanpa berkata apa-apa lagi langsung membawa rakun kecil itu di tangannya dan berjalan keluar.
"Ka-kalau begitu … Ayo kita pergi juga … "
Norman dengan canggung segera berdiri dari tempat duduknya.
Terneth dan yang petugas guild yang lain sudah berada di luar setelah mereka membawakan persediaan yang diinginkan Noelle, jadi tidak ada alasan bagi Norman dan yang untuk tetap menunggu.
"Lilith? "
"Hmm? Ahh … Aku datang … "
Lilith dengan wajah suram mengikuti mereka dari belakang.
...****************...
"Uwaahhh … "
Noelle dengan wajah suram melihat pemandangan yang mengejutkan di hadapannya.
Tidak hanya dia, tapi Olivia dan Charlotte juga memandangi hal itu dengan dahi berkerut.
"Noelle? Apa terjadi sesuatu? "
Cryll bertanya padanya dengan wajah khawatir. Menyadari itu, Noelle kemudian tersenyum kecut dan menjawab Cryll dengan ragu.
" … Tidak masalah … Aku hanya agak terkejut ketika harus menaiki kapal ini … "
"Apa kau belum pernah menaiki sesuatu seperti ini? "
"Tidak– maksudku aku sudah pernah menaikinya, tapi … Sudah lama sejak terakhir kali aku naik kapal sebesar ini di perairan yang luas … Jadi aku tidak yakin aku akan berhasil bertahan dari rasa mual … "
Olivia dan Charlotte dengan kompak menganggukan kepala mereka beberapa kali setelah Noelle selesai berbicara.
"Hee~ Mabuk laut, ya … "
"Mhmm … Yahh, entah bagaimana aku akan mengatasi itu nanti, untuk sekarang … Ayo naik."
Noelle perlahan berjalan melewati jembatan yang menghubungkan dermaga dengan kapal besar yang akan mereka naiki.
Itu adalah kapal kayu yang cukup besar, namun tidak terlalu besar untuk disebut sebagai kapal penjelajah.
Layar raksasa yang terbentang di tiang-tiang tinggi tampak mengembung karena tiupan angin, dan jembatan yang digunakan Noelle dan yang lain untuk memasuki kapal itu segera diangkat.
Untuk sebuah kapal besar, itu tidak memiliki banyak penumpang.
Bahkan, semua orang yang ada di kapal masih bisa dihitung dengan jari.
Hanya ada kelompok Noelle dan Norman yang ada di kapal itu. Selain itu, mungkin hanya pengawal, pelayan, dan nahkoda yang sedang sibuk menavigasi kapal.
Noelle dan yang lain masing-masing diberikan satu kamar untuk beristirahat atau menyiapkan hal lain.
Sebelum keberangkatan, mereka semua telah dijelaskan kalau perjalanan akan memakan waktu beberapa jam sampai tiba di hutan tujuan.
Untungnya, cuaca sedang cukup bagus dan arus tidak terlalu deras sehingga perjalanan berjalan lancar.
Noelle tiba di ruangan yang disediakan untuknya dan segera menjatuhkan tubuhnya di ranjang.
Noelle dengan wajah tak bernyawa menghela napas lelah. Ia berguling dan menenggelamkan wajahnya di bantal yang empuk.
( … Sudah lama aku tidak sendirian seperti ini … )
Ia mendapatkan kamar untuk dirinya sendiri karena ia memang masih harus melakukan beberapa hal, jadi Olivia untuk sementara akan berada di kamar yang sama dengan Charlotte dan Chloe.
Selain itu, waktu keberangkatan ternyata jauh lebih cepat dari yang ia perkirakan, sehingga ia tidak sempat untuk memberikan bukti-bukti rencana Terneth pada Earl selaku Tuan tanah.
Ketika Noelle mendengar dari Terneth kalau Earl sedang ada di tempatnya, Noelle segera memiliki niat untuk menyerahkan surat-surat dan bukti tindakan Terneth pada Earl agar ia bisa bebas, tapi …
Jadwal keberangkatan yang dipercepat itu mengganggu rencananya.
Ia bisa saja mengirimkan surat-surat itu menggunakan para familiarnya, tapi, jarak dia dengan lokasi Earl berada cukup jauh dan berada di luar jangkauan deteksinya, jadi Noelle tidak bisa sembarangan mengandalkan familiar untuk mengirimkan surat-surat itu.
( … Ini menyesakkan.)
Noelle lagi-lagi menghela napas lelah dan bangkit dari tempat tidurnya.
Ia segera berdiri dan berjalan menghampiri meja tempat ia meletakkan semua barang-barang yang ia bawa.
Noelle mengambil senjata yang baru ia dapatkan dari Glantz, dan mencoba mengayunkannya.
"Tidak ada masalah dengan beratnya, tapi … "
Noelle kemudian membuka jendela kabin dan menemukan pemandangan hutan lebat yang mengelilinginya.
" … Meskipun ini hanya sungai … Kenapa Terneth membuat kami menaiki kapal sebesar ini … "
Kekhawatirannya sebelum berangkat tadi tampaknya menjadi sia-sia.
" … Yahh, siapa peduli."
Noelle dengan ringan mengangkat kedua bahunya, kemudian mengarahkan ujung senjata itu ke luar jendela.
Setelah menarik napas panjang sejenak, Noelle dengan yakin langsung menuangkan sebagian kecil energi sihirnya ke dalam gagang senjata.
Seketika, kekuatan sihir berwarna kebiruan mulai menyelimuti senjata itu dan terserap ke dalamnya.
Energi yang terserap kemudian berkumpul di kristal sihir yang diletakkan tepat di mana sirkuit berada.
Dan tak lama kemudian, bola energi dengan tingkat kepadatan yang tinggi mulai terbentuk di ujung senjata yang ada diarahkan ke luar kapal.
Noelle tanpa ragu menarik pelatuk yang ada di ujung gagang dan menembakkan bola energi itu.
Bola energi yang ditembakkan Noelle seketika melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi dan menghancurkan semua pohon dan bebatuan yang menghalangi jalannya, serta menyisakan jejak-jejak api yang membakar pepohonan dan semak-semak.
Noelle yang melihat itu langsung diam membatu sambil melirik ke ujung senjata yang baru saja menembakkan serangan gila itu.
Asap mulai keluar dari moncong senjata yang berbentuk datar, membuat Noelle tersenyum canggung.
"Ini bagus, tapi … Kurasa aku harus mengurangi inputnya lebih banyak lagi, selain itu … Kurasa sudah sempurna … Meskipun aku masih harus membiasakan diri untuk menggunakan senjata ini di tangan kiri … "
Meskipun sudah mendapatkan senjata lain, Noelle tidak berniat untuk meninggalkan Verstand dan Langen, ia bisa menyatukan bentuk keduanya menjadi satu pedang, dengan begitu, ia bisa menggunakan senjata lain di tangannya yang kosong.
Noelle menggenggam gagang senjata itu dengan tangan kiri dan mencoba mengayunkannya beberapa kali untuk membiasakan diri.
Sebagai catatan, Noelle adalah seorang 'Ambidextrous', ia bisa menggunakan kedua tangannya sekaligus dengan normal tanpa mengganggu kemampuan otak dan sensor motoriknya.
Tentu saja ia memiliki kemampuan itu karena latihan yang ia lakukan secara rutin.
"Sekarang … Kurasa aku harus memberikan nama untuknya … " ucap Noelle sambil menatap senjata barunya dengan cenyum cerah.
" … Meskipun memiliki wujud layaknya satu senjata, ini memiliki dua fungsi, yaitu menebas dan menembak … Dua fungsi di saat yang sama … Persamaan … Tajam … Dua … Ganda … Benar, nama yang cocok untuknya adalah … [Zwei Aligma]! "
Noelle mengangkat satu sudut bibirnya sambil menatap senjata barunya, [Zwei Aligma].
(AN: Di atas adalah desain sederhana [Zwei Aligma], tidak bisa membuat desain yang detail karena aku tidak memiliki cukup waktu. Silahkan klik gambar jika gambar terpotong...)
...****************...
"Permisi, Tuan. Waktunya untuk makan siang."
Saat Noelle dengan riang mengayunkan senjata barunya, Aligma, suara ketukan pintu yang disertai dengan suara seorang pria memanggilnya dari luar.
(Makan siang? Memangnya sudah berapa lama kita pergi? )
Noelle mengangkat kedua alisnya dengan penuh pertanyaan. Meskipun begitu, ia tetap keluar dari ruangan itu dengan santai.
Noelle sudah memasukkan semua barang yang ia bawa ke gudang spasial miliknya. Menurutnya, terlalu berbahaya untuk meninggalkan sesuatu di saat seperti itu.
"Tch … Dia membawa semuanya … "
Dan benar saja, Noelle tanpa sengaja mendengar decakan lidah disertai dengan gumaman rendah dari pria yang memanggilnya tadi.
Noelle tidak tahu apa tujuannya, tapi ia memiliki keyakinan kalau itu untuk penyelidikan informasi tentang dirinya yang dilakukan atas perintah Dyland.
Noelle mengangkat satu sudut bibirnya tanpa sadar saat ia berjalan menyusuri lorong menuju tempat yang dimaksud pria itu.
"Maaf membuat kalian menunggu … "
Begitu ia sampai, ia segera mengucapkan salamnya dan tanpa mengatakan apa pun lagi langsung duduk tepat di samping Olivia yang sudah menunggunya sambil menatapnya dengan senyum lembut.
"Apa uji cobamu berhasil? "
Olivia bertanya sambil memiringkan kepalanya. Itu membuat Noelle mengerutkan dahinya dan tersenyum masam.
"Jadi kamu tahu, ya … "
"Fufu, tentu saja. Lagi pula ledakannya sangat besar sehingga aku bisa mendengarnya."
" … Maaf tentang itu … "
Noelle hanya bisa meminta maaf dengan canggung sementara Olivia menatapnya dengan senyum lembut.
"Tunggu, percobaan? Ledakan? Apa maksud kalian? "
Norman menyela percakapan mereka dan menatap Noelle dengan wajah serius.
Noelle yang seolah tak terpengaruh dengan 'tatapan mengancamnya' mengangkat bahu dan berkata, "Aku hanya melakukan beberapa percobaan terkait senjata baruku."
Sesaat kemudian, sebuah senjata yang sama yang Norman dan yang lain lihat tadi pagi muncul di tangan Noelle.
Itu adalah Aligma.
"Tidak kusangka kalau ledakannya akan sebesar itu … Aku masih harus belajar mengendalikan pemasukan energinya … "
Dyland yang berdiri di belakang Norman mengambil posisi seolah akan menarik pedangnya kapan saja saat melihat Aligma yang ada di tangan Noelle.
Noelle, bagaimanapun ia tidak peduli. Ia hanya mengarahkan ujung moncong Aligma tepat ke arah batu raksasa yang ada di pinggir sungai.
Tempat yang mereka gunakan untuk makan siang adalah tempat makan outdoor sehingga Noelle bisa dengan bebas mengarahkan serangannya tepat ke arah yang ia inginkan.
Setelah memposisikan ujung laras Aligma dan membuat posisi yang stabil, Noelle langsung menarik pelatuknya.
Bola energi padat lagi-lagi melesat keluar dari moncong Aligma dan dengan mudah menghancurkan batu besar yang menjadi target tembakan Noelle.
"Senjata berbahaya seperti biasa, huh … "
Cryll menambahkan komentarnya setelah bersiul sedikit. Ia menatap serpihan batu yang perlahan tenggelam ke dasar sungai.
"Aligma memang berbahaya, tapi … Jika dibandingkan dengan Sword Geist milikmu, ini masih belum ada apa-apanya."
"Jadi kau bahkan memberinya nama, ya … Dan juga, apa yang kau maksud dengan 'Sword Geist milikku lebih berbahaya'? "
"Jangan berpura-pura, aku tahu jika kau serius, kau bisa saja membakar satu kota dengan kemampuanmu."
Keduanya terus saling melontarkan kalimat pujian yang seolah memberikan kesan mengejek sampai akhirnya mereka berhenti dan tertawa dengan senyum masam.
"Ummhhmm … Iza … Maksudku Noelle … Bisa kita bicara sebentar? "
Saat Noelle sedang menikmati kue yang dihidangkan sebagai hidangan pembuka di meja, Lilith dengan wajah suram mencoba memanggilnya.
"Aku tidak keberatan, tapi … Apa? "
Noelle mencoba memastikan dengan memiringkan kepalanya dan mengeluarkan ekspresi bingung.
Lilith terlihat ingin mengatakan sesuatu yang lain, tapi segera berhenti ketika melihat perubahan reaksi aneh Noelle yang tiba-tiba.
Noelle memperhatikan sekelilingnya dengan mata yang menyipit.
" … Apa ada sesuatu? "
Lilith mencoba bertanya dengan khawatir, namun tetap tak dihiraukan oleh Noelle.
"!! … Cryll! "
"Aku mengerti! "
Noelle segera berteriak sambil menatap langit dengan wajah tegang.
Tidak hanya Noelle, tapi Cryll dengan ekspresi tegang segera menyiapkan Sword Geist di punggungnya dan mengeluarkan sihir penghalang di sekitar semua orang.
Noelle dengan panik meraih tubuh Olivia dengan satu tangan dan memeluknya sekuat tenaga, mencoba menutupinya dari langit yang terbuka, sementara tangannya yang lain diarahkan ke langit itu.
Detik berikutnya, seberkas cahaya yang menyilaukan dan getaran yang luar biasa segera menghantam kapal mereka.
...****************...